Kembali
16
1
2017 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 9 · 2 ISSN 2502-4108

PEMANFAATAN PUBLIKASI ILMIAH DI PERGURUAN TINGGI

Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Abstrak

Publikasi merupakan sarana untuk menyampaikan informasi diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi pengembangan wawasan ilmiah bagi seseorang. Dalam perguruan tinggi —yang publikasi ilmiah bisa berbentuk majalah, jurnal, ataupun koleksi digital berupa e- Jonrnal dan e-book yang saat ini sudah menjadi kebutuhan yang tak terbantahkan untuk digunakan bagi pendukung proses belajar mengajar ataupun sebagai kegiatan proses kreatif segenap civitas akademika untuk memunculkan ide ide segar sebagai pendukung penelitian. Maka tidaklah mengherankan apabila perpustakaan sebagai perpustakaan riset dengan menyediakan publikasi ilmiah yang menyediakan beragam informasi . Dalam perkembangan selanjutnya muncul koleksi rgpository yang lebih mengkhususkan diri untuk mengelola dokumen yang dihasilkan oleh sebuah instansi dalam hal ini perguruan tinggi dengan sebutan literatur kelabu (grey /iterature) yang dapat berupa dokumen yang khas dan , bukubuku yang jarang didapatkan di pasar buku dan juga dokumen yang sering disebut /ocal content. Publikasi /ocal content ini saat ini menjadi salah satu ukuran tolok ukur akreditasi perguruan tinggi sehingga semakin mengokohkan publikasi ilmiah sebagai salah satu instrument penilaian akreditasi perguruan tinggi.

Abstract

Publication is a means to convey information that is expected to contribute positively to the development of scientific insight for a person. In college, scientific publications can be in the form of magazines, journals, or digital collections such as e-journals and e-books that are now an indispensable requirement to be used for teaching and learning process support or as creative activities of the entire academic community to generate ideas Fresh as research supporters. So it is not surprising if the library as a library of research by providing scientific publications that provide a variety of information. In subsequent developments appears more specialized repository collection to manage documents produced by an institution in this college with a literature gray literature that can be a typical document and, the books are rarely found in the book market and also Documents that are often called local content. This ocal content publication is now one of the benchmarks of college accreditation so that it becomes more and more solidifies the scientific publication as one of the accreditation assessment instruments of universities.</p>
Keywords: publikasi ilmiah. perguruan tinggi · repository

Introduction

Perpustakaan memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar dalam institusi pendidikan tinggi, tersimpan informasi-informasi yang karena dari perpustakaan ini penting bagi segenap sivitas akademika perguruan tinggi. Dalam perkembangannya informasi yang akan diperoleh tidak saja dalam bentuk fext book atau hardegpy namun juga dalam bentuk soffpy yang saat ini dapat membantu dalam penyebaran informasi yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dalam panduan yang dikeluarkan IFLA, sumber-sumber informasi yang dilakukan secara elektronik, digambarkan sebagai sumber daya yang diakses dengan mainframe atau menggunakan komputer, baik computer personal, perangkat bergerak dari jarak jauh melalui internet maupun intranet. Dalam perkembangannya , akses melalui elektronik ternyata semakin memicu diseminasi informasi sebagai sumber belajar yang diperkirakan jauh melebihi informasi yang tersedia saat ini diperkirakan jauh melebihi informasi yang tersedia dalam bentuk tercetak dan keuntungan yang diperoleh adalah kebaruan informasi lebih cepat diperoleh. ' Perpustakaan masa lalu dengan koleksi buku dengan jumlah koleksi terbatas tentu akan menghambat dalam aktivitas seorang civitas akademika dalam mengerjakan pekerjaannya. Lain halnya dengan sistem digital akan memudahkan pemustaka dalam mengakses informasi yang ingin diperolehnya walaupun tidak dipungkiri dalam era keterbukaan ini banjir harus informasi mengalir deras sehingga kadang kadang selektivitas informasi tetap dikedepankan. Dalam kondisi saat ini selain selektivitas informasi juga memerlukan analisis kebutuhan informasi bagi sivitas akademika akan menjadi prioritas dalam memenuhi kebutuhan pengembangan koleksi. Menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi ada berbagai jenis koleksi yang ada di perpustakaan antara lain : 1) Koleksi rujukan seperti ensiklopedi umum dan khusus, kamus umum dan khusus, buku pegangan, direktori, abstrak, indeks, bibliografi. 2) ajar Bahan ajar yang berfungsi untuk memenuhi tujuan kurikulum, bahan untuk setiap mata kuliah, bisa lebih dari satu judul karena cakupan isinya yang berbeda sehingga bahan yang satu dapat melengkapi bahan yang lain. Di samping itu ada bahan ajar yang diwajibkan , ada pula bahan ajar yang dianjurkan untuk memperkaya wawasan. 3) mutakhir Terbitan berkala seperti majalah , surat kabar. Terbitan memberikan informasi mengenai keadaaan atau kecenderungan perkembangan ilmu dan pengetahuan,4) koleksi media elektronik seperti compact disc dan online database’ Dalam perkembangan dunia informasi dan teknologi yang begitu cepat ini, peran perpustakaan mengalami perubahan. Perkembangan teknologi informasi sudah mempengaruhi berbagai bidang kehidupan dan profesi. Hal ini menyebabkan perubahan sistem pada instansi atau perusahaan , juga harus informasi mengubah dalam kehidupan cara kerja mereka. sehari-hari Penggunaan teknologi ~mempermudah pertukaran informasi dan data antar wilayah sehingga penyebaran pengetahuan menjadi begitu cepat. Perkembangan dunia perpustakaan dilihat dari segi koleksi data dan dokumen yang disimpan , diawali dari perpustakaan tradisional yang hanya terdiri dari kumpulan koleksi buku tanpa katalog, kemudian muncul perpustakan semi modern yang menggunakan katalog (index). Perkembangan mutakhir adalah munculnya perpustakan digital (digital library) yang memiliki karena berorientasi ke keunggulan data digital (internet). Selain itu dari segi manajemen dalam kecepatan pengaksesan dan media jaringan (teknik pengelolaan) komputer dengan semakin kompleksnya informasi, saat ini muncul kebutuhan teknologi informasi untuk otomatisasi business process di perpustakaan. Sistem yang dikembangkan kemudian terkenal dengan sebutan otomasi perpustakaan (library automation systems)’. Perubahan dan perkembangan teknologi sesungguhnya sempat menimbulkan situasi yang “hirnk pikunk” di jagad informasi. Akibatnya sempat terjadi semacam kegamangan di kalangan pengelola institusi informasi dan electronic library sempat dan muncul konsep perpustakaan elektronik atau disingkat e-/ibrary. Salah satu pemerhati masalah perpustakaan yaitu Kenneth Dowlin, pada tahun 1984 (kira-kira satu dekade sebelum internet mencapai tingkat “kematangannya”) menulis tentang perpustakaan elektronik yang mengandung empat ciri yaitu (1) mengelola sumberdayanya dengan bantuan komputer, (2) menyediakan link yang menghubungkan penyedia dan pencari informasi dalam bentuk saluran elektronik, (3) menyediakan bantuan mencari dan mengambil data untuk elektronik jika diperlukan dan (4) mengunakan saluran elektronik menyimpan, mengelola dan mengirimkan informasi kepada pencari atau pengguna.’ .Untuk itulah sistem informasi perpustakaan dapat membantu dalam pengaturan dan pengelolaan aktivitas berbasis pustaka karena sistem ini akan meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanan komunikasi data dan informasi secara digital sehingga kegiatan manual akan tergantikan dengan sistem yang terkomputerisasi agar perpustakaan dapat melaksanakan fungsinya dengan lebih baik. Kalau kita melihat tujuan perpustakaan adalah memberikan layanan informasi literal pada masyarakat ilmiah pada sebuah pergurun maka interaksi perpustakaan dengan masyarakat ini akan menciptakan proses pembelajaran tinggi khususnya jika dilihat perpustakaan pusat pendidikan yang akan mendukung kegiatan diseminasi pengetahuan bagi kemajuan sebagai masyarakat. informasi mempunyai khususnya koleksi Maka untuk pengelolaan memudahkan pengorganisasian perpustakaan buku cukup banyak apalagi tentu yang sudah ~membutuhkan pengelolaanya peminjaman, koleksinya. yang semakin pengembalian rumit ataupun baik dalam dari sistem pengolahan manajemen buku-buku Untuk itulah sistem informasi perpustakaan harus dapat dimaksimalkan sehingga fungsi perpustakaan dalam mewujudkan layanan prima dapat direalisasikan. Pengertian sistem komputerisasi informasi perpustakaan adalah proses untuk mengolah data suatu perpustakaan yang dimulai dari katalogisasi, pengolahan data anggota sampai proses peminjaman dan pengembalian beserta aturan-aturannya seperti lamanya pada peminjaman sebuah dan penghitungan perpustakaan perpustakaan akan apabila denda telah keterlambatan. menerapkan sistem Keunggulan informasi mempermudah pemustaka ataupun pustakawan seperti : penelusuran pustaka yang mudah dan sangat cepat, informasi hasil pencarian yang disajikan lebih lengkap, pembuatan label, bibliografi, katalog dan kartu anggota, mempermudah pengelolaan peminjaman dan pengembalian koleksi perpustakaan dan kartu bebas pustaka,’ memudahkan dalam melakukan enrry dan update data, memudahkan pembuatan laporan dan rekapitulasi, perhitungan denda secara otomatis serta mempermudah denda secara otomatis. Keuntungan lain = sistem informasi perpustakaan dengan menggunakan sistem pengelolaan yang terkomputerisasi mengalami jika maka kebutuhan pemakaian kertas juga akan dampak yang signifikan dengan adanya pemakaian kertas yang akan menurun drastis. Hal ini merupakan keuntungan yang sangat besar ditinjau dari penghematan biaya operasional yang harus dikeluarkan. Demikian pula publikasi ilmiah yang merupakan layanan utama sebuah perpustakaan seharusnya dapat memberikan pemenuhan informasi bagi pemustaka, karena publikasi seperti buku buku texs dan jurnal merupakan sumber informasi yang sangat diperlukan dalam aktivitas utama para civias akademika baik untuk keperluan penelitian, penulisan skripsi, tesis ataupun disertasi mereka. Maka untuk pengadaan publikasi ilmiah program tentunya tidak dapat melakukan tugasnya sendiri sehingga perpustakaan haruslah mempunyai hubungan yang baik dengan pengurus studi koleksi-koleksi yang sehingga harus perpustakaan disediakan. Maka mengetahui sejalan benar dengan perkembangan teknologi informasi hubungan harmonis antara pihak kepala program studi dan perpustakaan dapat dilakukan untuk memberikan masukan bagi pengembangan koleksi dan tentunya harus disertai semangat pustakawan dalam melayani pemustaka secara penuh. Strategi strategi baru tetap dilakukan agar perpustakaan dapat menjadi pusat informasi ~ walaupun saat ini searh engine menjadi saingan perpustakaan dalam menyediakan informasinya. Tidak kita pungkiri bahwa keberadaan search engine atau dikenal sebagai mesin pencari cukup memudahkan bagi pencarian informasi secara besar. cepat namun tingkat keakuratannya masih menjadi tanda tanya Informasi yang disajikan oleh search engine tanpa melalui sistem editorial yang baik sehingga tidak dapat dijadikan sumber informasi yang layak dipercaya.

Discussion

Dalam tulisan ini dengan subjek masalah publikasi ilmiah, maka akan kita melihat terlebih dahulu apakah publikasi itu. Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia arti dari publikasi adalah penerbitan®, sedangkan menurut wkipedia publikasi ilmiah adalah system publikasi yang dilakukan berdasarkan peer review dalam rangka untuk mencapai tingkat obyektivitas setinggi mungkin. Sistem ini bervariasi tergantung bidang masing-masing dan selalu berubah. Sebagain karya akademis diterbitkan dalam jurnal ilmiah atau dalam bentuk buku. Publikasi Ilmiah pada Masa lalu, Sekarang dan Masa Depan. Kebutuhan informasi adalah suatu kondisi dimana struktur pengetahuan harus mampu mengkaji atau mengenali pemustaka dan informasi apa yang diperlukan serta mendorong pemustaka untuk menggunakan fasilitas yang disediakan oleh pemustaka. Kondisi ini disebut dengan anomalous state of knowledge’. Untuk pemahaman perbedaan peran pustakawan trdisional dan teknologi informasi yang semakin memberikan pada era berkembang ini dapat diberikan ilustrasi di bawah ini : Pustakawan Tradisional mengerjakan : 1. 2. 3. 4. 5. Seleksi Menelusur Mengkoleksi Mengorganisasi Menjaga dan memelihara sumber informasi Namun ketika teknologi informasi mulai diterapkan di perpustakaan, peran pustakawan berubah dari kelima hal di atas menjadi : 1. 2. 6 Negotiator — a person who sholud be able to identify the needs of nsers Navigator — searching the ocean of information regardless the format 3. 4. o 6. Facilitator — informationand infra — structure Educator — being familiar with information in different formats and sholnd be able to train the nsers whenever required Entrepreneur — warketing library services Information filter — able to provide right informaton, in right time to the right person from right resonrces® Malsa dalam era keterbukaan ini pustakawan memegang peran penting dalam diseminasi informasi bahkan dalam publikasi ilmish, peran pustakawan mempunyai fungsi sebagai pengelola informasi agar dapat dipergunakan sebaik baiknya bagi pengembangan pengetahuan yang akan menambah wawaasan civitas akademika. Seperti telah dijelaskan diatas publikasi ilmiah merupakan salah satu bentuk dukungan perpustakaan dalam memberikan informasi seluaslasnya kepada pihak pemustaka untuk melengkapi dalam pengembangan keilmuan seseorang apalagi dengan kehadiran e-book atau bulsu elektronik akan semakin menambah kekuatan dalam penyampaian informasi wawasan secara cepat dan meluas. Kalau pada masa lalu pemanfaatan komputer hanya kini sebagai penyimpan data bibliografis dan mampu mencetak kartu katalog dengan lebih cepat dan lebih rapi dibandingkan dengan mencetak dengan mesin ketik, maka perkembangan perubahan revolusioner distributing cepat dalam dalam teknologi informasi membawa information processing, storage, dissemination and dan menjadi kunci dalam membawa perubahan besar di berbagai aspek masyarakat. Dengan komputer murah dan software word-processing yang mudah diganakan, teknik pengelolaan inage berbasis komputer menjadi “informasi digital” berupa teks dan multi media yang menyatu serta informasi berisi teks dengan gambar, suara dan video? Dengan hadirnya web di tahun 1994, perpustakaan digital dan penerbitan elektronik telah bergerak dari yang tadinya hanya merupakan impian , menjadi aktivitas-aktivitas nyata yang akan mmulai menyaingi (baca : melengkapi) keberadaan perpustakaan tradisional dan penerbitan tradisional. internet Adanya neb mempermudah seseorang untuk menyimpan , mengakses, menampilkan data atau koleksi dalam bentuk digital dan adanya memungkinkan data digital di satu tempat bisa diakses dengan mudah dan cepat dari tempat lain. Jika terdapat sepuluh perpustakaan digital saja yang masing-masing mempunyai 100.000 koleksi berformat digital di § mana daftar koleksinya berbeda antara satu dengan lainnya , maka itu berarti Tersedia satu juta koleksi yang bisa diakses oleh pemustakal. Kemajuan t teknologi ini tentunya akan mempercepat datangaya informasi informasi yang mutakhir dan terkini sehingga akan sangat membantu dalam setiap aktivitas dinamisasi pengetahuan dan proses pembuatan karya ilmiah baik skripsi, tesis, disertasi maupun penelitian yang dilakukan oleh civitas akademika. Maka apabila sebuah perpustakaan yang sudah cukup mampu untuk membeli buku yang disampaikan secara digital atau elektronik akan dapat berkembang menjadi perpustakan yang mempunyai koleksi secara digital disamping koleksi tradisional dengan buku secara tercetak. Tidak dipungkiri bahwa era digital mau tidak mau akan menggeser buku buku cetakan sebab dalam realitasnya ebook akan lebih cepat dalam menyampaikan informasi yang terkini. Strategi Pengembangan Publikasi Ilmiah Ada beberapa usaha yang koleksi yang harus dipertimbangkan mengembangkan publikasi ilmiah. dilakukan ketika dalam pengembangan pihak perpustakaan akan Semangat untuk mengembangkan publikasi ilmiah harus dilandasi oleh keinginan untuk memenuhi semangat menuntut ilmu yang merupakan salah satu kebutuhan manusia untuk mengembangkan olah intelektualnya. Proses pencarian — ilmu pengetahuan yang sering kita sebut sebagai proses belajar yang sering disebut sebagai pembelajaran seumur hidup atau Lofe /long learning memerlukan beberapa pertimbangan, antara lain, kondisi dan kualitas koleksi, kuantitas pengguna, jumlah bidang studi , metode pengajaran dan jumlah pengguna, karena pada dasarnya peran perpustakaan akan berjalan jika koleksi pustaka yang dimilikinya benar-benar mempunyai manfaat. Dalam publikasi ilmiah pun memerlukan penanganan yang serius disamping koleksi yang lengkap juga memerlukan akses internet yang memadai bahkan cepat sehingga akan memberikan kenyamanan berselancar informasi secara cepat pula. Selaras dengan tulisan David McLelland yang dikutip oleh Jazimatul Husna yang mengatakan n”salah satu faktor dibandingkan yang membuat komunitas/masyarakat yang lainnya adalah lantaran mereka lebih dipenuhi individu yang punya high need for achievement | kebutuhan unggul dengan tinngi untuk berprestasi. Dalam konteks ini salah satu prestasi yang dinilai oleh pengguna perpustakaan adalah penyediaan lingkungan perpustakaan dan layanan prima dalam penyediaan koleksi terbitan ilmiah " Namun tak dapat dipungkiri bahwa akses publikasi ilmiah ada beberapa persoalan yang harus perpustakaan dihadapi dan oleh istitusi perpustakaan informasi atau berlomba-lomba menyediakan berbagai akses data sebagai sumber perpustakaan digital : 62 informasi. Kondisi sekedar menjadi jembatan karena penyedia ke para jasa pengelola informasi berbagai pangkalan ini tentu menyebabkan bagi pengguna untuk mengakses informasi yang sejatinya berasal dari luar perpustakaan. Pendit (2009 -63) beberapa seperti persoalan mengandalkan dikutip yang oleh dihadapi penyediaan akses Ahmad Subhan mengemukanan bila bagi pengelola perpustakaan pengguna untuk memperoleh informasi antara lain : 1. 2. Sifat isi atau kandungan informasi yag semakin bersifat sementara nyaris tidak ada sarana untuk memastikan bahwa dokumen digital yang pernah diakses masih dapat diperoleh pada masa kini dan akan datang karena ada kecenderungan perubahan pada pengkalan data yang pernah diakses atau karena perpustakaan tak lagi punya hak untuk menyediakan akases pada pengkalan data yang dilanggan. Hubungan antara perpustakaan sebagai penyedia akses dengan pemilik data merupakan hubungan antara pelanggan dan penyedia, yang mana ada ketentuan lisensi dan konsekuensi secara finansial. Hubungan itupun bersifat sementara dalam rentang waktu tertentu sesuai kesepakatan antara kedua belah pihak juga disepedankan dengan jumlah anggaran. Dalam hal ini, perpustakaan yang yang menyediakan akses pada ribuan artikel jurnal elektronik tidaklah berarti memilikinya, hal ini hanya bersifat sementara. Bila masa hak penyediaan akses berakhir, maka berakhir pula periode kepemilikan koleksi digital tersebut. 3. U Pengelola perpustakaan tak dapat serta merta mengambil dan menyimpan dokumen berupa jumal dan buku elektronik dari pangkalan data yang dilanggan, karena ada ketentuan hak atas kekayaan intelektual berupa lisensi yang secara penuh dimiliki oleh pemilik data sedangkan perpustakaan hanya dapat “membeli” lisensi tersebut dalam jaangka waktu tertentu. Apabila masa berlangganan berakhir , maka institsui perpustakaan dapat dipermasalahkan secara hokum apabila masih menyediakan dokumen tersebur'? Ahmad Subhan menanggapi hal tersebut mengatakan bahwa perpustakaan dan penjaja produk digital yang bersifat bisnis menjadikan pihak perpustakaan end wsers atau seolah konsumen untuk kemudian disediakan bagi pemustaka. Namun situasi ini tidaklah berlangsung seterusnya, karena dengan dukungan teknologi, perpustakaan pun dapat berperan sebagai produsen karya-karya digital atau menjadi wahana sekaligus fasilitator bagi orang orang yang bersedia membagikan karya — karya mereka secara sukarela. Fenomen inilah yang dikenal dengan istilah apen access” Open auess merujuk pada aneka literature digital yang tersedia secara terpasang, gratis dan terbebas dari semua ikatan atau hambatan hak cipta atau lisensi . Gerakan ini menjadi akar kemunculan iustitutional repository, yang biasanya dipelopori oleh lembaga-lembaga penelitian serta perguruan —perguruan tinggi yang ingi menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dan karya —karya para saat ini akademisi dari lingkunagn mereka. Dengan gpen access ini dapat membantu perkembangan publikasi ilmiah dari civitas akademika dan memberikan kemudahan dan kemurahan dan dikenal juga dengan /ocal content yaitu upaya diseminasi karya- karya Andrew seperti skripsi, tesis, disertasi , karya-karya penelitian yang merupakan kekayaan intelektual yang telah terseleksi melalui tahapantahapan yang berlaku.. Tidaklah berlebihan apabila Lucy A. tedd dan Large mengemukakan alasan pentingnya pengembangan perpustakaan digital di perguruan tinggi. Dia mengemukakan bahwa perpustakaan digital memberikan apa yang tidak dapat diberikan oleh perpustakaan konvensional atau tradisional. Pertama dan utama bahwa perpustakaan digital memberikan ruang akses yang tersebar dengan melalui jaringan yang sangat tidak mungkin dilakukan oleh perpustakaan konvensional. Perpustakaan digital dapat menyediakan sistem pencarian yang tinggi maupun fitur browsing yang memungkinkan untuk di download” Publikasi Tinggi Ilmiah Sebagai Pemenuhan Tri Dharma Perguruan Melihat uraian diatas maka pengembangan perpustakaan digital memang sangat membantu dalam memberikaan kemudahan dan kemurahan terutama dalam open access dan ini sangat diperlukan bagi publikasi ilmiah yang terutama jika ingin memberikan ruang gerak bagi sivitas akademika untuk mengembangkan Tri Dharma perguruan tinggi terutama dalam aspek penelitian. Koleksi-koleksi khususnya penelitian merupakan /ocal content yang sangat spesifik yang menjadi identitas suatu lembaga perguruan tinggi. Sangat baik apabila dapat menjadi koleksi digital ~ selain akses lebih luas juga merupakan dokumentasi —atau pengarsipan digital yang lebih baik secara administratif bila dibandingkan dengan bentuk hardeopy, Local conten ini sangat penting untuk dapat dijadikan karya abadi khususnya berkaitan dengan ciri spesifik perguruan tinggi sehingga melalui karya-karya yang telah di publikasikan melalui koleksi digital masyarakat dapat melihat sampai seberapa besar kualitas keilmuan yang ada. Maka adanya /cal content ini setidaknya dapat memberikan angina segar bagi pengembangan karya-karya penelitian untuk dapat dipublikasikan kepada masyarakat. Menjadi perpustakaan riset tentu memerlukan sumber-sumber informasi dan dokumen khusus serta menyediakan fasilitas-fasilitas untuk pelaksanaan riset. Kemudahan untuk memperoleh informasi serta kecepatan pelayanan juga perlu ditingkatkan. Fungsi riset ini menjadi penting karena akan meningkatkan keunggulan sebagai universitas yang terpandang di mata masyarakat. Semakin banyak riset yang dilakukan akan menghasilkan dosen yang semakin ahli dan ujung-ujungnya pengalaman serta hasil penelitian merupakan bahan yang sangat baik untuk memperkaya bahan kuliah yang akan disampaikan kepada mahasiswa . Pustakawan memiliki peluang besar untuk terlibat secara langsung dalam pengayaan znstitusi repository ini karena pustakawan sebagai aktor dalam proses alih media dari bentuk analog ke bentuk digital ini sehingga akses ini terbuka bagi pustakawan dalam diseminasi karya-karya penelitian tenaga kependidikan agar karya-karya mereka tidak sekedar menjadi karya yang hanya menjadi syarat bagi kenaikan pangkatnya. Dari pengamatan penulis karya-karya penelitian sehingga tenaga mereka kependidikan tidak hanya selalu mengalami melakukan “wji penelitian kemudian hasilnya ditulis menjadi laporan tertulis sebagai publik” untuk bukti penelitian mereka tanpa harus diuji oleh publik apakah hasil penelitian itu memang benar-benar sahih ataukah hanya sekedar teori yang masih sulit diterapkan dalam praktek. Maka melalui /nstitusi repository ini merupakan peluang bagi pustakawan untuk mempromosikan karya-karya penelitian tenaga kependidikan sekaligus sebagai sarana “uji public” atas penelitian mereka. Maka adanya publikasi ini akan mendorong peneliti untuk lebih giat di dalam melakukan kajian-kajian sehingga karya mereka tidak hanya tersimpan rak-rak perpustakaan yang tidak dapat dinikmati oleh masyarakat sehingga dapat diaplikasikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Namun tak dapat dipungkiri bahwa pengumpulan koleksi local content masih menyisakan beberapa permasalahan walaupun telah ditetapkan peraturan wajib simpan karya ilmiah dari pihak institusi Proses pemberian renard juga pernah dilakukan namun belum membuat sebagian civitas akademika tertarik sehingga proses pengumpulan masih berharap pada masing-masing &ebaikan civitas akademika . Dalam era digital peran pustakawan menjadi harapan pemustaka untuk memperoleh informasi berbentuk digital yang semakin mudah diakses dimanapun berada. pustakawan akan melakukan sebelum Untuk menghasilkan koleksi digital tahap-tahap kerja yang harus dilakukan sesuatu koleksi disajikan dalam bentuk digital. Tentunya untuk melakukan digitalisasi ini memerlukan seleksi dalam penentuan koleksikoleksi yang akan digitalkan. Tentunya masing-masing perguruan tinggi mempunyai kriteria-kriteria yang sudah diputuskan oleh manajemen sebagai pedoman pustakawan untuk melakukan digitalisasi koleksi perpustakaan. yang Sebagai contohnya dari pengalaman penulis adalah dalam kebijakan digitalisasi skripsi adalah skripsi yang mempunyai nilai A atau skripsi mendapatkan rekomendasi dari staf pengajar untuk digitalkan. Adanya kesepakatan antara perpustakaan dan fakultas untuk mendigitalkan koleksi skripsi ini akan mempermudah kinerja pustakawan yang bertugas di layanan digital. Kriteria dalam menentukan koleksi digital koleksi harus diperlukan informasi agar yang amat penting untuk dilakukan sehingga tidak semua digitalkan. yang Menurut penulis seleksi tersaji memang dalam koleksi digital —mempunyai manfaat koleksi adalah nilai tetaplah informasi- tambah bagi pembaca atau pemustaka. Dari catatan Wijayanti dan Pendit mengenai praktek pengembangan perpustakaan digital — perguruan tinggi di Indonesia, mereka mengatakan para kontributor pada umumnya hanya mau menyediakan abstrak dan data bibliografi walau ada beberapa yang menyediakan fir/itext. Kedua penulis tersebut menengarai bahwa problem berbagi tersebut tersangkut dengan soal interoperabilitas pada aspek politis, yakni adanya perbedaan kepentingan organisasi induk dari masingmasing perpustakaan yang bergabung dalam jaringan perpustakaan digital perguruan tinggi, ditambah juga karena adanya kompetisi antar perguraun tinggi'. Sebenarnya wajib karya simpan juga selaras dengan kebijakan untuk mendongkrak publikasi bagi dosen yang dilandasi dengan publikasi evaluasi Permentistekdikti No.20 th 2017 yang mengamanatkan bahwa ilmiah merupakan salah satu indikator untuk melakukan terhadap pemberian tunjangan profesi Dosen dan tunjangan kehormatan Guru Besar sehingga dengan kewajiban ini akan menambah publikasi ilmiah bagi pengembangan repository institusi bahkan akan dapat memperkaya open access bagi yang bersedia untuk mendiseminasikan karya unggulan para civitas akademika. Tentu saja diseminasi karya ilmiah atau penelitian mereka tidak serta merta harus disebarluaskan namun sesuai dengan Permenristekdikti No. 44 Tahun 2015 Pasal 44 ayat 5 mengatakan bahwa hasil penelitian yang tidak bersifat rahasia, tidak mengganggu dan/atau tidak membahayakan kepentingan umum atau nasional wajib disebarluaskan dengan cara diseminarkan, dipublikasikan, dipatenkan, dan/atau menyampaikan hasil cara penelitian lain yang kepada dapat digunakan masyarakat. Ini untuk dilakukan tentunya dengan faktor-faktor keamanan maupun stabilitas nasional agar tidak terganggu akibat penelitian seseorang. Merujuk pada sumber publikasi ilmiah pun sebenarnya telah diatur dalam Surat Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012 yaitu Wajib Publikasi Ilmiah Bagi S1, S2 dan S$3.Untuk lulus program S1: makalah yang terbit pada jurnal ilmiah, S2: makalah yang terbit pada jumnal ilmiah nasional diutamakan yang terakreditasi Dikti sdangkn S3: makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal internasional. Namun nampaknya keebijakan ini pun masih menjadi perdebatan sehingga kebijakan ini belum sepenuhnya dapat dijalankan oleh perguruan tinggi. Maka dengan kebijakan ini tentunyajuga dapat dijadikan salah satu upaya pencegahan plagiarism . Maka local content ini mempunyai dua fungsi selain sebagai media untuk penyebaran karya karya civitas akademika juga merupakan media promosi perguruan tinggi seperti telah disebutkan diatas. Publikasi Ilmiah dan Pengembangan Potensi Diri Pustakawan Membaca kondisi jaman sekarang ini maka peran perpustakaan dalam masa teknologi informasi menuntut pustakawan untuk semakin kreatif dalam melayani pemustaka. Adanya perkembangan teknologi informasi menuntut pustakawan semakin meningkatkan kualitas diri sehingga pustakawan sebagai penggerak sebuah perpustakaan mampu memberikan layanan terbaiknya agar pemustaka dapat memperoleh informasi yang benar dan cepat untuk kepentingan yang berkaitan dengan tugas-tugas civitas akademikanya baik sebagai mahasiswa, staf pengajar atau sebagai peneliti Masih dikaitkan dengan pentingnya publikasi ilmiah maka pustakawan dapat mengembangkan perpustakaan sebagai salah satu pendukung dalam riset yag saat ini sangat diperlukan kehadirannya sehingga asisten pustakawan dituntut pula berfungsi sebagai peneliti maka pembagian peran pustakawan dalam spesialisasi keahlian dalam subjek tertentu sangat diperlukan untuk memberikan informasi dengan yang era pasar dibutuhkan bebas , oleh profesi pemustaka. Apalagi bila dikaitkan pustakawan diharapkan mampu menunjukkan kompetensinya sebagai salah satu profesi yang tidak dapat dianggap enteng karena harus bersaing dengan pustakawan dari negara lain yang Keinginan tentunya untuk juga keluar berusahan dari zona meningkatkan kenyamanan kompetensinya. dari pustakawan diharapkan akan memacu pustakawan untuk lebih kreatif dalam melayani pemustaka khususnya membantu civitas akademikanya menghadapi keinginan untuk terus mengembangkan diri. Publikasi ilmiah merupakan kekutan utama perpustakaan yang harus terus didayagunakan sehingga perpustakaan akan dapat menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh pemustaka melalui kekayaan publikasi yang dimilikinya. Di era teknologi informasi ini pustakawan harus bersikap positif dan inovatif dalam menghadapi setiap perubahan yang terjadi. Pustakawan harus bisa mencari pemecahan masalah terhadap permasalahan kesulitan informasi yang dihadapi oleh pemustaka. Pemanfaatan publikasi ilmiah dalam perguruan tinggi ini perlu terus menerus dipromosilan sehingga pada akhirnya repository ataupun /local content akan mempunyai azas manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan media promosii sebuah perguruann tinggi . Tak pelak Institutional Repository pada mulanya muncul karena adanya keinginan sebagai upaya untuk menunjukkan hasil karya dari suatu institusi yang kemudian berkembang menjadi media untuk menyebarluaskan penelitian yang dimilikinya — sesuai misi lembaga induknya sebagai diseminasi informasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Menurut Putu Laxman Pendit kegiatan zustitutional repository dalam ruang pembelajaran memunculkan konsep epistemic culture sebagai sarana untuk memproduksi ilmu pengetahuan seperti penelitian ataupun kajian-kajian baru untuk penciptaan lingkungan dan mekanisme dalam membentuk lingkungan ilmiah. Adanya budaya “ingin tahu” semakin meneguhkan pentingnya mstitutional repository sehingga disinilah peran perpustakaan dan kaum akademik perguruan tinggi perlu lebih dibangun yang akan menciptakan satu pemahaman dalam penyediaan institutional asset repository . Kalau saat ini world class nniversity menjadi suatu dogma yang digandrungi pihak akademis maka sebenarnya repository ini menjadi salah satu yang sangat diperhitungkan. Munculnya webomatric semakin mengukuhkan adanya prestise akademik untuk mendongkrak peringkat suatu perguruan tinggi yang berguna untuk memancing para calon mahasiswa untuk memasuki suatu perguruan tinggi tertentu. Hal ini tidak lepas dari budaya masyarakat Indonesia yang menyenangi pemeringkatan walaupun itu sebenarnya tidak berkorelasi dengan hasil keluaran suatu perguruan tinggi Peran untuk meletakkan fondasi bagi pengembangan repository institusi leluasa merupakan pekerjaan pustakawan agar perpustakaan dapat menegaskan apa saja onfcomes yang relevan dengan misi dan strategi lembaga induknya. Peran pustakawan pun dapat mengaitkan outcomes produksi ini dengan riset mahasiswanya."” Maka para sesuai berbagai dosen, uraian aktivitas pencapaian diatas , lembaga dan induknya prestasi pustakawan dapat belajar melalui para memberikan kontribusinya dalam terus menerus mendorong pemanfaatan publikasi ilmiah terutama saat ini tren e-resonrces menjadi impian bagi perpustakaan sehingga pustakawan harus selalu siap mengembangkan potensi dirinya agar dengan dapat mengimbangi banjir informasi sehingga informasi itu dapat dikelola baik untuk kemudian dapat dilakukan manajemen informasi untuk segera dapat dilayankan kepada pemustakaserta dapat mengembangkan dan mengelola publikasi ilmiah secara optimal bahkan seiring dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahun memerlukan pustakawan spesialis subjek sehingga Pustakawan saat ini diharapkan dapat menguasai salah satu subjek yang terdapat bidang kepustakawanan, sehingga diperlukan spesialisasi keahlian dalam salah dalam satu subjek misalnya subjek teknologi informasi, subjek antropologi, subjek bidang hukum dan sejarah. Bidng-bidang ini akan membantu pemustaka saat mereka mengerjakan riset atau penelitiannya ataupun saat mereka mengerjakan skripsi atau tesis. Diharapkan pertanyaanpertanyaan mereka akan dapat dijawab dengan kehadiran pustakawan spesialis subjek ini.

Conclusion

Publikasi ilmiah merupakan kekayaan sebuah perpustakaan yang harus terus menerus diperbaharui selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang selalu baru. Hal ini merupakan pekerjaan penting bagi pustakawan untuk terus selalu mengupdate data publikasi tidak saja melalui koleksi tercetak namun juga koelski-koleksi elektronik baik buku ataupun jurnal yang dapat diakses tanpa mengenal ruang dan waktu. Tentunya layanan ini harus diimbangi oleh kemampuan pustakawan untuk bergegas dalam mengolah sumber sumber informasi yang tersedia untuk didayagunakan proguestt semaksimal mungkin agar sumber-sumber informasi itu tidaklah sia-sia sebab adanya sumber-sumber elektronik seperti ataupun melanggannya, melanggannya sehingga terus Ebsco bagi menerus belum semua perpustakaan perpustakaan mampu yang sudah mampu mempublikasikan adanya layanan ini Perpustakaan terus menerus menjalin hubungan yang baik dengan para pengelola program studi sehingga koleksi-koleksi yang akan diadakan akan tepat sasaran. Perpustakaan menjalin kerjasama dalam melakukan layanan elektronik khususnya dalam pemanfaatan hasil-hasil penelitian sehingga masyarakat luar kampus dapat menikmati karya-karya terbaik dari civitas akademika.