Kembali
16
1
2018 Jurnal Ilmu Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan Vol 20 · 2 ISSN 2502-7409

EVALUASI KOLEKSI BERDASARKAN SILABUS PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM DI UPT PUSAT PERPUSTAKAAN IAIN SURAKARTA

Institut Agama Islam Negeri Surakarta; Institut Agama Islam Negeri Surakarta

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis ketersediaan koleksi Perpustakaan IAIN Surakarta serta faktor yang memengaruhi ketersediaan bahan ajar sesuai dengan silabus mata kuliah wajib program studi Bimbingan Konseling Islam. Penelitian ini merupakan penelitian gabungan antara kualitatif dan kuantitatif. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode checklist dan didukung dengan wawancara untuk melengkapi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan koleksi sebesar 49,5% untuk mata kuliah tingkat institut dan 44,7% untuk mata kuliah berbasis program studi. Temuan hasil penelitian menunjukkan bahwa koleksi Pusat Perpustakaan IAIN Surakarta belum memenuhi kebutuhan bahan ajar wajib Program Studi Bimbingan Konseling Islam. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: pengadaan bahan pustaka dilakukan hanya setahun sekali; rendahnya penyediaan dana pengadaan bahan pustaka oleh pihak institut yang berakibat pada minimnya alokasi untuk setiap program studi; dan kurangnya koordinasi dan kerjasama antara pengelola Pusat Perpustakaan IAIN Surakarta dengan program studi dalam penetapan judul-judul yang diusulkan kepada rekanan sehingga pengadaan tidak sesuai dengan kebutuhan program studi.

Abstract

This study aims to identify and analyze the availability collections of Library Center of IAIN Surakarta, and the factors that influence the availability of materials teaching for Islamic Counseling and Guidance Study Programme. This research is a qualitative and quantitative methode. Data analysis was carried out using the checklist and interview. Based on the research, 49,5% availability collections for institute level courses, and 44.7% for departement level. Based on the findings research, Library Center of IAIN Surakarta collections has not fulfilled the need for compulsory teaching materials. This is caused by several factors: the procurement of library materials is carried out only once a year; low provision of funds for library; and the lack of coordination and cooperation between Library Center of IAIN Surakarta managers and study programs in the determination of proposed titles book.
Keywords: perpustakaan · evaluasi koleksi · metode checlist · pengadaan koleksi · IAIN Surakarta

Introduction

Perubahan status perguruan tinggi membuka peluang untuk membuka program studi baru, hal ini seperti yang terjadi di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Surakarta menjadi Institut Agama Islam Negeri membuka pintu selebar-lebarnya untuk pembukaan fakultas dan menambah program studi. Dinamika inilah yang terjadi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Salah satu program studi yang mengalami perubahan sebagai efek perubahan STAIN Surakarta menjadi IAIN Surakarta adalah Program Studi Bimbingan Konseling Islam. Program studi ini pada awalnya merupakan program studi yang sepi peminat. Hal ini dikarenakan kesangsian banyak pihak akan lulusannya setelah menyelesaikan studi. Namun seiring berjalannya waktu program studi ini mengalami kenaikan peminat yang cukup signifikan. Berdasarkan wawancara dengan Supandi (Ketua Program Studi Bimbingan Konseling Islam) yang menyatakan bahwa asumsi masyarakat akan lulusan adalah pendakwah namun sejak adanya testimony alumni yang menyatakan bahwa mereka diantaranya dapat bekerja di kerohanian rumah sakit, penyuluh di KUA serta alumni yang diterima menjadi PNS sebagai guru bimbingan konseling maka asumsi masyarakat mulai berubah. Peningkatan jumlah peminat pada program studi ini dapat dilihat pada tabel bawah ini: TABEL 1. JUMLAH MAHASISWA PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM Tahun Jumlah Mahasiswa 2010 22 2011 34 2012 67 2013 142 2014 229 2015 225 2016 254 2017 226 Sumber: Siakad Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (2018) Tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah mahasiswa yang signifikan tentunya harusnya diimbangi dengan fasilitas penunjang perkuliahan yang disediakan oleh perguruan tinggi. Salah satu sarana penunjang tersebut adalah penyediaan sumber informasi yang berfungsi sebagai penunjang sumber pembelajaran adalah perpustakaan. Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 menyebutkan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian informasi dan rekreasi para pemustaka. Dari definisi itu sudah jelas dipaparkan bahwa beberapa fungsi dari perpustakaan di antaranya adalah pendidikan dan penelitian. Yang mana pendidikan dan penelitian adalah bagian dari tri darma perguruan tinggi Dalam menunjang tri dharma perguruan tinggi tersebut perpustakaan berkewajiban mengumpulkan, mengolah, menyediakan dan menyebarluaskan informasi yang sesuai dengan kurikulum yang ada pada perguruan tinggi. Perpustakaan berkewajiban memperkaya pengetahuan sivitas akademika kampus terutama dosen dan mahasiswanya, dan mampu mempertinggi kualitas pembelajarannya. Hal ini juga akan berdampak yang sama pada penelitian, baik dosen maupun mahasiswa. Perpustakaan sebagai pendukung fungsi pendidikan dan penelitian, menurut Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi (2004) perpustakaan wajib memiliki 80% koleksi dari bahan bacaan wajib pada tiap mata kuliah yang ditawarkan oleh program studi. Di samping sebagai upaya pemenuhan sumber bacaan wajib bagi mahasiswa, ketersediaan bahan bacaan ini juga menjadi unsur penilaian dalam akreditasi program studi. Dengan melihat kebutuhan tersebut khususnya pada Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam penelitian ini bermaksud mengkaji apakah koleksi yang disediakan oleh Pusat Perpustakaan IAIN Surakarta sudah mampu mengakomodir kebutuhan baik pendidikan maupun penelitian mahasiswa program studi tersebut. Dengan mengacu pada silabus mata kuliah yang ditawarkan pada Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam penelitian ini dilakukan dengan tahapan mengumpulkan sumber bacaan apa saja yang diwajibkan dalam setiap mata kuliah yang ditawarkan. Kemudian membandingkannya dengan rujukan mata kuliah tersebut pada perpustakaan. Penelitian dengan tema yang sama dilakukan oleh Setiawan (2011) yang membahas tentang ketersediaan koleksi bahan ajar berbasis silabus Jurusan Bahasa dan Sastra di Perpustakaan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa koleksi Perpustakaan UIN Sunan Gunung Djati Bandung tidak memenuhi kebutuhan koleksi bahan ajar utama Jurusan Bahasa dan Sastra. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor, di antaranya kurangnya koordinasi antara pihak jurusan dengan pihak perpustakaan, dan kebijakan pengembangan perpustakaan diatur oleh pihak rektorat. Setiawan (2011) menyarankan perlunya koordinasi antara perpustakaan, jurusan, dan dosen dalam pengadaan koleksi perpustakaan. Serta adanya kerjasama antara pihak rektorat dengan perpustakaan dalam hal kebijakan pengembangan koleksi. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah: 1. Apakah ketersediaan koleksi di Pusat Perpustakaan IAIN Surakarta sesuai dengan daftar bacaan dalam silabus bahan ajar mata kuliah wajib Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam? 2. Faktor apa saja yang memengaruhi ketersediaan koleksi di Pusat Perpustakaan IAIN Surakarta dalam memenuhi bahan ajar mata kuliah wajib Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam? II. TINJAUAN LITERATUR A. Pengembangan Koleksi Evaluasi koleksi di sebuah perpustakaan pada dasarnya bertujuan untuk pengembangan koleksi. Menurut Evans (2000), pengembangan koleksi adalah proses untuk memastikan bahwa perpustakaan memenuhi kebutuhan informasi masyarakat yang dilayani dengan tepat waktu dan ekonomis. Sedangkan menurut Sulistyo Basuki (2006), pengertian pengembangan koleksi lebih ditekankan pada pemilihan buku. Menurut Evans dan Saponaro (2005), dalam Developing Library and Information Center Collections, proses pengembangan koleksi perpustakaan terdapat enam daftar bacaan utama yang meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1. Analisis data yaitu merupakan langkah pertama yang dilakukan dalam menentukan kebijakan pengembangan koleksi dengan tujuan untuk menilai atau menganalisa berbagai kebutuhan masyarakat pemustaka. Kegiatan ini, dimaksudkan untuk mengetahui kebutuhan pemustaka secara rinci. 2. Kebijakan seleksi. Setelah melakukan analisis pemustaka, maka hasil dari analisis tersebut dijadikan pedoman atau kebijakan dalam menyeleksi koleksi perpustakaan 3. Proses seleksi merupakan kebijakan seleksi yang telah disusun kemudian digunakan pada tahap kegiatan seleksi 4. Proses pengadaan merupakan hasil seleksi berupa daftar data koleksi yang telah dipilih, selanjutnya dibawa ke bagian pengadaan dengan tujuan untuk mengadakan bahan perpustakaan yang dilakukan baik melalui pembelian, hadiah atau tukar-menukar. 5. Proses penyiangan merupakan koleksi yang ada, pada masa tertentu akan mengalami penyiangan karena informasi dalam koleksi yang sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhanpemustaka 6. Proses evaluasi adalah hasil penyiangan dijadikan bahan untuk evaluasi dalam pemanfaatan koleksi perpustakaan. Kegiatan evaluasi ini dijadikan sebagai bahan untuk menganalisa kebutuhan informasi masyarakat pemustaka pada tahap kegiatan pengembangan koleksi selanjutnya. Enam proses tersebut merupakan proses berkelanjutan. Dalam arti proses pertama yaitu analisis data akan mempengaruhi kebijakan seleksi, proses seleksi sampai pada proses evaluasi koleksi. Begitu juga proses evaluasi koleksi akan memengaruhi analisis data untuk pengadaan berikutnya. B. Evaluasi Koleksi Pengertian evaluasi menurut Poerwadarminto (2007) adalah penilaian. Sedangkan pengertian koleksi perpustakaan menurut Soetimah (1992) adalah bahan pustaka yang dihimpun oleh suatu perpustakaan yang disediakan bagi masyarakat yang berminat memanfaatkannya. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa evaluasi koleksi adalah penilaian bahan pustaka yang ada di perpustakaan. Definisi evaluasi koleksi dikemukakan oleh Sujana (2006) yang menyebutkan bahwa evaluasi koleksi adalah kegiatan menilai koleksi perpustakaan baik dari segi ketersediaan koleksi itu bagi pengguna maupun pemanfaatan koleksi itu oleh pengguna. Sedangkan dalam Pedoman Umum Pengelolaan Koleksi Perpustakaan Perguruan Tinggi (2005) disebutkan bahwa mengevaluasi koleksi adalah upaya menilai daya guna dan hasil guna koleksi dalam memenuhi kebutuhan aktivitas akademik serta program perguruan tinggi. Evaluasi koleksi merupakan unsur yang penting dalam manajemen koleksi, secara menyeluruh dan berkelanjutan. Dengan evaluasi koleksi, perpustakaan dapat menentukan seberapa baik atau buruk koleksi yang tersedia dalam memenuhi kebutuhan penggunanya. Evans dan Saponaro (2005) menjelaskan pentingnya perpustakaan melakukan evaluasi koleksi yang dilandasi oleh beberapa faktor seperti: 1) untuk mengembangkan program pengadaan berdasarkan data koleksi yang telah ada 2) sebagai bahan pertimbangan pengajuan anggaran pengadaan tahun berikutnya dan 3) untuk menambah wawasan staf terhadap keadaan koleksi. Pedoman Umum Pengelolaan Perpustakaan Perguruan Tinggi menjelaskan beberapa tujuan evaluasi koleksi perpustakaan, di antaranya: 1. Mengetahui mutu, lingkup, dan kedalaman koleksi, 2. Menyesuaikan koleksi dengan tujuan dan program perguruan tinggi, 3. Mengikuti perubahan, perkembangan sosial budaya, ilmu dan teknologi, 4. Meningkatkan nilai informasi, 5. Mengetahui kekuatan dan kelemahan koleksi, 6. Menyesuaikan kebijakan penyiangan koleksi. Secara teknis, Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi: Evaluasi Koleksi, menyebutkan dua cara yang dapat dilakukan untuk evaluasi koleksi yaitu kualitatif dan kuantitatif. Cara kuantitatif dilakukan dengan pengumpulan data statistik pengunjung dan dari data tersebut akan diperoleh informasi mengenai keadaan koleksi. Cara kualitatif dengan cara menguji ketersediaan koleksi terhadap jurusan perguruan tinggi. Setiawan (2011) menyatakan bahwa terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur ketersedian judul-judul bahan informasi yang disediakan perpustakaan untuk pemustakanya, di antaranya adalah: 1. Ketersediaan judul bahan pustaka yang dibutuhkan, 2. Persentase judul dokumen yang dibutuhkan dalam koleksi, 3. Ketersediaan dan dapat disediakannya judul yang dibutuhkan, 4. Penggunaan di perpustakaan per kapita, 5. Tingkat penggunaan dokumen. C. Evaluasi Ketersediaan Koleksi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002), ketersediaan adalah kesiapan suatu sarana (tenaga, barang, modal dan anggaran) untuk dapat digunakan atau dioperasikan di waktu yang telah ditentukan. Jadi yang dimaksud dengan ketersediaan koleksi perpustakaan adalah kesiapan sarana koleksi untuk dapat digunakan oleh pemakai pada waktu yang telah ditentukan sesuai dengan peraturan yang ada di perpustakaan. Menurut Zulaikha, Dwiyanto dan Septiyantono (2003) indikator dalam ketersediaan koleksi perpustakaan adalah adanya koleksi di perpustakaan dan jumlah koleksi perpustakaan yang disajikan kepada pemakai. Ada beberapa tujuan dari evaluasi koleksi perpustakaan, di antaranya adalah dalam Pedoman Umum Pengelolaan Perpustakaan Perguruan Tinggi (2004): 1. Mengetahui mutu, lingkup, dan kedalaman koleksi, 2. Menyesuaikan koleksi dengan tujuan dan program perguruan tinggi, 3. Mengikuti perubahan, perkembangan sosial budaya, ilmu dan teknologi, 4. Meningkatkan nilai informasi, 5. Mengetahui kekuatan dan kelemahan koleksi, 6. Menyesuaikan kebijakan penyiangan koleksi. Evaluasi koleksi merupakan metode untuk mengukur kesuksesan dan efektivitas manajemen pengembangan koleksi, termasuk kebijakan penambahan koleksi, pengadaan, pengolahan dan seleksi bahan pustaka. Sehingga evaluasi koleksi dapat memberikan masukan bagi pengelola perpustakaan untuk dapat memenuhi kebutuhan informasi pemustakanya. D. Checklist/List Checking sebagai Metode Evaluasi Koleksi Evaluasi koleksi dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode. Pada penelitian ini peneliti memilih menggunakan teknik checklist/list checking. Checklist/list checking adalah salah satu metode evaluasi koleksi dengan pendekatan collection centered. Checklist merupakan metode yang sudah dikenal dan banyak digunakan. Kegiatan checklist dilakukan dengan melakukan pencocokan terhadap ketersediaan koleksi perpustakaan dengan kebutuhan koleksi buku pengguna. Proses checking menggunakan daftar standar atau bibliografi. (Nishonger, 2003). Checklist adalah suatu metode tertutup (closed method) karena tidak ada data mentah atau kejadian yang dicatat/digambarkan, tapi yang ada hanyalah keputusan/inference pencatat yang berkaitan dengan kriteria. Adapun dalam melakukan kegiatan evaluasi dengan menggunakan checklist sebagaimana yang diungkapkan oleh Halliday (2001) mengemukakan enam langkah dalam menerapkan metode list checking, yaitu: 1. Melakukan identifikasi terhadap materi/bahan perpustakaan yang akan dievaluasi (identification of an area for evaluation), 2. Memilih daftar yang cocok (selection of appropriate lists), 3. Mendefinisikan istilah/konsep (definition of terms), 4. Melakukan pemeriksaan menggunakan daftar yang telah dipilih terhadap koleksi yang dimiliki (checking list against holding), 5. Menganalisis hasil penelitian (analysis of results for trends), 6. Membuat keputusan (decision-making). Checklist biasanya digunakan berulang secara periodik untuk mengukur kemajuan dalam suatu tahapan perkembangan. Clayton dan Gorman (2001) dalam Managing Information Resources in Libraries menggunakan istilah verification studies untuk mengukur kelayakan koleksi dalam memenuhi koleksi yang diminta pemustaka menggunakan bibliografi standar. Bibliografi standar yang digunakan dalam penelitian ini adalah silabus dengan menggunakan metode checklist. Metode checklist dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ketersediaan koleksi perpustakaan memadai dalam memenuhi daftar pustaka yang ada di silabus mata kuliah wajib. Berdasarkan Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi (2004) koleksi bahan ajar adalah salah satu koleksi yang harus ada di perpustakaan perguruan tinggi. Koleksi bahan ajar berfungsi untuk memenuhi tujuan kurikulum. Bahan ajar setiap mata kuliah ada yang diwajibkan dan ada pula sebagai bahan yang dianjurkan untuk meperkaya wawasan. Jumlah judul bahan ajar untuk tiap-tiap mata kuliah ditentukan oleh dosen, sedangkan jumlah eksemplarnya bergantung kepada tujuan dan pengembangan perpustakaan setiap perguruan tinggi. Selanjutnya untuk menunjang proses pembelajaran dan pemenuhan kurikulum maka perpustakaan berkewajiban menyediakan 80% dari bahan ajar mata kuliah yang ditawarkan di perguruan tinggi.

Method

A. Pendekatan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian gabungan antara kualitatif dan kuantitatif. Penggunaan metode ini dikarenakan dalam mengukur ketersediaan diperlukan data-data statistik yang menampilkan jumlah-jumlah tertentu. Untuk melengkapi data dilakukan wawancara yang bersifat diskriptif guna memaparkan data tentang obyek penelitian dan selanjutnya menganalisis ketersediaan koleksi bahan ajar di Pusat Perpustakaan IAIN Surakarta. Metode checklist digunakan untuk mengukur dan menganalisis ketersediaan koleksi. Cara kerja metode ini adalah dengan menggunakan bibliografi standar. Bibliografi standar yang digunakan adalah daftar pustaka yang tercantum dalam silabus mata kuliah wajib di program studi Bimbingan dan Konseling Islam yang berjumlah 57 mata kuliah. B. Subyek dan Objek Penelitian Subjek penelitian ini adalah seluruh daftar pustaka dalam silabus mata kuliah wajib program studi Bimbingan dan Konseling Islam yang berjumlah 409 judul. Objek penelitian ini adalah ketersedian daftar pustaka dalam silabus mata kuliah wajib pada OPAC Pusat Perpustakaan IAIN Surakarta. C. Teknik Pengumpulan Data Teknik dokumentasi digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini. Untuk mengetahui data-data yang diperlukan dalam penelitian ini, peneliti melakukan observasi. Observasi tahap awal dilakukan dengan melakukan observasi langsung terhadap subyek penelitian untuk mengetahui gambaran umum tentang silabus dan mata kuliah daftar bacaan Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam melalui OPAC yang tersedia dengan menggunakan metode checklist. Sedangkan data dokumen yang dimaksudkan pada penelitian ini adalah data judul daftar pustaka yang tercantum dalam silabus mata kuliah wajib Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam. Adapun tahapantahapan yang dilakukan sebagai berikut: 1. Mendatangi Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam untuk memperoleh data tentang judul bahan ajar yang tersedia di silabus matakuliah wajib Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam, 2. Apabila ada salah satu mata kuliah yang tidak memiliki silabus atau memiliki silabus akan tetapi tidak mempunyai daftar bahan ajar, maka peneliti mendatangi dosen mata kuliah yang bersangkutan dengan meminta daftar bahan ajar yang digunakan dalam mata kuliah wajib, 3. Setelah data bahan ajar terkumpul, selanjutnya diidentifikasi, didaftar dan disusun menurut abjad dalam bentuk tabel, 4. Melakukan pengecekan dan pencocokan daftar bahan ajar tersebut dengan pangkalan data (OPAC) UPT Perpustakaan, 5. Apabila perpustakaan memiliki bahan ajar tersebut maka diberi tanda “Ö” serta mencatat jumlah eksemplar yang tersedia setiap judul, dan apabila tidak ada diberi tanda “X”, 6. Setelah dicek apakah perpustakaan memiliki bahan ajar tersebut atau tidak dan dihitung persentase judul bahan ajar yang dimiliki, 7. Pada penelitian ini, dilakukan wawancara tidak terstruktur sebagai data pendukung dari penelitian yang dilaksanakan. Wawancara dilaksanakan dengan kepala perpustakaan, dan ketua program studi. Data hasil wawancara digunakan sebagai data pendukung terhadap data dokumen yang diperoleh. D. Analisis Data Proses penelitian dilakukan. Data yang sudah terkumpul diidentifikasi dan dikelompokkan berdasarkan mata kuliah tingkat institut dan mata kuliah berbasis program studi. Data yang bersifat kuantitatif dianalisis dalam bentuk skor dan persentase dan untuk data wawancara dianalisis secara diskriptif. Analisis ketersedian daftar judul bahan ajar yang tercantum dalam silabus menggunakan rumus dalam rumus persentase Kerlingger (1990) sebagai berikut: Keterangan: P : angka persentase F : Frekuensi N : Jumlah keseluruhan

Discussion

A. Ketersediaan Koleksi Bahan Ajar Mata Kuliah Wajib Program Studi Bimbingan Konseling Islam Berdasarkan buku Panduan Akademik IAIN Surakarta tahun 2017 terdapat 57 mata kuliah wajib untuk Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh mata kuliah wajib selain KKN, PPL/KKL dan skripsi. Dari setiap mata kuliah terdapat referensi yang digunakan sebagai rujukan perkuliahan dengan panduan silabus yang ada. Terdapat dua jenis mata kuliah di Program Studi Bimbingan Konseling, yaitu mata kuliah institut dan mata kuliah program studi. Mata kuliah institut adalah mata kuliah dasar yang setiap mahasiswa wajib menempuhnya baik itu Program Studi Bimbingan Konseling Islam maupun program lain di IAIN Surakarta. Jumlah mata kuliah institut sejumlah10 mata kuliah. Mata kuliah tingkat institut ini wajib diambil oleh seluruh mahasiswa yang kuliah di IAIN Surakarta. Mata kuliah program studi adalah mata kuliah yang berbasis program studi. Mata kuliah ini spesisfik hanya untuk program studi masing masing. Jumlah mata kuliah program studi di Dalam Program Studi Bimbingan Konseling Islam sejumlah 47 mata kuliah. Untuk mengetahui tingkat ketersediaan koleksi, dilakukan cross check dari data seluruh daftar pustaka yang terdapat dalam silabus Program Studi Bimbingan Konseling Islam dengan data koleksi yang dimiliki oleh Pusat Perpustakaan. Ketersediaan koleksi yang dgunakan dalam silabus program studi di Pusat Perpustakaan IAIN Surakarta merujuk indikator yang dikemukakan Zulaikha, Dwiyanto dan Septiyantono (2003) yaitu adanya koleksi di perpustakaan dan jumlah koleksi perpustakaan yang diajikan kepada pemustaka. 1) Mata Kuliah Tingkat Institut Mata kuliah tingkat instut ini terdapat 10 buah dengan beban masing-masing 2 SKS, sebarannya sebagai berikut: TABEL 2. SEBARAN MATA KULIAH INSTITUT No Mata Kuliah SKS 1 Pancasila 2 2 Pendidikan Kewarganegaraan 2 3 Filsafat Ilmu 2 4 Bahasa Indonesia 2 5 Sejarah Peradaban Islam 2 6 Metodologi Studi Islam 2 7 Ilmu Kalam 2 8 Akhlak dan Tasawuf 2 9 Islam dan Budaya Jawa 2 10 Kewirausahaan Islami 2 Jumlah 20 Hasil penelitian dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: ! #$%&$'() = 53 107 0100% = 49,5% ! #(')5 #$%&$'() = 54 107 0107 = 50,5% FIGURE 1. PERSENTASE DAFTAR PUSTAKA MATA KULIAH TINGKAT INSTITUT PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM Dari gambar di atas, daftar pustaka yang digunakan untuk mata kuliah tingkat institut program studi Bimbingan dan Konseling Islam sebanyak 107 (seratus tujuh) judul dari 10 (sepuluh) mata kuliah. Dari ke sepuluh mata kuliah tersebut daftar pustaka yang tersedia sebanyak 53 judul atau sebesar 49,5% dan ketidaktersedian sebanyak 54 (lima puluh empat) atau sebesar 50,5%. Apabila dilihat dari ketersediaan daftar pustaka untuk mata kuliah institut di Pusat Perpustakaan sebesar 49,5% maka hal ini dapat dikatakan bahwa perpustakaan belum mampu menyediakan bahan bacaan karena berdasarkan Buku Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi bahwa perpustakaan perguruan tinggi wajib menyediakan 80% dari bahan bacaan wajib yang tersedia dalam silabus. UPT Pusat Perpustakaan IAIN Surakarta hanya dapat menyediakan bahan bacaan sebesar 49,5%. dapat dikatakan bahwa kebutuhan bahan ajar wajib dalam silabus tidak terpenuhi. Dari hasil ketersediaan koleksi di atas maka Pusat Perpustakaan dapat dikategorikan kurang baik, dan belum sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan, sesuai denngan Undanga-Undang No. 43 tahun 2007 pasal 24 ayat 2 yaitu “perpustakaan perguruan tinggi memiliki koleksi, baik jumlah judul maupun jumlah eksemplarnya, yang mencukupi untuk mendukung pelaksanaan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat”. TABEL 3. KETERSEDIAAN BAHAN AJAR MATA KULIAH TINGKAT INSTITUT No Mata Kuliah JDPS Tersedia Tidak Tersedia M P M P 1 Pancasila 11 5 45,5 6 54,5 2 Pendidikan Kewarganegaraan 11 6 54,5 5 45,5 3 Filsafat Ilmu 14 8 57,1 6 42,8 4 Bahasa Indonesia 11 7 63,6 4 36,4 5 Sejarah Peradaban Islam 12 7 58,4 5 41,7 6 Metodologi Studi Islam 12 5 41,7 7 58,3 7 Ilmu Kalam 13 7 53,8 6 46,2 8 Akhlak dan Tasawuf 8 4 50 4 50 9 Islam dan Budaya Jawa 9 3 33,3 6 66,7 10 Kewirausahaan Islami 6 1 16,7 5 83,3 2) Mata Kuliah Tingkat Program Studi Ketersediaan judul daftar pustaka wajib dalam silabus untuk mata kuliah tingkat program studi diketahui sebagai berikut: ! 6$%&$'() = 135 302 0100% = 44,7% ! 6$%&$'() = 135 302 0100% = 44,7% FIGURE 2. PERSENTASE DAFTAR PUSTAKA MATA KULIAH BERBASIS PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa jumlah bahan ajar pada Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam yang dibutuhkan berdasarkan silabus sebanyak 302 judul untuk mata kuliah berbasis program studi. Dari jumlah tersebut ketersediaan di Pusat Perpustakaan IAIN Surakarta sebanyak 135 judul atau sebesar 44,7% dan bahan ajar yang tidak tersedia sebanyak 167 (seratus enam puluh tujuh) judul atau sebesar 55,3%. TABEL 4. PERSENTASE KETERSEDIAAN BAHAN AJAR MATA KULIAH TINGKAT PRODI No Ketersediaan (%) Jumlah Mata Kuliah 1 0 10 2 1 – 30 7 3 31 - 60 14 4 61 – 79 7 5 80 – 100 9 Jumlah 47 Tabel di atas memperlihatkan bahwa ketersediaan Pusat Perpustakaan IAIN Surakarta untuk mata kuliah berbasis program studi belum memenuhi standar berdasarkan Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi yaitu 80% bahan bacaan yang tercantum dalam silabus karena hanya ada 9 atau dengan presentase hanya 19,2% saja bahan ajar mata kuliah yang memenuhi standar. Kondisi ini menggambarkan bahwa Pusat Perpustakaan belum dapat memenuhi kebutuhan bahan ajar pada silabus untuk Program Studi Bimbingan Konseling Islam. Berdasarkan amanat UU No. 43 tahun 2007 tentang perpustakaan pasal 24 ayat 2 yang menyatakan bahwa perpustakaan perguruan tinggi koleksi yang mencukupi guna mendukung pelaksanaan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pada ayat 2 ini menjelaskan bahwa perpustakaan perguruan tinggi harus menyediakan bahan bacaan wajib, penunjang dan pendukung. B. Analisis Faktor Ketersediaan Judul Bahan Ajar Mata Kuliah Wajib Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam Ketersediaan daftar pustaka yang digunakan dalam silabus ini menggunakan teori yang terdapat dalam Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi yang menyatakan bahwa perpustakaan perguruan tinggi harus menyediakan 80% bahan ajar yang dibutuhkan dalam silabus mata kuliah untuk setiap program studi. Berdasarkan hasil penelitian ini ketersedian koleksi 49,5% untuk mata kuliah tingkat institut. Ketersedian bahan ajar untuk mata kuliah institut ini hanya ada satu mata kuliah yang mendekati standar yaitu Bahasa Indonesia dengan persentase 63,64%. Menurut salah satu dosen, tentang ketersediaan daftar pustaka di Pusat Perpustakaan sebagai berikut: “Sebenarnya untuk mata kuliah tingkat insitut, koleksi yang ada di Pusat Perpustakaan sudah ada namun masih kurang karena beberapa judul buku yang digunakan dalam silabus mata kuliah terbitan terbaru dan Pusat Perpustakaan hanya ada pengadaan setahun satu kali mungkin itu yang menjadi kendalanya.” (Wawancara dengan Narasumber tanggal 5 Juni 2018) Hal tersebut juga senada dengan yang diungkapkan oleh Kepala Pusat Perpustakaan bahwa pelaksanaan pengadaan buku yang hanya satu tahun sekali dan dengan nominal yang terbatas maka Pusat Perpustakaan merasa kesulitan mewujudkan semua permintaan judul buku dari pemustaka. Pengadaan buku di IAIN Surakarta dilaksanakan dengan rekanan pihak lain sehingga tidak dapat dilakukan setiap saat berbeda dengan perguruan tinggi swasta yang dapat melakukan pengadaan buku setiap saat. Bahkan ditemukan 10 mata kuliah yang ketersediaan bahan ajar untuk mata kuliah berbasis program studi ada yang 0% (tidak ada), diantaranya mata kuliah Bahasa Arab Konseling, Bahasa Inggris Konseling, Hadis Konseling, Metodologi Penelitian Kualitatif Konseling, Analisa Perubahan Tingkah Laku, Bimbingan Konseling Karir, Assesment Psikologi, Pengembangan Pribadi Konselor, Teknik Penyusunan Skripsi, dan Mikro Konseling. Apabila menggunakan pedoman UU No. 43 Tahun 2007 pasal 24 ayat 2 yang menyatakan bahwa perpustakaan perguruan tinggi harus menyediakan koleksi untuk mendukung pelaksanaan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Maka Pusat Perpustakaan IAIN Surakarta masih jauh untuk memenuhi kebutuhan silabus dan kurikulum Program Studi Bimbingan Konseling Islam dalam mendukung proses pembelajaran. Menggunakan Kementerian Pendidikan Nasional (2011) yang menyatakan bahwa salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur ketersediaan koleksi dalam memenuhi kebutuhan informasi sivitas akademika adalah kurikulum dan silabus. Spiller (2000) mengatakan bahwa apabila kebutuhan bahan ajar yang terdapat pada silabus terpenuhi maka dapat dikatakan tingkat ketersediaan baik, sehingga perpustakaan dapat dikategorikan perpustakaan yang baik. Pernyataan tersebut diperkuat dengan pernyataan salah satu dosen Program Studi Bimbingan Konseling Islam berikut: “Untuk daftar bacaan wajib mata kuliah yang saya ampu yaitu Bahasa Inggris tidak ada sama sekali di Pusat Perpustakaan IAIN Surakarta maka saya memberi anjuran kepada mahasiswa untuk download ebook saja lebih praktis dan tidak usah pinjam tinggal simpan di harddisk atau flashdisk” (Wawancara dengan Narasumber tanggal 6 Juni 2018) Berdasarkan wawancara dengan Kepala Pusat Perpustakaan selama ini belum pernah dilakukan survey terhadap pemakai tentang ketersedian koleksi. Secara garis besar faktor yang menyebabkan sulitnya Pusat Perpustakaan IAIN Surakarta sulit memenuhi kebutuhan bahan ajar yang terdapat dalam silabus Program Studi Bimbingan Konseling Islam sebagai berikut: a. Kurangnya koordinasi antara Pusat Perpustakaan dengan Program Studi ketika akan melakukan pengadaan koleksi bahan pustaka. Menurut Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam, terakhir mendapat angket untuk daftar usulan judul buku dari Pusat Perpustakaan pada tahun 2016. Pada saat itu Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam mengusulkan judul buku yang dibutuhkan mahasiswa, namun setelah dilakukan pengadaan dari pihak Pusat Perpustakaan tidak ada imbal balik daftar judul buku yang dapat dibeli dari dana pengadaan. b. Keterlambatan dalam mengembalikan formulir yang dikirim ke program studi sehingga daftar judul tidak dapat dijadikan acuan dalam pengadaan bahan pustaka. c. Jumlah anggaran pengadaan bahan pustaka yang tersedia di IAIN Surakarta untuk 17 program studi S1, dan 5 program studi jenjang pascasarjana untuk pengadaann bahan pustaka sebesar Rp. 600.000.000,00 dengan rincian pada tabel 5. d. Dalam struktur organisasi Pusat Perpustakaan IAIN Surakarta tidak ada pengelola yang membidangi pengadaan bahan pustaka. Menurut Kepala Pusat Perpustakaan untuk pengadaan bahan pustaka ditangani langsung oleh Kepala Perpustakaan karena pengadaan berkaitan dengan kebijakan dan jumlah sumber daya perpustakaan yang masih terbatas TABEL 5. ANGARAN PENGADAAN BAHAN PUSTAKA No Alokasi Anggaran Jumlah 1 Langganan Jurnal Online Rp. 200.000.000,- 2 Pengadaan Buku Rp. 200.000.000,- 3 Pengadaan E-book Rp. 200.000.000,- Jumlah Rp. 600.000.000,-

Conclusion

Ketersediaan koleksi di Pusat Perpustakaan IAIN Surakarta berdasarkan daftar bacaan dalam silabus bahan ajar mata kuliah wajib Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam masih belum memenuhi standar. Baik dari mata kuliah tingkat institut maupun mata kuliah tingkat program studi. Hasil cheklist dari penelitian yang dilakukan ini menunjukkan bahwa bahan ajar untuk mata kuliah tingkat institut mendapatkan data persentase ketersediaan koleksi sebesar 49,5%, sedangkan untuk mata kuliah berbasis program studi sebesar 44,7%. Faktor-faktor yang memengaruhi hal tersebut di antaranya adalah pengadaan bahan pustaka dilakukan hanya setahun sekali sehingga tidak mampu secara cepat mendapatkan koleksi baru yang dibutuhkan baik untuk mata kuliah institut maupun mata kuliah program studi. Dengan pengadaan yang dilakukan setahun sekali renggang waktunya cukup lama untuk menunggu tersedianya bahan ajar yang segera dibutuhkan oleh mahasiswa. Selain itu penyediaan dana oleh pihak institut untuk dana pengadaan bahan pustaka yang relatif rendah untuk kategori perpustakaan perguruan tinggi, berakibat pada sedikitnya alokasi pengadaan koleksi bahan ajar pada setiap program studi yang ada di IAIN Surakarta. Hal lain yang menjadi sebab rendahnya ketersediaan bahan ajar yaitu kurangnya koordinasi dan kerjasama antara pihak Pusat Perpustakaan IAIN Surakarta dengan program studi, sehingga penetapan judul judul yang diusulkan kepada rekanan tidak sesuai dengan harapan dan kebutuhan program studi.