Tren Baru Homeschooling Islam di Indonesia Era Pandemi
Universitas Ibn Khaldun
Abstrak
Konsep Pendidikan saatinimulairamaidiperbincankan. Takhanyakonsep Pendidikan formal yang menjadi pilihan banyak oran tua, tetapi juga ada sistem Pendidikan non formal dan informal. Homes chooling yang lebih dikenalL di sekolahrumahatausekolahberbasiskeluargamulaimenjadi trend barudalamkancah Pendidikan. Model Pendidikan alternatif yang memiliki basis keluargamulaibanyakdiminati dan sangatmenarikuntukdiamati. Hadirnyabeberapa homeschooling pada beberapatahunterakhir yang mengindentifikasidirinyasebagai Islamic homeschooling atau homeschooling yang menerapkankonsepdari, sehinggamenjadimenarikuntukdicatat. Makaartikeliniditulisyakniuntukmenjelaskansatu model Pendidikan yang didirikan oleh aktivismuslimuniversitas ,yakni homeschooling group khoiru ummah yang bertepat di Bogor. Hasil dariapa yang dilakukanpenelitian pada tulisan inimenunjukkanbahwaadabeberapahal yang menjadifaktor dan alasanterkaitdibentuknya homeschooling group khoiru ummah Bogor, diantaranya: (1) alasan ideologi, (2) alasan ketahanan keluarga, (3) alasan akademis, dan (4)alasan sosialisasi.
Keywords:
Homeschooling Islam
· Aktivis Muslim
· Tren Pendidikan Islam
· Era Pandemi
Introduction
Perubahan pada minatsekolahdalam dunia Pendidikan di Indonesia yang terjadi pada saat memasuki abad ke-21 menjadi awal munculnya sekolah rumah atuyngsaatinidikenaldengannama homeschooling (Loy Kyo, 2012: 17). Model Pendidikan di Indonesia selalumengalamiperubahantiapwaktuny. Sebelumnyahanyaadatiga model Pendidikan yang dikenal di Indonesia, yakni: model Pendidikan pesantren, model Pendidikan madrasah dan model Pendidikan sekolah (Steenbrink, 1996). Awal mula homeschooling adalahsebuahpernyataandari Amerika pada tahun 1970-an atasketidakpercayaanorangtuasaatituterhadapg agalnya Pendidikan yang dilakukn oleh sekolah formal yang saatitumenjadiprimadona Pendidikan nomorsatu. Ketidakpercayaanorangtuaatas Pendidikan formal setidaknyamengaju pada dua hal, yakniyakni moral dan religiositas. Hal initerjadikarenahasilsebuahpenelitianbahw Sebagian besaranak-anak di Amerika yang lebihmemilih homeschooling memiliki salah satuorangtua yang tidakmelakukanpekerjaan di luarrumah(Bielick,et al: 2001, 8),takhanya di Amerika, halini juga terjadi di belahan negara lain yakni: Kanada (Van Pelt, 2003: 33). Tidakhanyaitu, faktor lain yang mengikutinyaadalah Sebagian besaranak-anak di Amerika yang sekolah di homeschooling adalahberasaldarikeluarga yang memilikilebihdaritigaanak. (Basham, Merrifield, danHepburn, 2007: 12).Lisa Bergstrom (2012)mengatakanbahwasaat di perguruantinggi, dimanasaatdituntutnyakematanganpoladiri, makamenurutnyaanak-anak yang homeschooling akanmampulebihbaikdalamkinerjabelajarnya. Hal yang lain juga yang dibawa oleh Gerakan misionriske Indonesia melaluigerakanmisionaris Kristen selamakurangdari 25 bertahun yang lalu. Saatitubanyakkesulitan yang dialami oleh keluarga Kristen, salah satunyaadalahadaptasidalamberbahasa dan waktulamanyauntuktinggal di Indonesia. Duakesulitaninilh yang juga menjadialasanmengapaakhirnyamemilih homeschooling sebagai model Pendidikan untukanak-anakmereka. Dan halinilah juga yngikutsertamempengaruhi para keluarga lain di Indonesia untuksamamengikutilangkhtersebut(Loy Kyo, 2012: 14).Meskibegitualasansebenarnyaberkembang nya homeschooling di Indonesia amatsangatberbedadenganalasannyaberkemba ngnya model Pendidikan homeschooling di Amerika Serikat. Hadirnya model Pendidikan rumahatau yang dikenaldengn homeschooling terutama yang memiliki basis Pendidikan Islam di Indonesia adalahsebuahjawaban yang bermuladarikegamangan dan harapanbesarbagi para aktivismuslim di Indonesia atastidaktercapainyatujuan Pendidikan Islam yang telahlebihduluterjadi di pesantren, madrasah atausekolah-sekolah yang mengatasnamakandirisebagaisekolah yang berbasis Islam. Oleh karenaitu, didirikannya homeschooling oleh aktivismuslim di Indonesia diharapkanmampumenjadisolusialternatif yang ditawarkan, terlebihpada kondisisaatini. dimana Pendidikan dikembalikankerumahmasing- masingakibatpandemi yang terjadi di Indonesia khususnya dan seluruh dunia pada umumnya. Bukanhanyaitu, alasanglobalisasi juga ikutmenjadipengaruhmengapaaktivismuslim di Indonesia mendirikansebuahhomeshooling yang berbasis Pendidikan Islam, salah satualasannya juga adalahglobalisasi yang dianggapsebagaipemicupenyerangannilai-nilai Islam denganmenggunakansekulerisasiatausekuleris me(al-Attas, 1981: 20-23) halini juga turutmenyemarakkanIslamisasi Pendidikan, dan initentutidakterlepasdariperanaktivismuslimuni versitas yang bergabungdenganinstitusidakwahperguruantin ggidaribeberapagabungandari para aktivismuslim di berbagaiperguruan yang memilikisatutujuan dan harapan yang sama, yknimembenahikondisi Pendidikan di Indonesia. Para aktivismusliminiberakardariuniversitas negeri di Indonesia yang didukung oleh mahasiswa dan professional di kota-kota di Indonesia. (Claudina Nef, 2015: 186). Model pendidikan yang masihjauhdalammewujudkantujuan dan kekecewaansertakegelisahanmerosotnyakarakt ersiswaakibatdaridampakburukglobalisasiinila hmenjadialasanterkuat para aktivismuslimtersebutuntukmendirikansebuah Lembaga Pendidikan informal yang berbasiskeluarga dan nilai- nilaikeislamanmendirikan homeschooling group khoiru ummah. Yaknisebuah representative Pendidikan berbasisaqidah Islam yang bertujuanmelahirkangenerasipenghafalquran dan pemimpin masa depan. Untukitu tulisan inidibuatgunauntukmenganlisissecaramendalm tentng model Pendidikan homeschooling yang berbasis Islam juga menjabarkantentang homeschooling yang didirikan oleh aktivismuslim yang didirikanuntukmengisikekosongan pada peran yang dimainkan oleh pemerintahsebagai Lembaga yang paling berwenangmenjaga dan bertanggungjawabterhadapkaraktergenerasi.
Method
Tulisan ini akan menggunakan metode penelitian kualitatif, yakni penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting). Alasan menggunakan metode ini adalah peneliti bermaksud mendapatkan pemahaman secara lebih mendalam proses Pendidikan Islam Homeschooling sebagaitrenbaru Pendidikan Islam. Tulisan ini akan mengelaborasi mengenai trend baru tersebut. Bahasan dikaji secara kepustakaan (library research). Dan analisis dilakukan melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer yang diambildariberbgaisumberpustakaterkait model Pendidikan homeschooling Islam, darimulaisejarahkemunculannya dan alasanalasanmengapamulaidiminati di masyarakat. Serta menjadiparadigma model pendidikanalternatif yang menawarkansolusiataskegagalan Pendidikan formal. Setelah mendapatkansumber data dalampenelitian, makaselanjutnyaadalahdilakukanobservasi data ke homeschooling group Khoiru Ummah Bogor yang mengatasnamankandirisebagai homeschooling yang menerapkan Pendidikan Islam. Dari mulaitujuan, nilai-nilai yang internalisasikan sampi denganmetodepembelajara dan proses pembelajarasertaevaluasipenilaiannya. Terakhiradalahmenyimpulkan data dan observasi data daripenelitianini yang telahdiolahdenganmetodekualitatif. Bahwahomsechooling group khoiru ummah mampumenjadisolusilternatifuntuk dunia Pendidikan Islam terlebih pada masa pandemiini. msa Ketika Pendidikan Kembali kerumahmasing-masing, sehinggdalamkonsep Pendidikan Islam telahmengembalikanperanorangtuasebagaipen didikpertama dan utamabagianak-anaknya.
Result & Discussion
Dalam Islam, yang paling bertanggungjawabdalam proses pendidakananaknyaadalahorangtua, yakniibu dan bapaknya. Setidaknyaadaduaalasanmengapa Islam memberikantanggungjawaban Pendidikan kepadaorangtua. Pertamadilihatbahwasecara fitrah bahwaorangtuaditakdirkan oleh Allah untukmenjadiorangtuabagianaknya. Karena itusecarakodratnyaorangtuaadalahorangtuabagi anaknya. Dia yang Allah takdirkanatasamanahtersebut, sehinggakelakdialah yang paling berhakuntukmemberikanpertanggungjawabant ersebutkepadaanaknya. Keduabahwasebagai orang yang diberikanamanahpertanggungjawabankepadaa nakmakasudahpastiorangtuadiberikanperan dan fungsinya, dimana salah satuperan dan fungsinyasebagaiorangtuayaknimemberikan Pendidikan untukank-anaknya. Fungsi orang tua sebagai pendidik yang pertama dan utama terhadap anak-anaknya, seringkali tidak memiliki waktu yang leluasa dalam mendidik anak-anaknya. Selain karena kesibukan kerja, tingkat efektivitas dan efisiensi pendidikan tidak akan baik jika pendidikan hanya dikelola secara alamiah. Dalam konteks ini, anak lazimnya dimasukkan ke dalam lembaga sekolah. Ketika anak telah masuk bangku sekolah, orang tua hendaknya menyekolahkandi tempat yang mewakili visi dan misi yang sama dengan nilai-nilai atau keyakinan yang diajarkan di rumah. Sekolah yang dipilih hendaknya mampu mewakili orang tua untuk mendidik anak dalam mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya. Oleh karena itu, definisi pendidik pada titik seringkali hanya disematkan kepada mereka yang memberikan pelajaran peserta didik atau yang memegang suatu mata pelajaran tertentu di sekolah. Berawal dari pemahaman inilah akhirnya seringkali orang tua melepaskan peran dan tanggung jawabnya sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Landasan filosofi inilah yang kemudian perlu untuk menjadi rujukan dalam pemahaman mendidik anak. Sehingga di masa apapun orangtuaa yang hakikatnya sebagai Pendidik pertama dan utama tersebut memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik anak, membersamai anak menjadi anak yang sholih dan sholihah, sehingga kelak mampu mempertanggung jawaban amanahnya kepada Allah Swt. Orangtua mampu mendidik anaknya pada masa apapun, baik masa sebelum pandemi ataupun masa pandemi. Sehingga kejenuhan dalam belajar daring di rumah tidak menjadi beban orangtua yang tentunya akan berpengaruh terhadap minat dan motivasi belajar anak. Hal ini yang terjadi di Homeschooling Group Khoiru Ummah Bogor pada masa pandemi ini. Dimana bobot pembelajaran dikurangi, meski memang bobot pembelajaran di homeschooling terbilang sangat kecil dibanding sekolah formal atau non formal lainnya. Hal itu dilakukan adalah untuk mengurangi kesulitan orangtua dalam membersamai anak pada proses pembelajaran daring, termasuk di dalamnya membersamai anak dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh sekolah. Meski secara hakekat homeschooling adalah model Pendidikan rumah yang mengedepankan tugas utama orangtua sebagai pendidik dan memposisikan sekolah hanya sebagai partner orangtua, ada saja orangtua yang lalai dan kesulitan Ketika mereka benar-benar dihadapkan pada posisi dimana mereka betul-betul dijadikan pendidik pertama dan utama tersebut. Ketidak siapan atau banyaknya tugas dan prioritas lain menjadikan tanggung jawab seolah adalah beban baru di era pandemic ini. oleh karennya mengkristalkan filosofi menjadi penting, agar tanggung jawab bukan sebatas beban tapi ibadah yang harus ditunaikan dengan hati ynag bahagia. sehingga Ketika aura kebahagiaan itu memancar dalam diri orangtua,hal itu akan ikut menyalurkan energi positif untuk anak dan menumbuhkan minat dan motivasi anak dalam menempuh proses pembelajaran dan Pendidikan karena orangtua dan anak samasama ingin mencapai tujuan dari Pendidikan itu sendiri.Maka Homeschooling Group Khoiru Ummah Bogor, memilikisekiranyatigatujuan yang menjadialasanmengapakemudiandidirikan. Alasan utamanya adalah: (1) moral danalasan agama dan (2) alasan kesatuan keluarga, juga beberapa alasan lain seperti (3) alasan akademis,dan (4) alasan sosialisasi (Asmani, 2012: 68-72). Sekolah Dasar HomeschoolingGrup Khoiru Ummah Bogorberdiridilatarbelakangisebuahdiskusi tentang konteks globalisasi yang lebih luas, halinimembuat para aktivismuslimberfikirbahwa neoliberal sedangmencekeramtatanan dunia, haliniditentukandenganbanyaknyaarah dan keputusan yang tidaksejalansengan Islam. Baikdalamhalsosial, ekonomi, budaya dan politik. Perubahan-perubahan ini membentuk transformasi struktural (Winarno, 2011: xiv) situasisemacamminikemdinyngmencorong para aktivismuslimuntukmendirikan homeschooling yang berbasil Islam. Posisi homeschooling berbsis Islam tersebutdalhjlandnupyauntuk Bersama meningglknketerbelakangansertaketerbtasanm uslim yang linmenuju Pendidikan yang lebihmulia, yakni Pendidikan Islam. DisampaikanGnjarWasistobhwapendirian homeschooling Islam adalahwujuddari rasa empati yang amatbesar yang diberikan oleh aktivismuslimpergutuantinggiseiringdengnsem akinluasnyadampakburukdarinilai- nilaisekulerisme, liberalisme dan kapitalisme yang menjdinilainilai yang adadalamperdaban Barat. Dari hal di atas yang menjadilatarbelakangpendirinsetidaknyaadabe berapaperanserta homeschooling group khoiru ummah untukgenersi dan Pendidikan Islam, diantaranya: (1) menyelamatkan generasidarihancurnyapemikiran yang berujung pada kerusakan moral dan perilakumenyimpang. (2) Sebagaibentuktanggungjawabdariaktivismusli muntukmengopinikan Pendidikan Islam yang sesuaidengan Al Quran dan sunnah. (3) Bentuk kesadaran dan kepedulianaktivismuslimterhadapgenerasimusl im. Dalam model Pendidikan homeschooling yang berbasiskeluarga, makatanggungjawabdalam proses Pendidikan anakmenjaditanggungjawab yang harusdiemban oleh orangtua. Dalam Islam orangtuamemilikiperan yang sangat vital dalampendiidkannaknya, yknisebgipendidikpertma dan utamauntukanak-anaknya. Orangtua yang melahirkananak, orangtua yang mengajarkananakcaramakan, caraberjalan dan caraberbicara. Sehinggaorangtua juga yang memilikitanggungjawabuntukmendidikanakny amenjadianak yang shalih dan shalihah. Karena bagaimanapunanakadalahasetbagiorangtua dan merupakaninvestasiterbesarorangtuabaik di dunia ataupun di akhirat. Anak yang shlih dan shalihahakanmenjadisumberkebahagiaanuntuk orangtua di dunia dan menjadiperantaraorangtuauntukmasuksyurga di akhiratkelak. Oleh karenaitu, mendidikanakmenjadishalih dan shalihahadalahtanggungjawaborangtua yang sudahtertanamsejakanakmasihdalamkandunga n. Hal inimenjadiperingatbahwaperanmendidiktidakb isadialihkankepada orang lain. Sehinggaposisi guru di sekolahhanyalah partner orangtuadalammendidikanaksesuaidengantuju an Pendidikan dari sang penciptaanak, yakni Allah Swt. Makaberdirinya homeschooling berbasis Islam inimemilikiduasisi, yaknisisiuntukpesertadidik dan sisiuntukorangtua. Sisi uuntukpesertadidikadalahdenganberdirinya homeschooling Islam inidiharpknmmpumelhirkananak- anakyngsholih dan sholihahyngmemilikiakal yang cerdas dan jiwa yang sholih. Denganmenginternalisasinilai-nilai Islam dalam proses pendidikannyadihrapkanakanlahirgenerasipem impin yang mulia yang dapatmenyelamtkangenerasi dan dunia ini. pada sisiorangtuaadalahdenganberdirinya homeschooling yang berbasis Islam adalahmengembalikan fitrah orangtuasebagaipendidikank-anaknya, menjadikanorangtuaberperanaktifdalam proses Pendidikan anak, sehinggaturutmembantulahirnyagenerasishalih yang muliauntukmenciptakanperadaban yang mulia. Selainitu juga agar para orangtua yang belummemilikiilmuyngcukupdalammendiidka nakmengetahui dan memahamiilmudalammendidikanak, sehinggapahampolaasuhuntukanaknyadengant epat. Karena Homeschooling Group Khoiru Ummah tidakhanyamengajarkanilmukepadaanak, juga mengajarkanilmumendidikkepadaorangtua, halinidilakukan agar pendidikan yang diberikan di sekolahsejalandenganpendidikan yang diberikan di rumah, jikahalituterjadi, makaorangtua dan guru akansalingsinergidalammencetkanak- anaksesuaidengan output yang diharapkan. Sinergitasinikemudian yang akanmampumenciptakan hormone kerjasama yang aktifantaraorangtua di rumah dan guru di sekolah. Kesholihananakdalamhaliniakanmampumema ncartidakhanyauntukdirinyasebagaiindividuata uuntukkeluarganyaakantetapiuntukkomunitasb ahkanmasyarakat. Karena Homeschooling Group Khoiru Ummah bertekadmelahirkangenerasihafizhyngmemiliki karkterpemimpin. Selainitu, Homeschooling Group Khoiru Ummah juga memilikisisi yang lain dalamhalmenyelesikanmasalah yang terjadi pada anak, tentupenyelesaianmasalah yang dilakukantidakakanpernahdapatdilakukan oleh sekolah formal. Adapun permasalahanituadalah: (1) kasusuntukanak yang kesulitandalammemahamipembelajaraatauterla mbatdalammenangkappelajaran. (2) kasusuntukanak yang hiperaktif. (3) kasusuntukanak-anak yang kesulitandalambersosialisasidengnlingkungann ya. Kasus-kasusinitentuhanyabisadiselesaikan oleh Pendidikan berbasisrumah, Berkembangnya Islamic Homeschooling ini memang banyak diikuti oleh orang tua Muslim yang secara perekonomian telah mapan (kelompok ekonomi menengah ke atas). Hal demikian nampaknya membenarkan tesis yang dikemukakan oleh Michael R. J. Vatikiotis terkait kebangkitan kembali semangat keagamaan yang merupakan fenomena kelas menengah di wilayah-wilayah perkotaan (segmen masyarakat yang paling banyak tersentuh oleh pembangunan ekonomi dan perubahan sosial). Fenomena ini berpengaruh luas pada meningkatnya ketaatan beragama pada orang-orang Islam yang sedang menikmati kemakmuran sebagai kelas menengah. Kecintaan kepada Islam dari kalangan “kelas menengah” Muslim yang tengah tumbuh (muslim rising middle class), nampaknya seperti menemukan jawaban dari kegalauannya terkait efek negatif dari globalisasi pada eksistensi sekolah-sekolah Islam yang salah satunya adalah homeschooling. Kelompok ini berusaha untuk mendapatkan pendidikan Islam yang berkualitas bagi anak-anak mereka, dimana peserta didik tidak hanya bergumul dengan ilmu-ilmu yang penting untuk kehidupan masa kini di dunia, namun juga ilmu-ilmu dan amal Islam. Sintesa supply and demand yang demikian inilah nampaknya yang mendukung sekolah-sekolah Islam cepat sekali berkembang. Sintesa demikian berkembang dalam kerangka masyarakat yang digempur oleh perubahan sosial sehingga manusia membutuhkan agama sebagai tempat untuk kembali. Sebagai akibat dari hal ini, masyarakat kembali pada ketaatan beragama (religious devotion) senada dengan tesis yang dikemukakan oleh Naisbitt. Vatikiotis menguatkan bahwa telah terjadi gejala dislokasi sosial yang luas dan menghinggapi masyarakat yang sedang berubah cepat. Banyak orang kemudian kembali pada agamanya untuk memperteguh diri sebagai reaksi atas hancurnya tatanan nilai-nilai moral sosial tradisional yang terjadi di sekitar mereka. Setidaknya terdapat dua alasan yang menjadikan fenomena berdirinya Islamic Homeschooling yang salah satunya adalah Homeschooling Group Khoiru Ummah menjadi strategis di mata masyarakat secara umum. Pertama adalah terbentuknya pola baru dalam santrinisasi yang sejatinya juga terjadi dalam konteks sekolah-sekolah Islam elite lainnya. Pola santrinisasi ini setidaknya digambarkan dalam dua cara, (1) peserta didik dalam sekolahsekolah itu umumnya telah mengalami re-islamisasi. Hal ini karena disamping mempelajarai ilmu-ilmu umum, mereka juga mempelajari ilmu-ilmu Islam dengan proses penanaman ajaran dan praktikpraktik Islam yang lebih intens bila dilakukan dengan sistem asrama. (2) Peserta didik selanjutnya membawa Islam yang telah mereka pelajari dari sekolah ke rumah, dalam banyak kasus bahkan mereka mengajarkan kepada orang tua yang acapkali mengetahui lebih sedikit tentang Islam. Akibatnya agar tidak mengecewakan sang anak, mereka mulai mengundang guru privat untuk mengajarkan mereka tentang Islam. Pada kasus Homeschooling Group Khoiru Ummah, orang tua yang akan menyekolahkan putra/putrinya diwajibkan untuk mengikuti diklat orang tua yang bertujuan agar orang tua menguasai konsep pendidikan anak berdasarkan Islam serta memiliki kompetensi untuk mendidik anak sehingga ada kesinambungan pemahaman antara pendidikan anak di sekolah dan di rumah. Selain diklat pada awal penerimaan siswa baru, orang tua diwajibkan mengikuti parenting secara berkala. Dalam konteks ini, orang tua diposisikan sebagai guru pertama dan utama bagi anak-anaknya. Sekolah bahkan secara langsung memberikan bekal ilmu, bimbingan, dan arahan kepada orang tua untuk menjadi guru bagi anak-anaknya. Pembinaan orang tua yang dilaksanakan oleh homeschooling ini sejatinya karena sedari kemunculannya, homeschooling memang menempatkan orang tua sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Kedua, fenomena Islamisasi sistem dalam homeschooling. Hal tersebut karena model pendidikan homeschooling adalah sistem yang muncul pertama kali di Amerika, dengan muatan pendidikan yang berkembang di tengah masyarakat relijius berbasis dan cara pandang Kristen (Christian view of The World). Kemunculan sekolah-sekolah rumah di dekade 1970-an di Amerika sebenarnya juga lahir karena ketidakpercayaan orang tua terhadap pendidikan yang dilaksanakan di sekolah formal, minimal dalam dua hal yaitu standar moral dan relijiusitas.Gerakan yang sama juga terekspor ke Indonesia melalui para misionaris Kristen, kurang dari 25 tahun yang lalu. Kesulitan bahasa dan adaptasi yang dialami para keluarga misionaris ini, serta kemungkinan singkatnya waktu yang mereka lalui di Indonesia, mendorong mereka untuk menerapkan homeschooling bagi anak-anak mereka. Hal ini mempengaruhi beberapa orang di Indonesia untuk mengikuti jejak mereka. Sekalipun diikuti oleh sebagian kalangan di Indonesia, namun latar belakang hadirnya model sekolah rumah di Indonesia sedikit berbeda dengan alasan yang melatarbelakangi munculnya sekolah rumah di Amerika Serikat. Terlebih dalam Islamic Homeschooling, Islam menjadi landasan dasar dalam pengembangan kurikulum dan sistem pembelajarannya. Homeschooling Group Khoiru Ummahdapat menjadi sebuah lembaga pendidikan yang berkembang di Indonesia. Salah satu aspek yang mempengaruhi perkembangan lembaga pendidikan ini adalah perkembangan kelas menengah muslim di Indonesia secara umum. Kalangan kelas menengah muslim inilah yang menjadi segmen bagi berkembangnya Homeschooling Group Khoiru Ummah sebagai sebuah lembaga pendidikan. Alasan praktis untuk menjelaskan keterhubungan fenomena ini adalah : pertama, perkembangan kegiatan keagamaan di wilayah perkotaan secara umum, tidak bisa dilepaskan dari alasan-alasan bahwa manusia membutuhkan agama sebagai tempat untuk kembali sebagai akibat kemajuan peradaban yang jauh dari nilai-nilai agama dan gempuran perubahan sosial begitu pesatnya terjadi di perkotaan. Berawal dari kembalinya masyarakat pada ketaatan beragama inilah akhirnya dibutuhkan lembaga pendidikan keagamaan yang terintegrasi dengan modernitas, sehingga dapat diterima masyarakat urban. Gejala ini sebenarnya merupakan bentuk dari dari rekonstruksi baru mengenai makna Ketuhanan di tengah modernitas. Naisbiit dalam sebuah bukunya yang berjudul High Tech, High Touch: Technology and Our Search for Meaning (New York: Broadway, 1999)., yang dikutip oleh Wasisto menyebutkan bahwa kemajuan teknologi yang berkembang telah membuat manusia modern menjadi gamang. Dalam konteks inilah, lahir sekolah-sekolah Islam elite seperti jejaring lembaga pendidikan Homeschooling Group Khoiru Ummah. Kedua, secara ekonomis, untuk bisa mengikuti pembelajaran di sekolahsekolah elit tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dalam kasus Homeschooling Group Khoiru Ummah -yang secara kurikulum- siswa diwajibkan untuk dapat mengikuti kegiatan outing yang dilakukan tiap semesternya dengan cakupan yang berbeda-beda pada setiap jenjangnya. Semakin tinggi jenjang pendidikan, maka kegiatan outing yang dilakukan punya scope yang lebih luas. Pada jenjang SMA misalnya, siswa diwajibkan untuk bisa outing ke negara-negara di Asia. Pada jenjang SMP, siswa diwajibkan untuk bisa outing ke negara-negara Asia Tenggara. Hal ini juga berlaku untuk jenjang SD dan TK disesuaikan dengan pembelajaran yang telah ditetapkan sekolah. Kegiatan outing ini tidak lain bertujuan untuk menumbuhkan modal kultural berupa kemampuan kepemimpinan. Ketiga, kebutuhan akan modal kultural untuk mendapatkan posisi sosial yang lebih baik di masyarakat. Berkembangnya sekolah-sekolah elit ini sebenarnya mengafirmasi pemikiran Bourdieu yang dikutip Moeflich Hasbullah yang menyatakan bahwa untuk meraih dan mempertahankan posisi kelas dalam masyarakat, masyarakat modern tidak lagi mewariskan modal-modal material pada anak-anak mereka melainkan membekalinya dengan ‘cultural capital’ (modal kultural) berupa lingkungan belajar (keahlian komputer, kursus-kursus dll), nilainilai pendidikan atau mengirim anak-anak mereka ke sekolah-sekolah untuk mendapatkan posisi sosial yang lebih baik di masyarakat. Melalui transfer modal kultural ini, anak-anak modern akan memiliki sejumlah keistimewaankeistimewaan sosial sehingga dapat memasuki lingkaran-lingkaran elit masyarakat walaupun dengan absennya kekayaan individu. Seperti yang terjadi, perkembangan ekonomi masyarakat Muslim bertepatan dengan realitas sekolah Islam yang menawarkan pengajaran dan program pendidikan yang baik. Sekolah-sekolah ini menyediakan keterampilan dan pengetahuan teknis yang memungkinkan kelas menengah yang muncul untuk memperkuat atau mempertahankan status sosial dan pekerjaan mereka. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa kemunculan sekolah Islam elit disambut oleh banyak orang tua Muslim, pembuat kebijakan/pejabat pemerintah, dan pendidik. Berakar dari fenomena demikian inilah akhirnya sekolah-sekolah Islam elit (salah satunya Homeschooling Group Khoiru Ummah) tidak hanya mencukupkan diri pada pengembangan pemahaman keIslaman an sich, namun juga pengembangan pembelajaran sains, ditambah dengan kompetensi kepemimpinan yang terintegrasi dalam kurikulum pembelajarannya untuk membekali lulusannya terkait modal kultural yang sebelumnya telah dibahas berkelindan dengan fenomena kelas menengah muslim. Didasarkan pada alasan ini, tidak mengherankan jika anggota kelas menengah Indonesia (termasuk kaum Muslim), memilih untuk mengirim anakanak mereka ke sekolah umum dan swasta terkenal atau bahkan sekolah internasional untuk memberi mereka pendidikan yang unggul. Orang tua kelas menengah Muslim menginginkan agar anakanak mereka terdidik dan memiliki pemahaman yang komprehensif bidang keIslam-an. Pada titik ini, kalangan ini menginginkan anak-anak mereka memperoleh keunggulan moral dan kebesaran karakter dengan berada dalam lingkungan intelektual yang menguntungkan. Berdasarkan pada pemahaman inilah, diharapkan akan terbentuk kebahagiaan dalam kehidupan mereka. Dalam konteks penerjemahan, Sekolah Dasar Homeschooling Group Khoiru Ummah sebagai homeschooling dapat diartikan bahwa lembaga ini mempromosikan bentuk pendidikan informal. Padasaat yang sama posisi Sekolah Dasar Homeschooling Group Khoiru Ummah sebagai KomunitasLearning Center menempati posisi sebagai model pendidikan yang menekankan bentuk pendidikan non-formal.Bentuk pendidikan ini diartikan sebagai kegiatan pendidikan terorganisir yang diadakan di luar formalsistem pendidikan, secara mandiri, atau sebagai bagian penting dari sistem yang lebih luas, dengan tujuanmemberikan layanan khusus kepada para peserta atau untuk membantu mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran sehingga bisa cocokpersyaratan dan mampu mencapai tujuan pembelajaran (Kamil, 2009: 11). Sedangkan Komunitas BelajarPusat itu sendiri dapat diterjemahkan sebagai lembaga pendidikan yang lahir dari gagasan pentingnyaposisi masyarakat dalam proses pengembangan pendidikan non- formal.Community Learning Center lahir dari tantangn yang dihadapi oleh masyarakat yang berputarseputar masalah kegiatan ekonomi dan pendidikan seperti meningkatnya jumlah orang yang rentandaya beli, kemiskinan, tingginya angka buta huruf, masalah dalam realisasi pendidikan dasar 9 tahun,angka putus sekolah yang tinggi, jumlah orang yang tidak bersekolah, pendidikan keterampilan yang dibutuhkan (hidupketerampilan) untuk orang dewasa, dan berbagai layanan pendidikan yang tidak dapat dilayani melalui pendidikan formal(Kamil, 2009: 82). Selain itu, ada juga kekhawatiran terkait dengan proses globalisasi yang melandanegara dunia ketiga termasuk internalisasi nilai-nilai yang seringkali tidak sesuai dengan caramemikirkan negara-negara dunia ketiga dan juga pemikiran Islam aktivis Islam di Indonesia (Wasisto,20 Desember 2016).Menurut GW, konsep kelompok homeschooling dipilih karena beberapa alasan seperti:pertama, karena implementasi kurikulum yang lebih fleksibel yang dapat disesuaikan dengan perkembanganpeserta didik. Dalam pola pendidikan di Sekolah Dasar Kelompok Homeschooling Khairu Ummahditerapkan kurikulum yang berbeda untuk peserta didik, setidaknya ada tiga tingkat pengembangan peserta didik yangtidak mengabaikan kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh peserta didik. Untuk pelajar yang bisa mengikuti dengan pola pendidikan yang cepat, mereka memberikan materi pengajaran yang lebih cepat pada waktu-waktu tertentu oleh guru pendamping, sepertijuga siswa yang mengikutinya media, atau standar. Dengan menggunakan pola seperti itu, siswa berkembang disesuai dengan kemampuan mereka untuk menerima bahan ajar dan tidak diperlakukan sama antara satu dan yang lainlainnya. Contoh kegiatan yang digunakan dalam sistem ini adalah pembentukan kerangka Islam siswapemikiran yang dilakukan dengan gaya klasik dan ditambah dengan pendekatan personal. BerdasarkanPerkembangan kepribadian dan cara berpikir Islami di sini, semoga anak-anak bisa berkembangkemampuan sendiri sesuai dengan minatnya (Wasisto, 20 Desember 2016 dan Junani, 18 Desember 2016). Alasan kedua adalah karena pengelolaan kegiatan dan kebutuhan lain dapat dikelolabersama antara orang tua. Contoh kegiatan yang dapat dikompromikan bersama adalah olahragakegiatan, kegiatan seni, kegiatan sosial yang sering dilakukan di ekstrakurikuler pada hari Jumat.Ada juga kegiatan keagamaan yang bisa dilakukan bersama setiap hari, seperti sholah (sholat) duhadan dhuhur. Selain itu, operasional pendidikan juga bisa dilakukan bersama. Meskipun demikian, yang utamaPoin dari homeschooling adalah kehadiran orang tua dalam pendidikan anak-anak mereka. itu disajikan menggunakanpola kerja sesuai di rumah (Wasisto, 20 Desember 2016).Berdasarkan terjemahan tersebut,Homeschooling Group Khoiru Ummah kemudian memantapkan dirinya sebagai model non-formalpendidikan dan informal sekaligus. Model pendidikan nonformal seperti dalam konteks KomunitasLearning Center, secara kelembagaan model pendidikan di luar pendidikan formal, informal seperti dikonteks pentingnya homeschooling sebagai upaya seumur hidup dalam pendidikan tinggi yang melibatkan keluargadan lingkungan (Wasisto, 20 Desember 2016)Kurikulum Pendidikan Sekolah Dasar Homeschooling ini bertujuan untuk menentukan konsep umum kurikulum pendidikan diGrup Sekolah Dasar Homeschooling Khoiru Ummah. Dengan melihat desain umumnyakurikulum, diharapkan memperoleh gambaran umum tujuan yang ingin dicapai dalamKelompok Sekolah Dasar Homeschooling Khoiru Ummah, gunaterbentuknyakurikulum yang ideal yang mapumenghasilkan output yag ideal pula. Kurikulum di Sekolah Dasar Homeschooling Group Khoiru Ummahmemilikitigakompetensi, yaknikompetensidasar, kompetensi inti dan kompetensipenunjang. Perbedaanndariketgakompetensiiniadalahdiant arnya: bobotpembelajaran, seperti jam pelajaran, dan juga perbedaandalamsisimatapelajaran. Masingmasingmatapelajaranada yang masukkedalamkompetensidasar, kompetensi inti dan juga ada yang masukkedalamkompetensipenunjang. DasarKompetensi: 1. Tahfidhul Qur'an 2. Bahasa Indonesia 3. Bahasa Arab IntiKompetensi 1. Tsaqofah Islam 2. Baca dan Tulis Qur'an 3. Tahsinul Qur’an, 4. Aqidah Islam, 5. Syariah (Ibadah Mahdloh, Akhlak, Mu'amalah), 6. Dakwah Islam, 7. Siroh Nabawiyah 8. Tarikh Islam. 9. Mahfudzot KompetensiPenunjang 1. Sains 2. Matematika 3. Geografi 4. Ekstrakurikuler: olahraga, praktik sains, matematika, eksperimen geografi, kunjungan lapangan dan pelajaran Bahasa Inggris. Kurikulum di Sekolah Dasar Homeschooling dirancang untuk menanamkan karakter Islamdengan model kurikulum terintegrasi. Model ini menekankan pada istilah "reposisi pembelajaranpengalaman ke dalam konteks yang bermakna ”(Zubaidi, 2008: 264) atau dapat didefinisikan sebagai pengaturanintegrasi berbagai mata pelajaran materi melalui tema lintas bidang studi untuk membentuk satu kesatuan yang utuh. Ituberarti bahwa batas antara bidang studi yang berbeda tidak ketat atau tidak ada (Wasisto, 20Desember 2016). Semoga dengan menggunakan kurikulum ini, siswa dapat mempelajari nilai-nilai khuluqiyah(Nilai karakter Islam) tidak hanya pada pelajaran moral, tetapi juga pada mata pelajaran Islam lainnya, bahkan lainnyapelajaran umum. Model kurikulum terpadu ini pada akhirnya membutuhkan pembentukan pembelajaran yang terintegrasidengan fokus pada kegiatan kelas yang diselenggarakan dengan cara yang lebih terstruktur, mulai dari tema tertentu atau subjek tertentu sebagai titika pusatnya (inti pusat / pusat minat) suatu kurikulum. Secara tidak langsung, inimenjadi nilainya yang berbeda dari institusi homeschooling lainnya. Sekolah DasarKelompok Homeschooling Khoiru Ummah sebenarnya menekankan pada nilai tidak berwujud daripada nilai nyata.Keberhasilan dalam mempromosikan nilai tidak berwujud dapat dilihat dari kebermaknaan belajar itudapat dilihat oleh para pemangku kepentingan, dalam hal ini adalah orang tua / wali siswa. Kelebihan inikurikulum bisa terlihat dari perubahan signifikan pada peserta didik. Pada saat yang sama, selainaspek kognitif dan psikomotorik, itu juga tertanam aspek kebajikan (aspek afektif) pada peserta didik(Yunani, 25 Desember 2016). Keberhasilan pendidikan lebih terbukti pada nilai-nilai tidak berwujud, karenaSecara konseptual, kurikulum dirancang untuk mewujudkan pembentukan karakter Islami pada peserta didik. Sehinggadenganapa yang telahdipaparkan di atasHomeschoolig Group Khoiru Ummah adalahupayanyamengintegralkandirisebagai homeschooling Islam telahmenanamkankonsep Pendidikan Islam dalamsetiapelemen yang di dalam Lembaga pendidikannya. Baikdarisegikurikulum, materi ajar, proses pembelajaransampaikepadaevaluasimerupakan strategi yang dilakukanHomescholing Group Khoiru Ummah mengeksistensikandirisebagai Lembaga Pendidikan Islam Informal. Kematangandarisisikonsepsi Islam dalamnilainilai yang diterapkan di dalamnyasetidaknyaadalahbentuksolusi yang ditawarkankepada para orangtuaatastantangan dunia Pendidikan hariini. terlebih masa pandemi yang saatinitengahterjadi. Meskisecara proses pembelajarndilakukansecara daring, akantetapinilaidnfilosofikeislamantetaplahtida ktergeruskondisi. Justrupengembalinperan Pendidikan kepadaorangtuamenjadisatukesatuan yang memangsaatiniterjadidalamrealitaskehidupan.
Conclusion
Berdasarkan diskusi, hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap HomeschoolingKelompok Khoiru Ummah Bogor dapat disimpulkan bahwa pendirian lembaga ini untuk beberapa orangalasan utama: (1) alasan moral dan agama, yang menjelaskan tentang keinginan Muslim yang tidak terpenuhiaktivis di Indonesia terhadap program pendidikan Islam yang ada di Indonesia, seperti pesantren,madrasah, dan sekolah, untuk membentuk pelajar yang ideal, serta masalah yang melanda negara-negara dunia ketiga jugaefek globalisasi, (2) alasan kesatuan keluarga, yang menggambarkan harapan bahwamodel pendidikan homeschooling dapat mengembalikan peran orang tua sebagai pendidik untuk anak-anak mereka, (3)alasan akademis, homeschooling diharapkan dapat membantu anak-anak dengan kesulitan belajar atau ketinggalanbelajar karena masalah khusus tertentu pada siswa dan keluarga seperti siswa yang lambat belajar dan siswa yang hiperaktif dan (4) alasan sosialisasi, homeschooling diharapkan dapat memberikan solusi bagi siswa.masalah yang berkaitan dengan siswa yang sulit bersosialisasi dengan lingkungannya. Namun demikianalasan paling menonjol pendirian lembaga ini adalah karena alasan moral dan agama.Sehingganilai-nilai yang dibawadalamlembaa Pendidikan inisanatsesuaidenankondisi yang tengahdihadapi. Sehinggastrategi yangdilakukandapatmenjawatantangan yang saatinitengahdihadapi.