Kembali
16
1
2024 Pabukon: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 1 · 1 ISSN PBK

Pengelolaan Koleksi Perpustakaan Di Bandung Creative Hub

Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung; Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung; Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Abstrak

Kegiatan sosial yang umumnya terjadi di ruangan publik, membuat masyarakat mengincar ruangan yang lebih baik untuk melakukan kegiatan-kegiatan lainnya. Co-working sebagai ruangan kerja yang mengedepankan kegiatan kolaborasi, menawarkan tempat yang nyaman dan dapat diakses oleh siapa saja. Salah satu fasilitas serupa yang dapat kita temui ialah Bandung Creative Hub. Sebagai sarana untuk berkreasi, berinteraksi, dan berkolaborasi, membuat Perpustakaan yang ada di Bandung Creative Hub memiliki koleksi khusus subsektor ekonomi kreatif. Pernyataan tersebut, membawa kita pada rumusan masalah terkait pengelolaan koleksi perpustakaan di Bandung Creative Hub. Penelitian ini memiliki tujuan untuk memberikan gambaran proses pengelolaan koleksi perpustakaan di Bandung Creative Hub dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan studi pendekatan deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Bandung Creative Hub menggunakan metode sumbangan sebagai cara pengadaan koleksi perpustakaan. Perpustakaan Bandung Creative Hub memiliki jumlah koleksi sebanyak 12.000 buku yang disesuaikan dengan kapasitas ruangan perpustakaan. Pengolahan bahan pustaka disini, setelah melakukan pengadaan koleksi perpustakaan Bandung Creative Hub mengelompokkan buku-buku sesuai dengan tema, baru kemudian meletakkan ke area rak buku perpustakaan. Bandung Creative Hub mengelola perpustakaannya agar tetap berjalan meskipun terdapat kekurangan di setiap pengolahan koleksinya.

Abstract

Social activities, which generally occur in public spaces, make people aim for a better room to do other activities. Co-working as a workspace that prioritizes collaboration activities, offers a comfortable place and accessible to anyone. One of the similar facilities we can meet is Bandung Creative Hub. As a means to create, interact, and collaborate, making the Library in Bandung Creative Hub have a special collection of creative economy subsectors. This statement brings us to the formulation of problems related to the management of library collections in Bandung Creative Hub. This study aims to provide an overview of the library collection management process in Bandung Creative Hub using qualitative research methods and descriptive approach studies. The results of this study show that Bandung Creative Hub uses the donation method as a way to procure library collections. The Bandung Creative Hub Library has a collection of 12,000 books adjusted to the capacity of the library room. The processing of library materials here, after procuring the Bandung Creative Hub library collection, groups the books according to the theme, then puts them into the library bookshelf area. Bandung Creative Hub manages its library to keep it running despite the flaws in every collection processing.
Keywords: Bandung Creative Hub · Collection Management · Library

Introduction

Kegiatan sosial seperti berinteraksi antar sesama, melakukan meeting di luar kantor, atau berdiskusi di sebuah kafe, memperlihatkan kebutuhan penyediaan tempat yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan-kegiatan tersebut. Masyarakat banyak menggunakan fasilitas umum dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit yang mengincar ruangan berkenyamanan tinggi, dan memperbolehkankan pembawaan makanan atau minuman ke dalam ruangan, serta kebebasan akses yang dimiliki publik terhadap ruangan. Hal ini merupakan satu dari banyaknya alasan yang menyebabkan terciptanya sebuah ruangan kerja publik (co-working space). Co-working space merupakan ruangan kerja yang mengedepankan konsep kolaboratif. Secara umum, co-working space menyediakan tempat untuk bekerja bersama, dengan penggunaan waktu yang fleksibel, dan menjadi wadah bagi individu maupun komunitas untuk menciptakan sebuah interaksi antar pengguna. Kegiatan kolaborasi yang dimaksud adalah kegiatan dalam berbagi ide, pengetahuan, dan bertukar pikiran. Penyewaan ruangan disini juga dapat dimanfaatkan sebagai media berlangsungnya acara komunitas yang untuk penyewaannya bisa dalam perjam, perbulan, dan pertahun. Salah satu fasilitas serupa yang bisa kita temui di daerah Bandung ialah Bandung Creative Hub. BSH (Bandung Creative Center) diresmikan pada tahun 2017 dibawah pengelola Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung. Gedung ini mengedepankan sarana untuk berkreasi, berinteraksi, dan berkolaborasi oleh para pegiat ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif sendiri merupakan era perekonomian yang mengandalkan insutri kreatif (Elisse Tandyo, 2019), dimana sumber daya manusia memanfaatkan ide kreatif yang dimilikinya untuk menggerakan perekonomian. Adapun fasilitas yang disediakan Bandung Creative Hub meliputi Basement dan Area Parkir, Studio Musik, Exhibition Area, Amphitheater, Coworking Space, Ruang Kaca, Recording Studio, Audiotorium, Digital Content Studio, Studio Tari, Taman, Teleconference Room, Studio Jahit, Studio Animasi dan Editing, Studio Fesyen, Aula, dan Perpustakaan. Guna memenuhi fungsi area kerja (co-working space) dan area berkreasi (creative space), perpustakan termasuk ke dalamnya. Perpustakaan di Bandung Creative Hub memiliki rata-rata pengunjung usia produktif yang datang ke perpustakaan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, bekerja, ataupun membaca. Termasuk perpustakaan yang memiliki kesamaan tujuan dengan keberadaan gedung, yaitu mendukung adanya koleksi ke-17 subektor ekonomi kreatif, meliputi subsektor arsitektur, periklanan, kerajinan, pasar barang seni, kuliner, musik, desain, fashion, film, penerbit dana percetakan, permainan interaktif, video, dan fotografi, telivisi dan radio, serta seni pertunjukan. Menurut Suwarno (2010) perpustakaan merupakan pusat sumber daya informasi yang menjadi tulang penggerak majunya suatu institusi terutama institusi pendidikan, dimana tuntutan adaptasi terhadap perkembangan teknologi informasi sangat tinggi (Iztihana & Arfa, 2020). Sedangkan, Rahayuning (2007) mendefinisikan pepustakaan sebagai suatu bentu kesatuan dari tedirinya beberapa komponen, yaitu bagian pengembangan koleksi, bagian pelayanan pengguna, dan bagian pemeliharaan saranaprasarana (Sari, 2017). Adapun peran perpustakaaan ialah sebagai lembaga informasi, tempat pendidikan seumur hidup, serta peran dalam pemberdayaan masyarakat (Yudisman, 2020). Sebagai sarana penyedia informasi yang dibutuhkan, perpustakaan dituntut untuk dapat menjaga informasi yang terdapat dalam sumber informasi tersampaikan dengan baik kepada pemustaka. Koleksi perpustakaan akan bertambah seiring berjalannya waktu, karena kebutuhan pemustaka yang terus meningkat, juga disesuaikan dengan kerelavanan informasi yang disediakan. Koleksi perpustakaan bisa pula berkurang apabila perpustakaan tidak bisa merawat koleksinya dengan benar, atau ada suatu peristiwa yang menyebabkan buku mengalami kerusakan. Sebelum koleksi disajikan kepada pengguna, perpustakaan harus dapat mengolah dan mengorganisasikan informasinya sehingga pemakai bisa meraihnya dengan tepat, dan mengefesiensi temu kembali informasi selanjutnya yang akan terjadi (Pratiwi & Sahidi, 2021). Dalam maksud pemenuhan informasi bagi pemustaka, maka perpustakaan perlu melakukan pengembangan koleksi. Kegiatan tersebut terdiri dari penentuan dan koordinasi terhadap kebijakan seleksi, penilaian kebutuhan pemustaka, kajian penggunaan koleksi, evaluasi koleksi, identifikasi kebutuhan pemustaka, seleksi bahan perpustakaan, perencanaan bekerjasama, pemeliharaan koleksi dan penyiangan (Djamarin, 2015). Arti pengelolaan perpustakaan sendiri dapat didefinisikan sebagaimana koleksi di perpustakaan itu di kelola. Tahapannya mulai dari pengadaan koleksi, inventarisasi, klasifikasi, input data terotomasi (katalog), pelabelan, dan selving. Mereka semua diatur oleh ketentuan-ketentuan tertentu yang digunakan pustakawan sebagai pedoman pelaksanaan kerja. Melalui rangkaian panjang terkait pengelolaan bahan pustaka, membawa penulis kepada pertanyaan, bagaimana pengelolaan bahan pustaka di perpustakaan Bandung Creative Hub? Apakah sudah berjalan sesuai aturan dan sebagaimana mestinya? Untuk itu, penelitian ini akan memberikan gambaran proses pengelolaan koleksi perpustakaan di Bandung Creative Hub dan menganalisis kekurangannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Method

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi pendekatan deskriptif. Deskriptif yang digunakan penulis diperoleh dari kajian bahan pustaka serta wawancara kepada pustakawan di Perpustakaan Bandung Creative Hub pada tanggal 03 Juni 2024. Penulis melakukan wawancara tersebut bersama Rizki Sanjaya sebagai Narasumber. Data yang diperoleh melalui wawancara dan kajian pustaka dianalisi penulis menggunakan pengelompokkan data berdasar tingkat kebutuhan peneliti, kemudian diolah menjadi bahan kajian penelitian, dan penarikan kesimpulan untuk menjawab rumusan masalah.

Result & Discussion

Tanpa adanya koleksi, suatu perpustakaan tidak dapat menjalankan perannya sebagai lembaga penyedia informasi. Informasi yang disediakan perlu dicari melalui pengadaan koleksi. Pengadaan koleksi merupakan upaya manajemen perpustakaan dalam menambah koleksi baik tercetak atau tidak tercetak untuk memenuhi layanan pemustaka (Nurhidayat, 2016). Pengadaan koleksi di perpustakaan Bandung Creative Hub dilakukan dengan cara menerima sumbangan buku dari masyarakat. Hibahan bahan pustaka tersebut lebih banyak yang berasal dari mahasiswa. Selain itu, Perpustakaan Bandung Creative Hub juga menerima sumbangan buku terbitan dinas pemerintah dan hasil dari kegiatan subsektor ekonomi kreatif. Adapun kriteria koleksi yang dimiliki perpustakaan Bandung Creative Hub disesuaikan dengan kebutuhan pengguna yang ratarata merupakan pengunjung usia produktif (18-27 tahun), sehingga buku-buku pelajaran tidak diterima di perpustakaan ini. Menurut Sulistyo-Basuki (1993) tujuan pemilihan buku adalah mengembangkan koleksi yang baik dan seimbang, sehingga perpustakaan dapat melayani tuntutan pemakai dalam pemenuhan kebutuhan di masa sekarang dan yang akan datang (Abdurrahman dkk., 2019). Merunut Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2024 tentang Standar Nasional Perpustakaan Umum, bahwa pengadaan koleksi perpustakaan bisa dilakukan melalui pembelian, tukar menukar, terbitan sendiri dan hibah. Maka, perpustakaan Bandung Creative Hub telah melakukan pengadaan koleksi dengan baik untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka. Perpustakaan Bandung Creative Hub sendiri awalnya ingin menampung buku-buku karya penulis Kota Bandung sesuai dengan salah salah satu subektor ekonomi kreatif, yakni penerbitan, Namun, hal tersebut terhalangi dengan keterbatasan biaya yang dimiliki perpustakaan karena tidak adanya anggaran masuk untuk perpustakaan. Oleh karena itu pula pengadaan koleksi di perpustakaan ini hanya mengandalkan sumbangsih dari masyarakat. Jenis koleksi yang terdapat di perpustakaan BCH (Bandung Creative Hub) secara keseluruhan merupakan bahan pustaka tercetak, baik berupa buku atau majalah. Koleksi perpustkaan didominasi oleh buku fiksi dan nonfiksi. Karya-karya fiksi seperti novel, cerpen, dan komik menduduki peringkat pertama sebagai koleksi terbanyak. Sedangkan kategori nonfiksi-nya meliputi buku anak, ekonomi dan bisnis, inspirasi dan motivasi, gagasan dan pemikiran, bahasa dan sastra, sejarah, arkeologi, agama, pendidikan, ilmu komunikasi, pariwisata dan strat-up. Sebagai fasilitas pendukung yang ada di Bandung Creative Hub, bahan pustaka mengenai subsektor ekonomi kreatif juga tersedia di perpustakaan. Selain memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi, kolekasi-koleksi yang ada di perpustakaan Bandung Creative Hub telah melakukan analisis komunitas. Analisis komunitas ini dilakukan berdasarkan komunitas yang berkunjung ke perpustakaan, dan fungsi Bandung Creative Hub yang memfasilitasi kegiatan kreatif khusunya pada sektor ekonomi kreatif. Keberadaan koleksi anak yang ada di perpustakaan Bandung Craetive Hub sendiri dapat ikut membantu pemenuhi perkembangan kecerdasaan dalam manifesto perpustakaan umum yang disebutkan UNESCO (Laksmi, 2019). Gambar 1. Ruang Perpustakaan Bandung Creative Hub Perpustakaan Bandung Creative Hub memiliki jumlah koleksi sebanyak 12.000 buku yang disesuaikan dengan ketersediaan atau kapasitas ruang perpustakaan. Ruangan tersebut terletak di lantai dua Gedung Bandung Creative Hub dengan beberapa fasilitas penunjang. seperti kursi, meja kerja, meja baca, reading corner, stopkontak, telivisi LG 43”, dan projector screen microvision. Fasilitas yang disebutkan tadi berfungsi untuk menunjang kegiatan perpustakaan yang ada, serta dapat digunakan secara gratis oleh pemustaka. Ruangan ini juga menggunakan AC untuk menjaga sirkulasi udara. Selain itu, kuota pemustaka yang bisa masuk ke ruangan dalam sekali waktu dibatasi hanya 40 orang. Maka dapat dikatakan bahwa perpustakaan ini sangat menjaga kenyamanan pemustaka satu dengan lainnya sekaligus mendukung jalannya layanan pemustaka. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan Pasal 22 ayat 4 bahwa perpustakaan umum diselenggarakan untuk memfasilitasi terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Tahap yang tidak kalah penting dalam pemenuhan Informasi di perpustakaan, ialah mengolah bahan pustaka menggunakan aturan-aturan yang berlaku sehingga informasi yang dibutuhkan pemustaka dapat tersampaikan dengan efektif. Pemahaman tersebut bisa didefinisakan sebagai organisasi informasi, dan perpustakaan perlu menerapkannya sebagai standar operasional. Akan tetapi, dalam penerapannya, tidak semua perpustakaan mampu melakukannya. Ada juga yang menggunakan sistemnya sendiri dengan tidak melenceng dari yang telah ditetapkan atau disesuaikan dengan keadaan masing-masing perpustakaan. Salah satu perpustakaan itu ialah perpustakaan Bandung Creative Hub. Penulis akan menjelaskan proses akuisisi koleksi yang ada di perpustakaan Bandung Creative Hub berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan dengan narasumber. Perpustakaan ini memiliki alur pengolahannya sendiri. Pertama, karena perpustakaan ini melakukan pengadaan dengan sumbangan buku, maka untuk penyumbangan buku dilakukan dengan cara menghubungi hotline perpustakaan. Kedua, ketika informasi tersebut telah sampai ke pustakawan, selanjutnya pustakawan akan mengkurasi buku sesuai kategori dan rak yang tersedia. Ketiga, pustakawan akan memilih buku sesuai kriteria dan mengonfirmasi kepada penyumbang bahwa bukunya akan diterima di perpustakaan. Keempat, buku akan dibawa oleh penyumbang, dan penyumbang tersebut akan mendapatkan surat tanda terima sebagai keterangan kepemilikan buku telah berpindah tangan. Menyumbang buku ke perpustakaan Bandung Creative Hub juga bisa dilakukan di tempat langsung. Gambar 2. Prosedur Penerimaan Sumbangan Koleksi dari Pemustaka Proses penerimaan sumbangan yang dilakukan perpustakaan Bandung Creative Hub hampir semuanya memiliki kesamaan dengan gambar, namun perpustakaan Bandungan Creative Hub melewati tahap kedua terakhir: mendata koleksi sumbangan dan foto bersama penyumbang, hal ini kemudian menjadi kekurangan yang dimiliki perpustakaan Bandung Creative Hub dan mempengaruhi tahap-tahap pengolahan bahan pustaka berikutnya. Pencatatan koleksi di bagian pengadaan bahan pustaka termasuk hal penting yang dalam kegiatan inventarisasi (Fitriani, 2016). Gambar 3. Cap kepemilikan koleksi perpustakaan Bandung Creative Hub Kegiatan inventarisasi diawali dengan pemberian cap kepemilikan dan cap inventarisasi pada halaman judul buku (Fitriani, 2016). Mengambil sumber gambar diatas, pada salah satu koleksi perpustakaan Bandung Creative Hub terdapat cap kepemilikan yang berisi asal buku ini disumbangkan. Akan tetapi, di halaman judul buku tersebut terlihat tidak adanya cap invetarisasi yang memperlihatkan bahwa hal ini dipengaruhi penacatatan yang tidak dilakukan saat pengadaan bahan pustaka. Tahapan inventarisasi selanjutnya ialah pengisian data koleksi di buku induk perpustakaan. Perpustakaan Creative Hub kembali tidak melakukannya karena ketiadaan catatan yang dilakukan. Padahal, menurut Martrianingrum (2016) kegiatan inventarisasi termasuk ke dalam pengorganisasian yang menjadi tanggung jawab seorang pustakawan (Sembiring & Aryesam, 2022). Setelah melakukan kegiatan inventarisasi, koleksi pepustakaan diklasifikasi berdasarkan ketentuan yang telah berlaku. Idealnya, setiap perpustakaan menggunakaan DDC (Dewey Decimal Classification) yang mengatur klasifikasi bahan pustaka di perpustakaan. Perpustakaan yang menggunakan aturan DDC (Dewey Decimal Classification) biasanya mengelompokkan setiap rak bukunya berdasarkan kelas-kelas ilmu pengetahuan. Oleh karenanya, perpustakaan membutuhkan tempat yang luas dengan penempatan rak buku seperti labirin. Hal ini yang menjadi perpustakaan Bandung Creative Hub tidak menggunakan DDC (Dewey Decimal Classification) untuk klasifikasi koleksi perpustakaannya, melainkan dikategorikan berdasarkan tema-tema yang serupa. Tetap disortir sesuai kategori yang serupa dan tidak mencampurkan kategori yang berbeda antara satu sama lain. Penginputan data dalam maksud kegiatan katalogisasi yang terotomasi juga tidak dilakukan pada perpustakaan Bandung Creative Hub. Keterbatasan tenaga ahli yang dimiliki menyebabkan kegiatan katalogisasi di perpustakaan tidak berjalan dengan lancar. Dengan jumlah 12.000 buku dan pustakawan yang kurang – hanya satu orang – menghambat penginputan data terealisasi. Namun, upaya pustakawan dalam penanggulangan hal ini dilakukan dengan layanan pemustaka bagi pemustaka untuk kebutuhan informasi terkait. Gambar 4. Koleksi Perpustakaan Bandung Creative Hub Tahapan selanjutnya apabila telah melakukan katalogisasi bahan pustaka ialah labelling. Pelabelan merupakan kegiatan pembuatan dan pemasangan label pada punggung buku (Gunawan, 2018). Label tersebut berisi akan nomor klasifikasi, tiga huruf pertama nama pengarang, dan satu huruf pertama judul. Biasanya setiap nomor klasifikasi dibedakan berdasarkan warna-warna yang telah ditentukan. Pembagian nomor panggil berdasarkan warna dapat dibagi sebagai berikut (Anawati, 2023). Nomor Kelas Subjek Warna 000 Komputer, Informasi, dan Karya Umum Hijau Muda 100 Filsafat dan Psikologi Merah Tua 200 Agama Merah Muda 300 Ilmu Pengetahuan Sosial Hijau Tua 400 Bahasa Putih 500 Sains Biru 600 Teknologi Coklat 700 Kesenian Hitam 800 Sastra Kuning 900 Sejarah Jingga (Orange) Tabel 1.1 Pembagian Nomor Klasifikasi Berdasarkan Warna Akibat keberlanjutan proses yang tidak dilakukan sebelumnya, membuat perpustakaan Bandung Creative Hub pula tidak menerapkan pelabelan pada koleksi perpustakaannya. Hal ini menjadi perihal yang penting dalam membantu penemuan koleksi yang diingikan pemustaka. Penempatan buku di rak perpustakaannya pun menjadi tidak teratur. Maksudnya, pustakawan hanya mengelompokkan bahan pustaka sesuai dengan temanya lalu buku-buku tersebut tidak sama sekali disusun berdasarkan abjad nama pengarang ataupun judul buku. Meskipun demikian, ada satu hal positif lagi yang tidak bisa dilewatkan, yaitu tata letak rak buku di dalam ruangan. Perpustakaan Bandung Creative Hub memiliki penataan rak buku yang sangat baik. Penempatan rak-rak buku fiksi ditempatkan di dalam satu sektor yang berdekatan. Berlanjut ke rak koleksi buku nonfiksi yang berada di seberangnya. Buku-buku anak disimpan didekat pintu masuk, supaya memisahkan area anak-anak dengan area orang dewasa, dan mempermudah pustakawan dalam pencegahan kerusakan buku yang biasanya anak kecil lakukan. Keterkaitan ini juga yang menyebabkan perpustakaan Bandung Creative Hub tidak menggunakan DDC (Dewey Decimal Classification) untuk klasifikasi koleksinya. Sebab penempatan rak bukuya sendiri, diletakkan di sudut-sudut ruangan untuk memperoleh area kosong, di tengah-tengah ruangan yang dimanfaatkan menjadi tempat membaca buku. Maka dari itu, perpustakaan Bandung Creative Hub memiliki fungsi penyedia coworking space yang nyaman dan luas. Tujuan tersebut sangat sesuai dengan peran perpustakaan yang membebaskan akses perpustakaan bagi siapa saja tanpa terkecuali. Selain dari fungsi Bandung Creative Hub, kebebasan akses yang dimiliki perpustakaan juga mendukung perpustakaan ini berjalan. Seluruh proses pengolahan yang ada di perpustakaan Bandung Creative Hub dapat terjadi apabila ketersediaan buku di perpustakaan sedang kosong. Jika koleksi buku sedang penuh, maka tidak menerima sumbangan buku. Pengecekan kualitas bahan pustaka yang ada di perpustakaan ini dilakukan secara berkala, untuk memastikan apakah ada buku yang telah rusak, tidak layak pakai, atau sudah tidak relevan dengan komunitas perpustakaan. Gambar 5. Buku dengan Kondisi Rusak Apabila ditemukan buku rusak seperti pada gambar, pihak perpustakaan akan menggunakan solatip untuk membenarkannya, dan perawatan buku lainnya seperti penggunaan silica gel menyerap kelembapan, serta ruangan ber-AC yang menjaga suhu ruangan. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga sirkulasi koleksi di perpustakaan tetap berjalan. Perpustakaan Bandung Creative Hub melakukan penyumbangan koleksi lama ke perpustakaan lain untuk menggantikannya dengan koleksi baru. Koleksi lama tersebut tentu dengan kondisi baik sehingga di tempatnya yang baru tetap layak dibaca. Sebagai bentuk usaha untuk melestarikan bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan ini, Bandung Creative Hub tetap melakukannya seseuai dengan tujuan perawatan koleksi, yakni menjaga informasi yang terdapat dalam bahan pustaka dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang (Dwinzhana, 2018). Anggaran dana yang tidak dimiliki perpustakaan juga menjadi penghambat pengelolaan koleksi perpustakaan di Bandung Creative Hub. Sedangkan, kunci utama keberlangsungan yang ada di perpustakaan, baik sistem dan pustakawannya bermutu adalah anggaran (Islamiyah, 2015). Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan pasal 15 bahwa mengenai pembentukan perpustakaan yang paling sedikit ialah dengan memenuhi syarat kepemilikan koleksi, tenaga perpustakaan, sarana dan prasarana, anggaran, dan memberitahukan keberadaannya ke Perpustakaan Nasional (Budyanto, 2018). Meskipun memiliki banyak kekurangan, perpustakaan Bandung Creative Hub tetap menjalankan fungsinya sebaik mungkin sebagai sarana pemenuhan kebutuhan informasi.

Conclusion

Pengelolaan bahan pustaka yang telah diuraikan pada bagian pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa di perpustakaan Bandung Creative Hub koleksii yang terdapat di perpustakaan merupakan hasil dari hibah masyarakat, mahasiswa, atau pihak kedinasan yang terkait. Siapa saja dapat menyumbangkan bukunya ke perpustakaan Bandung Creative Hub selama kapasitas rak buku tersedia. Buku lama yang telah usang akan perpustakaan sumbangkan ke perpustakaan lain dengan mengangtikannya dengan koleksi yang baru. Dengan jumlah 12.000 koleksi buku cetak, perpustakaan Bandung Creative Hub menempati ruangan yang dilengkapi fasilitas-fasilitas – seperti: kursi, meja kerja, meja baca, reading corner, stopkontak, telivisi LG 43”, dan projector screen microvision – yang menunjang aktivitas keberlangsungan perpustakaan. Penempatan lemari buku yang diletakkan di ujung-ujung ruangan juga diperhatikan perpustakaan Bandung Creative Hub, supaya terciptanya ruangan kosonga yang cukup luas, nyaman, dan dapat di akses oleh siapa saja. Alur pengolahan bahan pustaka di perpustakaan Bandung Creative sendiri pun dimulai ketika pengadaan buku dilakukan. Pertama, penyumbang buku menghubungi nomor hotline Bandung Creative Hub untuk membertitahu bahwa ingin menyumbangkan buku. Kedua, informasi tersebut sampai ke pihak perpustakaan. Ketiga, pustakawan yang bertugas akan melakukan kurasi terhadap bahan pustaka dan memilih bahan pustaka yang sesuai dengan kriteria. Keempat, penyumbang membawa buku ke perpustakaan, dan mendapatkan surat tanda terima. Setelah buku sampai di perpustakaan, pustakawan akan mengantegorikan buku tersebut sesuai tema bukunya, baru kemudian ditempat ke lemari buku yang tersedia. Adapun pembagian kategori bahan pustaka yang dilakukan perpustakaan Bandung Creative Hub adalah berdasarkan isi buku tersebut, yakni antara fiksi dan nonfiksi. Koleksi fiksi dapat berupa novel, cerpen, dan komik. Sedangkan koleksi nonfiksi terdiri dari buku anak, ekonomi dan bisnis, inspirasi dan motivasi, gagasan dan pemikiran, bahasa dan sastra, sejarah, arkeologi, agama, pendidikan, ilmu komunikasi, pariwisata dan strat-up, sektor ekonomi kreatif. Peran perpustakaan sebagai co-working space yang membuat perpustakaan ini tetap berjalan, meskipun memiliki banyak kekurangan di setiap pengolahannya, karena keterbatasan dana yang dimiliki perpustakaan.