ASESMEN TRANSFORMASI DIGITAL GALERI NASIONAL INDONESIA
Universitas Indonesia; Universitas Indonesia
Abstrak
Asesmen transformasi digital belum mendapatkan perhatian penuh dan masih jarang dilakukan oleh galeri/museum seni di Indonesia. Penelitian transformasi digital di bidang ilmu perpustakaan dan informasi yang mencakup konsep GLAM lebih banyak membahas tentang perpustakaan, kearsipan, dan museum, sedangkan tentang galeri seni sangat langka terutama di Indonesia. Penelitian ini bertujuan melakukan asesmen transformasi digital terhadap galeri seni, khususnya Galeri Nasional Indonesia (Galnas). Metode kuantitatif digunakan dengan menerapkan kuesioner kerangka kerja transformasi digital yang telah diuji pada 400 lembaga budaya di Italia (termasuk galeri seni) untuk mengukur Digital Readiness Index (DRI) pada lima dimensi, yaitu orang, teknologi, proses, pelanggan, serta strategi dan investasi. Wawancara dilakukan dengan pengelola Galnas sebagai konfirmasi jawaban kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan nilai DRI dari yang tertinggi adalah dimensi strategi dan investasi sebesar 0,59; teknologi 0,22; orang 0,14; serta proses dan pelanggan masing-masing 0,07. Tingkat kesiapan digital Galnas secara keseluruhan termasuk rendah.
Abstract
Digital transformation assessment has not received full attention and is still rarely carried out by art galleries/museums in Indonesia. Digital transformation research on library and information science (LIS) that covers GLAM's concept focuses more on libraries, archives, and museums, while art galleries are scarce, especially in Indonesia. This study aims to conduct a digital transformation assessment of art galleries, especially the National Gallery of Indonesia (Galnas). The research uses a quantitative method by applying a digital transformation framework questionnaire that had tested at 400 cultural institutions in Italy (including art galleries). This research measures the Digital Readiness Index (DRI) on five dimensions: people, technology, processes, customers, strategy and investment. Interviews with Galnas managers had conducted to confirm the questionnaire’s answers. The results showed that the DRI value of the strategy and investment dimensions was 0.59; technology 0.22; people 0.14; processes and customers each 0.07. The overall level of digital readiness for Galnas is low.
Keywords:
Asesmen transformasi digital
· Digital Readiness Index
· Galeri Nasional Indonesia
Introduction
Transformasi digital menjadi pilar utama bagi lembaga untuk dapat bertahan dan bersaing di era digital, tak terkecuali galeri/museum seni. Transformasi digital terkait dengan beberapa istilah yang sering kali dianggap sama, yaitu digitisasi, digitalisasi, dan inovasi digital. Digitisasi merujuk pada proses teknologi dalam mengubah sumber daya nondigital menjadi digital (Zhao et al., 2020). Menurut Hess et al. (2016), digitisasi merujuk pada proses otomasi melalui teknologi informasi (Kraus et al., 2021). Adapun, digitalisasi terkadang mencakup konten yang lebih luas dengan menyertakan alur kerja atau proses digital (Zhao et al., 2020). Inovasi digital menurut Nambisan et al. (2017) adalah penggunaan teknologi digital selama proses berinovasi (Agostino dan Costantini, 2022). Transformasi digital memiliki pengertian yang lebih luas dari digitisasi, digitalisasi, dan inovasi digital. Hess et al. (2016) menyatakan bahwa transformasi digital lebih terkait dengan perubahan yang muncul akibat adanya teknologi digital (Kraus et al., 2021). Transformasi digital tidak hanya terkait sumber daya dan proses, melainkan juga mencakup kemungkinan perubahan sistematis sosio-teknis (tetapi tidak selalu) dengan adanya sumber daya dan alur kerja yang semakin terdigitalisasi (Zhao et al., 2020). Transformasi digital merupakan proses untuk meningkatkan entitas dengan memicu perubahan signifikan pada propertinya melalui kombinasi teknologi informasi, komputasi, komunikasi, dan konektivitas. Proses organisasi menanggapi perubahan dalam lingkungan mereka dengan menggunakan teknologi digital untuk mengubah proses penciptaan nilai mereka (Vial, 2019). Transformasi digital menurut Hinings et al. (2018) adalah efek gabungan beberapa inovasi digital yang menghasilkan aktor baru, struktur, praktik, nilai, dan keyakinan yang mengubah, mengancam, menggantikan, atau melengkapi aturan main dalam organisasi, ekosistem, industri atau bidang (Agostino dan Costantini, 2022).. Transformasi digital tidak hanya mengukur sejauh mana organisasi dapat memperoleh manfaat dari penggunaan teknologi informasi, melainkan juga proses evolusioner yang menjadikan teknologi informasi sebagai elemen fundamental dari organisasi dan kehidupan sehari-hari yang memengaruhi semua dimensi yang melibatkan orang dan organisasi itu sendiri (Rodríguez-Abitia dan Bribiesca-Correa, 2021). Dari penjelasan tersebut, digitisasi, digitalisasi, dan inovasi digital merupakan bagian dari transformasi digital yang seluruhnya memiliki elemen dasar yang sama, yaitu adanya teknologi digital. Transformasi digital museum didefinisikan oleh Tim et al. (2020) sebagai proses yang memicu perubahan signifikan pada sistem organisasi (bagaimana museum dijalankan) dan identitas yang mapan (bagaimana museum menjaga tujuannya) melalui kombinasi teknologi informasi, komputasi, komunikasi, dan konektivitas. Transformasi digital tidak mudah dan merupakan proses yang berkelanjutan. Pemahaman tentang konsep transformasi digital juga belum populer di kalangan pengelola galeri/museum seni di Indonesia. Meskipun demikian, mereka lebih familier dengan aktivitas digitisasi dan inovasi digital. Seperti disebutkan sebelumnya, digitisasi dan inovasi digital merupakan bagian dari transformasi digital. Hal ini berarti pengelola galeri/museum seni di Indonesia yang telah melakukan digitisasi dan inovasi digital sebenarnya telah memulai proses transformasi digital, hanya saja belum menyadarinya. Karena itu pula, kebanyakan pengelola galeri/museum seni di Indonesia juga tidak melakukan penilaian atau asesmen terhadap transformasi digital lembaga mereka. Padahal, asesmen terhadap transformasi digital dapat mengukur tingkat penggunaan teknologi digital galeri/museum seni yang berguna untuk mengidentifikasi kondisi dan kemampuan atau potensi digital lembaga, memetakan kemampuan digital setiap sumber daya, membantu untuk menyusun strategi selanjutnya, memengaruhi pengambilan keputusan internal, serta meningkatkan kinerja. Mengingat pentingnya transformasi digital bagi galeri/museum seni maka penelitian ini terdorong untuk melakukan asesmen transformasi digital terhadap galeri/museum seni di Indonesia, khususnya Galeri Nasional Indonesia (Galnas). Galnas merupakan galeri seni rupa milik Pemerintah Indonesia yang beroperasi di bawah naungan lembaga Museum dan Cagar Budaya (MCB), Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) (Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2022). Meskipun menyandang nama galeri, tetapi Galnas dalam praktiknya termasuk bagian dari MCB. Galnas juga menjalankan fungsi museum meskipun istilah museum dan galeri dibedakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Museum merujuk pada gedung atau tempat pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, seni, ilmu, dan tempat menyimpan barang kuno; sedangkan galeri merujuk pada ruangan atau gedung tempat memamerkan benda atau karya seni dan sebagainya (KBBI Daring, n.d). Pada praktiknya, Galnas juga menyimpan dan mengoleksi karya seni, khususnya karya seni rupa era modern dan kontemporer. Aktivitas Galnas secara keseluruhan fokus pada informasi dan edukasi di bidang seni rupa. Galnas merupakan lembaga budaya sekaligus lembaga informasi yang menjadi wajah representasi perkembangan seni rupa Indonesia. Oleh karena itu, transformasi digital di Galnas menjadi faktor penting untuk meningkatkan kapabilitas lembaga serta meningkatkan kualitas layanan informasi dan edukasi bidang seni rupa kepada masyarakat. Dalam melakukan asesmen transformasi digital terhadap Galnas, tentu diperlukan sebuah kerangka kerja penilaian. Namun, kerangka kerja asesmen transformasi digital yang khusus untuk galeri seni masih sangat jarang. Beberapa kerangka kerja asesmen transformasi digital yang telah ditawarkan para peneliti lebih terkait dengan lembaga budaya, museum, perguruan tinggi, dan organisasi secara umum. Salah satunya penelitian Agostino dan Costantini (2022) yang mengembangkan kerangka kerja untuk menilai tingkat transformasi digital organisasi secara keseluruhan dan telah diterapkan pada 400 lembaga budaya di Italia (termasuk galeri seni). Penelitian lain dilakukan Rodríguez-Abitia dan Bribiesca-Correa (2021) yang membuat kerangka model penilaian transformasi digital dalam universitas dengan cara mengintegrasikan banyak model dalam literatur yang kemudian dilakukan uji coba pada beberapa perguruan tinggi di berbagai negara yang berbeda. Konopik et al. (2022) memperkenalkan kerangka kerja konseptual dengan mengelompokkan kemampuan organisasi ke dalam tujuh tema yang relevan untuk mengelola transformasi digital, yaitu: 1) strategi dan ekosistem, 2) pemikiran inovasi, 3) teknologi transformasi digital, 4) data, 5) operasional, 6) desain organisasi, dan 7) kepemimpinan transformasi digital. Parsehyan (2020) menganalisis berada pada tahap proses transformasi digital yang mana 62 museum swasta di Istanbul, Turki, di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Warisan Budaya dan Museum, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dengan cara mengukur sejauh mana penggunaan teknologi informasi dan komunikasinya terutama yang terkait dengan pengalaman kunjungan. Dari penelitian Agostino dan Costantini (2022), Rodríguez-Abitia dan Bribiesca-Correa (2021), dan Konopik et al. (2022), ketiganya menawarkan kerangka kerja asesmen transformasi digital. Yang memasukkan galeri seni hanya Agostino dan Costantini (2022), meskipun di dalam konteks yang lebih luas, yaitu lembaga budaya. Parsehyan (2020) berfokus pada museum, tetapi hanya melihat dari penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang terkait dengan pengalaman kunjungan. Beberapa penelitian galeri seni yang terkait dengan teknologi digital tidak membahas transformasi digital, melainkan cenderung tentang karya atau pameran digital. Beberapa di antaranya seperti kurasi digital (Harding et al., 2019); proses berkarya seni visual di era digital mulai dari produksi, pameran, dan penjualan karya seni visual secara digital (Setiaji, 2023); evaluasi tur virtual pameran seni (Widjono, 2020); serta dampak Covid-19 terhadap strategi dan praktik data digital (Noehrer et al., 2021). Di bidang ilmu perpustakaan dan informasi yang mencakup konsep GLAM (Gallery, Library, Archive, and Museum), penelitian tentang galeri seni juga masih jarang. Terkait transformasi digital, penelitian di bidang ilmu perpustakaan dan informasi lebih banyak tentang perpustakaan, kearsipan, dan museum. Berdasarkan latar belakang tersebut maka penelitian ini merupakan suatu kebaruan dalam hal: 1) fokus penelitian ini masih sangat langka, yaitu tentang asesmen transformasi digital galeri seni di Indonesia; 2) menganalisis asesmen transformasi digital Galnas yang belum pernah dilakukan sebelumnya; 3) memperkaya penelitian di bidang ilmu perpustakaan dan informasi khususnya tentang galeri seni yang masih sangat jarang. Penelitian ini menjawab dua pertanyaan, yaitu: 1) bagaimana hasil perhitungan DRI pada dimensi orang, teknologi, proses, pelanggan, strategi dan investasi? serta 2) Bagaimana tingkat kesiapan digital Galnas secara keseluruhan? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesiapan digital Galnas dengan melakukan asesmen terhadap transformasi digital di Galnas. Transformasi digital Galnas diukur menggunakan kerangka kerja yang dibuat Agostino dan Costantini (2022) karena kerangka kerja tersebut mencakup galeri seni. Alat pengukuran menggunakan digital readiness index (DRI) yang mencakup lima dimensi utama, yaitu orang, teknologi, proses, pelanggan, serta strategi dan investasi. Penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan bagi pengembangan keilmuan karena belum banyak penelitian dengan topik asesmen transformasi digital Galnas. II. TINJAUAN LITERATUR Penelitian transformasi digital galeri seni sulit ditemukan, tetapi Agostino dan Costantini (2022) memasukkan galeri seni dalam penelitiannya yang berjudul “A Measurement Framework for Assessing the Digital Transformation of Cultural Institutions: the Italian Case”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode scoping literature review untuk mengembangkan kerangka kerja secara teoretis serta menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menerapkan kerangka kerja penilaian yang terdiri dari lima dimensi utama, yaitu orang, teknologi, proses, pelanggan, serta strategi dan investasi yang seluruhnya terdiri dari sembilan subdimensi. Kerangka kerja divalidasi dan diterapkan pada 400 lembaga budaya di Italia, mencakup museum, galeri dan koleksi, monumen dan kompleks monumen, taman dan taman arkeologi. Alat ukur menggunakan Indeks Kesiapan Digital/Digital Readiness Index (DRI). Hasil penerapan kerangka kerja didiskusikan dengan dua direktur museum yang tertarik memahami kesiapan digital lembaga mereka. Diskusi tersebut untuk mendapatkan pemahaman tentang lembaga budaya seperti apa yang dapat menerapkan kerangka tersebut dan bagaimana cara penerapannya. Kerangka kerja penilaian yang terdiri dari lima dimensi utama dan sembilan subdimensi tersebut merupakan hasil temuan penelitian yang hasil ratarata tertimbang per dimensi dan subdimensi mendukung pengembangan indeks komposit kesiapan digital organisasi. Kesiapan digital juga banyak diteliti dalam bidang bisnis atau industri. Mirip dengan penelitian Agostino dan Costantini (2022), Rafiah et al. (2022) meneliti kesiapan digital 113 usaha kecil dan menengah (UKM) di Jawa Barat dengan menganalisis lima variabel meliputi orang, proses, strategi, teknologi, dan integrasi. Menggunakan pendekatan survei deskriptif dengan metode survei cross sectional, temuan penelitian menunjukkan kesiapan UKM di Indonesia terkait industri 4.0 berada dalam tingkat yang rendah. Penelitian lainnya bukan tentang galeri seni, tetapi masih terkait bidang yang mirip, yaitu museum seni. Parsehyan (2020) dalam penelitian berjudul “Digital Transformation in Museum Management: The Usage of Information and Communication Technologies” menganalisis posisi tahap proses transformasi digital 62 museum swasta di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Warisan Budaya dan Museum, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Istanbul, Turki. Penelitian ini mengukur sejauh mana penggunaan teknologi informasi dan komunikasinya terutama yang terkait dengan pengalaman kunjungan. Tujuan penelitian adalah untuk memaparkan hubungan teknologi digital dan museum dalam hal teknologi partisipatif. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis etnografi, penelitian terdiri dari tiga langkah, yaitu: 1) tahap prakunjungan berupa evaluasi layanan situs web dan media sosial museum yang memengaruhi keputusan berkunjung; 2) tahap kunjungan berupa evaluasi kemungkinan teknologi yang ditawarkan kepada pengunjung selama kunjungan; serta 3) tahap pascakunjungan berupa evaluasi layanan online yang bertujuan menguji kepuasan pengunjung dan yang mendorong loyalitas mereka. Hasil penelitian mengategorikan museum menjadi empat kategori, yaitu sleepers, social-oriented, visit-oriented, dan experience- oriented. Dari 62 museum, 24% adalah sleepers, 36% social-oriented, 24% visit-oriented, dan 16% experience-oriented. Dari beberapa penelitian tersebut, penelitian tentang transformasi digital galeri seni masih langka sehingga penelitian ini sangat dibutuhkan. Kerangka kerja penilaian transformasi digital berbeda-beda pada masing-masing penelitian, tetapi ada kesamaan pada sebagian besar dimensi yang diukur. DRI yang digunakan Agostino dan Costantini (2022) untuk mengukur tingkat transformasi digital lembaga budaya juga digunakan dalam penelitian Rafiah et al. (2022) yang bergerak di bidang bisnis dengan kesamaan pada empat dimensi dan perbedaan hanya pada satu dimensi. Pengguna yang menjadi fokus pengukuran transformasi digital dalam penelitian Parsehyan (2020) juga termasuk dalam dimensi yang diukur pada kerangka kerja Agostino dan Costantini (2022). Karena dimensi analisis penelitian Agostino dan Costantini (2022) termasuk lengkap—kerangka kerjanya juga telah divalidasi melalui penerapan pada 400 lembaga budaya di Italia, serta memasukkan galeri seni sebagai objek penelitian— maka penelitian ini menggunakan kerangka kerja transformasi digital Agostino dan Costantini (2022).
Method
Objek penelitian ini adalah Galnas. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan instrumen kuesioner sesuai kerangka kerja transformasi digital yang telah diuji pada 400 lembaga budaya Italia dalam penelitian Agostino dan Costantini (2022). Wawancara dilakukan dengan pengelola Galnas sebagai konfirmasi jawaban kuesioner. Kuesioner mengukur lima dimensi utama, yaitu orang, teknologi, proses, pelanggan, strategi dan investasi. Masing-masing dimensi memiliki subdimensi dengan total keseluruhan sembilan subdimensi (Tabel 1). TABEL 1. DIMENSI DAN SUBDIMENSI KERANGKA KERJA KESIAPAN DIGITAL Dimensi Definisi Subdimensi Definisi Orang Kehadiran keterampilan dan kemampuan digital yang sesuai dari staf. Keterampilan digital Cara kapabilitas digital dikelola secara internal dan keberadaan peran digital, yang kompetensinya bergantung pada sektor yang diminati. Teknologi Penggunaan teknologi digital, praktik analisis data, dan kehadiran koneksi Wi-Fi yang tersedia untuk pengunjung. Adopsi teknologi Akuisisi teknologi tertentu dalam organisasi. Analisis data Penggunaan data online secara sistematis untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Infrastruktur teknologi Keberadaan koneksi Wi-Fi. Proses Sejauh mana proses internal didigitalkan. Front-office Interaksi dengan pelanggan dengan referensi khusus untuk kehadiran proses ebilling. Back-office Mempertimbangkan sejauh mana proses internal didigitalkan. Pelanggan Kemampuan organisasi untuk terlibat dengan pelanggan melalui penggunaan saluran interaksi digital sebelum dan sesudah terjadi pembelian. Kesadaran pelanggan Kehadiran dan penggunaan saluran media sosial dan situs web lokalisasi seperti Google Maps dan TripAdvisor. Strategi dan Investasi Mengukur kemampuan organisasi untuk mengejar strategi digital jangka panjang sambil menginvestasikan sumber daya dalam proyek transformasi digital. Strategi digital Mengukur keberadaan strategi dan integrasinya dengan keseluruhan strategi organisasi. Investasi Investasi organisasi terhadap teknologi digital. Sumber: Kerangka kerja kesiapan digital (Agostino dan Costantini, 2022). Tahap penelitian ini terdiri dari empat langkah. Langkah pertama adalah memberikan kuesioner kepada pengelola Galnas. Kuesioner berisi pertanyaan yang terdiri dari lima bagian. Bagian pertama terkait orang, bagian kedua terkait teknologi, bagian ketiga terkait proses, bagian keempat terkait pelanggan, dan bagian kelima terkait strategi dan investasi (Tabel 2-6). Masing-masing pertanyaan memiliki pilihan jawaban yang disertai skor berdasarkan salah satu dari empat kategori item, yaitu skala Likert, Boolean, multiple-choice, dan grid questions. Skor item skala Likert mulai 0 hingga Nmax untuk setiap jawaban dan kemudian dinormalisasi ke dalam skala 0-1 menggunakan nilai maksimum sebagai proksi. Skor item Boolean adalah 0 atau 1. Opsi multiple-choice memungkinkan untuk memilih jawaban lebih dari satu opsi dengan skor setiap opsi dianggap sebagai item Boolean. Grid questions merupakan pertanyaan di mana responden harus menjawab dua atau lebih pertanyaan pada saat yang sama sering kali menggunakan skala Likert. Bobot nilai pada setiap dimensi dan subdimensi menghasilkan indikator sintetik DRI dengan rentang 0–1, di mana 0 berarti ketiadaan digitalisasi dan 1 merupakan nilai tertinggi dari digitalisasi penuh (Agostino dan Costantini, 2022). TABEL 2. PERTANYAAN DAN SKOR KUESIONER DIMENSI ORANG Dimensi (wi) Subdimensi (wj) Metrik (wk) Pertanyaan (Qk) Orang (0,2) Keterampilan digital (1) Personel khusus (0,6) 1. Di dalam organisasi Anda, apakah ada pegawai yang terspesialisasi dalam transformasi digital? Tidak (0) Ya, beberapa orang bertanggung jawab untuk mengelola aktivitas digital, meskipun tidak ada tim khusus (0,5) Ya, konsultan eksternal (0,5) Ya, kami mengandalkan tim khusus yang terdiri dari X orang (1) Akses ke keterampilan digital (0,4) 2. Di organisasi Anda, apakah ada posisi tersebut? Penanggung Jawab Digital (1) Manajer Media Sosial (1) Kurator Digital (1) Pengembang Pengalaman Pengguna Digital (1) Petugas Perlindungan Data (1) Lainnya (1) Sumber: Kalkulasi dimensi (Agostino dan Costantini, 2022). TABEL 3. PERTANYAAN DAN SKOR KUESIONER DIMENSI TEKNOLOGI Dimensi (wi) Subdimensi (wj) Metrik (wk) Pertanyaan (Qk) Teknologi (0,2) Adopsi teknologi (0,4) Kehadiran teknologi (0,5) 1. Manakah dari teknologi berikut yang ada di galeri Anda? Panduan audio (0,02) Kami ingin menyertakan panduan audio (0,01) Kami memiliki panduan audio tetapi memutuskan untuk menghapusnya (0,01) Augmented reality (0,2) Kami ingin menyertakan augmented reality (0,1) Kami memiliki augmented reality tetapi memutuskan untuk menghapusnya (0,1 ) Virtual reality (0,2) Kami ingin menyertakan virtual reality (0,1) Kami memiliki virtual reality tetapi memutuskan untuk menghapusnya (0,1) QR code (0,08) Kami ingin menyertakan QR code (0,04) Kami memiliki QR code tetapi memutuskan untuk menghapusnya (0,04) 3D display atau panel interaktif (0,1) Kami ingin menyertakan 3D display atau panel interaktif (0,5) Kami memiliki 3D display atau panel interaktif tetapi memutuskan untuk menghapusnya (0,5) Instalasi interaktif (0,1) Kami ingin menyertakan instalasi interaktif (0,5) Kami memiliki instalasi interaktif tetapi memutuskan untuk menghapusnya (0,5) Chatbot (0,2) Kami ingin menyertakan chatbot (0,1) Kami memiliki chatbot tetapi memutuskan untuk menghapusnya (0,1) Videogame (0,1) Kami ingin menyertakan videogame (0,5) Kami memiliki videogame tetapi memutuskan untuk menghapusnya (0,5) Digitisasi koleksi (0,5) 2.Apakah ada koleksi galeri versi digital? Kurang dari 25% (0,25) 25%–50% (0,5) 51%–75% (0,75) Lebih dari 75% (1) Tidak (0) Analisis data (0,4) Arsip digital (0,5) 3. Sampai sejauh mana katalog koleksi Anda? Katalog kertas/cetak (0,25) Teknologi tidak diadopsi (1) 1%–25% (0,8) 26%–50% (0,6) 51%–75% (0,4) 76%–99% (0,2) 100% (0) Database katalog (0,25) Teknologi tidak diadopsi (0) 1%–25% (0,2) 26%–50% (0,4) 51%–75% (0,6) 76%–99% (0,8) 100% (1) Katalog ditangani melalui software berpemilik (0,25) Teknologi tidak diadopsi (0) 1%–25% (0,2) 26%–50% (0,4) 51%–75% (0,6) 76%–99% (0,8) 100% (1) Katalog ditangani melalui open source software (0,25) Teknologi tidak diadopsi (0) 1%–25% (0,2) 26%–50% (0,4) 51%–75% (0,6) 76%–99% (0,8) 100% (1) Katalog ditangani melalui sistem informasi milik ICDD atau wilayah (0,25) Teknologi tidak diadopsi (0) 1%–25% (0,2) 26%–50% (0,4) 51%–75% (0,6) 76%–99% (0,8) 100% (1) Penyimpanan dan pengumpulan data (0,25) 4. Apakah Anda mengumpulkan data pengunjung? Ya dengan kertas (0,1) Ya, dalam file Excel (0,5) Ya, dalam perangkat lunak yang sesuai (1) Tidak (0) Pemantauan data (0,25) 5. Apakah Anda memantau data tentang saluran jejaring sosial Anda? (0,5) Ya (1) Tidak (0) 6. Apakah Anda memantau data ulasan online? (0,5) Ya (1) Tidak (0) Infrastruktur teknologi (0,2) Kehadiran Wi-Fi (1) 7. Apakah organisasi Anda memiliki koneksi Wi-Fi? Ya (1) Tidak (0) Sumber: Kalkulasi dimensi (Agostino dan Costantini, 2022). TABEL 4. PERTANYAAN DAN SKOR KUESIONER DIMENSI PROSES Dimensi (wi) Subdimensi (wj) Metrik (wk) Pertanyaan (Qk) Proses (0,1) Front-office (0,5) Prasyarat Apakah institusi Anda memiliki layanan tiket? Ya → menyertakan front office Tidak → mengecualikan front office Proses eBilling (0,6) 1. Jenis layanan tiket yang mana yang ada di institusi Anda? (Jawaban boleh lebih dari satu) Setruk kertas (paper bill) dan catatan akuntansi di kertas (paper accounting) (0) Setruk kertas (paper bill) dan invoice digital (0,2) e-tiket dapat dicetak di rumah (0,3) e-tiket tidak dapat dicetak (dapat dilihat dari ponsel) (0,5) Kontrol akses (0,4) 2. Bagaimana institusi Anda mengontrol akses pengunjung? (Jawaban boleh lebih dari satu) Kami tidak memeriksa akses pengunjung (0) Kontrol tiket kertas di pintu masuk (0) Pistol pembaca barcode kertas (barcode pistol reading paper) (0,19) Pistol pembaca screen barcode (barcode pistol reading screen) (0,19) QR code reader (0,19) Gerbang atau penghitung orang otomatis (0,19) File kertas (0) File Excel (0,14) Yang lain (0,05) Back-office (0,5) Kehadiran ERP (Enterprise Resource Planning)/ perencanaan sumber daya perusahaan (1) 3. Apakah institusi Anda memiliki sistem informasi yang mendukung aktivitas tersebut? Accounting (0,1) Ya, disediakan khusus untuk institusi atau ya, berbagi dengan institusi lain (1) Tidak, tidak tersedia atau kami tidak mengelola aktivitas tersebut Manajemen pemasok (supplier) (0,1) Ya, disediakan khusus untuk institusi atau ya, berbagi dengan institusi lain (1) Tidak, tidak tersedia atau kami tidak mengelola aktivitas tersebut Sumber daya manusia (0,1) Ya, disediakan khusus untuk institusi atau ya, berbagi dengan institusi lain (1) Tidak, tidak tersedia atau kami tidak mengelola aktivitas tersebut Manajemen informasi pelanggan (Customer Information Management -CRM) (0,1) Ya, disediakan khusus untuk institusi atau ya, berbagi dengan institusi lain (1) Tidak, tidak tersedia atau kami tidak mengelola aktivitas tersebut Katalogisasi, konservasi dan Ya, disediakan khusus untuk institusi atau ya, berbagi dengan institusi lain (1) perawatan reguler koleksi (0,1) Tidak, tidak tersedia atau kami tidak mengelola aktivitas tersebut Peminjaman dan pemindahan karya seni (0,1) Ya, disediakan khusus untuk institusi atau ya, berbagi dengan institusi lain (1) Tidak, tidak tersedia atau kami tidak mengelola aktivitas tersebut Manajemen ruang (0,1) Ya, disediakan khusus untuk institusi atau ya, berbagi dengan institusi lain (1) Tidak, tidak tersedia atau kami tidak mengelola aktivitas tersebut Layanan publik (semisal toko buku, restoran, artshop) (0,1) Ya, disediakan khusus untuk institusi atau ya, berbagi dengan institusi lain (1) Tidak, tidak tersedia atau kami tidak mengelola aktivitas tersebut Aktivitas edukasi (0,1) Ya, disediakan khusus untuk institusi atau ya, berbagi dengan institusi lain (1) Tidak, tidak tersedia atau kami tidak mengelola aktivitas tersebut Ticketing (0,1) Ya, disediakan khusus untuk institusi atau ya, berbagi dengan institusi lain (1) Tidak, tidak tersedia atau kami tidak mengelola aktivitas tersebut Sumber: Kalkulasi dimensi (Agostino dan Costantini, 2022). TABEL 5. PERTANYAAN DAN SKOR KUESIONER DIMENSI PELANGGAN Dimensi (wi) Subdimensi (wj) Metrik (wk) Pertanyaan (Qk) Pelanggan (0,2) Kesadaran pelanggan (1) Aktivitas pemasaran digital (0,33) 1. Aktivitas pemasaran mana yang Anda lakukan (secara internal atau eksternal)? (Jawaban bisa lebih dari satu) Newsletter (0,2) Iklan online/jejaring sosial (0,25) Optimalisasi search engine (0,3) Penggunaan media sosial menghubungkan ke situs web atau praktik pemasaran lainnya (0,25) Tidak ada (0) Kehadiran media sosial (0,33) 2. Akun sosial apa yang Anda miliki? (Jawaban bisa lebih dari satu) Facebook (0,15) Twitter (0,15) Instagram (0,15) YouTube (0,15) Pinterest (0,15) TikTok (0,25) Tidak ada (0) Kehadiran di situs web 3. Di ulasan situs web mana Anda berlangganan? TripAdvisor (0,25) Google Maps (0,25) Facebook Place (0,25)bereputasi (0,33) (Jawaban bisa lebih dari satu) Foursquare (0,25) Tidak ada (0) Sumber: Kalkulasi dimensi (Agostino dan Costantini, 2022). TABEL 6. PERTANYAAN DAN SKOR KUESIONER DIMENSI STRATEGI DAN INVESTASI Dimensi (wi) Subdimensi (wj) Metrik (wk) Pertanyaan (Qk) Strategi dan investasi (0,3) Strategi (0,5) Strategi (1) 1. Apakah ada rencana strategis untuk inovasi digital? Ya, dalam dokumen khusus (1) Ya, dalam dokumen lain (0,8) Tidak (0) Investasi (0,5) Investasi digital (0,5) 1. Institusi Anda berinvestasi pada aktivitas digital apa dalam 2 tahun terakhir? (Jawaban boleh lebih dari satu) Katalogisasi dan digitalisasi koleksi (1) Konservasi koleksi (1) Layanan pendukung kunjungan (1) Komunikasi dan layanan pelanggan (1) Tiket, booking dan kontrol akses (1) Keamanan dan pengawasan (1) Aktivitas edukasi (1) Tidak ada (0) Penetrasi investasi digital 2. Berapa persentase investasi institusi Anda untuk inovasi digital? 1–5% (0) 6–10% (0,2) 11–25% (0,4) 26–50% (0,6) 51–75% (0,8) lebih dari 75% (1) Sumber: Kalkulasi dimensi (Agostino dan Costantini, 2022). Langkah kedua adalah menghitung DRI berdasarkan bobot nilai dimensi dan subdimensi serta skor jawaban kuesioner menggunakan rumus perhitungan berikut: DRI : Digital Readiness Index wi : bobot dimensi i wj : bobot subdimensi j wk : bobot pertanyaan k Qk : skor pertanyaan k Setelah nilai DRI untuk masing-masing dimensi didapatkan, langkah ketiga adalah mengolah nilai DRI ke dalam bentuk diagram radar untuk memudahkan pembacaan. Langkah keempat adalah wawancara dengan pengelola Galnas untuk memperjelas hasil pengukuran DRI. Hasil perhitungan DRI dan wawancara saling melengkapi dan menajamkan pembacaan tentang kesiapan digital Galnas.
Discussion
Hasil penelitian ini memaparkan DRI lima dimensi, yaitu dimensi orang, teknologi, proses, pelanggan, serta strategi dan investasi. Nilai DRI masing-masing dimensi didapatkan dari rumus perhitungan DRI berdasarkan skor jawaban kuesioner. Deskripsi jawaban kuesioner didapatkan dari wawancara dengan pengelola Galnas. A. DRI Dimensi Orang Berdasarkan rumus perhitungan DRI, didapatkan nilai DRI dimensi orang sebesar 0,14. Dilihat dari skala penilaian transformasi digital Agostino dan Costantini (2022) yang berkisar mulai 0 hingga 1, hasil DRI dimensi orang sebesar 0,14 termasuk rendah. Berdasarkan jawaban kuesioner dan hasil wawancara, nilai DRI dimensi orang rendah karena Galnas tidak memiliki personel khusus yang terspesialisasi dalam transformasi digital. Untuk mengisi posisi tersebut, Galnas menggunakan konsultan eksternal. Hal tersebut dilakukan karena belum terdapat peta jabatan khusus yang menangani transformasi digital. Namun, Galnas menyadari terdapat kebutuhan transformasi digital lembaga. Untuk mengusulkan jabatan baru juga membutuhkan waktu cukup lama, sedangkan praktik penggunaan teknologi digital harus dilakukan segera. Meskipun menggunakan konsultan eksternal, di Galnas juga terdapat pegawai yang memiliki akses ke keterampilan digital, khususnya staf perlindungan data. Staf tersebut khusus menangani perlindungan data, tetapi hanya dalam skala kecil, seperti perlindungan data di komputer masing-masing pegawai dan di situs web lembaga. Untuk perlindungan data terkait big data seperti data koleksi, pameran, dan server, Galnas menggunakan fasilitas dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemendikbudristek. Pusdatin berada di payung lembaga induk yang sama dengan Galnas. B. DRI Dimensi Teknologi Dimensi teknologi memiliki tiga subdimensi, yaitu adopsi teknologi, analisis data, dan infrastruktur teknologi. Rumus perhitungan DRI menghasilkan nilai DRI dimensi teknologi sebesar 0,22 sehingga termasuk rendah. Dari jawaban kuesioner dan hasil wawancara, pada subdimensi adopsi teknologi Galnas sebenarnya unggul karena telah memiliki panduan audio untuk karya seni di ruang pameran, terdapat instalasi interaktif di ruang pameran, QR code untuk bukti reservasi kunjungan pameran, chatbot WhatsApp sebagai sarana layanan informasi, dan koleksi karya seni digital sekitar 75% dari keseluruhan jumlah koleksi yang mencapai 1.800 lebih karya. Virtual reality (VR) pernah digunakan beberapa kali meskipun hanya di pameran temporer yang berlangsung sekitar satu bulan. Sedangkan pada pameran tetap (permanent exhibition) belum tersedia VR. Pengelola Galnas juga menyatakan ingin menyertakan VR, 3D display atau panel interaktif, dan video game di dalam ruang pameran. Pada subdimensi infrastruktur teknologi, jawaban kuesioner dan hasil wawancara menunjukkan bahwa Galnas juga telah memiliki koneksi Wi-Fi di area kantor maupun area umum seperti ruang pameran (sesuai kebutuhan), ruang seminar, dan ruang serbaguna. Terdapat tantangan dalam mengatur kabel Wi-Fi tersentralisasi yang belum terpecahkan karena area Galnas termasuk luas dengan letak gedung-gedung yang terpisah. Namun, Galnas mampu menyediakan Wi-Fi yang dipasang secara lokal di setiap gedung. Subdimensi yang kurang maksimal adalah analisis data. Jawaban kuesioner dan hasil wawancara menunjukkan bahwa Galnas sebenarnya telah mengumpulkan data pengunjung melalui borang daring yang disediakan Kemendikbudristek dan dari data analitik registrasi kunjungan di situs web Galnas. Data pengunjung ini direkapitulasi dan dipantau secara berkala setiap bulan. Selain data pengunjung, rekapitulasi, dan pemantauan setiap bulan juga dilakukan pada data analitik situs web secara keseluruhan serta media sosial yang mencakup Instagram, Twitter, Facebook, dan YouTube. Data tersebut berupa konten yang paling diminati hingga paling tidak diminati, perkembangan jumlah followers, reach, like, engagement, dan sebagainya. Data-data tersebut digunakan sebagai bahan evaluasi dan pertimbangan untuk penyusunan konten informasi dan publikasi berikutnya. Khusus untuk media sosial, pengelola Galnas juga membandingkan data analitik media sosialnya dengan data analitik media sosial galeri atau museum lain yang serupa untuk menemukan potensi dan peluang dalam meningkatkan daya saing. Meskipun terdapat kekuatan di bagian data pengunjung, situs web, dan media sosial, tetapi item subdimensi analisis data yang kurang maksimal terletak di bagian arsip digital koleksi. Padahal, koleksi merupakan jantung sebuah galeri seni. Saat ini Galnas masih menggunakan katalog cetak dan database katalog digital di situs web yang dapat diakses publik. Sementara itu, arsip digital pada software berpemilik, open source software, maupun sistem informasi milik International Centre for Diffraction Data (ICDD) atau wilayah tidak digunakan Galnas. Sebagai lembaga pemerintah, arsip digital Galnas tidak dapat disimpan di sistem informasi yang bukan milik pemerintah Indonesia. Namun, saat ini belum tersedia open source database koleksi karya seni milik pemerintah Indonesia. C. DRI Dimensi Proses Dimensi proses memiliki dua subdimensi, yaitu front-office dan back-office. Hasil perhitungan DRI untuk dimensi proses sebesar 0,07 yang termasuk rendah. Hal tersebut disebabkan terdapat beberapa item yang belum dilakukan secara digital. Seperti pada subdimensi front-office, Galnas menyertakan front-office dan menggunakan file kertas (buku kunjungan cetak) untuk mencatat data pengunjung atau sebagai kontrol akses pengunjung. Dari hasil wawancara, pengelola Galnas menyatakan bahwa front-office dibutuhkan, baik di gedung kantor maupun di gedung pameran karena menyesuaikan dengan budaya masyarakat Indonesia yang biasanya orang akan lebih nyaman dan merasa disambut ketika dapat berinteraksi dengan manusia. Keberadaan front-office juga menciptakan rasa kedekatan dengan pengunjung. Sementara itu, file kertas berupa buku registrasi pengunjung versi cetak sebagai kontrol akses pengunjung disediakan sebagai alternatif untuk membantu pengunjung yang memiliki kendala melakukan pendaftaran online. Seperti wisatawan mancanegara atau seniman usia lanjut yang perlu dibantu oleh front-office di gedung pameran untuk mengisi data registrasi kunjungan pameran. Meskipun pada praktiknya file kertas tersebut dibutuhkan, tetapi dalam penilaian DRI hal tersebut dianggap mengurangi tingkat kesiapan digital lembaga. Hal lain yang menyumbang rendahnya nilai DRI dimensi proses, khususnya dari subdimensi back-office, adalah belum tersedianya sistem informasi untuk katalogisasi, konservasi dan perawatan reguler koleksi, serta peminjaman dan pemindahan karya seni. Untuk aktivitas-aktivitas tersebut, saat ini Galnas menggunakan file kertas dan file Microsoft Excel. Meskipun terdapat beberapa hal yang belum maksimal, jawaban kuesioner dan hasil wawancara menunjukkan beberapa hal lain di Galnas telah menggunakan teknologi digital. Seperti pada subdimensi front-office, Galnas telah menyediakan e-ticket (bukti reservasi kunjungan) disertai QR code yang dapat dilihat atau dicetak dari ponsel dan dapat dicetak di rumah, serta menyediakan QR code reader. Pada subdimensi back-office, Galnas telah menggunakan sistem informasi yang mendukung ERP (Enterprise Resource Planning) meliputi akuntansi, manajemen supplier, dan manajemen ruang menggunakan aplikasi SAKTI yang disediakan Kementerian Keuangan; sumber daya manusia menggunakan aplikasi dari Kemendikbudristek; customer information management (CRM) menggunakan aplikasi yang disediakan Galnas; serta layanan publik berupa artshop dan kantin menggunakan QRIS. Berdasarkan pemaparan dimensi proses tersebut, Galnas telah menggunakan teknologi digital pada sebagian hal, dan sebagian lainnya belum. Namun, secara keseluruhan, bobot nilai item yang belum menggunakan teknologi digital berpengaruh banyak pada perhitungan DRI sehingga nilai DRI dimensi proses termasuk rendah. D. DRI Dimensi Pelanggan Dimensi pelanggan memiliki satu subdimensi, yaitu kesadaran pelanggan. Hasil perhitungan DRI menunjukkan nilai DRI dimensi pelanggan sebesar 0,07 sehingga termasuk rendah. Hal tersebut disebabkan karena Galnas kurang maksimal dalam melakukan pemasaran digital. Berdasarkan jawaban kuesioner, dari empat pilihan pemasaran digital, yaitu newsletter, iklan online/jejaring sosial, optimalisasi search engine, dan penggunaan media sosial yang dihubungkan ke situs web atau praktik pemasaran lainnya, Galnas hanya melakukan satu jenis aktivitas pemasaran digital, yaitu menggunakan media sosial yang terkoneksi dengan situs web. Media sosial tersebut meliputi Instagram, Twitter, Facebook, dan YouTube. Hasil wawancara menunjukkan bahwa pengelola Galnas memilih media sosial sebagai media promosi utama karena cepat dalam menyebarkan informasi, digunakan oleh banyak orang, mudah untuk direspons, serta skalanya luas atau internasional. Adapun untuk pembuatan newsletter, iklan online, dan optimalisasi search engine membutuhkan sumber daya manusia yang mumpuni dan anggaran yang memadai, yang saat ini belum memungkinkan bagi Galnas. Selain itu, Galnas merupakan lembaga pemerintah sehingga iklan tidak menjadi prioritas. Selain pemasaran digital, Galnas juga tidak berlangganan di situs web yang memungkinkan pengguna membagikan pengalamannya melalui TripAdvisor, Google Maps, Facebook Place, dan Foursquare. Pilihan untuk tidak berlangganan situs web tersebut dapat mengurangi kesempatan Galnas untuk mendapatkan perhatian publik, mengurangi rasa keterlibatan publik, serta mengurangi kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan publik, yang semuanya berdampak pada berkurangnya kesempatan bagi Galnas untuk menciptakan kesadaran pelanggan terhadap keberadaan Galnas beserta program-programnya. Namun, apabila melihat Galnas sebagai lembaga pemerintah, sangat jarang ditemukan lembaga pemerintah di Indonesia yang memiliki fokus untuk berlangganan situs web yang menyediakan ulasan. Sebagian besar lembaga pemerintah di Indonesia lebih memprioritaskan penggunaan media sosial untuk menciptakan kesadaran pelanggan. E. DRI Dimensi Strategi dan Investasi Dimensi strategi dan investasi terdiri dari dua subdimensi, yaitu strategi digital dan investasi. Berdasarkan hasil perhitungan DRI, nilai DRI dimensi strategi dan investasi sebesar 0,59 sehingga termasuk tinggi karena lebih dari 50% dari nilai maksimal, yaitu 1. Hal tersebut disebabkan Galnas telah memenuhi banyak item indikator pengukuran DRI untuk dimensi strategi dan investasi. Berdasarkan jawaban kuesioner dan hasil wawancara, pada subdimensi strategi digital Galnas memiliki rencana strategis inovasi digital yang tercantum secara detail dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan secara umum dalam Rencana Strategis (Renstra) dengan kurun waktu lima tahun. Rencana strategis tersebut terutama RKT berisi strategi pengembangan inovasi digital yang disusun berdasarkan evaluasi tahun sebelumnya. Pada subdimensi investasi, selama dua tahun terakhir Galnas berinvestasi pada aktivitas digital terkait dengan katalogisasi dan digitalisasi koleksi; layanan pendukung kunjungan; komunikasi dan layanan pelanggan; tiket, booking, dan kontrol akses; serta aktivitas edukasi. Investasi tersebut dilakukan untuk memberikan layanan informasi dan layanan edukasi secara maksimal dalam rangka memenuhi kebutuhan pengguna Galnas. F. Peta DRI Lima Dimensi Berdasarkan hasil perhitungan nilai DRI pada dimensi orang, teknologi, proses, pelanggan, serta strategi dan investasi, dapat dipetakan tingkat kesiapan digital Galnas (Gambar 1). Gambar 1. DIGITAL READINESS INDEX GALNAS. Sumber: Data primer diolah oleh peneliti tahun 2023. Pada Gambar 1, titik yang berada semakin mendekati garis lingkar luar adalah titik dengan nilai DRI yang semakin tinggi. Tampak bahwa nilai DRI dimensi strategi dan investasi paling tinggi dibandingkan dengan empat dimensi lainnya. Sedangkan dimensi proses dan pelanggan samasama memiliki nilai DRI paling rendah. Tingkat kesiapan digital Galnas pada dimensi strategi dan investasi cukup bagus sehingga dapat dilanjutkan dan dioptimalkan. Namun, dimensi teknologi dan orang masih di bawah 50% dari angka maksimal, yaitu 1 sehingga perlu untuk terus dikembangkan. Begitu pula dengan dimensi proses dan pelanggan yang menempati urutan terendah perlu mendapatkan perhatian lebih dalam pengembangannya. Nilai DRI Galnas secara umum masih termasuk rendah sehingga perlu dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan nilai DRI tersebut yang merupakan indikator tingkat transformasi digital Galnas. Peta DRI lima dimensi ini dapat berubah sesuai perkembangan. Penting bagi Galnas untuk terus memantau perkembangan transformasi digitalnya agar dapat menjadi lembaga inovatif yang mampu beradaptasi dengan era digital serta memberikan pelayanan informasi dan edukasi sesuai perubahan kebutuhan pengguna.
Conclusion
Transformasi digital menempatkan penggunaan teknologi digital sebagai elemen fundamental dengan peran sentral yang memengaruhi semua dimensi dalam organisasi/lembaga. Penting bagi Galnas melakukan transformasi digital untuk menjaga eksistensi dan agar dapat memberikan pelayanan informasi dan edukasi sesuai kebutuhan pengguna yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Asesmen transformasi digital Galnas berguna untuk mengukur tingkat penerapan teknologi digital di Galnas, yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam memetakan setiap sumber daya, menyusun strategi selanjutnya, mengambil keputusan internal, serta meningkatkan kinerja. Asesmen transformasi digital terhadap Galnas dilakukan dengan menggunakan kerangka kerja yang telah divalidasi dan diterapkan pada 400 lembaga budaya di Italia melalui pengukuran Indeks Kesiapan Digital/Digital Readiness Index (DRI). Pengukuran DRI melibatkan lima dimensi utama, yaitu orang, teknologi, proses, pelanggan, strategi dan investasi. Hasil DRI Galnas dari nilai DRI tertinggi adalah dimensi strategi dan investasi sebesar 0,59; teknologi 0,22; orang 0,14; serta proses dan pelanggan dengan nilai yang sama, yaitu 0,07. Secara keseluruhan, tingkat kesiapan digital Galnas termasuk rendah sehingga perlu ditingkatkan terutama pada dimensi dengan nilai DRI terendah dengan tetap meningkatkan dimensi lainnya. Sebagai keterbatasan penelitian, kerangka kerja asesmen transformasi digital dalam penelitian ini lebih mengukur kesiapan digital berdasarkan faktor input dalam internal lembaga sehingga belum menyentuh faktor output dan outcome. Selain itu, kerangka kerja tersebut disusun berdasarkan riset terhadap 400 lembaga budaya dengan cakupan luas, yaitu museum, galeri dan koleksi, monumen dan kompleks monumen, serta taman dan taman arkeologi. Seluruh lembaga budaya tersebut berada di Italia sehingga kerangka kerja yang dikembangkan memiliki orientasi praktik lembaga dan budaya masyarakat yang berbeda dengan di Indonesia. Oleh karena itu, terdapat beberapa indikator kerangka kerja yang kurang sesuai dengan praktik operasional Galnas sebagai lembaga seni di Indonesia. Berdasarkan keterbatasan tersebut, sangat terbuka bagi penelitian selanjutnya menggunakan kerangka kerja dengan model lain terutama yang terkait dengan galeri seni untuk memperkaya perspektif. Penelitian selanjutnya juga dapat menggunakan metode berbeda seperti kualitatif untuk mendapatkan temuan yang lebih mendalam.