Kembali
16
1
2021 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 5 · 1 ISSN 2598-3040

Dampak Intellectual Capital Terhadap Kinerja Pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Penelitian berjudul “Dampak Intellectual Capital terhadap Kinerja Pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro” bertujuan untuk mengetahui seberapa besar tingkat dampak intellectual capital terhadap kinerja pustakawan berdasarkan rata-rata jawaban dari pernyataan responden.Teori yang digunakan untuk mengukur dampak intellectual capital adalah jenis aset intellectual capital Bedford (2015) yaitu tacit knowledge, skills, attitude, explicit knowledge, procedural knowledge, culture, networks, dan reputations.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif analisis deskriptif dengan path analysis.Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa aktif Universitas Diponegoro tahun 2019-2020 dengan sampel sebanyak 269 responden yang diperoleh dengan menggunakan tabel Issac dan Michael dan accidental sampling.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat dampak berdasarkan indikator tacit knowledge dan skills menghasilkan mean tertinggi sebesar 3,93 yang masuk dalam kategori berdampak, indikator attitude dan explicit knowledge menghasilkan mean tertinggi sebesar 3,83 yang masuk dalam kategori berdampak, sementara itu berdasarkan indikator procedural knowledge menghasilkan mean tertinggi sebesar 3,81 masuk dalam kategori berdampak, berdasarkan indikator culture menghasilkan mean tertinggi sebesar 3,86 yang masuk dalam kategori berdampak, lalu indikator networks menghasilkan mean tertinggi sebesar 3,90 dan indikator reputations menghasilkan mean tertinggi sebesar 3,92 yang juga termasuk dalam kategori berdampak. Sehingga, berdasarkan hasil perhitungan analisis data diketahui bahwa jenis aset intellectual capital yang ada pada pustakawan memiliki dampak pada kinerja pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro. Berdasarkan hasil penelitian tersebut indikator reputations menghasilkan nilai mean tertinggi yang paling tinggi diantara delapan indikator jenis aset intelectual capital pada pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro yang lainnya, sementara indikator procedural knowledge menghasilkan nilai mean tertinggi yang paling rendah.

Abstract

The thesis entitled "The Impact of Intellectual Capital on Librarian Performance of UPT Diponegoro University Libraries" aims to determine the level of impact of intellectual capital on librarian performance based on the average answers of respondents' statements. The theory used to measure the impact of intellectual capital is Bedford's (2015) type of intellectual capital assets, namely tacit knowledge, skills, attitude, explicit knowledge, procedural knowledge, culture, networks, and reputations. This study uses quantitative research methods descriptive analysis with path analysis. The population in this study were active students of Diponegoro University in 20192020 with a sample of 269 respondents who were obtained using tables of Issac and Michael and accidental sampling. The results of this study indicate that the level of impact based on the tacit knowledge and skills indicator produces the highest mean of 3.93 which is included in the impact category, attitude and explicit knowledge indicators produce the highest mean of 3.83 which is included in the impact category, meanwhile based on procedural indicators. knowledge produces the highest mean of 3.81 which is included in the impact category, based on the culture indicator it produces the highest mean of 3.86 which is included in the impact category, then the networks indicator produces the highest mean of 3.90 and the reputation indicator produces the highest mean of 3.92 which also fall into the impact category. Thus, based on the results of data analysis calculations, it is known that the types of intellectual capital assets that are in the librarian have an impact on the librarian's performance of the UPT Diponegoro University Library. Based on the results of this study, the reputation indicator produced the highest mean value among the eight indicators of types of intellectual capital assets at other UPT Librarians, Diponegoro University Libraries, while indicators of procedural knowledge produced the lowest mean value.
Keywords: intellectual capital · librarian performance · upt perpustakaan universitas diponegoro

Introduction

Pustakawan adalah seseorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi yang dimiliki pustakawan tersebut melalui pendidikan (Lasa Hs, 2009). Menurut Priyanto (2017) pustakawan harus memiliki kemampuan dalam menulis abstrak, keywords, daftar pustaka, sitasi dan beberapa kemampuan lainnya dan harus dapat memaksimalkan kemampuan tersebut. Posisi pustakawan yang harus memiliki kemampuan-kemampuan keahlian dalam bidang pustaka menjadikan pustakawan sebagai seorang yang berpengetahuan atau memiliki keahlian (knowledgeable person). Pustakawan sebagai knowledgeable person dapat dimaknai sebagai pustakawan yang memiliki berbagai keahlian yang dapat dikembangkan untuk memberikan informasi bagi pemustaka. Pustakawan dengan segala keahliannya dalam suatu perpustakaan merupakan aset terpenting dalam pencapaian tujuan perpustakaan. Peran pustakawan sangat penting karena pustakawan merupakan pemeran utama dalam pengembangan visi, misi, dan tujuan di suatu perpustakaan dapat tercapai. Undang-Undang Republik Indonesia No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan pada Bab VIII pasal 32 menyebutkan bahwa tenaga perpustakaan berkewajiban memberikan layanan prima terhadap pemustaka, menciptakan suasana perpustakaan yang kondusif, memberikan keteladanan, menjaga nama baik lembaga dan kedudukannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Armstrong dan Baron (1998) mengatakan bahwa kinerja seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor: yang pertama adalah faktor pribadi diantaranya keahlian pribadi, kepercayaan diri, motivasi dan komitmen; yang kedua adalah faktor kepemimpinan diantarannya kualitas dorongan, arahan dan dukungan yang diberikan oleh manajer atau pimpinan tim; yang ketiga adalah faktor tim yaitu kualitas dukungan yang diberikan kolega atau rekan kerja; dan yang terakhir adalah faktor sistem kerja dan fasilitas yang diberikan oleh instansi. Berdasarkan faktor-faktor yang dapat memberi dampak pada kinerja seseorang menurut Armstrong dan Baron (1998), dapat ditarik relasi faktor-faktor tersebut dalam ruang lingkup kinerja pustakawan. Berdasarkan pernyataan Armstrong dan Baron (1998), dapat diketahui bahwa yang menyebabkan kinerja seorang pegawai, dalam hal ini adalah pustakawan, menjadi menurun antara lain tidak ada dukungan dari kolega dan pimpinan tim, motivasi yang rendah, komitmen rendah, serta fasilitas yang kurang memadai. Perhatian terhadap posisi pustakawan sebagai knowledgeable person dapat diimplementasikan oleh pihak manajemen dan direksi perpustakaan dengan cara memperhatikan kondisi intelektualitas pustakawan, atau yang sering dikenal dengan istilah intellectual capital. Intellectual capital (IC) merupakan terciptanya nilai melalui pengetahuan dan informasi dengan pengaplikasian pada pekerjaan (Williams, 2001). IC mencakup total aset tak berwujud atau beberapa sumber daya yang berarti, aset tidak terlihat, non-moneteryang dipegang oleh organisasi, yang dapat diidentifikasi dan dianalisis secara individual Pernyataan Standar Akuntasi Keuangan (PSAK 19, 2009). IC dalam konteks perpustakaan berwujud pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing individu pustakawan. Pengembangan IC pada perpustakaan berarti sama dengan pengembangan kemampuan intelektual masing-masing invidu pustakawan. Kostagiolas (2014) berpendapat manajemen IC perpustakaan secara bertahap menjadi isu penting mendorong inovasi yang benar-benar meningkatkan operasional dan layanan perpustakaan. Sehingga dapat dikatakan bahwa dalam konteks perpustakaan IC yang terdapat pada ranah intelektual pustakawan dapat memberikan dampak pada performa perpustakaan dalam mencapai tujuan perpustakaan sebagai support system lembaga penaungnya. Konsep intellectual capital dapat dijadikan landasan bagi suatu lembaga termasuk perpustakaan untuk meningkatkan dan punya keunggulan dibandingkan perpustakaan lain.Kostagiolas (2012) mengemukakan ada ketiga komponen intellectual capital yaitu human capital, organizational (or structural) capital dan relational capital.Intellectual capital dapat memberikan keunggulan yang kompetitif di organisasi, semua intelektual dapat digunakan untuk memberikan kekayaan ilmu lebih dari sebuah investasi harta. Intellectual capital termasuk ruang lingkup semua pengetahuan yang ada pada pustakawan, perpustakaan dan kinerja pustakawan dalam menghasilkan nilai tambah dan menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Peran penting IC sebagai faktor yang menunjang performa perpustakaan layak untuk diperhatikan oleh semua jenis perpustakaan, terlebih bagi perpustakaan perguruan tinggi, sebab perpustakaan perguruan tinggi merupakan support system universitas yang memiliki bisnis utama dalam bidang pengetahuan, sehingga IC dapat dikatakan sebagai modal utama dalam bisnis yang dijalankan pada sebuah perguruan tinggi. UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro sebagai salah satu perpustakaan perguruan tinggi tentu perlu turut memperhatikan IC, terlebih sebagai support system Universitas Diponegoro yang memiliki visi untuk menuju world class university. 2. Landasan Teori Keberadaaan intellectual capital selama ini mengkaji tentang pengelolaan pengetahuan dan lebih berfokus kepada perusahaan swasta, tetapi ada beberapa penelitian mulai tertarik untuk mengembangkan dari perusahaan swasta ke birokrasi pemerintah atau organisasi pemerintah, salah satunya adalah perguruan tinggi. IC sangat sering disebut sebagai sumber ilmu pengetahuan yang terbentuk pada suatu individu, klien, prosedur atau teknologi yang di mana perusahaan dapat memanfaatkannya dalam pengembangan nilai saing bagi perusahaan (Bukh, 2005) yang diperkuat oleh Boekestein (2006) menyatakan adanya tiga komponen dimulai dari pengetahuan yang terhubung dengan pustakawan adalah elemen human capital, pengetahuan yang terhubung dengan pemustaka adalah relational capital, dan elemen yang terakhir yaitu pengetahuan yang terhubung dengan perpustakaan yaitu structural capital. Tiga unsur tersebut terbilang mampu membantu pembentukan suatu intellectual capital pada perpustakaan. Bedford (2015) mengatakan bahwa Kostagiolas dan Asonitis (2009) memanfaatkan tiga kategori tingkat tinggi intellectual capital yang melakukan pemetaan aset modal intelektual perpustakaan milik Andriessen (2004) yaitu modal manusia, modal struktural dan relasional modal. Ada tiga cara agar kategori itu bekerja menurut Bedford (2015) yang pertama, memecahkan aset intellectual capital menjadi lebih halus seperti disiplin modal intelektual. Kedua, berfokus pada intellectual capital pustakawan dibandingkan perpustakaan. Pada akhirnya, hal ini berfokus pada aset intelektual tidak berwujud dari pada gabungan aset berwujud dan tidak berwujud yang diutarakan oleh Kostagiolas dan Asonitis (2011).

Method

Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan path analysis. Penelitian ini memperlihatkan dampak intellectual capital terhadap kinerja pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan pengisian kuesioner. Kuesioner yang digunakan yaitu kuesioner tertutup dan dilakukan kepada responden yang merupakan mahasiswa aktif menggunakan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro. Data yang telah diperoleh dari hasil kuesioner kemudian diolah menggunakan skala likert dan skala interval yang dibantu dengan path analysis untuk memudahkan penentuan hasil.

Result & Discussion

3.1 Uji Instrumen Tahapan yang dilakukan untuk menguji validitas yaitu menyebarkan kuesioner kepada responden. Tanggapan responden tersebut akan menghasilkan data mentah yang kemudian akan dilakukan penyuntingan (editing) yang fungsinya untuk memastikan bahwa seluruh responden telah mengisi seluruh pernyataan kuesioner dengan benar. Tahap selanjutnya yaitu memasukkan data pada software Microsoft Excel 2010 agar dilakukan pengkodean data (coding). Kemudian setelah dilakukan penyuntingan (editing) dan pengkodean data (coding), lalu dilakukan validitas instrumen data yang akan diketahui dengan menggunakan rumus corrected item to total correlation melalui bantuan SPSS 24. Butir – butir pernyataan akan dinyatakan valid jika nilai r hitung lebih besar dari pada nilai r tabel data. Selanjutnya instrumen penelitian diuji reliabilitasnya. Uji reliabilitas dilakukan untuk menguji konsistensi dari item pernyataan yang diajukan. Uji reliabilitas ini menggunakan rumus Alpha (Cronbach’s Alpha) yang diolah dengan bantuan software SPSS. Berikut nilai uji reliabilitas yang dilakukan: Tabel 3.1 Uji Realibilitas Penelitian Variabel Cornbach’s Alpha α standar Keterangan Dampak .954 0,30 Reliabel Berdasarkan data pada tabel 3, dapat diketahui bahwa variabel dampak memiliki nilai Cronbach Alpha 0,954 yang berarti lebih besar dari 0,30 maka instrumen dalam kuesioner dikatakan reliabel. 3.2 Analisis Data Pada penelitian ini dihitung dampak intellectual capital terhadap kinerja pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro dengan menggunakan Skala Likert. Skala likert dibagi dalam lima skala dimulai dari Sangat Setuju (SS) = 5, Setuju (S) =4, Kurang Setuju (KS) = 3, Tidak Setuju (TS) = 2, Sangat Tidak Setuju (STS) = 1. Penelitian ini akan diukur tinggi rendahnya tanggapan responden pada kuesioner ke dalam skala interval. Rumus skala interval dikemukakan oleh Sugiyono (2011) sebagai berikut: Interval Kelas = nilai besar − nilai kecil jumlah kelas = 5 − 1 5 = 0,8 Rumus di atas dapat digunakan untuk menentukan panjang interval pada penelitian adalah 0,8. Berikut skala interval menurut (Arianto, 2004) untuk menginterpretasikan nilai pernyataan kuesioner: Sangat Berdampak = 4,20 – 5,00 Berdampak = 3,40 – 4,19 Kurang Berdampak = 2,60 – 3,39 Tidak Berdampak = 1,80 – 2,59 Sangat Tidak Berdampak = 1,00 – 1,79 Setelah dilakukan analisis data sebanyak 55 pernyataan yang dicantumkan dalam kuesioner penelitian ini, maka telah diketahui besaran mean atau nilai rata-rata pada tiap pernyataan. Berikut ini adalah tabel nilai rata-rata dari indikator yang telah dianalisis yang merupakan kesimpulan dari analisis deskriptif kuantitatif: Tabel 3.2 Hasil Analisis Indikator Tacit Knowledge No. Indikator Sub Indikator Nilai Kategori 1 Tacit Knowledge Answer to question 3,93 Berdampak Knowledge of sources 3,92 Berdampak Knowledge of subject domain 3,87 Berdampak Knowledge of information behaviors 3,81 Berdampak Total 15,53 Rata-rata 3,88 Merujuk pada hasil di atas, diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,88 sehingga hasil analisis indikator tacit knowledge berada di tingkat 4 pada interval 3,40 – 4,19 yang masuk dalam kategori berdampak. Selanjutnya tabel 3.2 akan menjelaskan hasil analisis dari indikator Skills sebagai berikut: Tabel 3.3 Hasil Analisis Indikator Skills No. Indikator Sub Indikator Nilai Kategori 2 Skills Analytical Skills 3,92 Berdampak Coaching and Mentoring Skills 3,83 Berdampak Communication Skills 3,91 Berdampak Critical Thinking Skills 3,77 Berdampak Facilitation and Negotiation Skills 3,72 Berdampak High Digital Literacy Skills 3,83 Berdampak Interviewing Skills 3,76 Berdampak Knowledge Sharing 3,57 Berdampak Narrative Inteligence 3,80 Berdampak Privacy Practice 3,87 Berdampak Research Skills 3,80 Berdampak Teaching and Training Experiences 3,93 Berdampak Technical Skills 3,83 Berdampak Total 49,54 Rata-rata 3,81 Merujuk pada hasil di atas, diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,81 sehingga hasil analisis indikator skills berada di tingkat 4 pada interval 3,40 – 4,19 yang masuk dalam kategori berdampak. Selanjutnya tabel 3.4 akan menjelaskan mengenai hasil analisis indikator Attitude sebagai berikut: Tabel 3.4 Hasil Analisis Indikator Attitude No. Indikator Sub Indikator Nilai Kategori 3 Attitude Adaptability 3,81 Berdampak Advocacy 3,83 Berdampak Attitude to Universal Access 3,79 Berdampak Coaching 3,65 Berdampak Creativity 3,80 Berdampak Emotional Intelligence 3,75 Berdampak Engagement 3,81 Berdampak Mentoring 3,78 Berdampak Pro-Literacy Attitude 3,81 Berdampak Service Attitude 3,68 Berdampak Situational Learning Approach 3,80 Berdampak Social Intelligence 3,80 Berdampak Willingness to Work in Teams 3,74 Berdampak Total 49,05 Rata-rata 3,77 Merujuk pada hasil di atas, diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,77 sehingga hasil analisis indikator attitude berada di tingkat 4 pada interval 3,40 – 4,19 yang masuk dalam kategori berdampak. Selanjutnya tabel 3.5akan menjelaskan mengenai hasil analisis indikator Explicit Knowledge sebagai berikut: Tabel 3.5 Hasil Analisis Indikator Explicit Knowledge No. Indikator Sub Indikator Nilai Kategori 4 Explicit Knowledge Collection Guides 3,82 Berdampak Frequently Asked Question 3,83 Berdampak Information Standards 3,79 Berdampak Presentations 3,80 Berdampak Reading List 3,78 Berdampak Total 19,02 Rata-rata 3,81 Merujuk pada hasil di atas, diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,81 sehingga hasil analisis indikator explicit knowledge berada di tingkat 4 pada interval 3,40 – 4,19 yang masuk dalam kategori berdampak. Selanjutnya tabel 3.6 akan menjelaskan mengenai hasil analisis indikator Procedural Knowledge sebagai berikut: Tabel 3.6 Hasil Analisis Indikator Procedural Knowledge No. Indikator Sub Indikator Nilai Kategori 5 Procedural Knowledge Facilities Management Knowledge 3,80 Berdampak Information Finding Strategies 3,73 Berdampak Knowledge of Sources 3,81 Berdampak Literacy Training Knowledge 3,77 Berdampak Reference Service Knowledge Independent 3,67 Berdampak Search Strategy Formulation Knowledge 3,74 Berdampak Storytelling Knowledge 3,66 Berdampak Total 26,18 Rata-rata 3,74 Merujuk pada hasil di atas, diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,74 sehingga hasil analisis indikator procedural knowledge berada di tingkat 4 pada interval 3,40 – 4,19 yang masuk dalam kategori berdampak. Selanjutnya tabel 3.7 akan menjelaskan mengenai hasil analisis indikator Culture sebagai berikut: Tabel 3.7 Hasil Analisis Indikator Culture No. Indikator Sub Indikator Nilai Kategori 6 Culture Collaborative 3,76 Berdampak Community Oriented 3,80 Berdampak Fair Reward and Recognition 3,79 Berdampak Service Oriented and Attitude 3,74 Berdampak Learning Culture 3,80 Berdampak Mentoring and Coaching Culture 3,80 Berdampak Open Mindedness 3,74 Berdampak Open to Different Types of Learning Experience 3,86 Berdampak Open to Experimentation 3,68 Berdampak Strong Community Culture 3,83 Berdampak Total 37,8 Rata-rata 3,78 Merujuk pada hasil di atas, diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,78 sehingga hasil analisis indikator culture berada di tingkat 4 pada interval 3,40 – 4,19 yang masuk dalam kategori berdampak. Selanjutnya tabel 3.8 akan menjelaskan mengenai hasil analisis indikator Networks sebagai berikut: Tabel 3.8 Hasil Analisis Indikator Networks No. Indikator Sub Indikator Nilai Kategori 7 Networks Social Networks 3,90 Berdampak Subject Matter Networks 3,81 Berdampak Total 7,71 Rata-rata 3,86 Merujuk pada hasil di atas, diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,86 sehingga hasil analisis indikator networks berada di tingkat 4 pada interval 3,40 – 4,19 yang masuk dalam kategori berdampak. Selanjutnya tabel 3.9 akan menjelaskan mengenai hasil analisis indikator Reputations sebagai berikut: Tabel 3.9 Hasil Analisis Indikator Reputations No. Indikator Sub Indikator Nilai Kategori 8 Reputations Satisfaction Rate with Library Services 3,92 Berdampak Total 3,92 Rata-rata 3,92 Berdasarkan tabel 3.9, dapat diketahui bahwa nilai rata-rata untuk indikator Reputations dengan satu item pernyataan adalah sebesar 3,92 dan nilai tersebut masuk ke dalam kategori berdampak. Selanjutnya tabel 3.10 akan menjelaskan mengenai hasil analisis indikator sebagai berikut: Tabel 3.10 Hasil Analisis Indikator No. Indikator Nilai rata-rata Kategori 1 Tacit Knowledge 3,88 Berdampak 2 Skills 3,81 Berdampak 3 Attitude 3,77 Berdampak 4 Explicit Knowledge 3,81 Berdampak 5 Procedural Knowledge 3,74 Berdampak 6 Culture 3,78 Berdampak 7 Networks 3,86 Berdampak 8 Reputations 3,92 Berdampak Total 30,57 Rata-rata 3,82 Dapat dilihat dari tabel 3.10, bahwa semua indikator masuk dalam kategori berdampak tetapi indikator procedural knowledge memiliki nilai mean paling rendah. Pada indikator reputations memiliki nilai tertinggi dibanding delapan indikator yang lain. Hasil akhir menunjukkan bahwa nilai rata-rata dari seluruh indikator untuk mengukur dampak intellectual capital yaitu 3,82 dan masuk dalam kategori berdampak. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dampak intellectual capital terhadap kinerja pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro adalah “Berdampak”.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data terhadap tanggapan 269 responden mahasiswa aktif Universitas Diponegoro mengenai dampak intellectual capital terhadap kinerja pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dampak intellectual capital masuk dalam kategori berdampak bagi kinerja pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro yaitu sebesar 3,82. Pengukuran dampak intellectual capital terhadap kinerja pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro diukur dalam delapan indikator yaitu Tacit Knowledge, Skills, Attitude, Explicit Knowledge, Procedural Knowledge, Culture, Networks dan Reputations. Dari delapan indikator tersebut dijabarkan ke dalam 55 pernyataan dalam kuesioner dalam penelitian ini. Hasil dari penelitian memiliki nilai rata-rata tertinggi pada indikator reputations sebesar 3,92 pada pernyataan nomor 55 yaitu pemustaka UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro akan memanfaatkan kembali layanan informasi yang diberikan pustakawan pada saat kunjungan selanjutnya dan nilai ratarata ini masuk dalam kategori berdampak. Selanjutnya nilai rata-rata terendah pada indikator procedural knowledge sebesar 3,74 pada pernyataan nomor lima yaitu pernyataan mengenai pustakawan memberikan informasi tambahan kepada pemustaka, sekalipun nilai rata-rata ini masih termasuk ke dalam kategori berdampak.