Kembali
16
1
2022 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 14 · 2 ISSN 2502-4108

URGENSI PERSONAL BRANDING PADA PROFESI PUSTAKAWAN

Universitas Islam Negeri Mataram; Universitas Islam Negeri Mataram

Abstrak

Tulisan ini bertujuan untukmengupas manfaat dan urgensi personal brandingpada profesi pustakawan. Melalui metode penelitian pustaka yang menggunakan analisis data deskriptif, interpretatif dan reflektif, penulis menemukan dan menyajikan konsep mengenai usaha pustakawan dalam meneguhkan peran dan manfaat profesi dalam menjawab berbagai tantangan di era disrupsi. Tantangan dan dinamika kerja yang muncul sebagai akibat pemanfaatan berbagai teknologi komunikasi mengharuskan pustakawan untuk memiliki kepribadian yang baik agar dapat selalu belajar, berubah, dan berkembang. Keberhasilan pustakawan dalam melayani kebutuhan informasi masyarakat, serta pemanfaatan media dalam men-deliver berbagai informasi yang ada di perpustakan akan menjadi positive personal brandingdan semakin meneguhkanmanfaat serta urgensi pustakawan di era revolusi industry 4.0</p>

Abstract

This paper explores the benefits and urgency of personal branding in the librarian profession. Through library research methods that use descriptive, interpretive, and reflective data analysis, the researchers find and present the concept of the librarian's business in confirming the role and benefits of the job in responding to various challenges in the era of disruption. The challenges and work dynamics that arise from different communication technologies require librarians to have good personalities always to learn, change, and develop. The success of librarians in serving the community's information needs and the use of media in delivering various information in the library will be a positive personal branding and further confirm the benefits and urgency of librarians in the era of the industrial revolution 4.0.
Keywords: librarian · personal branding · good personalities · social media · technology

Introduction

Revolusi industri 4.0 yang terjadi pada abad ke 21 berlangsung secara massif dan menyentuh semua lini kehidupan manusia. Revolusi industri ini mengakibatkan perubahan sosial budaya yang sangat signifikan karena pemanfaatan teknologi terkini, seperti internet of the things, machine learning, artificial intelligence (Al), teknologi robotika, dan berbagai teknologi cyberspace (dunia maya) lainnya. Konsep industri 4.0 ini mempunyai kemiripan makna dengan Society (Masyarakat) 5.0 dimana masyarakat telah beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan memudahkan kehidupan sehari-hari. memanfaatkan teknologi tersebut untuk Pemanfaatan teknologi ini tidak hanya mengandalkan proses kolaborasi, keterbukaan, serta interkonektivitas antar data saja, tetapi juga antar manusia dengan mesin. Era ini lah yang dinamakan disruptive era. Perubahan budaya akibat pemanfaatan teknologi ini berdampak pada bidang ekonomi, dunia kerja, gaya hidup masyarakat, dan tentu saja perpustakaan. Era disrupsi ini juga mengikis jarak, ruang, dan waktu, sehingga menimbulkan globalisasi. Thomas Larson, seorang jurnalis Swedia memaknai globalisasi sebagai proses pengkerdilan dunia, yang mengakibatkan distances getting shorter, and things moving closer.! Fenomena ini menyebabkan seseorang dari satu sisi dunia dapat berinteraksi dengan seseorang di belahan dunia lainnya untuk mencapai kepentingan bersama.? Berbagai adaptasi teknologi manusia. dan perubahan yang terjadi tersebut menuntut penyesuaian dan Banyaknya tenaga kerja manusia yang digantikan oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pekerjaan adalah akibat negatif dari revolusi industry 4.0. Kondisi ini dapat membunuh sejumlah pekerjaan lama dan menciptakan berbagai pekerjaan baru. Menteri ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri menegaskan urgensi penyesuaian terhadap kebutuhan berbagai skill tenaga kerja. Sementara Nadhifah, mengutip pendapat Guru Besar bidang Ilmu Manajemen Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, menyatakan bahwa terdapat beberapa profesi yang akan hilang secara perlahan, dan salah satunya adalah pustakawan.? Agar dapat selalu exist dan tetap berkinerja di dalam profesinya, seorang pustakawan harus dapat melakukan transformasi profesionalitas dalam menyikapi berbagai perkembangan teknologi di era disrupsi. Christensen menyatakan bahwa era disrupsi berada di tangan para inovator yang menciptakan sesuatu yang lebih sederhana, lebih terjangkau, serta lebih mudah diakses untuk menjawab kebutuhan zaman. Ide ini dinamakannya sebagai disruptive innovation.* Personal branding yang baik sangat dibutuhkan bagi pustakawan karena image masyarakat terhadap mereka sangat bersifat akademik. Memiliki personal branding yang positif akan memungkinkan pustakawan untuk mewakili tingkat pengetahuan dan profesionalisme yang mereka miliki.’ Di lingkup perguruan tinggi, pustakawan merupakan salah satu pilar utama dalam perpustakaan universitas. Guna mendukung profesionalitas, pustakawan perlu menyadari dan menghadapi tantangan terkait transformasi citra profesional, sehingga pustakawan memiliki level yang sama dengan profesional lain berbasis layanan seperti pengacara, dokter dan lain sebagainya.® Terdapat penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya yang berkaitan dengan personal branding pustakawan. Seperti yang dilakukan oleh Rina Handayani, yang menyatakan bahwa personal branding dapat dilakukan melalui cara berpakaian, penampilan fisik, eksistensi di dunia digital serta area-area tertentu yang membuat Pustakawan mudah dikenang orang lain dan mendapatkan citra yang baik. 7 Selain itu, dalam penelitian yang dilakukan oleh Fransisca Rahayuningsih menyatakan bahwa Pustakawan harus mengupayakan brand dalam dirinya. Pustakawan harus memiliki personal branding agar dapat memberikan kepuasan bagi pemustakanya, meliputi brand kepribadian, brand kemampuan, dan brand nilai integritas dan kepemimpinan.® Atrtikel personal ini branding mencoba mempertegas dan mengupas manfaat dan urgensi pada profesi pustakawan. Berusaha menyajikan konsep mengenai usaha pustakawan dalam meneguhkan peran dan manfaat profesi dalam menjawab berbagai tantangan di era disrupsi.

Method

Penelitian ini merupakan library research, yaitu penelitian dengan mengumpulkan data dari kepustakaan serta sarana lainnya seperti website. Penelitian kepustakaan adalah sebuah penelitian kualitatif dimana dalam pengumpulan dan penyusunan data, yang kemudian analisis dan interpretasi datanya dilakukan secara mendalam terhadap bahan-bahan pustaka tentang tema yang diteliti. Sumber data didasarkan atas informasi yang dimuat dalam literaturliteratur kepustakaan. Data primer dari penelitian ini adalah semua karya tentang personal branding baik buku, jurnal maupun web-site, dan yang relevan dengan permasalahan penelitian yang diangkat. Sementara sumber sekunder yang digunakan berupa sumber-sumber penunjang, seperti berbagai jurnal dan karya ilmiah yang mendukung data primer dan dapat membantu peneliti dalam mengkaji permasalahan yang membahas konsep yang dibahas. Adapun analisa data dilakukan dengan menggunakan prosedur deskripsi, interpretasi, dan refleksi dengan menggunakan analisis isi (content analysis). Segala sesuatu deskriptif, yang berkaitan dengan tema penelitian ini dijelaskan secara sementara interpretasi digunakan untuk memahami konsep tentang personal branding pustakawan yang berhubungan dengan urgensi dan manfaatnya, dan selanjutnya refleksi kritis disampaikan sebagai analisis terhadap konsep tersebut.

Discussion

Personal branding memiliki banyak makna. Jeff Bezos menyatakan bahwa personal branding adalah apa yang dikatakan oleh orang lain tentang seseorang saat orang tersebut tidak berada di ruangan.® Sementara McNally dan Speak menyatakan bahwa personal branding adalah persepsi (emosi) yang dimiliki oleh orang lain berhubungan terhadap diri seseorang akibat kualitas diri serta kecakapan yang dengan orang lain. !° Sementara itu, Plibrick dan Cleveland menyatakan bahwa personal branding adalah proses introspektif di mana Anda mendefinisikan diri Anda secara profesional, dan ini dapat berfungsi sebagai jalan menuju kesuksesan profesional.'’ Secara umum, pustakawan telah memiliki brand, baik itu diakui atau tidak yaitu sebagai orang yang tahu dimana informasi itu berada.'” Namun demikian, untuk memperkuat personal branding mereka, penting bagi pustakawan untuk melakukan penyesuaian atau personalisasi sesuai dengan karakteristik dan keunikan pribadi mereka. Personal branding (pencitraan diri) sangat penting dimiliki oleh seseorang untuk meraih popularitas dan menjamin penerimaan seseorang terhadap pribadi ataupun profesi. ini Jenifer Cram menyatakan bahwa stereotype pustakawan selama kurang menguntungkan, namun sayangnya pustakawan sendiri banyak yang menerima stereotype tersebut. Hal ini menjadi salah satu penyebab profesi pustakawan masih dipandang sebelah mata daripada profesi lainnya seperti dosen, dokter, pengacara, dan profesi lainnya.!* Profesi Pustakawan Pustakawan adalah profesi yang diemban oleh seseorang yang bekerja di perpustakaan serta bertanggung jawab dalam pengelolaan dan pelayanan berbagai sumber informasi. Untuk menjadi pustakawan, seseorang harus kompetensi yang didapat melalui berbagai pendidikan atau pelatihan.* Kompetensi merupakan bagian aspek terpenting dari memiliki bentuk pengembangan diri menuju profesionalitas seorang pustakawan yang tercermin pada kemampuannya yang mencakup pengetahuan, pengalaman, keterampilannya dalam mengelola dan mengembangkan pekerjaannya secara mandiri."® Maka seorang pustakawan terlebih dahulu harus menumbuhkan kebanggaan terhadap profesi untuk melahirkan semangat kerja serta menciptakan self image (citra diri) guna mencapai keprofesionalitasnya.!® Karena itu, seorang pustakawan memerlukan keunikan yang membuatnya berbeda, seperti sebuah brand/image dari pustakawan lainnya. Membangun Personal Branding Untuk menjalankan profesinya dengan baik, seorang pustakawan hendaknya berusaha dalam membangun personal branding yang positif. Usaha untuk berikut: a. membangun personal branding tersebut dapat dilakukan dengan cara Memiliki kepribadian yang baik Sarlito Wirawan menyatakan bahwa kepribadian adalah sifat biologis yang dibentuk dari dorongan, kecenderungan, rasa, dan naluri, serta berbagai kecenderungan yang diperoleh dari pengalaman seseorang.!” Kepribadian yang baik, sangat dibutuhkan oleh seorang pustakawan agar dapat memberikan layanan prima untuk memenuhi kebutuhan informasi para pemustaka. Karena itu, memiliki dan membangun brand kepribadian yang baik sangat dibutuhkan oleh seorang pustakawan. Para psikolog telah mencoba mengidentifikasi ribuan ciri serta dimensi kepribadian yang baik. Diantaranya kesepakatan tentang lima ciri fundamental kepribadian yang dikenal dengan teori “big five personality traits” yang dicetuskan oleh D.W. Fiske. Teori ini menekankan sifat keramahan (agreeableness), keterbukaan (openness), kehati-hatian (conscientiousness), dan ekstraversi (extraversion), serta meminimalisir sifat yang muncul dari emosi negatif (neuroticism).'® Berdasarkan teori ini, maka pustakawan yang memiliki kepribadian yang baik akan mempunyai sifat ramah, kooperatif, mudah memaafkan, pengertian dan bersikap baik karena memiliki pribadi yang openness. Pustakawan juga akan menunjukkan sikap percaya, dan menunjukkan empati karena pribadinya yang openness. Pustakawan juga akan memiliki sikap bekerja yang terorganisasi, sistematis, berhati-hati, menyeluruh, bertanggung jawab, dan disiplin sebagai akibat dari pribadi yang conscientiousness. Pustakawan juga bersifat pandai bergaul, pandai berbicara, tegas, dan terbuka untuk menjalin hubungan baru karena memiliki pribadi yang extraversion. Dan pustakawan akan meminimalisir berbagai emosi negatif serta mengedepankan sikap tenang, tabah, dan yakin. Kepribadian yang baik adalah modal internal bagi pustakawan untuk membangun kinerja yang baik, serta mencapai berbagai prestasi yang menjadi tuntutan di dalam profesinya. Dengan memiliki kepribadian yang baik, pustakawan dapat menarik minat dan motivasi bagi para pemustaka untuk menggunakan jasa dan keterampilan pustakawan dalam mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan. Kondisi ini tentu akan menambah “nilai jual” profesi bagi para pustakawan. Kinerja yang baik dan prestasi adalah personal branding yang utama bagi pustakawan. Kinerja pustakawan dalam menjawab setiap tantangan di dalam pekerjaan, selalu mengembangkan sikap empati dan membantu rekan kerja, tetap berfikir positif, selalu belajar dari kesalahan yang dibuat, dan selalu meningkatkan skill dalam pekerjaan adalah sikap dan sifat yang membuat pustakawan menjadi pribadi yang tangguh di dalam memberikan layanan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Akumulasi dari berbagai potensi positif tersebut adalah prestasi yang dicapai di dalam profesi. Prestasi tersebut dapat berupa amanah yang lebih besar, peningkatan ekonomi, penghargaan (respect) dari orang lain, dan lain sebagainya. . Pemanfaatan Media Era revolusi 4.0 yang mengharuskan manusia untuk bekerja bersanding dengan teknologi, juga mengharuskan pustakawan untuk akrab serta mampu bekerja dengan memanfaatkan teknologi tersebut. World Economic Forum (WEF) merumuskan 10 Skills for the Future of Jobs untuk menghadapi tantangan kerja di era disrupsi. Sepuluh keterampilan tersebut meliputi (1) analytical thinking, & innovation, (2) active learning & learning strategies, (3) complex problem solving, (4) critical thinking, & analysis, (5) creativity, originality, & initiative, (6) leadership & social influence, (7) technology use, monitoring, & control, (8) technology design & programming, (9) resilence, stress tolerance, ideation. *° & flexibility, serta (10) reasoning, problem solving, & Sepuluh keterampilan tersebut, tentu tidak bisa sepenuhnya diakomodir oleh seorang pustakawan dengan segala keterbatasan dan kesulitan yang dihadapi. Namun jika seorang memiliki kepribadian yang baik seperti yang telah dirumuskan oleh Fiske di dalam teori big five-nya, maka pustakawan tersebut akan memiliki semangat dan motivasi untuk terus belajar dan pantang menyerah dalam segala keterbatasannya. Tanggung jawab dan integritas di dalam pekerjaan akan dipenuhi tanpa banyak mengeluh. Pustakawan yang seperti ini akan terus berkembang secara dinamis sesuai dengan perkembangan teknologi dan dapat menyikapi perubahan budaya dengan baik. Sebagai sebuah profesi yang menuntut perubahan layanan, terutama di masa pandemi, penguasaan teknologi adalah sebuah keterampilan yang mutlak harus diakomodir oleh seorang pustakawan. Selain membangun kinerja yang baik, pemanfaatan media promosi juga diperlukan untuk membangun image tentang profesionalitas seorang pustakawan. Banyaknya jenis media yang dapat digunakan untuk mempromosikan berbagai informasi, mengharuskan pustakawan menguasai dan mengerti kelebihan dan kekurangan setiap media yang dapat digunakan. Hal ini dibutuhkan agar paket informasi yang dikemas tidak terkesan monoton dan kurang menarik akibat pemilihan media yang kurang tepat. Pramono menyatakan bahwa proses promosi akan efektif tergantung dari media, pesan yang akan disampaikan, jumlah dan durasi penyampaian, serta kecerdasan dalam mempengaruhi alam bawah sadar orang. Setiap media promosi memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Sehingga keputusan untuk memilih variasi media ataupun menggunakan lebih dari satu media akan sangat berpengaruh pada keberhasilan penyampaian promosi.?® Dalam kaitannya dengan personal branding, terdapat berbagai jenis media yang dapat digunakan oleh seorang pustakawan. Mulai dari media lisan (mulut ke mulut), media cetak, seperti koran, majalah, poster, baliho, stiker, dan sebagainya, serta media elektronik seperti televisi, radio, atau media sosial. Peranan teknologi dan komunikasi yang cepat berubah turut mengubah cara menilai prestasi akademik dan reputasi. * Seperti halnya kutipan jurnal akademik yang sering muncul, kutipan web juga dapat menambah reputasi dan prestise seorang akademisi. Lebih lanjut, Hirsch mengemukakan bahwa pengembangan keterampilan untuk menentukan dampak ilmiah seseorang menjadi hal pustakawan Namun penting sebelum dalam memajukan karir akademis, termasuk bagi memilih media yang akan digunakan, Hyder memberikan beberapa aspek penting yang harus dipertimbangkan.?* Aspekaspek tersebut adalah: 1) 2) 3) 2 Menyadari fakta bahwa identitas tergantung pada brand (image) yang dibangun. Karena jika keputusan tentang brand apa yang akan dibangun dibuat, maka strategi untuk membuat brand tersebut harus disusun. Karena itu, image berupa pesan yang akan disampaikan harus benar-benar jelas untuk mempermudah strategi penyusunan media promosinya. Selalu berusaha untuk “tampil” secara online, karena proses branding akan terjadi pada media tersebut; Semua informasi yang dibagikan, baik itu secara onl/ine maupun offline pasti punya tujuan, karena setiap informasi tersebut memiliki status dan gambar yang berkontribusi pada personal branding; 4) Selalu berhubungan dengan brand lain yang lebih kuat, karena kondisi ini akan memperkuat identitas dari personal branding yang dimiliki. Dari berbagai media yang dapat digunakan oleh pustakawan dalam membangun personal branding-nya, maka media yang paling relevan saat ini adalah media sosial. Hal ini dikarenakan tingginya tingkat pemanfaatan media sosial di kalangan masyarakat. Berdasarkan laporan dari We Are Social, pada Januari 2022, terdapat 73% penduduk Indonesia yang menggunakan internet, dan 191 juta masyarakat Indonesia yang aktif menggunakan media sosial.>* Data ini menunjukkan bahwa media sosial adalah media yang paling digemari saat mengakses internet sebagai sarana pertukaran informasi. Menurut Dailey, media sosial adalah sarana online yang diciptakan oleh manusia dengan menggunakan teknologi tinggi dan digunakan untuk menemukan, membaca, dan saling berbagi berbagai informasi, berita ataupun konten.?> Pemanfaatan media sosial membuat manusia dapat berkomunikasi dua arah dalam bentuk kolaborasi, pertukaran informasi, dan perkenalan, baik itu dalam bentuk visual maupun audio-visual.?® Contoh platform media sosial yang dapat digunakan adalah Facebook, YouTube, twitter, Linkedin, Pinterest, Instagram, dan lain sebagainya. Tingginya tingkat pemanfaatan berbagai media sosial di Indonesia, membuat media sosial dipandang sebagai media yang sangat efisien dalam mempromosikan personal branding. Selain itu, media sosial juga merupakan media yang paling ekonomis serta memungkinkan pustakawan untuk mendapatkan feedback secara real time karena komunikasi dua arah yang terjadi.?” Dengan bantuan media sosial, pustakawan dapat mengekspresikan diri, membuat berbagai komunitas, menjalin hubungan antar personal, serta membiat berbagai promosi. Tentu saja untuk menyampaikan informasi secara efektif dan efisien, pustakawan harus menguasai berbagai fitur yang dimiliki oleh sebuah media sosial. Pengemasan paket-paket informasi juga harus dilakukan dengan mengedepankan faktor kreativitas dan inovasi, agar pesan yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Kemampuan dalam mengemas berbagai paket informasi ke dalam bentuk konten digital yang modern dengan memanfaatkan media sosial sebagai media promosi serta men-deliver ide ke masyarakat akan meneguhkan personal branding pustakawan sebagai profesi yang masih sangat dibutuhkan di era disrupsi ini. Hal ini sangat dimungkinkan mengingat maraknya layanan digital serta kewajiban pustakawan dalam melakukan berbagai layanan informasi digital. Kondisi sebagal layanan, ini sebenarnya telah mengharuskan pustakawan untuk bertindak content creator di perpustakaan. Informasi-informasi tentang berbagai sarana prasarana, berbagai bentuk informasi yang dapat diakses, paket-paket informasi pada berbagai koleksi, dan lain sebagainya adalah konten yang potensial untuk dikemas sedemikian rupa, dan disampaikan ke dalam bentuk dan dengan cara yang menarik. Dengan kreativitas dan inovasi yang dimiliki, pustakawan dapat bertindak sebagai content creator yang sangat potensial untuk menyajikan berbagai informasi dan pengetahuan ke masyarakat luas.

Conclusion

Maraknya pemanfaatan teknologi di era revolusi industry 4.0 mewajibkan proses adaptasi di semua lini kehidupan manusia, serta mengakibatkan globalisasi dan perubahan social budaya secara massive. Pemanfaatan teknologi dan perubahan dinamika kerja harus diakuisisi oleh sebuah profesi, jika tidak ingin menghilang secara perlahan. Personal branding adalah salah satu cara pustakawan untuk meneguhkan urgensi profesi di tengah maraknya pertumbuhan profesi lain karena pemanfaatan teknologi. Personal branding adalah strategi pustakawan dalam meraih popularitas dan menjamin penerimaan seseorang terhadap profesi. Untuk membangun personal branding yang baik, seorang pustakawan harus mempunyai kepribadian yang baik. Kepribadian yang baik menjamin kualitas diri seorang pustakawan dalam melaksanakan tugasnya untuk mengelola dan melayankan berbagai informasi di Perpustakaan kepada masyarakat. Keprbadian yang baik juga menjamin ketangguhan diri seorang pustakawan dalam menyambut dan menjawab segala perubahan yang terjadi di tempat kerja. Perubahan yang didasari pada penggunaan teknologi dan perubahan gaya kerja sebagai pengelola informasi, menuntut pustakawan untuk selalu belajar, berubah, dan berkembang secara dinamis. social Pemanfaatan media massive, yang trend, dan ekonomis seperti media membuat keterampilan dalam mengemas informasi secara efektif dan efisien menjadi sebuah kebutuhan. Pustakawan ditantang untuk dapat membuat berbagai paket informasi di perpustakaan ke dalam konten-konten yang menarik untuk disajikan sebagai bentuk pengetahuan ke masyarakat. Dengan kata lain, pustakawan juga harus mempunyai keterampilan sebagai content creator. Perpustakaan sebagai lembaga informasi mempunyai berbagai informasi yang sarat dengan pengetahuan yang menjadi kebutuhan bagi masyarakat. Dan tugas pustakawan adalah melayani kebutuhan informasi setiap masyarakat tersebut dengan menyajikan berbagai informasi ke dalam konten yang menarik di berbagai media, khususnya media sosial. Hal ini adalah tantangan kerja yang dihadapi oleh pustakawan di era revolusi industri 4.0 ini.