Kembali
16
1
2018 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 10 · 1 ISSN 2502-4108

INFORMASI, LITERASI MEDIA DAN PUSTAKAWAN

N/A

Abstrak

Media dan manusia merupakan hal yang saling berkaitan. Disadari atan tidak media banyak mempengarnbi pola hidup mannsia. Perkembangan media ditambah dengan tekenologi menghasilkan jumiak informasi yang semakin meningkat. Banjir Informasi menjadi masalah barn yang dibadapi saat ini sehingga perin dilakukan kesadaran media yang salab satn nya melalni literasi media. Pustakawan di pergurnan tinggi. dapat terlibat dalam kegiatan literasi media untnk mendukung proses pembelajaran melalui kegiatan seperti: workshgp, seminar, leaflet serta memberi pengumnman dengan menggunakan fasilitas web perpustakaan. Selain itu perpustakaan juga dapat berkolaborasi dengan institusi lain dalam kegiatan literasi media. Agar dapat melakukan literasi media yang baik, pustakawan periu ditunjang kompetensi yang memadai nntuk melakukan hal tersebut. Dibarapkan dengan dapat terlaksananya literasi media oleb pustakawan pergurnan tinggi, tingkat kesadaran media civitas academika akan semakin meningkat. Dengan demikian budaya literasi dapat ternujud dengan baik, karena pada dasarnya literasi mernpakan soft skill yang harus dimiliki oleh mannsia nntuk bertaban hidup
Keywords: pustakawan · literasi media · budaya literasi

Introduction

Media dan manusia merupakan hal yang saling berkaitan. Disadari atau tidak media banyak mempengaruhi pola hidup manusia. Sebaliknya, laju informasi yang dihasilkan oleh manusia juga berbanding lurus dengan semakin banyaknya media yang hadir pada saat ini. Perkembangan media ditambah dengan teknologi menghasilkan jumlah informasi yang semakin meningkat. Kehadiran internet telah membuat informasi semakin mudah diakses kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja. Dengan kata lain, informasi sudah menjadi bagian dari hidup manusia. Selain itu, munculnya teknologi seolah memberikan ruang publik baru, dimana di ruang publik ini setiap orang dapat menjadi produsen informasi, menyajikan ruang terbuka untuk merespon informasi, pada akhirnya dapat membangun komunitas virtual yang diwarnai diskusi di ruang yang tidak nyata akan tetapi tetap dapat berinteraksi, berbagi informasi, tanpa bertatap muka secara langsung. Hal ini memberi dampak positif sekaligus negatif. Dampak positifnya, di ruang publik in dapat dimanfaatkan untuk membangun koneksi dan menyebarkan gagasan-gagasan yang benar yang bermanfaat. Dampat negatifnya, penyebaran informasi semakin menjadi tak terkendali. Banjir Informasi menjadi masalah baru yang dihadapi saat ini. Dengan semakin banyaknya informasi yang tersedia, makin susah pula ditemukan informasi yang sesuai dengan kebutuhan. Paradoks ini muncul karena tingkat kebenaran akan sebuah informasi menjadi sebuah hal yang dipertanyakan. Derasnya informasi yang palsu (boax), informasi yang benar akan tetapi dilebih-lebihkan (fake news) maupun ujaran kebencian (bate speech) menjadi tak terkendali sehingga berpotensi memicu gangguan terhadap ketertiban publik. Pada taraf tertentu, teknologi digital juga mengembalikan budaya baca kepada masyarakat, baik lewat akses kepada berbagai tulisan di internet melalui search engine yang ada maupun melalui berbagai sarana media sosial, seperti situs web, blog, Facebook, dan Twitter. Tapi, persoalan tidak selesai di sana. Tantangannya justru menjadi semakin besar di mana peningkatan minat baca secara umum masih menghantui. Alasannya, besarnya pasokan informasi yang menerpa serta sifat sebagian besar tulisan yang tersedia di media digital telah menyebabkan para pengguna internet mengakses lebih banyak tulisan-tulisan pendek yang kurang keluasan dan kedalaman. Kehadiran informasi yang tidak jelas kebenarannya sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu, akan tetapi masih terhitung jarang tidak seperti sekarang bertebaran dimana-mana. Salah satu penyebabnya adalah perkembangan teknologi, seperti internet yang semakin tinggi maju membuat penyebarannya dengan mudah tersebar dalam hitungan menit bahkan detik melalui berbagai media. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2016 menyatakan bahwa 132,7 juta orang Indonesia telah tethubung ke internet. Hal ini mengindikasikan kenaikan 51,8 % dibandingkan jumlah pengguna internet pada 2015 lalu. Survei yang dilakukan APJII pada 2015 hanya berjumlah 88 juta pengguna internet. Agar dapat memperoleh informasi yang sesuai dengan kebutuhan dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, perlu dikembangkan apa yang disebut dengan kesadaran media, yakni kesadaran bahwa suatu media tidak selalu memberikan informasi yang benar, sehingga diperlukan sikap kritis untuk menelaah informasi yang disampaikan oleh media. Kesadaran media merupakan hal penting dilakukan mengingat pesatnya perkembangan media akan tetapi tidak diiringi dengan kecakapan dalam menggunakannya. Literasi media merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran media. Literasi media seperti dikemukakan oleh Rochimah (2011) adalah pendidikan yang mengajari khalayak media agar memiliki kemampuan menganalisis pesan media, memahami bahwa media memiliki tujuan komersial/bisnis dan politik sehingga mereka mampu bertanggung jawab dan memberikan respon yang benar ketika berhadapan dengan media. Sementara itu, definisi literasi media dalam UU No 32 Tahun 20013 Tentang Penyiaran memaknai literasi media sebagai kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan sikap kritis masyarakat. Dari sini tersirat bahwa literasi media merupakan sebuah proses yang harus dilakukan sepanjang hayat untuk dapat memahami informasi yang disampaikan oleh media dengan melalui tahapan-tahapan tertentu. Agar program literasi media dapat berjalan seperti yang diharapkan, seyogyanya hal ini dilakukan oleh semua pihak, mulai dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan Di perguruan tinggi, kegiatan literasi media dapat lebih luas karena dapat terlibat juga dalam tri dharma perguruan tinggi yakni: (1). Pendidikan dan Pengajaran, (2). Penelitian dan Pengembangan dan (3). Pengabdian kepada masyarakat. Derasnya arus berita rekayasa (fake news) dan berita palsu (hoax) menjadi tantangan bagi pustakawan perguruan tinggi untuk berperan memberikan informasi terpercaya dan bertanggung jawab bagi civitas academica. Hal ini penting karena pustakawan merupakan pekerja yang bergerak di bidang informasi dan perpustakaan juga merupakan salah satu pusat informasi yang mempunyai peran yang tidak terbatas pada mengumpulkan dan menyebarkan informasi saja akan tetapi meliputi juga bagaimana cara memperoleh informasi dari sumber-sumber yang terpercaya serta memanfaatkan informasi tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dengan peran strategis yang dimilikinya, maka seharusnya pustakawan dapat melakukan banyak hal yang berkaitan dengan literasi media

Discussion

Literasi Media Definisi literasi pada Kamus Besar Bahasa Indonesia mengacu pada (1). kemampuan membaca dan menulis, (2) pengetahuan atau ketrampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu. Seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat, definisi literasi turut berevolusi sesuai perkembangan yang terjadi Literasi merupakan sebuah proses, sehingga perlu ada tahapan-tahapan untuk melakukannya Dalam literasi media yang diungkapkan James Porter dalam Rahayu (Media Literasi Agenda “Pendidikan” Nasional yang Terabaikan ada tahap- tahap dalam literasi media, yaitu: a. b. Explore , yaitu keahlian untuk memilih memutuskan informasi yang dibutuhkan dari suatu pesan Recggnize Symbols, keahlian untuk mengidentifikasi dan memilah simbol-simbol. Keahlian ini terdiri dari dua macam yaitu Message Focnsed Skill dan Message Extending Skill. Message focused skill merupakan keahlian menafsirkan makna pesan media massa. Keahlian ini meliputi aspek: 1) 2) 3) Analysis, keahlian menjabarkan pesan kedalam elemen-elemen yang bermakna dengan cara menggali lapisan-lapisan makna di dalam pesan yang tersaji di media dan merupakan keahlian untuk membuat klasifikasi pesan-pesan yang memiliki persamaan dan perbedaan; Evaluation, menunjukkan keahlian menilai elemen pesan dengan membandingkannya dengan kriteria-kriteria tertentu; dan Abstraction, merupakan keahlian untuk menyusun sebuah deskripsi pesan media yang tepat yaitu singkat, jernih dan akurat. Selanjutnya Message extending skill merupakan keahlian menjelaskan dan menyimpulkan pesan-pesan media massa yang diterima. Keahlian ini terdiri dari: a) b) c) Deduction, keahlian menggunakan prinsip-prinsip umum untuk menjelaskan hal-hal khusus; Induction, keahlian untuk menarik kesimpulan mengenai pola-pola umum melalui pengamatan terhadap hal-hal khusus; dan Synthesis, keahlian untuk menyusun kembali elemenelemen menjadi suatu struktur baru. Kesemua keahlian tersebut yang pada akhirya menentukan tingkat literasi media seseorang. Dari penjelasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya semua orang telah melek media meskiberadapadatingkatan yang berbedabeda. Sehingga Porter mengambil kesimpulan bahwa semakin tinggi tingkat literasi media yang dimiliki seseorang, maka semakin banyak makna yang dapat digalinya. Sebaliknya, semakin rendah tingkat literasi media seseorang, semakin sedikit atau dangkal pesan yang didapatnya. Seseorang yang memiliki tingkat literasi media rendah akan sulit mengenali ketidakakuratan pesan, keberpihakan media, memahami kontroversi, mengapresiasi ironi atau satire dan sebagainya. Bahkan kemungkinan besar orang tersebut akan dengan mudah mempercayai dan menerima makna-makna yang disampaikan media apa adanya tanpa berupaya mengkritisinya. b. Peran Pustakawan PerguruanTinggi dan Literasi Media Sebagai salah satu unsur penunjang dalam Perguruan Tinggi, seyogyanya perpustakaan dituntut jeli untuk melihat permasalahan yang terjadi di lingkungannya. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa perpustakaan telah ada sejak jaman dahulu hingga kini. Sebagaimana dinyatakan oleh Pendit (2009) bahwa perpustakaan adalah institusi yang terus mengalami perubahan, adaptif dengan perkembangan teknologi, kendati relatif tak mengalami banyak perubahan tradisi aktivitas pokoknya sebagai penghimpun, penyimpan, serta penyedia rekaman pengetahuan. Meskipun demikian, agar perpustakaan tetap diakui keberadaannya serta mempunyai “value of library” maka perpustakaan harus dapat menunjukkan ‘“va/ue” yang dimilikinya dengan cara menjawab aneka tantangan yang dihadapi di era informasi seperti saat ini. Barner (2011) memperingatkan bahwa saat ini perpustakaan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar ketimbang era-era sebelumnya. Seleksi alam masa kini bagi perpustakaan dipicu oleh revolusi teknologi komputer dan jaringan serta infrastruktur lingkungan digital. Untuk itu seyogyanya perpustakaan perguruan tinggi harus cepat tanggap dengan perubahan yang terjadi di sekelilingnya, jeli melihat kesempatan dan dapat menangkap peluang-peluang baru bagi kemajuan perpustakaan. Ketika teknologi informasi telah memasuki wilayah perpustakaan, maka mau tidak mau perpustakaan akan bergerak menuju arah modemn. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh perpustakaan akan berkembang sejalan dengan permasalahan yang terjadi dalam masyarakat. Peran pustakawan dalam mendukung budaya literasi di perguruan tinggi dapat dilakukan melalui 1. 2. 3. Workshop dan seminar Tema dari workshop dan seminar ini sebaiknya didasarkan pada permasalahan yang dihadapi oleh civitas academika. Misalnya saja dalam proses pencarian informasi untuk tugas. Maka workshop dan seminar yang diadakan dapat berupa bagaimana cara menemukan sumber-sumber informasi yang dapat dipercaya, bagaimana memanfaatkan media dan teknologi untuk mendukung tugas, bagaimana cara menuliskan daftar pustaka yang benar. Hal-hal semacam ini tentunya sangat dibutuhkan oleh pemustaka untuk mendukung proses pembelajarannya. Memberi pengumuman dengan menggunakan fasiltas web perpustakaan. Pengumuman yang ditampilkan di web perpustakaan bias berupa panduan untuk menelusur sumbersumber informasi ataupun informasi apa saja yang dimiliki oleh perpustakaan. Berkolaborasi dengan pihak-pihak lain dalam menyelenggarakan kegiatan literasi. Pustakawan dapat berkolaborasi dengan pihak lain dalam mendukung budaya literasi di perguruan tinggi. Selanjutnya agar literasi media dapat terlaksana dengan baik, pustakawan perguruan tinggi ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki pustakawan: Jenkins dalam Rahayu mengemukakan ada 12 (dua belas) kemampuan inti yang harus dimiliki untuk melakukan literasi media, yakni: 1. Play-the capacity to experiment with one’s surrounding as a form of problem-solving 2. Perform- the ability to adopt alternative identities for the purpose of improvisation and discovery 3. Simulation- the ability to interpret and construct the dynamic models of real word processes 4. Appropriation-the ability to meaning fully sample and remix media content. 5. Multitasking—the ability to scan one’s environment and shift focns as needed to salient details. 6. Distributed cognition—the abilityto interact meaning fully with tools that expand mental capasities. 7.Collective intelligent—the ability to pool knowledge and compare notes with others toward a common goal. 8. Judgement — the ability to evaluate the reliability and credibility of different information sonrces. 9.Transmedia navigation—the ability to follow the flow of stories and information across multiple modalities. 10. Networking—the abilityto search for,synthesize,and disseminate information. 11. Negotiation—the ability to travel across diversecommunities,discerning and respecting multiple perspectives,and grasping andf ollowing alternative norms. 12. Visnalization—the ability to interpret and create data representations for the purposes of expressing ideas,finding patterns,and identifying trends(Jenkins et al. 2008b)

Conclusion

Hidup ditengah terpaan media membuat orang senantiasa mempunyai kesadaran untuk mempercayai suatu informasi yang disampaikan oleh media benar atau tidak. Kesadaran media merupakan hal penting dilakukan mengingat pesatnya perkembangan media akan tetapi tidak diiringi dengan kecakapan dalam menggunakannya. Literasi media merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak untuk mencegah manusia “hanyut” dalam banjir informasi. Di lingkungan perguruan tinggi, perpustakaan melalui pustakawannya dituntut untuk dapat memberikan informasi yang terpercaya bagi civitas academica. Salah satu caranya dengan turut serta berpartisipasi melakukan literasi media dalam berbagai macam bentuk seperti workshop, seminar, danmemberi pengumuman dengan menggunakan fasiltas web perpustakaan. Selain itu perpustakaan dapat berkolaborasi dengan pihak-pihak lain dalam menyelenggarakan kegiatan literasi media. Untuk dapat melakukan hal tersebut tentunya diperlukan kompetensi pustakawan yang memadai. Diharapkan dengan dapat terlaksananya literasi media oleh pustakawan perguruan tinggi, tingkat kesadaran media civitas academika akan semakin meningkat. Dengan demikian budaya literasi dapat terwujud dengan baik, karena pada dasarnya literasi merupakan soff skill yang harus dimiliki oleh manusia untuk bertahan hidup.