Kembali
16
1
2020 Jurnal Perpustakaan Pertanian Vol 29 · 1 ISSN 2541-0814

Identifikasi Koleksi Antikuariat Indonesiana Di Website Perpustakaan Universitas Leiden Identification of Indonesiana Antiquarian Collections in the Leiden University Library Websites

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Abstrak

Jumlah koleksi antikuariat Indonesiana di Perpustakaan Universitas Leiden mencapai lebih dari separuh yang dimiliki Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI). Padahal fungsi Perpusnas RI sebagai perpustakaan deposit merupakan keniscayaan untuk menyimpan seluruh karya cetak dan karya rekam yang terbit di Indonesia, salah satunya adalah koleksi Indonesiana. Koleksi antikuariat Indonesiana termasuk dalam benda cagar budaya karena memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan, juga mempunyai nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. Pengkajian ini bertujuan untuk mengidentifkasi koleksi antikuariat Indonesiana yang dimiliki Perpustakaan Universitas Leiden melalui website perpustakaan tersebut (https://www.library.universiteitleiden.nl/). Hasil pengkajian menunjukkan bahwa koleksi antikuariat Indonesiana di website Perpustakaan Universitas Leiden terdapat dalam menu Special Collections, submenu Digital Collections dan Unlock the Asian Collections. Pada bagian Digital Collections, dari 69 topik koleksi, yang termasuk koleksi antikuariat Indonesiana mencapai 21 buah. Pada Asian Collections, terdapat enam topik koleksi antikuariat Indonesiana. Perpustakaan Universitas Leiden memiliki komitmen yang tinggi dalam program digitasi koleksi Asia.

Abstract

The number of Indonesiana antiquarian collections in the Leiden University Library reached more than half of those owned by the National Library of Indonesia. Whereas the function of the National Library as a deposit library is a necessity to store all printed and recorded works published in Indonesia, one of which is the Indonesiana collection. The Indonesiana antiquarian collection is included in objects of cultural heritage, because it has a special meaning for history, science, education, religion, and/or culture, and has cultural values for strengthening the nation’s personality. The purpose of this study was to determine the type of Indonesiana collection owned by Leiden University Library through its website (https://www.library.universiteitleiden.nl/). The results of the study showed that Indonesiana antiquarian collections in the Leiden University Library website were on menu the Special Collections, submenu Digital Collections and Unlock the Asian Collections. In the Digital Collections section, there were 21 topics of collections that are included in the Indonesiana antiquarian collection. In the Asian Collections, there were six topics of the antiquarian Indonesian collection. Leiden University Library has a high commitment in digitizing program for the Asian collection.
Keywords: Indonesiana collection · Antiquarian · Website · Leiden University Library

Introduction

Indonesia dan Belanda memiliki ikatan yang kuat pada masa lalu. Sejarah mencatat Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun, padahal sebetulnya masa penjajahan oleh Belanda atas Indonesia tidak langsung dimulai ketika orang-orang Belanda pertama kali menginjakkan kakinya di Indonesia pada akhir abad ke-16. Penjajahan oleh bangsa Belanda merupakan proses ekspansi politik yang bertahap dan berlangsung selama beberapa abad sebelum mencapai batas-batas wilayah Indonesia seperti yang ada sekarang. Sebagai imperialis modern pasca-renaissance, Belanda termasuk bangsa yang terbilang rapi dalam mengarsip lembaran-lembaran tertulis terkait Indonesia pada era kolonial, bahkan tulisan dan benda-benda kuno Indonesia pun sampai ke negara tersebut. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila banyak koleksi antikuariat Indonesiana terdapat di Belanda. Menurut Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), Sri Sulasih, 26.000 manuskrip kuno tentang Indonesia ada di Perpustakaan Universitas Leiden (Universitaire Bibliotheken Leiden-UBL). Perpusnas sendiri hanya mengoleksi 10.300 manuskrip kuno atau tidak sampai separuh dari yang dimiliki UBL (Matanasi 2016) UBL sudah sejak lama terkenal sebagai salah satu pusat kajian Asia dengan koleksi pustaka terlengkap di dunia. Kajian Indonesia (Indologi) di Universitas Leiden bahkan telah dimulai sejak dua dekade awal abad ke-19, sebagai bagian dari dominasi kolonial atas Indonesia. Para Indolog memiliki tradisi mengumpulkan berbagai ragam kepustakaan dari negeri-negeri koloni Belanda termasuk Indonesia. Ini menjadi alasan mengapa sejak ratusan tahun lalu Universitas Leiden menjadi tujuan penting bagi mereka yang ingin mempelajari Indonesia (Triyana 2017). Pada bulan September 2017, Ratu Maxima membuka secara resmi The Asian Library sebagai salah satu bagian dari UBL. Menurut Rektor Universitas Leiden, Carel Stolker, The Asian Library di perpustakaan universitasnya itu merupakan hasil kerja sama berbagai lembaga yang juga menyimpan koleksi kepustakaan Asia. Selama tiga tahun terakhir, UBL mengambil alih tanggung jawab mengumpulkan berbagai koleksi Asia di Universitas Leiden dan lembaga lainnya untuk berada di bawah satu atap (Triyana 2017). Berdasarkan paparan sebelumnya, maka penulis tertarik untuk melakukan identifikasi mengenai apa saja koleksi antiquariat Indonesiana yang terdapat di UBL dilihat melalui website-nya. Kriteria koleksi antikuariat menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Bab III Kriteria Cagar Budaya, Pasal 5 yang menyebutkan bahwa benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, atau struktur cagar budaya apabila memenuhi kriteria: (1) berusia 50 tahun atau lebih; (2) mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun; (3) memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan (4) memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. Selanjutnya, pada pasal 6 disebutkan bahwa benda cagar budaya dapat berupa benda alam dan/atau benda buatan manusia yang dimanfaatkan oleh manusia, serta sisa-sisa biota yang dapat dihubungkan dengan kegiatan manusia dan/atau dapat dihubungkan dengan sejarah manusia, bersifat bergerak atau tidak bergerak, dan merupakan kesatuan atau kelompok. Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan koleksi antikuariat Indonesiana termasuk dalam benda cagar budaya karena memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan mempunyai nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. Adapun dilihat dari kriteria usia benda cagar budaya dapat disimpulkan bahwa yang termasuk koleksi antikuariat Indonesiana minimal berasal dari tahun 1970. Menurut Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2012), koleksi Indonesiana merupakan koleksi yang terdiri atas bahan perpustakaan yang diterbitkan di Indonesia, dan atau bahan perpustakaan yang ditulis oleh warga negara Indonesia, dan atau bahan perpustakaan tentang Indonesia baik yang diterbitkan di dalam maupun di luar Indonesia. Subjek-subjek yang termasuk koleksi Indonesiana meliputi: (1) semua subjek terbitan hasil pelaksanaan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam; (2) semua subjek terbitan terlarang (koleksi khusus); (3) semua terbitan tentang budaya etnis Nusantara (tujuh unsur budaya); (4) semua terbitan tentang Indonesia yang diterbitkan oleh penerbit luar negeri; dan (5) semua subjek untuk kuno Nusantara. Sementara kegiatan pembelian bahan perpustakaan yang dilakukan Perpusnas yang terkait dengan koleksi Indonesiana meliputi manuskrip dan koleksi langka, koleksi budaya etnis Nusantara, dan terbitan luar negeri tentang Indonesia. Penelitian tentang koleksi Indonesiana dilakukan SNLAS (2015) dalam artikelnya Evaluasi dan Analisis Situs Web the Cornell Modern Indonesia Project (CIMP). Hasil penelitian menunjukkan dari 25 judul koleksi Indonesiana yang tersedia di CMIP, 12 judul koleksi dimiliki Perpusnas. Koleksi Indonesiana di situs http://cmip.library.cornell.edu tersedia dalam bentuk teks lengkap (full text) dan dapat dicetak secara gratis. Hal ini berbeda dengan koleksi Indonesiana di situs Perpusnas yang hanya menyajikan deskripsi detail koleksi tanpa disertai teks lengkap. Konten web CMIP secara informatif menyajikan sejarah perkembangan bangsa Indonesia dalam beberapa periode tertentu, terutama pada era abad ke-20 sehingga dapat dijadikan sebagai sumber informasi alternatif dalam upaya memperkaya wawasan mengenai Indonesia. Website perpustakaan menjadi suatu keniscayaan yang harus tersedia karena merupakan bagian yang penting bagi perpustakaan perguruan tinggi terkait layanan yang diberikan kepada pemustaka. Pesatnya perkembangan internet berdampak pada semua bidang tidak terkecuali perpustakaan perguruan tinggi. Menurut George dalam Duncan and Durrant (2015), Website perpustakaan perguruan tinggi harus memberi pemustaka akses ke informasi melalui user interface yang mudah diakses dan secara visual menarik, functional, navigable, mudah dalam pencarian dan user-friendly. Pengkajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi koleksi antikuariat Indonesiana yang terdapat di UBL yang dilihat melalui website perpustakaan tersebut.

Method

Pengkajian dilakukan dengan mengidentifikasi koleksi antikuariat Indonesiana yang terdapat di UBL melalui website-nya. Pada website UBL, koleksi antikuariat Indonesiana terdapat pada menu Special Collections, submenu Digital Collections dan Unlock the Asian Collections (khusus koleksi dari Indonesia) (Gambar 1). Data tentang koleksi antikuariat Indonesiana yang diperoleh dari website UBL selanjutnya dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel. Beberapa gambar juga ditampilkan untuk memperkaya hasil kajian.

Result & Discussion

Website UBL pada menu Special Collections (Gambar 1) memiliki tiga submenu, yaitu Digital Collections, Subject Guides, dan Unlock the Asian Collections. Koleksi antikuariat Indonesiana dapat ditemukan pada submenu Digital Collections dan Unlock the Asian Collections. Koleksi Indonesiana pada Submenu Digital Collections Pada submenu Digital Collections (Gambar 2), UBL mempunyai 69 koleksi digital dan 21 topik di antaranya terkait Indonesia (Tabel 1). Koleksi digital hanya bisa diakses di lokasi UBL. Jenis koleksi ini mencakup buku, surat, peta, atlas, gambar, lukisan, kaset, audio, dan koleksi terkait lainnya. Koleksi Indonesiana pada Submenu Unlock the Asian Collections Pada submenu Unlock the Asian Collections website UBL terdapat koleksi Indonesia, China, Jepang, dan Asia (Gambar 3). Koleksi Indonesiana ada enam topik dengan jumlah koleksi yang bervariasi (Tabel 2). Malay, Javanese and Madurese Manuscripts Koleksi manuskrip ini berasal dari Delft Royal Academy, berisi manuskrip dari Sumatera dan Jawa. Manuskrip Gambar 1. Tampilan website Universitas Leiden yang menggambarkan lokasi koleksi antikuariat Indonesia (https://www.library.universiteitleiden.nl/special-collections). Gambar 2. Koleksi antikuariat Indonesiana dalam website Perpustakaan Universitas Leiden pada submenu Digital Collections. Tabel 1. Koleksi antikuariat Indonesiana dalam website Perpustakaan Universitas Leiden pada submenu Digital Collections. Topik koleksi Isi Keterangan tambahan The Abendanon Letters Korespondensi surat kepada Jacques Henry Surat berasal dari Kartini (1879-1904), Roekmini Abendanon (1852-1925) dan istrinya Rosa (1880-1951), Kardinah (1881-1971), Manuela Abendanon-Mandri (1857-1944) Kartinah (1883 -), Soematri, Sosroningrat, Kartono (1877-1952), Santoso, dan Sosrohadi Aceh Books Pangkalan data teks lengkap dengan 1.200 Berasal dari abad ke-17 hingga pergantian abad publikasi tentang Aceh, Indonesia ke-21, dalam berbagai bahasa: Indonesia, Aceh, Inggris, dan Belanda Balinese Narrative Drawings Sekitar 500 gambar dan 3.390 gouaches Dibuat pada akhir abad ke-19 di Batavia Colonial Sources Koleksi yang berhubungan dengan bekas Pada 2013 Perpustakaan Royal Tropical jajahan Belanda termasuk Indonesia Institute ditutup dan koleksi yang berkaitan dengan bekas jajahan Belanda disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Koleksi digital juga ditransfer ke Leiden. Pada 2018 semua judul digital tersedia secara online dan dapat dicari teks lengkap dan - jika hak cipta mengizinkan - diunduh Damsté Papers Arsip Henri Titus Damsté (1874-1955) Berisi korespondensi dari periode ketika ia menjadi pejabat pemerintah di Sumatera, Sulawesi, Bali, dan Lombok Douwes Dekker Papers Douwes Dekker termasuk tokoh penting dalam sejarah bangsa Indonesia Dutch Colonial Maps Kurang lebih 11.000 lembar peta dan 250 atlas koloni Belanda Dutch East Indies Literature Pangkalan data teks lengkap dari sekitar 1.350 novel dan drama di Hindia Belanda, 1840-1950 Tabel 1. Lanjutan. Topik koleksi Isi Keterangan tambahan I La Galigo in cotext Bagian awal dari Buginese lyrical epos “I La Galigo” dalam 12 volume yang telah ditorehkan dalam daftar Memori Dunia UNESCO pada tahun 2011 Dilengkapi dengan berbagai manuskrip dan dokumen bersejarah lainnya dari koleksi UBL Southeast Asian & Caribbean Images (KITLV) Koleksi untuk mendukung penelitian di KITLV, terdiri atas buku, jurnal, manuskrip, arsip, foto, cetakan, gambar, dan peta dari Indonesia dan Karibia ‘Belanda’ Sejak 2014 disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden Manuscripts, Archives & Letters Koleksi digital dari manuskrip Barat dan Oriental, arsip dan surat-surat yang berasal dari abad pertengahan awal hingga saat ini Manuskrip Barat terdiri atas naskah-naskah yang ditulis dalam aksara Latin, Yunani dan Sirilik sementara manuskrip Oriental terdiri atas naskah naskah dari berbagai daerah seperti Timur Tengah dan Afrika Utara, Dunia Yahudi, Asia Selatan dan Tenggara (termasuk Indonesia), dan Asia Timur Maps & Atlases Sekitar 100.000 lembar peta (termasuk sekitar 3.000 peta manuskrip), 3.500 atlas, dan 25.000 cetakan topografi gambar Dikumpulkan sejak Perpustakaan Universitas Leiden berdiri pada tahun 1587 Maps (KITLV) Sekitar 16.000 lembar peta dan 500 atlas Sebagian besar berkaitan dengan peta topografi dari abad ke-19 dan ke-20 di Indonesia, Suriname Antilles Belanda, dan Asia Tenggara Oral History Archive Indonesia (SMGI) Pangkalan data yang cukup besar dengan file audio dan ringkasan Wawancara dengan 724 orang tentang pengalaman mereka saat tinggal di Hindia Belanda/Indonesia selama periode terakhir dari penerbitan masa kolonial Belanda Panji Tales Manuscripts Sekitar 250 manuskrip dari daun palem dan kertas, berasal dari abad ke 18-20. Mengisahkan petualangan Pangeran Panji Raden Inu Kertapati dan kekasihnya Candra Kirana, berasal dari Jawa Timur dan telah menyebar ke seluruh Asia Tenggara Photography (Kern Institute) Sekitar 70.000 foto dan 100.000 slide Koleksinya berguna untuk penelitian dan pendidikan yang berkaitan dengan seni, arkeologi, dan budaya material Asia Tengah, Selatan, dan Tenggara Photography (Print Room) Sekitar 150.000 foto dan objek fotografi dari koleksi ruang cetak Koleksi yang mengeksplorasi dan menghadirkan seluruh dunia, dengan penekanan pada Asia termasuk Indonesia Rubbings and Paper Casts (Kern Institute) Sekitar 208 buah batu bata dan gips dari prasasti kuno Jawa dan India Selatan serta lempengan tembaga Koleksi diperoleh dari the Oudheidkundige Dienst van Nederlandsch-Indië and the Archaeological Survey of India Sino-Malay Texts (KITLV) Kurang lebih 1.400 buku dan dua surat kabar populer (Sin Po dan Hoakiao) yang diterbitkan oleh komunitas keturunan Tionghoa Indonesia Ditulis dalam bahasa Melayu dan muncul antara tahun 1870-an dan 1950-an Snouck Hurgronje Papers Koleksi buku cetak, manuskrip Oriental, kertas pribadi, foto, dan rekaman suara Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936), orientalis paling terkemuka di Belanda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 Southeast Asian Pop Music (KITLV) Koleksi musik pop Indonesia, yang berisi ribuan rekaman vinyl. Sumber: https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/ Gambar 3. Koleksi Indonesiana dalam website Perpustakaan Universitas Leiden pada Submenu Unlock the Asian Collections. Tabel 2. Koleksi antikuariat Indonesiana dalam website Perpustakaan Universitas Leiden pada submenu Unlock the Asian Collections. Topik Jumlah Malay, Javanese and Madurese Manuscripts > 200 Batak Pustaha Manuscripts > 180 Photographs of Indonesian Antiquities > 21.500 Acehnese Manusripts of the Snouck Hurgronje Collection > 250 Photographs of the Dutch East Indies from the Edwards Collections > 2.700 Photographs of Mainland Southeast Asia from the Edwards Collection > 1.000 Sumber: https://www.asianlibrary.nl/asiancollection/#Malay tersebut berasal dari pertengahan abad ke-19 dan ditulis dalam bahasa Melayu, Madura, dan Jawa. Sebagian besar manuskrip ditulis di atas kertas, namun kulit pohon dan daun kelapa sesekali juga digunakan. Koleksinya mengenai sejarah, filsafat, agama, sastra, dan pendidikan. Teks yang sangat menarik salah satunya ditemukan dalam koleksi Syair Ikan Terubuk (puisi mengenai ikan terubuk) dan Syair Sinyor Kista, kisah cinta seorang pedagang Portugis dan Lela Mayang, selir pedagang Cina yang bernama Ceng Go. Kedua karya tersebut telah menjadi subjek penelitian dan diskusi sejak awal abad ke20. Batak Pustaha Manuscripts Manuskrip Batak Pustaha yang diilustrasikan dengan indah berasal dari Sumatera Utara dan ditulis antara tahun 1845 dan 1900 dalam naskah Toba dan Mandailing. Sebagaimana media rekaman, penulis memilih kulit pohon yang rapuh dan kertas yang dilipat seperti akordeon. Naskah-naskah tersebut digunakan secara eksklusif oleh para penyihir dan mantri kesehatan. Setelah tahun 1951, fungsinya diperluas sebagai sumber pelestarian budaya Batak, tradisi naratif, bahasa, dan naskah. Saat ini, sudah hampir tidak ada keberadaan dari literatur Pustaha, pengetahuan budaya dan bahasanya hilang. Di seluruh dunia, sekitar 1.000 manuskrip Batak merupakan koleksi milik umum dan sebagian besar dapat ditemukan di UBL. Photographs of Indonesian Antiquities Koleksi ini berasal dari the Archaeological Survey of the Netherlands Indies, berupa foto-foto terkenal di dunia yang dengan indah mendokumentasikan benda antik peninggalan Hindu-Buddha dan Islam di bekas Hindia Belanda antara tahun 1863 dan 1956. Juga situs prasejarah, proses penggalian, restorasi, seni purbakala, dan artefak etnologi seperti prasasti, serta bangunan asli dan kolonial dari zaman modern. Foto-foto tersebut dibuat antara tahun 1901 dan 1956, namun hasil cetak ulang foto-foto sebelumnya telah ditambahkan pula. Sekitar 95% dari cetakan berupa vintage yang menjadikannya menarik untuk dipelajari. Tidak ada lembaga lain di Eropa yang memiliki koleksi foto asli yang serupa. Acehnese manusripts of the Snouck Hurgronje Collection UBL menyimpan lebih dari 250 koleksi naskah dari orientalis terkenal Christiaan Snouck Hurgronje, yang diwariskan setelah kematiannya pada tahun 1936. Koleksinya meliputi semua jenis genre, seperti karya agama Islam dan pra-Mohammedan, dongeng, karya epik, dan fiksi. Photographs of the Dutch East Indies from the Edwards Collections Kolektor G.A. Edwards memperoleh foto dan album foto selama beberapa dekade melalui lelang dan dealer. Fotofoto dalam koleksinya menggambarkan kehidupan di Hindia Belanda dan Asia Tenggara, termasuk foto paling awal dari seorang bangsawan Jawa pada tahun 1858. UBL memperoleh sebagian besar koleksi Edwards untuk berbagi gambar unik ini dengan dunia. Koleksi G.A. Edwards menjadi foto tambahan yang berarti bagi foto-foto kolonial yang telah ada. Koleksi Edwards mencakup foto-foto yang dibuat oleh fotografer profesional seperti Isidore van Kinsbergen (1821-1905), Kassian Céphas (1845-1912), C.B. Nieuwenhuis (1863-1922) studio Lambert & Co. dan Woodbury & Page. Mereka memotret kehidupan kota dan masyarakat di kepulauan sekitar tahun 18581920. Photographs of Mainland Southeast Asia from the Edwards Collection Foto-foto lain koleksi G.A. Edwards menggambarkan kehidupan di Hindia Belanda dan Asia Tenggara, termasuk beberapa foto langka dan indah di Myanmar yang dibuat oleh fotografer keliling Felice Beato. UBL mengakuisisi sebagian besar koleksi Edwards agar koleksi gambar unik ini dapat diketahui dunia. Foto-foto abad ke-19 tentang Singapura, Malaysia, dan Myanmar dalam koleksi Edwards memberikan wawasan unik tentang budaya dan mata pencaharian masyarakat di kawasan tersebut. Koleksinya berupa foto-foto awal yang dibuat oleh Ernst August Kaulfuss, August Sachtler, dan Thomas Heritage. Para fotografer profesional itu mengambil potret yang memberikan pandangan menarik bagi warga negara (Eropa) dan turis di wilayah tersebut.

Conclusion

UBL sejak lama dikenal sebagai pusat informasi/pusat kajian Asia dengan koleksi pustaka terlengkap di dunia, termasuk 26.000 manuskrip kuno tentang Indonesia. Koleksi antikuariat Indonesiana pada website UBL terdapat pada submenu Special Collections, submenu Digital Collections dan Unlock the Asian Collections. Dari 69 topik koleksi pada Digital Collections, 21 topik di antaranya termasuk koleksi antikuariat Indonesiana. Koleksi ini hanya dapat diakses di lokasi UBL. Terdapat enam koleksi antikuariat Indonesiana pada Asian Collections, yaitu (1) Malay, Javanese and Madurese Manuscripts; (2) Batak Pustaha Manuscripts; (3) Photographs of Indonesian Antiquities; (4) Acehnese Manusripts of the Snouck Hurgronje Collection; (5) Photographs of the Dutch East Indies from the Edwards Collections; dan (6) Photographs of Mainland Southeast Asia from the Edwards Collection. Koleksi antikuariat Indonesiana pada website UBL hanya menampilkan informasi jenis, tidak terdapat informasi detail mengenai koleksi dan file yang bisa diunduh.