Investigating the Impact of Personal Branding on Identity Representation Through Bibliometric Analysis
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo; Universitas Muhammadiyah Sidoarjo; Universitas Muhammadiyah Sidoarjo; Universitas Muhammadiyah Sidoarjo; Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Abstract
This study explores the impact of personal branding on identity representation using bibliometric analysis. By reviewing numerous articles from Google Scholar and analyzing data with VOSviewer and Publish or Perish (Crossref) software, the research identifies key themes and keywords related to personal branding, identity, and social media. The analysis of 1,000 journals from 2013–2023 reveals interconnected authors and significant terms, with newer research trends highlighted. The findings demonstrate the effectiveness of bibliometric tools in mapping research themes and identifying influential authors and keywords in the field.
Keywords:
Personal Branding
· Identity Representation
· Bibliometric Analysis
· Social Media
· Vosviewer
Introduction
Suara hati yang tersembunyi ada pada setiap orang. Hal ini terlihat jelas dari karakteristik wajah, postur tubuh, karakter, dan jenis rambut Anda. Seseorang yang mengelola personal branding dengan baik memiliki peluang lebih besar untuk mencapai popularitas yang sesuai atau mendekati harapannya. Personal branding adalah bagian penting dari meningkatkan nilai jual seseorang. Sebuah istilah yang disebut "media baru" atau "media baru" digunakan untuk menggambarkan bagaimana teknologi komunikasi digital yang terkomputerisasi bertemu dan terhubung ke dalam jaringan. Komunikasi melalui media sosial di era media sosial menjadi lebih langsung dan interaktif, yang membantu Personal branding meningkatkan reputasi dan kesadaran publik. [1] [2] [3] Personal branding membuat ruang di mana orang dapat menunjukkan kemampuan dan citra diri mereka. Instagram adalah salah satu media sosial yang paling populer saat ini. Ini memungkinkan Anda mengunggah foto, membuat feeds, mengunggah story, dan memiliki like dan followers, yang dapat memengaruhi bagaimana Anda tampil. Masyarakat Indonesia dari berbagai profesi semakin membutuhkan pencitraan melalui media komunikasi virtual karena perkembangan teknologi dan alat yang melekat pada kehidupan masyarakat. [4][5] [6] Personal brand yang kuat harus mewakili karakter seseorang dan dibangun berdasarkan nilai, kelebihan, dan kekurangan mereka sendiri, sehingga tidak merendahkan atau menipu. Media sosial memungkinkan personal branding yang sangat baik, yang dapat berdampak positif pada kemajuan karir karena memungkinkan akses mudah ke teknologi digital dan memediasi tampilan publik secara signifikan dari figur pengunggah. Personal branding yang baik sangat penting untuk membangun kepercayaan orang lain. Personal branding ini berbeda dengan promosi diri karena personal branding lebih berfokus pada melayani orang lain. [7] [8] [9] [10]. Perjalanan menuju kesuksesan adalah personal branding yang alami [11], Tidak semua orang memiliki Personal Branding yang baik, tetapi kebanyakan orang yang sukses memilikinya [12]. Salah satu kunci utama pembentukan personal branding yang kuat adalah konsistensi. Passion dan budaya keluarga juga dapat mempengaruhi proses pembentukan personal branding [13]. Beragam platform dan aplikasi sosial media ini membuka lebih banyak kesempatan bagi individu dan perusahaan untuk berhubungan dengan target audiens mereka [14], Di era yang semakin kompetitif di semua bidang kehidupan ini, promosi diri sendiri, atau personal branding, menjadi sangat penting [15]. Fakta bahwa produk yang dijual memiliki daya tarik yang lebih besar bagi orang lain. Oleh karena itu, sangat penting bagi seseorang untuk mempersiapkan diri untuk memiliki reputasi pribadi yang positif [16]. Orang-orang dalam politik, selebritis, dan profesi lain di Indonesia sudah lama menggunakan media sosial untuk branding diri mereka [17]. Proses personal branding akan menjadi lebih efisien dan lancar dengan pemilihan media sosial yang tepat [18]. Adanya micro-celebrity, atau selebgram, adalah salah satu konsekuensi dari adanya media sosial [19]. Anda akan dipandang secara berbeda dan unik oleh orang lain jika Anda menggunakan branding pribadi orang mungkin lupa wajah Anda, tetapi "merek pribadi" Anda akan tetap diingat orang lain [20]. Banyak model menggunakan Instagram sebagai media personal branding karena mereka menggunakan akun portofolio untuk menampilkan bisnis online mereka. Untuk membuat klien dan pengguna sosial media menyadari perbedaan kami dari setiap model, personal branding harus diterapkan pada setiap model [21]. Dalam merancang merek pribadi yang kuat, tiga elemen utama harus diperhatikan: unik, relevan, dan konsisten [22]. Pengguna Instagram dapat berbagi cerita, pengalaman, hal-hal yang mereka sukai atau tidak sukai, dan bahkan foto selfie (foto pribadi) tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu dengan pengikutnya melalui caption, komentar, dan foto [23]. Bagaimana seseorang menampilkan dirinya sangat terkait dengan pengelolaan kesan [24]. Untuk mempersiapkan diri untuk karir masa depan, mahasiswa ilmu komunikasi dan generasi muda harus memahami dan mempelajari personal branding dan berbicara di depan umum [25]. Kegiatan manusia modern berkembang dengan pesat, dan Indonesia secara konsisten mengalami kemajuan dalam bidang teknologi telekomunikasi [26]. " Brand adalah nama dan simbol unik, seperti logo, cap, atau kemasan, yang digunakan untuk menunjukkan barang atau jasa yang dijual oleh seorang penjual atau kelompok penjual tertentu." kata David Aaker [27]. Personal branding yang kuat akan sangat penting untuk penilaian masyarakat terhadap seseorang sebelum pertemuan langsung. [28]. Puteri Indonesia adalah figur atau perwakilan yang mewakili Indonesia. Karena itu, kontestan harus memiliki brand pribadi yang menarik bagi pendukungnya [29]. Saat ini, merek tidak hanya digunakan untuk menggambarkan barang dan jasa; kita juga dapat membuat merek untuk diri kita sendiri [30]. Instagram masih menjadi platform media sosial populer untuk remaja karena pengguna percaya bahwa itu dapat membantu mereka berkomunikasi dengan baik [31]. Studi menunjukkan bahwa para aktor politik telah memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi secara langsung dengan masyarakat, membentuk diskusi politik, dan menjalin hubungan dengan konstituen mereka [32].
Method
Analisis bibliometrik, yang melibatkan analisis literatur matematika dan statistika, memungkinkan analisis kuantitatif publikasi ilmiah berdasarkan pola komunikasinya baik secara mikro maupun makro. Analisis bibliometrik sederhana memiliki beberapa manfaat, seperti menemukan tren masalah penelitian, membuat peta objek penelitian, dan menemukan hubungan antara objek penelitian. [33] Analisis bibliometrik berdasarkan keyakinan bahwa seorang peneliti melakukan penelitian dan harus menginformasikan temuannya kepada seseorang. Maka dari itu akan menghasilkan kemajuan dan perkembangan pengetahuan jika peneliti bekerja sama untuk mempelajari subjek penelitian tertentu. Data dari karya ilmiah teman sejawat pasti diperlukan untuk penelitian. Publikasi diperlukan untuk menjelaskan proses penelitian ilmiah. Publikasi ilmiah yang ditulis dalam bentuk artikel dan monograf biasanya disebut sebagai pernyataan definitif hasil penelitian. [34] Dalam penelitian mereka tentang pengaruh personal branding terhadap representasi identitas, penulis menggunakan software VosViewer dan data yang diambil melalui aplikasi Publish Or Perish (Crossref) dengan hingga 1000 jurnal dari tahun 2013– 2023. Mereka berkonsentrasi pada kata kunci yang terkait dengan judul yang relevan dan mencari peneliti yang terkait dengan kata kunci tersebut.
Result & Discussion
Dari data yang diperoleh dari data base crossref kami akan menganalisi Blibliometrik dengan analisi kepenulisan (author) dan kata kunci (keyword), berupa visualisasi pemetaan sebagai berikut: A. Analisis Kepenulisan (Author) Dikarenakan penelitian tidak selalu dilakukan secara individu, kolaborasi dalam sebuah penelitian sangatlah diharapkan. Ini membutuhkan kolaborasi antara akademisi dan instansi dalam bentuk ide, sarana, dan sumber daya serta kesempatan untuk bertukar mengetahuan ilmiah dan metode khusus.[35] Gambar 1. Network Visualization (Author Collaboration) Pada tahap ini, dilukakan menggunakan co-authorship kemudian diperoleh pemetaan hubungan antar kata kunci. Dengan menggunakan jumlah minumum kemunculan suatu istilah 5.delapan belas dari 1.091 penulis dalam penelitian ini memiliki hubungan satu sama lain, (Buhler, Peter), (Schalch, Patrick), (Sinner, dominik) adalah penulis dengan paling banyak tautan masing-masing 10 tautan (Gambar 1). B. Analisis kata kunci (keyword) Pada tahap analisi kata kunci berikut ini, bertujuan menganalisi pola hubungan dari kumpulan dokumen dengan menghitung jumlah kata kunci dan mengukur kekuatan istilah (terms) yang muncul dalam dokumen yang diteliti. Maka muncul data sebagai berikut: Gambar 2. Network Visualization (keyword) Dari gambar diatas, dapat dilihat bahwa keterkaitan kata kunci satu dengan yang lain dengan jumlah minimum kemunculan suatu istilah adalah 10. Dari 9.403 hanya 262 yang memenuhi batas. Kemudian dihitung yang paling relevan kata kunci yang satu dengan yang lain. Berdasarkan istilah tersebut, istilah yang paling relevan dengan kata kunci kemudian dipilih. Akhirnya terpilihlah 157 istilah (60%) yang paling relevan dengan pengaruh personal branding terhadap representasi identitas. Gambar 3. Overlay Visualization Dari gambar diatas, penelitian dilakukan dalam rentan waktu 2017-2020. Pada gambar 3, terdapat tiga warna terdiri dari ungu, hijau, dan kuning. Semakin pekat warna ungu menunjukan bahwa kata kunci tersebut telah lama diteliti. Sebaliknya semakin mendekati warna kuning memnujukan bahwa kata kunci tersebut masih baru diteliti. Dalam hal ini kata kunci “culutral pluralism” terlihat berwarna kuning yang artinya masih sering diteliti sampai sekarang dan masih berkaitan dengan pengaruh personal branding terhadap representasi identitas.
Conclusion
Terkait penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa hasil dari penelitian analisi bibliometrik yang menggunakan bantuan sofware VostViewer dapat memudahkan penulis dalam menemukan kata kunci yang terkait judul yang relevan serta mencari author yang berhubungan dengan kata kunci. Dari sini dapat disimpulkan hasil dari penelitian ini adalah delapan belas dari 1.091. penulis dalam penulisan ini memiliki hubungan satu sama lain diantaranya (Buhler, Peter), (Schalch, Patrick), (Sinner, dominik). Adanya keterkaitan antara kata kunci satu dengan yang lain dengan jumlah minimum kemunculan suatu istilah adalah 10 dari 9.403 hanya 262 yang memenuhi batas. Berdasarkan istilah tersebut, istila yang paling relevan dengan kata kunci kemudian dipilih. Akhirnya terpilih 157 istilah (60%) yang paling relevan dengan pengaruh personal branding terhadap representasi identitas. Dalam penelitian dinyatakan Semakin pekat warna ungu, menunjukkan bahwa kata kunci tersebut telah lama diteliti, sebaliknya semakin mendekati warna kuning menunjukkan bahwa kata kunci tersebut masih baru diteliti. Dalam hal ini, kata kunci “cultural pluralism” terlihat berwarna kuning yang artinya masih sering diteliti sampai sekarang dan masih berkaitan dengan pengaruh personal branding terhadap representasi identitas.