KOLABORASI GURU DAN PUSTAKAWAN UNTUK MENINGKATKAN BUDAYA MINAT BACA SISWA DI SMA NEGERI 1 WERU SUKOHARJO JAWA TENGAH
Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta; Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta
Abstrak
Rumusan masalah dalam melakukan penelitian ini adalah: 1) Bagaimana peran Guru dan Pustakawan dalam pengembangan minat baca di sekolah? 2) Bagaimana peran perpustakaan pada jenjang pendidikan sekolah menengah atas? 3) Bagaimana strategi kolaborasi guru dan pustakawan dalam meningkatkan budaya minat baca siswa di SMA Negeri 1 Weru Sukoharjo Jawa Tengah? 4) Apa kendala dari guru dan pustakawan dalam meningkatkan budaya minat baca siswa di SMA Negeri 1 Weru Sukoharjo Jawa Tengah? Penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 1 Weru Sukoharjo Jawa Tengah menggunakan metode kualitatif observasi, wawancara, dan studi dokumen Ilmu Perpustakaan. Penelitian ini berfokus untuk meningkatkan minat baca siswa pada sekolah menengah atas dengan strategi yang menghasilkan kebiasaan membaca 1 jam dari sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai dengan penyampaian buku yang telah dibaca sebelumnya oleh para siswa setelah meminjam buku di perpustakaan sekolah untuk disampaikan isi dari dari bacaan yang telah mereka baca.
Abstract
The research questions for this study are: 1) What is the role of teachers and librarians in developing reading interest in schools? 2) What is the role of the library at the senior high school level? 3) How is the collaboration strategy between teachers and librarians in improving students' reading interest culture at SMA Negeri 1 Weru Sukoharjo, Central Java? 4) What are the obstacles faced by teachers and librarians in improving students' reading interest culture at SMA Negeri 1 Weru Sukoharjo, Central Java? The research conducted at SMA Negeri 1 Weru Sukoharjo, Central Java, used qualitative methods of observation, interviews, and document study from Library Science. This research focusses on increasing high school students' interest in reading through a strategy that cultivates a 1-hour reading habit before the start of teaching and learning activities. This is achieved by having students who have previously read books share the content of what they have read after borrowing books from the school library.
Keywords:
Teacher
· Collaboration
· Library
· Librarian
· Reading Interest Strategy
Introduction
Kegiatan yang perlu dikuatkan dalam pendidikan di Indonesia adalah membaca, karena di Indonesia masih banyak kemampuan membaca yang rendah dari keberadaan anak di Indonesia. Seperti hasil survei PISA (Program for International Student Assessment) OECD (Organization for Economic Cooperation and development). Untuk Indonesia sendiri memiliki beberapa indeks kumulatif dalam pencapaian minat baca. Pada jangka pemaparan tahun 2000, skor negara Indonesia berada di kisaran 371, berjalanya waktu meningkat di tahun 2003 memperoleh angka 382, memperoleh angka 393 di tahun 2006, 402 pada tahun 2009, 396 pada tahun 2012, 397 pada tahun 2015, dan pada tahun 2018 minat membaca menjadi 371. Angka itu sendiri masih terbilang sangat rendah, bahkan pada pencapaian di angka tertinggi minat baca indonesia di tahun 2009 memperolehan angka 402 dan itu merupakan sekor yang masih rendah (Ahmadi, 2010). Keadaan di Tahun 2011, UNESCO telah mengunggah hasil sebuah survei dari kebiasaan membaca di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) lebih tepatnya adalah di Indonesia mendapat angka pada kisaran 0000,01. Angka ini terbilang masih sangat kecil. Angka ini berarti hanya seseorang dari beribu-ribu warga Indonesia yang berkeinginan membaca tinggi. Kondisi ini sangat memprihatinkan di era globalisasi agar budaya minat baca di Indonesia semakin kuat (Karim, 2014). Maka dari hal tersebut perlunya dilakukan kolaborasi antara guru dan pustakawan serta peranan penting dari lembaga sekolah dan lembaga perpustakaan untuk meningkatkan minat baca siswa sesuai peranan dan strategi masing-masing. 1. Peran Guru di Sekolah Menengah Atas Guru adalah suatu profesi untuk mendidik dan mengajar siswa ketika berada di sekolah yang memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi pembimbing, pendamping, controlling. Fungsi Guru sebagai pembimbing adalah untuk memberi pengawasan siswa dalam pemberian materi kompetensi belajar siswa yang perlu mereka pahami di sekolah. Fungsi Guru sebagai pendamping siswa untuk menemani keadaan di saat jam belajar di sekolah untuk memecah kesulitan siswa dalam memahami suatu permasalahan dalam kompetensi belajar. Fungsi guru sebagai controlling sendiri adalah sebagai pengatur kebiasaan siswa untuk melakukan budaya baik dan memberi sanksi sesuai batasan aturan yang wajar. dalam mengatur siswa di usia pada kalangan sekolah menengah atas. 2. Peran Perpustakaan pada Jenjang Pendidikan Sekolah Menengah Atas Perpustakaan memiliki peranan penting dalam menunjang kebutuhan siswa untuk belajar sesuai kurikulum yang telah ditetapkan oleh Kemdikbud RI untuk buku panduan belajar yang dipinjamkan dari badan pemerintah pusat untuk memahami kompetensi belajar siswa. 3. Strategi Kolaborasi Guru dan Pustakawan Strategi guru dan pustakawan dalam mengembangkan minat baca harus berdasarkan faktor dorongan dan arahan yang sifatnya mengikat agar siswa berdisiplin dalam mempelajari dan memahami suatu buku. 4. Kendala Guru dan Pustakawan dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa Kendala adalah suatu hambatan yang membuat kinerja suatu kegiatan tidak menjadi efektif untuk dilakukan. Penelitian ini tak lepas dari peneliti pendahulu, Hana Silvana Selly Setiani, sebagai bahan acuan dasar melakukan penelitian kolaborasi guru dan pustakawan dalam meningkatkan minat baca di sekolah menengah atas dengan judul jurnalnya “Peran Guru dan Pustakawan dalam Peningkatan Minat Baca Siswa Pada Program Literasi Informasi.” Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Hikmah Teladan yang dapat dikembangkan kebiasaannya pada anak-anak di sekolah menengah atas. Tujuannya untuk meneliti peran guru dan pustakawan dalam peningkatan minat baca siswa pada program literasi informasi. Pengaruh dalam menurunnya minat baca di sekolah menengah atas adalah karena seringnya berganti kurikulum membuat siswa baik di sekolah dasar dan menengah kesulitan dalam penerapan membaca sesuai materi yang diinginkan, karena dari setiap tahun sistem dan kompetensi siswa dalam belajar sangat berbeda. Pendidikan merupakan hal penting dalam menuntun siswanya. Perubahan pendidikan dapat diawali dari bawah. Semuanya berawal dan berjalan dari sosok guru. Guru tidak perlu menunggu teguran atau perintah karena merekalah yang paling memahami situasi peserta didik dalam proses belajar mengajar. Melalui pemahaman tersebut, guru secara aktif membimbing peserta didik agar memiliki keberlanjutan dalam memahami informasi dari buku sehingga kemampuan mereka terus berkembang menjadi lebih baik (Makarim, 2023). Mendongkrak literasi siswa harus jatuh cinta dengan membaca buku, caranya menyuguhkan sumber bacaan yang menarik untuk merangsang keingintahuannya. Semua berawal dari kondisi perpustakaan yang menarik dan nyaman (Makarim, 2023). Buku menjadi gudang informasi yang menyimpan berbagai pengetahuan. Untuk memahami isi dan makna buku, seseorang harus memulainya dengan rasa cinta. Oleh karena itu, seseorang perlu mencintai buku sebagaimana ia merawat dirinya sendiri dan mengidolakan orang yang ia sayangi (Najwa Shihab, 2018). Menurut Prof. Dr. Sulis Basuki, perpustakaan itu ruangan dari sebuah gedung yang di dalamnya terdapat tempat untuk menyimpan sebuah dokumen dari karya cetak maupun non cetak seperti halnya baik foto, manuskrip, naskah CD, DVD, dari suatu benda yang di dalamnya memuat informasi yang dapat menjadi landasan untuk menjalankan suatu aktivitas sehari hari. Menurut Lasa HS, perpustakaan adalah suatu objek arsitektur bangunan yang di dalamnya terdapat tempat untuk membaca rekreasi dan beristirahat sembari menikmati informasi terbaru yang disediakan dalam perpustakaan dalam mencari pengetahuan dari rasa penasaran ingin tahu agar menjadi tau. Menurut Trimo, perpustakaan suatu tempat dimana di dalamnya menyimpan karya cetak dan sebuah karya brankas rekaman yang dapat disampaikan untuk publik dan di dalamnya terdapat layanan pinjam meminjam sesuai alat dan bahan pustaka yang dibutuhkan oleh pemustaka dalam mencari informasi. Jadi perpustakaan adalah pusat untuk melayani pengabdian informasi kepada masyarakat (Yenianti, 2021). Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini merumuskan beberapa permasalahan utama yang menjadi fokus kajian. Permasalahan pertama, berkaitan dengan peran guru dan pustakawan dalam mengembangkan minat baca di sekolah. Kedua, penelitian ini menelaah peran perpustakaan pada jenjang pendidikan sekolah menengah atas sebagai sarana pendukung pembelajaran dan literasi. Ketiga, penelitian ini mengkaji strategi kolaborasi antara guru dan pustakawan dalam meningkatkan budaya minat baca siswa di SMA Negeri 1 Weru, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Terakhir keempat, penelitian ini juga mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi oleh guru dan pustakawan dalam upaya meningkatkan budaya minat baca siswa di sekolah tersebut.
Method
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif observasi, wawancara, dan studi dokumen, dimana salah satu objek penelitiannya adalah pengamatan perpustakaan yang dianalisa dari berbagai analisa sumber informasi perpustakaan yang menggunakan sumber informasi dari (buku, majalah, koran, surat kabar, berita terkini, artikel jurnal) (Ruhansih, 2017). Proses penelitian dengan melakukan pengamatan terhadap para siswa dan siswi di SMA Negeri 1 Weru Sukoharjo dan melakukan wawancara dengan guru bagian Waka kesiswaan dalam menjalankan strategi untuk meningkatkan budaya minat baca di sekolah tersebut. Selain itu, juga mengambil 5 jurnal yang membahas mengenai strategi minat baca di sekolah.
Result & Discussion
1. Profil Kelembagaan Perpustakaan SMA Negeri 1 Weru a. Kepala sekolah adalah jabatan penanggung jawab kepengurusan tertinggi di perpustakaan SMA Negeri 1 Weru yang dikepalai oleh bapak Drs. Sumarman, M,Pd. b. Wakil kepala sekolah di bidang kesiswaan, wakil kepala sekolah memiliki beberapa bidang khususnya kesiswaan untuk mengurusi para siswa dan aktivitas keseharian para siswa siswinya wakil kepala sekolah di bidang kesiswaan Drs. Sri Mariyanto, M,Pd. c. Bendahara bertugas mengatur keuangan di sekolah khususnya perpustakaan yang diduduki oleh Ibu Eny Setyaningsih, S,Pd. d. Pustakawan adalah seorang yang mengelola buku di perpustakaan baik buku datang, masuk dan keluar, yang diduduki oleh Ibu Jimy Sri Lestari A.Md. Profil narasumber Pustakawan SMA Negeri 1 Weru: Nama : Jimy Sri Lestari A.Md. Jabatan : Pustakawan Tanggal Lahir: 18-05-1983 Riwayat Pendidikan: Ilmu Perpustakaan Informasi 2. Peran Guru di Sekolah Menengah Atas Guru adalah suatu profesi untuk mendidik dan mengajar siswa ketika berada di sekolah yang memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi pembimbing, pendamping, Controlling. Fungsi Guru sebagai pembimbing adalah untuk memberi pengawasan siswa dalam pemberian materi kompetensi belajar siswa yang perlu mereka pahami di sekolah. Fungsi Guru sebagai pendamping siswa untuk menemani keadaan di saat jam belajar di sekolah untuk memecah kesulitan siswa dalam memahami suatu permasalahan dalam kompetensi belajar. Fungsi Guru sebagai Controlling sendiri adalah sebagai pengatur kebiasaan siswa untuk melakukan budaya baik dan memberi sanksi sesuai batasan aturan yang wajar. dalam mengatur siswa di usia pada kalangan sekolah menengah atas. Fungsi tersebut yang kemudian menjadikan landasan guru dalam mendidik para siswanya untuk belajar seperti halnya memberikan tugas, memberi materi, membantu menyelesaikan persoalan ketika siswa mengalami kesulitan dan melakukan pengujian. 3. Peran Perpustakaan pada Jenjang Pendidikan Sekolah Menengah Atas Perpustakaan memiliki peranan penting dalam menunjang kebutuhan siswa untuk belajar sesuai kurikulum yang telah ditetapkan oleh Kemdikbud RI untuk mendukung perpustakaan dalam mengembangkan minat baca di sekolah yang memiliki beberapa faktor pendukung. Beberapa faktor pendukung tersebut adalah faktor yang mendukung agar siswa mau untuk belajar membiasakan membaca. a. Guru Guru bukan lagi hanya sebagai mentor melainkan fasilitator dalam proses belajar dan mengajar karena pada dasarnya anak di usia 15-18 adalah awal masa labil dalam menentukan pilihannya dan rasa ingin tahu yang masih sangat tinggi dalam pemikirannya sehingga perlu tuntunan yang tepat dari seorang guru. b. Faktor Sekolah Faktor sekolah juga mempengaruhi minat baca pada siswa dimana kondisi yang asri dan menarik membuat para siswa nyaman belajar untuk membaca dan memahami bacaan. Lokasi tempat dan peran yang aktif dari lembaga dalam menata lingkungan yang megah dan asri membuat para siswa semangat belajar dengan lingkungan yang nyaman asri dan kondusif. c. Faktor orang tua Faktor orang tua sendiri sangat mempengaruhi para siswa giat untuk belajar karena sejatinya guru yang sebenarnya adalah orang tua, sedangkan guru hanya perantara penambatan bimbingan agar siswa menguasai kompetansi. Pada dasarnya rumah pertama dalam belajar adalah orang tua yang lebih dekat dalam keseharian putra putihnya di bandingkan posisi guru yang hanya bersama peserta didiknya selama 8 jam. 4. Strategi Kolaborasi Guru dan Pustakawan Strategi Guru dan Pustakawan dalam mengembangkan minat baca harus berdasarkan faktor dorongan dan arahan yang sifatnya mengikat agar siswa berdisiplin dalam mempelajari dan memahami suatu buku. a) Strategi Dalam Meningkatkan Minat Baca di SMA Negeri 1 Weru Sukoharjo Jawa Tengah 1. Mewajibkan siswanya Memimjam Buku di perpustakaan di jam bebas selama jeda jam kegiatan belajar mengajar berlangsung. Pemberian waktu Satu minggu dalam Pemahaman dan penyampaian cerita yang mereka baca. 2. Melakukan penyampaian bacaan setiap hari dalam Satu minggu secara acak dalam buku yang telah mereka baca. agar siswa aktif dan bersemangat mengejar tanggungan tugas yang telah didapatkan. 3. Mengadakan kegiatan perlombaan seperti halnya berpuisi, pantun bercerita ilmiah, bercerita fiksi dan lain lain. kegiatan tersebut sangat memicu terjadinya peminatan siswa dalam meraih kepopuleran dan adu mekanik dalam penyampaian bacaan dari data informasi yang mereka peroleh. 4. Melatih siswa mengatur waktu dalam penyesuaian membaca yakni dengan memberi edukasi kepada para siswa dan siswi untuk rajin Membaca karena sejatinya membaca adalah terdapat waktu yang tepat untuk meraih pengetahuan dalam menghadapi tantangan. b) Ketentuan Dalam Menyampaikan Isi Bacaan yang didapat Melakukan kegiatan wajib membaca untuk para siswa dan siswi di SMA Negeri 1 Weru dalam beberapa tahapan agar siswa mampu memenuhi kompetensi membaca sebelum melakukan hal tersebut diawali dengan membaca 10 ayat suci alquran selama 15 menit sebelum penyampaian materi mewajib membaca alquran membuat siswa merasa terlatih dalam intonasi bacaan nafas nya kapan berhenti seperti berhenti lama atau sebentar panjang pendeknya yang kemudian dapat dicermati dan di aplikasikan untuk membaca setelah hal tersebut kemudian siswa diberi ketentuan dalam penyampaian seperti: 1. Setiap jam mata pelajaran dalam pembelajaran subbab buku yang telah ditentukan pada kurikulum K13 kementerian pendidikan dan kebudayaan diperlukan nya kemampuan siswa untuk membaca yaitu dengan cara memberi bacaan siswa pada setiap bait kalimat yang ada pada buku agar siswa berlatih memahami menyimak dari hasil bacaan teman dan memahami isi bacaan yang mereka pelajari. 2. Melakukan kegiatan belajar kreatif seperti penggunaan template power point video animasi dan gambar Majalah yang menarik agar melatih kreativitas siswa dalam membaca yang menarik dan indah dalam pandangan yang menginspirasi pandangan berfikir. 3. Melakukan pembelajaran di ruang perpustakaan agar para siswa tertarik dating dan membaca meminjam buku di perpustakaan. Hal Tersebut Menuai Banyak Manfaat karena membuat ruangan tersebut menjadi kebiasaan siswa dalam melakukan proses belajar mengajar. 5. Kendala Guru dan Pustakawan Dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa Kendala adalah suatu hambatan yang membuat kinerja suatu kegiatan tidak menjadi efektif untuk dilakukan. 1. Faktor penghambat Faktor dimana yang menghambat bagaimana seseorang tidak dapat menyempatkan diri untuk membaca. a. Faktor peserta didik Banyaknya kegiatan serta jam aktivitas tinggi di Indonesia membuat para siswa malas membaca dimana mereka sudah lelah dalam mengatur waktu untuk belajar dan menjalankan aktivitas keseharian yang terlalu banyak seperti hal nya acara organisasi OSIS, Pramuka, Karang Taruna. Membuat para siswa terkuras tenaga dan malas untuk membaca. b. Faktor Guru Pola Guru dalam penyampaian materi yang disampaikan oleh siswa terkadang memiliki hambatan kurang cukupnya waktu karena untuk memahami penyampaian siswa dalam waktu 40 menit untuk 5 orang terkadang memakan waktu lebih dari satu jam dan pertanyaan yang terlalu banyak hampir memakan waktu satu setengah jam dalam penyampaian bacaan kelima siswa sehingga sedikit memotong jam pelajaran. c. Faktor Sekolah Bangunan yang megah dan nyaman serta pertemanan di lingkungan sekolah membuat siswa merasa betah dan nyaman dengan lingkungan yang megah serta dorongan dari teman yang mengajak untuk membaca memberi motivasi sendiri tentang kesadaran membaca bagaimanapun teman adalah komponen penting dalam mengajarkan dan memberi tahu dalam menyelesaikan suatu persoalan untuk memecahkan masalah bersama sama terutama untuk membaca dan memahami isi bacaan. . Gambar 1. Bukti Gambar Hasil Observasi
Conclusion
Strategi meningkatkan minat baca siswa siswi SMA Negeri 1 Weru di antaranya: 1) Melaksanakan kegiatan membaca Alquran pada 15 menit saat sebelum proses kegiatan belajar mengajar Dilaksanakan dan penyampaian isi bacaan dari buku yang mereka baca disini mereka dapat melatih lafaz mereka sebelum masuk ke dalam cara tahapan membaca yang sebenarnya; 2) Membuat taman tempat baca yang menarik bagi para siswa dan siswi agar mereka betah dan tertarik untuk membaca. Hal tersebut mempengaruhi kenyamanan mereka dalam membaca sebab mendapat tempat baru membuka pintu inspirasi mereka; 3) Mengajak para siswa untuk mengenal teks agar mereka mudah dan memahami kalimat dalam penerapan hidup mereka. Sehingga mereka dapat menyesuaikan Pemberlakuan Kalimat Sesuai dengan pemahaman kebiasaan; 4) Mewajibkan siswanya meminjam buku di perpustakaan di jam bebas selama jeda jam kegiatan belajar mengajar berlangsung; 5) Melakukan penyampaian bacaan setiap hari dalam satu minggu secara acak mengenai buku yang telah mereka baca; 6) Mengadakan kegiatan perlombaan seperti halnya berpuisi, pantun, bercerita ilmiah, bercerita fiksi dan lain-lain.