Trend Pencarian Informasi Melalui Aplikasi Ijogja oleh Generasi Milenial di Grhatama Pustaka Yogyakarta
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstract
This study aims to examine humans as the millennial generation who need information from digital services through the iJogja application. Information searches carried out by the millennial generation are information provided by librarians through digital services in the iJogja application. The method used is qualitative, with a descriptive approach, data collection techniques carried out through interviews, observation, documentation. The theory in this study uses the theory of librarianship in the digital era to deal with the millennial generation. The results of this study are that this study explains that the library has an application called iJogja as a library innovation from digital services to make it easier for users to search for collections online, this is because the millennial generation has been influenced by the gadget system to find information quickly and easily. easy. The findings in this study are that there is an error in the application system and the number of collections is small so that to overcome this, books are also provided in the collection service. This research is important to do because there is no research that explains the millennial generation needs information through applications provided by Grhatama Pustaka in digital collection services.
Keywords:
Millennial Generation
· Information
· Digital Services
· iJogja Application
Introduction
Setiap manusia membutuhkan informasi untuk melengkapi pengetahuannya tentang sesuatu hal.Tingkat kemajuan teknologi saat ini sangat pesat, terutama dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), sehingga mempengaruhi pengetahuan yang ada sedemikian rupa agar dapat digunakan oleh semua orang. Generasi milenial merupakan generasi yang lahir pada tahun 1990 yang mana pada masa itu masyarakat telah banyak menggunakan teknologi dalam proses pencarian informasi. Perpustakaan sebagai pusat dari sumberdaya informasi yang dibutuhkan oleh semua kalangan terutama pada generasi milenial, dalam pengembangannya perpustakaan telah mengalami perkembangan yang cukup pesat dari masa kemasa.Perubahan terjadi dari masa ke masa yang dahulunya masih melakukan pencarian informasi secara manual sampai ke era digital. Ilmuan Feather, struges, & paul,menjelaskan bahwa:“Information is data that has been processed in an appropriate form. In this sense, information is a collection of data that can be understood and can be communicated. The point is that the raw facts are given meaning. Thus, the conceptual distinction between knowledge and information is quite ambiguous, even though the two expressions are mostly used in slightly different contexts. Knowledge is increasingly becoming a word used in a wide range of professional and technical contexts, represented by terms such as "information technology" or "information retrieval" or "information management". As such, it is generally used to cover all the different ways of representing facts, events and concepts inboth digital and analog systems and in all media and forms.”(Feather, struges, & paul, 2003)Oleh karena itu istilah informasimenurut pernyataan di atasadalah data yang diproses dalam bentuk yang masuk akal bagi penerima, berguna untuk pengambilan keputusan sekarang dan di masa depan. Kebutuhan manusia akan informasi adalah pengakuan ketidakamanan pada orang yang mendorong pencarian informasi. Manusia di generasi milenial merupakan sekelompok orang yang memiliki kebiasaan yang sangat aktif untuk mengakses informs dan tidak terlepas dari dunia digital, perkembangan informasi yang dibutuhkan oleh generasi milenial membuat manusia dapat menelusuri informasi dengan mudah dalam berbagai format. Dalam berbagai kegiatan ilmiah, kebutuhan akan sumber informasi merupakan hal yang penting. Seorang peneliti atau sarjana membutuhkan sumber data untuk kegiatan akademik atau penelitian. Namun pada kenyataannya tidak semua peneliti dan sarjana menemukan sumber tersebut dengan berbagai alasan, dan kurangnya pengetahuan saat mencari informasi merupakan salah satu kendala untuk mencari sumber informasi yang diperlukan.Dalam dunia kepustakawanan, pustakawan merupakan “profil” yang diharapkan dapat membantu mencari informasi yang dibutuhkan. Menjadi pustakawan yang baik membutuhkan keahlian khusus, terutama dalam pencarian dan kemampuan untuk menilai relevansi suatu dokumen dengan pertanyaan publik atau pengguna. Saat ini, banyak industri yang telah mengubah sistem kerjanya, dari yang awalnya manual menjadi teknologi multi digital. Terlihat sudah banyak bidang profesi di perpustakaan yang mulai mengimplementasikan sistem informasi komputer untuk melakukan beberapa pekerjaan. Perlu diperhatikan bahwa penerapan sistem teknologi informasi di perpustakaan tidaklah mudah, keberhasilannya berbeda-beda tergantung pilihan perpustakaan.GrahatamaPustakamembuat layanan perpustakaan digital dengan hak akses yang sangat luas untuk memudahkan pencarian informasi secara cepat dan dapat digunakan dari arak jauh. Layanan perpustakaan digital memainkan peran penting dalam layanan informasi jarak jauh, memungkinkan pembelajaran virtual oleh mahasiswa dan masyarakat menggunakan teknologi dan informasi. Layanan digital di Grhatama pustaka menyediakan aplikasi bernama iJogja untuk memenuhi kebutuhan informasi oleh generasi milenial yang bisa di akses secara jarak jauh baik onlinemaupun offline. Berdasarkan hal demikian, maka peneliti tertarik untuk memaparkan secara lengkap mengenai “Manusia Sebagai Generasi Milenial Tentang Kebutuhan Informasi Dalam Layanan Digital Melalui Aplikasi Ijogja di Grahatama Pustaka”LandasanTeoriDalam menulis suatu tulisan dibutuhkan peneliian terdahulu, penelitian terdahulu dari tulisan ini yaitu perbandingan dua skripsi yang di teliti oleh Restu Windu Aji dengan judul penelitian “Implementasi fungsi Pendidikan Perpustakaan Digital Dalam Konsep Social Spece (Studi Kasus Aplikasi Ijogja)” yang berasal dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dimana hasil dari pembahasan dari penelitian (Aji, 2020)ialah menerapkan tentang bagaimana fungsi Pendidikan pada aplikasi ijogja, memaparkan upaya pengembangan fungsi pendidikann dari aplikasi ijogja dengan menyediakan konten yang bervariatif. Adapun keungunggulan penelitian yang peneliti teliti dari penelitian sebelumnya ialah penelitian yang peneliti teliti menggunakan wawancara secara sistematis dengan menggunakan kriteria khusus yaitu kaum dari generasi milenial sedangkan penelitian sebelumnya tidak ada menjelaskan tentang generasi milenial.Adapun penelitian terdahulu yang kedua adalah penelitian dari Muslih Fathurrahman dengan judul penelitian “Analisis Penerimaan Teknologi Aplikasi Mobile Ijogja Oleh Pemustaka dengan Pendekatan Technologi Acceptance Model di Grhatama Pustaka Balai Layanan Perpustakaan BPAD DIY”. Yang berasal dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dimana hasil dari penelitian (Fathurrahman, 2017)ialah menjelaskan temuan tentang adanya hipotesis yang dinyatakan signigikan yaitu tentang pengaruhrelevance terhadap perceived usefulness sebesari 0,224 artinya variableI relevance, subjective norm and perceived ease of use hanya mampu mempengaruhi variable perceived sebanyak 22,4% dan ada banyak juga factor-faktor lainnya. Adapun keunggunggulan penelitian yang peneliti teliti dengan penelitian sebelumnya ialah peneliti mengaskan tentang penelusuran informasi yang digunakan dengan menggunakan aplikasi ijogja dikhususkan pada generasi milenial uuntuk melihat seberapa penting informasi bagi generasi milenial sedangkan penelitian sebelumnya tidak menjelaskan tentang penelusuran informasi menggunakan aplikasi ijogja.Setiap peneliti dalam melakukan penelitian itu tentu berbeda dimana ada yang memulai dari konsep, strategi dan analisisnya, jadi tinjauan Pustaka ini bertujuan untuk menganalisis penerimaan pengguna terhadap teknologi baru, namun pada system analisisnya penelusuran informasi yang digunakan melalui aplikasi ijogja dengan sasaran penelitian adalah generasi milenial hanya di penelitian ini saja sebagai bentuk keterbaharuan penelitian di Ghratama Pustaka.Kajian teori yang terdapat dalam penelitian ini menjadi landasam dalam melakukan analisis dalam tulisan mengenai Information Searching By Milenial Generation Through Ijogja Application At Grhatama Pustaka Yogyakartayaitu:1.Penelusuran informasiPenulusuraninformasi secara online telah menjadi cara bagi orang untuk mencari informasi. Selain itu, hadirnya teknologi jaringan (World Wide Web) yang lebih akrab di telinga masyarakat umum, serta semakin maraknya penggunaan internet dalam kehidupan masyarakat telah mendorong dan memotivasi berbagai kalangan untuk menggunakan internet sebagai alat untuk menyimpan dan mengambil data(Dewi, 2019).Dalam konteks ilmu perpustakaan, kebutuhan akan pengetahuan adalah salahsatu langkah pertama yang harus diidentifikasi sebelum melakukan pencarianinformasi.Menurut Utami dalam situs ID Journal, kata “kebutuhan” bisa diartikan sebagai milik masing-masing individu, yakni. Kebutuhan informasi adalah informasi yang harus dia miliki. Setiap orang memiliki kebutuhan informasi yang berbeda. Perilaku pencarian informasi dapat bervariasi dari orang ke orang(Sabriyanti et al., 2023).2.Generasi milenialCiri khas generasi milenial adalah mereka tidak hanya mengandalkan informasi satu arah dalam bentuk user-generated content(UGC). Dapat dikatakan bahwa mereka tidak lagi percaya pada pertukaran informasi satu arah. Mereka lebih cenderung percaya pada konten buatan pengguna (UGC), atau konten dan pengetahuan yang dibuat oleh individu(Hipwee, 2017).Milenial memiliki karakteristik unik tergantung pada wilayah dan keadaan merekasosial-ekonomi Salah satu ciri utama generasi milenial adalah brandingpeningkatan penggunaan dan pengetahuan komunikasi digital, media dan teknologi. Generasi ini memiliki kualitas kreatif dan informatif, serta semangat dan produktivitas sejalan dengan kemajuan teknologi(Zis et al., 2021).3.Aplikasi ijogjaiJogja adalah aplikasi perpustakaan digital berbasis media sosial yang dapat diunduh ke smartphone. Dipersembahkan oleh Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Istimewa Yogyakarta, program ini dilengkapi dengan web readeruntuk membaca buku elektronik dan fitur yang dapat terhubung ke media sosial dan berinteraksi dengan pengguna lain seperti: Merekomendasikan buku, menerbitkan resensi buku dan mencari teman baru. E-bookyang tersedia di aplikasi Ijogja dapat dibaca secara onlinemaupun offline(Portal Resmi -Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, n.d.).Adapun metode penelitian ini yakni penelitian kualitatifyang bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami subjek, seperti perilaku, pengamatan, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik dan melalui deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, terutama konteks alami dan menggunakan kebiasaan. pengalaman(Moelong, 2005).Tujuan penelitian kualitatifadalah untuk menjelaskan suatu fenomena dengan sedalam-dalamnya dengan cara pengumpulan data yang sedalam-dalamnya pula, yang menunjukkan pentingnya kedalaman dan detail suatu data yang diteliti.Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dokumentasi dan studi pustaka. Informan penelitian ini adalah pustakawan Grharatama Pustaka, khususnya pustakawan tentang modernitas layanan perpustakaan dalam layanan digital. Kriteria informan pengguna berusia 22-25 tahun, khusus mahasiswa dari kota Yogyakarta. Sesi brainstorming dilakukan untuk 3 informan yang berkumpul dan mendiskusikan bagaimana mereka menemukan kebutuhan informasi dan bagaimana mereka memenuhi kebutuhan informasi tersebut, yaitu. menggambarkan perilaku informasi.
Result & Discussion
Manusia sebagai generasi milenial merupakan generasi yang lahir dalam rentang waktu 1980-2000.Ciri khas generasi milenial adalah mereka tidak hanya mengandalkan informasi satu arah dalam bentuk user-generated content(UGC). Dapat dikatakan bahwa mereka tidak lagi percaya pada pertukaran informasi satu arah. Mereka lebih cenderung percaya pada konten buatan pengguna (UGC), atau konten dan pengetahuan yang dibuat oleh individu(Hipwee, 2017).Milenial membutuhkan akun media sosial sebagai alat komunikasi dan pusat informasi. Komunikasi dua arah kini terasa tidak lagi harus bertatap muka, namun melalui media sosial pun semua orang dapat saling berkomunikasi tanpa terputus. Generasi Y banyak berinteraksi dan berkomunikasi melalui SMSatau chattingdi dunia maya dengan berbagai alternatif platform yang saat ini banyak digunakan.Minat membaca menurun sejak saat itu, karena Gen Y lebih suka membaca di smartphonealih-alih menghilang, masih banyak orang yang ingin membaca buku, namun tidak lagi di toko buku, melainkan melalui buku elektronik. Mereka lebih suka membaca buku secara online karena tidak mau repot atau menghabiskan waktu di toko buku.Perubahan perilaku ini juga yang mendorong generasi milenial untuk menyukai segala sesuatu yang ada di depan mata. Mereka beranggapan bahwa tulisan tradisional hanya akan membuat mereka pusing, sehingga mereka ingin melihat sesuatu dengan gambar dan warna yang menarik. Milenial pasti lebih suka ponsel daripada TV, menonton acara TV bukan lagi hiburan karena mereka dapat menemukan segalanya di ponsel mereka.Perpustakaan di era sekarang ini menyediakan layanan berbasis teknologi digital yang telah merubah strategi dan kebijakan dalam suatu institusi perpustakaan sehingga mengalami perubahan baik dari sisi efektivitas kerja maupun perubahan mindset dalam melayani pekerjaan. Perubahan makna revolusi industri dan strategi kolaboratif yang tengah hangat diperdebatkan saat ini justru akan menjadi kekuatan pustakawan untuk melawannya dengan kualifikasi yang lebih baik untuk dapat “berdamai” dengan teknologi informasi di era industrirevolusi pada generasi milenial ini.Karena sumber data perpustakaan merupakan sumber informasi yang dapat dipercaya, maka menjadi tanggung jawab pustakawan Perpustakaan Grhatama untuk tetap up to datedalam melakukan tinjauan data yang terus berkembang ini. Aturan terpenting yang harus dimiliki pengguna adalah sikap ramah terhadap semua pengguna dalam segala situasi.Hal inilah yang selalu diharapkan pengguna perpustakaan di era digital dan revolusi industri pada generasi milenial, kemajuan teknologi terkadang merubah sikap sosial menjadi sikap antisosial. Oleh karena itu, pustakawan harus selalu membedakan dirinya dari kondisi yang biasanya. Generasi milenial saat ini menyukai informasi yang detail, dipengaruhi oleh pola pikir mereka yang cepat dan tanggap. Sebagai penyedia informasi, maka perpustakaan perlu meningkatkan fasilitas dan layanan agar senyaman mungkin bagi mereka untuk menerima informasi yang mereka butuhkan. Perpustakaan juga harus merespon perilaku milenial dengan menawarkan konsep ruang kerja bersama, yaitu ruang kerja yang dapat digunakan untuk menciptakan kolaborasi yang menghasilkan hal-hal positif di perpustakaan. Selain itu, pustakawan juga membutuhkan pembelajaran pengguna untuk menemukan preferensi pengguna dan manajemen teknologi informasi untuk menerapkannya pada kepentingan pengguna milenial dimana pustakawan dipercaya pandai melacak dan melayani selera milenial.Karena kebutuhan akan teknologi informasi, maka perpustakaan sebagai pusat informasi harus secara bertahap mengembangkan konsep digital.IJogja merupakan salah satu bentuk pengembangan konsep perpustakaan digital, dimana pemustaka dapat dengan mudah mengakses informasi yang diinginkan, dimanapun dan kapanpun, hanya dengan menggunakan handphoneyang pemustaka gunakan sehari-hari. IJogja adalah aplikasi perpustakaan digital yang disediakan oleh Pusat Layanan Perpustakaan BPAD Daerah Yogyakarta. Aplikasi yang diluncurkan pada Agustus 2016 ini merupakan salah satu upaya mendukung minat baca masyarakat Yogyakarta dan telah diunduh lebih dari 1.000 (ribu) pengguna.Namun, aplikasi iJogja masih belum banyak diketahui penggunanya. Hal ini dikarenakan akseptabilitas penggunaan teknologi aplikasi ijogja sendiri belum dinilai. Selain itu sosialisasi aplikasi iJogja hanya sebatas pembuat iJogja dan belum dilakukannya penelitian tentang iJogja di lingkungan Pusat Layanan Perpustakaan BPAD DIY, hal ini terlihat dari spanduk-spanduk yang ada. Brosur yang dicetak di depan perpustakaan dan brosur yang disebar ke seluruh ruang koleksi Pusdiklat BPAD DIY berisi informasi tentang aplikasi iYogja. Atas dasar itulah peneliti memutuskan untuk melakukan penelitian di perpustakaan. Oleh karena itu, peneliti ingin mengukur seberapa banyak pengguna yang mengadopsi aplikasi perpustakaan digital iJogja dan cara pemustaka dari generasi milenial menggunakan aplikasi ijogja sebagai alat untuk menelusuri informasi di perpustakaan grhatama Pustaka.IJogja adalah aplikasi perpustakaan digital berbasis media sosial yang dilengkapi dengan e-readeruntuk membaca e-book. Media sosial yang terdapat dalam aplikasi ijogja memungkinkan pengguna untuk terhubung dan berinteraksi dengan pengguna lainnya. Selain itu, aplikasi iJogja tidak hanya berisi koleksi pusat layanan perpustakaan DIY, namun developer iJogja juga mengajak beberapa perpustakaan untuk mengunggah koleksinya ke aplikasi tersebut, antara lain Perpustakaan dan Arsip Daerah Gunung Kidul, Perpustakaan SMA Muhammadiyah 1 Jogyakarta, Sanata dharma. Pengguna juga dapat membuat rekomendasi untuk membaca buku, mempostingresensi buku, dan mencari teman baru. Membaca e-bookdi ijogja juga lebih menyenangkan karena pemustaka bisa membaca e-booksecara onlinemaupun offline. Hal ini memungkinkan pengguna untuk meningkatkan minat baca karena dapat membaca koleksi yang ada di aplikasi ijogja tanpa harus datang langsung ke perpustakaan. Sudah saatnya pustakawan di era mobile berkreasi dan mengemas inovasi layanan informasi dalam format mobile. Jumlah aktivitas pengguna saat ini tidak menutup kemungkinan pengguna tidak memiliki cukup waktu untuk mengunjungi perpustakaan. Kehadiran ijogja menjadi salah satu solusi untuk mengatasi hal tersebut. Maka dari itu peneliti melakukan wawancara tentang sistem informasi di layanan digital Bersama pustakawan grhatama pustaka Bersama ibu Nadhea dimana ia menyebutkan:“Dalam membangun koleksi digital diperpustakaan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka, kita juga menyediakan layanan media sosial dan layanan dari koleksi digital berupa aplikasi iJogja.”(Nadhea, 2022)Mengingat penting adanya koleksi digital oleh perpustakaan grhatama pustaka dikarenakan pemustaka banyak dari kalangan masyarakat milenial yang tidak bisa lepas dari gadget maka dari itu diciptakanlah aplikasi ijogja untuk memudahkan pemustaka untuk mencari informasi. Perubahan tren penggunaan sumber informasi di perpustakaan menuntut pustakawan untuk memiliki pengetahuan pribadi tentang teknologi informasi. Shapiro dan Hughes (1996) yang dikutip oleh (Pendit, 2007)membutuhkanketerampilan yang harus dimiliki pustakawan di era digitalisasi, yaitu illegibility, yaitu kemampuan untuk memahami dan menggunakan perangkat teknologi informasi baik secara konseptual maupun praktis. Literasi sumber daya, yaitu kemampuan memahami bentuk,wujud, letak, dan sumber informasi, terutama dari jaringan informasi yang terus berkembang.Kompetensi struktural sosial tentang pemahaman yang benar seperti berbagai bagian masyarakat menghasilkan informasi keterampilan disuatu penelitian, kemampuan menggunakan perangkat berbasis IT sebagai alat penelitian. Menerbitkan literasi dengan kemampuan mempublikasikan informasi dan gagasan ilmiah melalui jaringan komputer dan internet. Pengembangan kompetensi teknologi, kemampuan untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan bersama-sama dengan masyarakat menentukan arah pemanfaatan teknologi informasi untuk kepentingan perkembangan ilmu pengetahuan. Literasi kritis, seperti kemampuan mengevaluasi secara kritis kelebihan dan kekurangan penggunaan teknologi informasi.Salah satu layanan digital yang dikelola oleh Grhatama pustaka ialah ijogja. Pemustaka dapat mengakses pada situs (Pustaka, n.d.)dan unduhaplikasinya dari Play Storedan App Store. Ijogja ini adalah kumpulan e-bookterbaik dan nikmati kemudahan membaca dengan fitur yang menyenangkan. iJogja sendiri berperan sebagai social readingdan juga sebagai platform media sosial untuk akses e-bookstoredan e-pustaka, membangun jaringan atau pembaca lainnya dan tentunya sebagai pembaca onlineuntuk membaca e-book. iJogja dapat digunakan di berbagai perangkat media seperti desktop dan komputer berbasis web (web-based), netbookdan hybrid berbasis tab (table-based application)dan perangkat mobile (aplikasi berbasis smartphone). Agar iJogja dapat berjalan dengan baik maka diperlukan spesifikasi yang sesuai. Spesifikasi ponsel iPhone minimal iOS 7.0 dan untuk ponsel android minimal android 4.0. Menurut wawancara bersama para informan tentang penggunakaan aplikasi dari layanan koleksi digital ini salah satu informan berinisial MY yang pada saat itu ia sedang menggunakan aplikasi Ijogja untuk mencarikoleksi digital ia menjelaskan:“menurut aku aplikasi ini sangat membantu ya kak, soalnyakan perpustakaan dari rumah kan lumayan jauh, nah jadi aku gunain aja aplikasi ini untuk cari koleksi yang aku butuh dan alhamdulillah lumayan membantu sih kak, dan penggunaan aplikasi ini juga mudah.” (MY, 2022)Adapun aplikasi iJogja digunakan oleh para pemustaka untuk memudahkan pencarian informasi dari jarak jauh, dibawah ini dijelaskan cara penginstalan dan fitur apa saja yang ada di aplikasi ini untuk memudahkan para pemustaka dari kalangan masyarakat milenial Welcome screen iJogja setelah melakukan instalasi iJogja di smartphone.Gambar 1Tampilan Awal Aplikasi iJogjaUntuk digunakan mendaftar di aplikasi iJogja bisa menggunakan akun Facebook atauEmail Googlesetelah itu masuk form registrasi untuk mendaftarkan data diri. Danini tampilan awal setelah registrasi Pemustaka juga bisa mengatur akun profil di Profile Settingantara lain bisa mengatur avatar/Photo profile, username, email, password, deskripsi diri. Jika pemustaka aktif menggunakan aplikasi ini, pemustaka bisa komen, Share-Recommend booksaling merekomendasikan buku, saling mem-follow pengguna lainnya, bertukar pesan menyukai komentar. Selain itu pemustaka juga bisachattingmenggunakan inboxuntuk melakukan percakapan dengan pengguna lainnya. Untuk melihat koleksi buku bisa dilihat pada kategori buku yang menyediakan berbagai ragam kategori baik dari ilmu pengetahuan sampai novel fiksi. Namun jika ingin mencari dengan cepat bisa menuliskan kata kunci daribuku pada bagian Search Book. Dan akan muncul informasi terkait kata kunci yang dicari.Gambar 3Pencarian BukuDan dibagian e-Pustaka merupakan kumpulan dari berbagai instansi atau penerbit yang sudah bekerjasama dengan iJogja, contohnya Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY, beberapa sekolah dan penulis buku.Gambar 4 Kumpulan Penerbit Untuk mendapatkan informasi buku, pilih sampul buku yang informasinya ngin dilihat, setelah itu ditampilkan informasi detail yaitu judul buku, pengarang buku, ISBN, penerbit, tanggal terbit, rating buku, sinopsis, wish list(daftar orang yang menginginkan buku), read(siapa yang sedang membaca buku sekarang), tab(yang telah membaca buku), ingin buku. selesai buku, resensi.Gambar 5Detail BukuSelain menggunakan aplikasi ijogja dalam kondisi berhubungan dengan internet atau koneksi internet, dapat digunakan dalam situasi tidak ada koneksi internet atau dalam mode offline,namun terdapat batasan penggunaannya ketika ijogja tidak memiliki koneksi internet, bagaimana bisa digunakan untuk buku bacaan. dengan syarat anda sudah login ke ijogja saat masih menggunakan ijogja dan sudah mendownload buku tersebut. Menurut wawancara pemustaka dari generasi milenial menyebutkan tentang kelemahan dari aplikasi iJogja yang dipaparkan oleh ND:“Aplikasi ini sebenarnya bagus tapi ada keterbatasan jumlah eksemplar sehingga saat mau meminjam buku secara online di koleksi digital harus mengantri terlebih dahulu (ND, 2022)”.Pemaparan keluhan dari wawancara tersebut dikarenakan masa peminjaman buku selama 7 hari, batas peminjaman buku sebanyak 3 buku. Dikarenakan jumlah copy/eksemplar buku terbatas pengguna lain harus mengantri peminjaman buku. Selain itu LN berpendapat atas keluhan dari ND ia menuturkan bahwa:“koleksinyamemang kurang lengkap tetapi jika kita ingin meminjam koleksi yang sudah habis kitab isa membintangi kolleksi tersebut agar dapat mendapatkan notifikasi melalui email apabila buku tersebut sudah dikembalikan dan tersedia.”(LN, 2022)Dalam penggunaan aplikasi melalui koleksi digital memang penuh plus minusnya apalagi dalam pencarian koleksi langka seperti yang dituturkan oleh WA sebagai berikut:“kalau bisa ada penambahan fitur reques buku, soalnya masih banyak koleksi yang ingin dibaca tapi belum tersedia sehingga ada rasa kecewa karena buku yang dicari tidak ada.”(LN, 2022)Keluhan dari pemustaka melalui aplikasi iJogja terlihat juga melalui ratting yang ada di Playstoredimana iJogja mendapatkanratting yang cukup tinggi sebanyak 4,3 tetapi juga ada keluhan dari aplikasi ini yang keluhan tersebut belum bisa dijawab atau diselesaikan oleh pemustaka.Publikasi informasi yang disajikan sebagai konten digital di aplikasi ijogja sebagai koleksi digital tentunya membutuhkan proses seleksi yang ketat oleh seorang pustakawan. Nilai kepercayaan informasi pada bahan pustaka meningkat ketika sampai di perpustakaan (termasuk koleksi digital). Pustakawan berkontribusi pada nilai ini dari banyaknya informasi yang masuk ke perpustakaan melalui koleksi digital saat akuisisi (pengadaan) aplikasi ijogja, pustakawan harus mencari informasi mana yang harus diprioritaskan. Bahkan, terkadang tidak tepat untuk memasukkan informasi tertentu kedalam koleksi digital, karenamembaca informasi tersebut kontroversial, berbahaya, dan merugikan pengguna.
Conclusion
Adapun kesimpulan pada penelitian ini ialah mengetahui tentang kriteria masyarakat milenial yang berkunjung ke Grhatama pustaka melalui penggunaan aplikasi iJogja dan layanan pustakawan dalam mengayomi semua pemustaka terkhusus pada modernitas layanan perpustakaan di koleksi digital perpustakaan, dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan teknik pengumpulan berupa observasi, wawancara. Adapun saran dari pencarian informasi di layanan digital melalui aplikasi iJogja yang digunakan oleh masyarakat milenial seharusnya lebih diperhatikan pada kritik yang dikirim oleh pemustaka dari masyarakat milenial yang menggunakan aplikasi iJogja karena itu akan mempengaruhi ratting yang ada di aplikasi sehingga aplikasi akan terus berkembang dan terus digunakan untuk mempermudah pencarian informasi melalui layanan digital yang sudah disediakan.