Kembali
16
1
2017 Warta Perpustakaan Pusat UNDIP Vol 10 · 2 ISSN 0126-4559

MENULIS SEBAGAI SARANA MENINGKATKAN BUDAYA BACA DAN PROFESIONALISME PUSTAKAWAN

Universitas Diponegoro

Abstrak

Menulis merupakan sarana seseorang untuk menyampaikan ide atau gagasan kepada orang lain. Bagi pustakawan menulis merupakan salah satu bentuk kegiatan pengembangan profesi yang bisa dilakukan oleh semua jenjang baik pustakawan ahli maupun pustakawan trampil. Untuk bisa membuat tulisan yang berbobot seseorang memerlukan banyak bahan bacaan sebagai referensi tulisannya.Seorang yang senang menulis biasanya juga suka membaca. Sehingga kegiatan menulis secara tidak langsung bisa meningkatkan budaya baca pustakawan. Kemampuan menulis pustakawan akan sangat tergantung dari kemampuan berpikirnya. Profesionalisme pustakawan akan dapat dilihat manakala seorang pustakawan bisa menguasai teori teori kepustakawanan, melaksanakan dan mengembangkannya sebagai wujud kompetensi yang dimiliki pustakawan. Ketrampilan menulis pustakawan merupakan salah satu bentuk peningkatan profesionalisme. Karena dari kegiatan menulis akan dapat diketahui ide dan kreatifitas pustakawan yang merupakan cermin dari pemikiran pustakawan. Ada beberapa kendala yang dihadapi dalam menulis yaitu kendala psikologis, rasa malas, dan tidak punya cukup waktu.
Keywords: menulis · budaya baca · profesionalisme · pustakawan

Introduction

Pengertian pustakawan menurut undang - undang No. 43 Tahun 2007 adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/ atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan . (Pasal 1 ayat 8 UU No. 43 th 2007). Berdasarkan Undang - undang tersebut maka syarat utama menjadi pustakawan adalah pendidikan di bidang perpustakaan atau mengikuti pelatihan/ diklat di bidang kepustakawanan. Dalam Permenpan dan Reformasi Birokrasi no. 9 Tahun 2014 pasal 4 disebutkan bahwa tugas pokok pustakawan adalah melaksanakan kegiatan di bidang kepustakawanan yang meliputi pengelolaan perpustakaan, pelayanan perpustakaan dan pengembangan sistem kepustakawanan. Disamping tugas pokok tersebut seorang pustakawan ahli mulai Pustakawan Pertama, pangkat Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b sampai dengan Pustakawan Utama, Pangkat Pembina Utama Madya, golongan ruang IV/d yang akan mengajukan kenaikan pangkat dipersyaratkan untuk melaksanakan kegiatan pengembangan profesi. Dan kegiatan pengembangan profesi ini bisa dilaksanakan oleh semua jenjang baik pustakawan ahli maupun terampil. Berdasarkan peraturan Permenpan tersebut seorang pustakawan diberi kebebasan untuk mengembangkan ide dan kreasi mereka untuk melaksanakan kegiatan pengembangan profesi sebagai wujud profesionalisme pustakawan. Kegiatan pengembangan profesi ini meliputi: 1). Pembuatan Karya Tulis /Karya Ilmiah di bidang Kepustakawanan, 2).Penerjemahan/penyaduran buku dan bahan-bahan lain bidang Kepustakawanan, 3).Penyususunan buku pedoman/ ketentuan pelaksanaan/ ketentuan teknis dibidang kepustakawanan. Pustakawan sebagai tenaga profesional harus bisa menunjukkan citra positif bagi masyarakat. Citra positif tersebut tidak hanya ditunjukkan dengan sikap yang ramah, sopan dan simpatik tetapi salah satunya bisa ditunjukkan melalui pemikiran intelektual pustakawan yang diwujudkan melalui tulisan-tulisan untuk pengembangan kemajuan perpustakaan . Namun pada kenyataannya masih banyak pustakawan yang enggan menuangkan gagasannya ke dalam tulisan. Karena bagi pustakawan yang belum biasa menulis, kegiatan menulis memang sulit dilakukan. Bingung mau memulai dari mana. Kesulitan tersebut mungkin disebabkan karena membaca belum menjadi kebutuhan hidup pustakawan. Banyak pustakawan yang belum senang menulis. Mau menulis kalau ada tugas. Padahal kalau pustakawan mau menengok ke belakang salah satu tugas pustakawan adalah meningkatkan minat baca masyarakat. Tugas tersebut akan dapat terlaksana dengan baik manakala pustakawannya sendiri senang membaca sehingga bisa memotivasi pemustaka untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Kegemaran membaca ini akan berpengaruh pada kegiatan pengembangan profesi pustakawan. Disamping itu juga akan menambah wawasan kepustakawanan sehingga mudah dalam menuangkan pemikiran/ ide untuk kemajuan perpustakaan. Dari latar belakang permasalahan tersebut maka dalam tulisan ini akan dibahas tentang “Menulis Sebagai Sarana Meningkatkan Budaya Baca dan Profesionalisme Pustakawan “.

Discussion

Menulis berarti menyampaikan ide atau gagasan ke dalam tulisan yang sudah disusun dan dikonsep sehingga mudah dipahami pembacanya. Lasa (2009:346) mengemukakan dengan tulisan seseorang dapat menyampaikan buah pikirannya kepada orang lain tanpa harus bertatap muka dan dapat menembus dimensi geografis, agama, dan waktu. Terkait dengan kegiatan tulis menulis Suwarno (2011:101) mengemukakan kegiatan tulis menulis memerlukan daya tahan spiritual dan kebiasaan berlatih. Menulis bukan sekedar merangkai huruf sehingga menjadi kalimat yang saling berhubungan, tetapi memerlukan suatu kematangan berfikir, kesiapan mental, serta tindakan nyata. Seseorang yang senang menulis biasanya senang membaca. Karena seorang yang senang menulis tentu membutuhkan banyak referensi bacaan yang dibutuhkan untuk mendukung tulisan-tulisannya. Sehingga secara tidak langsung kegiatan menulis bisa menumbuhkan minat baca. Seorang yang senang menulis dia akan selalu haus informasi. Dan informasi bisa diperoleh salah satunya dengan banyak membaca. Kualitas pustakawan antara lain bisa dilihat dari kualitas tulisannya. Karena tulisan pustakawan mencerminkan pemikiran, pandangan atau ide-ide pustakawan yang bersangkutan. Profesionalisme pustakawan akan dapat dilihat manakala seorang pustakawan bisa menguasai teori teori kepustakawanan, melaksanakan dan mengembangkannya sebagai wujud kompetensi yang dimiliki pustakawan. Hambatan utama dalam menulis adalah kurangnya semangat untuk mulai menulis. Hambatan psikologis, rasa malas, dan tidak punya cukup waktu seringkali menjadi kendala. Untuk mengatasi hal tersebut pustakawan perlu memotivasi diri sendiri bahwa sebagai pustakawan kegiatan menulis perlu ditumbuhkan. selain untuk menumbuhkan minat baca pustakawan, menulis juga bermanfaat untuk menumbuhkan kreatifitas pustakawan dalam menumbuhkan ide ide untuk kemajuan perpustakaan .Selain itu hambatan kedua menulis adalah bingung dalam menentukan tema. Seringkali kita bingung tentang tema apa yang akan kita tulis karena kita belummenemukan ide atau pemikiran tentangsubyek yang menarik untuk ditulis. Haltersebut juga kadang yang membuat kitamenjadi malas. Untuk mengatasi haltersebut pustakawan bisa melakukanbrowsing di internet tentang topik topikyang sedang trend dan banyak membacaartikel artikel dari karya orang lain. Karenadari banyak membaca kita akanmendapatkan tambahan wawasanpengetahuan dan kemudahan dalammenuangkan ide dan gagasan yang akankita tulis.Disamping kedua hambatan tersebut, hambatan lain yang sering dialami adalah pustakawan sering kali terjebak dengan kegiatan rutin yang menyita banyak waktu. Waktu pustakawan habis untuk mengerjakan pekerjaan pekerjaan rutin, seperti pekerjaan pengadaan, pengolahan maupun layanan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut pustakawan perlu mempunyai motivasi yang tinggi untuk bisa melakukan kegiatan pengembangan profesi. Misalnya memanfaatkan waktu istirahat di kantor atau waktu luang di rumah.Setiady (2014) menjelaskan adabeberapa hambatan dan tantangan dalammenulis antara lain:a. Hambatan psikologis, adalah hambatan yang datang dari diri sendiri, antara lain takut salah, takut tidak bagus, takut tidak punya waktu, takut dicemooh dan rasa takut lain yang seharusnya bisa diatasi sendiri dengan memiliki motivasi yang kuat untuk terus membaca, belajar dan berkarya.b. Rasa malas. Kadang rasa malas menghantui diri penulis dengan berbagai alasan, seperti sibuk, tidak punya waktu, tidak punya dana dan sebagainya. Rasa malas tersebut dapat mengaburkan motivasi dalam menulis, sehingga perlu berjuang untuk menaklukkan rasa malas untuk bisa menulis.c. Tidak punya cukup waktu. Semua orang memiliki waktu 24 jam per hari. Permasalahannya hanya soal pengaturan waktu, yaitu meluangkan waktu untuk menulis. Orang yang termotivasi menulis akan meluangkan waktu untuk menulis, sesempit apapun waktu yang teralokasikan.

Conclusion

Menulis merupakan wujud kreativitas pustakawan dalam menuangkan ide/ gagasan yang bisa dilakukan oleh setiap pustakawan dan mensyaratkan bagi pustakawan ahli yang mau mengajukan kenaikan pangkat. Ada beberapa hambatan dalam melakukan kegiatan pengembangan profesi, dan untuk mengantisipasi hambatan diperlukan motivasi yang kuat dari diri pustakawan. Ada beberapa manfaat yang bisa diambil dari kegiatan menulis yaitu : meningkatkan budaya baca dan meningkatkan profesionalisme pustakawan. Pustakawan yang senang menulis akan membutuhkan banyak bahan bacaan sebagai pendukung referensi tulisannya. Dengan banyak membaca pengetahuan dan wawasan pustakawan akan bertambah. Dan ketrampilan pustakawan dalam menulis juga semakin terasah. Pengetahuan dan wawasan yang luas ditambah ketrampilan menulis yang baik akan dapat meningkatkan profesionalisme pustakawan