Kembali
16
1
2024 House of Wisdom: Journal on Library and Information Sciences Vol 1 · 2 ISSN 3089-6002

How TikTok Boosts Electability in Indonesia's 2024 Presidential Race

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo; Universitas Muhammadiyah Sidoarjo; Universitas Muhammadiyah Sidoarjo; Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Abstract

This study explores the role of TikTok in enhancing the electability of presidential candidates in Indonesia's 2024 election. Using a quantitative approach with observation and documentation, the research analyzes how TikTok influences political image-building. The findings show that TikTok is pivotal in generating public discussion and increasing candidate visibility. Despite a peak in related studies in 2018, there is a notable gap in recent research, highlighting opportunities for further investigation. This study underscores TikTok's significance in political communication and its impact on electoral success.
Keywords: TikTok · electability · presidential election · political communication · Indonesia

Introduction

Pilpres 2024 atau pemilihan presiden 2024 adalah proses pemilihan orang-orang untuk memimpin negara ini selama 5 tahun kedepan.[1] Dalam era digital saat ini, pencitraan tokoh politik melalui media sosial memiliki peran yang penting dalam meningkatkan elektabilitas calon presiden .[2] . Peningkatan elektabilitas berpengaruh untuk menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan bakal calon presiden.[3] . Pada era digital saat ini, media sosial telah menjadi platform yang sangat berpengaruh dalam dunia politik.[4]. Penggunaan media sosial, termasuk TikTok, sebagai strategi kampanye politik telah menjadi tren yang semakin meluas.[5]. Para tokoh politik menyadari potensi besar yang dimiliki oleh TikTok untuk menjangkau khalayak yang lebih luas, terutama generasi muda yang dominan menggunakan platform ini .[6]. Dengan konten yang kreatif dan relevan, tokoh politik dapat menciptakan dampak yang signifikan dan memperoleh dukungan yang lebih besar dalam Pilpres 2024.[7]. Namun, penggunaan TikTok sebagai strategi kampanye politik juga menimbulkan beberapa tantangan.[8] Namun, untuk mencapai hal ini, diperlukan analisis yang cermat terhadap konten yang ada, serta pemahaman mendalam tentang preferensi dan sikap pemilih terkait penggunaan TikTok sebagai sumber informasi politik . [9]. Dalam rangka meningkatkan elektabilitas dalam Pilpres 2024, penting untuk melakukan analisis pencitraan tokoh politik dalam medsos TikTok 2024 .[10] Dengan pemahaman yang mendalam tentang pengaruh dan respons masyarakat terhadap konten TikTok yang disampaikan oleh tokoh politik, strategi kampanye dapat disesuaikan dan disempurnakan untuk mencapai hasil yang optimal[11]. Selain itu, analisis pencitraan tokoh politik dalam medsos TikTok 2024 juga dapat membantu para tokoh politik untuk memperoleh wawasan yang lebih baik tentang preferensi, sikap, dan kebutuhan pemilih, sehingga mereka dapat menyampaikan pesan dan kebijakan yang lebih relevan dan menarik bagi pemilih .[12] Alasan memilih judul "Analisis Pencitraan Tokoh Politik dalam Medsos TikTok 2024 untuk Meningkatkan Elektabilitas di Pilpres 2024" adalah untuk menyoroti pentingnya analisis terhadap cara tokoh politik memanfaatkan platform media sosial TikTok sebagai strategi untuk meningkatkan elektabilitas mereka dalam Pemilihan Presiden 2024.[13] Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang dampak penggunaan TikTok pada opini publik dan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi proses politik.[1] Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih komprehensif dan solusi yang lebih efektif dalam menghadapi tantangan politik di masa depan.[14]. Salah satu fenomena yang mungkin terjadi adalah penggunaan konten yang menarik dan kreatif dalam video TikTok untuk membangun citra positif tokoh politik[15]. Dalammeraadigitallsaattini, TikTok telah menjadi salah satu platformmyanggsangat populer dan memiliki jutaan pengguna aktif di Indonesia[16]. Oleh karena itu, tokoh politik dapat memanfaatkan platform ini untuk memperluas jangkauan dan memperoleh popularitas yang lebih besar.Tokoh politik dapat memanfaatkan fitur-fitur kreatif TikTok, seperti efek visual, musik, dan tantangan, untuk menarik perhatian pengguna dan membuat konten yang menarik[17]. Mereka dapat membuat video yang menggambarkan kegiatan positif mereka dalam masyarakat, seperti melakukan kunjungan ke daerah terpencil, memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan, atau berpartisipasi dalam kegiatan sosial[18]. Dengan menggunakan konten yang menarik dan inspiratif, tokoh politik dapat membangun citra positif sebagai pemimpin yang peduli dan berkomitmen terhadap kesejahteraan masyarakat Jawa Timur.[19] Selain itu, fenomena lain yang mungkin terjadi adalah adanya dukungan dan kampanye yang intensif dari pendukung tokoh politik di platform TikTok[20]. Para pendukung dapat membuat konten yang mendukung dan mempromosikan tokoh politik tersebut dengan harapan dapat meningkatkan elektabilitasnya di Pilpres 2024[21]. Mereka dapat membuat tantangan atau challenge yang berkaitan dengan tokoh politik tersebut di TikTok. Mereka dapat mengajak pengguna TikTok untuk menirukan atau mengunggah video yang menunjukkan dukungan mereka terhadap tokoh politik tersebut.[22] Dengan melibatkan banyak orang dalam kampanye di media sosial, tokoh politik dapat memperoleh eksposur yang lebih besar dan meningkatkan elektabilitasnya di Jawa Timur.[13]Selain itu, faktor penggunaan bahasa daerah dalam konten TikTok juga dapat menjadi fenomena yang berpengaruh dalam pencitraan tokoh politik di Jawa Timur.[23] Dalam upaya untuk membangun kedekatan dengan masyarakat lokal, tokoh politik dapat menggunakan bahasa daerah dalam video TikTok mereka. Hal ini dapat membantu menciptakan rasa kebersamaan dan keakraban antara tokoh politik dengan penduduk Jawa Timur, sehingga meningkatkan elektabilitas mereka di wilayah tersebut.[12] Namun, penting untuk diingat bahwa fenomena ini merupakan asumsi dan potensi yang mungkin terjadi.[24] Untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat dan spesifik mengenai fenomena pencitraan tokoh politik dalam media sosial TikTok di Jawa Timur, disarankan untuk mengikuti perkembangan politik dan media sosial di wilayah tersebut serta melakukan analisis yang lebih mendalam.[25]

Method

Analisis bibliometrik merupakan suatu kajian yang dilakukan dalam analisis bibliografi kegiatan ilmiah. Analisis bibliometrik adalah metode kuantitatif untuk menganalisis data bibliografi seperti buku, artikel, atau publikasi lainnya. Hal ini dilakukan dengan menggunakan data jumlah dan penulis publikasi ilmiah, institusi, dan negara, serta mengidentifikasi jaringan nasional dan internasional serta memetakan pengembangan bidang sains. Perangkat lunak ini memudahkan analisis data bibliometrik dengan fitur-fitur seperti melihat penulis yang berpengaruh, grafik tahun maraknya publikasi penelitian, dan melihat institusi yang banyak meneliti suatu bidang penelitian. Kajian ini didasarkan pada asumsi bahwa seorang peneliti tidak hanya melakukan penelitiannya, tetapi juga harus mengkomunikasikan hasil penelitiannyaakepada teman sejawat. Dalam konteks ini, analisis bibliometrik bertujuan untuk memberikannkemajuanndannperkembangannpengetahuannmelaluiikegiatannkolaborasi dalam mengkaji topik penelitian khusus. Analisissbibliometriiadalahhpendekatannuntuk memeriksa evolusi dari domain penelitian, termasuk topik dan penulis, berdasarkan strukturrsosial, intelektual, dan konseptual disiplin ilmu . Pertama, ibliometric untuk ibliometric an, yang merupakanndomain utamaadari risettbibliometrika dan digunakannsebagaiimetodologiiriset. Komponen ini berfokus pada pengembangan dan penggunaan metode-metode ibliometric untuk menganalisis dan memahami publikasi ilmiah.Kedua, ibliometric untuk disiplin ilmu, yang mengacu pada ketertarikan para peneliti dalam bidang spesialisasi mereka . Para peneliti umumnya memiliki minat yang kuat pada bidang spesialisasi mereka dan tertarik untuk melihat perkembangan penelitian dalam disiplin ilmu tersebut. Analisis ibliometric dalam konteks iniidapattmembantuuparaapenelitiiuntuk memahami tren publikasi, kolaborasi penelitian, serta dampak ilmiah dalam bidang spesialisasi mereka. Ketiga, ibliometric untuk kebijakan dan manajemen sains, yang berkaitan dengan evaluasi riset dalam berbagai topik penelitian.

Discussion

Gambar 1. Hasil Penelusuran Meta Data Melalui P.O.P Dari hasil diatas ternyata dalam judul Analisis Pencitraan Tokoh Politik Dalam Media Sosial Tik-Tok Untuk Meningkatkan Elektabilitas Di Pilihan Presiden 2024, bahwasannya angka, jumlah sitasi suatu jurnal ilmiah dapat diperoleh dari Crossref dengan jumlah total sitasi, i-index, h-index dan beberapa informasi terkait dapat terlihat. Dengan menggunakan Publish or Perish Crossref sangat efektif terjaring 1000 artikel di 7204 kota, sitasi tahun 2013 sampai 2023.[26][27]. Gambar 2. Peneliti Paling Produktif Pemilihanntypeeoffdata, penelitiimenggunakanncreateea mappbaseddan bibliographiccdata.[28][29] Laluudalam data source menggunakan read data from reference manager files dengan supported file typessRIS.Kemudian pada counting method menggunakan full counting dengan Maximum number of authors perrdocument sebanyak 20 dan Minimum number of document of anauthor sebanyak 4. Hasilnya dari 1206 penelitiiada 133yang memenuhi kriteria. Terdapat 13 peneliti yang paling banyak mempublikasikan riset tentang pencitraan tokoh politik dalam media sosial tik-tok.[30] Peneliti palinggbanyakkmempublikasikan hasil risetnya adalahPerloff, Richard m, sebanyak 10 document dengan total link 0 . Diurutan kedua adalah bailey, elizabeth anne sebanyak 12 document dengan total link 0.penelitiitersebuttseringgmempublikasikannhasillpenelitiannbersama.[31]Korelasiiketig anyaaterlihattdalam gambarrdibawah ini : Gambar 3. Korelasi Peneliti Paling Produktif Gambar 4. Peneliti Paling Produktif Dari Tahun Ke Tahun Gambar 5. Peneliti Paling Produktif Dalam Density Gambar 6. Hasil Pemetakan Dengan Mode Tampilan Network Visualization Gambar 7. Hasil Pemetakan Dengan Mode Tampilan Overlay Visualization Pemetaan menggunakan VOSViewer 1.6.16. dalam pemilihan type of data, peneliti menggunakan createea map baseddtexttdata.[26] Laluudalam dataasourceemenggunakan read dataafrom referenceemanager filessdengan supporteddfile types RIS. Kemudian pada countinggmethod menggunakannBinary countinggdengannminiumum numbesof occurencessof termmsebanyak 10odannnumberrof termmto beeselecteddsebanyakk106. Setelah memperhitungkan klutipan dan metrik lainya, kami menganalisi keluaran dari Pop kedalam aplikasi VOS VIEWER untukkmenentukannkataakunciiapaayanggseringgmuncul, aplikasiiVOS VIEWER digunakannuntuk mengvisualisasikan petaabibliometric padaa3 visualisasi yang berbeda, yaitu visualisasi jaringan, visualisasi overlay, dan visualisasi density/kepadatan. PerhitungannpenuhhpadaaaplikasiiPoppdilakukanndengannjumlahhkejadiannyang munculldiiaturrdi angkaasatu dannmenghasilkan 106 kataakunci. Kami juga mengeluarkan kata kata umum seperti tujuan, studi, hasil, penelitian, dan temuannsehinggaapadaaakhirnyaamendapatkan 5 cluster. Clusterrpertamaaadalah (age, audience, china, content analysis, conversation, emotion, face, fake news, implication, individual, interaction, journalist, nature, perception, place, political expression, political information, political knowledge, post, power, rise, social media use, social network, support, tik tok, tweet, united states, us presidential election, video). Cluster kedua adalah (actor, basis, candidate, case study, community, discourse, era, Indonesia, Indonesia presidential, Instagram, media, member, message, new media, political candidate, political marketing, practice, president, presidential candidate, presidential election campaign, public, voter, youtube). Cluster 3 (abstract, citizen, democracy, effect, election,campaign, engangemen,t eveidence, exposure, interest, news, Nigeria, participation, political adversiting, political engagement, political news, political participation, presidential campaign, question, researcher,respondent, spread). Cluster 4 (access, challenge, change, concept, development, example, field, gender, image, internet, language, mass medium, part, perspective, political actor, political economy, problem, rise, technology, world,) Cluster 5 ( chapter, general election, goverment, newspaper, number, order, period, political interest, residential election result, representation, women,) Gambar 8. Hasil Analisis Density Visualization Keyword Dari hasil diatas ternyata dalam judul Analisis Pencitraan Tokoh Politik Dalam Media Sosial Tik-Tok Untuk Meningkatkan Elektabilitas Di Pilihan Presiden 2024, topik yang sering dibahas adalah media.[32] Dapat dilihat dari hasil VOSViewer media paling bersinar diantara yang lain. Bahwasannya media sering digunakan oleh peneliti untuk mengetahui sebererapa besar elektabilitas yang terjadi di tengah Masyarakat.[33] Media sendiri mempunyai definisi tersendiri Secaraaetimologi, kata “media” merupakannbentukkjamakkdari “medium”,yanggberasalldannBahasa Latin “medius” yanggberartiitengah. Sedangkan dalamBahasa Indonesia, kata “medium” dapat diartikan sebagai “antara” atau “sedang”sehingga pengertian media dapat mengarah pada sesuatu yang mengantar ataumeneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima pesan. Mediaadapattdiartikannsebagaiisuatuubentukkdan salurannyanggdapattdigunakanndalammsuatuuprosesspenyajian informasi (AECT, 1977:162). Dengan menggunakan media sosial maka secara tidak langsung kita mengetahui seberapaa besar kita berpengaruh di dalam Masyarakat, dengan media sosial kita bisa melakukan promosi atau memberikan suatu perkembangan para calon pilpres megutarakan visi dan misi nya atau janji yang di buat, maka bisa diartikan kalau media itu memiliki pengaruh yang besar dalam Masyarakat.[34]

Conclusion

Temuan penelitian menunjukan bahwa dengan judul Analisis Pencitraan Tokoh Politik Dalam Media Sosial Tik-Tok Untuk Meningkatkan Elektabilitas Di Pilihan Presiden 2024 , Bagian ini menjelaskan kesimpulan umum dari hasil penelitian sesuai dengan tujuan penelitian.[20] Berdasarkannpenelitiannyanggtelah dilakukan, makaadapat diperolehhkesimpulan Berdasarkannhasillpenelitian di atassdapattdisimpulkannbahwaajumlahhpenelitianntentang penggunaan media sosial tiktok untuk meningkatkan Upaya elektabilitas calon presiden 2024 .[35] Publikasi terbanyakkterjadiipadaatahunn2018 sebanyakk20 artikel. Penelitiiyanggpalinggbanyakkmempublikasikannhasil risetnya Perloff, Richard m, sebanyak 10 document dengan total link 0. Diurutan kedua adalah bailey, elizabeth anne sebanyak 12 document dengan total link 0. Keempatpeneliti. tersebut sering mempublikasikan hasil penelitian bersama. Semakin terang warnanya maka semakin banyak risetnya. Adapunnrisettyanggmasihhsangattsedikit adalah ditandai dengan warna yang tidak menyala. Dengan demikian, maka terbuka peluang untuk riset terbarukan dengan mengambillitem-item tersebut.