Kembali
16
1
2023 Maktabatun Jurnal Perpustakaan dan Informasi Vol 3 · 2 ISSN 2797-2275

Makna Leksikal Udang di Balik Batu dalam Ungkapan

Universitas Riau; Universitas Riau; Universitas Riau; Universitas Riau

Abstrak

Bahasa seringkali mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman dan penuturnya. Bahasa sebagai sarana ekspresi dan komunikasi dalam kehidupan manusia seperti dalam bidang kebudayaan, ilmu dan teknologi. Berkembangnya pengaruh dunia barat yang membuat perubahan pada bahasa di indonesia seperti pada kosakata dan peristilahan. Masyarakat diindonesia memiliki keterkaitan yang erta pada bahasa indonesia, asing dan daerahMetode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu jenis penelitian kualitatif yaitu yang bersifat dekskriptif dan dilakukan menggunakan analisis. Proses dan makna lebih cenerung pada penelitian ini dengan teori sebagai landasan agar fokus pada penelitian sesuai dengan lapangan, hasil serta riset penelitian ini memerlukan anlisis yang mendalam untuk mendaoatkan data. Semantik leksikal adalah mengacu pada leksikal makna, atau makna yang ada dalam suatu leksem meskipun tidak ada konteks yang eksplisit . Misalnya, leksem buya (buaya) mempunyai leksikal " sejenis binatang melata " makna. karena itu, makna leksikal setara dengan makna biasa Bahasa/ ungkapan adalah gabungan kata yang maknanya sudah menyatu tidak perlu ditafsirkan dengan makna unsur membentuknya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut terdapat makna leksikal dalam ungkapan "Ada udang dibalik batu”, makna leksikal dalam ungkapan " Ada udang di balik batu" yaitu untuk memperkuat suatu gagasan secara tersembunyi. Dengan menggunakan istilah udang dan batu, ungkapan ini menggambarkan keaktifan dan produktivitas kedua elemen tersebut dalam kehidupan di dalam air.

Abstract

Language often changes along with the times and its speakers. Language as a means of expression and communication in human life such as in the fields of culture, science and technology. The development of the influence of the western world that makes changes to the language in Indonesia such as vocabulary and terminology. The research method used in this research is a type of qualitative research that is descriptive and carried out using analysis. The process and meaning are more cenerung in this study with theory as a foundation to focus on research in accordance with the field, the results and research of this study require in-depth analysis to obtain data. Lexical semantics refers to lexical meaning, or the meaning that exists in a lexeme even though there is no explicit context. For example, the lexeme buya (crocodile) has a lexical "a type of slithering animal" meaning. Therefore, the lexical meaning is equivalent to the ordinary meaning of language/expression is a combination of words whose meaning has been fused and does not need to be interpreted with the meaning of the elements that make it up. Based on the results of the study, there is a lexical meaning in the expression "There are shrimp behind the stone", the lexical meaning in the expression "There are shrimp behind the stone" is to strengthen an idea in a hidden way. By using the terms "shrimp" and "stone", this expression illustrates the activeness of the language.
Keywords: lexical meaning · expressions · shrimp behind a rock

Introduction

Bahasa seringkali mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman dan penuturnya. Bahasa sebagai sarana ekspresi dan komunikasi dalam kehidupan manusia seperti dalam bidang kebudayaan, ilmu dan teknologi. Berkembangnya pengaruh dunia barat yang membuat perubahan pada bahasa di indonesia seperti pada kosakata dan peristilahan. Masyarakat diindonesia memiliki keterkaitan yang erta pada bahasa indonesia, asing dan daerah. Bahasa daerah khususnya disebut sebagai bahasa ibu dan juga sebagai lambang identitas negara, sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari hari, baik dalam lingkungan keluarga maupun kelompok penutur itu. Bahasa adalah sistem kompleks yang digunakan oleh suatu kelompok atau komunitas manusia untuk menyampaikan pikiran, perasaan, ide, dan informasi. Lebih dari sekadar alat komunikasi, bahasa mencakup aturan-aturan kompleks yang mengatur bagaimana kata-kata disusun, dikombinasikan, dan diartikulasikan untuk membentuk kalimat yang bermakna. Ini meliputi tata bahasa, struktur sintaksis, kosakata, fonologi, dan semantik yang membentuk inti dari suatu bahasa. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga mencerminkan dan membentuk identitas budaya suatu kelompok. Melalui bahasa, nilai-nilai, tradisi, dan pengetahuan turun-temurun dilestarikan dan disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bahasa juga memungkinkan manusia untuk berpikir, belajar, dan berinteraksi secara kompleks dengan dunia di sekitarnya. Setiap bahasa memiliki keunikan tersendiri, baik dalam tata bahasa, kosakata, cara menyampaikan makna, hingga karakteristik kultural yang tercermin di dalamnya. Dalam konteks globalisasi, bahasa juga menjadi jembatan yang menghubungkan antarbudaya, memungkinkan pertukaran informasi, gagasan, dan pemahaman lintas batas negara dan etnis.Dalam evolusi sosial manusia, bahasa memiliki peran vital dalam perkembangan pengetahuan, teknologi, dan pemikiran. Bahasa juga merupakan sarana untuk menyatukan orang-orang dengan pengalaman, latar belakang, dan pandangan yang beragam, memungkinkan mereka untuk memahami satu sama lain dan bekerja sama dalam menghadapi tantangan kompleks yang dihadapi manusia Semantik leksikal menyangkut makna leksikal yaitu makna yang dimiliki atau yang terdapat pada laksem meski tidak terdapat kontek apapun. Makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, seperti yang dikatakan oleh Kearns yang mengatakan bahwa makna leksikal yaitu makna dari kata itu sendiri. (Pramuniati, 2008). Ungkapan-ungkapan dalam bahasa sering kali memiliki makna yang mendalam dan mengandung nilai-nilai budaya serta kearifan lokal. Salah satu ungkapan yang cukup sering digunakan dalam percakapan sehari-hari adalah "makna leksikal udang di balik batu." Ungkapan ini memiliki kekayaan makna dan mengandung filosofi yang dalam. Ungkapan ini seakan-akan menggambarkan sebuah misteri yang disembunyikan di balik sesuatu yang biasanya dianggap biasa atau sepele, seperti batu. Udang yang bersembunyi di balik batu melambangkan sesuatu yang tersembunyi atau sulit diakses, namun memiliki nilai atau kebenaran yang berharga ketika ditemukan. Dalam konteks ini, ungkapan ini tidak hanya berfungsi sebagai metafora, tetapi juga mencerminkan cara pandang dan pemahaman manusia terhadap kehidupan dan pengetahuan. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi asal-usul ungkapan "makna leksikal udang di balik batu," menggali lebih dalam tentang makna leksikal dan filosofi yang terkandung di dalamnya, serta melihat bagaimana ungkapan ini mencerminkan kebijaksanaan tradisional dan nilai-nilai budaya dalam masyarakat. Dengan memahami makna leksikal udang di balik batu, kita dapat merenungkan nilai-nilai kebijaksanaan lama dan memperkaya pemahaman kita tentang kekayaan bahasa serta kearifan lokal yang tersembunyi di balik ungkapan-ungkapan sehari-hari. Semantik adalah cabang studi bahasa yang mengkaji hubungan antara entitas kebahasaan dengan entitas yang di deskrisikan atau dengan kata lain, studi bahasa disiplin ilmu studi disiplin ilmu itulah yang mempelajari makna dalam bahasa tersebut.(Ginting & Ginting, 2019) Tulisan semantik berasal dari bahasa Yunani yang bercirikan tanda atau lambang ( tanda ). ditandai dengan tanda atau lambang (tanda). kemudian disiapkan sebagai alat untuk studi linguistik yang melibatkan analisis kasus dengan hipotesis yang sesuai . Oleh karena itu, semantik dapat dilihat sebagai pengetahuan tentang makna atau isi, menjadikannya salah satu dari tiga teknik analisis bahasa : gramatikal, fonologis, dan semantik -semantik. ke cabang ilmu linguistik yang mengajarkan makna unsur atau kata makro yang terkandung dalam bahasa, kode atau jenis representasi tertentu.Dengan kata lain Jadi, semantik adalah ilmu yang mempelajari makroekonomi. Semantik biasanya biasanya dikaitkan dengan dua lainnyadua aspek aspek ,Sintaks, simbol komprehensif simbol komprehensif terdiri dari simbol - simbol tersusunlebih halus, dan pragmatik, penggunaan simbol -simbol praktis oleh komunitas dalam konteks tertentu .simbol - simbol yang lebih halus, dan pragmatik, penggunaan simbol - simbol praktis oleh komunitas dalam konteks tertentu (Nafinuddin, 2020).

Method

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu jenis penelitian kualitatif yaitu yang bersifat dekskriptif dan dilakukan menggunakan analisis. Proses dan makna lebih cenerung pada penelitian ini dengan teori sebagai landasan agar fokus pada penelitian sesuai dengan lapangan, hasil serta riset penelitian ini memerlukan anlisis yang mendalam untuk mendaoatkan data. Jenis penelitian kualitatif yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif yaitu penelitian yang menggambarkan suatu hasil penelitian, jenis penelitian deskriptif memiliki tujuan memberikan deskripsi dan penjelasan serta validasi fenomena yang diteliti.

Result & Discussion

A.Makna Leksikal (Pramuniati, 2008) Semantik leksikal adalah mengacu pada leksikal makna, atau makna yang ada dalam suatu leksem meskipun tidak ada konteks yang eksplisit. Misalnya, leksem buya (buaya) mempunyai leksikal " sejenis binatang melata " makna. Oleh karena itu, makna leksikal setara dengan makna biasa. Hal ini senada dengan yang dikemukakan Kearns ( 2000:3) yang menyatakan bahwa leksikal makna adalah makna dari kata itu sendiri, sedangkan bidang yang menganalisis suatu leksikal semantik menurut asas-asasnya disebut dengan “leksikologi ”. Sebaliknya, Pateda ( 2001 : 74 ) menyatakan bahwa dalam semantik, semantik yang bersifat leksikal cenderung lebih fokus pada struktur tata bahasa yang terdapat dalam sebuah teks. Temuan serupa dilaporkan oleh Saeed ( 2000 ), dimana studi tentang gambaran mental disebut sebagai semantik dan leksikal Leksikal makna itu saja makna yang sesuai dengan dengan hasil hasil observasi Indra kami . observasi Indra kami . Inilah yang membuat banyak orang percaya bahwa leksikal makna adalah kamus makna . jelas bukan ide yang bagus, tapi ada juga jenis makna yang lain, misalnya kiasan makna, gramatikal makna, dan sebagainya. Dalam kajian ini, kita akan mengulas semantik semantik, yang meliputi survei semantik dan relasi. Hal inilah yang membuat banyak orang meyakini bahwa leksikal makna adalah kamus makna . Ini jelas bukan ide yang bagus, tapi ada juga jenis makna lainnya, seperti kiasan makna, gramatikal makna, dan sebagainya. Makna leksikal merupakan salah satu aspek penting dalam analisis linguistik yang merujuk pada arti dasar atau inti sebuah kata dalam bahasa. Ini adalah makna yang ditemukan dalam kamus yang menjelaskan esensi atau signifikansi sebuah kata tanpa mempertimbangkan konteks atau penggunaannya dalam kalimat. Dalam kajian linguistik, setiap kata memiliki makna leksikalnya sendiri yang dapat digambarkan dalam kamus-kamus. Makna leksikal ini bisa sangat spesifik atau bersifat umum, bergantung pada kata yang bersangkutan. Sebagai contoh, kata "panas" memiliki makna leksikal yang menggambarkan suhu yang tinggi, namun dalam konteks tertentu juga bisa merujuk pada perasaan atau suasana yang intens. Makna leksikal sebuah kata bisa berbeda-beda antara satu bahasa dengan bahasa lainnya, bahkan dalam bahasa yang sama, kata tersebut bisa memiliki makna yang berbeda tergantung pada konteks penggunaannya. Makna leksikal merupakan komponen penting dalam memahami struktur bahasa. Namun, dalam analisis linguistik, makna leksikal juga dibedakan dari makna gramatikal dan makna dalam konteks. Makna gramatikal terkait dengan bagaimana sebuah kata digunakan dalam susunan kalimat, sementara makna dalam konteks berkaitan dengan cara sebuah kata diterapkan dalam situasi atau percakapan tertentu. Perlu dicatat bahwa makna leksikal tidaklah selalu tetap atau statis. Makna sebuah kata dapat berkembang seiring waktu atau bisa memiliki variasi makna tergantung pada penggunaan dalam konteks yang berbeda. Dalam studi linguistik, analisis makna leksikal melibatkan klasifikasi kata berdasarkan makna dasarnya. Misalnya, kata benda, kata kerja, kata sifat, dan sebagainya memiliki makna leksikal yang berbeda-beda yang mencerminkan peran gramatikalnya dalam kalimat. B. Ungkapan 1. Pengertian ungkapan tradisional Bahasa/ ungkapan adalah gabungan kata yang maknanya sudah menyatu dan tidak perlu ditafsirkan dengan makna unsur yang membentuknya. Idiom atau yang disebut juga dengan ungkapan adalah gabungan kata yang memiliki arti baru tanpa adanya hubungan dengan makna kata pembentuk dasarnya. entu, ungkapan adalah serangkaian kata atau frasa yang memiliki makna khusus yang mungkin tidak dapat dipahami secara harfiah dari arti kata per kata. Mereka sering kali memiliki makna kultural, idiomatik, atau kontekstual yang tidak langsung terlihat dari komponen kata-katanya. Ungkapan tradisional merujuk pada frase atau kalimat yang telah ada dalam budaya suatu masyarakat selama bertahun-tahun, seringkali diwariskan dari generasi ke generasi. Ungkapan-ungkapan ini mengandung makna khusus yang tidak selalu bisa dipahami secara harfiah, melainkan mewakili nilai-nilai, kearifan lokal, atau pengalaman yang telah diterima dan diinternalisasi dalam budaya tertentu. Mereka adalah ungkapan yang terbentuk dari penggunaan kata-kata secara khusus yang bisa memiliki makna figuratif, metaforis, atau simbolis. Ungkapan-ungkapan ini sering digunakan untuk menggambarkan situasi tertentu atau memberikan nasihat. Keunikan dari ungkapan tradisional adalah bahwa meskipun mereka mungkin memiliki asal-usul historis, maknanya seringkali tetap relevan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Mereka dapat menjadi cara yang kuat untuk menyampaikan pemahaman mendalam tentang kehidupan, sikap, atau nilai-nilai tertentu dalam suatu budaya. Contoh ungkapan tradisional dari berbagai budaya seringkali menjadi bagian penting dari identitas budaya dan warisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui penggunaan ungkapan-ungkapan ini, nilai-nilai, kebijaksanaan, atau pengalaman yang penting dalam kehidupan sehari-hari dapat diteruskan. Seringkali, ungkapan-ungkapan tradisional ini memiliki ciri khas yang membuatnya mudah dikenali oleh anggota masyarakat yang menggunakannya, dan mereka memiliki daya tarik untuk mengkomunikasikan makna yang kompleks dalam bentuk yang ringkas dan mudah diingat. Makna leksikal adalah cara di mana kata tertentu atau unit linguistik mengekspresikan arti dasarnya dalam bahasa. Ini merujuk pada makna dasar atau konsep yang terkait dengan kata itu sendiri, yang dapat ditemukan dalam kamus atau sumber referensi linguistik. Makna leksikal sering kali merupakan konsep yang paling mendasar yang dikaitkan dengan kata, yang dapat berhubungan dengan objek fisik, abstrak, tindakan, atau hubungan antar konsep. Penting untuk memahami perbedaan antara makna leksikal dan makna gramatikal. Makna leksikal merujuk pada makna inti dari sebuah kata, sementara makna gramatikal berkaitan dengan cara kata itu digunakan dalam kalimat untuk mengekspresikan hubungan gramatikal atau fungsinya dalam sintaksis. Ketika seseorang mencari kata dalam kamus, mereka mencari makna leksikal dari kata tersebut. Misalnya, kata "kucing" memiliki makna leksikal yang mengacu pada hewan mamalia berbulu dengan empat kaki, yang sering dijadikan hewan peliharaan. Dalam analisis linguistik, terdapat konsep makna leksikal yang berkaitan dengan makna denotatif dan konotatif. Makna denotatif adalah makna langsung atau konkret dari sebuah kata. Misalnya, "panas" dalam makna denotatif merujuk pada suhu tinggi. Sementara itu, makna konotatif adalah asosiasi atau makna tambahan yang bisa merujuk pada emosi, persepsi, atau nilai yang terkait dengan kata tersebut. Contohnya, "panas" dalam konteks emosional bisa merujuk pada ketegangan atau kegelisahan.Pentingnya memahami makna leksikal adalah karena ini membentuk dasar pemahaman bahasa. Dengan memahami makna dasar suatu kata, seseorang dapat memahami penggunaan yang tepat dalam konteks yang berbeda dan juga memahami nuansa atau variasi makna yang mungkin timbul dari konteks spesifik. Kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, dan menggunakan makna leksikal dengan tepat sangat penting dalam proses komunikasi yang efektif dalam berbagai konteks bahasa, baik lisan maupun tulisan. a. "Air susu dibalas air tuba." - Artinya adalah bantuan atau kebaikan yang diberikan kepada seseorang justru dibalas dengan kejahatan atau sikap yang tidak baik. b. "Bagai air di daun talas." Ungkapan ini menggambarkan situasi di mana sesuatu mudah terlupakan atau tidak memiliki dampak yang signifikan. c. "Sambil menyelam minum air." - Merujuk pada kemampuan seseorang untuk melakukan dua hal sekaligus dengan efektif, seperti mengerjakan sesuatu sambil melakukan hal lainnya. d. "Seperti mencurahkan air ke daun keladi." - Merujuk pada usaha yang sia-sia atau percuma karena tidak memiliki dampak atau perubahan yang signifikan. e. "Ada udang di balik batu." - Seperti yang sebelumnya dijelaskan, ungkapan ini menggambarkan adanya sesuatu yang tersembunyi atau rahasia yang belum terungkap. f. "Bagai pungguk merindukan bulan." - Ungkapan ini menggambarkan keinginan yang tidak realistis atau sesuatu yang tidak mungkin terjadi. g. "Sedang sibuk bermain api." - Merujuk pada seseorang yang sedang melakukan sesuatu yang berbahaya atau berisiko. h. "Setitik air hujan jatuh ke pelupuk mata." - Menggambarkan kejadian yang sangat menyentuh atau menggugah emosi. Ungkapan-ungkapan tradisional ini sering kali memiliki makna yang dalam dan sering digunakan untuk mengajarkan nilai-nilai, memberikan nasihat, atau menggambarkan situasi tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga merupakan bagian penting dari warisan budaya suatu masyarakat dan dapat memiliki makna yang mendalam di balik kata-katanya. Contoh ungkapan yang umum adalah "menjaga mulut tetap rapat." Secara harfiah, ungkapan ini mungkin terdengar seperti instruksi untuk mempertahankan mulut dalam keadaan tertutup. Namun, makna sebenarnya adalah untuk tetap merahasiakan sesuatu atau menjaga informasi agar tidak tersebar. Pengertian ini hanya bisa dipahami dengan memahami makna idiomatik ungkapan itu sendiri. Ungkapan sering kali merupakan bagian integral dalam komunikasi sehari-hari dan mewakili aspek budaya dan konvensi bahasa tertentu. Mereka dapat memiliki asal-usul historis, terkait dengan tradisi tertentu, atau berkembang karena penggunaan berulang dalam masyarakat. Beberapa ungkapan memiliki kesamaan makna atau tema tertentu, seperti "membuang uang ke luar jendela," yang menggambarkan pemborosan atau pengeluaran yang tidak bijaksana. Di sisi lain, ada juga ungkapan yang unik dan khas untuk suatu budaya, seperti "menaruh harapan pada bulan jatuh," yang mungkin tidak memiliki makna langsung dalam budaya lain. Analisis ungkapan melibatkan pemahaman makna figuratif dan kontekstual yang melampaui makna literal kata per kata. Hal ini memerlukan pemahaman mendalam terhadap budaya, sejarah, dan penggunaan umum dari ungkapan tersebut. Ungkapan tradisonal terdapat dua kata didalamnya yaitu ungkapan dan tradisional, ungkapan adalah segalan sesuatu yang diungkapkan dengan penggababungan kata yang maknanya tidak sama dengan kata yang membentuk ungkapan itu. Ungkapan adalah susunan dari beberapa kata yang memiliki makna tunggal. Sedangkan tradisional adalah sikap, cara berfikir serta bertindak yang berpengang teguh pada adat istiadat dan norma yang ada secara turun temurun. Menurut Alan dundes peribahasa atau ungkapan ini sukar untuk didefenisikan. Ungkapan internasional merupakan bahasa lisan yang disampaikan oleh masyarakat secara turun temurun, hidup dan berkembang didalam masyarakat sehingga menjadi kalimat yang pendek dan sederhana. 2. Fungsi ungkapan Ungkapan merupakan bentuk ekspresi linguistik yang memiliki makna khusus di luar arti literal kata-kata penyusunnya. Fungsi ungkapan sangat penting dalam berkomunikasi karena dapat memberikan nuansa, gambaran, atau bahkan emosi yang tidak dapat diungkapkan secara langsung. Fungsi ungkapan sangat luas dan kompleks dalam konteks komunikasi. Dengan memahami dan menggunakan ungkapan dengan bijak, dapat meningkatkan kualitas komunikasi dan menggambarkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap situasi atau konsep yang diungkapkan. Terdapat 4 fungsi ungkapan menurut William R Bascom : a. Sebagai sistem proyeksi, maksudnya yaitu sebagai pencermin angan angan suatu kolektif b. Sebagai alat untuk pengesahan pranata- pranata dan lembaga lembaga kebudayaan c. Sebagai alat pendidikan anak d. Sebagai alat pengawasan agar norma norma tidak dilanggar oleh masyarakat dan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya Fungsi dari idiom atau ungkapan adalah untuk memberi makna pada kondisi tertentu serta menghaluskan informasi yang diterima. Sedangkan menurut Kridalaksana fungsi ungkapan atau peribahasa adalah untuk menghias karangan pengajaran atau pedoman hidup. Secara struktural idiom dapat diketahui dengan ciri sebagai berikut (Subroto, 2011: 143). a. Idiom merupakan paduan dari beberapa kata yang merupakan susunan/ ekspresi tetap. b. Dampak dari ciri nomor satu ialah bahwa kata pendukung idiom itu tidak dapat digantikan oleh kata lain. Contoh: idiom „patah hati“ (sedih hati karena putus cinta) salah satu pendukung (misalnya hati) tidak dapat digantikan dengan kata lain. c. Urutan kata-kata pendukung idiom itu tidak dapat diubah atau dibalikkan (misalnya, idiom „tinggi hati atau sombong tidak dapat diubah menjadi „hati tinggi. 4) Diantara kata-kata anggota idiom itu tidak dapat disisipkan kata lain. Contoh idiom „mata keranjang diantara kata pendukung idiom itu tidak dapat disisipkan kata lain (mata dari keranjang). 3. Jenis-jenis ungkapan a. Jenis Kata Ungkapan Berdasarkan untuk Pembentuknya 1. Kata ungkapan numerik: Digunakan dengan unsur angka, seperti satu, dua, tiga, untuk membentuk kata ungkapan. 2. Kata ungkapan dengan kata kerja: Menggunakan kata kerja sebagai komponen dalam kata ungkapan. 3. Kata ungkapan dari nama tanaman: Komponennya mengandung nama tanaman atau bagian dari tanaman. 4. Kata ungkapan dari kata indra: Komponen pembentuknya terdiri dari kata indra, dengan perubahan tanggapan indra. 5. Kata ungkapan bagian tubuh: Unsur komponennya berkaitan dengan bagian tubuh. 6. Kata ungkapan benda alam: Pembentuknya berkaitan dengan benda alam seperti langit, matahari, bulan, dan bintang. 7. Kata ungkapan binatang: Unsur komponennya bisa nama binatang, contohnya otak udang. 8. Kata ungkapan dari unsur kata warna: Komponen pembentuknya mengandung kata warna, seperti meja hijau. b. Jenis Kata Ungkapan Berdasarkan Bentuknya 1. Kata ungkapan ungkapan sebagai suatu perbandingan (metafora): artinya kata ungkapan memiliki komponen pembentuk dari suatu perbandingan dengan sifat sama. Contohnya kepala batu. 2. Kata ungkapan untuk mengungkapkan sesuatu (frasa): komponen pembentuknya adalah untuk menyampaikan atau mengungkapkan sesuatu hal degan kiasan. Contohnya, Angin lalu. 4. Makna ungkapan Penggunaan ungkapan dalam kehidupan sehari hari terdapat maksud dan tujuan didalamnya, tergantung pada ungkapan yang digunakan penutur terhadap lawan tuturnya. Berikut makna ungkapan yang digunakan oleh masyarakat pengguna ungkapan adalah: menasehati, memotivasi, memberikan dukungan, mengingatkan, menyadarkan, melengkapi, dan menyemangati. (Nurmiwati & Fahidah, 2019) (Nurmiwati & Fahidah, 2019). Selain itu ungkapan adalah bentuk ekspresi bahasa yang digunakan untuk menyampaikan makna tertentu dengan cara khas. Ungkapan seringkali mengandung makna kiasan atau idiomatis yang tidak dapat diartikan secara harfiah. Contohnya "kucing-kucingan" bukan berarti bermain dengan kucing. Ungkapan sering digunakan dalam situasi atau konteks tertentu untuk menyampaikan maksud dengan lebih tepat. Misalnya, "masuk angin" untuk merujuk pada gejala flu.Sebagian besar ungkapan merupakan warisan budaya dan terkait dengan pengalaman sehari-hari masyarakat tertentu. Ungkapan merupakan bagian penting dari kekayaan bahasa yang dapat menguatkan komunikasi dan menyampaikan makna dengan lebih efektif. Memahami makna ungkapan membantu kita untuk lebih mendalam dalam memahami budaya dan bahasa. C. Makna leksikal ada udang dibalik batu ”Ungkapan/ peribahasa ”ada udang di balik batu ungkapan ini sangat produktif, maksudnya ungkapan tersebut hanya dipakai untuk memperkuat suatu gagasan atau hanya disampaikan secara tersembunyi. Peribahasa ini terdapat makna kias yang sangat dalam, terdapat 5 kata pada kalimat tersebut, dan setiap katanya memiliki makna yang dipadukan sehingga memiliki makna sejati. oleh karena itu dilarang keras untuk mengganti satu kata pun didalam kalimat tersebut sehingga makna sebenarnya tetap utuh. Istilah udang dan batu merupakan unit yang aktif produktif,mereka berada dikehidupan didalam air, ibaratkan pesawat jet tempur dan kapal induk, udang sebagai pesawat jet tempur dan batu sebagai kapal induknya, jika menyerang musuh, pilotnya berlindung dibalik kapal induk. Udang merupakan makhluk hidup yang memerlukan makanan, karena itu ia sebagai predator didalam air tersebut. Keberadaannya dibalik batu memiliki arti ganda, yang pertama sebagai teknik menyerang plankton, kedua sebagai tempat berlindung dari serangan makhluk lain. Pada uraian diatas, jika mengganti peribahasa tersebut menjadi, ada udang dibalik bakwan, hal tersebut dapat merendahkan makna dari peribahasa ini, karena udang dibali bakwan, sama sama benda mati tidak bisa untuk menyerang musuh, ia hanya sebagai makanan yang empuk yang dimakan oleh manusia, dan bakwan tidak bisa menjadi tempat berlindung untuk udang mati untuk menahan mulut manusia untuk memakannya. (Zazuli & Hermandra, 2023) ngkapan "udang di balik batu" mengandung makna bahwa ada sesuatu yang tersembunyi atau ada rahasia tertentu yang belum terungkap. Secara harfiah, gambarannya adalah seperti menemukan sesuatu yang tersembunyi di balik batu yang mungkin tidak terlihat atau diketahui sebelumnya. Rinciannya bisa dijelaskan sebagai berikut: 1. Ketidakterlihatan atau Rahasia Tersembunyi: "Udang di balik batu" menggambarkan sesuatu yang tidak terlihat atau tidak diketahui sebelumnya. Seperti sebuah kejadian atau informasi yang tersembunyi dan tidak mudah ditemukan. 2. Penemuan Tak Terduga: Ungkapan ini juga mencerminkan penemuan yang tidak terduga atau hal-hal yang muncul secara tiba-tiba, seperti menemukan sesuatu di tempat yang tidak terduga. 3. Implikasi Menemukan Fakta Tersembunyi: Ungkapan ini seringkali mengandung makna bahwa ada informasi rahasia atau fakta yang belum diungkapkan dan mungkin mempengaruhi situasi atau keadaan tertentu jika terungkap. 4. Konteks Penggunaan: Ungkapan ini sering digunakan untuk menyatakan bahwa seseorang menemukan sesuatu yang tidak terduga atau mengejutkan, atau mungkin merujuk pada kejadian atau situasi di mana ada hal-hal yang tidak diketahui sebelumnya. 5. Makna Figuratif: Secara figuratif, ungkapan ini dapat menggambarkan pengalaman mengungkap rahasia atau informasi yang selama ini tidak diketahui, bisa jadi dalam konteks percakapan, hubungan, atau situasi lainnya. Ungkapan ini sering digunakan dalam konteks untuk menekankan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan atau tidak diketahui sebelumnya, dan ketika hal tersebut terungkap, bisa memiliki dampak atau implikasi yang signifikan.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian tersebut terdapat makna leksikal dalam ungkapan “Ada udang dibalik batu", makna leksikal dalam ungkapan “Ada udang di balik batu” yaitu untuk memperkuat suatu gagasan secara tersembunyi. Dengan menggunakan istilah udang dan batu, ungkapan ini menggambarkan keaktifan dan produktivitas kedua elemen tersebut dalam kehidupan di dalam air. Udang sebagai pesawat jet tempur mencerminkan sifat predatornya yang memerlukan makanan dan menggunakan teknik menyerang musuh. Sementara itu, batu sebagai kapal induk memberikan perlindungan dan tempat berlindung bagi udang dari serangan makhluk lain. Keseluruhan ungkapan ini mengandung makna kias yang mendalam, dengan setiap kata berkontribusi untuk membentuk makna sejati yang tidak boleh diubah. Penulis berharap agar pembelajaran tentang makna leksikal dapat disampaikan secara efektif, sehingga memungkinkan pemahaman yang lebih baik terhadap makna-makna yang terdapat dalam ungkapan/ pribahasa. Selain itu penulis berharap hasil penelitian ini bermanfaat bagi para pembaca dan dapat memberikan feedback kepada kami dalam perbaikan artikel selanjutnya.