Kembali
16
1
2021 LIBRARIA: Jurnal Perpustakaan Vol 9 · 1 ISSN 2477-5320

Program Book Sharing dalam Usaha Meningkatkan Kemampuan Literasi di Perpustakaan SMA Homeschooling AB Home Bogor

Universitas Ibn Khaldun

Abstrak

Kemampuan berliterasi merupakan kunci terbukanya pintupintu ilmu pengetahuan. Perpustakaan memiliki peran yang strategis dalam meningkatkan dan mengembangkan kemampuan berliterasi peserta didik. Melalui kerjasama pustakawan dan pendidik dalam menyelenggarakan program dan kegiatan dapat mewujudkan tujuan tersebut. Salah satu cara untuk meningkatkan minat berliterasi adalah dengan program book sharing. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan program book sharing dalam meningkatkan kemampuan literasi peserta didik di Perpustakaan SMA Homeschooling AB Home Bogor. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif deskriptif, sehingga data yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi dapat digambarkan secara deskriptif. Hasil penelitian menyatakan pelaksanaan program book sharing dapat meningkatkan kemampuan literasi peserta didik. Selain itu, program book sharing juga membantu peserta didik dalam mengembangkan kemampuan public speaking dengan mempresentasikan dan menginformasikan hasil bacaan kepada peserta didik lainya. Kemudian, peran pustakawan dan pendidik dalam memformulasikan program book sharing yang menyenangkan membuat peserta didik tidak merasa tidak jenuh dan bosan.

Abstract

Literacy is the key to open the doors of science. Libraries have a strategic role in improving and developing students’ literacy skills. Through programs and activities organized by librarians together with educators, this goal can be realized. One way to increase interest in literacy is the book sharing program. The purpose of this study was to find out how the implementation of the book sharing program in improving the literacy skills of students in the Homeschooling AB Home Bogor High School library. The research method used is descriptive qualitative research, so that the data obtained through interviews, observations and documentation can be described descriptively. The results of the study stated that the implementation of the book sharing program can help students improve literacy skills. In addition, the book sharing program also helps students in developing public speaking skills by presenting and informing the results of reading to other students. Then, the role of librarians and educators in formulating a fun book sharing program makes students not feel bored.
Keywords: literacy skills · book sharing · library

Introduction

Perpustakaan adalah tempat berkembangnya kemampuan intelektual manusia. Dalam khazanah keilmuan Islam, peran perpustakaan sangat penting dalam perkembangan keilmuan dan peningkatan mutu para sarjana muslim.1 Menjamurnya keberadaan perpustakaan di suatu wilayah adalah bukti bahwa penghargaan dan penekanan kepada kegiatan berliterasi, seperti membaca dan menulis. Peradaban Islam sendiri memiliki beberapa contoh perpustakaan yang terkenal yaitu Baitul Hikmah yang didirikan oleh Al Ma’mun di Baghdad sekitar tahun 927 M dan Khizanah Al Sabur yang dibangun oleh Al Hakim di Kairo pada tahun 1004 M.2 Budaya literasi di Timur Tengah sendiri berkembang pesat setelah kehadiran Islam. Hal ini berdasarkan kepada wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW yang disuruh malaikat Jibril untuk membaca. Sebagaimana dijelaskan di dalam surah al ‘Alaq (96): 1-5 yang artinya: “bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang mencipta, (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (2) Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Mulia, (3) Yang mengajar (manusia) dengan pena. (4) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (5). Dari ayat ini al qur’an menjelaskan tentang pentingnya mencari ilmu yang dimulai dari membaca dan menulis sesuai dengan pandangan hidup Islam. Ini artinya bahwa sejak awal di tanzilkannya al qur’an, orang yang beriman sudah diperintahkan untuk mencari ilmu dengan membaca dan menulis. Dari sini dapat disimpulkan bahwa timbulnya perpustakaan-perpustakaan Islam adalah sebagai bukti ummat muslim menggemari ilmu pengetahuan yang menjadikan peradaban Islam sebagai peradaban yang agung.3 Faktor agama inilah yang mempengaruhi perkembangan perpustakaan Islam sebagai fasilitator dalam meningkatkan keimanan dan keislaman dengan ilmu.4 Kejayaan peradaban Islam berlanjut dengan program penerjemahan buku-buku berbahasa Yunani dan lain sebagainya. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan ditopang dengan perpustakaan yang banyak, maka muncul berbagai disiplin ilmu asing yang telah diislamisasikan ke dalam khazanah keilmuan Islam. Salah satunya adalah disiplin filsafat yang diadopsi dan berupaya mengislamisasikannya berdasarkan worldview Islam dengan menghilangkan unsur-unsur kufur dan positif yaitu memasukkan nilai-nilai Islami.5 Berkaca dari kejayaan peradaban Islam di masa lalu dengan kegemaran terhadap ilmu, ummat muslim modern juga harus termotivasi hal yang serupa. Salah satunya dengan menumbuhkan semangat berliterasi adalah dengan dibangunnya perpustakaanperpustakaan. Hal ini juga berkaitan dengan tujuan pendidikan yaitu mengembangkan potensi peserta didik dan mengingat kembali tugasnya sebagai khalifah fi al ardhi serta hamba Allah tunduk patuh yang hanya dipahami dengan ilmu. Untuk mendapatkan ilmu, peserta didik harus terlebih dahulu menguasai kemampuan literasi seperti membaca dan menulis, hal inilah yang menjadi fokus dari peran perpustakaan. Perpustakaan yang ideal adalah yang mampu mengusahakan berbagai pendekatan untuk menumbuhkan kemampuan literasi kepada peserta didik. Kehadiran perpustakaan seharusnya untuk dapat mengatasi masalah literasi. Perpustakaan mempunyai peran sentral dalam meningkatkan kemampuan literasi peserta didik dalam menunjang nilai akademik dan non akademik. Hal ini dikarenakan keberhasilan dalam pendidikan tidak diukur dari banyaknya peserta didik dengan nilai tinggi dalam mata pelajaran, melainkan banyaknya peserta didik mempunyai minat tinggi dan gemar membaca dalam suatu kelas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kegiatan membaca dengan program yang menyenangkan dapat meningkatkan kemampuan akademik peserta didik. Selain itu, membaca dan menulis juga dapat meningkatkan pemahaman teks dan tata bahasa, memperkaya perbendaharaan kata, rasa percaya diri tinggi serta gemar membaca sepanjang hayat.6 Namun, terdapat persoalan ketika membahas tentang permasalahan literasi di Indonesia. Kurikulum silih berganti tetapi mutu pendidikan, khususnya dalam hal literasi masih terasa kurang. Persoalan manejemen sekolah dengan pola Manejemen Berbasis Sekolah (MBS) diterapkan secara masif di berbagai sekolah sejak 2005. Dalam hal ini kepala sekolah didorong untuk kreatif dan inovatif dalam mengembangkan sekolahnya tanpa merujuk kepada pusat, tetapi sampai sekarang literasi masih menjadi salah satu masalah utama pendidikan Indonesia. Selanjutnya dalam hal menunjang profesionalitas guru, pemerintah mengadakan programprogram pelatihan dan sertifikasi. Dengan begitu diharapkan mutu dan kualitas guru menjadi lebih baik dan mampu bersaing tetapi setelah diamati tidak ada perbedaan yang signifikan antara guru tersertifikasi dengan yang belum disertifikasi. Metode belajar juga terus berganti mulai dari belajar siswa aktif hingga contextual teaching learning namun, belum bisa menumbuhkan peserta didik yang rajin membaca dan menulis. Program ini ditujukan untuk perbaikan Pendidikan Nasional ternyata belum membentuk sistem pondasi pendidikan yang kuat, terutama dalam segi literasi.7 Pada tahun 2019 sebuah lembaga survey The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) melalui salah satu programnya The Program for International Student Assessment (PISA) mengukur kemampuan literasi matematika, sains dan membaca menyatakan bahwa Indonesia berada diurutan ke-74 dari 79 negara dengan rata-rata nilai literasi membaca adalah 371.8 Jika dibandingkan dengan survei PISA pada tahun 2015, pendidikan Indonesia mendapatkan rata-rata 397 yang artinya peserta didik Indonesia hanya mampu menghubungkan informasi umum namun, belum mampu berpikir kritis dalam membaca teks.9 Hasil ini tentu masih jauh dari harapan dan apabila dilihat dengan tahun-tahun sebelumnya menunjukkan tren penurunan. Hasil ini menggambarkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dibenahi untuk meningkatkan performa pendidikan Indonesia terhadap tiga kategori kemampuan literasi berdasarkan PISA. Untuk meningkatkan kemampuan literasi peserta didik, perlu diadakan kegiatan-kegiatan yang mendukung literasi di sekolah. Dalam beberapa tahun terakhir, di beberapa sekolah diadakan program book sharing untuk meningkatkan kompetensi membaca dan menulis serta berpikir kritis. Terkait dengan penelusuran ilmiah, terdapat penelitian yang telah membahas berkenaan dengan program book sharing. Adapun penelitian tersebut berjudul “Implementasi Program Bedah Buku di PKBM AB Home Bogor” yang diterbitkan oleh UPBJJ Universitas Terbuka Bogor. Penelitian ini lebih menekankan kepada kesesuaian tahap perencanaan program bedah buku dengan teori perencanaan Behavioristik, yaitu pengajaran yang terprogram, memberi stimulus dan mendapatkan respon positif dari peserta didik. Kemudian penyesuaian tahap program bedah buku dengan teori Student Center Learning (SCL) dimana membuat peserta didik untuk aktif terlibat dalam program bedah buku.10 Sementara, penelitian ini lebih menekankan kepada peran program book sharing dalam meningkatkan kemampuan literasi peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan program book-sharing dalam meningkatkan kemampuan literasi peserta didik di Perpustakaan SMA Homeschooling AB Home Bogor. Melalui kajian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah keilmuan, khususnya dalam pengoptimalisasian peran pustakawan dan pendidik sebagai agen dalam meningkatkan kemampuan literasi peserta didik dengan program book sharing.

Method

Penelitian ini menggunakan penelitian diskriptif kualitatif. Menurut Bogdan Taylor yang dikutip oleh Meleong mendefinisikan metode penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang dapat menghasilkan data deskriptif dengan bentuk rangkaian tulisan dari orang yang diamati. Sedangkan Meleong mendefinisikan penelitian kualitatif dengan memahami fenomena tentang segala sesuatu yang dialami oleh subjek penelitian secara holistik dan alamiah dengan menggunakan berbagai metode ilmiah.11 Penggunaan metode kualitatif sesuai dengan penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui penerapan program book sharing dalam meningkatkan kemampuan literasi di SMA Homeschooling AB Home Bogor. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder untuk membantu peneliti dalam menganalisis program book sharing. Data primer diperoleh melalui wawancara yang dilakukan oleh peneliti secara langsung dengan dua orang pendidik yang merupakan wali kelas dan pustakawan serta empat orang peserta didik kelas XII yang telah mengikuti minimal empat kali dalam program book sharing di SMA Homeschooling AB Home Bogor. Sementara, sumber sekunder melalui dokumen yang dapat membantu dalam penelitian ini. Metode analisis data menggunakan data reduction, data display dan conclusion drawing. Analisis data merupakan proses menyusun data secara sistematis yang didapat dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi dengan mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit, melakukan sintesa, menyusun pola, memilih yang penting dan membuat kesimpulan hingga dapat dipahami dengan mudah.12 Mereduksi data artinya merangkum, memilih, memfokuskan poin yang penting dan membuang data yang kurang penting. Setelah data direduksi, kemudian data tersebut diuraikan dengan bentuk narasi deskriptif, kemudian mengambil kesimpulan dari hasil data yang telah direduksi tersebut.

Discussion

1. Memahami Peran Perpustakaan Pada hakikatnya, peran perpustakaan diibaratkan sebagai jantung di lembaga pendidikan. Keberadaan perpustakaan di sekolah diharapkan menempati peran sentral dalam menunjang kemampuan literasi peserta didik. Peran sentral tersebut harus digunakan dan dioptimalkan sebaik mungkin sehingga masyarakat sekolah sadar tentang pentingnya kemampuan literasi. Namun, posisi strategis ini banyak dilupakan atau tidak diperhatikan oleh kalangan peserta didik bahkan pendidik sendiri. Tentu ini salah satu dari permasalahan pendidikan di Indonesia sekarang. Untuk itu, perlu adanya penyegaran dalam memahami peran perpustakaan sebagai gerbang menuju peradaban yang agung dan masyarakat yang berliterasi. a. Definisi Perpustakaan Sebagaian besar masyarakat awam memaknai perpustakaan sebagai gudang buku dan berperan hanya sebagai pelengkap dari sebuah lembaga pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya perpustakaan yang tidak menempatkan perannya sebagaimana mestinya. Upaya mengembangkan perpustakaan yang ideal harus dilakukan kritis dengan meredefinisi peran pustakawan agar dapat melahirkan gagasan dan peluang sesuai dengan kebutuhan zaman.13 Perpustakaan dan pustakawan sekolah harus terlibat langsung dalam usaha mensosialisasikan berbagai program-program literasi untuk mencapai tujuan pendidikan. Perpustakaan mempunyai peran penting dalam dunia pendidikan, karena perpustakaan adalah tempat dimana pengetahuan disimpan. Selain itu, perpustakaan merupakan lingkungan alami dalam upaya kegiatan problem solving dan dapat membantu kemampuan peserta didik dalam berliterasi dan berpikir kritis.14 Maka, perlu diperkenalkan beberapa definisi dari para ahli dalam meredefinisi konotasi negatif tentang perpustakaan. Perpustakaan adalah lembaga yang kegunaannya tidak hanya sebatas tempat penyimpanan buku. Sebagaimana dijelaskan dalam UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan Pasal 1 (1) perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak dan karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka. Dengan begitu, perpustakaan tidak hanya dibatasi sebagai gudang penyimpanan buku-buku saja. Kehadiran perpustakaan di sekolah dapat meningkatkan mutu dan kualitas peserta didik yang dimulai dengan kemampuan membaca dan menulis dengan baik. Menurut The Cyclopedic Education Dictionary perpustakaan adalah an organized collection of printed materials and audiovisual materials that are cataloged systematically and place for providing access means preparing students with a working knowledge of where to go and how to use the information available. 15 Dari definisi ini meniscayakan keterbukaan perpustakaan dalam menyediakan akses bagi pemustaka dalam menemukan dan mengakses informasi dan keilmuan dengan mudah. Maka dari itu, sudah seyogyanya perpustakaan sebagai tempat learning process peserta didik dalam menuntut ilmu. Kemudian menurut The Greenwood Dictionary of Education, perpustakaan adalah the bibliographic database system that store and maintains the library’s records about the material it owns, these system serve to support research and scholarship, making it easier for students to find and use information.16 Definisi ini menegaskan kembali bahwa perpustakaan adalah institusi pengelolaan dan pemeliharaan buku dengan sistematis guna memudahkan akses informasi kepada pemustaka. Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan berperan penting dalam proses belajar peserta didik. Selain itu, perpustakaan tidak hanya sebagai penyempurna dari sebuah sistem pendidikan, namun perannya bersifat esensial dalam sistem pendidikan. Hal ini karena perpustakaan adalah tempat terhimpunnya berbagai sumber ilmu. b. Fungsi Perpustakaan Pengaruh perpustakaan dalam kegiatan literasi tergantung dari optimalisasi dalam menjalankan fungsinya. Oleh karena itu, pihak sekolah harus memperhatikan dan memaksimalkan fungsi dari perpustakaan dalam menumbuhkan kemampuan berliterasi peserta didik. Dengan begitu, tujuan pendidikan mudah dicapai dan kualitas dan mutu pendidikan pun meningkat. Salah satu fungsi dari perpustakaan adalah mencerdaskan pemustaka dengan mengusahakan berbagai kegiatan dan program guna menumbuhkan kegemaran terhadap ilmu pengetahuan sehingga mempunyai wawasan yang luas. Fungsi dari perpustakaan silih berganti sesuai dengan perubahan zaman, namun pada dasarnya fungsi perpustakaan adalah sebagai berikut: pertama, Perpustakaan adalah sebagai tempat penyedia segala bentuk informasi untuk pemustaka dalam memperoleh berbagai informasi yang diinginkan. Informasi yang beragam memudahkan pemustaka dalam mencari informasi yang berkaitan dengan tugas sekolah, pelajaran, penelitian dan lain sebagainya.17 Pada zaman digital ini, perpustakaan juga harus meningkatkan pelayanan dan kenyamanan dengan tersedianya open access sehingga memungkinkan pemustaka mendapatkan informasi meski tidak berada di perpustakaan. Kedua, Perpustakaan adalah sarana pendukung pendidikan formal dan non formal, artinya perpustakaan adalah tempat belajar peserta didik di lingkungan sekolah dan di luar kegiatan belajar mengajar di kelas.18 Fungsi ini dapat dioptimalkan dengan memberikan berbagai kegiatan dan program perpustakaan guna menunjang tujuan dari pendidikan di suatu sekolah. Ketiga, Selain fungsi-fungsi di atas, perpustakaan juga menjadi pemeran penting dalam perubahan masyarakat. Perpustakaan harus mampu menyediakan berbagai aktivitas sosial seperti mengadakan program teras literasi, kampung literasi, diskusi ilmiah, perpustakaan berjalan dan lain sebagainya. Hal ini diadakan untuk meningkatkan antusias masyarakat terhadap pentingnya literasi. c. Tugas Perpustakaan Perpustakaan sebagai resource of knowledge center mempunyai berbagai tugas dan layanan. Tugas dan layanan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam penumbuhan insan kamil atau manusia paripurna yang tidak hanya mempunyai kompetensi akademik, namun juga non-akademik. Salah satu kemampuan utama akademik yang harus dimiliki oleh peserta didik adalah kemampuan literasi. Adapun beberapa tugas perpustakaan adalah pertama, mensosialisasikan pentingnya peran perpustakaan sebagai penunjang pelaksanaan pembelajaran di lingkungan masyarakat. Kedua, memberikan pelayanan maksimal kepada peserta didik sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dalam kurikulum pendidikan. Ketiga, menyediakan berbagai informasi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk karya tulis, karya cetak dan karya rekam serta elektronik yang sesuai dengan kurikulum pendidikan dan tujuan pendidikan. Keempat, memfasilitasi pemustaka dalam berdiskusi dan kegiatan-kegiatan literasi lainnya. Kelima, memberikan informasi kepada pemustaka seputar koleksi rujukan baik dalam bentuk hard-file ataupun soft-file. Keenam, mengolah bahan pustaka dengan langkah klasifikasi dan katalogisasi secara manual dan elektronik agar mudah dipergunakan oleh pemustaka.19Ketujuh, mengadakan layanan life skill seperti membuka kelas literasi, kursus keliterasian dan lain sebagainya agar gemar mengunjungi perpustakaan.20 Itulah beberapa tugas dari perpustakaan dalam memaksimalkan perannya sebagai pusat informasi dan ilmu pengetahuan. Tugas dan layanan ini dapat berkembang seiring berkembangnya teknologi yang semakin memudahkan masyarakat untuk berliterasi. 2. Peran Program Book-Sharing dalam Meningkatkan Literasi Kemajuan teknologi informatika telah mendisrupsi segala aspek kehidupan, tak terkecuali dalam bidang perpustakaan. Sekarang banyak ditemukan perpustakaan-perpustakaan online yang menawarkan berbagai bentuk disiplin ilmu dengan tidak perlu pergi ke perpustakaan. Dengan adanya teknologi yang canggih, memudahkan masyarakat dunia dalam mencari berbagai informasi dengan lebih akurat. Di tengah kemudahan dalam mengakses berbagai informasi, peran pustakawan masih sangat dibutuhkan dalam membantu evaluasi masyarakat tentang informasi dengan critical reading dan thinking. Pada zaman informasi ini kemampuan literasi sangat dibutuhkan dalam memilih dan memilah berbagai informasi, terutama bagi para peserta didik tingkat SMA sebagai calon mahasiswa. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah peneliti Budd yang dikutip oleh Susan Haggings, di Jhons Hopkins University di Baltimore Maryland yang merupakan cerminan universitas Jerman abad 19. Budd menyatakan bahwa sistem pendidikan Jhons Hopkins University menekankan kepada dua aspek yaitu the freedom to teach dan the freedom to learn. Kedua hal ini hanya dapat dilakukan dengan kemampuan literasi yang bagus.21 Perpustakaan sebagai tempat terhimpunnya berbagai informasi memiliki tanggung jawab meningkatkan literasi di lingkungannya. Dalam hal ini, pustakawan harus bertanggung jawab layaknya sebagai seorang pendidik dalam membantu pemustaka untuk memberikan akses informasi serta mengajarkan critical thinking dan independent inquiry. Dengan begitu, pustakawan dapat menjadi aktor kesuksesan peserta didik dalam meningkatkan budaya membaca, berpendapat dan lain sebagainya dengan menerapkan student success center. 22 Maka dari itu, pengoptimalan peran pustakawan dalam meningkatkan literasi peserta didik adalah bagian dari salah satu tujuan pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap lembaga pendidikan. Salah satu kemampuan literasi yang harus dikembangkan oleh pendidik dan pustakawan adalah membaca. Membaca adalah suatu proses menuntut pembaca untuk memperoleh makna dan pesan dari penulis melewati rangkaian kata-kata yang tersusun. Di samping itu, membaca dapat pula diartikan sebagai metode yang digunakan pembaca untuk berkomunikasi dengan makna yang tersirat dan tersurat dalam lambang-lambang tertulis. 23 Menurut Mortimer J. Adler dan Charles Van Doren, membaca adalah proses dimana pikiran beroperasi dan berkomunikasi dengan simbol materi yang dibaca tanpa bantuan dari pihak luar. Proses inilah yang menjadikan pembaca dari understanding less ke understanding more dengan menggunakan the art of reading yang bervariasi.24 Dari sini dapat disimpulkan bahwa membaca sangat berhubungan dengan tulisan yang berbentuk simbol-simbol yang di dalamnya terkandung maknamakna yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca. Secara umum, tujuan membaca adalah untuk mencari informasi dan kesenangan. Pada dasarnya setiap individu membaca buku sesuai dengan minat dari tema buku atau penulis buku tersebut. Meskipun para pembaca buku mempunyai berbagai minat dalam membaca, namun mereka mempunyai alasan dan tujuan yang sama dalam membaca, yaitu: pertama, membaca buku untuk belajar membaca. Kedua, membaca untuk kesenangan dan kepuasan karena mendapat hal yang baru. Ketiga, membaca untuk mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan. Keempat, membaca untuk memahami informasi. Kelima, membaca untuk merenungi dan memikirkan suatu hal. Keenam, membaca untuk memecahkan dan memberi sebuah solusi. Kemudian, membaca mempunyai beberapa tingkatan yang mana tingkatan teratas tentu telah menguasai tingkatan di bawahnya. Adapun tingkatan-tingkatan tersebut yaitu elementary reading, inspectional reading, analytical reading dan syntopical reading. Elementary reading atau basic reading merupakan tingkatan pertama yang bermula dari nonliteracy menjadi beginning literacy. Pada tingkat ini, pembaca mempunyai kemampuan dasar tentang skill membaca dan memahami kata perkata pada setiap kalimat. Pada tingkatan kedua yaitu inspectional reading yang lebih menekankan kepada durasi membaca. Pada tingkat ini, peserta didik diberi waktu minimal 15 menit untuk membaca memahami kalimat perkalimat, struktur dan genre buku. Tingkatan selanjutnya adalah analytic reading yang lebih complex dari kedua tingkatan di atas. Pada tingkatan ini, pembaca memiliki kemampuan untuk menganalisa lebih dalam tentang makna-makna di dalam buku dan mempertanyakannya. Tingkatan ini digunakan bagi pembaca yang memiliki tujuan mencari pemahaman mendalam tentang buku. Tingkatan paling tinggi yaitu syntopical reading atau comparative reading. Pada tingkatan ini, pembaca tidak hanya menganalisis tentang suatu buku, namun juga dapat mengkomparasikan beberapa buku dengan buku yang sedang dibaca.26 Salah satu kompetensi yang harus ditekankan dalam pendidikan adalah membaca, karena dengan membaca peserta didik dapat memahami pelajaran dan berwawasan luas. Untuk itu, lembaga pendidikan perlu mengadakan sebuah program-program untuk meningkatkan kualitas membaca peserta didik. Berkaitan dengan penelitian ini, SMA Homeschooling AB Home Bogor menggunakan program book sharing sebagai metode untuk meningkatkan kemampuan literasi peserta didik. Program book sharing adalah sebuah usaha untuk mengembangkan kemampuan literasi, kognitif, dan linguistik peserta didik. 27 Menurut Kiara Wier, book sharing adalah all about engaging and involving child in the book reading process and then making child active participants.28 Pada dasarnya, book sharing adalah program pendidikan untuk melatih peserta didik untuk mampu mempublikasikan sebuah buku dan memberikan rekomendasi buku yang bagus untuk dibaca serta dapat menjadi wadah dalam mencari informasi.29 Selain itu, book sharing juga dapat meningkatkan vocabulary, mengembangkan pengetahuan, kemampuan bertanya dan menjawab pertanyaan, membangkitkan imajinasi serta meningkatkan kemampuan visual peserta didik.30 Kemudian juga dapat melatih peserta didik dalam penulisan, terutama ketika menulis resensi atau rangkuman dari sebuah buku. Program ini membutuhkan keterlibatan aktif pendidik dalam memotivasi peserta didik untuk mencintai literasi dan mendampingi peserta didik dalam pelaksanaan program book sharing. 31 3. Implementasi Program Book Sharing di Perpustakaan SMA Homeschooling AB Home Bogor Program book sharing mulai dilaksanakan pada tahun 2015 dengan inisiatif pendiri SMA Homeschooling AB Home Bogor kemudian disosialisasikan kepada seluruh civitas akademik. Awal mula diadakan book sharing karena melihat dan menganalisis budaya minat baca peserta didik Indonesia yang masih kurang baik dan di bawah target PISA. Selain itu, melihat belum banyak lembaga pendidikan tingkat menegah yang merumuskan dan melaksanakan program book sharing, maka perpustakaan SMA Homeschooling AB Home Bogor berinisiatif untuk mengadakan book sharing untuk meningkatkan budaya literasi kepada peserta didik. Kemudian, program book sharing juga masuk kedalam kurikulum pendidikan sebagai program wajib yang diikuti oleh peserta didik sehingga penilaiannya mempengaruhi nilai akhir di buku rapor. Setiap pendidikan dan pustakawan berusaha terus mengevaluasi dan mengembangkan format pelaksanaan book sharing untuk meningkatkan keaktifan dan kekritisan peserta didik dalam mengikuti book sharing. Program book sharing adalah usaha untuk meningkatkan literasi peserta didik dengan metode yang menyenangkan dengan jadwal yang telah ditetapkan. Selain mengembangkan kemampuan membaca, book sharing juga dapat mengasah kemampuan peserta didik dalam menginformasikan dan menganalisis sebuah buku sehingga dapat memberikan nilai dan rekomendasi kepada peserta didik lainnya sebuah buku yang telah dibaca. Kemudian book sharing menjadi metode dalam mengembangkan kemampuan menulis dan public speaking. Dengan peran guru sebagai motivator dan fasilitator, format pelaksanaannya juga harus dibuat menarik dan peserta didik dituntut untuk kritis dan aktif dalam program book sharing. Terkait dengan jadwal pelaksanaan, program book sharing diadakan dua kali dalam satu semester. Sistem penilaian book sharing masuk dalam komponen mata pelajaran tertentu. Ini dapat dilihat dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia mengambil nilai dari bagaimana peserta didik membuat resensi, ringkasan yang ada di dalam buku serta menyampaikan dalam presentasi. Kemudian, dalam mata pelajaran TIK dengan melihat bagaimana keterampilan peserta didik dalam menggunakan media power point. Adapun pelaksanaan book sharing di Perpustakaan SMA Homeschooling AB Home Bogor memiliki beberapa tahapan teknis yang dijelaskan sebagai berikut: a. Mensosialisasikan Jadwal Program Book Sharing dan Pembelian Buku Pada tahap pertama, para pendidik memberikan kalender aktivitas atau kalender akademik hasil dari rapat bulanan dan didetailkan melalui rapat pekanan. Selanjutnya, wali kelas mensosialisasikan dan menjelaskan terkait tujuan, manfaat dan pelaksanaan teknik dari program book sharing sebulan sebelum pelaksanaan program book sharing dimulai. Hal ini dilakukan agar peserta didik memiliki banyak waktu untuk memilih buku, membaca buku dan menganalisis isi buku untuk dipresentasikan dalam program book sharing. Sebelum pandemi Covid-19, pendidik dan peserta didik membeli buku bersama-sama di sebuah toko buku, seperti Gramedia dan lain sebagainya. Namun, ketika dalam keadaan sekarang yang tidak memungkinkan untuk membeli secara offline, pendidik membolehkan peserta didik membeli buku secara online. Ketika peserta didik telah menemukan buku yang akan dipresentasikan, pihak bendahara sekolah akan memfasilitasi biaya pembelian buku maksimal Rp. 100.000/ peserta didik. b. Membaca buku dan Mempersiapkan Presentasi Tahap kedua adalah proses membaca buku dan menyusun penulisan terkait isi buku dengan format yang telah ditentukan. Pada tahap ini, peserta didik dituntut untuk membaca buku dengan baik dan cermat sehingga dapat menilai dan menginformasikan buku tersebut. Setelah membaca buku, peserta didik diharuskan untuk menyusun penulisan terkait informasi buku seputar judul buku, penulis buku, sinopsis buku, kelebihan dan kekurangan buku, katakata bijak di dalam buku dan mencari hikmah dari buku tersebut. Tahap ini diakhiri dengan penyusunan powerpoint oleh peserta didik untuk dipresentasikan kepada peserta didik lainnya. c. Mempresentasikan Hasil Bacaan Tahap selanjutnya adalah mempresentasikan hasil bacaan dengan format yang sudah disusun melalui powerpoint. Jadwal presentasi disusun oleh pendidik sesuai dengan jumlah peserta didik di kelas tertentu. Dalam sehari sekitar 6-8 peserta didik yang presentasi dengan waktu 15-30 menit per peserta didik. Pada tahap ini, untuk memudahkan pelaksanaan program book sharing, peserta didik menyiapkan petugas seperti notulen dan pembawa acara. Pendidik pada tahap ini ikut menyimak, mengawasi dan menilai peserta didik beserta para audien. Setelah presentasi, peserta didik didorong untuk aktif bertanya dan di akhir sesi terdapat kuis sebagai motivasi peserta didik untuk fokus dan menyimak dengan baik presentasi dari peserta didik lainnya. Di akhir tahap ini, peserta didik memberikan buku hasil book sharing ke perpustakaan untuk menambah koleksi perpustakaan dan juga memberikan kesempatan bagi peserta didik lainnya yang tertarik dengan buku untuk membaca lebih lengkap. d. Evaluasi dan Penilaian Pada tahap terakhir ini, para pendidik yang terdiri dari pendidik dan kepada sekolah beserta founder mengadakan rapat di pekan ke-5 setiap bulan. Di sesi rapat ini, para pendidik membahas semua program yang telah direncanakan termasuk program book sharing. Selain itu, pada rapat bulanan ini, para pendidik mengevaluasi semua program yang telah terlaksana dengan menuliskan kekurangan dan kelebihan setiap program. Hasil dari rapat ini akan dijadikan evaluasi secara menyeluruh terhadap program book sharing dan pada tahap akhir komponen-komponen penilaian dari program book sharing dimasukan ke dalam raport. 4. Relevansi Program Book Sharing Dalam Usaha Meningkatkan Literasi Peserta didik Melihat permasalahan terhadap kurangnya budaya literasi, pendidik dan pustakawan harus bekerjasama dalam meningkatkan mutu dan kualitas peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional sebagaimana dijelaskan dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Cara agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa harus dengan ilmu, kemudian ilmu hanya bisa didapat dengan membaca dan menulis. Maka dari itu, untuk mewujudkan manusia yang beriman, bertakwa dan berilmu harus mampu berliterasi dengan baik dan benar. Salah satu usaha pendidik dan pustakawan dalam meningkatkan literasi peserta didik adalah dengan menggunakan program book sharing. Peran book sharing dalam meningkatkan budaya literasi di Perpustakaan SMA Homeschooling AB Home Bogor cukup signifikan. Dengan mengikuti program book sharing, sebagian besar peserta didik sadar bahwa budaya literasi sangat penting dan segala sesuatu dapat dicapai dengan membaca buku karena buku adalah gerbang ilmu pengetahuan. Sebagaimana hasil wawancara dengan salah satu peserta didik “program book sharing menambah literasi dan menambah wawasan, yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu dan yang sebelum tidak berminat menjadi lebih berminat”. Hal ini karena adanya book sharing yang dikemas dengan menarik dan wajib dilakukan oleh peserta didik selama beberapa kali di sekolah, sehingga tanpa disadari kemampuan literasi telah berkembang dengan baik. Selain itu, intensitas kunjungan ke perpustakaan oleh peserta didik semakin naik karena ketika proses pelaksanaan book sharing, tidak sedikit peserta didik yang tertarik dengan buku yang dipresentasikan peserta didik lainnya dan ingin membaca buku tersebut, seperti hasil wawancara dengan salah satu pustakawan “setiap anak yang selesai book sharing kita wajibkan mereka untuk menyimpan bukunya di perpustakaan karena banyak dari mereka (peserta didik) yang setelah mendengar presentasi dari temantemannya menjadi tertarik dan ingin membaca buku tersebut, benefit lainnya buku perpustakaan juga bertambah walaupun tidak terlalu signifikan”. Selanjutnya dengan pelaksanaan program book sharing, pendidik dapat mengetahui minat dari peserta didik sehingga dapat mengoptimalkan kegiatan sekolah sesuai dengan minat tersebut. Mengetahui minat belajar peserta didik sangat penting untuk mengembangkan dan melatih serta memberikan treatment yang tepat kepada peserta didik. Minat peserta didik dapat diketahui melalui pemilihan tema dan buku yang akan digunakan untuk book sharing atau ketika presentasi dari peserta didik lainnya. Umumnya, peserta didik bersemangat dan antusias ketika tema atau buku yang disampaikan oleh peserta didik lainnya dipresentasikan sesuai dengan minat dan mencoba untuk membaca buku tersebut di perpustakaan. Program book sharing juga mampu meningkatkan kualitas membaca peserta didik. Berdasarkan tingkatan membaca menurut Mortimer J. Adler dan Charles Van Doren, peserta didik SMA Homeschooling AB Home Bogor masuk dalam kategori tingkatan analytical reading. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan peserta didik dalam menganalisis buku dengan format yang telah ditentukan, seperti menilai buku dengan memberikan kelemahan, kelebihan dan hikmah di dalam buku tersebut. Sebagaimana yang disampaikan oleh salah satu peserta didik melalui wawancara “program book sharing bagus dan menyenangkan karena tidak hanya sekedar membaca buku tapi hasil bacaan tersebut dipresentasikan dan mencari hikmah serta membuat sinopsisnya sehingga memacu untuk menyelesaikan bukunya dengan lebih baik” Kemudian, di sesi tanya jawab peserta didik yang mendengarkan presentasi memberikan pertanyaan dan pendapat untuk mengembangkan berpikir kritis dan analitis. Adapun hambatan dalam pelaksanaan program book sharing terjadi karena peserta didik kurang memiliki persiapan yang matang. Beberapa kasus dimana peserta didik belum siap untuk presentasi dikarenakan belum sempat membaca buku yang akan dipresentasikan. Hal ini dipegaruhi oleh dua faktor yaitu: pertama, peserta didik belum memahami dan mencerna isi buku dengan baik, ini dikarenakan peserta didik kurang memahami sebuah buku dan kedua, pengelolaan waktu yang kurang baik. Akhirnya, presentasi tidak maksimal dan cenderung kurang menarik peserta didik lainnya. Oleh karena itu, peran pustakawan dan pendidikan dalam hal ini sebagai motivator dan pembimbing peserta didik untuk rajin membaca serta mencintai literasi.

Conclusion

Program book sharing merupakan usaha Perpustakaan SMA Homeschooling AB Home Bogor dalam menanamkan budaya literasi kepada peserta didik dengan menyenangkan. Dengan book sharing, peserta didik dilatih untuk cakap dalam membaca buku, menulis sinopsis buku dan mempresentasikan hasil bacaan. Berdasarkan hasil penelitian, implementasi program book sharing telah memberikan dampak positif dalam meningkatkan budaya literasi di sekolah. Hal ini dibuktikan dengan respon positif dari beberapa peserta didik yang telah diwawancara oleh peneliti di lapangan. Beberapa dampak positif dari program book sharing adalah meningkatnya kemampuan analisis membaca buku dan public speaking peserta didik. Selain itu, intensitas pengunjung perpustakaan juga semakin meningkat karena dengan adanya program book sharing peserta didik lebih berminat membaca buku hasil presentasi peserta didik lainnya di perpustakaan sekolah. Program ini tentu dapat menjadi salah satu alternatif dari permasalahan literasi di lembaga pendidikan nasional. Maka dari itu, program book sharing yang telah terlaksana dengan baik di Perpustakaan SMA Homeschooling AB Home Bogor perlu diadopsi dan diadapsi oleh lembaga pendidikan lainnya untuk mengembangkan kemampuan literasi dan meningkatkan minat untuk ke perpustakaan.