Peran Taman Bacaan Masyarakat berbasis inklusi sosial dalam mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Bandung
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Pendahuluan. Perpustakaan dengan beragam sumber daya dan layanan informasi dapat mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) di masyarakat. Penelitian ini memaparkan peran TBM berbasis inklusi sosial di Kabupaten Bandung, Jawa Barat untuk mendukung TPB. Metode Penelitian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Analisis data dimulai dari reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan. Hasil dan Pembahasan. TBM berkontribusi dalam membangun ekosistem literasi berbasis komunitas sesuai dengan karakter dan kebutuhan informasi masyarakat di lingkungannya. Aktivitas literasi di TBM meningkatkan keterampilan individu atau kelompok serta berdampak pada perbaikan kualitas hidup masyarakat melalui sinergi dengan multipihak. TBM menjadi tempat konsultasi terkait permasalahan hidup di masyarakat melalui penyediakan akses informasi dan pengetahuan yang berdampak pada produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Kesimpulan dan Saran. Kehadiran TBM berbasis komunitas mendukung upaya pengentasan kemiskinan. Aktivitas literasi di TBM dapat meningkatkan life skills komunitasnya melalui pemberdayaan masyarakat serta pemberian bekal pelatihan dan pendampingan. Aktivitas tersebut berdampak pada peningkatan kemampuan dan keterampilan individu. TBM menjadi jembatan bagi perpustakaan umum sebagai penyedia layanan informasi dengan dukungan militansi relawan dan pegiat literasi serta menjadikan TBM sebagai tempat mencari informasi untuk menjawab solusi permasalahan hidup yang dialami.
Abstract
Introduction Libraries with a variety of resources and information services can support the Sustainable Development Goals (SDGs) in society. This study describes the role of social inclusion-based TBM in Bandung Regency, West Java to support SDGs. Data collection methods. This study was qualitative with a descriptive approach. Data analysis was started with data reduction, data display and conclusion. Results and Discussion. TBM contributes to build a community-based literacy ecosystem based on the community characteristics and information needs in their environment. Literacy activities at TBM may improve individual or group skills and give impacts to the community's quality of life through collborations with multiple parties. TBM is a place for consultation regarding life problems in the community by providing access to information and knowledge to support the community's productivity and welfare. Conclusion and suggestions. The presence of community-based TBM supports poverty alleviation efforts. Literacy programs at TBM can help improve people's life skills by giving them more empowerment, training, and mentoring. These activities have an impact on improving individual abilities and skills. TBM becomes a bridge for public libraries as information service providers and a place to find information to overcome life's problems.
Keywords:
community reading parks
· library transformation
· social inclusion
· Sustainable Development Goals
Introduction
A. PENDAHULUAN United Nations (UN) dengan Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB) pada tahun 2015 telah menyepakati 17 target untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di berbagai belahan penjuru dunia. Indonesia sebagai anggota dari UN turut berperan aktif dalam program TPB tersebut dengan berbagai implementasi program untuk mencapai TPB. Salah satu target TPB terkait capaian di bidang pendidikan untuk kesejahteraan masyarakat. Pendidikan sebagai sarana bagi masyarakat guna meningkatan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai jenjang ataupun jalur pendidikan. Berbagai jalur pendidikan, baik itu yang sifatnya formal, informal dan non formal turut mewarnai praktik pendidikan di setiap jenjang. Setiap jalur tersebut memiliki target dan tujuannya masing-masing yang pada prinsipnya adalah menyiapkan manusia Indonesia yang merdeka dan dapat menjalani hidup dengan berkualitas. Akan tetapi satu sisi masih sangat disayangkan di mana pendidikan informal ini masih kurang mendapatkan perhatian yang optimal (Afifah, 2015). Salah satu lembaga pendidikan non-formal adalah perpustakaan masyarakat atau lebih dahulu populer disebut sebagai taman bacaan masyarakat (TBM) sebagai wadah komunitas masyarakat dalam gerakan literasi. TBM secara lembaga dapat sebagai sebuah institusi yang mandiri atau dapat pula sebagai bagian dari program kegiatan yang diinisiasi oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). TBM memiliki kemampuan akses langsung ke komunitas masyarakat yang ada di lingkungannya serta sebagai mitra dari perpustakaan umum yang ada di kewilayahannya. Tujuan dari kehadiran TBM ini sebagai salah satu sarana mencerdaskan dan menyejahterakan masyarakat Indonesia berbasis literasi. Peran serta tanggungjawab yang sangat strategis tersebut baiknya dapat dioptimalkan agar perpustakaan dapat bermanfaat dalam mendukung tercapainya TPB (Suherman, 2013). Perpustakaan memberikan andil dalam penyediaan akses sumber daya informasi yang dimiliki serta berkolaborasi dengan berbagai komponen masyarakat dalam gerakan literasi guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat sebagai bagian dari tujuan utama sebuah perpustakaan yaitu menjadikan masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Perpustakaan berbasis inklusi sosial proaktif membantu individu atau komunitas dalam masyarakat untuk mengembangkan keterampilan mereka dan meningkatkan kepercayaan diri serta membuka jejaring sosial yang mendukung ke arah tercapainya tujuan TPB (Haryanti, 2019). Adanya lembaga perpustakaan secara formal dengan beragam sumber daya yang dimiliki dapat mendukung tujuan TPB, namun masih banyak pula perpustakaan masyarakat yang berbasis komunitas seperti TBM yang secara langsung berkontribusi pada program yang mendukung tercapainya TPB. Perpustakaan masyarakat atau taman bacaan masyarakat juga mendukung komunitas, baik orang dewasa maupun keluarga untuk belajar sepanjang hayat. Implementasi TPB dalam perpustakaan guna mendukung tercapainya pendidikan yang berkualitas adalah penyediaan ruang inklusif sebagai bagian dari kegiatan literasi dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang akhirnya menciptakan masyarakat pembelajar sepanjang hayat (Sumekar & Haryadi, 2016). Perpustakaan menjadi sebuah tempat yang paling demokratis dan terbuka bagi semua kalangan dalam memberikan layanan informasi kepada masyarakat dan memiliki kontribusi dalam menyukseskan tujuan TPB. Perpustakaan berbasis komunitas yang ada di masyarakat ini dapat ambil bagian guna menyukseskan program internasional dalam pembangunan berkelanjutan. Peran yang dimiliki TBM sangat strategis sebagai penyedia berbagai sumber daya informasi yang bersentuhan langsung di masyarakat selain perpustakaan desa atau kelurahan. Berbagai komunitas masyarakat secara terbuka memiliki hak untuk mengakses sumber informasi yang dibutuhkan guna peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Pada akhirnya aktivitas tersebut dapat berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat dengan menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh. Hal tersebut mendorong perpustakaan ataupun TBM dapat menjalin kerjasama dengan berbagai stakeholder seperti perpustakaan umum, perpustakaan sekolah dan perpustakaan khusus serta pelibatan pemerintah, industri dan media yang dapat berpengaruh dalam memperluas jangkauan akses informasi. Kehadiran perpustakaan umum ataupun TBM bukan lagi berurusan dengan aktivitas baca tulis, tetapi bagaimana membuat program dan gerakan literasi yang dapat meningkatkan kemampuan dan pengetahuan seseorang dalam mengatasi berbagai persolan hidup yang dihadapinya. Pada pedoman teknis yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa TBM sebagai lembaga yang memiliki peran dalam kegiatan promosi kebiasaan membaca, memberikan ruang untuk diskusi, membaca buku, menulis dan aktivitasaktivitas belajar lainnya (Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat, Ditjen PAUDNI, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013). TBM menjadi sarana penghubung masyarakat dengan sumber informasi. TBM merupakan sebuah perpustakaan dalam kapasitas kecil yang dikenal juga dengan istilahistilah sudut baca, rumah baca atau rumah pintar (Maulida, 2017). TBM menjadi ruang terbuka bagi masyarakat sebagai sarana belajar masyarakat dengan menyediakan sumber informasi yang dapat menjawab berbagai persoalan yang mereka hadapi. Kehadiran TBM sebagai tempat terbuka bagi masyarakat untuk mengakses berbagai informasi dengan prinsip kesetaraan dan dapat diakses secara terbuka untuk seluruh golongan masyarakat tanpa membedakan latar belakang sosial masyarakat yang dilayani. TBM juga hadir dengan berbagai sumber informasi tercetak maupun elektronik sebagai bahan bacaan dengan dukungan relawan sebagai fasilitator literasi bagi masyarakat. TBM sebagai penghubung perpustakaan tingkat daerah/kecamatan/keluruhan/desa untuk memberikan akses informasi yang lebih dekat kepada masyarakat sesuai dengan karakteristiknya. Hal ini didukung dengan advokasi dari berbagai pihak kepada komunitas yang dilayani oleh TBM agar masyarakat betulbetul dapat memperoleh manfaat dari kegiatan gerakan literasi berbasis komunitas. TBM dengan daya dukung militansi para relawan dalam menggerakkan partisipasi masyarakat pada gerakan literasi menjadi salah satu indikator keberhasilan gerakan literasi berbasis inklusi sosial. Masyarakat merasa menerima manfaat dari kehadiran TBM melalui berbagai aktivitas dan program yang melibatkan berbagai unsur masyarakat dalam melakukan suatu kegiatan. Kehadiran TBM dapat memperluas jangkauan akses informasi bagi masyarakat yang sebelumnya masih mengandalkan akses informasi yang ada di perpustakaan umum lainnya. Kehadiran TBM saat ini terus berkembang dan terus menjamur (Yanto, Rodiah, & Lusiana, 2016; Parindra, 2018; Septiono, Zauhar, & Syaifuddin, 2019) dan menjadikan sebagai kekuatan potensial guna memberikan dampak yang lebih nyata di masyarakat melalui berbagai kegiatan berbasis inklusi sosial yang berkontribusi pada penyelesaian persoalan masyarakat. TBM yang ada tersebut ternyata memberikan sumbangsih pada peningkatan literasi masyarakat yang berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat yang ada di sekitarnya. Kajian terdahulu hanya fokus pada kegiatan inklusi sosial yang dilakukan oleh TBM maupun perpustakaan umum tanpa mengaitkan dengan TPB (Rohman, Erwina, & Lusiana, 2018; Winoto & Sukaesih, 2020; Hardi, 2022). Berdasarkan uraian tersebut maka perlu dikaji tentang bagaimana peran TBM berbasis inklusi sosial yang berlokasi di wilayah Kabupaten Bandung dalam mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB). Kajian terkait praktik inklusi sosial yang dilakukan oleh TBM terkait dukungan pada TPB masih belum banyak dilakukan. Hal ini menarik perhatian bagaimana TBM dapat secara nyata melalui transformasi layanan berbasis inklusi dalam menciptakan kesejahteraaan masyarakat. Kajian gerakan literasi berbasis inklusi sosial ini perlu dilakukan guna memberikan gambaran bagaimana kegiatan literasi berbasis inklusi sosial dapat mendorong kesejahteraan masyarakat dalam pencapaian TPB dengan berbagai kerakteristik masyarakat yang dilayani. Adanya kajian ini diharapkan dapat direplikasi dan dijadikan sebuah rujukan bagaimana aktivitas gerakan literasi di TBM yang memiliki kontribusi pada tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. B. TINJAUAN PUSTAKA Konsep inklusi sosial muncul sebagai sebuah reaksi dari krisis kesejahteraan yang melanda negara di Eropa. Konsep ini muncul pertama kali di Prancis pada tahun 1970-an dan selanjutnya menyebar di seluruh wilayah Eropa dan Inggris sepanjang tahun 1980-an dan 1990an. Konsep inklusi sosial dideklarasikan pada World Summit for Social Development Summit, Copenhagen, Denmark pada tahun 1995 yang dikenal dengan Copenhagen Declaration on Social Development sebagai sebuah aksi yang menekankan bagaimana masyarakat menjadi pusat pembangunan (Haryanti, 2019). Selain itu isu inklusi sosial pada bidang perpustakaan mulai menjadi pembicaraan pada tahun 1999 di mana perpustakaan diharapkan dapat proaktif membantu individu dan masyarakat untuk mengembangkan keterampilan dan kepercayaan diri, serta membantu meningkatkan jejaring sosial. Perpustakaan juga mendukung masyarakat untuk belajar di perpustakaan dengan layanan yang mudah diakses oleh semua orang yang membutuhkan. Layanan perpustakaan dapat menjangkau khalayak seluas-luasnya. Sebuah perpustakaan dalam memberikan layanan informasi bukan hanya fokus pada kegiatan teknis dengan memberikan layanan peminjaman koleksi saja, melainkan harus berupaya untuk berperan aktif bagaimana perpustakaan memberikan peran lebih yang betul-betul berdampak pada peningkatan kualitas hidup ataupun peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan hadirnya perpustakaan di tengah masyarakat ataupun sebuah komunitas. Menurut Triningsih (2019) salah satu agenda pembangunan nasional di bidang perpustakaan adalah tranformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dengan memperkuat peran dan fungsi perpustakaan sebagai media pembelajaran sepajang hayat. Perpustakaan berperan dalam peningkatan kemampuan literasi informasi masyarakat dengan pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi, peningkatan kualitas dan kesejahteraan masyarakat. Perpustakaan menjadi tempat yang terbuka bagi masyarakat guna memfasilitasi pengembangan potensi yang mereka miliki. Perpustakaan selama ini dikenal sebagai sebuah institusi formal dengan berbagai aturan baku dalam melakukan berbagai kegiatan literasi, namun sudah banyak pula perpustakaan mulai melakukan inovasi dalam memberikan layanan informasi bagi para penggunanya sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. Terdapat pula institusi non formal yang bergerak secara masif di tengah masyarakat sebagai bagian dari gerakan literasi dengan munculnya TBM. Bentuk pemberdayaan masyarakat melalui penyelenggaraan perpustakaan desa (pusdes) dan taman bacaan masyarakat (TBM) untuk menumbuhkan budaya literasi informasi (Winoto, 2019). Perpustakaan masyarakat atau taman bacaan juga turut memberikan motivasi kepada masyarakat untuk mempelajari aneka keterampilan sebagai bekal hidup. Tersedianya berbagai bahan bacaan menunjang proses pembelajaran keterampilan-keterampilan tertentu yang dibutuhkan oleh individu ataupun kelompok masyarakat. Kebutuhan sumber bacaan masyarakat sangat beragam sesuai dengan karakteristik masyarakat yang dilayani, seperti buku yang terkait dengan topik pertanian dan peternakan yang banyak diminati masyarakat pedesaan. Tujuan utama perpustakaan itu untuk meningkatkan taraf kesehatan, pendidikan, dan ekonomi masyarakat (Sari, 2019). Utami dan Prasetyo (2019) menyatakan bahwa seluruh pemangku kepentingan terlibat dan bersinergi dalam gerakan literasi sebagai gerakan perubahan sosial budaya untuk kesejahteraan masyarakat. Salah satu pemangku kepentingan tersebut sebagai garda terdepan dalam layanan informasi adalah perpustakaan dan taman bacaan masyarakat yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Lebih lanjut Utami dan Prasetyo (2019) menyatakan bahwa kolaborasi merupakan sebuah keharusan bagi pustakawan membangun jejaring dengan berbagai pihak dalam pengelolaan informasi. Selain itu, ketersediaan koleksi perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan informasi di masyarakat dapat mendorong pada perbaikan ekonomi kreatif masyarakat dalam mencapai tujuan menjadi masyarakat madani. TBM menjadi lembaga yang potensial dalam melakukan kegiatan literasi melalui kolaborasi dengan berbagai komunitas masyarakat yang ada di wilayah lingkungan TBM. Adanya koleksi yang ada di TBM menjadi stimuli masyarakat untuk melakukan berbagai gerakan literasi mulai dari peningkatan pendidikan sampai peningkatan kapasitas masyarakat dengan berbagai kegiatan produktif mulai dari pemberdayaan anak-anak sekolah maupun pemberdayaan ekonomi masyarakat. Adanya keselarasan gerakan literasi akan mendorong komunitas lainnya untuk terus berkembang ataupun mendorong lahirnya gerakan literasi berbasis komunitas melalui partisipasi aktif masyarakat. Konsep “multistakeholder partnerships” dapat menguatkan ekosistem literasi (Bondar, 2019). TBM sebagai salah satu stakeholder potensial dapat memberikan kontribusi yang besar bila bersinergi dengan perpustakaan sebagai bagian dari gerakan literasi. TBM berguna untuk mengembangkan beragam potensi yang dimiliki masyarakat agar dapat menjawab permasalahan yang ada di lingkungannya, sehingga dapat terlepas dari berbagai masalah mulai dari masalah kemiskinan, kebodohan bahkan dalam kesetaraan untuk memperoleh berbagai hak mereka sebagai warga negara. Konsep layanan informasi perpustakaan dapat menjangkau seluruh elemen masyarakat sehingga mendorong peningkatan kompetensi masingmasing individu bahkan dapat menghidupkan ekonomi kreatif masyarakat guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Prasetyo & Utami, 2020). Inklusi sosial telah diimplementasikan perpustakaan melalui penyediaan kebutuhan informasi kepada para pemustaka tanpa membedakan satu sama lain dikarenakan hak seluruh masyarakat untuk memperoleh informasi (Susanti, 2019). Konsep ini bukanlah hal baru dalam dunia perpustakaan terkait inklusi sosial. Perpustakaan yang bertransformasi dalam konsep layanan informasi bukan hanya terkait penyediaan bahan bacaan saja, tetapi juga menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk berkarya dan menghasilkan berbagai kegiatan berbasis literasi (Mahdi, 2020). Perpustakaan sejak lama sudah menjadi salah satu institusi yang demokratis memberikan layanan informasi kepada semua kalangan masyarakat. Hal ini sejalan dengan World Bank (2013) terkait inklusi sosial sebagai sebuah proses pelibatan aktif seluruh komponen masyarakat guna meningkatkan harkat kemanusiaan dan taraf hidup masyarakat. Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI dengan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial berupaya melakukan penguatan program literasi serta perluasan akses informasi dalam kaitan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Merdeka, 2021). Gerakan literasi diharapkan menjadi program sinergi antar berbagai kelompok masyarakat dengan instansi terkait dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan guna meningkatkan taraf hidup masyarakat sebagai bagian dari menciptakan manusia pembelajar sepanjang hayat. Pendekatan praktik inklusi sosial yang dimotori perpustakaan berbasis masyarakat dengan pengembangan taman bacaan juga sudah mulai dilakukan di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian Sembiring dan Wijayanti (2020) menunjukkan bahwa TBM merupakan wujud dari sebuah perpustakaan berbasis inklusi sosial dengan program memberdayakan masyarakat melalui penerapan perpustakaan berbasis inklusi sosial guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Adanya kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat guna berpartisipasi dalam peningkatan inklusi sosial menjadikan perpustakaan yang ada di komunitas sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. IFLA meluncurkan International Advocacy Programme (IAP) pada tahun 2016, sebuah program pengembangan kapasitas baru yang dirancang untuk mempromosikan dan mendukung perpustakaan dapat terlibat dalam perencanaan dan implementasi Agenda PBB 2030 dan TPB. Tujuan IAP salah satunya adalah meningkatkan tingkat kesadaran pada TPB bagi pekerja perpustakaan di tingkat komunitas, nasional dan regional, serta untuk mempromosikan peran penting perpustakaan dalam TPB (IFLA, 2018). Perpustakaan mendukung masuknya akses informasi, menjaga warisan budaya, peningkatkan keaksaraan, dan akses terhadap teknologi informasi dan komunikasi. Dalam menyukseskan TPB di Indonesia, perpustakaan tentunya tidak lepas dari tuntutan peran yang harus dijalankan, seperti merumuskan program dan strategi yang relevan dengan aspek tujuan TPB (Safira & Putra, 2019). Setiap pencapaian TPB tersebut dapat diimplementasikan oleh perpustakaan secara umum agar mendukung dengan cara-cara yang khas. Misalnya dengan cara penyediaan ruang berkumpul bagi kelompok masyarakat, pemerataan akses publik, mengelola sumbersumber informasi, mengumpulkan hasil penelitian, menghadirkan relawan yang berdedikasi, melakukan dokumentasi dan pelestarian budaya dan banyak hal lainnya yang sejalan dengan TPB. TBM sebagai bagian terkecil dari perpustakaan masyarakat yang berinteraksi langsung dengan masyarakat dapat bersinergi dan berkolaborasi dengan perpustakaan umum lainnya dalam upaya membuka keterbatasan akses informasi masyarakat serta membuka peluang peningkatan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat.
Method
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami fenomena yang ada di masyarakat terkait fenomena yang dilakukan oleh subyek penelitian dengan cara mendeskripsikan sesuai dengan konteks alamiah dengan pendekatan ilmiah. Metode deskriptif adalah metode penelitian yang digunakan untuk menggambarkan hasil penelitian tanpa menarik simpulan yang luas (Moleong, 2014). Adapun tujuan penelitian ini adalah mengungkapkan kejadian atau fakta, suatu keadaan ataupun fenomena yang terjadi terkait peran TBM berbasis inklusi sosial dalam mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB). Fokus penelitian ini untuk mendapatkan gambaran atau deskripsi fakta terkait aktivitas gerakan literasi dengan pendekatan inklusi sosial yang diterapkan TBM di Kabupaten Bandung dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat berbasis gerakan literasi sebagai bagian dari kontribusi dalam pencapaian TPB. Penentuan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling dengan cara merumuskan kriteria-kriteria/ciri-ciri tertentu (Sugiyono, 2013). Tujuan utama dari penarikan sampel jenis ini adalah mendapatkan narasumber atau informan yang mewakili populasi. Adapun narasumber atau informan dalam penelitian ini adalah mereka yang memiliki kriteria sebagai aktivis atau penggerak yang memberikan motivasi membaca kepada masyarakat, pegiat literasi di TBM wilayah Kabupaten Bandung, para pengelola TBM wilayah Kabupaten Bandung berbasis inklusi sosial, terlibat dalam gerakan literasi berbasis inklusi sosial melalui pemberdayaan masyarakat dan memiliki beragam kegiatan literasi berbasis komunitas di sekitar TBM. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam dengan informan dan forum group discussion (FGD), selain itu data juga diperoleh melalui studi pustaka terkait riset ataupun kajian terdahulu terkait peran TBM ataupun perpustakaan dalam mendukung tercapainya TPB. Informan penelitian berdasarkan kriteria yang telah ditentukan diperoleh sebanyak tujuh orang informan, selain menggunakan teknik wawancara mendalam, pengumpulan data juga dilakukan melalui FGD dengan jumlah peserta yang hadir berjumlah delapan orang. Tahap observasi dilakukan dengan cara mengunjungi TBM yang tersebar di wilayah Kabupaten Bandung dan mengamati aktivitas TBM secara langsung. Studi pustaka bertujuan untuk menelusuri referensi atas penelitian-penelitian sejenis yang telah lebih dulu dilakukan. Studi pustaka juga turut mendukung upaya pengumpulan data sekaligus mendukung tahap verifikasi. Data yang diperoleh dari lapangan dianalisis dengan model interaktif. Tahap teknik analisis data ada tiga aktivitas yang dilakukan oleh tim peneliti, yaitu kegiatan reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Dalam aktivitas reduksi data, dilakukan upaya memilah-milah data, memusatkan perhatian untuk melakukan penyederhanaan koleksi data kasar. Setelah reduksi data dilakukan maka tahap selanjutnya adalah display data atau menyajikan data-data terpilih, mengembangkan analisa dalam bentuk deskripsi. Di tahap akhir analisis data kualitatif, ditarik kesimpulan yang dijadikan acuan dalam memberikan saran penelitian. Pada tahap ini juga dilakukan verifikasi guna mencari makna dari gejala yang muncul di lapangan, membandingkan kesesuaian data yang disampaikan informan dengan makna yang terkandung dalam konsep penelitian. Data yang terkumpul, dianalisa dan dilakukan verifikasi dengan cara triangulasi (Sarmaulina, 2018). Penelitian ini menggunakan triangulasi dan sumber berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan kepada informan dan triangulasi teori dengan melihat hasil penelitian yang diperoleh dalam sebuah rumusan informasi lalu dibandingkan dengan perspektif teori yang sesuai dengan fokus penelitian agar terhindar dari bias pendapat pribadi dari temuan yang diperoleh di lapangan.
Result & Discussion
Taman Bacaan Masyarakat (TBM) bukan hanya sebagai penyedia bahan bacaan buku, TBM juga menyelenggarakan berbagai kegiatan pelayanan yang variatif kepada warga masyarakat. Berbagai kegiatan yang dilakukan sesuai dengan karakteristik komunitas yang ada di sekitar TBM. Perpustakaan masyarakat atau lebih populer disebut sebagai TBM dikenal dengan istilah sebagai jantungnya pendidikan dan kebudayaan menyebabkan perpustakaan masyarakat atau TBM ini memiliki kemampuan akses yang lebih luas kepada masyarakat. Peran dan tanggung jawab TBM ini tentu saja untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang cerdas dan sejahtera. Peran serta tanggungjawab yang sangat strategis tersebut sebaiknya dapat dioptimalkan agar perpustakaan dapat bermanfaat dalam mendukung tercapainya SDGs (Suherman, 2013). Bentuk aktivitas literasi yang ada pada TBM ternyata dapat meningkatkan life skills komunitas di sekitarnya. Hal ini terlihat juga di Rumah Baca Nurul Dzakiyyah, seperti yang dinyatakan oleh SBD bahwa: “Ada juga buku-buku life skiil yang udah teraplikasikan misalnya kuliner, pertanian, dan peternakan. Alhamdulillah kita udah punya produk Jawa Barat (Jabar). Kita punya produk CILOK untuk menarik anak-anak dan masyarakat dan dapat juga dikonsumsi saat membaca... Ada juga penanaman pepaya, peternakan lele ... memanfaatkan lahan kecil untuk anak-anak.” (SBD). Aktivitas TBM tersebut sudah mengarah pada pemberdayaan masyarakat yang ada di sekitar TBM. TBM memberikan akses terhadap berbagai informasi yang ada di TBM ataupun informasi yang dapat diakses di TBM secara daring guna memberikan bekal keterampilan bagi masyarakat. Prinsip pemberdayaan selain bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, juga untuk memberdayakan ekonomi masyarakat di mana dampaknya dapat membantu perekonomian keluarga dari sisi tambahan pendapatan yang diperoleh melalui usaha kuliner, pertanian dan peternakan. Hasil ini sesuai dengan pernyataan Triningsih (2019) bahwa program tranformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dilakukan dengan cara memperkuat peran dan fungsi perpustakaan sebagai sarana pembelajaran sepajang hayat. Perpustakaan berperan dalam peningkatan kemampuan literasi informasi masyarakat dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, serta peningkatan kualitas dan kesejahteraan masyarakat. Perpustakaan menjadi tempat yang terbuka bagi masyarakat guna memfasilitasi pengembangan potensi yang mereka miliki. Aplikasi dari pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari berbagai informasi di TBM menjadikan masyarakat dapat mendapatkan nilai tambah dan menjadikan informasi yang mereka peroleh dapat meningkatkan kapasitasnya yang berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat. TBM memiliki kegiatan pemberdayaan di masyarakat secara kolektif dan mandiri. Aktivitas yang ada di TBM juga menggerakkan perekonomian di sekitar wilayah TBM dengan adanya pembinaan kepada golongan orang tua dalam peningkatan pendapatan keluarga dengan cara pelatihan dan membuat produk olahan makanan yang dipasarkan di warung sekitar tempat tinggal, seperti yang diungkapkan YG dari TBM Teras Cerdas 2: “Kami ngasih pembinaan orang tua agar senantiasa bisa meningkatkan kantong saku untuk ibu-ibu sekitar, keahlian dan keterampilan, misalnya kemarin membuat Sebring (Seblak Kering). Kami pasarkan di warung-warung sekitar”. (YG). Bahkan, TBM dapat menjadi tempat bagi masyarakat untuk berkonsultasi dari berbagai permasalahan hidup mereka dengan mendekatkan masyarakat kepada buku. Berbagai persoalan hidup juga dapat dikomunikasikan dan dikonsultasikan dengan pegiat TBM guna menemukan berbagai solusi yang berbasiskan pada sumber-sumber bacaan yang ada di TBM. Hal ini sejalan dengan pernyataan Utami & Prasetyo (2019) bahwa TBM membangun jejaring dengan berbagai pihak dalam pengelolaan informasi berbagai sumber bacaan. Selain itu, ketersediaan koleksi perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan informasi di masyarakat dapat mendorong pada perbaikan ekonomi dalam mencapai tujuan menjadi masyarakat madani. Hal ini dilakukan oleh TBM Pena Putih dengan visi literasi itu dimulai dari keluarga terlebih dahulu. TBM Pena Putih memberikan pendampingan pada anak jalanan agar secara psikis dan mental mengatasi persoalan hidup mereka. Hal ini diungkapkan oleh EL yang mengusung konsep “inklusi lahir batin”. Selain itu gerakan yang dilakukan bukan hanya oleh EL saja sebagai aktivis literasi, tetapi juga dilakukan oleh suaminya melalui gerakan angkot pustaka (EL). Hal lain dilakukan oleh TBM Auliya dengan kekhasan gerakan literasinya dengan cara membuat kegiatan mendongeng dan parenting: “Alhamdulillah dari kegiatan bercerita saya menghasilkan buku. Saya ingin menularkan ilmu dari teman-teman tidak hanya di Kecamatan Baleendah saja tapi seluruh Indonesia. Pengalaman saya dari komunitas bercerita, pembuatan bukunya selama 3 bulan. Bukunya bestseller. Satu minggu terjual 1.000 eksemplar, kemudian dicetak ulang 2.000 eksemplar kemudian habis terjual lagi. Hasil dari buku tersebut dari ekonomi terbantu dan keilmuan saya pun terbantu. Saat ke perpustakaan kota, buku saya pun dipajang. Saya pun awalnya tidak tahu parenting menjadi tahu dan dapat berbagi juga terkait parenting kepada masyarakat sekitar”. (SST). Hal ini dikuatkan juga oleh PK dari TBM Jerami yang menyatakan bahwa perlu sinergitas dengan semua elemen masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat: “Banyak literasi yang harus disampaikan ke mereka (masyarakat) sesuai dengan keilmuannya. Maka harus bersinergi semua elemen tidak hanya Mang Yayat aja (TBM Sehati)” (PK). Selanjutnya pada aktivitas TBM berbasis inklusi sosial, TBM Komunitas Magma menyatakan bahwa: “Bagaimana kita dapat menemukan solusisolusi hidup. Dari membaca buku dll., literasi tidak hanya untuk membaca dan meningkatkan gaya hidup. Maka masyarakat dirangsang memiliki gagasan untuk aktif”. (BDM). TBM diharapkan dapat bersinergi dengan seluruh elemen masyarakat bukan hanya dengan sesama pengelola TBM tetapi juga dapat mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam gerakan literasi untuk menciptakan berbagai gagasan untuk pemecahan problema yang ada di sekitarnya. TBM dalam menerapakan konsep layanan informasi guna mendorong peningkatan kompetensi masingmasing individu bahkan dapat menghidupkan ekonomi kreatif masyarakat dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat (Prasetyo & Utami, 2020). Temuan lainnya dari TBM di Kabupaten Bandung adalah pegiat literasi teladan tingkat nasional Rudiat (dikenal dengan Mang Yayat) dengan TBM Sehati, inovasi sosial yang dibuat berupa Tahu Pustaka melalui program mendekatkan bahan bacaan kepada komunitas sambil berjualan tahu yang dikenal Motor Tahu Pustaka. Motor Tahu Pustaka sebagai inovasi dalam menyebarkan bacaan yang bagus dengan menggunakan motor tahu Mang Yayat (TBM Sehati) ke kalangan umum, khususnya anakanak, Mang Yayat juga merintis perpustakaan kecilnya atau taman bacaan yang dikelolanya sekitar tahun 2010. Perpustakaan dan taman bacaan masyarakat adalah salah satu unit dalam sistem sosial kemasyarakatan yang diharapkan mampu memberikan kebermanfaatan di tengah lingkungan tempatnya berada. TBM lainnya yang melakukan aktivitas gerakan literasi dengan tujuan agar masyarakat yang ada di wilayahnya dapat berdaya adalah TBM Sehati. TBM Sehati selain sebagai sumber belajar bagi masyarakat baik pelajar dan mahasiswa maupun masyarakat umum. Kegiatan literasi di TBM Sehati mampu memotivasi anak-anak dan remaja untuk menghasilkan karya tulis (Rohman & Lusiana 2017). Konsep pemberdayaan dan penanaman budaya literasi yang ada di TBM yang pada akhirnya berujung pada peningkatan kapasitas dan keterampilan masyarakat dalam memproduksi berbagai hasil olahan makanan seperti kerupuk tahu, sistik dan lainnya. Hal ini merupakan bagian dari hasil penerapan bacaan yang telah dilakukan para pembaca yang ada di TBM Sehati. “… mayarakat tiasa berdaya. Sawiosna di dieu khusus dampak tina literasi aya anu ngelola. Aya anu ngadambel kurupuk tahu, sistik, sareung sajabana. Barudak anu teu tiasa nanam lele janteun tiasa. Upami penerapan sareung bacaan jadi lengkap. (… Masyarakat bisa berdaya. Ada dampak nyata ketika kegiatan literasi dikelola, ini terjadi di kami. Ada yg mampu membuat kerupuk, sistik dari bahan tahu dan lain-lain. Anak-anak yang tadinya tidak bisa beternak lele sekarang menjadi bisa. Itu terjadi ketika sumber bacaan lengkap dengan tutorialnya).” (RDT). TBM Sehati berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat dalam pemberdayaan berbasis literasi guna meningkatkan taraf hidup masyarakat agar lebih berdaya. Selain itu, TBM memberikan kontribusi dalam akses informasi dan pendidikan bagi masyarakat dengan beragam upaya mulai dari penyediaan bahan bacaan, akses informasi berbasis daring, serta berbagai kegiatan bagi para peserta didik berupa pembuatan kelompok belajar bersama, kursus dan berbagai kegiatan peningkatan softskill lainnya. Melalui pendekatan inklusif perpustakaan sebagai ruang terbuka publik yang berkontribusi dalam pembangunan kesejahteraan masyarakat pada komunitas TBM tersebut. Winoto & Rachmawati (2017) mengupas tentang bagaimana TBM di Kabupaten Bandung secara spesifik membidik kelompok masyarakat yang menjadi target sasaran pemberdayaan. Melalui pengadaan koleksi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, TBM di Kabupaten Bandung mampu meningkatkan minat baca masyarakat di sekitar lingkungannya, sekaligus mengembangkan skill masyarakat melalui bahan bacaan yang tersedia di TBM (Winoto & Rachmawati, 2017). Masyarakat di lingkungan TBM Sehati adalah lingkungan pengrajin tahu. Mang Yayat melakukan pendekatan yang khas dalam menerapkan model taman bacaan berbasis inklusi dengan menyediakan aneka koleksi tentang pengolahan bahan makanan berbahan dasar tahu. Maka jadilah masyarakat di lingkungan sekitar bukan sekedar menjadi pengrajin tahu, akan tetapi sampai dengan sekarang sudah berkembang menjadi beragam olahan makanan berbahan dasar tahu. Misalnya keripik tahu, kerupuk tahu, minuman olahan dan lain sebagainya. Situasi ini secara tidak langsung berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat di lingkungan TBM Sehati. Konsep layanan informasi yang dilakukan oleh perpustakaan berbasis komunitas dapat menjangkau seluruh elemen masyarakat sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Prasetyo & Utami, 2020). TBM sebagai bagian dari dinamika sosial hadir memberikan kontribusi dalam mendukung tumbuh kembangnya kesejahteraan masyarakat di lingkungan sekitarnya. TBM sebagai pusat informasi yang memberikan bekal keterampilan bagi masyarakat untuk berdaya secara ekonomi bahkan dapat membantu perekonomian keluarga dari tambahan pendapatan yang diperoleh melalui usaha kuliner, pertanian dan peternakan serta usaha kreatif lainnya sehingga kesejahteraan masyarakat dapat meningkat. Hal ini sesuai dengan tujuan dari pembangunan berkelanjutan terkait peningkatan kesejahteraan masyarakat. Aktivitas yang ada di TBM juga menggerakkan perekonomian di sekitar wilayah TBM dengan adanya pembinaan kepada kelompok masyarakat tertentu dalam peningkatan pendapatan keluarga. Kerjasama dengan berbagai pihak juga mendorong terjadinya sinergitas antar komunitas antar instansi sebagai upaya bersama dalam peningkatan kesejahteraan komunitas yang ada. Peningkatan kesejahteraan masyarakat merupakan salah satu indikator dari TPB dan kunci keberhasilan pembangunan nasional. Penyebarluasan informasi di TBM dapat diorientasikan untuk menumbuhkembangkan ekonomi masyarakat. Layanan yang diberikan berupa akses terhadap berbagai sumber informasi yang dikelola secara sederhana mulai dari penyediaan berbagai ragam koleksi sampai pada kegiatan yang terkait dengan implementasi dari berbagai informasi yang telah diperoleh dari kecintaan membaca. TBM sebagai bagian dari perpustakaan masyarakat dapat menjadi agen perubahan dengan memberikan akses informasi yang luas kepada masyarakat yang ada di sekitar. Adanya dukungan dari para pengelola TBM sebagai fasilitator untuk memberdayakan masyarakat dalam bentuk sebuah kegiatan produktif yang pada akhirnya dapat meningkatkan kapasitas dan keterampilan masyarakat guna mendapatkan nilai tambah dari sebuah gerakan literasi. Hasil akhir dari kegiatan literasi tersebut berdampak pada peningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada di sekitarnya. Selain itu berdasarkan FGD dengan pengelola TBM di wilayah Kabupaten Bandung, diketahui bahwa berbagai upaya telah dilakukan oleh para pengelola TBM di Kabupaten Bandung dalam menumbuhkan budaya literasi informasi seperti misalnya ajakan kampanye membaca, membuat program literasi sesuai dengan karakteristik dari masing masing komunitas yang mereka layani, melaksanakan aneka diskusi, mengadakan berbagai pelatihan, sesekali juga dihelat perlombaan-perlombaan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan masyarakat sehingga masyarakat tertarik untuk terlibat dan berpartisipasi dalam seluruh kegiatan gerakan literasi. Hal ini sejalan dengan temuan Agustino (2019) bahwa TBM melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan peningkatan kapasitas soft skill dan hard skill yang dibuat secara tematik dengan muatan transformasi nilai-nilai karakter (character building) pada kelompok usia produktif guna mendorong kemandirian sosial-ekonomi masyarakat. Bahkan perpustakaan umum maupun perpustakaan desa saat ini dituntut untuk dapat melakukan transformasi agar mampu berfungsi lebih jauh dengan bersinergi antar seluruh elemen masyarakat yakni “perpustakaan berbasis inklusi sosial dengan menjadikan program penguatan literasi untuk kesejahteraan masyarakat” (Rohman, Erwina, Lusiana, 2018). Kehadiran TBM dapat menjadi jembatan bagi perpustakaan umum, seperti perpustakaan daerah di tingkat kabupaten/provinsi sebagai penyedia berbagai sumber daya informasi dan pembinaan para penggiat literasi bahkan dapat memberikan kontribusi lainnya dalam peningkatan kapasitas para relawan dalam gerakan literasi. Prinsip kemitraan menjadi sebuah kata kunci dalam memberikan akses terbuka pada seluruh sumber daya informasi dan menjadikan perpustakaan sebagai tempat belajar masyarakat dan menjadi tempat berkumpul berbagai pusat komunitas masyarakat dengan berbagai keragaman aktivitas guna mendorong pembangunan masyarakat berbasis inklusi. Pengelolaan sebuah perpustakaan menjadi sebuah ruang terbuka yang memungkinkan masyarakat berinteraksi menjadi sebuah paradigma baru sebagai bagian dari strategi untuk mencapai transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial (Bondar, 2019). Perpustakaan maupun TBM sebagai ruang belajar sepanjang hayat memiliki peran strategis dalam memberdayakan masyarakat sekitar melalui gerakan literasi dengan pelibatan seluruh elemen masyarakat. Transformasi perpustakaan atau TBM menjadikan terbangunnya ruang pelibatan masyarakat. Perubahan itu tidaklah terjadi secara instan dan memerlukan komitmen serta konsistensi dari pustakawan dan aktivis penggerak literasi dalam mendukung perubahan paradigman perpustakaan umum yang ada di masyarakat. TBM dan perpustakaan lainnya menjadi sebuah tempat terbuka untuk mengakses pengetahuan dan sebagai tempat yang terbuka untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dengan pola pendampingan dan pemberdayaan yang terstruktur sebagai upaya membangun masyarakat sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Bahkan berbagai program muncul dari inisiasi pegiat TBM secara parsial dalam membuat kegiatan berbasis inklusi sosial dikarenakan belum adanya upaya yang lebih terstruktur dalam konsep pembangunan masyarakat berbasis inklusi pada tingkat pemangku kepentingan. Perpustakaan berbasis inklusi sosial menjadikan perpustakaan lebiah proaktif dan inovatif dalam membantu masyarakat untuk mengkases informasi secara terbuka dan memberikan sarana dan prasarana serta pendampingan pada masyarakat untuk mengembangkan keterampilan mereka dan meningkatkan kepercayaan diri serta membuka jejaring sosial yang mendukung ke arah tercapainya TPB. Perpustakaan masyarakat atau taman bacaan masyarakat juga mendukung komunitas, baik orang dewasa maupun keluarga untuk belajar di perpustakaan. Situasi tersebut menegaskan hadirnya perpustakaan sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat (Sumekar & Haryadi, 2016). TBM juga menyelenggarakan berbagai kegiatan pelayanan yang variatif kepada warga masyarakat. Kehadiran TBM dan berbagai jenis perpustakaan lainnya sangat mendukung upaya pengentasan kemiskinan masyarakat berbasis komunitas. Aktivitas literasi yang ada di TBM dapat meningkatkan life skills komunitas masyarakat di sekitar TBM sehingga pemberdayaan serta pemberian bekal atau pelatihan secara langsung dapat berdampak pada peningkatan kemampuan secara individu. Bekal keterampilan yang telah mereka miliki pada akhirnya dapat memperbaiki kualitas hidup melalui kegiatan wirausaha ataupun bekerja pada sektor informal maupun formal yang membutuhkan kemampuan praktis. TBM menjadi salah satu tempat yang dapat dijadikan mitra bagi pemerintah setempat dalam memberikan akses informasi yang berkeadilan serta memberikan informasi yang berkualitas bagi masyarakat agar kesenjangan informasi dapat diatasi baik dengan menggunakan sumber daya informasi yang ada di TBM maupun sumber daya digital lainnya. Selain kesenjangan dan akses informasi, TBM dan perpustakaan lainnya dapat membangun ekosistem literasi berbasis komunitas yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan informasi yang ada di lingkungannya. Peran TBM pun menjadi krusial dalam melakukan pendidikan literasi informasi dan media terkait bagaimana masyarakat dapat melek terhadap perangkat digital sampai pada bagaimana mendayagunakan media digital secara aman dan etis. Bahkan TBM pun dapat menjadi tempat bagi masyarakat untuk berkonsultasi dari berbagai permasalahan hidup mereka dengan mendekatkan masyarakat kepada sumber daya informasi yang dimiliki. Perpustakaan masyarakat seperti TBM sebagai salah satu unit dalam sistem sosial kemasyarakatan mampu berkontribusi dalam kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan literasi berbasis inklusi sosial. Hal ini menunjukkan betapa strategisnya perpustakaan ataupun TBM menjadi tempat yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan tingkatan sosial, ekonomi dan pendidikan serta memberikan akses informasi seluas-luasnya dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat guna peningkatan kapasitas dan kesejateraan masyarakat. Aktivitas yang ada di TBM juga menggerakkan perekonomian di sekitar wilayah dengan adanya pembinaan berbasis kelompok yang sesuai dengan karakter masyarakat sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan menyediakan akses informasi dan pengetahuan yang berdampak pada aktivitas masyarakat untuk berdaya dalam memperbaiki perekonomiannya. Penyebarluasan informasi di TBM dapat diorientasikan untuk menumbuhkembangkan ekonomi masyarakat. TBM sebagai bagian dari perpustakaan masyarakat menjadi agen perubahan dengan memberikan akses informasi yang luas kepada masyarakat dengan dukungan dari para pengelola sebagai fasilitator untuk memberdayakan masyarakat. Berbagai informasi dan pengetahuan yang diperoleh dapat diaplikasikan ke dalam kegiatan literasi menjadi sebuah kegiatan produktif yang pada akhirnya dapat meningkatkan kapasitas dan keterampilan masyarakat, bahkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada di sekitarnya. Kehadiran TBM dapat menjadi jembatan bagi perpustakaan umum, seperti perpustakaan daerah di tingkat kabupaten/provinsi sebagai penyedia berbagai sumber daya informasi dan pembinaan para penggiat literasi bahkan dapat memberikan kontribusi lainnya dalam peningkatan kapasitas para relawan dalam gerakan literasi. Prinsip kemitraan menjadi solusi dalam memberikan akses terbuka pada seluruh sumber daya informasi dan menjadikan TBM sebagai tempat belajar masyarakat dan menjadi tempat berkumpul berbagai komunitas masyarakat dengan beragam aktivitas literasi guna membangun masyarakat berbasis inklusi sosial. Perpustakaan maupun taman bacaan terbukti telah berupaya menjalankan peran yang sangat strategis di dalam mendukung ketercapaian program global berupa TPB tersebut. Variasi layanan perpustakaan masyarakat seperti yang TBM lakukan menjadi wahana pembelajaran sepanjang hayat bagi individu maupun kelompok-kelompok masyarakat di sekitarnya. Melalui penyediaan sumber informasi, masyarakat berupaya untuk dapat terus mengembangkan potensi keahlian maupun keterampilan yang dimiliki secara berkelanjutan. Perpustakaan menjadi sarana keterhubungan masyarakat dengan informasi. Terminologi yang semakin variatif, mengekspresikan kehadiran TBM, representasi sudut baca, rumah baca atau rumah pintar telah mewarnai transformasi perpustakaan berbasis inklusi di tengah masyarakat. Berbagai sumber informasi dalam beragam bahan bacaan mulai dari buku fiksi dan non fiksi, majalah, tabloid, surat kabar, komik dan materi non buku lainnya disertai dengan dukungan sumber daya manusia yang sifatnya relawan dengan tugas memberi motivasi bagi masyarakat untuk berdaya dan menjadikan masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Salah satu inovasi sosial berupa transformasi perpustakaan harus terus terjadi agar potensi-potensi dalam meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat semakin berkembang ke depannya. Menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dan stimulasi peningkatan ekonomi masyarakat melalui sumber daya informasi yang ada di perpustakaan. Perpustakaan masyarakat berbasis inklusi sosial merupakan jawaban dari tantangan globalisasi tersebut. Perpustakaan masyarakat seperti TBM menjalani transformasi fungsi dalam mendukung meningkatnya kualitas kesejahteraan hidup masyarakat, dengan cara: perpustakaan harus menciptakan ruang untuk masyarakat, berkumpul, berinteraksi mengembangkan potensi diri; perpustakaan masyarakat tidak hanya terbatas kepada menunggu pemustaka, akan tetapi harus melakukan perluasan jasa layanan yang khas, sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang salah satu fokusnya pada pemberdayaan dan pendampingan masyarakat guna meningkatkan kapasitas dan keterampilannya dalam upaya memberbaiki kualitas hidup mereka; perpustakaan masyarakat atau TBM harus mengembangkan kerjasama/kemitraan dengan stakeholder untuk mengatasi kendala-kendala layanan yang disebabkan oleh keterbatasan sumber daya dengan melibatkan banyak komunitas dan instansi terkait sebagai bagian dari sinergitas pembangunan manusia berbasis literasi.
Conclusion
Transformasi TBM menjadi ruang pelibatan masyarakat agar dapat berdaya dalam peningkatan kualitas hidup dan menciptakan manusia pembelajar sepanjang hayat melalui gerakan literasi. Kehadiran TBM sangat mendukung upaya pengentasan kemiskinan masyarakat berbasis komunitas dengan militansi relawan dan para pegiat literasi. Aktivitas literasi yang ada di TBM dapat meningkatkan life skills komunitas yang ada di sekitar TBM, sehingga pemberdayaan masyarakat serta pemberian bekal pelatihan dan pendampingan bagi masyarakat secara langsung berdampak pada peningkatan kemampuan dan keterampilan individu. Keterampilan yang telah mereka miliki dapat memperbaiki kualitas hidup masyarakat melalui wirausaha ataupun bekerja pada sektor informal maupun formal yang membutuhkan kemampuan praktis. TBM menjadi jembatan bagi perpustakaan umum, seperti perpustakaan daerah sebagai penyedia berbagai sumber daya informasi dan pembinaan bagi para pegiat literasi, bahkan dapat memberikan kontribusi lainnya dalam peningkatan kapasitas para relawan dalam gerakan literasi. TBM dan perpustakaan lainnya dapat membangun ekosistem literasi berbasis komunitas yang sesuai dengan karakter dan kabutuhan informasi yang ada di lingkungannya. TBM dapat menjadi tempat bagi masyarakat untuk berkonsultasi dari berbagai permasalahan hidup mereka dengan mendekatkan masyarakat kepada sumber daya informasi guna menemukan berbagai solusi dari permasalahan hidup yang mereka alami. Hasil penelitian ini dapat dikaji lebih mendalam terkait evidence-based practice masing-masing TBM serta dapat mengkaji lebih lanjut terkait kolaborasi antara TBM dengan perpustakaan daerah/provinsi dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam upaya mendukung tercapainya sasaran TPB. Saran dari penelitian ini adalah perlu dibuat program yang sinergi antara TBM dengan perpustakaan umum yang ada di sekitarnya agar dampak inklusi sosial dari gerakan literasi lebih banyak dirasakan seluruh masyarakat dan menjadi kebijakan di masing-masing daerah.