DINAMIKA LITERASI INFORMASI POLITIK DI KALANGAN AKTIVIS MAHASISWA ISLAM
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Penelitian ini bertujuanm untuk mengetahui profil literasi politik mahasiswa di kalangan organisasi kemahasiswaan PMII, HMI dan KAMMI di lingkungan UIN Sulthan Thaha Jambi. Pendekatan kualitatif wawancara semi terstruktur, pengamatan dan studi pustaka dijalankan untuk mendapatkan data pada informan berasal dari setiap organisasi kemahasiswaan yang terdiri dari Ketua Umum, Wakil Ketua bagian advokasi, Sekretaris Umum, Koordinator Aksi. Kajian ini menunjukkan bahwa menjadi aktivis mahasiswa Islam didorong oleh faktor internal diri pribadi seperti rasa kesesuaian ideologi dan spirit dakwah Islam, kesadaran diri pribadi dan sikap kritis. Faktor luar diri pribadi seperti pengaruh senior dan imej positif organisasi kemahasiswaan. Sumber informasi politik mahasiswa yaitu media konvesional, media baru seperti situs web dan media sosial, forum diskusi dan para pihak ahli. Pencarian informasi politik didorong oleh faktor kebutuhan informasi politik, jiwa kepemimpinan, kesadaran politik dan minat memahami baik/buruk dunia politik. Evaluasi setiap informasi politik dilakukan dengan perbandingan pada sumber dan berdiskusi. Informasi politik bermanfaat bagi mahasiswa untuk memenuhi kebutuhan informasi dan bahan diskusi teman sejawat. Sinergitas antara mahasiswa, institusi perguruan tinggi dan organisasi kemahasiswaan menjadi faktor penting meningkatkan literasi informasi politik di kalangan mahasiswa.
Abstract
This study aims to determine the profile of student political literacy among student organizations PMII, HMI and KAMMI at UIN Sulthan Thaha Jambi. A qualitative approach with semi-structured interviews, observations and literature studies was carried out to obtain informant data from each student organization consisting of the General Chair, Deputy Chair of the advocacy section, Secretary General, Action Coordinator.This study shows that being an Islamic student activist is driven by personal internal factors such as a sense of conformity with the ideology and spirit of Islamic da'wah, personal self-awareness and a critical attitude. External factors such as the influence of seniors and a positive image of student organizations. Sources of student political information are conventional media, new media such as websites and social media, discussion forums and experts. The search for political information is driven by the need for political information, leadership spirit, political awareness and interest in understanding the good/bad world of politics. Evaluation of each political information is carried out by comparison of sources and discussion. Political information is useful for students to meet the information needs and discussion material of their peers. Synergy between students, higher education institutions and student organizations is an important factor in increasing political information literacy among students.
Keywords:
Literasi
· Literasi Informasi
· Politik
· Mahasiswa
· Organisasi Kemahasiswaan
Introduction
Secara konseptual, informasi politik merupakan gabungan dari dua konsep yaitu literasi informasi dan literasi politik. Pada pirnisipnya, Konsep literasi inforasi (information literacy) yang banyak dibicarakan pada masa ini adalah merujuk kepada konsep literasi yang dikemukakan oleh American Library Assocation (ALA) 1989 yang dipaparkan oleh Association of College and Research Libraries (ACRL) (2000:2) didapati konsep literasi informasi seperti berikut: “Information literacy is a set of abilities requiring individuals to “recognize when information is needed and have the ability to locate, evaluate, and use effectively the needed information.” Dengan arti kata, konsep literasi tersebut menegaskan bahwa literasi informasi menekankan pada kemampuan para individu untuk mengetahui bila suatu informasi dibutuhkan, dan memiliki suatu kecakapan untuk menempatkan, mengevaluasi dan menggunakan secara efektif informasi yang dibutuhkan. Tidak hanya itu, dalam ACRL (2000) literasi juga memaparkan bahwa literasi informasi semakin penting dalam lingkungan kontemporer masa ini, hal ini disebabkan melimpahnya pilihan dan sumber informasi seperti dalam lingkungan kerja, akademik, dan dalam kehidupan sehari-hari. Seirama dengan ini, Gunawan (2008) juga berpendapat bahwa literasi informasi memudahkan bagi orang untuk belajar mandiri secara terus menerus, tidak gagap dengan ledakan informasi dan kritis. Di lain pihak, konsep literasi politik pula dapat dilihat pada pendapat Cassel dan Lo (1997) yang dipahami dan dikemukakan oleh Vanderkast, E. J. S. (2014) bahwa sesungguhnya konsep literasi politik adalah terkait dengan kesadaran politik yang bertujuan untuk mewujudkan warga negara yang kompeten, berpengetahuan dan mempersiapkan diri mereka dalam kehidupan demokratis. Sementara itu, Cassel dan Lo (1997) dalam salah satu pemaparan kesimpulan artikel mereka, menyatakan bahwa literasi politik merupakan produk dari motivasi dan kemampuan internal dan peran sosial eksternal. Literasi politik juga merukan hasil dari keterlibatan atau partisipasi politik yang disebabkan oleh posisi sosial, kemampuan dan sosialisasi orang tua. Bagaimanapun sosialisasi orang tua merupakan faktor minor (Cassel dan Lo, 1997: 328). Selanjutnya, beralih kepada konsep literasi informasi politik. Alexander, R. C. (2009) menegaskan bahwa konsep literasi informasi dan literasi politik merupakan dua konsep yang kompatibel dan terkait erat. Oleh sebab itu, Alexander, R. C. lebih jau menjelaskan bahwa dalam kontek pendidikan, literasi informasi dan keterampilan literasi politik meningkatkan keupayaan siswa tidak hanya dalam akademik, tetapi menjadikan mereka sebagai warga negara yang cakap membuat opini dan keputusan berdasarkan informasi yang tepat dan berkualitas. (Alexander, R. C., 2009: 9). Maka berdasarkan paparan para pakar tersebut, maka dalam hal ini, kosep literasi informasi politik dapat diartikan adalah suatu kemampuan atau kecakapan yang dimiliki oleh setiap individu untuk memahami bila suatu informasi politik dibutuhkan, dan mampu mengevaluasi, dan menggunakannya secara efektif sesuai dengan kebutuhan iformasi yang dibutuhkan dalam kehidupan sosial. Atau dalam ungkapan yang lain, literasi informasi politik ialah suatu keahlian yang dimiliki oleh individu dalam berupa kemampuan mencari, menganalisa dan menggunakan secara efektif informasi politik yang didapatkan dari berbagai sumber, dan dapat menumbuhkan sikap kritis atas isu-isu politik. Apalagi untuk saat ini, informasi politik tidak sebatas diakses dan dibicarakan oleh para kalangan politisi, akademisi, serta pengamat, melainkan juga diakses dan dibicarakan oleh kalangan mahasiswa, terutama bagi para mahasiswa yang tergabung ke dalam organisasi-organisasi pergerakan kemahasiswaan seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Selanjutnya katadata.co.id (2019) menyebutkan pencarian informasi politik mengalami kenaikan, baik diakses dari internet, televisi ataupun melalui Koran serta radio. Tujuan pencarian di beberapa media tersebut dalam rangka menggali ragam informasi politik (Nisa, Ayu dan Martriana, 2019:58). Sementara menurut LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) terdapat 60.6% mahasiswa ataupun generasi Z mengakseskan informasi politik (Katadata. 18/7/2018). Selain itu, menunjukkan adanya kesadaran ataupun kebutuhan informasi politik mahasiswa misalnya(1) keterlibatan mahasiswa menjadi narasumber baik di televisi maupun di seminar-seminar dalam rangka pendidikan politik bagi masyarakat (Republika: 2018), (2) mahasiswa berperan aktif dan vokal dalam kancah dunia politik (Suryanef, 175:2011), (3) Dalam kegiatan pelatihan dan rutinitas organisasi kemahasiswaan tidak jarang pula menemui tema-tema diangkat sekitar informasi politik, (4) Secara realitas yang terjadi saat ini, begitu dominan dan vokal para aktivis kampus maupun generasi muda berbicara isu politik (Efendi, 2020:110), dan (5) Lahir organisasi-organisasi kemahasiswaan yang memberi perhatian pada informasi politik. Seperti para aktivis mahasiswa yang tergabung ke dalam organisasi kemahasiswaan seperti PMII, HMI dan KAMMI di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi didapati para aktivis mahasiswa tersebut sering ditemui berdiskusi, berdemonstrasi di ruang publik dalam upaya merespon isu-isu politik yang bersifat kebijakan internal kampus maupun external kampus seperti terkait kebijakan tertentu dari pemerintah. (Pengamatan Peneliti, 2015). Perkara ini menunjukkan adanya kesadaran informasi politik yang dimiliki oleh para mahasiswa yang tergabung dalam organisasi-organisasi kemahasiswaan seperti PMII, HMI dan KAMMI di lingkungan UIN Sulthan Thaha Jambi. Disisi lain pula, salah satu yang patut disoalkan adalah keikutsertaan para aktivis mahasiswa tersebut dalam menyuarakan isu-isu politik, Apakah daya kritis mereka dibarengi kemampuan literasi informasi politik? Dalam pandangan Bakti, dkk (2012) dan Iswandi& Dori (2019:110) yaitu betapa pentingnya penguatan literasi informasi politik bagi generasi muda ataupun mahasiswa. Karena mahasiswa sering menyuarakan atau mengkritisi isu- informasi politik. Senada dengan yang diutarakan oleh Hatta (2017) kenapa perlunya mahasiswa memiliki literasi informasi politik, karena sebagai modal utama dalam menghadapi ledakan informasi-informasi politik, agar terhindar dari hoax politik (Novian dan Rusmono, 2021:27) serta berdampak terahadap cara interaksi dengan aktivitas politik (Ashley, Maksl, & Craft, 2017; Mihailidis, 2014). Sementara itu, literasi informasi politik tidak hanya sebatas memahami teknik penelusuran informasi, mengakses informasi dari berbagai sumber. Akan tetapi literasi informasi politik merupakan bagian untuk memahami dampak isu-isu sosial, politik dan budaya (Katarudin dan Putri, 73:2020). Oleh itu, kemampuan literasi informasi politik bagi mahasiswa merupakan salah satu bentuk kecakapan yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa supaya mampu memahami informasi politik yang berkembang setiap waktu, untuk mampu menghindari informasiinformasi yang kebenarannya. tidak sahih Bicara literasi informasi politik perlu melihat sejauh mana gambaran perkembangan kajian-kajian yang telah dulu dijalankan oleh peneliti sebelumnya terkait dengan literasi informasi politik. Dalam konteks Indonesia, terdapat beberapa kajian terdahulu terkait dengan literasi politik yang relevan dan menyoroti dari berbagai perspektif yang berbeda. Misalnya, kajian literasi politik dikaitkan dengan; (1) Pemilu. Literasi media dan politik menjadi perkara penting dalam menangkal informasi hoax terikait dengan informasi politik seperti masa kampanye politik (Heryanto, 2019); literasi politik terkait dengan partisipasi politik warga dengan salah satu wujudnya adalah berkenaan dengan penggunaan hak pilih warga dari berbagai kalangan seperti para warga pemilih pemula, komunitas tertentu (Hasyim, 2020; Katarudin dan Putri, 2020; Susanti dan Muliawanti, 2020; Mudjiyanto, 2013). Kajian lain juga menunjukkan bahwa para pemilih pemula dipengaruhi oleh tahap literasi media dan literasi politik. Literasi media memberi pengaruh yang signifikan terhadap literasi politik. (Ridha, & Riwanda, 2020). Selain itu, terdapat pula literasi politik terkait dengan partisipasi politik kaum perempuan. Dalam momen politik, kaum perempuan dituntut untuk terlibat dalam aktivitas politik, dengan kata lain, literasi politik para perempuan berorientasi partisipatif, demokratis dan egalitarian (Syahputra, 2020; Novita dan Sari, 2019). (2) Literasi politik terkait sikap dosen menilai informasi hoax dan hate speech berkenaan dengan isu-isu politik, dimana dosen bersikap kritis dan objektif dalam menyikapi informasiinformasi politik yang berbau hoax dan hate speech (Florina, 2019). (3) Pendidikan politik melalui literasi digital terbukti mampu meningkatkan tahap kemampuan literasi digital bagi para penyandang disabilitas (Syaifurrohman dan Nasution, 2021). (4) Model literasi politik. Model Literasi politik yang dapat dilakukan oleh perpustakaan umum meningkatkan pembelajaran politik dan kewarganegaraan (Narendra, 2019). Dalam kajian lain, Sutisna, (2017) melihat bahwa model pembelajaran kontekstual sebagai pendekatan yang efektif sebagai instrumen pendidikan kewarganegaraan dalam usaha meningkatkan kemampuan literasi politik bagi pemilih pemula. Melihat kepada beberapa kajian terdahulu yang relevan terkait dengan literasi politik dan media, maka dapat dipahami bahwa para peneliti sebelumnya menempatkan konsep literasi politik dalam penelitian mereka dipandang sebagai kemampuan individu melibatkan diri dalam aktivitas politik atau partisipasi politik dengan faktor pendorong adalah kemampuan individu terkait dengan tahap literasi media dan literasi digital. Perkara masalah hoax dan hate speech juga menjadi antara isu pembeda yang didapati dalam fokus kajian-kajian sebelumnya. Demikian juga dengan dampak penerapan model-model literasi politik sebagai pendekatan pembelajaran di kalangan siswa ataupun mahasiswa dalam upaya peningkatan kemampuan literasi politik. Namun demikian, dari berbagai isu ataupun fokus kajian terdahulu yang telah dipaparkan, secara khusus aspek konseptual literasi informasi politik antara menjadi ruang yang perlu diperhatikan dalam kajian litarasi politik. Sehubungan dengan itu, kajian ini fokus kepada isu literasi informasi politik bagi para mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kemahasiswaan seperti PMII,HMI dan KAMMI di lingkungan UIN Sulthan Thaha Jambi
Method
Penelitian ini dilakukan di lingkungan UIN Sulthan Thaha Jambi terletak di Jl. Jambi-Muara Bulian KM.16 Simp.Sungai Duren Kab. Muaro Jambi. Penelitian dijalankan dengan cara kualitatif deskriptif. Penelitian bersifat studi kasus yang fokus kepada usaha untuk mengkaji dan memahami dinamika literasi informasi politik studi pada aktivis mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kemahasiswaan ekstra kampus (HMI, PMII dan KAMMI) di lingkungan UIN Sulthan Thaha Saiffudin Jambi. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah salah satu organisasi mahasiswa yang didirikan di di Yogyakarta atas gagasan dari Lafran Pane tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H dan bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947 (Sitompul, 1995). Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan salah satu organisasi mahasiswa berdiri pada pada 21 Syawal 1379 H / 17 April 1960 M yang diinisiasi oleh para mahasiswa Nahdatul Ulama (NU) di Surabaya. (Koesno, 2021). Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yaitu salah satu organisasi mahasiswa muslim di Indonesia lahir tanggal 29 Maret 1998 yang bertepatan dengan 01 Dzulhijjah 1418 H pada era reformasi di Kota Malang.(Tribunnewswiki.com., 2019). Peneliti menggunakan beberapa metode pengumpulan data antara lain: wawancara semi terstruktur, pengamatan dan studi pustaka. Dalam menetapkan informan menggunakan teknik Purposive Sampling dan dipilihi berdasarkan pengetahuan serta keikutsertaan mereka dalam organisasi kemahasiswaan di lingkungan UIN Sulthan Thaha Jambi (HMI, PMII dan KAMMI) dengan kriteria seperti dalam tabel 1 berikut: Tabel 1 Kriteria Organisasi Kemahasiswaan Sebagai Informan Penelitian Dinamika Literasi Informasi Politik NO PMI HMI KAMMI 1 2 3 4 5 6 Ketua Umum Wakil Ketua Empat (Advokasi) Sekretaris Umum Coordinator Aksi Pernah menjadi Nara sumber/mengikuti acara formal politik Perwakilan (Fakultas) setiap Rayon Ketua Umum Sekretaris Umum Koordinator Aksi Pernah menjadi Nara sumber/mengikuti acara formal politik Perwakilan setiap Rayon (Fakultas) Ketua Umum Sekretaris Kaderisasi Kajian strategis Pernah menjadi Nara sumber/mengikuti acara formal politik Koordinator Aksi Analisis data penelitian yang didapatkan dari lapangan baik melalui pengamatan, wawancara ataupun studi dokumen melalui tahapan Reduksi data, penyajian data, triangulai dan menarik kesimpulan.
Result & Discussion
Faktor Penyertaan Organisasi Kemahasiswaan ekstra kampus Secara umum didapati bahwa penyertaan dan keaktifan mahasiswa pada organisasi PMII, KAMMI dan HMI dari semester tiga. Selanjutnya, mahasiswa menyertai organisasiorganisasi kemahasiswaan ekstra kampus tersebut didorong oleh beberapa faktor penting. Misalnya, bagi mahasiswa yang tergabung ke dalam organisasi PMII adalah didorong oleh adanya ajakan yang bersifat suka rela (volunteer), termotivasi oleh senior, dan kesadaran diri sendiri. Selanjutnya, bagi mahasiswa yang bergabung dengan organisasi KAMMI didorong oleh adanya rasa kesesuaian ideologi, gerakan siyasyah berdasarkan dakwah Islam dan sikap kritis. Sebaliknya alasan mahasiswa berminat bergabung dengan organisasi kemahasiswaan HMI karena adanya imej pintar bagi anggota organisasi, dan kesadaran dari diri sendiri. Untuk lebih jelas seperti tabel 2. Tabel 2 Faktor Penyertaan Organisasi Kemahasiswaann Ekstra Kampus PMII KAMMI HMI 1. Adanya ajakan secara sukarela 2. Termotivasi oleh senior sebelumnya 3. Kesadaran diri sendiri 1. Rasa kesesuaian ideologi. Dimana ada kesimbangan antara Siyasah dan Spiritual. 2. Pergerakan berdasarkan spirit Siyasah dakwah Islam 3. Adanya sikap kritis. 1. Tertarik karena Imej pintar (smart) bagi anggota organisasi 2. Kesadaran dari diri sendiri Sumber: Olahan data Penelitian, 2015 Media Literasi Informasi Politik Dari hasil penelitian, didapati bahwa para mahasiswa yang tergabung di dalam organisasi kemahasiswaan di lingkungan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan informasi politik. Pada umumnya didapatkan melalui teman pergerakan dalam organisasi, menanya pada orang lebih paham tentang isu politik sedang berkembang seperti (senior organisasi, dan pihak lain yang dianggap ahli) dan rekomendasi dari teman atau forumforum ilmiah seperti seminar, simposium, diskusi fokus grup dan lainmedia online dan offline. Misalnya dari Sosial media (Facebook, whatshaps dan BBM), dari website, berita media portal, Koran, dan televisi. Selain itu, mahasiswa juga mendapatkan informasi politik dari sumber lain seperti melalui forum diskusi dengan sesama teman teman pergerakan dalam organisasi, menanya pada orang lebih paham tentang isu politik sedang berkembang seperti (senior organisasi, dan pihak lain yang dianggap ahli) dan rekomendasi dari teman atau forumforum ilmiah seperti seminar, simposium, diskusi fokus grup dan lainmedia online dan offline. Misalnya dari Sosial media (Facebook, whatshaps dan BBM), dari website, berita media portal, Koran, dan televisi. Selain itu, mahasiswa juga mendapatkan informasi politik dari sumber lain seperti melalui forum diskusi dengan sesama temanlain. Bagaimanapun, media utama mahasiswa dalam mengakses informasi untuk memenuhi kebutuhan informasi politik adalah lebih dominan dari sosial media, teman pergerakan dan portal berita online. Lihat tabel 3. Tabel 3 Sumber Informasi Politik Mahasiswa Media Online Media Offline Lain-lain 1. Media Sosial (Facebook, whatshaps dan BBM) 2. Situs web (website) 3. Portal berita online 1. Koran 2. Televisi 1. Forum diskusi 2. Orang yang lebih faham informasi politik (senior dalam organisasi) Sumber: Olahan data penelitian, 2015 Alasan mencari informasi politik Didapati juga bahwa para mahasiswa yang tergabung ke dalam organisasi ekstra kampus yang juga dikenali sebagai aktivis mahasiswa memiliki alasan-alasan penting mengapa mereka aktif mencari informasi-informasi politik dari memupuk jiwa kepemimpinan. Bagi mereka, dunia politik adalah syarat dengan nuansa skill kepemimpinan publik. 3) Kesadaran politik dalam diri pribadi. Aspek kesadaran politik pribadi mahasiswa tumbuh dari dalam diri setiap aktivis tergabung mahasiswa yang ke dalam organisasi berbagai sumber yang mereka yakini; 1) Kebutuhan informasi politik. Para mahasiswa yang tergabung ke dalam organisasi kemahasiswaan ekstra kampus meletakkan informasi politik sebagai salah satu kebutuhan informasi bagi meningkatkan wawasan dan pengetahuan mereka terhadap perkembangan dinamika politik. 2) Ingin memiliki jiwa kepemimpinan. Para mahasiswa yang bergabung ke dalam organisasi kampus aktif mencari informasi politik didorong rasa ingin kemahasiswaan ekstra kampus guna meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang isu-isu politik kekinian yang skala lokal, nasional dan internasional. 4) Memahami baik/buruk praktek politik praktis. Melalui pencarian informasi politik dari berbagai sumber tepercaya, maka terpenuhinya keinginan bagi mahasiswa untuk memahami sisi baik dan buruknya praktik politik praktis yang diperagakan oleh para politisi. Lihat gambar 1. Faktor penghambat literasi informasi politik Meskipun hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya ketertarikan para aktivis mahasiswa terhadap isu-isu politik baik skala lokal, nasional dan internasional, namun para aktivis mahasiswa yang tergabung ke dalam organisasi kemahasiswaan ekstra kampus berpandangan bahwa sebagian besar mahasiswa lainnya tidak menaruh minat yang tinggi terhadap perkembangan informasi politik. Degan kata lain, masih terdapat hambatanhambatan bagi sebagian besar mahasiswa terhadap literasi politik. Hasil penelitian ini mendapati bahwa terdapat faktor internal dan eksternal yang berperan menghambat literasi informasi politik di kalangan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kemahasiswaan eksternal kampus. Faktor-faktor dimaksud adalah faktor internal dan eksternal. Pertama, faktor internal ini pada prinsipnya datang daripada diri pribadi mahasiswa seperti sikap menutup diri, kurangnya keingintahuan atau minat terhadap isuisu politik, sikap ingin fokus pada kuliah, adanya sifat induvidualistis, dan Gaya hidup hedonis. Kedua, faktor eksternal yaitu faktor-faktor yang datang dari lingkungan luar diri mahasiswa. Faktorfaktor ini seperti adanya sikap kecewa terhadap situasi politik kekinian yang terkesan kotor, tidak memiliki fasilitas teknologi informasi, dan kurang dukungan dari orang tua. Lihat gambar 2. Gambar 2 Faktor Penghabat Literasi Politik di kalangan Mahasiswa Evaluasi literasi Informasi politik Hasil mengungkapkan penelitian bahwa para mahasiswa melakukan evaluasi terhadap setiap informasi politik yang mereka dapatkan dari sumber. Terdapat beberapa model evaluasi yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap Mahasiswa juga melakukan evaluasi ini informasi politik yang telah mereka dapati melalui penyertaan forum-forum disksusi isu-isu politik sesama rekan organisasi secara personal maupun secara grup. 3) Bertanya pada sumber yang lebih mengetahui. Untuk memastikan setiap informasi politik informasi politik antara lain; 1) Perbandingan informasi politik dari berbagai sumber media. Perbandingan informasi politik dilakukan terhadap informasi yang didapatkan dari sumber media baik media konvensional maupun media baru seperti media sosial dan situs web. 2) Melalui forum diskusi. yang didapatkan oleh mahasiswa, maka mereka juga menanyakan secara langsung kepada sumber yang mengetahui informasi terkait seperti pada senior dalam organisasi dan pihakpihak yang lebih mengetahui. Lihat Gambar 3 Gambar 3 Evaluasi Literasi Informasi Politik Peningkatan politik litarasi informasi berkualitas. Memaksimalkan pemanfaatan teknologi media Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perspektif aktivis mahasiswa terdapat tiga elemen utama yang memainkan peranan penting dalam meningkatkan kegiatan literasi politik di kalangan mahasiswa UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi yaitu elemen peran mahasiswa, organisasi kemahasiswaan dan institusi perguruan tinggi dalam hal ini pihak kampus yang harus bersinergi antara satu dengan komunikasi sebagai sumber atau sarana peningkatan wawasan informasi politik. Selain itu, proaktif mengikuti seminarseminar dalam atau luar kampus yang relevan dengan diskursus wacana politik. 2) Institusi kampus. Pihak kampus atau civitas akademika mesti memberikan ruang dan dukungan kepada mahasiswa seperti mewadahi mahasiswa dalam mengkaji perkembangan isu-isu politik. Sehingga yang lainnya. 1), peran personal mahasiswa. Mahasiswa harus sadar diri dan terlibat aktif dalam kegiatankegiatan yang dapat membantu pengembangan dan pengayaan potensi akademik dalam bidang informasi politik. Misalnya, melalui aktivitas membaca berbagai sumber atau pun referensi informasi politik yang mahasiswa tidak sebatas mengejar nilainilai dan piagam semata. Peran organisasi kemahasiswaan. 3) Organisasi kemahasiswaan ekstra kampus (HMI, PMII dan KAMMI) harus mendorong dan mengajak, serta memfasilitasi para mahasiswa yang sudah tergabung sebagai anggota maupun non-anggota organisasi untuk meningkatkan kualitas literasi politik. Lihat Gambar 4. Dari pemaparan hasil penelitian di atas menggambarkan bahwa sejatinya aktivitas literasi informasi politik tanpa disadari telah pun berlangsung di kalangan mahasiswa. Ini terlihat pada para mahasiswa mempertimbangkan faktor-faktor penting tertentu yang sesuai dengan kebutuhan mereka dalam memutuskan menjadi salah satu anggota dari salah suatu organisasi kemahasiswaan. Misalnya, mahasiswa mempertimbangkan faktor kesesuaian ideologi, aktivitas organisasi dalam dakwah Islam dan lain sebagainya telah menimbulkan kesadaran diri bagi mereka untuk menyertai salah satu organisasi kemahasiswaan. Evaluasi setiap informasi politik yang mereka dapatkan dari pada sumber baik berupa media konvensional, media baru dan media sosial juga menunjukkan adanya kompetensi mahasiswa dalam literasi media terkait dengan informasi politik. Ini selaras dengan pernyataan Ridha dan Riwanda, (2020) yang melihat bahwa media memberi pengaruh yang signifikan terhadap literasi politik. Proses perbandingan informasi politik pada satu media dengan media lainnya untuk mendapatkan informasi yang akurat juga mencerminkan kegiatan literasi informasi politik pada media yang telah dilakukan oleh mahasiswa. Tentu saja ini dijalankan agar terhindar dari informasi-informasi yang mengandungi unsur hoax dan hate speech (lihat. Heryanto, 2019; Florina, 2019). Selain itu, kesadaran diri bagi setiap individu mahasiswa dalam mempertimbangkan tujuan atau manfaat daripada pencarian informasi politik pada sumber-sumber yang mereka yakini seperti media konvensional, situs web, portal berita, maupun sumber dari pada orang yang dianggap lebih tau dapat juga dilihat sebagai suatu gambaran wujud implementasi pendidikan melalui aktivitas politik literasi informasi politik di kalangan mahasiswa.
Conclusion
Dari hasil kajian ini dapat disimpulkan bahwa minat mahasiswa untuk menjadi seorang aktivis mahasiswa yang tergabung ke dalam setiap organisasi kemahasiswaan ekstra kampus seperti HMI, PMII dan KAMMI antaranya dipengaruhi oleh faktorfaktor penting yang datang dari internal diri pribadi mahasiswa sendiri seperti rasa kesesuaian ideologi dan spirit dakwah Islam, kesadaran diri sendiri menyertai organisasi, dan minat menjadi sosok individu yang kritis. Manakala pengaruh dari luar diri pribadi mahasiswa pula seperti termotivasi dari ajakan pihak senior dan pengaruh imej positif dari institusi organisasi kemahasiswaan. Umumnya, mahasiswa menggunakan sumber informasi politik yaitu dari media konvensional, media baru seperti situs web dan media sosial, forum diskusi dan para pihak yang dianggap lebih ahli. Aktivitas pencarian informasi politik di kalangan aktivis mahasiswa didorong oleh faktor kebutuhan informasi politik, memupuk jiwa kepemimpinan, kesadaran politik dan memahami baik/buruk dunia politik. Setiap informasi politik yang didapatkan oleh mahasiswa dari sumber dilakukan evaluasi dengan membandingkan dari berbagai sumber, diskusi dan menanyakan pada yang pihak yang dianggap lebih mengetahui. Dalam perspektif mahasiswa sinergitas antara mahasiswa, peran institusi perguruan tinggi dan organisasi kemahasiswaan menjadi faktor penting dalam menggerakkan dan meningkatkan kualitas literasi informasi politik di kalangan mahasiswa.