Kembali
16
1
2017 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 9 · 2 ISSN 2502-4108

PERKEMBANGAN PENERBITAN JURNAL OPEN ACCESS DALAM MENDUKUNG KOMUNIKASI ILMIAH DAN PERANAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI

Sekolah TInggi Agama Islam Negeri Watampone

Abstract

This article discusses about the development of Open Access (OA) journal publishing in supporting scholarly communication as well as the main role of academic libraries and librarians in supporting OA movement. The discussion begins with a brief history of scholarly communication followed by the current development and the future of OA journal publishing. The last part of the article deliberates the role and support of academic libraries and librarians to scholarly communication and OA movement.
Keywords: Open Access · komunikasi ilmiah · perpustakaan perguruan tinggi · penerbitan jurnal

Introduction

Sekitar akhir abad ke-20, penerbitan jurnal sebagai salah satu bentuk komunikasi ilmiah (scholarly communication) mengalami masa krisis (serials crisis) yang ditandai dengan meroketnya biaya berlangganan jurnal1. Kuatnya kendali penerbitan ilmiah di tangan para konglomerat penerbitan komersial yang berakibat melemahnya kekuatan penerbit berbasis nir-laba dianggap sebagai penyebab utama dari krisis ini. Pesatnya komersialisasi penerbitan jurnal ilmiah serta naiknya biaya penerbitan pada saat itu membuat jurnal ilmiah semakin sulit diakses. Akhirnya, kemampuan perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya menurun seiring dengan melemahnya kemampuan untuk melanggan jurnal2. Pada saat yang sama, perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mulai menunjukkan dampak yang nyata terhadap perkembangan penerbitan ilmiah. Penyebaran dan penyimpanan dijital informasi ilmiah, termasuk, e-jurnal, membuka peluang penyediaan konten informasi dengan biaya murah dengan mengurangi biaya yang berkaitan dengan pencetakan dan distribusi hard copy. Perkembangan TIK juga membuka potensi untuk mengabaikan peran penerbit tradisional dengan menyajikan jurnal online langsung kepada pembaca. Akibatnya kemudian adalah berkembangnya konsep penerbitan Open Access (OA), sebuah strategi yang dikembangkan dan didukung oleh jaringan ilmuwan, penerbit, dan pustakawan sebagai solusi atas terjadinya krisis jurnal ilmiah. OA dianggap sebagai sebuah solusi yang strategis karena memungkinkan tersedianya “akses online terbuka” untuk karya ilmiah3,4. Berkaitan dengan hal di atas, tulisan ini akan memaparkan sekilas tentang perkembangan penerbitan jurnal OA dalam mendukung proses komunikasi ilmiah serta peran yang dapat dilakukan oleh perpustakaan dan pustakawan. Sekilas Sejarah Perkembangan Komunikasi Ilmiah Komunikasi ilmiah merupakan tradisi yang telah lama dibangun dan dilestarikan oleh para ilmuwan sejak dulu. Tradisi ini secara sederhana merupakan proses komunikasi para ilmuwan dalam rangka menyebarkan dan melestarikan hasil pemikirannya. Dengan berkaca pada perkembangan komunikasi ilmiah sekarang, Mukherjee5 mendefinisikan komunikasi ilmiah sebagai “sebuah proses di mana hasil-hasil penelitian disebarkan melalui kegiatan publikasi dan pelestarian”. Dengan menggunakan berbagai macam media komunikasi, ilmuwan melaksanakan tradisi ini dengan membagi, menyebarkan, dan mendiskusikan ilmu pengetahuan dan hasil penelitian baik secara formal maupun informal sehingga mereka dapat mempelajari kembali, menganalisa, dan mengkritik hasil penelitian sebelumnya untuk kemudian mengembangkan inovasi baru dan melanjutkan penelitian berdasarkan hasil penelitian sebelumnya. Komunikasi ilmiah yang baik akan mendatangkan manfaat jika ilmu pengetahuan bertumbuh dan berkembang secara berurutan. Sebuah metafora yang dipopulerkan oleh Newton bahwa ilmuwan itu sesungguhnya “berdiri di atas bahu para raksasa”6 paling tidak menggambarkan bahwa hubungan yang erat antara ilmuwan kontemporer dengan para pendahulunya hanya dapat terjalin melalui komunikasi ilmiah yang efektif. Pada awalnya, komunikasi di kalangan ilmuwan cenderung berbentuk informal. Ilmu pengetahuan dan informasi disebarkan melalui diskusi dan dialog secara tatap muka yang hasilnya kemudian menyebar dari mulut ke mulut. Komunikasi ilmiah dengan model ini kemudian mendorong terbentuknya komunitas ilmiah (scientific society) seperti Royal Society yang didirikan tahun 1662 di London dan masih eksis hingga saat ini. Kegiatan komunitas ilmiah seperti inilah dulu yang menjadi cikal bakal terbentuknya model komunikasi ilmiah yang lebih formal seperti penerbitan jurnal. Salah satu jurnal yang seringkali disebut sebagai jurnal yang pertama lahir adalah Journal des Savant diterbitkan di Paris pada tahun 1665, kemudian disusul dalam waktu yang hampir bersamaan oleh Philosophical Transaction, diterbitkan oleh Royal Society. Melalui bentuk komunikasi ilmiah seperti inilah penemuan dan hasil-hasil penelitian disebarkan, di-review oleh kalangan sejawat, diakui, dan diarsip secara permanen. Sejak itu kegiatan penerbitan jurnah ilmiah secara luas menjadi bentuk formal komunikasi ilmu pengetahuan dan komunikasi antar ilmuwan.7, 8 Komunikasi ilmiah kemudian berkembang dengan pesat. Penerbitan ilmiah bermunculan di mana-mana. Derek de Solla Price, yg dikutip oleh Francke9, merumuskan teori dari hasil pengamatannya bahwa “jumlah jurnal ilmiah bertambah sekitar dua kali lipat dalam tiap kurun waktu 15 tahun”. Pertumbuhan eksponensial jurnal berdampak terhadap menurunnya tingkat penyebaran dan jumlah pelanggan jurnal, dan pada akhirnya menekan penerbit untuk menaikkan harga jurnal demi menutupi biaya produksi. Naiknya harga jurnal membuat perpustakaan kesulitan dalam melanggan jurnal ilmiah baik dalam bentuk cetak maupun elektronik10. Pihak penerbitan komersial kemudian menawarkan “Big Deals” (pembelian dalam bentuk paket jurnal digital) yang memungkinkan perpustakaan untuk melanggan jurnal dengan harga yang relatif lebih murah tapi merugikan karena seringkali paket pembelian mencakup jurnal yang tidak dibutuhkan atau tidak sesuai dengan kebutuhan pelanggannya11. Dalam beberapa dekade terakhir perkembangan teknologi informasi turut memacu kemampuan para ilmuwan untuk berkomunikasi lebih intens, interaktif, dan global. Munculnya Internet dan World Wide Web mendorong transformasi bentuk komunikasi ilmiah formal maupun informal. Para ilmuwan sekarang dapat menyebarkan hasil penelitiannya melalui jaringan online, mengirimkan e-mail kepada individu maupun kepada kelompok peneliti di seluruh dunia, serta menggunakan media sosial untuk menyampaikan hasil penelitiannya kepada masyakat luas. Pada jalur formal, komunikasi ilmiah secara berangsur-angsur beralih dari media cetak ke media elektronik, yang diistilahkan oleh Harnad12 “scholarly skywriting”. Teknologi informasi memungkinkan penyebaran tulisan ilmiah dalam bentuk digital melalui jaringan global lebih cepat dan lebih hemat dibandingkan dengan penyebaran tulisan dalam bentuk cetak. Kronologi penerbitan jurnal elektronik yang dibuat oleh Peter Suber13 menunjukkan bahwa sejak tahun 1966 perkembangan teknologi informasi telah memungkinkan artikel ilmiah diakses secara online. Pada tahun 1991, tidak lama setelah diluncurkannya World Wide Web, Paul Ginsparg membangun server arXiv (http://arxiv.org ) di mana para peneliti dapat mengarsipkan secara mandiri karya ilmiah mereka. Repositori arXiv merupakan pionir lahirnya berbagai pangkalan data karya ilmiah dengan model akses terbuka, yang sebagian besar dibangun oleh perguruan tinggi atau pusat penelitian sebagai sarana pengarsipan karya ilmiah yang mereka hasilkan14. Berbagai macam repositori ini menujukkan bagaimana kemajuan teknologi informasi dapat dimanfaatkan lebih lanjut untuk membentuk layanan komunikasi ilmiah dengan biaya yang lebih hemat. Dengan mempertimbangkan kemampuan jaringan elektronik dalam memperluas tingkat akses (accessibility) informasi ilmiah dan untuk menemukan solusi terhadap merebaknya krisis pembelian jurnal (affordability) pada pertengahan tahun 1990-an, para peneliti dan pustakawan memiliki ide untuk membebaskan penerbitan ilmiah dari dominasi penerbit komersial. Alhasil, konsep penerbitan dengan model OA muncul sebagai sebuah gerakan di awal tahun 2000-an , diawali dengan lahirnya Budapest Open Aceess Initiative (BOAI) pada Februari 2002; Bethesda Statement on Open Access Publishing pada bulan Juni 2002; dan Berlin Declaration on Open Access to Knowledge in the Sciences and Humanities pada bulan Oktober 20031516. OA menurut salah seorang pendukung fanatiknya, Peter Suber, didesain untuk “membuat hasil penelitian dapat diakses secara online tanpa hambatan biaya dan hampir tanpa hambatan perizinan”17, sementara Stevan Harnad mendefinisikannya secara ringkas sebagai “akses online gratis” . Dalam deklarasi BOAI, ada dua strategi yang direkomendasikan untuk mencapai tujuan OA bagi literatur ilmiah: pengarsipan mandiri (self-archiving) dan jurnal OA (Open Access journals)18. Strategi yang pertama mengharapkan agar para ilmuwan menyimpan artikelnya yang belum diterbitkan atau yang telah diterbitkan di repositori atau pangkalan data online, termasuk di website pribadi. Strategi yang kedua adalah menciptakan sebuah generasi jurnal baru yang memiliki komitmen untuk membuka akses sepenuhnya dan mendukung jurnal-jurnal yang memilih untuk beralih ke model OA19,20. Strategi yang pertama tadi lazim disebut „green‟ OA sementara yang kedua dikenal dengan istilah „gold‟ OA. Perkembangan Open Access Saat ini, dalam usianya yang memasuki dekade ketiga, gerakan OA seakan berada di persimpangan jalan. Kedua strategi, green dan gold, yang direkomendasikan sejak awal dan kelihatan saling mendukung satu sama lain sekarang seakan saling berkompetisi. Beberapa pendukung OA bahkan berselisih paham tentang strategi mana yang lebih utama untuk mencapai tujuan OA. Stevan Harnad21, misalnya, lebih mendukung strategi green untuk mencapai tujuan OA, sementara Michael Eisen22, salah seorang pendiri PLoS, kelihatannya lebih mendukung strategi gold. Ada dua tantangan utama yang dihadapi oleh penerbitan model OA yaitu model pembiayaan dan kualitas penerbitan. Yang pertama berkaitan dengan pemasukan dana dari pelanggan dan biaya penerbitan yang dibebankan kepada penulis. Model pembiayaan beberapa jurnal „gold‟ OA menghendaki penulis untuk membayar Article Processing Cost (APC). Dengan adanya APC maka masalah „affordability‟ (keterjangkauan biaya) yang dikeluhkan sejak awal tidak terselesaikan karena APC ini sekedar mengalihkan beban biaya dari pembaca ke penulis artikel23,24. Model pembiayaan ini awalnya diperkenalkan oleh Vitek Tracz ketika dia membangun BioMed Central (BMC), penerbit OA pertama dengan model “author pays” (penulis membayar). Tracz adalah seorang pengusaha dan tentu saja tujuan utamanya berorientasi bisnis. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan ketika dia kemudian menjual BMC ke penerbit besar Springer25. Variasi lain dari model berbasis APC adalah “hybrid system” (sistem campuran) yang memberikan kesempatan kepada penulis untuk memberikan akses terbuka kepada pembaca artikelnya di jurnal berbayar dengan membayar sejumlah biaya. Hal lain yang menjadi tantangan penerbitan OA adalah persoalan pelestarian atau penyimpanan arsip karya ilmiah. Salah satu layanan yang ditawarkan oleh penerbit komersial, selain distribusi artikel, adalah pemeliharaan dan pelestarian hasil penelitian. Kelestarian karya ilmiah pada jalur penerbitan OA seringkali diragukan26. Di antara usaha yang dilakukan untuk memecahkan masalah ini adalah LOCKSS (Lots Of Copies Keep Stuff Safe) Program yang ditawarkan oleh Perpustakaan Stanford University. Sayang sekali layanan ini berbayar dengan biaya terendah untuk level perguruan tinggi kecil tingkat sarjana (per Juli 2017) adalah $2,489 per tahun (https://www.lockss.org/join/). Kualitas jurnal OA dan artikelnya juga diragukan, umumnya atas alasan bahwa jurnal OA memiliki standar review dan pengeditan yang rendah dibanding jurnal komersial. Seorang jurnalis bernama John Bohannon27 pernah menguji proses peer-review jurnal OA dengan membuat artikel palsu berkualitas rendah dan mengirimkannya ke beberapa jurnal OA yang terdaftar di DOAJ. Hasilnya cukup meyakinkan bahwa proses review artikel tidak dilakukan dengan baik. Akan tetapi, perlu kiranya menjadi catatan bahwa kualitas review yang rendah juga terjadi pada beberapa jurnal ternama di bawah penerbit-penerbit internasional yang bereputasi28. Sebuah laporan yang disusun oleh Archambault, Carusso, dan Nicol29 memaparkan berbagai hasil studi terkait dengan kekuatan dan kelemahan OA. Di antara kelemahan OA yang dilaporkan adalah: 1. Kurangnya kesiagaan terhadap OA Pendukung OA kelihatannya masih kurang berhasil meyakinkan para ilmuwan dan peneliti akan pentingnya OA. Beberapa hasil survey yang dikutip oleh Archambault jelas menunjukkan bahwa tingkat kesiagaan dan pengetahuan peneliti mengenai OA masih terhitung rendah. Kesiagaan ini penting karena berdampak secara langsung pada jumlah deposit yang masuk di repositori atau jurnal OA. 2. Kualitas artikel OA Hal ini berkaitan dengan tidak adanya proses peer review atau pun jika ada pelaksanaannya dianggap seadanya, terutama untuk artikel atau karya ilmiah yang diunggah di repositori. Beberapa model peer review telah dicoba. Misalnya, open peer review: ResearchGate di mana penulis mengetahui orang yang me-review artikelnya. 3. Prestis Jurnal OA dianggap kurang memiliki prestis dibanding jurnal komersial. Hal ini tentu saja terjadi karena jurnal komersial umumnya telah lama malang melintang di dunia penerbitan sehingga memiliki reputasi, bahkan penerbitnya telah menciptakan sistem metrik yang diadopsi oleh pemerintah, perguruan tinggi, dan para ilmuwan sebagai standar kualitas jurnal dan penilaian hasil penelitian. 4. Penerbit Pemangsa Dampak dari model pembiayaan „gold‟ OA yang mengharuskan penulis membayar biaya penerbitan artikel, Article Processing Cost (APC), telah membuka peluang munculnya penerbit pemangsa. OA telah diekploitasi oleh penerbit pemangsa untuk mendapatkan keuntungan dari penulis yang kurang berpengalaman dengan menciptakan jurnal berkualitas rendah. Sesungguhnya hal seperti ini juga telah lama menjadi masalah dalam dunia penerbitan ilmiah. Penerbitan seperti ini populer dengan sebutan „vanity publishing‟. 5. Hak cipta Richard Poynder30 dalam artikelnya menganggap persoalan ini sebagai masalah besar yang diremehkan oleh para pendukung OA. Model perlindungan hak cipta yang menjadi pilihan pendukung OA, yaitu Creative Commons, kelihatannya tidak dapat melindungi para penulis secara maksimal dari pihak lain yang ingin menarik keuntungan dari karya mereka. Persoalan hak cipta ini, menurut Anderson31, disebabkan oleh tidak adanya kesepakatan di antara berbagai pihak mengenai definisi OA itu sendiri. 6. Pembayaran bagi penulis Pembebanan biaya pengelolaan artikel bagi penulis tentu saja memberatkan terutama mereka yang berasal dari negara berkembang di mana dana riset tidak mudah didapatkan dan jumlahnya tidak sebesar di negara maju. Biaya APC jumlahnya tidak sedikit. Di salah satu jurnal besar OA, Public Library of Science (PLoS), misalnya, biaya APC untuk sebuah artikel tidak kurang dari 15 juta rupiah. Selain memberatkan, pembayaran bagi penulis, APC membuka peluang terjadinya bias dalam proses peer review karena pembiayaan jurnal bergantung pada pembayaran penulis, sehinggga membuka peluang jurnal pemangsa sebagaimana yang diungkap di bagian awal. Akan tetapi, beberapa penerbit OA menawarkan keringanan biaya bahkan penghapusan biaya bagi penulis yang berasal dari negara berkembang. Di samping itu, dua per tiga dari total jurnal yang terdaftar di DOAJ itu tidak memungut biaya sama sekali dari penulis. Hal ini membuktikan bahwa Gold OA tidak selalu berarti penulis harus membayar. Meskipun menuai kritik dan sikap skeptis, gerakan OA tetap berlanjut. Berbagai organisasi dan individu tetap berjuang dan berusaha agar karya ilmiah dapat diakses secara bebas. Pada website Direktori OA (http://oad.simmons.edu/oadwiki/Main_Page), terdapat lebih dari 200 organisasi yang terdaftar sebagai organisasi yang mendukung OA. Organisasi itu antara lain: 1. SPARC (the Scholarly Publishing and Academic Resources Coalition): organisasi yang berbasis di Washington DC ini dibentuk oleh Association of Research Libraries pada tahun 1998. Organisasi ini merupakan kolaborasi antar perpustakaan, penerbit, penyandang dana, dan pihak lain untuk berbagi karya ilmiah dan materi pelajaran dengan lebih dari 200 anggota dari US dan Kanada, dan memiliki cabang di Eropa, Afrika, dan Jepang dengan anggota sekitar 600 perpustakaan dan lembaga penelitian (http://sparcopen.org/who-we-are/ ). 2. OASPA (Open Access Scholarly Publishers Association): organisasi ini merupakan perkumpulan para penerbit pendukung OA dengan mengembangkan model bisnis, perangkat, dan standar yang tepat untuk mendukung penerbitan OA (http://oaspa.org/ ). 3. AOASG (Australasian Open Access Strategy Group): organisasi ini merupakan salahsatu contoh dari sekian banyak organisasi nasional/regional yang dibentuk untuk mendukung, bekerjasama, menjaga kesiagaan, memandu dan membangun kapasitas OA untuk semua karya ilmiah di Australia dan New Zealand (http://aoasg.org.au/ ). Perlu kiranya menjadi catatan bahwa gerakan global yang mendukung penerbitan ilmiah OA juga memicu kegiatan serupa yang tidak lazim, bahkan bias dianggap menyimpang. Pada tahun 2011, seorang mahasiswi asal Kazakhstan, Alexandra Elbakyan, membangun sebuah pangkalan data, Sci-Hub, yang menyediakan akses bebas ke jutaan karya ilmiah yang dibajak dari penerbit-penerbit literatur ilmiah komersial32,33. Meskipun berbagai kalangan menyebut hal ini sebagai tindakan ilegal, atau kadang disebut “black OA”, meminjam istilah Bjork , data dari Sci-Hub menunjukkan bahwa para pengunduh artikelnya berasal dari berbagai belahan dunia. Bahkan beberapa di antaranya justru berasal dari negara-negara yang terbilang makmur seperti Amerika Serikat dan beberapa negara maju dari benua Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa motif untuk mengunduh artikel bajakan bukan didorong oleh faktor ekonomi tapi cenderung demi kemudahan dan kenyamanan34. Di bulan Nopember 2013, dua orang mahasiswa, Joseph McArthur dan David Carrol, (http://www.openaccessbutton.org ) meluncurkan Tombol OA sebuah tool berbasis browser yang dapat digunakan untuk membantu pemakai menemukan akses alternatif artikel berbayar atau mengajukan permohonan akses ke penulis artikel secara langsung35. Akan tetapi, tidak semua pihak sepakat dengan konsep OA. Model green misalnya dikritik karena kurangnya kendali kualitas, tidak ada proses pengeditan dan review pada saat proses pengarsipan mandiri dilakukan. Sementara model gold dikritik karena mengharuskan penulis untuk membayar biaya penerbitan, yang kemudian menjadi celah bagi munculnya penerbit pemangsa3637. Penerbit pemangsa adalah penerbit yang menerbitkan jurnal berkualitas rendah dengan tujuan semata untuk mendapatkan keuntungan dengan membebankan biaya besar bagi para penulis. Di antara orang-orang yang menentang gerakan OA adalah Jeffrey Beall, seorang pustakawan dari University of Colorado, Denver, yang dikenal dengan blog-nya yang didedikasikan khusus untuk mengkritik gerakan OA. Di antara kritiknya, beliau antara lain menuding bahwa model pembiayaan OA memicu munculnya penerbit pemangsa38. Meskipun demikian, dalam sebuah wawancara dengan Wilson39, Beall menunjukkan bahwa dia sesungguhnya tidak menolak mentah-mentah ide pembebasan akses untuk karya ilmiah, beliau hanya tidak setuju dengan model pembiayaan green dan gold yang ditawarkan oleh gerakan OA. Beall bahkan mengusulkan perlunya untuk memikirkan kembali bagaimana sebaiknya penditribusian karya ilmiah dan mendukung model pembiayaan alternatif yg disebut „platinum OA‟, yaitu sebuah konsep penerbitan jurnal OA tanpa memungut biaya dari penulis (non-APC Gold OA). Akan tetapi, Harnad menolak penggunaan istilah Platinum OA dengan alasan bahwa istilah Gold OA sudah mencakup berbagai varian jurnal OA40. Sementara itu, usaha dan gerakan OA telah berkembang hingga level di mana OA tidak hanya berkaitan dengan persoalan bagaimana membuat artikel ilmiah bebas akses, tapi juga tentang distribusi dan akses bebas buku ilmiah. Saat ini, ada banyak organisasi yang terlibat dalam penyediaan akses full text untuk buku digital, antara lain: DOAB (Directory of Open Access Book), Knowledge Unlatched, dan OAPEN (Open Access Publishing for European Networks). Perkembangan dan kesuksesan OA ke depan nampaknya juga seiring sejalan dengan kemunculan dan popularitas gerakan keterbukaan lainnya seperti Open Science, Open Data, dan Open Education. Masa Depan Penerbitan Jurnal Open Access Gerakan OA telah berjalan lebih dari dua decade. Meskipun beberapa pendukung OA seperti menganggap gerakan ini terlalu lambat, namun beberapa langkah penting telah dilaksanakan. Beberapa langkah inisiatif seperti Open Access 2020 (OA2020) masih berlangsung. OA2020 merupakan inisiatif yang diajukan oleh Max Plank Digital Library dan diluncurkan pertama kali pada Berlin Open Access Conference di bulan Desember 2015. Inisiatif in dimaksudkan untuk membangun bahwa model pembiayaan OA memicu munculnya penerbit pemangsa38. Meskipun demikian, dalam sebuah wawancara dengan Wilson39, Beall menunjukkan bahwa dia sesungguhnya tidak menolak mentah-mentah ide pembebasan akses untuk karya ilmiah, beliau hanya tidak setuju dengan model pembiayaan green dan gold yang ditawarkan oleh gerakan OA. Beall bahkan mengusulkan perlunya untuk memikirkan kembali bagaimana sebaiknya penditribusian karya ilmiah dan mendukung model pembiayaan alternatif yg disebut „platinum OA‟, yaitu sebuah konsep penerbitan jurnal OA tanpa memungut biaya dari penulis (non-APC Gold OA). Akan tetapi, Harnad menolak penggunaan istilah Platinum OA dengan alasan bahwa istilah Gold OA sudah mencakup berbagai varian jurnal OA40. Sementara itu, usaha dan gerakan OA telah berkembang hingga level di mana OA tidak hanya berkaitan dengan persoalan bagaimana membuat artikel ilmiah bebas akses, tapi juga tentang distribusi dan akses bebas buku ilmiah. Saat ini, ada banyak organisasi yang terlibat dalam penyediaan akses full text untuk buku digital, antara lain: DOAB (Directory of Open Access Book), Knowledge Unlatched, dan OAPEN (Open Access Publishing for European Networks). Perkembangan dan kesuksesan OA ke depan nampaknya juga seiring sejalan dengan kemunculan dan popularitas gerakan keterbukaan lainnya seperti Open Science, Open Data, dan Open Education. Masa Depan Penerbitan Jurnal Open Access Gerakan OA telah berjalan lebih dari dua decade. Meskipun beberapa pendukung OA seperti menganggap gerakan ini terlalu lambat, namun beberapa langkah penting telah dilaksanakan. Beberapa langkah inisiatif seperti Open Access 2020 (OA2020) masih berlangsung. OA2020 merupakan inisiatif yang diajukan oleh Max Plank Digital Library dan diluncurkan pertama kali pada Berlin Open Access Conference di bulan Desember 2015. Inisiatif in dimaksudkan untuk membangun bahwa model pembiayaan OA memicu munculnya penerbit pemangsa38. Meskipun demikian, dalam sebuah wawancara dengan Wilson39, Beall menunjukkan bahwa dia sesungguhnya tidak menolak mentah-mentah ide pembebasan akses untuk karya ilmiah, beliau hanya tidak setuju dengan model pembiayaan green dan gold yang ditawarkan oleh gerakan OA. Beall bahkan mengusulkan perlunya untuk memikirkan kembali bagaimana sebaiknya penditribusian karya ilmiah dan mendukung model pembiayaan alternatif yg disebut „platinum OA‟, yaitu sebuah konsep penerbitan jurnal OA tanpa memungut biaya dari penulis (non-APC Gold OA). Akan tetapi, Harnad menolak penggunaan istilah Platinum OA dengan alasan bahwa istilah Gold OA sudah mencakup berbagai varian jurnal OA40. Sementara itu, usaha dan gerakan OA telah berkembang hingga level di mana OA tidak hanya berkaitan dengan persoalan bagaimana membuat artikel ilmiah bebas akses, tapi juga tentang distribusi dan akses bebas buku ilmiah. Saat ini, ada banyak organisasi yang terlibat dalam penyediaan akses full text untuk buku digital, antara lain: DOAB (Directory of Open Access Book), Knowledge Unlatched, dan OAPEN (Open Access Publishing for European Networks). Perkembangan dan kesuksesan OA ke depan nampaknya juga seiring sejalan dengan kemunculan dan popularitas gerakan keterbukaan lainnya seperti Open Science, Open Data, dan Open Education. Masa Depan Penerbitan Jurnal Open Access Gerakan OA telah berjalan lebih dari dua decade. Meskipun beberapa pendukung OA seperti menganggap gerakan ini terlalu lambat, namun beberapa langkah penting telah dilaksanakan. Beberapa langkah inisiatif seperti Open Access 2020 (OA2020) masih berlangsung. OA2020 merupakan inisiatif yang diajukan oleh Max Plank Digital Library dan diluncurkan pertama kali pada Berlin Open Access Conference di bulan Desember 2015. Inisiatif in dimaksudkan untuk membangun bahwa model pembiayaan OA memicu munculnya penerbit pemangsa38. Meskipun demikian, dalam sebuah wawancara dengan Wilson39, Beall menunjukkan bahwa dia sesungguhnya tidak menolak mentah-mentah ide pembebasan akses untuk karya ilmiah, beliau hanya tidak setuju dengan model pembiayaan green dan gold yang ditawarkan oleh gerakan OA. Beall bahkan mengusulkan perlunya untuk memikirkan kembali bagaimana sebaiknya penditribusian karya ilmiah dan mendukung model pembiayaan alternatif yg disebut „platinum OA‟, yaitu sebuah konsep penerbitan jurnal OA tanpa memungut biaya dari penulis (non-APC Gold OA). Akan tetapi, Harnad menolak penggunaan istilah Platinum OA dengan alasan bahwa istilah Gold OA sudah mencakup berbagai varian jurnal OA40. Sementara itu, usaha dan gerakan OA telah berkembang hingga level di mana OA tidak hanya berkaitan dengan persoalan bagaimana membuat artikel ilmiah bebas akses, tapi juga tentang distribusi dan akses bebas buku ilmiah. Saat ini, ada banyak organisasi yang terlibat dalam penyediaan akses full text untuk buku digital, antara lain: DOAB (Directory of Open Access Book), Knowledge Unlatched, dan OAPEN (Open Access Publishing for European Networks). Perkembangan dan kesuksesan OA ke depan nampaknya juga seiring sejalan dengan kemunculan dan popularitas gerakan keterbukaan lainnya seperti Open Science, Open Data, dan Open Education. Masa Depan Penerbitan Jurnal Open Access Gerakan OA telah berjalan lebih dari dua decade. Meskipun beberapa pendukung OA seperti menganggap gerakan ini terlalu lambat, namun beberapa langkah penting telah dilaksanakan. Beberapa langkah inisiatif seperti Open Access 2020 (OA2020) masih berlangsung. OA2020 merupakan inisiatif yang diajukan oleh Max Plank Digital Library dan diluncurkan pertama kali pada Berlin Open Access Conference di bulan Desember 2015. Inisiatif in dimaksudkan untuk membangunkesepahaman global untuk mentransformasikan jurnal ilmiah dari model berbasis langganan ke model OA hingga tahun 2020 (http://OA2020.org ). Akses terbuka untuk karya ilmiah yang dicita-citakan lebih dari 20 tahun yang lalu kini telah diterapkan. Akses terbuka model „green‟ secara strategis telah didukung oleh pemerintah, di beberapa negara, yang mengeluarkan mandat agar hasil-hasil penelitian yang didanai oleh publik disimpan (deposit) di repositori terbuka, meskipun ketaatan terhadap mandat seperti ini masih terbilang rendah41. Sementara itu, jalur „gold‟ juga telah berkembang dengan berbagai model bisnis inovatif dalam mendukung bentuk penerbitan terbuka ini. Solusi terhadap kelemahan jurnal OA masih terus didiskusikan oleh para pendukung OA untuk mencari berbagai kemungkinan tercapainya tujuan OA. Dalam sebuah laporan penelitian tentang “bagaimana mengalihkan jurnal berbasis langganan ke jurnal OA” yang dilaksanakan oleh Solomon, Laakso, dan Bjork42 atas permintaan Harvard Library‟s Office of Scholarly Communication, ada beberapa skenario yang diajukan, terdiri atas dua kategori: skenario berbasis APC dan skenario berbasis non-APC (lihat Tabel 1) Menurut Laakso44, model non-APC pertama kali diterapkan di masa awal gerakan OA (the pioneering years) ketika para ilmuwan menyadari perlunya akses bebas untuk karya ilmiah dan hasil penelitian. Skenario non-APC cocok diterapkan di negara berkembang dan negara yang sedang dalam masa transisi sebagai skenario pembiayaan pengalihan dari jurnal berbayar ke jurnal OA45. Hanya saja yang dikhawatirkan dari model ini adalah tidak adanya kepastian dukungan dana yang berkelanjutan untuk biaya penerbitan karena operasionalnya bergantung pada subsidi pemerintah atau dana masyarakat. Kekurangan lainnya adalah pada tenaga pengelola yang mengandalkan tenaga relawan. Hegemoni penerbit komersial dalam pangsa pasar penerbitan ilmiah masih kuat hingga saat ini. Para penerbit ini sungguh menyadari bahwa harga jurnal cukup elastis untuk dimainkan. Salah satu penyebabnya karena perpustakaan kelihatannya masih enggan untuk memutuskan ketergantungannya pada penerbit komersial dengan tetap melanggan jurnal mereka. Para penerbit ini dengan cerdik memanfaatkan peluang bisnis yang ditawarkan oleh model penerbitan OA, misalnya dengan memodifikas model APC sebagai bentuk alternatif “gold” OA. Mereka bahkan turut berperan aktif dalam beberapa organisasi pendukung OA seperti OASPA, juga mengadopsi praktek yang berkaitan dengan OA seperti penerapan “open peer review” untuk artikel jurnalnya46. Peran Perpustakaan dan Pustakawan Perguruan Tinggi Gambar 1 menunjukkan bagaimana terjadinya hubungan paradoks pada siklus produksi karya ilmiah yang melibatkan perpustakaan, peneliti/ilmuwan, dan penerbit: Ilmuwan dalam melakukan penelitian membutuhkan akses ke literatur ilmiah yang disediakan oleh perpustakaan. Ilmuwan dalam hal ini berperan sebagai konsumen. Ilmuwan juga berperan sebagai produsen, menghasilkan karya ilmiah hasil penelitian yang dibiayai oleh publik. Karya ilmiah yang dihasilkan, diserahkan kepada penerbit untuk diterbitkan dalam jurnal tanpa imbalan, dan peneliti tidak lagi memiliki hak akses, distribusi, dan olah ulang atas karyanya sendiri. Untuk mengakses karya itu, maka pengguna bahkan peneliti itu sendiri harus membayar biaya akses atau melalui layanan akses yang telah dibayar oleh perpustakaan dengan menggunakan dana publik. Situasi inilah, menurut Ash48, yang sering dianggap tidak adil karena menghalangi dan mengkomersialkan akses ke hasil penelitian yang didanai oleh publik. Gambar 1 sekaligus menunjukkan bahwa perpustakaan memegang peran penting dalam siklus ini. Peneliti membutuhkan perpustakaan sebagai penyedia akses literatur ilmiah, sementara eksistensi penerbit sangat bergantung pada perpustakaan yang menjadi pembeli utama produk terbitannya. Dengan demikian, perpustakaan memiliki bargaining position yang besar dalam menyelesaikan persoalan serials crisis baik dengan cara memangkas anggaran biaya langganan jurnal komersial atau bahkan dengan cara membatalkannya. Perpustakaan kemudian dapat mengurangi ketergantungan pada jurnal berbayar dan beralih ke jurnal yang disediakan oleh penerbit non-profit atau OA. Perpustakaan perguruan tinggi hendaknya memaksimalkan fungsi repositori sebagai salah satu sarana komunikasi ilmiah dan mempromosikan manfaat dan penggunaannya kepada masyarakat kampus maupun masyarakat luas. Perpustakaan dapat melakukan pendampingan kepada peneliti dalam persoalan seputar komunikasi ilmiah, mulai pemilihan sumber informasi berbasis OA, pemilihan jurnal OA untuk publikasi, hingga pendampingan dalam masalah hak cipta. Sebab banyak ilmuwan atau peneliti yang terjebak dalam keraguan antara keinginan untuk mengirim artikelnya ke jurnal OA atau ke jurnal yang memiliki nilai poin untuk kepentingan kepangkatan atau karirnya. Pustakawan perguruan tinggi hendaknya menjaga kesiagaan dan senantiasa membarui pengetahuan yang berkenaan dengan persoalan hak cipta, Creative Commons, perkembangan OA, penerbitan ilmiah dan hal lain yang berkaitan dengan masalah komunikasi ilmiah, termasuk di dalamnya persoalan bibliometrik. Dengan penguasaan penuh pada pengetahuan semacam ini maka pustakawan akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi dalam mendampingi membantu dan mendampingi para peneliti. Selain berperan aktif dalam mendampingi peneliti, pustakawan juga sebaiknya menjadi teladan dalam kegiatan yang berkaitan dengan gerakan OA, misalnya, dengan tidak mengirimkan artikelnya ke jurnal komersial, atau menjadi editor atau mitra bestari pada jurnal berbayar

Conclusion

Penerbitan jurnal berbasis Open Access (OA) didorong oleh dua hal utama: tingginya harga jurnal dan pesatnya perkembangan teknologi informasi. Dominasi penerbit besar terhadap penerbitan jurnal membuat mereka leluasa memainkan harga pasar. Puncaknya, muncullah serial crisis di tahun 1990-an di mana beberapa perpustakaan kesulitan untuk berlangganan jurnal. Keadaan ini berlanjut hingga kemudian beberapa ilmuwan dan pustakawan berinisiatif untuk membentuk gerakan OA. Gerakan ini didukung oleh pesatnya perkembangan teknologi informasi (Internet) yang memungkinkan lahirnya penerbitan berbasis elektronik yang cenderung lebih murah, lebih cepat, dan dapat diakses dengan bebas. Dalam perkembangannya kemudian, setelah berlangsung sekitar dua dekade lebih, gerakan OA belum berhasil membebaskan penerbitan ilmiah dari hegemoni penerbit komersial. Salah satu penyebabnya adalah masih kuatnya ketergantungan pelanggan terhadap penerbit komersial, terutama perpustakaan perguruan tinggi yang menjadi pelanggan utama. Perpustakaan perguruan tinggi sebagai salah satu bagian utama dari siklus penerbitan ilmiah dapat berperan penting dalam menyukseskan gerakan OA. Langkah awal yang dapat diambil adalah dengan mengurangi secara drastis pembelian jurnal komersial, mempromosikan penggunaan jurnal OA, dan memperkuat peran repositori sebagai salah satu sarana komunikasi ilmiah bagi para ilmuwan dan peneliti. Pustakawan perguruan tinggi hendaknya aktif mempromosikan manfaat OA dan mendampingi para ilmuwan dan peneliti dalam pemanfaatan repositori dan jurnal OA.