Kembali
16
1
2020 Jurnal Pustaka Budaya Vol 7 · 2 ISSN 2442-7799

ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES PADA BANNER IKLAN NOVASI LAYANAN PERPUSTAKAAN KOTA YOGYAKARTA TERHADAP REPRESENTASI PEREMPUAN

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstrak

Layanan perpustakaan merupakan sebuah hal yang sangat vital bagi pemustaka dan bagi perpustakaan itu sendiri. Perpustakaan sebagai sumber informasi perlu melakukan promosi untuk menjembatani layanan yang dimiliki kepada pemustaka. Salah satu bentuk media promosi layanan perpustakaan adalah melalui banner. Perpustakaan Kota Yogyakarta sebagai perpustakaan yang termasuk aktif dalam melakukan inovasi layanan, menjadi menarik untuk dikaji mengingat perpustakaan tersebut menggunakan namanama yang identik dengan nama-nama perempuan untuk dijadikan akronim inovasi layanannya. Penelitian ini mengkaji relasi antara Iklan inovasi layanan Perpustakaan Kota Yogyakarta dengan representasi perempuan melalui analisis semiotika Roland Barthes. Hasilnya menunjukkan bahwa 1) perempuan memiliki sifat-sifat berupa kebaikan hati dalam bentuk kepedulian akan pendidikan untuk anak-anak; 2) Perempuan memiliki sifatsifat feminisme yang mewujud dalam hal kecantikan, 3) Perempuan memiliki potensi untuk menjadi wanita yang juga bisa sukses, bisa terkenal, populer, dan memiliki beberapa talenta yang di antaranya meliputi: bermain alat musik, menyanyi, menjadi model, bermain sinetron hingga Vilm. Adapun Kritik yang muncul dari perspektif peneliti adalah bahwa (nama-nama) perempuan dijadikan sebagai nama-nama layanan. Artinya relasi perempuan dan layanan dibuat semakin dekat, lekat, dan menyatu. Hal ini bisa membuat pemikiran bahwa perempuan adalah pelayan. Meskipun perempuan memiliki potensi, kemampuan terpendam, atau beberapa bakat yang ada di dalamnya namun tetap saja pada dasarnya perempuan adalah pelayan.

Abstract

Library services are a very vital thing for the visitors and for the library itself. Libraries as sources of information need to do promotions to bridge the services they have to users. One form of media promotion of library services is through banners. Yogyakarta City Library as a library which is active in conducting service innovation is interesting to study considering that the library uses names that are identical to women's names to be used as an acronym for service innovation. This study examines the relationship between the innovation ads of the Yogyakarta City Library service and the representation of women through Roland Barthes's semiotic analysis. The results show that 1) women have characteristics of kindness in the form of caring for education for children; 2) Women have the qualities of feminism that manifest in terms of beauty, 3) Women have the potential to become women who can also be successful, be famous, popular, and have several talents which include: playing musical instruments, singing, becoming a model, playing soap operas to movies. The criticism that arises from the perspective of researchers is that (names) women are used as service names. This means that women's relations and services are made closer, closer, and more integrated. This can make the thought that women are servants. Even though women have potential, hidden abilities, or some of the talents that are in them, they are basically servants.
Keywords: Layanan Perpustakaan · Perempuan · Roland Barthes · Semiotika

Introduction

Sebagaimana Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan pasal 14 dituliskan bahwa “layanan perpustakaan dilakukan secara prima dan berorientasi bagi kepentingan pemustaka”, maka sudah sewajarnya sebuah perpustakaan memberikan pelayanan terbaik kepada pemustaka (UU RI NO 43 TAHUN 2007, 2007). Jika membicarakan tentang perpustakaan maka mau tidak mau akan membicarakan tentang pelayanan karena basis perpustakaan ialah pelayanan itu sendiri (Hadi, Boham, & Senduk, 2014). Wijaya (2015) juga menyebutkan bahwa pelayanan adalah unsur paling penting di perpustakaan daripada kegiatan–kegiatan yang l a i n n ya . Te r d a p a t f a k t o r - f a k t o r ya n g mempengaruhi kualitas layanan yaitu kesadaran, aturan, organisasi, kemampuan dan ketrampilan serta sarana pelayanan itu sendiri (Kosasih, 2009). Penelitian mengenai layanan dan kepuasan pemustaka sebelumnya menemukan bahwa lingkungan perpustakaan dan layanan perpustakaan berkorelasi positif dan signiVikan terhadap kepuasan pengguna. (Mohindra & Kumar, 2015). Maka dari itu, penting untuk disadari bahwa organ vital sebuah perpustakaan dari perspektif pemustaka adalah layanan perpustakaan. Sehingga perpustakaan harus concern pada layanannya un tu k dapa t memastikan harapan pemustaka dapat tercapai. Salah satu cara agar layanan dapat sampai kepada pemustaka adalah melalui promosi. Menurut Stanley (dalam Mustafa, 2012) bahwa tujuan promosi adalah untuk membujuk penerima agar menerima konsep, pelayanan, ide atau barang yang dipromosikan. Jika kaitkan dengan perpustakaan, sudah jelas barang yang dipromosikan adalah layanan perpustakaan. Bentuk dan strategi promosi bermacam-macam termasuk menggunakan sales promotion ataupun menggunakan papan informasi misalnya. Almira (2018) mengemukakan hasil penelitiannya bahwa strategi promosi perpustakaan pada Perpustakaan Universitas Medan Area (UMA) hanya mencakup periklanan (Advertising), personal selling, sampai dengan publisitas, serta tidak menggunakan sales promotion. Terlepas dari bentuk maupun strategi promosi yang dilakukan oleh perpustakaan, pada dasarnya tujuan dari sebuah promosi layanan di perpustakaan adalah meningkatkan pengguna layanan atau singkatnya jumlah pengunjung perpustakaan. Perpustakaan Kota Yogyakarta, yang terintegrasi menjadi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta sebagaimana tercermin informasinya dalam web https:// a r si p da n pe r p u s ta kaa n .j ogja ko ta .g o .i d/ , merupakan perpustakaan tingkat kotamadya yang memiliki berbagai macam layanan. Layanan tersebut termasuk di antaranya adalah layanan Re fe re n si , Laya na n Si r kula si , Laya na n Pe r p u s t a k a a n Ke li li n g , d a n l ai n - l ai n . Perpustakaan Kota Yogyakarta termasuk perpustakaan yang aktif dalam melakukan inovasi, misalnya layanan Digital Library, Motor Keliling, Pengantaran Buku, dan lain-lain. A d a b a n y a k c a r a a g a r l a y a n a n perpustakaan semakin mudah dikenal oleh masyarakat umum, khususnya pengguna pe r p u s ta kaa n . Hal ya ng me na ri k da ri Perpustakaan Kota Yogyakarta dalam rangka mensosialisasikan layananya adalah dengan menggunakan akronim atau singkatan nama untuk sebuah layanan. Seperti halnya OK-OCE yang pernah dikenalkan oleh Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta dalam penyampaian programnya, di mana OK-OCE dapat diartikan sebagai One Kecamatan One Center of Entrepreneurship atau setiap satu kecamatan akan ada satu pusat kewirausahaan (“Beranda — OKOCE.NET,” n.d.). Sementara itu, Perpus takaan Ko ta Yogyakar ta memilih akronimnya sendiri un tuk mengenalkan layanannya di antaranya adalah: KARTIKA, DIANA, JAMILA, SASKIA, RAISA, SILVIA, MONIKA dan lain-lain. Perpustakaan Kota Yogyakarta tampak membuat akronim dari layanan yang diberikan dengan cara mengasosiasikannya dengan nama yang identik sering dipakai untuk nama p e rem p u a n . S e b a g aim a n a ya n g s u d a h dicontohkan di atas, nama layanan perpustakaan sangat tampak menggunakan nama-nama perempuan. Dari sana, timbul sebuah pertanyaan terkait bagaimana relasi antara layanan perpustakaan dengan nama-nama yang identik dipakai oleh perempuan? Hal ini menjadi penting mengingat sangat jarang sebuah institusi, khususnya perpustakaan, melakukan hal yang dilakukan oleh Perpustakaan Kota Yogyakarta. Asumsi penulis, hampir tidak ada perpustakaan yang mengeksploitasi nama-nama layanannya dengan nama-nama perempuan. Adapun salah satu institusi yang menggunakan nama unik lainnya adalah Kementerian Riset, Teknologi, Dan Pe n di di ka n Ti nggi Re p u bli k I n d o ne sia (Ristekdikti). Ristekdikti memilih nama-nama tokoh pewayangan untuk sebagian layanannya yaitu: Rama, Arjuna dan Sinta (“Ristekdikti,” n.d.). Ada setidaknya tiga alasan terkait perlunya dilakukan kajian serta penelitian terhadap penamaan layanan oleh Perpustakaan Kota Yogyakarta. Pertama adalah belum ditemukannya kajian mengenai relasi pemilihan nama-nama perempuan oleh suatu instansi khususnya perpustakaan. Kedua, hasil dari penelitan ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi hingga kritik terhadap kebijakan perpustakaan. Ketiga, diharapkan kedepan penelitan ini akan menjadi rujukan serta dapat dilanjutkan untuk mengamati fenomenafenomena yang serupa. Untuk mengetahui makna tersembunyi dari relasi terkait layanan Perpustakaan Kota Yogyakarta dengan nama-nama yang identik dengan nama perempuan, penulis akan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes untuk mengkaji komunikasi periklanan yang dilakukan oleh Perpustakaan Kota Yogyakarta. Asumsi awal dari tulisan ini adalah munculnya gambaran yang tersembunyi pada relasi-relasi y a n g e r a t a n t a r a p e n a m a a n l a y a n a n perpustakaan menggunakan akronim nama perempuan sebagai sebuah eksploitasi gender. Tulisan ini akan menggunakan pendekatan kontstruktivisme, dan menggunakan jenis penelitan kualitatif. TINJAUAN LITERATUR Seper ti halnya Perpus takaan Ko ta Yogyakarta, perpustakaan pada umumnya memiliki berbagai layanan. Adapun beberapa layanannya adalah: layanan sirkulasi, layanan referensi, layanan internet, layanan penelusuran informasi, layanan digital, layanan pemilihan bahan pustaka, layanan pendidikan pemustaka, layanan pengiriman dokumen, layanan pandang-dengar, layanan Jasa Kesiagaan Informasi (JKI), silang layanan, dan layanan fotokopi (LuthViyah, 2015). Menurut Yusup (2001) berbagai model layanan jasa perpustakaan di antaranya: layanan jasa pemanfaatan sumber-sumber informasi baik buku nonViksi, Viksi, media cetak bukan buku, referens, serta melalui media elektronik; layanan jasa penelusuran informasi; layanan jasa informasi rujukan; layanan jasa konsultasi dan in fo rma si; layanan ja sa pela tihan dan penyuluhan; layanan jasa peminjaman sumbersumber informasi; layanan jasa fotokopi dan penggandaan; layanan jasa penyediaan fasilitas; layanan jasa khusus; layanan jasa informassi terhan tar; layanan jasa melalui model perpustakaan keliling; dan layanan jasa informasi dan komunikasi ke lembaga-lembaga. Berbagai macam layanan dapa t diwujudkan oleh perpustakaan namun tidak semua perpustakaan mampu memenuhi segala macam layanan untuk para penggunanya. Biasanya layanan di perpustakaan umum tingkat daerah maupun provinsi memiliki layanan yang beragam dibandingkan layanan di perpustakaan sekolah. Dari perspektif system informasinya, penelitian Rahmawati dan Bachtiar (2018) mengungkapkan bahwa rancangan sistem informasi perpustakaan sekolah lebih sederhana dibandingkan perpustakaan perpustakaan daerah. Contohnya pada layanan sirkulasi yang meliputi peminjaman dan pengembalian serta laporan denda, sistem informasi perpustakaan sekolah hanya cukup dirancang dengan bahasa pemrograman phpMyAdmin dan basis data SQL. Sistem layanan di perpustakaan umumnya menggunakan, salah satu dari, sistem layanan terbuka atau sistem layanan tertutup. Dalam sistem layanan terbuka, pemustaka dapat secara langsung untuk mencari, memilih, menemukan, dan mengambil sendiri buku yang diinginkan dari rak koleksi perpustakaan. Pada sistem ini pemus taka dapa t browsing (melakukan pencarian acak) bahan pustaka dari rak koleksi perpustakaan, artinya tidak diperlukan unsur petugas perpustakaan dalam pencarian koleksi. Sementara dalam sistem tertutup, sistem layanan perpus takaan yang tidak membolehkan pemustaka mengambil sendiri bahan pustaka di perpustakaan. Pengambilan dan pengembalian bahan yang telah dipinjam dilakukan oleh petugas (LuthViyah, 2015; Yusup, 2001). Perpustakaan perlu memperhatikan b a hwa l a ya n a n ya n g di b e ri k a n d a p a t mengakomodasi tanpa diskriminasi. Diskriminasi tidak boleh dilakukan termasuk kepada seorang yang mengalami disabilitas, seorang dengan ras maupun etnis tertentu, serta seorang dengan gender atau pun jenis kelamin tertentu. Beberapa identitas terpinggirkan sangat rentan terhadap diskriminasi termasuk mereka yang LGBTQ, penyandang disabilitas, siswa kulit berwarna, siswa internasional (Conley, Ferguson, & Kumbier, 2019). Pontoriero dan Zippo-Mazur (2019) pengalaman pemustaka disabilitas, dan hasilnya adalah sebagian besar pemustaka disabilitas menggunakan layanan perpustakaan secara berbeda dengan layanan yang digunakan oleh pemustaka non-disabilitas. Penelitian Hasugian (2019) mencoba mengamati hubungan kepuasaan terhadap layanan, hasilnya adalah tidak terdapat perbedaan yang signiVikan dalam penggunaan sumber daya informasi berdasarkan jenis kelamin pemustaka. Tidak terdapat kesenjangan yang signiVikan antara kepuasan yang diinginkan dengan kepuasan yang diperoleh dari penggunaan sumber daya informasi berdasarkan jenis kelamin pemustaka. Artinya baik pemustaka laki-laki atau pun pemustaka perempuan haruslah mendapa tkan hak pelayanan yang sama. Perpustakaan perlu berhati-hati dalam menentukan jenis layanannya serta cara mengelola jenis layanannya. Perpustakaan dianggap sebagai harta karun pengetahuan atau juga dikenal sebagai gudangnya pengetahuan. Tidak ada yang salah dalam pendapat tersebut jika mengingat perpustakaan di dunia ini selalu dipenuhi dengan bahan bacaan yang terdiri dari buku, jurnal, Vilm, gambar, manuskrip, bahan audio visual dll. Tentunya agar harta karun perpustakaan tidak terpendam maka dibutuhkan promosi (Patil & Pradhan, 2014). Lebih lanjut Patil dan Pradhan menyebut setidaknya ada empat dalil perlunya p r o m o s i p e r p u s t a k a a n : 1 ) U n t u k mempromosikan penggunaan bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan dan menciptakan kesadaran di antara para pengguna; 2) Untuk mengoptimalkan penggunaan informasi dalam sumber daya dan tenaga yang terbatas; 3) Untuk meningkatkan citra perpustakaan dan; (4) Karena ledakan informasi, di mana pembaca memerlukan informasi yang tepat dan benar untuk penelitian dan studi mereka. Adapun sarana untuk promosi bisa bermacam-macam. Beberapa media misalnya menggunakan alat tradisional, seperti selebaran, brosur dan poster, termasuk banner. Untuk media digital di antaranya bisa menggunakan Situs web perpustakaan, milist, blog dan podcast; (Yi, 2016). Di Indonesia sendiri masih sangat terbuka lebar peluang penggunaan media baru atau melalui kanal digital untuk melakukan promosi perpustakaan, karena ada peluang yang besar jika melihat jumlah pengguna internet di Indonesia (Noor, 2018). Rachman & Putri (2018) melakukan pnelitian terhadap aplikasi media sosial yang digunakan oleh perpustakaan akademik di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa perpustakaan akademik di Indonesia sebagian besar menggunakan media sosial untuk mempromosikan layanan, fasilitas, dan koleksi mereka. (Rachman & Putri, 2018). Salah satu media sosial yang cepat dan reaktif untuk promosi adalah via twitter (Shulman, Yep, & Tomé, 2015). D al am bi d a n g p e r p u s t a ka a n d a n kepustakawanan sendiri, belum banyak didapati kajian semiotika. Artinya sangat minim penelitian yang menggunakan kajian semiotika dan dikaitkan dengan perpustakaan. Adapun beberapa penelitian terhadulu terkait kajian semiotika dalam perpustakaan adalah sebagai berikut: Anwar, Hapsari, & Sinaga (2018) yang mengama ti logo Perpus takaan Nasional Indonesia dengan hasil yang menunjukkan bahwa simbol bintang pada logo Perpustakaan Nasional Indonesia sebagai cahaya alam, dan b u k u ya n g te r b u k a s e b a gai ke k a ya a n perpustakaan. Selain itu, simbol bintang juga bermaksa sebagai tempa t pembelajaran sepanjang hayat, buku sebagai jendela dunia, serta cahaya yang mendidik bangsa, kedalaman pengetahuan, lembaga yang progresif dan maju, sebuah pembukaan pikiran dan pengetahuan. Unsur graVis buku, bintang, warna hijau, biru dan hitam menyimbolkan identitas Perpustakaan Nasional itu sendiri. Simbol yang tidak menggambarkan identitas adalah unsur gradasi. Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa makna masing-masing tanda dibangun menjadi makna tunggal Perpustakaan Nasional Indonesia sebagai lembaga yang selalu mengedepankan pelayanan publik dengan elemen graVis buku terbuka dan logo transformasi Perpustakaan Nasional Indonesia. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Kurnia (2018) untuk mengamati representasi perpustakaan dan pustakawan melalui video proVil Perpustakaan Pertamina. Hasilnya adalah perpustakaan di sana digambarkan sebagai sebuah perpustakaan kontemporer dengan sistem kerja dan pelayanan yang berbasiskan teknologi informasi terkini. Dulu, perpustakaan dikenal dengan aturan-aturan yang konservatis, namun sudah tidak lagi ditunjukkan dan dipertahankan dalam citra yang digambarkan oleh Perpustakaan Pertamina. Video proVil perpustakaan Pertamina berusaha untuk menunjukkan sisi lain dari stereotip masyarakat mengenai perpustakaan, baik dalam hal bangunan, suasana perpustakaan, sistem pelayanan, serta citra diri seorang pustakawan. Dari beberapa penelitian di atas, banyak yang melihat representasi perpustakaan dan unsurunsurnya dari sudut pandang luar. Belum banyak yang mengamati dan mengkaji perpustakaan itu sendiri dari dalam diri. Belum cukup banyak yang mengkaji hal-hal yang ada di perpustakaan sendiri melalui metode semiotika. Baik hal yang sifatnya tangible seperti gedung dan sarana prasarana maupun yang sifatnya intangible seperti misalnya pelayanannya.

Method

Penelitian ini akan menggunakan analisis semiotika. Semiotika adalah metode analisis untuk mengkaji tanda. Apa yang dipelajari dalam semiotika pada dasarnya adalah bagaimana manusia memaknai benda (things). Memaknai (to signify) dalam hal ini tidak dapat bisa disamakan dengan mengkomunikasikan (to communicate). Semiotika merupakan ilmu yang mempelajari tanda. Tanda-tanda tersebut menyampaikan sebuah informasi yang sifatnya k o m u n i k a t i f . T a n d a m a m p u u n t u merepresentassikan sesuatu yang lain yang dapat dipikirkan atau dibayangkan (Piliang & Sobur, 2004; Tinarbuko, 2008). Roland Barthes (dalam Rini, 2010) membagi semiotika menjadi 2 tingkatan pertandaan, yaitu tingkat denotasi dan konotasi. Denotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada realitas, menghasilkan makna eksplisit, langsung dan pasti. Sedangkan konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung dan tidak pasti. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis semiotika model Roland Barthes yang biasa dikenal dengan istilah order of signiaication yang mencakup makna denotasi dan konotasi. Model semiotika Roland Barthes mencabut otoritas pengarang (dalam hal ini berarti pembuat istilah akronim layanan) sebagai produsen makna yang berarti juga menganggap pengarang sudah mati, sehingga membuka lebar peluang bebagai interpretasi oleh peneliti (A.A. Ngr Anom Kumbara, 2018) Peneli tian ini akan menggunakan paradigma kritis. Analisis kritis digunakan untuk mengetahui representasi perempuan dan letakletak ketimpangannya jika ada. Objek dalam penelitian ini adalah banner iklan inovasi layanan perpus kota jogja. Unit analisisnya adalah penamaan layanan yang menggunakan nama perempuan. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi dan dokumen tasi dalam menggunakan kamera. Dalam melakukan interpretasi makna konotasi dan mitos, peneliti akan menggunakan alat bantu berupa mesin pencari (search engine) https://www.google.co.id/. Peneliti membatasi alat bantu berupa https://www.google.co.id/ dengan harapan mendapatkan mitos yang muncul di laman mesin pencari ber-domain Indonesia. Ba tasan ala t ban tu h t tps:// www.google.co.id/ juga hanya diberlakukan pada halaman pertama yang muncul. Selain itu, studi pustaka juga dilakukan untuk membantu melakukan interpretasi.

Result & Discussion

a. Layanan Pojok Kartika Nama layanan pertama adalah Pojok Kartika. Nama kartika mempunyai denotasi dan konotasi. Makna denotasi, Kartika adalah sebuah akronim dari nama layanan Koleksi Pustaka Terbitan Berkala Perpustakaan Kota Yogyakarta. Layanan ini menyediakan bacaan terbitan berkala berupa koran lokal/nasional dan juga berbagai ragam majalah. Berbagai macam majalan yang dilanggan meliputi majalah anakanak, majalah remaja, majalah wanita, majalah hoby dan majalah umum. Artinya layanan ini meliputi berbagai macam bidang termasuk pertanian, otomotif, serta masakan. Semen tara makna kono tasi, dapa t diartikan bahwa apapun bidang ilmu yang dilayankan, baik untuk perempuan ataupun lakilaki, tetap menggunakan nama yang identik dengan perempuan sebagai pelayannya. Nama Kartika di Indonesia salah satunya merujuk pada pada nama Kartika Sari Dewi Soekarno, yang merupakan putri dari pasangan Ir Soekarna (presiden RI pertama) dengan Ratna Sari Dewi. Kartika Sari Dewi juga dikenal sebagai seorang yang peduli sosial, terlihat Yayasan Kartika Soekarno Foundation yang bergerak untuk mengembangkan pendidikan anak-anak di Indonesia. Gambar 1. Hasil penelusuran Kartika (“kartika - Penelusuran Google,” n.d.) Selain itu, nama Kartika juga mempunyai mitos. Nama yang identik dengan nama perempuan ini mencerminkan si fat-si fat perempuan dengan kebaikan hati berupa kepedulian akan pendidikan untuk anak-anak misalnya. Gambar 2. Pojok Kartika di Perpustakaan Kota Yogyakarta b. Layanan Diana Nama layanan kedua adalah layanan Diana. Berdasarkan makna denotasi, Diana adalah akronim dari Digital Library Andalan Perpustakaan Yogyakarta. Sebuah layanan berupa perpustakaan digital yang dapat diakses secara online menggunakan media internet. Konten layanan ini termasuk E-Book, Buku Sekolah Elektronik (BSE), Jurnal, Video, Audio. Sementara itu, Diana juga mempunyai makna Konotasi, yaitu siapapun yang dilayani, baik itu masyarakat umun yang membutuhkan E-book, mahasiswa yang membutuhkan jurnal, serta siswa menengah yang membutuhkan BSE, tetap menggunakan nama yang identik dengan nama perempuan, misalnya Diana. Nama Diana di dunia salah satunya merujuk pada nama yang dipakai oleh anak sulung Ratu Elizabeth II yang menjadi istri dari Pangeran Charles yang familiar dengan panggilan Lady Diana atau Diana Spencer. Lady Diana dikenal luas karena kepopulerannya serta dianggap memiliki kecantikan feminin yang ideal merujuk pada berbagai lambang fashion kala itu. Mitos yang dimiliki dengan nama Diana adalah mencerminkan sifat-sifat feminisme perempuan dalam hal kecantikan, serta kepopuleran yang tetap sesuai masanya. Gambar 3. Hasil penelusuran Diana (“diana Penelusuran Google,” n.d.) c. Layanan Jamila Layanan yang ketiga adalah menggunakan nama Jamila. Berdasarkan makna denotasi, Jamila adalah sebuah akronim dari nama layanan Jaminan Layanan Prima Mengantar Buku Andalan ke Pemustaka. Sementara makna konotasi, dilansir dari beberapa sumber, layanan Jamila sebenarnya mengacu kepada Mulan Jamila, tepatnya Mulan Jameela. Mulan Jameela adalah nama artis dari penyanyi Raden Terry Tantri Wulansari. Wanita kelahiran 23 Agustus 1979 asal Garut Jawa Barat (“Mulan Jamila, Layanan Baru Perpustakaan Kota Yogyakarta | Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah D.I Yogyakarta,” n.d.; “Perpustakaan Yogyakarta Buka Layanan ‘Mulan Jamila’ | Republika Online,” n.d.; “Perpustakaan Yogyakarta uji coba layanan ‘Mulan Jamila’ - ANTARA News,” n.d.). Kepala Kantor Arsip dan Perpusatakaan Daerah Kota Yogyakarta, Wahyu Hendratmoko, menyebutkan bahwa “singkatannya memang agak dipaksakan”. Harapan yang ingin dicapai adalah layanan tersebut bisa mudah diingat oleh masyarakat. Layanan tersebut diluncurkan karena kondisi perpustakaan yang sudah semakin padat dari hari ke hari sehingga pengunjung dimungkinkan merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut. Layanan Jamila hanya berlaku untuk anggota Perpustakaan Daerah Kota Yogyakarta saja karena petugas perlu memastikan agar buku yang dipinjam tidak hilang. Selain itu, mitos nama yang identik dengan nama perempuan, misalnya Jamila atau tepatnya Mulan Jameela, mencerminkan bahwa wanita juga bisa sukses. Wanita juga bisa terkenal, populer, dan memiliki beberapa talenta. Sebagaimana Mulan Jameela yang bisa bermain alat musik, bisa menyanyi, bisa menjadi model, bisa bermain sinetron hingga Vilm. Gambar 4. Hasil penelusuran Mulan Jameela (“mulan jameela - Penelusuran Google,” n.d.)

Conclusion

Dari analisis semiotika yang dilakukan pada banner inovasi layanan Perpustakaan Kota Yogyakarta maka dapat disimpulkan bahwa muncul beberapa mitos dibalik nama-nama perempuan yang digunakan. Mitos-mitos yang ada dibalik nama layanan inovasi tersebut di antaranya yaitu: 1) perempuan memiliki sifatsifat berupa kebaikan hati dalam bentuk kepedulian akan pendidikan untuk anak-anak; 2) Perempuan memiliki sifat-sifat feminisme yang mewujud dalam hal kecantikan, 3) Perempuan memiliki potensi untuk menjadi wanita yang juga bisa sukses, bisa terkenal, populer, dan memiliki beberapa talenta yang di antaranya meliputi: bermain alat musik, menyanyi, menjadi model, bermain sinetron hingga Vilm. Kritik yang muncul dari perspektif peneliti adalah bahwa (nama -nama) perempuan dijadikan sebagai nama-nama layanan. Artinya relasi perempuan dan layanan dibuat semakin dekat, lekat, dan menyatu. Hal ini bisa membuat pemikiran bahwa perempuan adalah pelayan. Meskipun perempuan memiliki po tensi, kemampuan terpendam, atau beberapa bakat yang ada di dalamnya namun tetap saja pada dasarnya perempuan adalah pelayan.