Kembali
16
1
2021 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 13 · 2 ISSN 2502-4108

TINJAUAN SISTEMATIS TENTANG PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL UNTUK PROMOSI PERPUSTAKAAN AKADEMIK

Universitas Indonesia; Universitas Indonesia

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan, merangkum, melakukan analisis, dan sintesis informasi tentang penggunaan media sosial untuk promosi perpustakaan akademik pada artikel jurnal, skripsi, tesis, dan disertasi yang terbit dalam kurun waktu tahun 2012-2021. Peneliti melakukan penelusuran literatur pada beberapa online databaseyang dilanggan Universitas Indonesia (Science Direct, Emerald, dan ProQuest), artikel jurnal open accessyang terindeks di Garuda Ristekbrin, serta skripsi, tesis, dan disertasi dari situs Perpustakaan Universitas Indonesia (lib.ui.ac.id). Proses seleksi menghasilkan 14 dokumen untuk dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial yang banyak digunakan untuk promosi perpustakaan adalah Facebook, Instagram, Twitter, dan YouTube. Konten yang paling diminati pengguna yaitu dalam bentuk gambar dan video. Promosi perpustakaan di media sosial dapat dilakukan dalam bentuk berbagi informasi, promosi layanan, kegiatan, dan koleksi, menyediakan layanan berbasis media sosial, serta mengadakan kuis. Tantangan yang dihadapi antara lain jumlah, kompetensi, dan beban kerja staf, masalah privasi dan pencurian identitas, kecepatan internet yang lambat, dan pemadaman listrikyang sering terjadi. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh perpustakaan untuk mengembangkan strategi promosinya. Selain itu, peneliti yang tertarik untuk mengkaji tentang promosi perpustakaan melalui media sosial dapat melihat hasil penelitian ini untuk memilih metode dan perspektif yang belum pernah digunakan sebelumnya</p>

Abstract

This study aims to collect, summarize, analyze, synthesize information about the use of social media for the promotion of academic libraries and in journal articles, undergraduate theses, master theses, and dissertations published in 2012-2021. Researchers conducted a literature search on several online databases subscribed to by the University of Indonesia (Science Direct, Emerald, and ProQuest), open access journal articles indexed at Garuda Ristekbrin, as well as undergraduate theses, theses, and dissertations from the Ul Library website (lib.ui.ac.id). The selection process resulted in 14 documents for analysis. The results showed that the most widely used social media for library promotion are Facebook, Instagram, Twitter, and YouTube. The content that users are most interested in is in the form of images and videos. Promotion of libraries on and social media can be done in the form of sharing information, promoting services, activities, and collections, providing social media-based services, quizzes. Challenges faced include lack of competence, high workload of staff, privacy and identity theft issues, slow internet speeds, and frequent power outages. The results of this study can be used by the library to develop its promotion strategy. In addition, researchers who are interested in studying library promotion through social media can look at the results of this study to choose methods and perspectives that have not been used before.
Keywords: systematic review · social media · promotion · library

Introduction

Pada awal abad ke-21, terjadi pergeseran fungsi internet. Sebelumnya, internet hanya menjadi tempat untuk memperoleh informasi. Kini, pengguna juga dapat berkontribusi dalam membuat konten di internet, dan melakukan interaksi dengan sesama pengguna internet. Adanya komponen partisipasi dan interaksi pengguna ini memunculkan istilah Web 2.0 atau media sosial. Media sosial adalah tempat di dunia maya di mana pengguna dapat berinteraksi secara bebas, berbagi, dan berdiskusi. Konten media sosial dapat berisi kata-kata (teks), gambar, video, maupun audio. Selain berbagi konten, pengguna juga dapat melakukan percakapan personal melalui media sosial *. Saat ini, sebagian besar pengguna internet telah menggunakan media sosial secara aktif. Hampir seluruh pengguna media sosial mengaksesnya melalui ponsel. Menurut laporan bertajuk Digital 2021: April Global Statshot Report yang dirilis sosial. We Are Social dan Hootsuite, terdapat 4,33 milyar pengguna aktif media Jumlah ini setara dengan lebih dari separuh populasi dunia. Media sosial yang paling banyak digunakan di dunia yaitu WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, dan FB Messenger. Di Indonesia, terdapat 170 juta pengguna aktif media sosial. Artinya, 61,8% dari seluruh populasi Indonesia telah menggunakan media sosial. Media sosial yang paling sering digunakan adalah YouTube, WhatsApp, Instagram, Facebook, dan Twitter 2. Selain sosial juga digunakan oleh masyarakat umum untuk berbagi konten, media digunakan perpustakaan untuk menyebarkan informasi kepada pemustaka terkait layanan, koleksi, dan kegiatannya. Perpustakaan juga dapat memanfaatkan media sosial untuk berinteraksi dengan pengguna, memberikan pendidikan literasi digital, serta menampung saran dan kritik sehingga dapat memperkuat hubungan dengan pengguna®. Sebanyak 89,86% asosiasi perpustakaan di benua Amerika telah menggunakan media sosial. Media yang paling banyak digunakan antara lain Facebook, Twitter, LinkedIn, dan blog *. Sementara itu, di Indonesia, media sosial yang sering dimanfaatkan perpustakaan adalah Facebook, Twitter, dan Instagram. Sayangnya, belum semua perpustakaan di Indonesia memanfaatkan media sosial secara optimal untuk mempromosikan layanan dan koleksinya. Hal ini diakibatkan kurangnya waktu dan sumber daya manusia yang mengelola akun media sosial perpustakaan®. Maka dari itu, perpustakaan perlu mengetahui bagaimana pengelolaan media sosial yang efektif untuk promosi dan interaksi dengan pengguna. Untuk mempelajari hal tersebut, beberapa studi terdahulu telah mengkaji media sosial menggunakan teknik systematic review (tinjauan sistematis). Beberapa penelitian tinjauan sistematis terdahulu telah ada yang mengkaji penggunaan media sosial untuk berbagi pengetahuan. Tinjauan sistematis tersebut dituangkan dalam bentuk pangkalan data daring. artikel jurnal yang dipublikasikan di beberapa Hosen dkk. ®meneliti tentang motivasi pelajar dan pengaruh media sosial terhadap aktivitas berbagi pengetahuan dan prestasi belajar. Penelitian tersebut menyatakan bahwa media sosial memiliki dampak positif terhadap perilaku berbagi pengetahuan siswa. Selain itu, ada pula penelitian Ahmed dkk. ’yang menyatakan bahwa masyarakat secara aktif mencari informasi, berbagi informasi, dan berinteraksi di media sosial melalui berbagai perspektif, antara lain perspektif bisnis, kesehatan, kompetensi. pendidikan, Penggunaan media manajemen sosial untuk bencana, berbagi dan pengembangan pengetahuan dalam perspektif organisasi dibahas dalam penelitian Kwayu, Abubakre, dan Lai ®. Hasil penelitian tersebut mengemukakan bahwa media sosial digunakan oleh individu di organisasi untuk berbagi pengetahuan secara informal. Selain itu, media sosial juga dimanfaatkan untuk koordinasi seputar operasional sehari-hari organisasi. Aktivitas berbagi pengetahuan di media sosial juga dipengaruhi oleh interaksi sosial antar anggota grup. Selain untuk berbagi pengetahuan secara internal, media sosial juga dapat digunakan untuk promosi dan komunikasi kepada pengguna, misalnya untuk promosi dan komunikasi oleh instansi pelayanan kesehatan ke masyarakat luas °. Di kalangan pustakawan, media sosial dapat digunakan untuk pengembangan kompetensi profesional, seperti yang dikemukakan dalam penelitian Luo dan Hostetler'®. Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa media sosial memiliki potensi untuk diadopsi sebagai sarana pengembangan kompetensi, terutama pada area yang memiliki infrastruktur, dukungan, dan sumber daya yang terbatas. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media sosial telah banyak diteliti. Meskipun demikian, penulis belum menemukan artikel jurnal dengan teknik systematic review yang secara spesifik meneliti tentang penggunaan media sosial oleh perpustakaan. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan tinjauan sistematis mengenai penggunaan media sosial untuk promosi perpustakaan. Penelitian ini akan berfokus pada perpustakaan akademik, karena 64,8% pengguna media sosial di Indonesia berusia 18-34 tahun 11 atau magister. sesuai dengan kelompok usia rata-rata mahasiswa program sarjana dan Permasalahan dalam penelitian ini adalah media sosial telah banyak digunakan secara aktif, baik oleh individu maupun organisasi. Perpustakaan di Indonesia juga telah banyak yang memiliki akun media sosial. Sayangnya, media sosial di perpustakaan belum dimanfaatkan secara optimal karena kurangnya jumlah, kompetensi, dan waktu yang dikhususkan untuk mengelola media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan, merangkum, melakukan analisis, dan sintesisinformasi tentangpenggunaan media sosial untuk promosi perpustakaan akademik pada artikel jurnal, skripsi, tesis, dan disertasi yang terbit dalam kurun waktu tahun 2012-2021. Penulis berharap hasil penelitian ini dapat berkontribusi terhadap ilmu perpustakaan dan informasi, khususnya mengenai promosi perpustakaan melalui media sosial. Melalui tinjauan sistematis, kita juga dapat mengetahui keterbatasan dan gap penelitian saat ini mengenai media sosial di perpustakaan akademik, sehingga dapat memberikan ide mengenai topik yang belum banyak diteliti, Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat menambah pengetahuan pustakawan mengenai pengelolaan media sehingga perpustakaan akademik dapat meningkatkan promosi layanannya. sosial,

Method

Penelitian ini merupakan tinjauan sistematis dengan pendekatan kualitatif untuk memahami makna fenomena dan hubungannya melalui penyelidikan yang mendalam'?. Tinjauan sistematis dapat didefinisikan sebagai metode pengumpulan, sintesis, dan evaluasi yang sistematis dan transparan mengenaitemuan penelitian tentang topik tertentu 3. mempertimbangkan PRISMA 2020 Checklist™*. Pertanyaan Penelitian Penelitian ini disajikan dengan Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengumpulkan, merangkum, melakukan analisis, dan sintesis informasi tentang penggunaan media sosial untuk promosi perpustakaan akademik. Untuk mencapai tujuan tersebut, penulis merumuskan pertanyaan penelitian menggunakan strategi PICO (Population, Intervention, Comparison, dan Outcome) °. Berikut ini deskripsi komponen PICO pada tinjauan sistematis mengenai penggunaan media sosial di perpustakaan. Tabel 1. Deskripsi Komponen PICO Komponen Population Intervention Comparison Outcome 13 Deskripsi Perpustakaan akademik Promosi perpustakaan melalui media sosial - Aktivitas pengguna dan perpustakaan di media sosial, jenis konten, tantangan — Kata Kunci Academic librar*, university librar* perpustakaan akademik, perpustakaan universitas, perpustakaan perguruan tinggi o e - Social media, media sosial, jejaring sosial, Twitter, tweet, Instagram, Facebook, ‘WhatsApp, Telegram Promosi, pemasaran, publikasi, publisitas, marketing, promotion, publicity Berdasarkan tabel di atas, penulis merumuskan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut. 1. 2. Apa saja akademik? media sosial yang digunakan untuk promosi perpustakaan Aktivitas apa yang dilakukan oleh perpustakaan akademik di media sosial? Apa saja jenis konten yang ada di media sosial perpustakaan akademik? 4. Tantangan apa yang dihadapi perpustakaan akademik dalam mengelola media sosial? Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kiriteria inklusi dan eksklusi disusun agar dokumen yang dipilih berisi topik yang berkaitan dengan penelitian. Dokumen yang dikumpulkan merupakan artikel jurnal, skripsi, tesis, dan disertasi berbahasa Indonesia dan Inggris terbitan tahun promosi 2012-2021, yang terkait dengan topik penggunaan media sosial untuk perpustakaan penelitian. akademik. Berikut ini kriteria Tabel 2. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria Inklusi inklusi dan Kriteria Eksklusi Dokumen jurnal, disertasi merupakan skripsi, tesis, artikel dan Tersedia dalam bentuk full-text Dokumen dipublikasikan pada pangkalan digital secara data daring yang Prosiding, makalah, eksklusi laporan penelitian, dan dokumen lain yang tidak termasuk kriteria inklusi Tidak tersedia dalam bentuk filltext Dokumen hanya tersedia dalam versi tercetak atau dipublikasikan ditelusuri Terbit pada tahun 2012-2021 Berbahasa Indonesia Inggris Berhubungan penelitian dengan topik di atau luar database yang ditelusuri Terbit sebelum tahun 2012 Ditulis dalam bahasa selain bahasa Inggris atau Indonesia Tidak terkait dengan penelitian pertanyaan Sumber Informasi Peneliti melakukan penelusuran literatur pada beberapa pangkalan data yang dilanggan Universitas Indonesia (Science Direct, Emerald, dan ProQuest) serta artikel jurnal akses terbuka yang terindeks di Garuda Ristekbrin. Selain itu, penulis juga melakukan penelusuran di situs Perpustakaan Universitas Indonesia (lib.ui.ac.id) untuk mencari skripsi, tesis, dan disertasi yang terkait topik media sosial dan perpustakaan.Pangkalan data dan situs tersebut dipilih karena memiliki informasi yang relevan dan lengkap terkait topik media sosial dan perpustakaan. Strategi Penelusuran Berdasarkan deskripsi komponen PICO pada Tabel 1, penulis merumuskan kata kunci penelusuran literatur. Kosa kata yang memiliki arti sama (sinonim)digabungkan menggunakan Boolean operator OR, sedangkan kosa kata yang memiliki makna berbeda digabungkan menggunakan AND. Berikut ini kata kunci penelusuran yang digunakan. Penggunaan Boolean operator bertujuan untuk membuat hasil penelusuran lebih spesifik, sesuai dengan topik penelitian. Tabel 3. Kata Kunci Penelusuran Komponen Population - Kata Kunci Academic librar¥ university librar*, akademik, universitas, perguruan tinggi perpustakaan perpustakaan perpustakaan - Kata Kunci Penelusuran (“academic “university “perpustakaan OR perguruan librar¥> librar*” OR OR akademik” “perpustakaan tinggi” OR “perpustakaan universitas”) Intervention e e Social 5051_a1, Twitter, — Facebook, Telegram Promosi, publikasi marketing, publicity media, Jejaring tweet, media sosial, Instagram, WhatsApp, pemasaran, publisitas promotion, AND (“social media” OR “media sosial” OR “jejaring sosial” OR twitter OR tweet OR Instagram OR facebook OR WhatsApp) AND (promosi OR pemasaran OR OS 54 publikasi OR publisitas OR marketing OR OR publicity) promotion Selain menggunakan Boolean operator, menu filter juga dapat dimanfaatkan untuk mempersempit hasil pencarian. Kata kunci pada Tabel 3 di atas beserta menu filter digunakan untuk penelusuran artikel jurnal di database Emerald, ProQuest, dan Science Direct. Sementara itu, untuk pencarian pada lib.ui.ac.id dan Garuda Ristekbrin, penelusuran dilakukan tanpa menggunakan Boolean operator, kemudian dilakukan eksklusi dan inklusi secara manual tanpa bantuan menu filter. Tabel 4. Strategi Penelusuran Pada Pangkalan Data Emerald, ProQuest, dan Science Direct Database Emerald ProQuest Science Direct Lokasi Penelusuran Kata Kunci Abstrak Abstrak Judul, abstrak, kata kunci . . Filter yang Digunakan o o o o o o e e o o Akses: Full text, Tipe: Article Tahun terbit: 2012-2021 Akses: Full text, Peer reviewed Tipe: Scholarly journals, Article Tahun terbit: 2012-2021 Bahasa: Inggris Akses: Subscribed Journals Tahun terbit: 2012-2021 Tipe: Research Article Untuk memastikan agar dokumen sesuai dengan pertanyaan penelitian, dilakukan penilaian kualitas yang diadaptasi dari Busalim dan Husin terdiri dari 16, yang empat kriteria. Berdasarkan hasil penilaian pada Tabel 5, ada dua dokumen yang dikeluarkan, yaitu dengan kode D6 dan D17 karena pembahasan artikel yang terlalu general, D9 karena topik penelitian tersebut tidak terkait dengan perpustakaan akademik, dan D12 karena artikel tidak menjelaskan metode penelitian yang digunakan. Tabel 5. Penilaian Kualitas Dokumen Kode D1 D2 D3 D4 D5 D6 D7 D8 D9 D10 D11 D12 D13 D14 D15 D16 D17 D18 Kriteria Penilaian: P1. Penulis AlAwadhi dan Al-Daihani 2019 Amelia 2018% Budu dkk. 2020% Chan 20122° T. T. W. Chan, Lam, dan Chiu 2020 Dikeluarkan Islamy 2020* Istiana 20172 Dikeluarkan L. Luo, Wang, dan Han 2013%* Martutik 2018% Dikeluarkan Putri2018% Suharso 20207 Supriyanto 20198 Xudkk 2015% Dikeluarkan Zhu 2016*° P1 v v v v v AN AN AENENEN \ P2 v v v v AN AN AENENEN < P3 v v v v v AN AN AENENEN < P4 v v v v AN AENENEN < p1 Apakah topik penelitian terkait dengan penggunaan media sosial untuk promosi perpustakaan akademik? p2 Apakah metodologi penelitian dideskripsikan secara jelas? p3 Apakah metode pengumpulan data dideskripsikan secara jelas? p4 Apakah tahap analisis data dideskripsikan secara jelas? Setelah dokumen yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan, selanjutnya dilakukan proses eliminasi data duplikasi dengan menggunakan bantuanaplikasi pengelola referensi Zotero. Proses seleksi menghasilkan 14 dokumen untuk dianalisis dan sintesis. Berikut ini jumlah dokumen hasil akhir proses seleksi berdasarkan pangkalan data. Tabel 6. Jumlah Dokumen Hasil Seleksi Berdasarkan Pangkalan Data Pangkalan Data Garuda Ristekbrin Emerald Science Direct ProQuest Lib.ui.ac.id Jumlah 6 4 2 1 1 artikel jurnal artikel jurnal artikel jurnal artikel jurnal skripsi

Result & Discussion

Dari proses penelusuran dan seleksi, terdapat 14 dokumen yang akan dianalisis. Dari dokumen tersebut, dikumpulkan data berupa kode dokumen, nama penulis, tahun terbit, judul karya, metode yang digunakan, hasil penelitian, dan kesimpulan. Setelah mengumpulkan data yang diperlukan, penulis menganalisis dan membandingkan temuan yang ada, sehingga dapat diambil kesimpulan yang memenuhi tujuan penelitian. Gambaran Umum Dari 16 dokumen yang akan dianalisis, terdapat sembilan dokumen berbahasa Indonesia dan delapan dokumen berbahasa Inggris. Terdapat empat artikel jurnal yang terbit pada tahun 2020 (D3, D5, D7, D14), dua artikel yang terbit pada 2019 (D1, D15), dua artikel dan satu skripsi terbitan tahun 2018 (D2, D11, D13), dan masing-masing satu artikel yang terbit pada tahun2017 (D8), 2016 (D18), 2015 (D16), 2013 (D10), dan 2012 (D4). Gambar 2. Jumlah Dokumen Berdasarkan Tahun Terbit 2012 2013 2014 2015 2016 Tahun 2017 Jumlah Dokumen ) 2018 2019 2020 Berdasarkan penerbit, seluruh artikel jurnal yang dianalisis dipublikasikan pada jurnal nasional dan internasional yang membahas ilmu perpustakaan, informasi, dan kepustakawanan. Masing-masing terdapat dua artikel yang terbit di jumnal Library Hi Tech (D10, D18), Library Management (D1, D4), dan The Journal of Academic Librarianship (D5, D16). Selain itu, ada pula masing-masing satu artikel yang terbit di jurnal Bibliotika (D11), Edulib (D14), Indonesian Journal of Academic Librarianship (D15), Libraria (D8), Library Philosophy and Practice (D3), Libria (D2), Nusantara Journal of Information and Library Studies (D7). Selain artikel jurnal, ada pula satu skripsi yang dipublikasikan di lib.ui.ac.id (D13). Lokasi Penelitian Pada tinjauan sistematis ini dokumen yang dianalisis berasal dari enam negara. diteliti. sosial Tabel 8 menunjukkan data asal negara dan nama perpustakaan yang Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar riset mengenai media untuk promosi perpustakaan yang dianalisis di artikel ini berasal dari kawasan Asia Pasifik. Gambar 3. Persebaran Lokasi Penelitian mengenai Media Sosial untuk Promosi Perpustakaan X R Ny Didukung oleh fing ©Rustralian Bureau of Statistics, GeoNames, Microsoft, Navinfo, TomTom, Wikipedia Tabel 8. Lokasi Penelitian Kode Dokumen Lokasi Penelitian RN Perpustakaan yang Diteliti D1 D2 D3 D4 D5 D7 D8 Kuwait Indonesia . Ghana Hong Kong Hong Kong Indonesia Indonesia Perpustakaan akademik di Kuwait Pusat Studi Sosial Asia Tenggara, Universitas Gadjah Mada University of Ghana The Hong Kong Baptist University The University of Hong Kong Institut Seni Indonesia Surakarta Fakulas Geografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Tlmu Politik, dan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Kode Dokumen D10 DIl D13 D14 D15 D16 D18 Lokasi Penelitian China Indonesia Indonesia . Indonesia Indonesia China China RN Perpustakaan yang Diteliti Tsinghua University Uplversfias Indonesia dan Universitas Airlangga Universitas Indonesia Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Teknologi Bandung UIN Sunan Ampel Perpustakaan akademik di China Jinan University Sebagian besar dokumen yang dianalisis menggunakan metode kualitatif. Penelitian Amelia 3%, Islamy?®, Istiana*®’, L. Luo, Wang, dan Han*!, Putri #*, dan Zhu * mengkaji tentang penggunaan media sosial di berbagai instansi dengan pendekatan studi kasus. Data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, studi literatur, dan dokumentasi data media sosial dianalisis secara deskriptif. Selain penelitian di atas, ada pula penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Suharso *, yang menganalisis data media sosial menggunakan analisis SWOT. Beberapa penelitian menggunakan teknik analisis isi terhadap konten media sosial perpustakaan. Analisis isi tersebut ada yang dilakukan dengan pendekatan kuantitatif ° maupun kualitatif*®. Artikel Chan, Lam, dan Chiu*’ merupakan penelitian mived-method yang melakukan analisis isi atas data media sosial, 38 yang didukung dengan feedback pengguna melalui wawancara. Selain analisis isi, data media dilakukan oleh Chan 5. sosial juga dapat dianalisis metriknya, seperti yang Metode lain yang populer dalam penelitian mengenai media sosial di perpustakaan yaitu penelitian kuantitatif dengan pengumpulan data melalui survei. Metode ini digunakan oleh AlAwadhi dan Al-Daihani*, Budu dkk.°, dan Supriyanto®!. Data survei pada penelitian tersebut dianalisis secara deskriptif (memberikan gambaran) dan inferensial (mengetahui hubungan). Tabel 9. Metode Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, dan Analisis Data No D1 D2 D3 D4 D5 D7 D8 D10 DIl DI3 D14 D15 D16 D18 4 Metode Penelitian o Kuantitatif o Kualitatif Kuantitatif o Kuantitatif Mixed-method Kualitatif Kualitatit Kualitatif Kuantitatif Kualitatif Kualitatif Kuantitatif Kualitatif o Kualitatif Teknik Pengumpulan Data Survei . . . Observasi (Studi Kasus) Survei . . . Dokumentasi data media sosial Dokumentasi data media sosial, wawancara Observasi, studi literatur, . dokumentasi dan wawancara Studi pustaka, Dokumentasi data media sosial Observasi (Studi Kasus) Data media sosial Dokumentasi data media sosial, Wwawancara Analisis Data Analisis deskriptif dan inferensial Analisis deskriptif Kualitatif Analisis inferensial Analisis metrik media sosial Analisis isi Analisis interaktif ;i deieripti Analisis deskriptif Analisis isi Anal_lsls_ deskriptif kualitatif Dokumentasi data media sosial ~ Analisis SWOT Survei, Wawancara, Observasi Analisis deskriptif Dokumentasi data media sosial ~ Analisis isi . . Observasi (Studi Kasus) Dalam melakukan promosi, ada berbagai jenis media sosial yang dapat dimanfaatkan perpustakaan. Media sosial yang banyak digunakan perpustakaan yaitu Facebook, Instagram, Twitter dan YouTube. Khusus pada perpusakaan di Cina, media sosial tersebut tidak tersedia, sehingga perpustakaan menggunakan media yang memiliki karekteristik serupa yaitu WeChat, Weibo, RenRen, dan Youko. Media sosial tersebut memiliki ‘WhatsApp, Twitter, Facebook, dan YouTube. karakteristik yang mirip dengan Tabel 10. Media Sosial yang Digunakan untuk Promosi Perpustakaan Akademik Media Sosial Facebook Instagram Twitter YouTube Blog WeChat LinkedIn RenRen Weibo Youko Referensi AlAwadhi dan Al-Daihani (2019), Amelia (2018), Chan (2012), Chan, Lam, dan Chiu (2020), Islamy (2020), Istiana (2017), Supriyanto (2018) AlAwadhi dan Al-Daihani (2019), Amelia (2018), Chan, Lam, dan Chiu Supriyanto (2018) AlAwadhi dan (2020), Putri Al-Daihani Martutik (2018), Putri (2018) (2018), (2019), Suharso Amelia (2020), (2018), AlAwadhi dan Al-Daihani (2019), Amelia (2018), Budu dkk. (2020) Amelia (2018), Budu dkk. (2020) Xu dkk. (2015), Zhu (2016) Budu dkk. (2020) Luo, Wang, dan Han (2013) Luo, Wang, dan Han (2013) Luo, Wang, dan Han (2013) Media sosial dapat digunakan untuk mempublikasikan berbagai macam konten, mulai dari teks, gambar, suara, dan video. Mahasiswa generasi muda (kelahiran tahun 2000-an) juga cenderung lebih menyukai media sosial Instagram yang merupakan platform berbagi foto dan video °2 Konten dalam bentuk teks yang disertai gambar lebih disukai karena pengguna lebih cepat menangkap informasi yang disampaikan dalam bentuk visual *. Selain gambar atau foto, konten dalam bentuk video juga banyak disukai pengguna. Tsinghua University melakukan promosi perpustakaan melalui video (kisah bersambung) berjudul Falling in Love with The Library. Video tentang penggunaan perpustakaan yang dikemas dalam kisah romantis ini diunggah di media sosial Youku, dan berhasil meningkatkan pengikut dan interaksi di akun Weibo perpustakaan. Video ini mempromosikan perpustakaan dengan gaya yang ringan, segar, dan penuh humor. Hal ini membantu mahasiswa untuk dapat melihat perpustakaan sebagai tempat yang bersahabat>*. Ada beberapa aktivitas yang dapat dilakukan perpustakaan dalam upaya promosi di media sosial. Perpustakaan dapat menggunakan media sosial untuk berbagi informasi, promosi layanan dan kegiatan, serta menjangkau pengguna dan non pengguna dibandingkan 3. Media media sosial lainnya sebagai seperti media promosi dinilai lebih efektif surel, poster, legfles, situs web, dan newsletter. Hal ini karena pengguna mengakses media sosial secara rutin setiap hari *. Untuk mempromosikan koleksi, perpustakaan juga dapat menyajikan resensi buku secara singkat di media sosial >’. Di Perpustakaan UGM, resensi buku dikemas dalam rubrik #bookmark di Instagram . Promosi koleksi juga dilakukan pada platform WeChat. Pada Perpustakaan Jinan University, penyedia sumber daya elektronik menyediakan menu berisi tautan koleksi elektronik di WeChat, sehingga memudahkan pengguna untuk mengakses informasi *. Perpustakaan juga dapat menggunakan media sosial sebagai sarana memberikan layanan pada pengguna. Perpustakaan UIN Sunan Ampel menggunakan Facebook dan Instagram untuk memberikan layanan konsultasi dengan pustakawan®. Untuk menjaga agar pengguna tetap puas dalam mengakses layanan perpustakaan melalui media sosial, perpustakaan perlu merespon permintaan pengguna sesegera mungkin®. Untuk dapat memastikan pengguna mendapatkan tanggapan dengan cepat, beberapa perpustakaan akademik di Cina mengoptimalkan penggunaan WeChat dengan fitur pengenalan teks yang memungkinkan WeChat mengirimkan respon otomatis berdasarkan teks yang dikirimkan pengguna. Selain itu, ada pula perpustakaan yang menginterasikan OPAC dengan WeChat, sehingga pengguna dapat mengecek daftar peminjaman, mencari di katalog, memperpanjang masa pinjam, dan mengganti password keanggotaan perpustakaan di WeChat®2. Untuk menarik lebih banyak pengikut di media sosial, perpustakaan dapat mengunggah konten yang lebih beragam dan lebih menarik . Perpustakaan juga dapat memanfaatkan fitur sponsored post atau stories di media sosial seperti yang dilakukan oleh Perpustakaan Hong Kong Baptist University (HKBU) di Facebook. Strategi sponsored stories terbukti efektif dalam menambah pengikut baru di Facebook Fan Page Perpustakaan HKBU . Selain itu, perpustaan juga dapat mengadakan kuis (giveaway) bagi pengikut akun media sosial, seperti yang dilakukan oleh Perpustakaan UT ©. Dalam mengelola media sosial, tentunya ada tantangan yang dihadapi perpustakaan. Perpustakaan terkadang hanya memiliki sedikit staf, bahkan ada yang hanya memiliki satu staf, sehingga mereka tidak memiliki jumlah SDM yang memadai untuk mengelola media sosial. Selain itu, kompetensi staf juga terbatas, khususnya dalam menciptakan dan mengelola konten video *. Tingginya beban kerja SDM juga menyebabkan staf tidak bisa mengelola media sosial secara rutin, sehingga menyebabkan banyak pesan pengguna yang terlambat ditanggapi ©. Selain faktor kesempatan SDM, staf tantangan lain yang dihadapi antara lain kurangnya mendapatkan pelatihan tentang pengelolaan media sosial, masalah privasi dan pencurian identitas, kecepatan internet yang lambat, dan pemadaman listrik yang sering terjadi®®.

Conclusion

Penelitian ini mengkaji studi terdahulu terkait penggunaan media sosial untuk promosi perpustakaan akademik. Berdasarkan hasil tinjavan sistematis, peneliti dapat mengidentifikasi jenis media sosial yang sering digunakan perpustakaan, aktivitas dan konten yang diunggah perpustakaan, serta tantangan yang perlu dihadapi dalam melakukan promosi melalui media sosial. Perpustakaan menyesuaikan strategi promosi di media sosial dengan jenis media dan konten yang disukai pengguna. Untuk mengatasi tantangan di bidang SDM, perpustakaan dapat memberikan pelatihan pengelolaan media sosial pada stafnya, atau merekrut mahasiswa magang yang dapat membantu menciptakan dan mengelola konten promosi di media sosial. Perpustakaan di Indonesia juga dapat belajar sosial dari perpustakaan di Cina yang telah mengembangkan layanan media dengan respon otomatis dan layanan yang dapat diakses mandiri oleh pengguna. Studi terdahulu terkait penggunaan media sosial untuk promosi perpustakaan akademik memiliki beberapa keterbatasan. Penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif dan analisis deskriptif sudah sangat banyak dilaksanakan. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan metode penelitian dan analisis lainnya. Selain itu, peneliti selanjutnya juga dapat mengkaji penggunaan media sosial untuk promosi dari segi pengguna, sehingga sudut pandang yang dibahas tidak hanya dari sisi perpustakaan saja.