PAKET INFORMASI ARSITEKTUR RUMAH GADANG TIGA KABUPATEN DI SUMATERA BARAT
Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang
Abstract
The writing of this paper aims to describe and provide knowledge about the architecture of the typical rumah gadang minangkabau house to the community, especially the current millennial generation. The method used in this paper is a descriptive method with a qualitative approach. A qualitative approach is to collect data directly by conducting observations, interviews and literature. Based on the discussion, it can be concluded that there are 5 stages in the process of packaging information packages for the Minangkabau Typical Rumah Gadang Architecture. The stages are, (1) identifying user needs. Identification is done to find out how much information needs are needed by users; (2) carry out the process of determining the topic of information to be discussed; (3) carry out information gathering conducted by observation, interviews and literature searches; (4) conduct data analysis and selection of information that has been obtained in accordance with the topic; (5) carry out the process of packaging information that presents covers, introductory words, table of contents, chapter sections and conclusions.
Keywords:
information packaging
· rumah gadang architecture
Introduction
Di era perkembangan teknologi yang semakin pesat ini, budaya yang lahir dari suatu daerah kurang dirasakan kehadirannya oleh masyarakat, terutama bagi para kaum generasi milenial. Perkembangan berbagai macam teknologi menjadikan budaya yang ada disuatu daerah lambat laun semakin terlupakan. Padahal budaya merupakan bagian dari diri masyarakat yang nantinya akan melahirkan dan mencerminkan kepribadiannya. pada kenyataanya para kaum generasi milenial saat ini hanya mengetahui beberapa bangunan yang menjadi ciri khas dari Minanngkabau, seperti jam gadang yang ada di Bukittingi. Selain itu penghapusan mata pelajaran yang berkaitan dengan Minagkabau di beberapa sekolah juga menjadi faktor yang menyebabkan eksistensi rumah gadang tidak dirasakan lagi kehadirannya. Padahal selain bangunan tersebut yang juga merupakan salah satu daya tarik masyarakat, rumah gadang juga merupakan bangunan yang tentunya harus diketahui oleh para kaum generasi milenial saat ini karena rumah gadang merupakan salah satu warisan budaya yang diturunkan oleh para leluruh terdahulunya dan tentunya harus dijaga dan dilestarikan informasinya oleh para anak cucunya di masa yang akan datang. Budaya yang diwariskan nenek moyang terdahulu menjadi cerminan sikap dan hidup dari tiap-tiap individu. Secara umum warisan budaya merupakan segala sesuatu yang dikembangkan dari hasil pikiran, akal, budi ataupun bangunan. Dalam warisan budaya terdapat jenis-jenis warisan yang melahirkan berbagai pembelajaran hidup, seperti seni bela diri, tambo, dan pepatah. Alam Takambang Jadi Guru merupakan salah satu pepatah Minangkabau yang mengajarkan bahwa dari alamlah seseorang dapat belajar dan memaknai kehidupan. Salah satu warisan budaya yang lahir di Minangkabau dituangkan ke dalam bentuk rumah adat khas Minangkabau, yaitu Rumah Gadang. Menurut Parlindungan (2017:2) rumah gadang adalah sebutan untuk rumah adat Minangkabau. Rumah ini memiliki keunikan bentuk arsitektur yaitu dengan atap yang menyerupai tanduk kerbau dibuat dari bahan ijuk. Di halaman depan rumah gadang biasanya selalu terdapat dua buah bangunan yang disebut Rangkiang. Rangkiang pada dasarnya bagi masyarakat Minangkabau digunakan untuk menyimpan hasil sawah, yaitu padi. Menurut Lyana (2018:157) Rumah Gadang termasuk warisan benda budaya Minangkabau. Rumah gadang adalah rumah yang berbentuk persegi panjang berupa rumah panggung dan atap yang menonjol di kedua sisi seperti tanduk kerbau. Fungsi rumah gadang sebagai kediaman keluarga, juga sebagai lambang atau simbol keberadaan suatu kaum, dan sebagai pusat kehidupan atau tempat bermufakat, sebagai balai pertemuan dan mengadakan upacara adat. Menurut Hidayat (2018:11) dalam ragam hias tradisional Nusantara terdapat beragam bentuk pola dan motif. Ragam hias Minangkabau khususnya lebih banyak menampilkan motif binatang dan tumbuhan. Contoh motif binatang dari ragam hias Minangkabau yang paling banyak dikenal adalah itiak pulang patang dan motif tumbuhannya adalah kaluak paku dan aka cino. Rumah gadang merupakan rumah adat tradisional Minangkabau yang memiliki berbagai macam ornamen atau motif pada tiap arsitekturnya. Rumah gadang juga merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Minangkabau yang harus dilestarikan keberadaan serta maknanya oleh masyarakat Minangkabau. Dibalik megahnya arsitekturnya terdapat berbagai macam nilai-nilai kehidupan yang disiratkan dalam ragam ukiran serta motif yang terdapat pada dindingdinding rumah gadang. Provinsi Sumatera Barat memiliki 12 kabupaten dan 7 kota. Mayoritas penduduk Sumatera Barat beretnis Minangkabau. Di Provinsi Sumatera Barat, rumah gadang memiliki berbagai macam jenis yang berasal dari beberapa daerah kabupaten. Istimewanya lagi, tidak semua daerah yang ada di Sumatera Barat dapat dibangun rumah gadang. Rumah gadang hanya dapat didirikan dalam kawasan yang berstatu nagari. Tentunya pada tiap-tiap nagari itu memiliki keunikan tersendiri pada arsitektur rumah gadangnya. Berbagai macam jenis rumah gadang adalah seperti Rumah Gadang Gajah Maram, Rumah Gadang Kampai Nan Panjang, Rumah Gadang Surambi Aceh, Rumah Gadang Kajang Padati, Rumah Gadang Bapaserek, Rumah Gadang Atap Tungkuih Nasi, Rumah Gadang Surambi Papek, Rumah Gadang Balambai, Rumah Gadang Sitinjau Lauik, dan Rumah Gadang Pasisie. Salah satu hal yang dapat dilakukan dalam melestarikan warisan budaya rumah gadang khas Minangkabau ini agar tetap terjaga kehadirannya adalah dengan mempertahankan informasi yang terkandung didalam warisan budaya tersebut, serta melakukan penyebaran informasi. Jika informasi dipertahankan keberadaanya serta disebarkan melalui berbagai macam bentuk, tentunya eksistensi dari informasi tersebut tidak akan tergerus oleh perkembangan zaman. Menurut Rahmah (2018:2) informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penggunanya. Artinya, suatu informasi sebelum disebarkan terlebih dahulu melalui proses pengolahan yang mana dari hasil pengolahan tersebut akan diperoleh suatu informasi yang akan berguna bagi setiap kalangan. Menurut Sutanta (dalam Farizky, 2016:13) fungsi dari informasi antara lain, (1) meningkatkan pengetahuan atau kemampuan pengguna dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan yang mendukung proses pengambilan keputusan, (2) mengurangi ketidakpastian dalam proses pengambilan keputusan, (3) menggambarkan keadaan sesuatu hal atau peristiwa yang terjadi, (4) mengurangi resiko kegagalan, (5) memberi standar, aturan dan keputusan yang menentukan sasaran atau tujuan. Berdasarkan hal tersebut, tentunya rumah gadang sebagai warisan budaya Minangkabau sangat penting untuk diinformasikan kepada masyarakat terutama pada kaum generasi milenial saat ini, yang hanya tau wujud dari rumah gadang tanpa mengetahui makna dan filosofi yang terdapat pada rumah gadang. Untuk memperkenalkan makna dan filosofi dari arsitekur rumah gadang kepada masyarakat, hal yang harus dilakukan adalah menyajikan informasi yang mana nantinya informasi akan dibentuk atau dikemas menjadi suatu paket informasi. Dalam dunia perpustakaan, pusat dokumentasi dan informasi (Pusdokinfo) menjadi salah satu wadah yang dapat mempertahankan berbagai macam informasi. Selain itu perpustakaan juga merupakan salah satu wadah bagi tiap individu untuk memenuhi kebutuhan akan informasi. Pada dasarnya suatu informasi yang diperoleh tentunya berasal dari beberapa sumber, seperti bibliografi, ensiklopedia, indeks, direktori dan sebagainya. Fungsi seorang pustakawan sebagai agen perubahan haruslah mampu menyediakan sumber informasi yang dapat memenuhi kebutuhan pemustaka secara tepat dan cepat. Salah satu bentuk kreativitas pustakawan dalam mengembangkan sumber informasi yang ada diperpustakaan, yaitu dengan mengemas suatu informasi menjadi paket informasi. Menurut Djamari (2016:2) kemas ulang informasi merupakan kegiatan penataan ulang yang dimulai dari menyeleksi berbagai informasi dari sumber yang berbeda, mendata informasi yang relevan, menganalisis, mensintesa, dan menyajikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Artinya, paket informasi merupakan suatu bentuk pengemasan informasi yang memuat suatu topik atau tema tertentu. Paket informasi merupakan salah satu bahan rujukan yang dapat digunakan oleh kelompok pemustaka. Pengemasan merupakan suatu kegiatan yang mampu mengolah suatu hal menjadi lebih menarik, sehingga pengguna nantinya akan tertarik dan mudah dalam menemukan informasi yang mereka inginkan. Menurut Alan (dalam Pebrianti, 2015:29) Pengemasan informasi adalah sebuah pendekatan untuk membantu diri sendiri, menekankan pada permasalahan bahwa layanan informasi adalah memilih informasi yang sesuai, dan memproses ulang informasi tersebut dalam sebuah bentuk yang benarbenar dapat dipahami, mengemas informasi, dan merancang semua bahan ini dalam sebuah media yang tepat bagi pengguna, sehingga mengkombinasikan dua konsep yang melekat dalam istilah pengemasan (yakni memproses ulang dan mengemas). Paket Informasi dapat menjadi suatu tantangan yang harus dihadapi oleh pustakawan yang mana berperan sebagai agen perubahan serta agen dalam pembangunan kebudayaan manusia. Peran tersebut akan terlaksana jika sudah menghasilkan suatu perubahan dan tranformasi informasi kepada pemustaka atau masyarakat yang membutuhkan informasi. Oleh karena itu, paket informasi yang berfokus pada arsitektur rumah gadang khas Minangakabau dapat menjadi sumber informasi yang tepat bagi masyarakat Minangkabau dalam mengetahui kembali makna rumah gadang.
Method
Penelitian ini dilakukan di Museum Adityawarman Kota Padang dan Istana Rajo Baso Pagaruyuang, Batusangkar. Metode Penelitian yang dilakukan menggunakan metode deskriptif. Menurut Nazir (2011:15) metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu pendekatan kualitatif. Menurut Lexy (dalam Alamsyah, 2017:40) pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data-data tertulis atau lisan dari prilaku orang-orang yang diamati. Adapun teknik mengumpulkan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan studi pustaka.
Discussion
Dalam proses pembuatan paket informasi ini diterapkan tahapan pengemasan informasi yang dikemukakan oleh Djamari (2016:7) yang mana terdapat lima tahapan yang digunakan dalam pembuatan paket informasi ini, yaitu (1) identifikasi kebutuhan pengguna; (2) menetapkan topik informasi; (3) melakukan pengumpulan informasi; (4) menganalisa dan menyeleksi informasi; (5) pengemasan informasi. 1. Identifikasi Kebutuhan Pengguna Pengguna merupakan salah satu dari seseorang yang akan mengkonsumsi informasi, tentunya setiap pengguna mempunyai kebutuhan informasi yang berbeda-beda. Dalam menentukan kebutuhan informasi pengguna tersebut tentunya harus dilakukan identifikasi terkait dengan kebutuhan informasi yang diperlukan oleh setiap pengguna. Mengidentifikasi kebutuhan pengguna juga merupakan hal dalam menentukan manfaat dari suatu informasi agar nantinya dapat nantinya dapat digunakan dengan baik. Dalam hal ini penulis melihat beberapa masyarakat banyak yang belum mengetahui arsitektur dari Rumah Gadang, terutama pada kaum generasi milenial saat ini. Banyak dari mereka yang tidak mengetahui berbagai jenis rumah gadang serta ukiran yang ada pada dinding rumah gadang tersebut. Memaknai tiap-tiap jenis rumah gadang serta ukiran yang berisikan berbagai makna ajaran kehidupan terkhususnya di Minangkabau. 2. Menetapkan Topik Informasi Topik adalah suatu tema yang menjadi bahan dalam pembuatan paket informasi. Penentuan topik ini bertujuan agar pembahasan atau informasi yang dibutuhkan dalam paket informasi jelas dan sesuai dengan informasi yang dibutuhkan. Topik arsitektur Rumah Gadang khas Minangkabau ditentukan dalam produk informasi ini dengan alasan Rumah Gadang sebagai salah satu benda warisan dari para leluhur Minangkabau yang mana harus diinformasikan kepada para kaum generasi milenial saat ini. Kenapa harus diinfromasikan terkhususnya pada kaum generasi milenial masyarakat Minangkabau saat ini? karena pada dasarnya suatu warisan budaya hanyalah diturunkan secara turun temurun kepada keluarganya, tentunya masyarakat Minangkabau sebagai pewaris dari warisan budaya ini, yang menjadi suatu sejarah asli dari Minangkabau sendiri. Untuk memperkenalkan kembali arsitektur Rumah Gadang khas Minangkabau kepada masyarakat, dilakukan salah satu upaya pelestarian informasi ini dengan cara menyajikan informasi yang dikemas ke dalam bentuk paket informasi. Paket Informasi yang akan dikerjakan memuat beberapa informasi tentang arsitektur Rumah Gadang. Batasan materi yang dipilih dalam paket informasi ini, yaitu (1) struktur rumah gadang yang menjelaskan bagian dan mengenai makna serta fungsi rumah gadang, sehingga dapat meninggalkan kesan terkait informasi tersebut; (2) ragam jenis Rumah Gadang khas Minangkabau, yang menggambarkan bagaiman bentuk-bentuk dari Rumah Gadang yang ada di beberapa Kabupaten di Sumatra Barat; (3) ragam jenis ukiran Rumah Gadang khas Minangkabau, sebagai informasi untuk memperkenalkan ukiran-ukiran yang terdapat pada dinding rumah gadang serta memeperlihatkan informasi yang terkandung di dalamnya. 3. Melakukan Pengumpulan Informasi Pengumpulan informasi merupakan salah satu upaya dalam menghimpun berbagai macam sumber informasi, sehingga akan tercipta ketepatan dan kesesuaian dalam sebuah materi. Setelah informasi dikumpulkan tentunya juga melalui tahapan penyeleksian dari berbagai sumber-sumber informasi yang dirasa cukup relevan atau berhubungan dengan topik yang telah ditentukan sebelumnya serta melakukan tahapan penganalisisan informasi agar sesuai dengan kebutuhan pengguna. Pengumpulan informasi ini diperoleh dari pakar atau ahli arsitektur dan sumber internet (literatur). Hal ini dilakukan untuk menjamin kebenaran atau kevalidan informasi agar tidak terjadi kesalahpahaman. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, serta menelusuri literatur untuk mendapatkan informasi yang tepat. Proses observasi dilakukan dalam dua tempat. Pertama, observasi atau pengamatan mengenai arsitektur Rumah Gadang khas Minangkabau dilakukan pada hari Kamis 16 Mei 2019 di Rumah Gadang Instano Rajo Basa Pagaruyuang, Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar. Proses observasi ini dilakukan untuk melihat bentuk nyata dari bangunan serta arsitektur Rumah Gadang khas Minangkabau. Kedua, observasi lanjutan juga dilakukan di Museum Adityawarman Kota Padang, pada hari Rabu 12 Juni 2019. Proses wawancara yang dilakukan melibatkan beberapa narasumber. Proses wawancara ini direncakana dengan menetapkan topik wawancara, menentukan narasumber dan mneyusun beberapa daftar pertanyaan yang akan diajukan nantinya. Penentuan topik wawancara dan penyusunan daftar pertanyaan wawancara dilakukan dengan tujuan agar memastikan topik sesuai dengan kemampuan dan latar belakang narasumber, membantu dalam proses pencarian informasi, memastikan wawancara yang dilakukan memiliki manfaat, serta tujuan dan urgensi dari wawancara yang akan dilakukan. Sesuai dengan tujuan dari makalah ini maka topik yang dibahas adalah Arsitektur Rumah Gadang khas Minangkabau. Literatur merupakan salah satu bahan yang akan menjadi sumber informasi. Informasi yang sudah didapatkan dari proses observasi dan wawancara, selanjutnya dilakukan proses meninjau literatur mengenai Arsitektur Rumah Gadang untuk mendapatkan hasil yang lebih relevan dan tepat materi. Sumber kedua yang dibutuhkan dalam peninjauan literatur ini, yaitu jurnal dan buku. 4. Menganalisa dan Menyeleksi Informasi Informasi yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan penelusuran literatur, yaitu dapat diketahui bahwa arsitektur Rumah Gadang Khas Minangkabau terdiri dari bagian-bagian rumah gadang, jenis-jenis rumah gadang serta ukiran dan makna ukiran dari rumah gadang. Rumah Gadang merupakan salah satu warisan budaya berbentuk benda yang diwariskan oleh para leluhur. Pertama, bagian rumah gadang. Rumah gadang merupakan salah satu rumah adat tradisional khas dari Provinsi Sumatera Barat. Rumah Gadang Khas Minangkabau ini sangat identik dengan berbagai macam makna dan filosofinya yang terletak pada keberagaman bangunan, motif, ukiran serta hiasan pada dindingnya. Pada umumnya rumah gadang berfungsi sebagai rumah hunian serta tempat untuk diselenggearaknnya berbagai macam upacara adat. Rumah gadang memiliki berbagai bangunan pelengkap yang dibangun disekitaran halaman rumah gadang, seperti rangkiang, rumah tabuah, dan surau. Rangkiang merupakan salah satu bangunan yang berfungsi sebagai temoat untuk menyimpan padi. Rangkiang ini biasanya berbentuk persegi dengan dihiasai beberapa lobang dibagian bawah atap atau gonjongnya. Bagian lobang tersebut merupakan tempat memasukkan atau mengambil padi.Rumah Tabuah merupakan salah satu bangunan yang ada di halaman rumah gadang terkhususnya rumah gadang dengan tipe istana. Rumah Tabuah terdiri dari dua jenis, yaitu Rumah Tabuah Mambang di Awan dan Rumah Tabuah Gagah di Bumi. Rumah Tabuah Mambang di Awan berfungsi sebagai tempat raja dalam mengirimkan pesan-pesan atau berkomunikasi dengan raja yang ada di daerah lain. Selanjutnya Rumah Tabuah Gagah di Bumi berfungsi sebagai tempat raja dalam mengobati masyarakatnya. Surau merupakan salah satu tempat yang selalu ada disekitaran rumah gadang. Surau ini berfungsi sebagai tempat mengaji. Selain itu surau juga berfungsi sebagai tempat para kaum laki-laki untuk bersitirahat karena pada dasarnya kaum lak-laki selain dari orangtua laki-laki tidak boleh untuk tinggal di dalam rumah gadang. Biasanya selain untuk tempat mengaji, surau juga diperuntukkan sebagai tempat untuk menimba ilmu lainnya, seperti aktivitas belajar seni bela diri, mengaji dan sebagainya. Kedua, jenis-jenis rumah gadang, pada dasarnya Rumah Gadang memiliki bangunan yang sama, namun terdapat gonjong yang berbeda-beda. Di Minangkabau terdapat beragam jenis Rumah Gadang yang dibedakan berdasarkan gonjongnya serta kepemilikan dari lareh atau suku, yaitu Koto Piliang dan Bodi Chaniago. Tiap-tiap rumah gadang yang ada di Minangkabau dimiliki oleh berbagai Datuak. Pada dasarnya Rumah Gadang tersebut akan diberikan kepada para keturunan datuak tersebut, sebagai penyambung untuk melestarikan keberadaan Rumah Gadang yang merupakan salah satu sejarah asli bagi masyarakat Minangkabau. Jenis rumah gadang terdiri dari rumah gadang gajah maram, kampai nan panjang, kajang padati, bapaserek, balambai, surambi papek, surambi aceh, pasisie, sitinjau lauik, dan atap tungkuih nasi. Ketiga, ukiran dinding rumah gadang. Ukiran tradisional Minangkabau merupakan suatu hal yang tidak bisa dilepaskan dari masyarakat Minangkabau. Ukiran yang terdapat pada dinding rumah gadang merupakan sebuah simbol dari kehidupan masyarakat Minangkabau. Ukiran yang terdapat pada rumah gadang merupakan gambaran dari kehidupan masyarakat Minangkabau yang disesuaikan dengan ajaran adat. Umumnya motif ukiran yang ada di Minangkabau berjumlah lebih kurang empat pulih empat jenis ukiran yang menutupi dinding rumah gadang. Setiap motif hias yang diukir pada rumah gadang memiliki nama dan mengandung makna ajaran adat yang terkait dengan nama tersebut. Lalu ukiran-ukiran tersebut memiliki penempatan yang sesuai dengan makna dari ukiran tersebut. Adapun beberapa contoh ukuran dinding rumah gadang ini antara lain Kaluak Paku, Sirih Gadang, Jalo Taserek, Lumuik Hanyuik, Daun Bodi, Sikambang Manih, Pucuak Rabuang, Sirieh Naiak, Buah Palo, Aka Satangah Gagang, Aka Duo Gagang, Rajo Tigo Selo, Tari Sewah Teranik, Ruso Balari dalam Ransan, Kudo Mandongkak, Itiak Pulang Patang, Saik Galamai, Sajamba Makan, Lapiah Jerami, Jarek Takambang. 5. Pengemasan Informasi Setelah melakukan proses pencarian informasi melalui observasi, wawancara dan peninjauan literatur, semua data yang telah diseleksi, dianalisa, dan disajikan ke dalam bentuk pengemasan informasi yang menarik dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Informasi ini dikemas dengan menekankan dan mempertimbangkan bahwa informasi dapat memberikan manfaat bagi pengguna nantinya dan mengandung nilai informatif serta hiburan disaat yang bersamaan. Proses pengemasan informasi ini harus dilakukan terlebih dahulu agar nantinya dapat menarik minat masyarakat dalam mengetahui berbagai macam informasi yang terkandung dalam suatu paket informasi. Adapun hal pertama yang dilakukan sebelum mulai mengemas informasi menjadi paket informasi, yaitu membuat rancangan atau kerangka isi buku. Kerangka ini yang nantinya akan menjadi isi atau acuan dalam membuat paket informasi. Kerangka digunakan sebagai pedoman dalam struktur pembuatan paket informasi, sehingga nantinya akan terbentuk keselarasan dan keruntutan dalam isi atau informasi dari paket ini. Adapun hal pertama yang dilakukan sebelum mulai mengemas informasi menjadi paket informasi, yaitu membuat rancangan atau kerangka isi buku. Kerangka ini yang nantinya akan menjadi isi atau acuan dalam membuat paket informasi. Kerangka digunakan sebagai pedoman dalam struktur pembuatan paket informasi, sehingga nantinya akan terbentuk keselarasan dan keruntutan dalam isi atau informasi dari paket ini. Kemudian pembuatan paket informasi Arsitektur Rumah Gadang Khas Minangkabau yang dikerjakan dalam bahasa makalah ini berbentuk tercetak. Adapun beberapa bagian yang ada dalam bentuk tercetak ini dimulai dari sampul atau cover, kata pengantar, daftar isi, bagian bab, penutup dan lain sebagainya. Pembuatan produk paket informasi ini menggunakan microsof word versi 2016. Gambar 1. Logo WPS Writer (Word version 2016) Gambar 1 merupakan salah satu aplikasi yang digunakan dalam proses pembuatan paket informasi. Microsoft yang digunakan yaitu microsoft word 2016 dengan menggabungkan beberapa elemen bagian shape, warna, gambar serta teks yang nantinya akan memuat berbagai informasi. a. Sampul (Cover) Sampul merupakan salah satu komponen dari paket informasi yang terletak diluar atau paling depan dari kulit buku. Sampul ini terdiri dari judul paket informasi, nama penulis dan gambar yang mewakili isi dari paket informasi. Sampul ini dibuat dengan menggunakan micriosoft word 2016. Gabungan dari gambar, teks dan warna juga menjadi dasar untuk menarik minat masyarakat. Selain itu sampul buku yang diberi desain unik dan menarik akan menjadi daya tarik tersendiri. Pemilihan warna yang sesuai juga merupakan poin utama dari pembuatan sampul paket informasi Arsitektur Rumah Gadang Khas Minangkabau ini. Gambar 2. Halaman Sampul Pada gambar 2 penulis memilih tiga warna dalam halaman sampul serta halaman-halaman berikutnya. Warna yang dipilih yaitu merah, kuning, hitam. Warna tersebut penulis pilih sesuai dengan tema paket iformasi yang penulis ambil yaitu Rumah Gadang. Pada dasarnya ketiga warna tersebut menggambarkan tiga luhak yang ada di Minangkabau, yaitu merah melambangkan Kabupaten Agam, kuning melambangkan Kabupaten Tanah Datar dan hitam melambangkan Kabupaten Lima Puluh Kota. b. Kata Pengantar Kata pengantar merupakan suatu bagian halaman dari lembaran buku atau karya ilmiah yang berisi mengenai buku tersebut. Kata pengantar ini umumnya berisi berbagai rasa syukur dan ucapan terimakasih dari seorang penulis atas terselesaikannya suatu karya. Kata pengantar juga berfungsi sebagai bentuk apresiasi penulis kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan suatu karya. Gambar 3. Kata Pengantar Gambar 2 merupakan kata pengantar paket informasi Arsitektur Rumah Gadang Khas Minangkabau ini berisi berbagai ucapan rasa syukur dan terimakasih penulis kepada beberapa pihak yang telah membantu menyelesaikan dan memberikan data atau informasi, serta manfaat yang didapatkan dari paket informasi ini. c. Daftar Isi Daftar isi merupakan bagian dari halaman buku yang berisi urutan dari isi buku. Urutan ini didasarkan pada judul yang terletak ditiap halamannya. Daftar isi ini berfungsi untuk memudahkan pengguna dalam menemukan isi buku secara cepat sesuai dengan kebutuhan pengguna. Gambar 4. Daftar Isi Gambar diatas merupakan desain dari bentuk daftar isi paket informasi arsitektur rumah gadang. Pada daftar isi tersbeut memuat petunjuk dengan menvantumkan nomor halaman pada tiap bagian informasi yang ada dalam paket informasi tersebut. Nomor halaman yang dicantumkan pada daftar isi akan memudahkan pengguna dalam mencari informasi yang dibutuhkannya. d. Bagian Bab Bagian bab pada paket informasi merupakan bagian isi atau inti dari pembahasan paket informasi Arsitektur Rumah Gadang Khas Minangkabau. Pada bagian ini terdapat tiga bagian bab. Adapun Informasi yang dimuat dalam paket informasi pada bagian bab ini, yaitu mengenai Arsitektur Rumah Gadang Khas Minangkabau yang terdiri dari bab 1 yaitu bagian rumah gadang, bab 2 yaitu jenisjenis rumah gadang dan bab 3 yaitu ukiran yang ada pada dinding rumah gadang. Bagian isi juga dilampirkan dengan gambar yang dapat mendukung penggambaran suatu materi sesuai dengan pembahasannya. Gambar 5. Bagian Bab Di dalam bagian bab ini juga memuat informasi dari berbagai makna rumah gadang, jenis serta ukirannya. Disamping itu juga terdapat gambar sebagai bahan informasi real untuk pembaca agar mengetahui gambaran dari informasi tersebut. e. Penutup Penutup merupakan salah satu bagian dari buku yang berisi kesimpulan dan saran. Bagian penutup merupakan salah satu bagian akhir dari paket informasi ini. Kesimpulan ini berisi berbagai informasi yang terkandung dari arsitektur rumah gadang. Kemudian saran juga berisikan beberapa masukan baik dari penulis ataupun kepada golongan masyarakat atau instansi. Gambar 6. Penutup Pada gambar 6 merupakan halaman penutup dari paket informasi Arsitektur Rumah Gadang Khas Minangkabau. Halaman penutup ini berisi mengenai penjelasan singkat tentang arsitektur rumah gadang. Lalu juga berisi sekilas profil mengenai penulis serta memuat gambar atau informasi sekilas mengenai penulis.
Conclusion
Berdasarkan uraian dan pembahasan serta analisis masalah yang dikemukakan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa terdapat lima tahapan pembuatan paket informasi yaitu : (a) mengidentifikasi kebutuhan pengguna yang nantinya akan menggunakan paket informasi, (b) menetapkan topik informasi yang akan dibahas, yang mana topik kali ini bertemakan Rumah Gadang Minangkabau, (c) melakukan pengumpulan informasi, pengumpulan informasi ini dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan studi pustaka, (d) menganalisa dan menyeleksi informasi, data yang sudah diperoleh disesuaikan dengan batasan pada topik yang telah ditetapkan, (e) dari tahap pengumpulan informasi tersebut dapat diketahui bahwa bagian dari rumah gadang seperti rangkiang, surau, rumah tabuah. Lalu jenis rumah gadang terdiri dari rumah gadang gajah maram, kampai nan panjang, kajang padati, bapaserek, balambai, surambi papek, surambi aceh, pasisie, sitinjau lauik. Lalu terdapat beberapa ukiran, yaitu kaluak paku, sirih gadang, jalo taserek, lumuik hanyuik, daun bodi, sikumbang manih, pucuak rabuang, sirieh naiak, buah palo, aka satangah gagang, aka duo gagang, rajo tigo selo, tari sewah teranik, ruso balari dalam ransang. Kelima, pengemasan informasi, tahap pengemasan informasi dilakukan menggunakan microsoft word versi 2016. Pengemasan informasi ini menyajikan sampul paket informasi, kata pengantar, daftar isi, bagian bab dan penutup.