IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KOLEKSI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI (TINJAUAN LITERATURE REVIEW)
Badan Standardisasi Nasional
Abstrak
Kegiatan pengembangan koleksi diperlukan sebuah kebijakan pengembangan koleksi .Tanpa kebijakan pengembangan koleksi seperti bisnis tanpa rencana bisnis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat implementasi kebijakanpengembangan koleksi di perpustakaan perguruan tinggi.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan literaturereview. Kriterianyaadalah artikel sesuai tujuan penelitian jurnal mengenai pengembangan koleksi, ditampilkan fullteks dan publikasi 5 tahun terakhir.Pencarian artikel dilakukan terhadap database Indonesia One Search (IOS)melalui https://onesearch.id/,kemudian jurnal diperiksa sesuai dengan kriteria. Proses pemeriksaan memperoleh hasil 5 artikel.Analisis data dengan ekstraksi data, yaitu menganalisis data berdasarkan nama penulis, judul, tujuan, metode penelitian serta pengelompokan data-data penting pada artikel.Hasil penelitianmenunjukkan bahwa implementasi pengembangan koleksi mengalami hambatan, antara lain relevansi, informasi ganda atau over penerbitan, pengawasan bibliogradi, anggaran dan kesenjangan antara seleksi, kurangnya komunikasi,analisis pengguna, tidak adanya kebijakan tertulis, kurangnya peran pihak yang berwenang melakukan seleksi dan minimnya alat bantu seleksi, dan kurang kepercayadirian pustakawan. Perpustakaan belum sepenuhnya memegang otonomi secara penuh dalam pengelolaan perpustakaan, jadi kontekstualisasi kebijakan pengembangan koleksi tidak berjalan secara maksimal. Temuan lain bahwa keterlibatan pengguna dalam perumusan kebijakan pengembangan koleksi sangat kecil</p>
Abstract
Collection development activities require a collection development policy. Without a collection development policy, like a business without a business plan. This study aims to see the implementation of collection development policies in The college libraries. This research is a qualitative study with a literature review. criteria are articles according to journal research objectives regarding collection development, displayed in full text and publication for the last 5 years. The search for articles was carried out on the Indonesia One Search (I0S) database via htips://onesearch.id/ , then the articles were checked according to the criteria. The examination process resulted in 5 articles. Data analysis with data extraction, analyzing data based on the author's name, title, objectives, research methods and grouping important data in articles. The results showed that the implementation of collection development encountered obstacles, including relevance, multiple information or overpublishing, bibliographic supervision, budget and gaps between selection, lack of communication, user analysis, absence of written policies, lack of role of authorized parties to select and lack of tools. help selection, and less trust in the librarian. Libraries have not fully held full autonomy in library management, so contextualization of collection development policies does not run optimally. Another finding is that user involvement in the formulation of collection development policies is very small.
Keywords:
collection development
· college libraries
· collection development policy
Introduction
Perpustakaan dituntut untuk bergerak cepat menyesuaikan perkembangan teknologi dan informasi berimplikasi tethadap kebutuhan informasi pengguna. Untuk mendukung kualitas informasi yang baik, perpustakaan perguruan tinggi menjadikan kegiatan pengembangan koleksi sebagai kegiatan perencanaan dan pemilihan sumber informasi yang tepat agar terjadi keselarasan antara tugas fungsi perpustakaan perguruan tinggi dan instansi induk, yaitu perguruan tinggi. Pengembangan koleksi merupakan proses untuk mengembangkan atau membangun koleksi perpustakaan untuk memprioritaskan kebutuhan instansi dan kebutuhan atau minat pengguna.! Sebagai acuan dalam kegiatan pengembangan koleksi diperlukan sebuah kebijakan pengembangan koleksi. Semua jenis perpustakaan, termasuk perpustakaan perguruan tinggi memerlukan suatu kebijakan dalam pengembangan koleksi yang bisa dijadikan sebagai pedoman untuk menentukan arah yang jelas bagi pengembangan koleksi dan bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Kebijakan pengembangan koleksi tertulis penting untuk sejumlah alasan. Tanpa kebijakan pengembangan koleksi seperti bisnis tanpa rencana bisnis. Banyak perpustakaan belum memiliki kebijakan pengembangan koleksi tertulis, tetapi sudah memiliki acuan yang sudah terikat berdasarkan pengalaman bertahun-tahun namun tidak tertulis.> Kebijakan pengembangan koleksi adalah suatu kebijakan yang diperlukan perpustakaan agar dapat memberikan informasi yang sesuai dengan tugas yang diemban organisasi induknya.’ Evan menyatakan bahwa ratusan perpustakaan dan pusat informasi tidak mempunyai kebijakan pengembangan koleksi berhasil tertulis. secara tertulis. Meskipun demikian mereka berpendapat bahwa tetap dalam melakukan pengembangan koleksi meskipun tanpa kebijakan Alasannya, pengembangan koleksi tetap bisa dilakukan dengan dengan tanggungjawab dan komitmen yang mendalam terhadap perpustakaan beserta koleksinya* Hal senada diungkapkan oleh Gregory bahwa tidak semua perpustakaan memiliki kebijakan pengembangan koleksi tertulis, sehingga kita perlu perlu membantu menyusun kebijakan pengembangan koleksi. Implementasi pengembangan koleksi menemui berbagai hambatan, diantaranya bahwa pemahaman pustakawan bahwa pengembangan koleksi bersifat dinamis bertolak belakang dengan praktik di lapangan. Penyebabnya adalah kurangnya kerjasama antara pustakawan dan pengguna. Akibatnya analisis kebutuhan pengguna sebagai tumpuan utama dalam pengembangan koleksi belum dilakukan secara mendalam. Kebutuhan koleksi hanya dilakukan melalui usulan judul buku sehingga belum mencerminkan kebutuhan pengguna yang sebenarnya.® Kelemahan pengembangan koleksi terletak pada jumlah anggaran untuk penambahan maupun pemeliharaan koleksi yang tidak menentu, penempatan koleksi masih kurang memadai, kurang penunjang sarana dan prasarana untuk kerberlangsungan perpustakaan dan pusat informasi.” Kebijakan pengembangan koleksi yang baik dapat dapat meningkatkan kepuasan pengguna melalui pengetahuan yang memadai tentang kebijakan pengembangan koleksi, evaluasi kebijakan pengembangan koleksi dan ketersediaan sumber daya informasi.® Pemahaman pustakawan bahwa pengembangan koleksi bersifat dinamis bertolak belakang dengan praktik di lapangan. Penyebabnya adalah kurangnya kerjasama antara pustakawan dan pengguna. Akibatnya analisis kebutuhan pengguna sebagai tumpuan utama dalam pengembangan koleksi belum dilakukan secara mendalam. Kebutuhan koleksi hanya dilakukan melalui usulan judul buku sehingga belum mencerminkan kebutuhan pengguna yang sebenarnya.’ Kelemahan pengembangan koleksi terletak pada jumlah anggaran untuk penambahan maupun pemeliharaan koleksi yang tidak menentu, penempatan koleksi masih kurang memadai, kurang penunjang sarana dan prasarana untuk kerberlangsungan perpustakaan dan pusat informasi. '° Kebijakan pengembangan koleksi yang baik dapat dapat meningkatkan kepuasan pengguna melalui pengetahuan yang memadai tentang kebijakan pengembangan koleksi, evaluasi kebijakan pengembangan koleksi dan ketersediaan sumber daya informasi.!! Berdasarkan latar belakang di atas maka penelitian ini melihat kajian yang telah dipublikasikan dengan terkait kebijakan pengembangan koleksi di perpustakaan perguruan tinggi.
Method
Penelitian literature review. ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan Penelitian deskriptif mengumpulkan data berdasarkan faktor pendukung objek penelitian, kemudian dianalisa untuk mencari peranannya.'? Penelitian kualitatif merupakan penelitian diperuntukkan untuk meneliti kondisi suatu obyek ilmiah dengan hasil penelitian lebih menekankan makna dari pada generalisasi.’® Literature review pada umumnya berisi ulasan, rangkuman & pemikiran penulis tentang beberapa pustaka (buku, jurnal, majalah) yang berkaitan dengan topik yang dibahas. Literature review memiliki peran penting dalam membuat suatu tulisan ataupun karangan ilmiah, karena dapat memberikan ide dan tujuan tentang topik penelitian yang akan dilakukan. Kriteria artikel yang digunakan dalam kajian literatur ini adalah artikel yang terkait kebijakan pengembangan koleksi di perpustakaan perguruan tinggi, artikel yang ditampilkan fulltext dan publikasi lebih tidak lebih dari 5 tahun dan jurnal bidang perpustakaan dan kearsipan. Pencarian artikel dilakukan terhadap database Indonesia One Search yang diakses melalui hztps://onesearch.id/. Kata kunci yang digunakan adalah kebijakan pengembangan koleksi, hasil yang keluaar berjumlah 76 artikel kemudian dilakukan penyaringan sesuai kriteria sehingga dihasilkan 45 artikel. Setelah dilakukan pengkajian kualitas, diambil 5 artikel dapat dikategorikan sesuai dengan tujuan penelitian. Artikel tersebut kemudian dianalisis dengan ekstrasi data, yaitu menganalisis data berdasarkan nama penulis, judul, tujuan, metode penelitian dan hasil penelitian serta pengelompokan data-data penting pada artikel
Discussion
Jumlah artikel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 5 artikel. Ekstraksi data dilakukan dengan menganalisis data berdasarkan nama penulis, judul, tujuan, metode penelitian. Adapun hasil ekstraksi data dapat dilihat pada tabel dibawah ini Tabel 1. Deskripsi Ekstraksi Data Artikel No Penulis/ Judul Jurnal Tujuan Metode Tahun 1 Batriatul Problematika Jumal Pustaka Untuk ‘mengetahui Deskriptif Alfadila Kebijakan Timiah, Volume problematika dalam kualitatif (2019) Pengembangan 5 Nomor 1, Juni kebijakan dengan Koleksi di 2019 Pengembangan Koleksi tinjauan Perpustakaan di Perpustakaan literatur Perguruan Tinggi Perguruan Tinggi 2 Iskandar Kontekstualisasi Jumal Iimu Menjelaskan Deskriptif (2017) Kebijakan Perpustakaan kontekstualisasi Kualitatif Pengembangan dan Informasi, Kebijakan dengan Koleksi Dalam Volume2No1 pengembangan koleksi studikasus Memenuhi Kebutuhan dapat berdampak pada Informasi Pengguna kesesuaian informasi (Studi Kasus di yang Perpustakaan UIN sediakan bagi pengguna Sunan Kalijaga perpustakaan Yogyakarta) 3 Dwi Novita Urgensi komunikasi Pustakaloka Vol Untuk ‘mengetahui Deskriptif Emaningsih, dalam implementasi 8 No2 pentingnya komunikasi ~kualitatif & Amalia kebijakan dalam implementasi dengan Nurma Dewi pengembangan Kebijakan studi kasus (2016) Koleksi di pengembangan koleksi Perpustakaan di Perpustakaan PPs UM Pascasatjana Malang 4 Ida AyuGede Evaluasi Kepuasan Jumal Ilmiah Untuk mengetahui Deskriptif Anindyatari, ~ Pengguna Tethadap ~ Mahasiswa evaluasi kepuasan kuantitatif Made Kebijakan Perpustakaan, pengguna terhadap Kastawa, 1 Pengembangan Yol1No1 kebijakan Putu Koleksi Buku pengembangan koleksi Suhartika Perpustakaan STMIK buku (2016) STIKOM Indonesia Perpustakaan ~ STMIK Stikom Indonesia 5 Emi Sasmita Kebijakan Jumal Iimu Untuk mengkaji Deskriptif dan Yona Pengembangan Perpustakaan kebijakan Kualitatif Primadesi Koleksi Tebitan dan Kearsipan Pengembangan Koleksi ~dengan (2014) Betkala di Fakultas YVol.3,No. 1 Terbitan Berkala di studikasus Timu Budaya Fakultas Iimu Budaya Universitas Andalas Universitas Andalas Perpustakaan perguruan tinggi adalah perpustakaan yang terdapat pada perguruaan tinggi, badan bawahannya, maupun lembaga yang berafiliasi dengan perguruaan tinggi, dengan tujuan utama Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.*> Uraian lebih rinci penelitian mengenai kebijakan informasi di perpustakaan perguruan tinggi adalah sebagai berikut : Batriatul Alfadila dalam artikelnya berjudul “Problematika Kebijakan Pengembangan Koleksi di Perpustakaan Perguruan Tinggi”, menjelaskan bagaimana problematika dalam kebijakan pengembangan koleksi di perpustakaan perguruan tinggi. Temuan menunjukkan bahwa terdapat beberapa kendala dalam mengembangkan koleksi sebagai berikut : 1) Informasi ganda, meledaknya produksi buku berdampak pada proses menyeleksikan koleksi mana yang akan dibeli pustakawan disebabkan satu judul buku mempunyai banyak pengarang sehingga pustakawan bingung memilih buku mana yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka, 2) Belum ada kebijakan tertulis. Banyak perpustakaan perguruan tinggi belum memiliki kebijakan secara tertulis, akibatnya pengembangan koleksi tanpa arah dan pedoman sehingga koleksi yang besar tetapi pemanfaatannya sangat minim, 3) Pengawasan bibliografi, Pustakawan belum sepenuhnya memahami dan mengetaui buku mana yang sudah terbit dan belum terbit atau yang masuk dalam daftar bibliografi, 4) Anggaran, anggaran sangat berpengaruh dalam proses pengembangan koleksi. Dengan anggara yang memadai proses akan berjalan dengan lancar sampai koleksi siap dilayankan, 5) Kesenjangan antara koleksi dengan dampak, yaitu terkadang koleksi yang diadakan tidak sesuai dengan manfaat yang diperoleh. 3 Berdasarkan hasil temuan tersebut, Balfadila mengidentifikasi secara garis besar kendala pengembangan koleksi di perpustakaan perguruan tinggi, pertama yaitu relevansi, dalam proses memilah dan memilih koleksi yang sesuai dengan program pendidikan atau disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku. Adanya keselarasan dengan program kurikulum yang berlaku, sehingga berefek pada penggunaan koleksi yang relevan. Kedua, dari sisi lingkup kerja perpustakaan meliputi informasi ganda atau over penerbitan, pengawasan bibliogradi, anggaran dan kesenjangan antara seleksi dan dampak hasil. Untuk menghadapi kendala tersebut solusi yang dapat dilakukan antara lain sikap kritis pustakawan dalam memilah dan memilih informasi yang dihasilkan sehingga tepat guna, membuat kebijakan pengembangan koleksi dan anggaran perpustakaan minimal 5%. Iskandar dalam artikelnya berjudul Kontekstualisasi Kebijakan Pengembangan Koleksi dalam Memenuhi Kebutuhan Informasi Pengguna, menjelaskan kontekstualisasi kebijakan pengembangan koleksi dapat berdampak pada kesesuaian informasi yang disediakan bagi pengguna perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Proses pengembangan koleksi perpustakaan pada dasarnya berjalan secara baik, pihak Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta juga memaksimalkan posisi dosen-dosen dan mahasiswa yang ada. Hal ini merupakan langkah yang baik dalam menyesuaikan informasi yang dibutuhkan dengan apa yang dibelanjakan oleh pihak perpustakaan. Akan tetapi belum berjalan secara maksimal mengingat respon dari pihak fakultas dan respon mahasiswa yang berkunjung ke perpustakaan terkadang kurang responsif. Jadi, secara fungsi perpustakaan sudah berusaha bekerjasama dengan objek informasi di perpustakaan walaupun hasilnya belum sesuai target yang diharapkan. Dampaknya akan berimplikasi terhadap kesesuaian informasi yang ada di perpustakaan dengan kebutuhan pengguna. ** Kontektualisasi dimaksudkan agar kebijakan pengembangan koleksi yang dilakukan pihak fakultas tidak mengabaikan asas kebutuhan dari pengguna yang memiliki hak penuh atas informasi yang disediakan pihak perpustakaan. Kontekstualisasi akan maksimal apabila didukung oleh keselarasan pemahaman diantara pemangku kebijakan, baik pada tingkat perpustakaan maupun di lembaga induk yang keselarasan perpustakaan menaungi komunikasi belum perpustakaan ini belum sepenuhnya yaitu Universitas. terlaksananya Namun, dengan diberikan kuasa penuh baik. dalam kenyataan Dimana dalam hal pengambilan kebijakan, misalnya lelang, promosi, kerjasama, dan pembentukan corner. Temuan lain dari penelitian menujukkan bahwa perpustakaan belum sepenuhnya memegang otonomi secara penuh dalam pengelolaan perpustakaan, jadi kontekstualisasi kebijakan pengembangan koleksi tidak berjalan secara maksimal. Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga dengan keterbatasan kekuasaan yang dimiliki hendaknya membentuk tim khusus yang bertanggungjawab dalam memantau tren perkembangan informasi yang ada. Ketika kontekstualisasi ini bisa dilakukan eksistensi perpustakaan akan semakin terjaga, keselarasan informasi yang disediakan dengan kebutuhan pengguna akan semakin meyakinkan pengguna pentingnya perpustakaan dalam pemenuhan kebutuhan informasi di perguruan tinggi. Artikel Dwi Novita Ernaningsih dan Amalia Nurma Dewi membahas tentang pentingnya komunikasi dalam implementasi kebijakan pengembangan koleksi di Perpustakaan PPs UM, termasuk berbagai kendala yang dihadapi dalam implementasi kebijakan tersebut. Kebijakan pengembangan koleksi di Perpustakaan PPs UM tidak dituangkan secara tertulis, namun ada pustakawan yang diberi wewenang dan tanggungjawab dalam menangani hal tersebut. Untuk menentukan kebijakan pengembangan koleksi, pihak Perpustakaan PPs UM tidak membentuk panitia khusus tapi hanya melakukan perundingan yang menghasilkan konsensus atau kesepakatan dalam pengembangan koleksi. Dalam seleksi koleksi, komunikasi yang dilakukan perpustakaan PPs UM perpustakaan untuk memahami kebutuhan pemakainya hanya dilakukan melalui penyebaran angket, belum ada upaya yang lain. Alasannya selain menghemat waktu, pustakawan merasa kurang percaya diri untuk berhadapan langsung dengan pemustakanya yang berpendidikan lebih tinggi. Selanjutnya untuk mengetahui kebutuhan pemustaka, perpustakaan mengirimkan katalog penerbit kepada para dosen melalui Ketua Program Studi.>* Temuan penelitian ini bahwa komunikasi antara pustakawan dengan pemustaka dan penyandang dana berimplikasi pada kegiatan pengembangan koleksi menjadi tidak efektif. Komunikasi dengan pemustaka yang belum terbangun dengan baik menyebabkan pembelian bahan pustaka kurang tepat sasaran yaitu tidak dapat mengakomodir kebutuhan pemustaka, lobbying pustakawan kepada penyandang dana yang belum optimal, menyebabkan anggaran pengembangan koleksi yang diturunkan menjadi terbatas. Dengan kondisi tersebut, maka kegiatan pengembangan koleksi di Perpustakaan PPs UM secara kualitas dan kuantitasnya menjadi belum mampu mendukung kegiatan akademik secara maksimal. Solusinya, pustakawan harus selalu proaktif, melakukan gebrakan, dan mampu menjalin hubungan yang baik dengan berbagai pihak yang berpengaruh di universitas, hal ini dimaksudkan agar pengembangan koleksi bisa terwujud sesuai dengan arah dan tujuan yang telah ditetapkan. Artikel Ida Ayu Gede Anindyatari, Made Kastawa, I Putu Suhartika meneliti mengenai kepuasan pengguna terhadap kebijakan informasi pengembangan koleksi di perpustakaan STMIK STIKOM Indonesia. Temuan penelitian ini bahwa kegiatan pengembangan koleksi buku perpustakaan STMIK STIKOM Indonesia yang dilakukan secara rutin sudah dianggap sesuai dengan kebutuhan pengguna, namun belum memenuhi kebutuhan pengguna. Dikatakan sesuai karena koleksi perpustakaan dinyatakan mendukung kegiatan perkuliahan, sesuai dengan fungsi perpustakaan STMIK STIKOM Indonesia sebagai perpustakaan perguruan tinggi. Namun koleksi perpustakaan dinyatakan belum memenuhi kebutuhan pengguna, karena kebutuhan pengguna terpenuhi. masih belum Pengguna menyatakan ketersediaan koleksi sangat mempengaruhi keingginannya untuk datang ke perpustakaan, dengan rata-rata tingkat kepuasan pengguna 63,17%, yaitu kepuasan pengguna terhadap kebijakan pengembangan buku perpustakaan STMIK STIKOM Indonesia adalah 65.34%, sedangkan ratarata tingkat kepuasan pengguna terhadap koleksi buku di perpustakaan STMIK STIKOM Indonesia adalah 61%. Padahal rata-rata yang diharapkan adalah 100%.¢ Adapun detail penelitan pengembangan koleksi sesuai indikator adalah sebagai berikut : 1) responden yang menyatakan pemilihan koleksi buku dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pengguna sebesar 47,4%, 2) responden yang menyatakan bahwa pengembangan koleksi buku sudah dilakukan secara rutin sebesar 80,9%, 3) responden yang menyatakan pemilihan buku saat pengadaan koleksi berpedoman pada asas relevansi sebesar 46,83%, 4) responden yang menyatakan telah terlibat dalam pemilihan buku yang akan dikembangkan sebesar 8,7%, 5) responden yang menyatakan bahwa katalog penerbit sudah cukup sebagai alat bantu pemilihan koleksi buku yang akan diadakan sebesar 22,6%, 6) responden yang menyatakan setiap koleksi buku yang dikembangkan mengandung informasi yang berkualitas sebesar 66,4%, 7) responden yang menyatakan prioritas pemilihan koleksi buku yang dikembangkan didasarkan atas popularitas sebesar 49,2% (Ida Ayu Gede Anindyatari, Made Kastawa, & I Putu Suhartika, 2016). Dari indikator tersebut bahwa keterlibatan pengguna dalam pemilihan koleksi sangat kecil, yaitu hanya 8,7%. Artikel Erni Sasmita dan Yona Primadesi meneliti bagaimana ktebijakan pengembangan koleksi terbitan berkala di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Pengembangan koleksi mencakup semua kegiatan untuk memperluas koleksi yang ada di perpustakaan. Enam komponen utama yang termasuk dalam proses pengembangan koleksi sebuah perpustakaan, yakni: analisis komunitas atau analisis pengguna, kebijakan koleksi, seleksi, pengadaan koleksi, penyiangan koleksi dan evaluasi koleksi. proses pengembangan koleksi yang dilakukan oleh pustakawan Temuan dalam penelitian ini bahwa kebijakan pengembangan koleksi di Perpustakaan Fakultas ilmu Budaya Universitas Andalas adalah: 1) analisis kebutuhan yang dilakukan masih menggunakan cara yang masih tergolong sederhana, yakni dengan menyediakan potongan kertas kecil sebagai media untuk mengetahui kebutuhan pengguna akan jurnal, 2) tidak adanya kebijakan seleksi menyulitkan pustakawan dalam memilih koleksi yang tepat untuk dilayankan pada pengguna, 3) kegiatan seleksi koleksi belum terlaksana dengan baik karena hanya dilakukan pustakawan saja, 4) cara utama yang dilakukan untuk pengadaan jurnal adalah melalui pembelian kepada penyalur setempat, 5) perpustakaan belum pernah dilakukan penyiangan koleksi.>’ Kendala yang dihadapi pustakawan dalam penerapan kebijakan pengembangan koleksi yang di lihat dari proses pengembangan koleksi adalah : 1) analisis 37 pengguna, kurangnya interaksi antara pustakawan dengan pengguna perpustakaan serta kurang baiknya pelayanan, 2) kebijakan seleksi, tidak adanya kebijakan seleksi tertulis, 3) seleksi; kendala yang dihadapi dalam kegiatan seleksi, yaitu kurangnya peran pihak yang berwenang melakukan seleksi dan minimnya alat bantu seleksi yang digunakan, 4) pengadaan; adanya nomor-nomor yang tidak diterima atau hilang dalam pengiriman, 5) penyiangan; pustakawan takut tidak dapat dukungan dari dosen maupun dekan dalam melaksanakan penyiangan koleksi terhadap jurnal, dan, 6) evaluasi; kebanyakan pengguna yang telah selesai membaca jurnal mengembalikan sendiri jurnal yang dibaca ke rak sehingga jurnal tersebut tidak terhitung. Dari kelima artikel diatas memiliki kesamaan dalam hal kendala yang dihadapi dalam implementasi kebijakan pengembangan koleksi. Kendala dalam pengembangan koleksi antara lain relevansi, informasi ganda atau over penerbitan, pengawasan bibliogradi, anggaran dan kesenjangan antara seleksi dan dampak hasil Kendala lain bahwa perpustakaan belum sepenuhnya memegang otonomi secara penuh dalam pengembangan pengelolaan koleksi tidak perpustakaan, berjalan jadi secara kontekstualisasi maksimal. kebijakan Kendala dalam pengembangan koleksi juga disebabkan karena kurangnya komunikasi antara pustakawan dengan pemustaka dan penyandang dana sehingga kegiatan pengembangan koleksi menjadi tidak efektif. Kendala yang dihadapi pustakawan dalam penerapan kebijakan pengembangan koleksi yang di lihat dari proses pengembangan koleksi antara lain analisis pengguna, tidak adanya kebijakan seleksi, kurangnya peran pihak yang berwenang melakukan seleksi dan minimnya alat bantu seleksi , pustakawan takut tidak dapat dukungan dari dosen maupun dekan dalam melaksanakan penyiangan koleksi terhadap jurnal. Kontektualisasi diperlukan agar kebijakan pengembangan koleksi yang dilakukan pihak fakultas tidak mengabaikan asas kebutuhan dari pengguna Kontekstualisasi ini akan maksimal apabila didukung oleh keselarasan pemahaman diantara pemangku kebijakan, baik pada tingkat perpustakaan maupun instansi induk perpustakaan. Dari sisi lain, penelitian mengenai kepuasan pengguna terhadap kebijakan informasi pengembangan koleksi di perpustakaan STMIK STIKOM Indonesia memberikan hasil bahwa kegiatan pengembangan koleksi buku perpustakaan STMIK STIKOM Indonesia yang dilakukan secara rutin sudah dianggap sesuai dengan kebutuhan pengguna, namun belum memenuhi kebutuhan pengguna. Ketiga perpustakaan perguruan tinggi di atas, yaitu perpustakaan FIB Universitas Andalas, perpustakaan STIMIK STIKOM dan perpustakaan Pascasarjana Universitas Malang Indonesia telah menerapkan mekanisme usulan pengguna sebelum membuat daftar usulan, melalui formulir maupun angket. Meskipun demikian keterlibatan pengguna dalam perumusan kebijakan pengembangan koleksi pada artikel di atas sangat kecil, hanya sekitar 8% Dari temuan diatas juga terlihat bahwa beberapa dari kebijakan pengembangan koleksi belum dilakukan secara tertulis.
Conclusion
Implementasi pengembangan koleksi mengalami hambatan, antara lain relevansi, informasi ganda atau over penerbitan, pengawasan bibliografi, minimnya anggaran, kesenjangan antara seleksi dan hasil, kurangnya komunikasi, analisis pengguna, tidak adanya kebijakan tertulis, kurangnya peran pihak yang berwenang melakukan seleksiminimnya alat bantu seleksi, dan kurangnya kepercayadirian pustakawan. Perpustakaan belum sepenuhnya memegang otonomi secara penuh dalam pengelolaan perpustakaan, sehingga kontekstualisasi kebijakan pengembangan koleksi tidak berjalan secara maksimal. Penelitian ini juga menemukan bahwa keterlibatan pengguna dalam kebijakan pengembangan koleksi sangat kecil. Padahal, untuk memenuhi kebutuhan informasi pengguna yang tepat sasaran harus memahami apa yang benar-benar diperlukan oleh pengguna. Kebijakan pengembangan koleksi yang baik dapat dapat meningkatkan kepuasan pengguna. Temuan lain bahwa beberapa perpustakaan belum memiliki kebijakan pengembangan koleksi tertulis, tetapi sudah memiliki acuan yang sudah terikat berdasarkan pengalaman bertahun-tahun namun tidak tertulis. Oleh karena itu hendaknya pustakawan harus selalu proaktif, melakukan gebrakan, dan mampu menjalin hubungan yang baik dengan berbagai pihak yang berpengaruh di universitas. Untuk mengatasi keterbatasan kekuasaan dalam kebijakan pengembangan koleksi, perpustakaan hendaknya membentuk tim khusus yang bertanggungjawab dalam memantau tren perkembangan informasi yang ada.