Kembali
16
1
2019 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 11 · 1 ISSN 2502-4108

TANTANGAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DI ERA DISRUPSI

Universitas Sebelas Maret

Abstrak

Kemajuan ilmu pengetahuan telah menghasilkan teknologi yang semakin canggih dan membawa banyak perubahan. Perubahan yang disebabkan oleh kemajuan teknologi tidak hanya berdampak bagi perkembangan teknologi itu sendiri, akan tetapi juga mempengaruhi dalam kehidupan manusia. Disrupsi merupakan perunahan besar yang bersifat mendasar serta memiliki cakupan yang luas. Dalam dunia penidikan tinggi, hadirnya disrupsi telah membuat perubahan mendasar dalam proses belajar mengajar. Sebagai bagaian dari perguruan tinggi, perpustakaan dituntut mempunyai kemampuan beradaptasi pada perubahan yang sedang berlangsung di sekelilingnya apabila tidak ingin hilang ditelan oleh perubahan. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis lima permasalahan yang dihadapi oleh perpustakaan perguruan tinggi, yakni: 1. Membuktikan keberadaan perpustakaan bagi perguruan tinggi, 2. Melatih pustakawan dan staff perpustakaan agar senantiasa dapat beradaptasi dengan teknologi.3. Layanan, Akses sumber informasi dan Koleksi. 4. Memperbaharui keberadaan perpustakaan, baik secara fisik maupun digital. 5. Kolaborasi.

Abstract

The progress of science has resulted in increasinglysophisticated technology and brought many changes. Changes caused by technological advances not only affect the development of technology itself, but also affect human life. Disruption is a major settlement that is fundamental and has a broad scope. In the world of higher education, the presence of disruption has made fundamental changes in the teaching and learning process. As a part of universities, libraries are required to have the ability to adapt to the ongoing changes around them if they do not wantto be swallowed up by change. This paper aims to analyze five problems faced by college libraries, namely: 1. Proving the existence of libraries for universities, 2. Train librarians and library staff to always be able to adapt to technology. Services, Access to information resources and Collections. 4. Renew the existence of the library, both physically and digitally. 5. Collaboration</p>
Keywords: disrupsi · tantangan · perpustakaan perguruan tinggi

Introduction

Kemajuan ilmu pengetahuan telah menghasilkan teknologi yang semakin canggih dan membawa banyak perubahan. Perubahan yang disebabkan oleh kemajuan teknologi tidak hanya berdampak bagi perkembangan teknologi itu sendiri, akan tetapi juga mempengaruhi dalam kehidupan manusia, misalnya seperti cara berkomunikasi. Pada awalnya, manusia berkomunikasi secara berhadap-hadapan langsung (face to face) atau menggunakan alat dengan jangkauannya terbatas. Pesan yang disampaikan pun umumnya bersifat sederhana. Hadirnya telepon seluler yang merupakan pengembangan dari telegraf, membuat manusia dapat berkomunikasi dengan lebih cepat dan dengan jangkauan yang lebih luas. Dengan teknologi, telepon seluler yang awalnya hanya mempunyai fitur suara atau teks, saat ini dengan dilengkapi fitur suara, teks dan gambar yang dapat dilakukan dalam satu aktivitas sekaligus. Fungsi telepon seluler yang awalnya hanya sebagai alat komunikasi, pada saat ini sudah dapat disebut sebagai salah satu dari bagian diri manusia. Perubahan besar yang bersifat mendasar dan terjadi dengan sangat cepat tanpa bisa ditahan lajunya, oleh beberapa ahli disebut disrupsi. Istilah disruptive innovation ini dipopulerkan oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower dalam artikel yang berjudul “ Disruptive Technologies: Catching the wave” yang dimuat pada jurnal Harvard Business Review edisi Januari-Februari tahun 1995. Dalam artikel tersebut, Christensen dan Bower menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan besar dan pemimpin pasar sulit mempertahankan posisinya ketika ada perubahan pada teknologi dan pasar. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya perubahan besar atau yang dikenal dengan sebutan disrupsi. Cakupan disrupsi sangat luas mulai dari dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial masyarakat hingga dunia pendidikan. Di perguruan tinggi, hadirnya disrupsi telah membuat era baru dunia pendidikan. Perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan level tertinggi tidak terkecuali merasakan adanya imbas perubahan yang disebabkan oleh teknologi ini sehingga pada akhirnya dihadapkan pada dua pilihan, pertama adalah dipaksa untuk mengikuti keadaan ini atau kedua tertinggal dan pada akhirnya hilang ditelan perubahan jaman. Dengan kata lain, berubah atau punah, berinovasi atau tertinggal. Perguruan tinggi “dipaksa” untuk menerima kenyataan bahwa kedepan dengan hadirnya teknologi yang maju akan membuat perguruan tinggi bukan satu-satunya tempat belajar belajar selepas pendidikan menengah. Perguruan tinggi bisa saja hanya merupakan salah satu dari sekian banyak alternative sumber belajar. Kehadiran MOOCS (Massive Open Online Course) yang merupakan pengajaran online telah mengawali terjadinya disrupsi di dunia perguruan tinggi. Massive open online courses (MOOCS) merupakan kursus berbasis web yang ditawarkan oleh berbagai universitas di seluruh dunia. Beberapa MOOCS menggunakan model akses terbuka dengan lisensi konten dan struktur terbuka., sementara model MOOCS yang lain menggunakan model tertutup dengan atau tanpa berbayar. Selain itu, kelebihan MOOCs adalah juga dilengkapi dengan forum yang interaktif yang memudahkan komunitas didalamnya saling berinteraksi antara siswa/mahasiswa dengan para pengajarnya, para professor ataupun asisten professor. Menyadari kondisi seperti ini, perguruan tinggi seharusnya segera berbenah, menyempurnakan sistem pendidikan tinggi mulai dari hulu ke hilir merupakan salah satu alternatif untuk menjawab tantangan zaman. Perpustakaan perguruan tinggi sebagai salah satu unsur penunjang yang berada di lingkungan perguruan tinggi secara otomatis terkena dampak langsung perubahan yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Dengan hadirnya disrupsi di perguruan tinggi, keberadaan perpustakaan seharusnya tidak lagi sebatas pengertian perpustakaan secara tradisional yang menyatakan perpustakaan sebagai sebuah tempat atau gedung secara fisik, akan tetapi seharusnya definisi perpustakaan berubah menjadi wahana belajar sepanjang hayat (lifelong learning). Perubahan tersebut diikuti oleh perubahan segala aktivitas yang ada di perpustakaan. Sudah bukan saatnya lagi perpustakaan dikenal hanya sebagai tempat meminjam dan mengembalikan buku atau sejenisnya, akan tetapi perpustakaan dapat memaksimalkan seluruh fungsi yang dimilikinya. Ketika perpustakaan perguruan tinggi menyatakan dirinya sebagai jantungnya perguruan tinggi, maka seharusnya perpustakaan dapat menunjukkan nilai kebermanfaatan dirinya bagi lembaga penaungnya tersebut. Dengan kata lain perpustakaan dituntut mempunyai kemampuan beradaptasi pada perubahan yang sedang berlangsung di sekelilingnya apabila tidak ingin hilang ditelan oleh perubahan. Dengan demikian, perpustakaan perguruan tinggi harus jeli membaca tren perubahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya serta beradaptasi sehingga dapat menjawab segala tantangan yang dihadapi oleh perpustakaan perguruan tinggi pada saat ini dan masa depan serta dapat membaca peluang untuk menempatkan perpustakaan perguruan tinggi benar-benar sebagai jantungnya perguruan tinggi. Karena pada dasarnya,kehadiran disrupsi mengahasilakan dua hal yakni tantangan dan peluang sekaligus. Berdasarkan penjelasan diatas, maka makalah ini akan membahas mengenai tantangan yang dihadapi oleh perpustakaan perguruan tinggi di eradisrupsi

Discussion

Disrupsi bukan hanya sekedar perubahan, akan tetapi perubahan secara mendasar yang terjadi cepat ,besar-besaran dan mempunyai cakupan yang luas. Rhenald Kasali1 dalam bukunya Disruption (2017) mengungkapkan bahwa disrupsi tidak hanya terjadi dalam aspek bisnis, investasi dan keuangan. Akan tetapi juga terjadi secara kait mengkait dalam banyak bidang kehidupan, baik pemerintah, politik, dunia hiburan, maupun sosial. Dalam buku tersebut, dicontohkan perubahan yang terjadi mulai dari hadirnya telegraf menjadi telepon kabel, kemudian berubah menjadi ponsel biasa dan berubah lagi menjadi smart phone yang kini sudah bisa dianggap sebagai kebutuhan primer dalam hidup manusia. Selanjutnya, Brian Solis2, seorang digital analyst yang mengungkapkan istilah disruptif technology dalam artikelnya yang berjudul „The Rise of Digital Darwinism and the Fall of Business as Usual’. Dalam tulisannya Brian Solis menjelaskan bahwa kemajuan teknologi saat ini telah mengubah banyak hal, mulai dari pengembangan produk, leadership and management system, business model, dan lain-lain. Banyaknya inovasi di segala bidang saat ini membuat perusahaan/ organisasi seakan-akan berada di persimpangan, dan harus memutuskan akan beradaptasi pada perubahan ini atau tersingkir. Dalam dunia pendidikan tinggi, perubahan tidak hanya terjadi pada proses kegiatan belajar mengajar, akan tetapi perubahan meliputi semua hal yang ada di perguruan tinggi. Misalnya saja cara mengajar dan belajar dimungkinkan melewati batas-batas fisik ruang kuliah, kampus, bahkan negara. Bahkan lebih dari itu, kedepan dimungkinkan bahwa perguruan tinggi bukan satu-satunya pilihan untuk mendapatkan ilmu setelah lulus dari sekolah lanjutan atas. Berbagai macam kemungkinan dapat terjadi dalam era disrupsi teknologi seperti saat ini. Maka yang dapat dilakukan adalah melakukan perubahan sesuai dengan perkembangan teknologi. Disrupsi sebagai tantangan sekaligus peluang. Disrupsi : Tantangan Bagi Perpustakaan Perguruan Tinggi Ida Fajar Priyanto (2018)3 dalam tulisannya berjudul Menghadapi Era Normal Baru menjelaskan bahwa disrupsi merupakan perubahan besar yang menghasilkan efisiensi serta dapat menimbulkan persoalan, terutama bagi pihak yang tidak produktif dan tidak dapat mengikuti perubahan. Menurutnya, dampak dari disrupsi ini, antara lain: (1) melambungnya harga sumber informasi; (2) munculnya pilihan media akses informasi; (3) pergeseran pemanfaatan sumber perpustakaan konvensional; dan (4) pergeseran kebutuhan pemustaka. Disrupsi ini sudah mulai terlihat di perpustakaan perguruan tinggi. Lewis (2004)4 dalam artikel nya berjudul The Innovator's Dilemma: Disruptive Change and Academic Libraries, menjelaskan disrupsi di perpustakaan dengan jelas dapat terlihat pada bagian koleksi, deskripsi bibliografi serta layanan referensi. Dalam ketiga hal tersebut, ada alternatif lain yang bisa dengan mudah ada, biaya lebih murah, lebih cepat, dan lebih nyaman daripada layanan yang biasanya disediakan oleh perpustakaan. Sebagai contoh, dalam artikel tersebut, Lewis menunjukkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kenney et al. di Universitas Cornell University bahwa biaya untuk mendapatkan layanan referensi di perpustakaan Universitas Cornel lebih mahal daripada jawaban yang diperoleh dari mesin pencari Google.Dijelaskan lagi secara rinci,untuk pertanyaan yang mudah, biaya nya 5 kali lebih mahal dari Google, dan untuk pertanyaan sulit biayanya 2 kali lebih mahal dari Google. Lewis mengingatkan bahwa keberhasilan perpustakaan di masa lalu, dan penghargaan tinggi yang umumnya dimiliki perpustakaan, tidak akan melindungi perpustakaan dari pesaing potensial yang dilengkapi dengan dengan teknologi baru. Sehingga sebaiknya perpustakaan mulai mawas diri menghadapi teknologi yang terus berkembang. bahkan negara. Bahkan lebih dari itu, kedepan dimungkinkan bahwa perguruan tinggi bukan satu-satunya pilihan untuk mendapatkan ilmu setelah lulus dari sekolah lanjutan atas. Berbagai macam kemungkinan dapat terjadi dalam era disrupsi teknologi seperti saat ini. Maka yang dapat dilakukan adalah melakukan perubahan sesuai dengan perkembangan teknologi. Disrupsi sebagai tantangan sekaligus peluang. Disrupsi : Tantangan Bagi Perpustakaan Perguruan Tinggi Ida Fajar Priyanto (2018)3 dalam tulisannya berjudul Menghadapi Era Normal Baru menjelaskan bahwa disrupsi merupakan perubahan besar yang menghasilkan efisiensi serta dapat menimbulkan persoalan, terutama bagi pihak yang tidak produktif dan tidak dapat mengikuti perubahan. Menurutnya, dampak dari disrupsi ini, antara lain: (1) melambungnya harga sumber informasi; (2) munculnya pilihan media akses informasi; (3) pergeseran pemanfaatan sumber perpustakaan konvensional; dan (4) pergeseran kebutuhan pemustaka. Disrupsi ini sudah mulai terlihat di perpustakaan perguruan tinggi. Lewis (2004)4 dalam artikel nya berjudul The Innovator's Dilemma: Disruptive Change and Academic Libraries, menjelaskan disrupsi di perpustakaan dengan jelas dapat terlihat pada bagian koleksi, deskripsi bibliografi serta layanan referensi. Dalam ketiga hal tersebut, ada alternatif lain yang bisa dengan mudah ada, biaya lebih murah, lebih cepat, dan lebih nyaman daripada layanan yang biasanya disediakan oleh perpustakaan. Sebagai contoh, dalam artikel tersebut, Lewis menunjukkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kenney et al. di Universitas Cornell University bahwa biaya untuk mendapatkan layanan referensi di perpustakaan Universitas Cornel lebih mahal daripada jawaban yang diperoleh dari mesin pencari Google.Dijelaskan lagi secara rinci,untuk pertanyaan yang mudah, biaya nya 5 kali lebih mahal dari Google, dan untuk pertanyaan sulit biayanya 2 kali lebih mahal dari Google. Lewis mengingatkan bahwa keberhasilan perpustakaan di masa lalu, dan penghargaan tinggi yang umumnya dimiliki perpustakaan, tidak akan melindungi perpustakaan dari pesaing potensial yang dilengkapi dengan dengan teknologi baru. Sehingga sebaiknya perpustakaan mulai mawas diri menghadapi teknologi yang terus berkembang. Kecermatan membaca tren perubahan yang terjadi di lingkungan perpustakaan perguruan tinggi memungkinkan perpustakaan dapat mengantisipasi sekaligus menjawab segala perubahan yang terjadi dan diperkirakan akan terjadi di masa depan. Seperti dikatakan dalam hukum kelima Ranganathan5, library is growing organism dapat diartikan bahwa sebuah perpustakaan akan senantiasa tumbuh dan berkembang. Masyarakat membutuhkan perpustakaan maka perpustakaan akan terus ada. Apabila perpustakaan merasa keberadaannya masih dibutuhkan oleh perguruan tinggi maka sudah saatnya perpustakaan menunjukkan “nilai kebermanfaatan” yang dimiliki perpustakaan bagi penggunanya serta lembaga penaungnya. Untuk itu, perpustakaan perguruan tinggi sudah seharusnya mengenali karakteristik pemustaka mereka agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhannya. Karakteristik generasi digital sekarang tentunya mempunyai perbedaan dengan generasi generasi sebelumnya. Apabila perpustakaan perguruan tinggi masih mempertahankan “tradisi lamanya” dan tidak mengikuti perkembangan zaman bukan tidak mungkin perpustakaan perguruan tinggi akan ikut tergilas oleh disrupsi. Yusuf (2015)6 menjelaskan untuk mengajak generasi digital untuk datang dan memanfaatkan perpustakaan konvensional bukanlah hal mudah, lingkungan yang dikelilingi oleh teknologi informasi dan komunikasi yang mampu menembus batas ruang dan waktu membuat generasi ini bisa mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan dalam waktu singkat dan cepat. Foo, Chaudry, Majid and Logan7 (2002), Staley and Maleanfant8 (2010) Lee9 (2015), telah menulis berbagai tantangan yang dihadapi oleh perpustakaan perguruan tinggi pada saat ini. Dalam makalah ini tidak akan membahas semua tantangan yang dihadapi oleh perpustakaan perguruan tinggi akan tetapi penulis membatasi pada 5 (lima) hal saja yang menurut penulis merupakan tantangan jangka pendek dan harus segera diatasi oleh perpustakaan perguruan tinggi. Kelima hal tersebut meliputi: 1. Membuktikan keberadaan perpustakaan bagi perguruan tinggi Disrupsi merupakan era baru dimana setiap perubahan yang terjadi menuntut kemampuan adaptasi yang cepat apabila tidak ingin hilang ditelan perubahan. Sebagai unit yang mendukung perguruan tinggi, perpustakaan harus menyadari perubahan ini dan segera beradaptasi untuk membantu perguruan tinggi mencapai visi misinya. Agar dapat melakukan hal ini, maka perpustakaan harus jeli melihat hal-hal apa saja yang dapat dilakukan oleh perpustakaan bagi para pemustaka serta institusi yang menaunginya serta menciptakan inovasi-inovasi untuk menunjukkan “library value”. 2. Melatih pustakawan dan staff perpustakaan agar senantiasa dapat beradaptasi dengan teknologi. Pustakawan sebagai sumber daya manusia utama yang ada di perpustakaan merupakan salah satu asset terbesar yang dimiliki oleh perpustakaan. Dengan semangat belajar sepanjang hayat, sudah seharusnya pustakawan dan staff perpustakaan senantiasa meningkatkan kemampuan dan ketrampilan yang dimilikinya untuk melayani pemustaka. 3. Layanan, Akses sumber informasi dan Koleksi. Ketiga hal ini merupakan hal yang saling berhubungan. Layanan merupakan salah satu kegiatan yang ada di perpustakaan, akan tetapi kebutuhan pengguna perpustakaan pada Kesesuaian antara mengembangkan sumber-sumber digital dengan koleksi tercetak merupakan saat ini tidak hanya berupa layanan wajib perpustakaan seperti sirkulasi, referensi dan sebagainya. Disini diperlukan pengamatan serta pengetahuan untuk menciptakan jenis-jenis layanan yang dibutuhkan oleh perpustakaan seperti misalnya layanan RDS (Research Data Service). Perpustakaan dapat terlibat dalam kegiatan penelitian yang dilakukan sebagai penyedia, pengolah maupun menganalisis data. Untuk itu diperlukan kemampuan sumber daya manusia yang memadai. Kemudahan akses pada sumber-sumber informasi pada saat ini merupakan hal yang harus diperhatikan oleh perpustakaan. Sistem sistem tradisional sedapat mungkin dirubah dan dibuat seefektif dan sesimpel mungkin. Misalnya saja kemudahan untuk mendaftar menjadi anggota perpustakaan baik bagi civitas academica di lingkungan kampus maupun diluar kampus. Selanjutnya akses pada koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan maupun akses pada koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan yang lain. Koleksi perpustakaan dalam bentuk tercetak pada era sekarang semakin ditinggalkan seiring pesatnya perkembangan internet. Informasi tidak hanya terdapat di buku (secara fisik), akan tetapi juga dapat diakses melalui ebook. Untuk itu kemudahan mengakses sumber-sumber informasi merupakan hal yang penting dipikirkan oleh perpustakaan perguruan tinggi 4. Memperbaharui keberadaan perpustakaan, baik secara fisik maupun digital. Definisi perpustakaan dalam artian tradisional berkaitan dengan gedung perpustakaan yang megah, jumlah koleksi yang beragam jenis dan banyak jumlahnya merupakan salah satu keunggulan perpustakaan, Di era digital seperti pada saat ini sekarang, definisi perpustakaan adalah dimana ada internet maka disanalah terdapat perpustakaan. Berdasarkan hal tersebut, maka perpustakaan perguruan tinggi harus berpikir ulang untuk menyusun kebijakan, program kerja maupun segala bentuk aktivitas di dalamnya agar tetap bisa bertahan harus mengikuti perubahan yang terjadi di lingkungan penggunanya. Melakukan kerjasama antar perpustakaan perguruan tinggi ataupun lembaga lainnya baik yang sejenis maupun tidak diharapkan dapat membantu melihat tren yang sedang terjadi di lingkungan sekitarnya, karena hal itu akan berpengaruh pada tantangan yang dihadapi serta dapat digunakan untuk melihat peluang aktivitas apa yang dapat dilakukan perpustakaan untuk membantu pengguna perpustakaan dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi nya. 5. Kolaborasi. Kolaborasi merupakan salah satu hal yang wajib dilakukan di era digital seperti saat ini. Pustakawan bisa berkolaborasi antar sesama pustakawan ataupun dengan civitas academica lain yang multi disiplin.

Conclusion

Inovasi pengetahuan telah menghasilkan teknologi yang semakin canggih yang membawa banyak perubahan dalam segala bidang termasuk dalam pendidikan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi sebagai lembaga pendukung perguruan tinggi diharapkan mampu menunjukkan keberadaannya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan melihat tren yang terjadi di lingkungan sekitarnya, karena hal itu akan berpengaruh pada tantangan yang dihadapi serta dapat digunakan untuk melihat peluang aktivitas apa yang dapat dilakukan perpustakaan untuk membantu pengguna perpustakaan dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi. Perpustakaan merupakan tempat pendidikan sepanjang hayat, untuk itu perpustakaan perguruan tinggi dituntut juga untuk memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan termasuk juga dengan segala aktivitas didalamnya, sehingga keberadaan perpustakaan perguruan tinggitidak hanya sebagai semboyan The heart of university.