KOLABORASI MAHASISWA VOLUNTEER DAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI UNTUK MENGHADAPI METAVERSE
Institut Daarul Qur?an Jakarta
Abstrak
Tulisan ini membahas mengenai perpustakaan perguruan tinggi yang memiliki kesempatan berkolaborasi dengan mahasiswa. Mahasiswa bisa mendapatkan manfaat yaitu mendapatkan pengalaman kerja, memiliki keterampilan baru, meningkatkan softskill, dan memiliki kebanggaan pada perpustakaan institusi tempat dimana mahasiswa tersebut bekerja. Kolaborasi ini menguntungkan kedua belah pihak, yaitu mahasiswa dan perpustakaan. Perpustakaan dapat mengatasi masalah SDM yang terbatas saat akan melaksanakan berbagai program atau acara kreatif perpustakaan. Mahasiswa dapat belajar untuk menghandle suatu acara dengan perpustakaan sebagai media atau wadah untuk mengembangkan kreativitasnya.
Abstract
This paper discusses academic library have chance to collaborate with colledge students. Students can get benefits, namely gaining work experience, having new skills, improving soft skills, and having pride in the library of the institution where the student works. This collaboration benefits both parties, namely students and libraries. Libraries can overcome the problem of limited human resources when carrying out various library creative programs or events. Students can learn to handle an event with the library as a medium or a place to develop their creativity.
Keywords:
kolaborasi
· mahasiswa
· metaverse
· pustakawan
· perpustakaan perguruan tinggi
· collaboration
· college student
· librarian
· academic library
Introduction
Di setiap perpustakaan tentu memiliki beragam program dan layanan yang direncanakan dan ingin dilaksanakan, terutama perpustakaan perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi memiliki keunggulan yaitu mempunyai sivitas akademika, terutama mahasiswa sebagai aset yang sebenarnya jika dimanfaatkan dengan baik dapat bersifat simbiosis mutualisme. Dikarenakan mahasiswa membutuhkan perpustakaan sebagai tempat untuk belajar, berdiskusi, serta mendapatkan bahan referensi sesuai risetnya, sementara perpustakaan membutuhkan mahasiswa untuk menghidupkan layanan dan program yang akan dilaksanakan maupun telah direncanakan. Kolaborasi menjadi sangat dibutuhkan pada saat ini dimana perubahan sangat pesat yang terjadi di segala aspek kehidupan. Dengan bekerjasama perpustakaan dapat mencapai tujuan bersama sesuai dengan pihak yang diajak berkolaborasi (Komariah, Saepudin, and Nurislaminingsih 2021). Saat ini ada sebuah teknologi baru yang dikenali atau disebut dengan metaverse. Metaverse merupakan langkah revolusioner dalam bidang teknologi dengan menggabungkan teknologi internet dan media sosial, metaverse mengubah cara terhubung ke dunia maya. Cara terhubungnya secara virtual melalui Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) (Sari 2022). Era metaverse mungkin akan terjadi pada beberapa tahun mendatang. Tentunya yang perlu dipersiapkan ialah literasi media sosial ataupun literasi informasi. Untuk itu perpustakaan perlu mengadakan beragam acara demi mengakomodir penyebaran informasi maupun pelatihan literasi. Bagaimana kemudian mengatasi permasalahan mengenai banyaknya kegiatan yang akan dilakukan oleh perpustakaan tetapi dengan jumlah sumberdaya manusia dan sumberdaya lain yang terbatas. Untuk mengatasi permasalahan SDM ini dapat dilakukan dengan cara merekrut mahasiswa. Contohnya ialah program Magang, Student Volunteer, Student Employment, Part Time dan lain sebagainya. Tentunya pekerjaan tersebut harus mampu dilaksanakan oleh mahasiswa tersebut. Dengan mengadakan acara dibantu oleh mahasiswa, sehingga mahasiswa bisa belajar meng handle suatu acara. Mahasiswa mendapatkan softskill . b agaimana memecahkan masalah dengan cepat, berkomunikasi antar rekan ker ja, serta menghadapi realitas pada dunia kerja.
Method
Metode pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi yaitu mengumpulkan berbagai data yang berasal dari beberapa literatur sesuai dengan masalah yang saat ini dibahas, yaitu bagaimana agar mahasiswa volunteer dan perpustakaan perguruan tinggi dapat kemudian berkolaborasi yang dapat menguntungkan antara satu sama lain?
Result & Discussion
Tujuan dari kolaborasi pustakawan dan mahasiswa ialah agar setiap kegiatan, program atau acara yang membutuhkan sumberdaya yang banyak dapat terlaksana secara baik. Masalah yang dihadapi dikarenakan sumberdaya perpustakaan yang terbatas, sehingga membutuhkan sumber daya tambahan (Aini 2018). Memanfaatkan mahasiswa dengan maksimal dapat memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengekspresikan hal-hal yang dapat atau mampu dilakukannya. Perpustakaan pun akan dimanfaatkan mahasiswa untuk keperluan akademis maupun non-akademis dalam hal yang bermanfaat bagi dirinya. Kegiatan saling memanfaatkan ini tentunya dalam ruang lingkup yang positif dan mutualisme. Layanan yang disediakan perpustakaan semakin beragam, seperti layanan peminjaman tanpa harus datang ke perpustakaan, layanan belajar atau membaca yang dibuka sampai malam, layanan ruang diskusi, layanan pendampingan dalam penulisan tugas akhir, menyediakan berbagai pelatihan pengguna dan lain sebagainya. Tentunya kegiatan tersebut membutuhkan sumberdaya tambahan, langkah cerdas yang dapat dilakukan oleh perpustakaan dan pustakawan ialah dengan berkolaborasi (Istiana 2016). Kolaborasi lebih kompleks daripada kerjasama. Kolaborasi diawali dengan komunikasi kedua belah pihak yang akan berkolaborasi, terjadi dialog eksplorasi atas sumberdaya yang dimiliki, serta kemungkinan bagaimana kolaborasi tersebut dilakukan. Dialog tersebut ditindaklanjuti dengan merencanakan kegiatan kolaborasi, melaksanakan kolaborasi dengan terus melakukan koordinasi, serta berupaya untuk menciptakan suatu hal yang baru (Istiana 2016). Maka kolaborasi diartikan sebagai bentuk sinergi intensif yang berlangsung secara berkesinambungan antara dua pihak untuk sama-sama saling menguntungkan. Perpustakaan dan pustakawan dapat memanfaatkan sumberdaya dari luar perpustakaan untuk mendukung terlaksananya program dan kegiatan yang akan diselenggarakan. Sepanjang kegiatan tersebut bermanfaat bagi pengguna perpustakaan (Istiana 2016). Dengan berkolaborasi maka program perpustakaan akan dapat terlaksana dikarenakan masalah sumberdaya yang terbatas tersebut dapat diatasi dengan berkolaborasi. Kolaborasi antara pustakawan dan mahasiswa di dalam memajukan institusi harus dapat menjawab permasalahan yang muncul di perpustakaan. Contohnya Perpustakaan Fakultas Biologi UGM dengan membentuk tenaga volunteer/sukarela dari mahasiswa (Aini 2018). Manfaat dari kolaborasi ialah untuk memaksimalkan sumberdaya yang terbatas, meningkatkan peluang munculnya inovasi dan kreativitas, serta meningkatkan efisiensi tenaga yang dibutuhkan (Aini 2018). Dengan adanya tenaga dari mahasiswa hal ini dapat membantu perihal teknis acara sekaligus peluang munculnya inovasi dan kreativitas dari mahasiswa. Contoh lainnya seperti pelatihan Mendeley. Meski sudah mendatangkan pustakawan dari perpustakaan UGM, tetapi tentunya membutuhkan tenaga lain untuk membimbing peserta. Maka terpilih 5 mahasiswa yang membantu sebagai volunteer dalam pelatihan tersebut. Kemudian saat sosialisasi layanan perpustakaan, serta beragam pelatihan lain seperti cara mengakses jurnal, Scopus, dan lain sebagainya. Mengadakan kegiatan seperti talkshow maupun pengabdian masyarakat membutuhkan tenaga volunteer (Aini 2018). Terlihat dari contoh tersebut bahwa tenaga mahasiswa sangat dibutuhkan perihal keberlangsungan acara. Terutama acara besar yang membutuhkan tenaga yang lebih banyak. Kolaborasi dibangun dalam budaya saling memberi dan menerima, memiliki pemikiran terbuka untuk melakukan perbaikan, serta semangat kebersamaan mengatasi kesulitan. Adanya peran dan tanggungjawab yang jelas daripada pihak yang terlibat kolaborasi. Adanya transparansi mengenai kontribusi masing- masing pihak seperti sumberdaya yang diterima, baik material maupun pengetahuan. Hal tersebut perlu untuk disepakati dan didokumentasikan dalam surat perjanjian. Perlunya staf khusus untuk kegiatan kolaborasi tersebut (Komariah et al. 2021). Sebelum melaksanakan program volunteer tersebut perlu adanya surat perjanjian ataupun kesepakatan agar mahasiswa tersebut tidak bertindak sesuka hatinya, seperti terlambat datang saat acara sedang atau akan dilaksanakan, melanggar prosedur ataupun aturan perpustakaan, dan hal lainnya. Contohnya beberapa kegiatan dilakukan Perpustakaan Universitas Telkom, kegiatan bedah buku hasil karya dosen, seminar mengenai metode penelitian, workshop berbasis e-learning , open house , webinar mengenai tugas akhir, webinar mengenai Mendeley, workshop tentang publikasi ilmiah, kelas literasi dan beragam kegiatan lainnya yang membutuhkan sumberdaya tambahan (Komariah et al. 2021). Kegiatan yang beragam tersebut membutuhkan sumberdaya yang banyak, hal ini tidak akan bisa dilangsungkan oleh SDM Perpustakaan yang terbatas jumlahnya. Pustakawan dapat menjaring kebutuhan dosen atas keterampilan minimal diperlukan mahasiswanya terkait dengan keperluan penelitian dan publikasi. Pustakawan yang akan melakukan upgrade terhadap pengetahuan dan keterampilan mahasiswa tersebut. Contoh keterampilan dalam melakukan penelusuran informasi, penelusuran ejournal , keterampilan melakukan parafrase, sitasi atau pengutipan, membuat daftar pustaka, menghindari plagiarisme, dan lain sebagainya (Istiana 2016). Perpustakaan dapat berkolaborasi dengan mahasiswa sebagai asisten pustakawan. Mahasiswa mendapatkan instruksi dan pembelajaran dari pustakawan terkait jobdesc . Mahasiswa sebagai pengguna terbesar perpustakaan perguruan tinggi, hal ini dapat menjalin kerjasama dengan mahasiswa menjadi lebih erat. Contohnya seperti magang di perpustakaan, mahasiswa dapat dilibatkan dalam event-event perpustakaan (Istiana 2016). Misalkan perpustakaan membutuhkan tenaga dalam bagian pengolahan buku, seperti input data buku, maupun koleksi kelabu seperti skripsi, laporan magang dan lainnya. Tentu sebelum hal tersebut dilakukan, mahasiswa perlu untuk mendapatkan training terlebih dahulu guna meminimalisir kesalahan yang akan dilakukan. Perpustakaan perguruan tinggi yang melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat seperti Perpustakaan Universitas Petra Surabaya. Perpustakaan ini memberikan kesempatan kepada masyarakat di lingkungan institusi dengan mengajak siswa-siswi PAUD dan sekolah dasar melakukan beberapa aktivitas belajar di perpustakaan (Istiana 2016). Tentunya perpustakaan dapat untuk melibatkan mahasiswa di dalam aktivitas tersebut, sehingga mahasiswa akan mendapatkan pembelajaran dalam mengelola suatu acara. Program recruitment volunteer & student employee dirancangan karena perpustakaan seringkali memiliki masalah terkait dengan pengaturan kerja. Banyak titik layanan yang menuntut adanya karyawan disana sementara karyawan dituntut untuk melakukan pekerjaan ataupun aktivitas lain sehingga terpaksa meninggalkan layanan tersebut. Program ini menawarkan magang bagi mahasiswa penerima beasiswa dan bagi mahasiswa volunteer yang tertarik dengan bidang layanan di perpustakaan (Dewi 2016). Sebenarnya tidak hanya bagi mahasiswa penerima beasiswa melainkan magang dan volunteer ini ditujukan bagi mahasiswa yang tertarik dan berminat untuk bersama- sama mengembangkan, memajukan dan “menghidupkan” perpustakaan. Dengan program tersebut diharapkan perpustakaan tidak lagi mengeluhkan kekurangan perihal tenaga kerja di berbagai titik layanan. Dengan adanya tenaga kerja tambahan, hal ini menjadikan karyawan perpustakaan dapat mengikuti kegiatan atau pekerjaan lain seperti halnya mengikuti seminar, pelatihan, rapat ataupun tugas diluar kantor. Tenaga kerja tambahan berupa magang dapat membantu karyawan untuk melakukan digitalisasi koleksi yang akan selalu menjadi pekerjaan rumah karyawan perpustakaan (Dewi 2016). Digitalisasi koleksi maupun kegiatan input data koleksi merupakan tugas dari bagian pengolahan koleksi. Tentunya tugas ini tidak akan pernah usai dikarenakan jumlah koleksi perpustakaan akan terus bertambah setiap tahunnya. Tentunya proses penginputan data ini perlu dilakukan dengan hati-hati agar tidak terdapat kesalahan, sehingga output yang dihasilkan akan memudahkan sivitas akademika perguruan tinggi dalam mencari informasi yang dibutuhkannya. Selain volunteer dan magang, nama lain dari pekerjaan tersebut ialah part-time. Part-time sebaiknya tidak menganggu jadwal kuliah dari mahasiswa yang mengikuti part-time. Manfaat volunteer yaitu menambah pengalaman, belajar untuk membagi waktu, meningkatkan keterampilan bekerja kelompok, serta menambah finansial mahasiswa. Contoh dari kerja part-time ialah membantu kegiatan shelving atau menata kembali buku di rak. Penentuan mahasiswa ini part- time dilakukan melalui seleksi, mulai dari seleksi administratif, wawancara hingga praktik. Mahasiswa part-time tidak hanya untuk shelving tetapi juga kegiatan insidental lain seperti acara seminar, bedah buku, digitalisasi tugas akhir, pengolahan buku baru, dan lain sebagainya (Hadna 2016). Hampir serupa dengan volunteer dan magang, tugas dari mahasiswa part- time ini ialah membantu tenaga perpustakaan dalam shelving atau penataan buku di rak merupakan tugas utamanya, kemudian membantu acara dan hal-hal insidental lainnya. Kegiatan mahasiswa part-time ialah tidak hanya bermanfaat bagi perpustakaan seperti memperlancar kegiatan layanan dan program, tetapi part- time ini bermanfaat pula bagi mahasiswa itu sendiri. Part-time membuat mereka merasa bangga dengan perpustakaan maupun institusi, membuat menghargai waktu, memanajemen waktu, membagi waktu untuk belajar dan bekerja. Selain itu, bagi yang bekerja setelah lulus maka pengalaman selama menjadi mahasiswa part-time ini menjadi modal dalam bekerja (Hadna 2016). Manfaat dari mahasiswa part-time ialah menjadikan kebanggaan dalam diri mahasiswa tersebut dikarenakan telah berkontribusi bagi perpustakaan institusinya. Perbedaan library volunteer dan magang ialah jika magang lebih berkecimpung dalam hal teknis, maka library volunteer ikut berperan dalam program yang dilaksanakan oleh perpustakaan. Library volunteer lebih bergerak untuk kegiatan perpustakaan seperti pameran buku di perpustakaan, hari kunjung perpustakaan, pengenalan perpustakaan, seminar, talkshow, sarasehan, dan lainnya. Library volunteer ini banyak bergerak untuk kegiatan maupun program kreatif perpustakaan. Khususnya mengadakan kegiatan yang relevan bagi kalangan pemustaka milenial, maka perpustakaan dapat bermetamorfosis dengan mengembangkan program kreatif guna menarik minat pemustakanya. Program-program ini dapat digali dari pemustaka. Mekanisme merancang program kreatif ini dapat dilakukan secara online atau offline. Selain itu dapat dilakukan secara langsung dengan menggelar pertemuan di antara pihak pustakawan dan pemustaka (Puspitasari 2019). Tentu peran volunteer ini sangat vital, seperti melaksanakan acara bedah buku, resensi buku, mendesain postingan media sosial, maupun program kreatif lain. Library volunteer dapat diarahkan pada pengembangan program kreatif perpustakaan, dengan mengembangkan pula kreativitas mahasiswa. Student volunteer ini dapat dipergunakan untuk meng handle acara-acara kegiatan perpustakaan, sehingga tenaga perpustakaan dapat tercukupi serta mahasiswa juga dapat belajar dengan baik di dunia kerja. Volunteer perpustakaan dapat diisi oleh orang-orang yang suka dengan perpustakaan. Volunteer ini diberikan tugas yang rutin dan tidak memiliki kualifikasi yang tinggi. Tugas yang mudah untuk dikerjakan. Tetapi ada juga volunteer yang diberikan tugas berkaitan dengan Teknologi Informasi, seperti perbaikan masalah sistem dan lainnya, kemudian proyek penelitian yang berkaitan dengan pemecahan masalah perpustakaan. Volunteer tersebut mampu menyelesaikan masalah profesional perpustakaan sekaligus melakukan penelitian untuk syarat kelulusannya. Volunteer tidak ada standar dalam perekrutan volunteer, dikarenakan sukarela, dedikasi dan motivasi tertentu (Ying and Liang 2015). Perekrutan volunteer dapat melalui tes, rekomendasi dari staf perpustakaan, maupun inisiatif dari mahasiswa tersebut. Volunteer dapat merasa mudah bosan jika dibebankan pekerjaan yang bersifat rutin. Kemudian volunteer yang tidak diawasi pekerjaannya dikarenakan tidak adanya pimpinan, maka bisa berdampak pada kinerja yang negatif. Jika volunteer tidak mendapatkan penghormatan dan penghargaan yang cukup, maka akan muncul kelelahan dan keengganan untuk melakukan pekerjaan, kualitas layanan yang menurun dikarenakan tidak ada standar kerja. Perlu adanya pemberian sertifikat, insentif maupun perlakuan khusus, seperti perbedaan antara volunteer dan pengunjung biasa dalam penggunaan layanan, yaitu volunteer tidak dibatasi, sementara pengunjung biasa dapat dibatasi. Tidak adanya jadwal kerja, hal ini menjadikan pekerjaan volunteer menjadi tidak efektif. Maka perlu adanya pelatihan bagi volunteer sebelum melakukan pekerjaannya sehingga pekerjaan mereka dapat sesuai dengan standar perpustakaan yang berlaku. Kemudian setelahnya perlu adanya evaluasi (Ying and Liang 2015). Pengumpulan data program dapat dilakukan ketika perpustakaan dan mitranya sedang dalam memberikan proses layanan maupun setelah program kerja berakhir. Data akan memberikan gambaran untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan suatu kemitraan. Dengan demikian pihak yang bekerjasama akan memahami manfaat dari kolaborasi tersebut. Kemudian perlu adanya evaluasi (Komariah et al. 2021). Program volunteer, magang, part-time tersebut setelah program dilakukan perlu adanya evaluasi. Untuk pengembangan program tersebut kedepan, sehingga mahasiswa dapat lebih diarahkan kepada membantu menjalankan dan mengembangkan program-program perpustakaan. Membangun kolaborasi membutuhkan komitmen, semangat, dedikasi yang tinggi dari Staf Perpustakaan. Secara khusus Staf Perpustakaan perlu untuk memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan melihat peluang untuk membangun hubungan dengan mitra yang memiliki prospek baik. Perpustakaan sebaiknya memiliki staf/pustakawan yang mempunyai keahlian berkomunikasi yang baik, dikarenakan membangun kolaborasi membutuhkan keterampilan berkomunikasi dan kemampuan membina hubungan baik (Komariah et al. 2021). Dalam melaksanakan program volunteer tersebut, dibutuhkan tenaga perpustakaan dengan komunikasi yang baik, agar mahasiswa dapat dengan jelas memahami instruksi, arahan dan pengawasan dari tenaga perpustakaan. Hal ini untuk mengurangi risiko kesalahan kerja yang biasanya dilakukan oleh tenaga kerja baru. Kolaborasi yang dilaksanakan ini akan memberi manfaat bagi perpustakaan dan pihak-pihak terkait. Manfaat kolaborasi yaitu, a.) Dapat meningkatkan layanan perpustakaan, b.) Dapat memaksimalkan sumber daya perpustakaan, c.) Memacu kreativitas dan peluang berinovasi. Diharapkan kolaborasi dapat terus dilaksanakan dan berkembang dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan (Istiana 2016).
Conclusion
Metaverse kemungkinan 5-10 tahun lagi baru akan hadir atau diimplementasikannya. Metaverse seperti menonaktifkan jiwa seseorang di dunia nyata untuk kemudian menuju dunia virtual. Kemungkinan perpustakaan dapat menjadi tempat virtual yang nyaman bagi pengunjung perpustakaan. Hal ini dapat menjadikan mahasiswa saling berinteraksi di dalam tempat perpustakaan virtual tersebut, berdiskusi, bertukar pikiran, dan tentu mendapatkan informasi melalui perpustakaan. Menjadikan mahasiswa sebagai tenaga tambahan merupakan solusi yang baik untuk jangka pendek sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan kekurangan tenaga tambahan, dan jangka panjang memaksimalkan potensi maupun mempersiapkan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja. Tentunya mahasiswa perlu bersikap supportif membantu perpustakaan serta pihak perpustakaan tidak hanya memanfaatkan tetapi kemudian memberikan timbal balik sepadan bagi mahasiswa tersebut. Mahasiswa berpeluang menjadi Sumberdaya Manusia di perpustakaan di masa mendatang. Hal ini menjadikan perpustakaan tidak perlu menjalankan sistem recruitment untuk mencari tenaga kerja yang baru, tentu dapat menghemat anggaran perpustakaan. Tetapi proses recruitment untuk bidang-bidang lain yang membutuhkan keahlian khusus di perpustakaan juga tetap dibutuhkan.