Kembali
16
1
2025 House of Wisdom: Journal on Library and Information Sciences Vol 2 · 3 ISSN 3089-6002

Semiotic Construction of Cyberbullying in the Budi Pekerti Trailer

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo; Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Abstract

Cyberbullying has become a prevalent issue in the digital era, facilitated by the rapid spread of information through social media. Specific Background: The Indonesian film Budi Pekerti portrays this phenomenon through its narrative, with the trailer highlighting scenes that depict public judgment and online harassment. Knowledge Gap: While prior studies have explored cyberbullying representation in films and social campaigns, limited research has examined how meaning construction emerges from cinematic trailers using semiotic analysis. Aims: This study investigates how visual, textual, and auditory signifiers in the Budi Pekerti trailer represent cyberbullying (signified) and construct meaning that shapes audience perspectives. Results: Using Ferdinand de Saussure’s semiotic theory and a descriptive qualitative method, the analysis reveals that incomplete video clips in the trailer function as signifiers, prompting varied audience interpretations that often align with negative judgments toward the protagonist, Mother Prani. Novelty: This study demonstrates how a film trailer, as a condensed narrative, can serve as a powerful medium for constructing and circulating meanings about social issues, particularly cyberbullying. Implications: Findings highlight the role of media framing in influencing public opinion, underscoring the importance of critical media literacy to prevent misinterpretation and online harassment.
Keywords: Cyberbullying · Semiotics · Meaning Construction · Film Trailer · Budi Pekerti

Introduction

Pada era saat ini masyarakat lebih sering memainkan media sosial untuk mencari hiburan atau mencari informasi yang diinginkan. Media sosial juga dapat mempengaruhi sikap, tindakan, dan pola pikir penggunanya untuk bereaksi terhadap apa yang pertama kali dilihatnya. Pengguna media sosial kerap terlena dengan sebuah informasi yang mereka lihat dan beranggapan bahwa apa yang mereka lihat adalah benar, karena hal tersebut sebagian besar pengguna media sosial sering memberikan sebuah komentar negatif ketika informasi yang mereka dapat tidak relevan dengan pengetahuan mereka. komentar negatif ini dapat menjerumus kepada tindakan perudungan untuk menyerang individu lain secara personal. Di media sosial aksi perudungan biasa disebut Cyber bullying yang dilakukan mulai kalangan remaja hingga dewasa. Cyber bullying merupakan sebuah tindakan perudungan/atau bullying dengan menggunakan teknologi digital. Cyber bullying ditujukan kepada seorang individu untuk menyerang secara personal berupa segala bentuk kekerasan yang terjadi pada dunia maya atau internet.[1] Cyber bullying adalah perilaku yang berulang bertujuan untuk mengintimidasi, menjatuhkan, atau bahkan melakukan doxing sebuah tindakan menyebarkan informasi pribadi orang lain melalui media sosial. Dari data yang telah peneliti temukan pada tahun 2021 tercatat, 3.077 siswa tingkat SMP dan SMA, terdapat sebanyak 45,35 persen manjadi korban cyber bullying serta 38,41 persen sebagai pelaku Cyber bullying , data tahun 2022 anak di indonesia menjadi korban Cyber bullying tercatat 45 persen dari 2.777.[2] Penelitian APJII(Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonedia) menjelaskan bahwa di tahun 2023 dari 5.900 responden, kasus Cyber bullying di indonesia cukup tinggi dengan persentase 49 persen sebagai korban Cyber bullying .[3] Dampak yang dialami oleh korban Cyber bullying adalah korban akan merasa diserang dari segala arah, bahkan korban ada didalam sebuah rumah, merasa tidak memiliki jalan keluar untuk masalah yang dialaminya. Dampaknya juga dapat mempengaruhi seseorang secara mental, emosional, dan bahkan fisik. Korban Cyber bullying tidak memandang umur, latar belakang, pekerjaan ataupun wawasan seseorang, seperti halnya di film Budi Pekerti. Film “Budi Pekerti” berkisah tentang seorang guru BK (Bimbingan Konseling) yang bernama ibu Prani, seorang guru yang menerima tindakan Cyber bullying hingga membuat beliau terancam kehilangan pekerjaannya, tidak hanya bu prani yang menjadi korban Cyber bullying tapi seluruh anggota keluarganya. Film Budi Pekerti ini berlatar tempatkan di kota Yogyakarta dengan setting waktu pada era modern. Dari film budi pekerti ini kita sebagai penonton diperlihatkan bahwa dari tindakan kecil dapat memberikan dampak yang sangat besar kepada kehidupan orang lain atau bahkan kepada lingkungan yang lebih luas. beberapa permasalahan yang ada didalam film beberapa diperlihatkan dalam trailer pada film Budi Pekerti, mulai dari awal mula konflik pada film Budi Pekerti, latar belakang karakter didalam film, dan beberapa scene atau adegan yang memperlihatkan suatu konflik didalamnya. Komunikasi massa menurut Devito merupakan sebuah proses pengriminan informasi atau pesan kepada orang banyak atau massa. Saluran atau media untuk menyampaikan pesan, digunakan oleh komunikasi massa dengan menggunakan media cetak atau pun media elektronik. Komunikasi massa yang dijalankan oleh media disebut media massa, media menjadi bagian yang sangat penting sebagai proses keberhasilan komunikasi. Media sendiri merupakan sebuah sarana penyampaian pesan yang dikirimkan oleh komunikator kepada komunikan dalam jangkauan yang luas.[4] Penikmat film di indonesia pada kurun waktu lima tahun terakhir terlihat sangat baik. Hal ini terlihat dari data Badan Perfilman Indonesia (BPI), pada tahun 2018 tercatat sebanyak 132 judul film yang diproduksi dengan perolehan jumlah penonton sebanyak 51,2 juta penonton. Tahun 2019 terdapat sebanyak 129 judul film dengan penonton relatif sama dengan tahun sebelumnya yaitu sebanyak 51,2 juta penonton. pada tahun 2020 hingga 2022 pada saat COVID-19 perfilman Indonesia mampu bertahan dan pada tahun 2020 terdapat lonjakan produksi film yang cukup besar yaitu 289 judul dengan sekitar 19 juta penonton. dilanjut pada tahun 2021 mengalami penurunan menjadi 36 judul film yang berhasil diproduksi dengan jumlah 4,5 juta penonton. pada tahun 2022, produksi film kembali meningkat dengan 47 judul yang berhasil diproduksi dan memperoleh 24 juta penonton. Pada tahun 2023, sebanyak 138 judul film diproduksi dan memperoleh 55 juta penonton. Badan Perfilman Indonesia (BPI) mencatat pada tahun 2024, sebanyak 150 judul film diproduksi dengan memperoleh sebanyak 60 juta penonton. Setelah COVID-19 tercatat sekitar 61% market share penonton film di Indonesia, lebih besar dari pencapaian market share film impor sebanyak 39%.[5] Data angka diatas membuktikan bahwa film dapat menjadi sebuah pengaruh yang sangat besar kepada khalayak umum dan juga film dapat menjadi tempat untuk menampung makna-makna serta pesan tersirat maupun tersurat yang akan disampaikan. Konstruktifisme Menurut Lev Vygotsky adalah sebuah pengetahuan dikonstruksikan secara kolaboratif antara individu dan keadaan sosial, hal tersebut dapat diidentifikasi sebagai sebuah pembejalaran yang bersifat generatif, yang dapat diartikan menciptakan sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Film sebagai sebuah media massa berperan dalam mengkonstruksi realita, menggambarkan sebuah persitiwa, dan mendefinisikan makna yang ditujukan kepada penonton. Dengan begitu, film memiliki sebuah peran untuk mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap isu yang diangkat oleh sebuah karya film. Dalam perspektif konstruktivisme, pandangan masyarakat terhadap sebuah isu atau sebuah permasalahan yang ada disekitar mereka dapat mempengaruhi pendapat atau persepsi masyarakat lain mengenai isu tersebut. Pendekatan konstruktivisme memberikan gambaran bahwa peristiwa yang dipresentasikan melalui karya film adalah sebuah konstruksi mengenai isu yang terjadi dilingkungan masyarakat atau gagasan dari pemikiran yang dilakukan oleh orang-orang professional dalam per-filman. [6] Semiotika merupakan sebuah studi yang membahas tentang masyarakat yang memaknai serta memberikan gambaran atau pengertian dalam memaknai suatu hal. Semiotika dalam bahasa yunani adalah seemion yang memiliki arti "tanda", ada juga yang menyebut sebagai semiotikos , berarti "teori tanda". Paul Colbey berpendapat bahwa semiotika berasal dari akar bahasa Yunani. yaitu "seme " yang berarti "penafsir tanda". [4]. Symbol atau tanda sering memiliki sebuah sifat metafora yang memiliki arti pengunaaan sebuah kata atau ungkapan lain untuk mendefinisikan sebuah objek atau persamaan dari objek tersebut.[7] Banyak yang mengartikan semiotika sebagai ilmu signifikasi dari dua tokoh utama peletak dasar istilah tanda, Ferdinand De Saussure dan Charles Sanders Pierce. pengembangan ilmu semiotika dipelopori oleh kedua tokoh tersebut dan mengembangkannya secara terpisah tanpa mengenal satu sama lain. Menurut Saussure, selama adanya perbuatan atau perilaku manusia atau selama memiliki fungsi sebagai tanda pasti membawa makna. Dimana ada tanda disana ada sistem..[8]. Menurut Charles Sanders Pierce, semiotika adalah ilmu yang membahas tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.. [9]. Ferdinand De Saussure menjelaskan sebuah tanda adalah satu kesatuan sebuah bentuk penanda (signifier ) yang terkonsep melalui pikiran atau pertanda (signified ). Dapat dikatakan bahwa penanda adalah sebuah hal yang dapat ditangkap oleh indra manusia berupa bunyi, coretan, atau gerakan yang bermakna. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa simbol adalah unsur-unsur bahasa, sesuatu yang dapat diucapkan dan didengar, ditulis dan dibaca. Sebaliknya, tanda adalah respons terhadap suatu konsep dalam pikiran atau suatu ide.. Pertanda tidak dapat disampaikan tanpa adanya sebuah penanda. tanda atau penanda yang mencakup tanda itu sendiri dan oleh karena itu merupakan unsur linguistik Dengan demikian, proses penanda dan petanda menciptakan suatu realitas eksternal atau petanda.[10] Peneliti memilih semiotika Ferdinand de Saussure dalam penelitian ini adalah karena teori ini mencakup pemahaman tentang tanda yang berperan dalam kehidupan sosial.. Tanda-tanda tersebut menjadi sebuah bentuk komunikasi yang bersifat implisit. Ferdinand de Saussure menjelaskan bahwa tanda merupakan bentuk manifestasi dari sebuah citra bunyi dan sering diartikan sebagai penanda. Didalam teori semiotika miliki Ferdinand de Saussure ini, hubungan antara penanda(signifier ) dan petanda(signified ) bersifat bebas. Signifier adalah sebuah visual dari tanda (sign ) berupa gambar, warna, garis, goresan, huruf, suara atau tanda-tanda lain. Signified sendiri sebagai pemberi makna yang terkandung pada tanda tersebut. Menurut Saussure, tanda (sign) sendiri memiliki sebuah sifat arbitrary yang dapat diartikan sebuah kombinasi antara signifier dan signified , dari kombinasi tersebut terciptah sebuah entitas yang manasuka. Manasuka memiliki sebuah arti tidak adanya keharusan suatu rangkaian tanda tertentu untuk harus mengandung makna yang tertentu juga. Makna sebuah kata tergantung dari kesepakatan bahasa masyarakat yang bersangkutan.[11]. Ferdinand de Saussure menekankan tanda memiliki sebuah makna tertentu karena adanya pengaruh dari peran bahasa. Ferdinand de Saussure menjelaskan bahwa makna merupakan sebuah "gambaran" atau "ide" dengan demikian miliki atau pengaruh terhadap pada sebuah tanda linguistik.[12] Ferdinand de Saussure melihat linguistik sabagai ilmu sosial, dan belia juga menegaskan bahwa unit dasarnya adalah psikis, yaitu mental dan konseptual, bukan fisik. Hal ini merupakan sebuah klaim ganda yang bisa dibenarkan jika makna dibernutk pada semua tingkatan, mulai dari umat manusia, peradaban, masyarakat, hingga kelompok, dan individu, sebagai interaksi fraktal (tidak pernah terputus).[13] Tanda linguistik yaitu kata, mempunyai ada empat penanda: serangkaian fungsi sintaksis, serangkaian makna yang memungkinkan dalam frasa semantik, serangkaian makna yang ditentukan jaringan dalam wacan semantic, dan serangkian makna yang terkait dengan pengucapan dan kumpulan makna ini akan saling menentukan ketika sebuah kata dipastikan mempunyai arti spesifikasi dalam kontek tertentu, yakni dalam dimensi sematik. Penelitian dengan tema yang sama berjudul "Perancangan Visual Iklan Layanan Masyarakat Mengenai Cyber bullying Melalui Media Sosial" membuat edukasi berupa pembuatan iklan layanan masyarakat yang mengangkat sebuah isu Cyber Bullying untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait sebuah perilaku Cyber Bullying dan untuk merancang sebuah kampanye sosial yang efektif, kampanye yang dilakukan menggunakan media berupa animasi 2 dimensi dengan format motion grafik melalui media sosial. Pada penelitian selanjutnya yang berjudul "Reprentasi Perudungan pada Video Music Babymetal – Ijime, Dame, Zettai: Analisis Semiotika Roland Barthes" dengan menggunakan metode kualitatif dan menganalisis data menggunakan empat fase tinjauan desain: analisis formal, analisis deskriptif, interpretasi, dan evaluasi.. dari Penelitian ini mengangkat sebuah isu Cyber Bullying yang ada pada video music Babymetal yang berjudul Ijime, Dame, Zettai memberikan sebuah gambaran yang relevan pada masyarakat di indonesia saat ini dengan menyalahgunaan teknologi seperti media sosial dengan cara menyebarkan informasi hoax, adu domba, hingga menyebarkan kalimat kebencian dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Penelitian selanjutnya yang berjudul "Fenomena Cyberbullying pada Kalangan Ulama’ di Era Dakwah Digital (Studi Kasus Akun Instagram Gus Miftah" memiliki hasil yang menjelaskan bentuk pesan Cyber bullying pada akun instagram milik Gus Miftah berbentuk flaming, denigration, impersonation/Mask grading, dan exclution . Dampak yang timbul dari adanya tindaikan Cyber bullying yang dialami oleh Gus Miftah pada akun instagramnya adalah berkurangnya pengikut (followers ) dan bertambahnya pengguna media sosial yang tidak menyukasi dakwah Gus Miftah. Pada penelitian ini peneliti membahas sebuah topik yang satu linier dengan jurnaljurnal diatas. Penelitian ini juga membahas sebuah permasalahan Cyber bullying, hanya saja peneliti memilih sebuah media berupa trailer film untuk subject pada penelitian ini, karena pada trailer film tersebut menjelaskan berbagai hal yang sering dilakukan oleh masyarakat di kehidupan nyata, akan tetapi masyarakat tidak mengetahui apakah hal tersebut layak dilakukan atau tidak, ketidak tahuan masyarakat menciptakan sebuah kebiasaan yang dapat merugikan individu lain bahkan kelompok yang lebih besar. Pada penelitian ini, rumusan masalah yang peneliti ingin ketahui adalah untuk mengetahui bagaimana penanda(signifier) berupa visual, subtitles , dan suara memiliki potensi menjadi cyber bullying (petanda) pada trailer film Budi Pekerti, dan bagaimana kontruksi makna dari penanda di dalam trailer film Budi Pekerti memberikan sebuah makna tertentu yang dapat menggiring sebuah pemahaman atau sudut pandang individu lain. Kemudian, penelitian ini bertujuan untuk memberikan sebuah pemahaman bahwa tanda memiliki sebuah makna yang dapat muncul dari berbagai bentuk informasi dan juga sebuah makna dapat menggiring sebuah prespektif atau sudut pandang seseorang untuk ikut meyakini makna tersebut. lalu dari sebuah makna, seseorang dapat memberikan kesimpulan untuk menilai sebuah informasi yang diterima terlepas informasi tersebut benar atau salah

Method

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mendeskripsikan tanda yang terkandungan pada trailer film "Budi Pekerti" dengan menggunakan teori semiotika miliki Ferdinand De Soussure untuk memfokuskan pada sebuah penanda (signifier ) dan petanda (signified ) yang berupa bentuk visual, suara, dan subtitles pada trailer film "Budi Pekerti". Menurut Ericson (1987) menyatakan bahwa penelitian kualitatif digunakan untuk menemukan dan menggambarkan secara deskriptif dari sebuah isu dari tindakan yang dilakukan. Metode kualitatif dimaksudkan untuk fokus pada pengamatan yang mendalam dengan begitu penelitian dapat mengahsilkan sebuah kajian yang lebih komprehensif. Subjek dalam penelitian ini adalah trailer film "Budi Pekerti", dengan objek berupa tanda-tanda yang muncul pada visual trailer film Budi Pekerti. Peneliti menggunakan metode analisis semiotika untuk merealisasikan beberapa tanda yang terkandung didalamnya, kemudian menemukan makna dibalik tanda yang dipaparkan dalam trailer film "Budi Pekerti". Teknik pengambilan data menggunakan teknik pengamatan yang dilakukan terhadap objek penelitian yaitu trailer film "Budi Pekerti". Kemudian peneliti mengambil data primer berupa screenshoot gambar atau potongan scene dari trailer film "Budi Pekerti" lalu data sekunder berupa referensi jurnal atau buku yang relevan.

Result & Discussion

Pada era modern ini kita dituntut untuk mengikuti perkembangannya, salah satunya adalah perkembangan informasi yang begitu cepat melalui berbagai media. Media sosila memberikan berbagai kemudahan dalam bentuk komunikasi, informasi, dan bahkan hiburan yang dapat diakses oleh semua kalangan usia. Dari akses yang begitu mudah tersebut juga tersimpan banyak sekali hal-hal negatif, penipuan, ujaran kebencian, hoax , penyalah gunaan informasi, dll[14]. Berhati-hati dalam mencari atau menerima informasi merupakan sebuah proses berpikiran yang berguna untuk tidak termakan informasi palsu atau hoax dan juga dapat menjadi proses pengambilan kesimpulan yang bijak. Proses berpikir untuk pengambilan sebuah kesimpulan dalam menerimaan informasi tentunya harus terus diasah karena informasi dan pengetahuan berkembang seiring zaman, Pengetahuan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi opini seseorang.[15] Film Budi Pekerti ini merupakan sebuah film yang memberikan gambaran kepada penonton bahwa mayoritas masyarakat terlalu mudah untuk mempercayai apa yang mereka lihat di handphone , sangat mudah terbuai oleh penggiringan opini, dan memperlihatkan betapa menakutkanya dampak dari penilaian sepihak dari media sosial. Film ini memberikan kritikan serius serta mengajak penonton untuk berpikir, menyaring informasi, dan lebih berhati-hati untuk meminimalisir adanya tindak cyber bullying . Berdasarkan teori tersebut maka pada bagian ini peneliti melakukan analisis untuk mengetahui bagaimana penanda(signifier) berupa visual, subtitles , dan suara memiliki potensi menjadi cyber bullying (petanda) pada trailer film Budi Pekerti, dan bagaimana kontruksi makna dari penanda di dalam trailer film Budi Pekerti memberikan sebuah makna tertentu yang dapat menggiring sebuah pemahaman atau sudut pandang. Sehingga akan sesuai dengan tujuan penelitian, berikut adalah susunan table hasil analisis. Tabel 2. Analisis penanda dan petanda mengidentifikasi prilaku cyberbullying No Adegan Penanda Petanda Makna 1 seorang pria dengan berpakaian layaknya penggowes ditengah pasar Seorang pria memberikan sebuah argumen dengan gestur menantang dan mengejek yang diperlihatkan dari posisi tubuh tegak dan menyerong, ditambah dengan sorot mata mengintimida si yang menandakan pria tersebut melakukan hal yang menurutnya benar dan bisa melakukan apa saja. Kepercayaan diri mampu mendorong seseorang untuk melakukan suatu hal tanpa adanya rasa takut akan kesalahan atau kegagalan, akan tetapi terlalu merasa percaya diri juga mendorong seseorang untuk melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Ditambah lagi kecenderungan masyarakat untuk dinilai lebih baik membuat mereka merasa lebih unggul terhadap orang lain dan melakukan apa saja kepada orang lain tanpa peduli apakah itu benar atau salah.. Dari hal tersebut juga menjadi alasan timbulnya tindakan perudungan(bullying ) kepada orang lain. 2 Prani yang sedang menegur pria penggowes Ibu prani sebagai tokoh utama memperlihatk an ekpresi Penyebaran informasi tanpa adanya sumber yang jelas dapat menimbulkan kesalahan pemahaman atas informasi yang diterima, hal ini dapat di tengah kerumunan masyarakat marah yang terlihat dari sorot matanya dengan dibarengi ucapan ibu prani untuk menegur dengan keras. Disamping itu, banyak dari kerumunan masyrakat sedang mengabadika n momen ibu prani yang marah tersebut dengan menggunaka n handphone mereka. menjadi sebuah permasalahan yang dapat merugikan berbagai pihak yang ada dalam informasi tersebut dan juga penyelesaian masalah dengan menggunakan emosi akan menimbulkan permasalah baru yang lebih besar, karena permasalahan tersebut akan terus menumpuk dan tidak akan pernah selesai. penyelesaian masalah harus dilakukan dengan kepala dingin serta melakukan mediasi antara individu yang memiliki masalah, hal ini diperlukan untuk mendapatkan pemahaman dan penyelsaian yang sesuai dengan permasalahan yang ada. 3 Memperlih atkan potongan video yang didalamnya ada ibu Prani yang sedang marah dan melakukan kontak fisik kepada nenek paruh baya Dari subtitles yang ada pada gambar disamping memperlihatk an bahwa tindakan yang dilakukan oleh ibu prani menarik pengguna media sosial untuk melihat potongan video yang didalamnya ibu prani sedang marah dan Banyak orang memiliki kecenderung sangat ingin tahu, ditambah lagi penyebaran informasi yang sangat cepat pada era modern ini membuat informasi dengan mudah sampai kepada pengguna media sosial tanpa adanya hambatan, terlepas dari informasi itu sesuai dengan kehidupan nyata atau tidak. melakukan kekerasan kepada seorang nenek penjual putu. 4 memperlih atkan wajah ibu Prani yang diedit untuk mempermalu kan ibu Prani Pengguna media sosial mulai membuat berbagai konten untuk menyebarluas kan dengan maksud untuk menyerang ibu prani melalui media sosial. Kreativitas dapat menjadi sebuah langkah seseorang untuk membuat sesuatu menjadi hal yang bermanfaat, akan tetapi apabila kreativitas itu disalah gunakan maka menjadi sebuah tindakan yang dapat merugikan orang lain. Karena kreativitas seseorang memiliki sifat fleksibel yang berarti kreativitas tidak dapat diubah, dihapus, ataupun dicegah, kreativitas hanya bisa berkembang atau dikombinasikan tergantung orang yang memilikinya. Dari sifat itulah kreativitas apabila disalah gunakan akan menjadi sebuah senjata untuk menyerang orang lain melalui media sosial dengan cara membuat konten dengan informasi yang berisikan sindiran, hujatan, atau bahkan melebih-lebihkan informasi di dalamnya untuk menyerang seseorang secara personal dan juga menarik masa untuk ikut menyerang seseorang yang ditargetkan 5 Ibu Prani yang berprofesi sebagai guru BK menerima peringatan dari sekolahnya untuk diberhentikan Dengan semakin banyaknya pihak yang membenci ibu prani, membuat pihak sekolah yang ditempati ibu Banyak dari pengguna media sosial dengan mudah termakan sebuah informasi yang ramai diperbincangkan di media sosial, dan juga banyak dari mereka hanya mengikuti pendapat mana yang lebih banyak lalu membuat kesimpulan dari informasi tersebut. nya ibu Prani sebagai guru Bk prani bekerja menerima laporan untuk memberhenti kan ibu prani dari posisinya sebagai guru BK di sekolah tersebut. Sebagian besar pengguna media sosial memiliki kecenderungan untuk menghakimi seseorang dengan memberikan kata-kata kasar. 6 seorang murid yang mulai kehilangan rasa hormat kepada ibu Prani sebagai guru Dari kasus cyber bullying yang dialami oleh ibu prani membuat kalangan guru dan bahkan kalangan murid juga mulai tidak memiliki rasa hormat kepada ibu prani selaku guru yang mengajar. Hampir semua anak dalam proses pertumbuhan akan meniru perilaku orang dewasa sebagai "kiblat" untuk mereka berkembang dalam bentuk perilaku, proses berpikir, dan menarik sebuah kesimpulan. Dengan perkembangan zaman yang begitu canggih, kebanyakan anak mulai masuk ke dalam dunia dengan barbagai informasi yang tidak dapat dicegah. Tanpa pengawasan orang tua atau orang dewasa lainnya, seorang anak akan mudah terjebak dalam sebuah informasi negatif dan juga dapat mengajak mereka untuk berperilaku negatif yang mana hal tersebut sangat berbahaya bagi proses pertumbuhan mereka 7 Memperlih atkan anak ibu Prani menangis karena reputasi yang telah dibangun oleh ibunya selama 20 tahun akan hancur Dengan menyebarnya ujaran kebencian yang ditujukan kepada ibu prani, dampak dari hal itu juga mulai masuk kedalam keluarga ibu prani dan Kecenderungan seseorang dalam menilai dari satu sudut pandang dapat membuat sebuah kesalahan untuk mengambil keputusan. Pengambilan keputusan didasari oleh pemahaman sebuah informasi yang diterima dengan diperkuat dari beberapa sumber. Akan tetapi apabila dari banyaknya sumber itu melakukan kesalahan dalam memahami sebuah informasi yang mereka terima terancam akan diberhentikan dari profesi guru yang sudah mengabdi selama 20 tahun. lalu disebarkan kepada lebih banyak orang. Makah hal itu dapat menjadi sebuah rentetan kesalahpahaman informasi dan menjadikan sebuah informasi yang pada awalnya belum tentu benar menjadi benar karena orang-orang yang memahami informasi tersebut sepakat bahwa itu benar, lalu membuat sebuah kesimpulan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan yang terkait akan informasi tersebut. 8 Memperlih at didalam sebuah ruangan yang diisi oleh beberapa remaja sedang mengangkat handphone dengan keadaan lampu flash menyala yang menandakan mereka merekam video Dengan menyebarnya informasi negatif terkait yang dilakukan oleh ibu prani, membuat semua orang mamakai handphone mereka sebagai alat untuk melindungi diri atau pun sebagai alat pembuktian untuk menyalahkan individu lain. Kecenderungan masyarakat untuk merasa aman ataupun merasa lebih baik dari pada orang lain, membuat mereka akan melakukan segala hal untuk mendapatkannya. Dengan didukungannya perkembangan zaman pada era saat ini, teknologi dapat menjadi sebuah senjata untuk membantu seseorang untuk mendapatkan apapun yang mereka inginkan. Handphone salah satu hasil dari perkembangan zaman yang memiliki kemudahan untuk diakses dan mudah untuk dibawa. Disisi lain dari kecanggihan teknologi seperti handphone memiliki sisi negatif yang dapat disalah gunakan seperti penggunaan kamera yang untuk merekam privasi orang lain, melakukan spam atau penipuan, menyebarkan informasi palsu dsb. 9 Memperlih at ada dua orang di atas motor yang disiram air Dari kasus cyber bullying yang dialami oleh ibu prani membuat Ketika seseorang sudah memiliki sebuah perasaan atau sudut pandang berupa kebencian yang mendalam, maka seseorang itu akan oleh orang tidak dikenal pada malam hari. anggota keluargannya juga mengalami tindakan kekerasan di dunia nyata yang dilakukan oleh orang tidak dikenal menganggap semua hal yang berkaitan dengan yang mereka benci, mereka akan menganggap hal itu adalah salah meski hal itu belum tentu salah. dan apa bila mereka menemui hal yang mereka benci, mereka cenderung untuk meninggalkannya atau menghakimi secara langsung tanpa pikir panjang. Kecenderungan masyarakat untuk melakukan penilaian terhadap sesuatu menjadikan sebuah alasan mengapa penyebaran informasi tersebut sangat cepat meskipun informasi tersebut disebarkan melalui mulut ke mulut. Dari pembahasan diatas diperkuat melalui penelitian terdahulu yang berjudul "Analisis Semiotika Sebagai Representasi Pesan Moral Pada Film “Budi Pekerti” oleh [16] bahwa adanya kekerasan yang terjadi tidak hanya terjadi secara fisik, melainkan tindakan kekerasan secara verbal dan emosional. Budaya sanksi sosial yang masih melekat kepada masyarakat saat ini. Masyarakat lebih memberikan kesimpulan terhadap nilai-nilai yang mengikat dikehidupan setiap orang, orang dinilai memiliki rekam jejak negative akan dijauhi, diasingkan, dan lebih parah dirudung atau di-bully . Melalui perkembangan media sosial dengan mudah untuk memutar balikkan fakta dan akan memberikan dampak negative bagi salah satu pihak. media sosial juga menjadi tempat oknum=oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan informasi untuk menjatuhkan individu lain dan sebagai bentuk ujaran kebencian. Dari analisis diatas dapat diartikan bahwa cyber bullying terjadi karena adanya pemahaman dari informasi yang tidak utuh atau memang didasari untuk menyerang individu secara personal dengan menebarkan kebencian di media sosial. Cyber bullying juga dapat menjadi salah satu alasan atas kemunduran sebuah lingkungan masyarakat dalam berpikir serta memahami segala bentuk informasi, karena kurangnya pengetahuan yang didapat dari perkembangan zaman. Hal itu dapat terlihat saat lingkungan masyarakat jauh lebih mudah untuk terhasut/tergiring dalam pengalihan isu. Dari kebanyakan komentar netizen di akun youtube Prilly Latuconrina memberikan tanggapan yang sama yaitu film "Budi Pekerti" merupakan sebuah film yang mengangkat tema yang relevan di kehidupan sosial, terlebih lagi pada era saat ini pengguna media sosial berbasis internet merasakan dampak yang sama. Adanya sebuah isu sosial menjadikan masyarakat memahami dan memiliki pemahaman yang sama terkait isu tersebut, hal ini sama seperti yang dijelaskan pada "Teori Belajar Sosiokultur (Lev Vygotsky)"[17] bahwa intelegensi manusia berasal dari masyarakat, lingkungan dan budaya, kognitif individu pertama kali melalui interaksi dengan lingkungan sosial. Dengan begitu konstruksi makna terbentuk dari banyakanya individu yang memberikan opini atau sudut pandang mereka untuk memaknai suatu isu sosial dan disepakati oleh banyaknya individu yang berkontribusi di lingungan sosial tersebut.. Sedangkan dari analisis "Construction Of The Meaning Of Cyber Bullying In The Trailer Of The Budi Pekerti Film (Semiotic Analysis Of Ferdinand De Saussure)" memiliki konstruksi makna yang sesuai dengan teori konstruksi makna milik Lev Vygotsky adalah sebuah pengetahuan dikonstruksikan secara kolaboratif antara individu dan keadaan sosial, hal tersebut dapat diidentifikasi sebagai sebuah pembejalaran yang bersifat generatif, yang dapat diartikan menciptakan sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Dimasukkannya tanda merekonstriksikan proses seleksi, dengan mengedepankan aspek yang relevan, dan mengatur ulang situasi yang ada di sekitarnya. Tanda dengan demikiran diberi fungsi sebagai titik penentu dalam kaitannya dengan masalah yang dihadapi. Oleh karena itu, perolehan penggunaan tanda berpengaruh pada sluruh proses kognitif seleksi.[18] Dalam hasil dan pembahasan dari trailer film Budi Pekerti memperlihatkan bahwa kecenderungan masyarakat untuk memberikan kesimpulan terhadap sebuah informasi dapat mempengaruhi individu lain. masyarakat juga cenderung tergesa-gesa dalam melakukan kesimpulan terhadap sebuah informasi yang diterima tanpa menggali informasi lebih dalam terkait isu tersebut. kecenderungan masyarakat yang memiliki sebuah perasaan atau sudut pandang berupa kebencian yang mendalam, maka seseorang itu akan menganggap semua hal yang berkaitan dengan yang mereka benci, mereka akan menganggap hal itu adalah salah meski hal itu belum tentu salah.

Conclusion

Pada penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa trailer film Budi pekerti ini juga memperlihatkan masyarakat memiliki kecenderungan sifat gegabah terhadap suatu isu yang terjadi dilingkungan mereka, seperti (penanda) ketika ibu prani marah kepada penjual dan pembeli yang menyerobot antrian, kemudian ada pengunjung pasar lain yang merekam kejadian tersebut, (petanda) rekaman tersebut dipotong-potong sehingga informasi didalamnya tidak untuh saat disebar ke media sosial. Dari makna diatas dapat diartikan bahwa pengambilan keputusan atau memberikan kesimpulan secara tergesa-gesa tanpa mengetahui kebenaran mengenai sebuah informasi yang sedang ramai dibicarakan, dapat menjadi sebuah dasar terjadinya perselisihan diantara masyarakat. Seperti halnya pada trailer film Budi Pekerti, dari sebuah potongan video yang tidak utuh membuat pengguna media sosial memiliki berbagai macam kesimpulan untuk memaknai isu tersebut, dari makna-makna tersebut menghasilkan makna baru yang diyakini oleh pengguna media sosial dan memunculkan keputusan untuk menghakimi ibu Prani sebagai tindakan Cyber Bullying .