PERILAKU PENCARIAN INFORMASI PEMUSTAKA PADA PERPUSTAKAAN MASJID (Studi Deskriptif terhadap Pemustaka pada Perpustakaan Masjid Pusdai Jawa Barat)
Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia
Abstrak
Perilaku Pencarian Informasi Pemustaka Pada Perpustakaan Masjid Pusdai Jawa Barat. Program Studi Perpustakaan dan Informasi Departemen Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung 2015. Perpustakaan masjid merupakan salah satu jenis perpustakaan khusus karena koleksinya khusus, yaitu terbatas pada bidang keagamaan atau studi agama Islam ditambah dengan koleksi lain serta ditujukan pada pemustaka tertentu. Masalah yang menjadi kajian dalam penelitian ini difokuskan pada kebutuhan informasi pemustaka yang berkaitan dengan studi agama Islam, perilaku pemustaka sebelum melakukan pencarian informasi, perilaku pemustaka pada proses pencarian informasi, perilaku pemustaka setelah melakukan pencarian informasi, dan hambatan yang ditemukan serta perilaku pemustaka dalam menghadapinya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara. Troi dalam penelitian menggunakan information seeking theory. Berdasarkan hasil analisis data, diketahui bahwa kebutuhan informasi pemustaka adalah ilmu aqidah/tauhid Islam, fiqh, dan akhlak/perilaku seorang muslim; perilaku pemustaka sebelum melakukan pencarian informasi adalah menelaah terlebih dahulu informasi yang akan dicari; perilaku pada proses pencarian informasi ialah mengunjungi perpustakaan dan browsing di internet; perilaku setelah melakukan pencarian informasi ialah menyimpan informasi yang sudah diperoleh dan memanfaatkannya untuk aktivitas/profesi sehari-harinya; hambatan yang ditemukan ialah pemustaka tidak menemukan informasi pokok yang dibutuhkan namun menemukan informasi lain yang bermanfaat dan keterbatasan waktu dan finansial.
Abstract
The Seeking Information Behavior of The visitors Pusdai Mosque In West Java Library. Library and Information Studies Program Department of Curriculum and Educational Technology, Faculty of Education, University of Indonesia, Bandung, 2015. Library of the mosque is one of the special libraries for special collections, which is limited to the field of religion or Islamic religious studies coupled with other collections as well as aimed at certain pemustaka. The problems to be studied in this research is focused on the information needs of the visitors related to the study of Islam, the behavior of the visitors before scanning information, the behavior of the visitors on the information search process, the behavior of the visitors after searching information, and barriers were found as well as the behavior of the visitors in the face. The method used is descriptive quantitative data collection techniques using questionnaires and interviews. Theory in the study using the information-seeking theory. Based on the analysis of data, it is known that the information needs of the visitors is the science Aqeedah / monotheism of Islam, fiqh, and character / behavior of a Muslim; pemustaka before scanning behavior is to examine the information in advance of information to be searched; behavior in the process of finding information is to visit the library and browse the internet; behavior after searching information is storing information that has been obtained and used for the activity / profession daily; barriers found is pemustaka not find basic information needed however find other useful information and time and financial constraints.
Keywords:
library mosques
· Islamic religious studies
· information seeking behavior
· information seeking theory
Introduction
Manusia merupakan makhluk yang diciptakan paling sempurna. Kesempurnaan manusia menuntut pula berbagai kebutuhan untuk mendukung kelangsungan hidupnya. Manusia memiliki berbagai ragam kebutuhan yang harus dipenuhinya, mulai dari kebutuhan fisiologis, rasa aman, dicintai, harga diri, dan kebutuhan untuk aktualisasi diri. Dalam kebutuhan-kebutuhan tersebut, terdapat satu kebutuhan yang mendukung kelangsungan hidup manusia dalam hal intelektualitas, yaitu aktualisasi diri. Dalam upaya aktualisasi diri ini manusia membutuhkan pengetahuan atau informasi sebagai penunjang untuk meningkatkan potensi dirinya dalam bidang/profesi yang digelutinya. Kebutuhan akan Informasi atau pengetahuan membutuhkan sumber informasi yang dapat dipercaya keakuratannya. Sumber informasi yang paling banyak digunakan saat ini ialah perpustakaan. Berdasarkan jenisnya, perpustakaan terdiri atas beberapa ma c am, s a l a h s a t u n y a a d a l a h perpustakaan masjid yang merupakan salah satu jenis perpustakaan khusus. Pe r p u st a k a a n ma sji d memili k i kekhususan karena koleksi yang dimilikinya berfokus pada subjek agama Islam dan sasarannya merupakan masyarakat atau jamaah sekitar masjid. Perpustakaan masjid yang sudah cukup baik pengelolaannya ialah Perpustakaan Masjid Pusdai Jawa Barat. Perpustakaan ini memiliki sekitar 6.000 judul buku. pemustaka Perpustakaan Masjid Pusdai terdiri atas berbagai macam aktivitas/profesi, seluruh pemustaka tersebut saat mengunjungi Perpustakaan Masjid Pusdai membutuhkan informasi agama Islam, namun lebih pastinya pada bidang keilmuan apa yang dibutuhkan pemustaka merupakan kekhususan dari masing-masing pemustaka sendiri dan belum diketahui. Begitu pun dengan cara pemustaka dalam mencari informasi yang dibutuhkannya itu belum diketahui bagaimana teknik atau polanya, sama halnya dengan hambatan saat mencari informasi, setiap pemustaka pasti memiliki hambatan yang berbeda yang dihadapi. Berdasarkan uraian masalah di atas maka dirumuskan beberapa pokok pertanyaan yang dijadikan acuan masalah dalam penelitian ini yaitu: informasi apa yang dibutuhkan pemustaka yang terkait dengan studi agama Islam?; bagaikan perilaku pemustaka sebelum melakukan pencarian informasi?; bagaikan perilaku pemustaka saat proses pencarian informasi?; bagaimana perilaku pemustaka setelah melakukan pencarian informasi?; dan hambatan apa yang ditemukan serta perilaku pemustaka dalam menghadapi hambatan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebutuhan informasi pemustaka Perpustakaan Masjid Pusdai yang berkaitan dengan studi agama Islam, mengetahui gambaran perilaku pencarian informasi pemustaka sebelum melakukan pencarian informasi, mengetahui perilaku pencarian informasi pemustaka saat proses pencarian informa si, menge t ahui pe ril aku pemustaka setelah melakukan pencarian informasi, dan hambatan apa yang ditemukan serta bagaimana perilaku pemustaka dalam menghadapi masalah tersebut. Manfaat penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi bidang ilmu perpustakaan dan informasi, khususnya mengenai kebutuhan dan perilaku pemustaka dalam mencari informasi. Sedangkan manfaat secara praktis diharapkan dapat menjadi masukan bagi perpustakaan dalam menyediakan koleksi untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka, dapat menjadikan pemustaka memanfaatkan sebaik-baiknya koleksi dan layanan perpustakaan, dapat menjadi bahan rujukan bagi peneliti selanjutnya untuk melanjutkan penelitian mengenai tema ini, dan dapat menambah pengetahuan serta pemahaman bagi peneliti sendiri dalam bidang ilmu perpustakaan.
Discussion
Perpustakaan masjid adalah perpustakaan yang ditujukan untuk masyarakat sekitar masjid dalam rangka peningkatan kualitas hidup, baik hidup di dunia maupun akhirat (Lasa, 2008, hlm. 288). Adapun fungsi dari perpustakaan masjid menurut Sumpeno (1994, hlm. 13) ialah : 1.Fungsi informasi dan dakwah Islam 2.Fungsi pendidikan 3.Fungsi administrasi 4.Fungsi riset 5.Fungsi rekreatif 6.Fungsi sosial Tujuan perpustakaan masjid menurut Sumpeno (1994, hlm. 17) ialah : 1.Menanamkan kecintaan dan kesadaran akan ajaran Islam 2.Memupuk kegemaran dan kebiasaan membaca 3.Memperluas sumber-sumber pengetahuan Islam 4.Membantu mengembangkan keterampilan berbahasa baik bahasa sendiri maupun bahasa lainnya 5.Mengembangkan kemotekaran dalam bentuk kegiatan belajar 6.Membimbing anak didik jemaah masjid agar dapat menggunakan dan memanfaatkan bahwa-bahan pustaka secara baik 7.Membantu anak didik dan jemaah masjid mengembangkan minat, bakat serta kegemaran 8.Membimbing anak didik dan jemaah masjid untuk belajar t e n t a n g bagaimana menggunakan dan memanfaatkan perpustakaan secara efektif dan efisien terutama dalam menelusuri bahan pustaka yang diinginkan 9.Menyediakan bahwa-bahan b a c a a n me n y a n g k u t ilmu pengetahuan, keterampilan, serta akhlak yang menunjang program pendidikan Islam umumnya dan pendidikan masjid khususnya. Kol eksi pe rpust aka an ma sjid didominasi dengan keilmuan-keilmuan agama Islam. cakupan ilmu-ilmu tersebut menurut Muhaimin. et al. (2012) di antaranya : 1.Studi agama Islam 2.Studi qur'an 3.Studi hadis 4.Studi sejarah Islam 5.Studi aqidah dan akhlak 6.Studi tentang ibadah dan syariah Pemustaka adalah pengguna fasilitas yang disediakan perpustakaan baik buku maupun koleksi jenis lainnya. Pemustaka terdiri atas berbagai aktivitas dan profesi seperti siswa, guru, mahasiswa, dosen, atau masyarakat umum, tergantung jenis perpustakaan yang ada (Suwarno, 2009, hlm. 80). Konsep informasi dalam penelitian ini dikaitkan dengan pemanfaatan informasi yang menunjukkan keterwakilannya terhadap bahan pustaka. Menurut Yusup (2013, hlm. 17) informasi terdiri atas berbagai jenis data yang terekam. Setiap informasi yang terekam tersebut disimpan untuk kebutuhan siapa pun yang kemudian hari akan dicari. Informasiinformasi ini akan disimpan pada lembaga-lembaga informasi seperti perpustakaan, baik yang berada di bawah lembaga formal maupun perpustakaan yang bersifat pribadi. Perilaku merupakan salah satu cabang dari ilmu psikologi dan terdapat pada kelompok psikologi behaviorisme atau aliran psikologi yang hanya mempelajari tingkah laku nyata, terbuka, dan dapat diukur secara objektif. Aliran ini mengamati perbuatan dan tingkah laku manusia berdasarkan kenyataan, sedangkan pengalaman-pengalaman batin dikesampingkan (Ahmadi, 1992, hlm. 33, dalam Suwarno, 2009, hlm. 25). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Walgito menyebutkan dua jenis perilaku manusia, perilaku reflektif dan perilaku nonreflektif. Perilaku reflektif merupakan perilaku yang terjadi dengan sendirinya, respons langsung timbul begitu menerima stimulus. Sedangkan perilaku nonreflektif ialah perilaku yang dikendalikan oleh pusat kesadaran atau otak. Stimulus setelah diterima oleh reseptor kemudian diteruskan ke otak sebagai pusat syaraf, pusat kesadaran, baru kemudian terjadi respons melalui afektor. Newcombe (1985, hlm. 112) dalam Yusup dan Subekti (2010, hlm. 64) menyatakan bahwa salah satu yang mendasari suatu perilaku yaitu sikap. M e n u r u t n y a , si k a p memb a n t u menetapkan tingkah laku dalam situasi, yang me rupakan ke ada an yang mengantarai, sedangkan keadaan sendiri ditentukan oleh keseluruhan situasi masa lampau yang pernah dijalani oleh inividu. Katz, Gurevitch, dan Haas dalam Tan (1981, hlm. 298) dalam Yusup (2010, hlm. 28) menyebutkan macam-macam kebutuhan manusia, yaitu : 1. Kebutuhan kognitif, yaitu berkaitan erat dengan menambah informasi, pengetahuan, dan pemahaman seseorang akan lingkungannya. 2. Kebutuhan afektif, yaitu dikaitkan dengan estesis atau hal yang dapat menyenangkan dan pengalamanpengalaman emosional. 3. Kebutuhan integrasi personal, yaitu didasarkan atas hasrat seseorang untuk mencari harga diri. 4. Kebutuhan integrasi sosial, yaitu didasarkan atas hasrat seseorang untuk hidup berkelompok atau bergabung dengan golongan tertentu. 5. Kebutuhan berkhayal, yaitu kebutuhan untuk melepaskan ketegangan dan hasrat untuk mencari hiburan atau pengalihan. Guha (dalam Hardianti, 2013, hlm. 26) menyebutkan empat jenis k e b u t u h a n t e r h a d a p i n f o rma si berdasarkan tingkat kebutuhan pengguna terhadap informasi, yaitu : 1. Current Seed approach, yaitu pendekatan kepada kebutuhan pengguna informasi yang sifatnya mutakhir. 2. Everyday Seed approach, yaitu pendekatan terhadap kebutuhan pengguna yang diperlukan sehari-hari yang sifatnya spesifik dan cepat. 3. Exhaustic Seed approach, yaitu pendekatan terhadap kebutuhan pengguna akan informasi yang mendalam. 4. Catching-up Seed approach, yaitu pendekatan terhadap pengguna akan informasi yang ringkas namun relevan. Kebutuhan akan informasi mendorong timbulnya perilaku pencarian informasi. Pendit (2003) dalam Yusup (2013, hlm. 152) mengulas dan mengembangkan pandangan TD Wilson (2000) mengenai batasan perilaku informasi. Batasan perilaku pencarian informasi merupakan perilaku di tingkat mikro, berupa perilaku mencari yang ditunjukkan seseorang ketika berinteraksi dengan sistem informasi. Model pencarian informasi sudah banyak dikembangkan oleh para ahli. Terdapat banyak model atau teori pencarian informasi (information seeking theory) yang muncul, namun dalam penelitian ini, diambil dua model pencarian informasi dari dua orang ahli, yaitu TD Wilson dan Carol Khulthau. 1. TD Wilson Model yang dikembangkan oleh Wilson berkaitan dengan pengelompokan perilaku pencarian informasi yang dipengaruhi tingkat kognisi, tingkat perilaku sosial, atau aspek lain yang tampak secara fisik dan mental pengguna (Wiedzka, 2003, hlm. 2, dalam Yusup, 2013, hlm. 157). Adapun penggambaran dari model ini sebagai berikut. Gambar teori prilaku informasi menurut ID Wilson (1981) Sumber : Winarsih (2013, hlm.23) 2.Carol Khulthau Teori yang dikembangkan Khulthau mengemukakan hubungan suatu perasaan tertentu dan suatu aktivitas tertentu. Model ini berupa tahapantahapan sebagai berikut : a. Inisiasi, yaitu proses seseorang menyadari adanya kebutuhan terhadap informasi tertentu yang ditandai dengan perasaan tidak pasti dan mengakibatkan dilakukannya upayaupaya mengaitkan situasi yang dihadapi dengan pengalaman yang berhubungan dengan pencarian informasi. b . S e l e c t i o n , y a i t u p r o s e s pengidentifikasian informasi yang akan dicari ditandai dengan perasaan optimis karena merasa informasi yang dikumpulkan dapat memenuhi kebutuhannya. Pola pikir mulai terbangun dan diarahkan pada upaya mempertimbangkan informasi yang t e l a h d i p e r o l e h b e r d a s a r k a n kepentingan pribadi, tugas, dan faktor lain. c. Exploration, yaitu mencari dan membandingkan sejumlah informasi yang didapatnya di lapangan, tahap ini merupakan mengatasi keraguan dan kebingungan karena terbenturnya konsep pemikiran dengan fakta di lapangan, pola pikir yang terbentuk mengarahkan untuk mengatasi masalah dengan menemukan titik o ri e n t a si y a n g s ama s e s u a i kepentingannya. d. Formulation, yaitu tahapan mulai memfokuskan diri pada jenis informasi yang relevan dengan topik yang dicarinya dan sesuai dengan kebutuhan k o n st e k t u a l n y a . Ta h a p i n i menumbuhkan percaya diri dengan pola pikir yang sudah terfokus untuk memilih ide-ide dari informasi yang sudah dikumpulkan yang kemudian membentuk perspektif tentang topik yang digelutinya. e. Collection, yaitu tahapan menampung semua data dan informasi yang diperoleh, hingga merasakan betul telah mendapatkan informasi dan data secara lengkap. Pola pikir diarahkan untuk berkonsentrasi pada upaya memperjelas dan memperluas informasi yang sudah diperoleh. f . P r e s e n t a t i o n , y a i t u t a h a p memanfaatkan informasi yang diperoleh dengan merasa berani dan siap menyajikannya dalam bentuk lisan maupun tulisan. Berikut penggambaran model pencarian informasi menyurut Khulthau dalam bentuk tabel information search process.
Result & Discussion
Berdasarkan hasil penyebaran angket diperoleh data dikaitkan dengan rumusan masalah yang telah ditentukan. 1.Kebutuhan Informasi Pemustaka Terkait Dengan Studi Agama Islam Hasil skor total pada subvariabel kebutuhan informasi pemustaka sebesar 3366 atau senilai dengan 73,30%. Angka tersebut jika dalam skala interval berada pada posisi cukup baik, sehingga subvariabel kebutuhan informasi pemustaka dapat dikatakan cukup baik. Kebutuhan merupakan hal mendasar yang mendorong seseorang melakukan suatu tindakan untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya tersebut. Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah mendapatkan informasi. Informasi atau juga wawasan baru perlu selalu didapat dan diperbaharui terkait eksistensi seseorang di dalam maupun di luar kelompoknya. Maslow (1908-1970) merangkaikan teori kebutuhan yang telah populer diketahui. Eksistensi diri seseorang merupakan rangkaian terakhir sekaligus tahap tertinggi dari teori Maslow ini. Eksistensi diri ini dapat diartikan pula sebagai kebutuhan seseorang untuk memenuhi kebutuhan informasi. Dengan terpenuhinya kebutuhan informasi maka akan meningkatkan eksistensi diri seseorang di lingkungan sekitarnya. Begitu pun dengan aktivit a s yang akan meningka t kualitasnya karena bertambahnya informasi maka sisi kognitif dari individu bertambah pula. Skor tertinggi berada pada kebutuhan informasi mengenai ilmu aqidah/tauhid Islam, yaitu sebesar 270. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu aqidah/tauhid Islam ini paling banyak dibutuhkan oleh pemustaka. Mengingat ilmu aqidah/tauhid merupakan ilmu mendasar yang harus dipelajari sebagai fondasi mempelajari ilmu yang lain. Aqidah/tauhid juga dapat menjadi benteng atau perisai bagi seorang muslim dalam menangkal segala pemikiranpemikiran yang menyimpang dari oknumoknum yang memusuhi dan ingin menghancurkan Islam. Dari data yang diperoleh ini menunjukkan bahwa pemustaka Perpustakaan Masjid Pusdai menyadari bentuk pentingnya ilmu aqidah/t auhid untuk kehidupan bergamanya. 2. Perilaku Pemustaka Sebelum Melakukan Pencarian Informasi Hasil skor total pada subvariabel perilaku pemustaka sebelum melakukan pencarian informasi sebesar 1065 atau senilai dengan 64,93%. Angka tersebut jika dalam skala interval berada pada posisi cukup baik, sehingga subvariabel perilaku pemustaka sebelum melakukan pencarian informasi dapat dikatakan cukup baik. Perilaku pemustaka sebelum me l akukan penc a ri an informa si ditunjukkan dengan teori dari Carol Khulthau yaitu inisiasi dan selection sebagai tahap awal melakukan pencarian informasi. Perilaku pemustaka yang ditunjukkan pada perolehan skor terhadap lima alternatif pilihan, menunjukkan skor sejumlah 247 untuk pernyataan menentukan konten/subjek informasi yang akan saya cari agar mengarah pada informasi pokok yang saya butuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa pemustaka terbiasa melakukan penentuan subjek informasi yang akan dicari demi memperoleh informasi yang tepat dan cepat. Disebut tepat karena jika penentuan dilakukan di awal, maka pemustaka dapat langsung menuju saluran informasi yang memungkinkan ditemukannya informasi tersebut, dan disebut cepat karena jika sudah mengetahui saluran informasi yang memungkinkan akan mempersingkat pencarian informasi pemustaka. 3. Perilaku Pemustaka Pada Proses Pencarian Informasi Hasil skor total pada subvariabel perilaku pemustaka saat melakukan pencarian informasi sebesar 1599 atau senilai dengan 69,64%. Angka tersebut jika dalam skala interval berada pada posisi cukup baik, sehingga subvariabel perilaku pemustaka saat melakukan pencarian informasi dapat dikatakan cukup baik. Proses pencarian dikaitkan dengan penelusuran informasi pada berbagai sumber atau saluran yang dipilih dan digunakan oleh individu, sesuai dengan tahapan exploration dan formulation menurut Carol Khulthau. Perilaku pemustaka yang ditunjukkan pada perolehan skor terhadap tujuh alternatif pilihan, menunjukkan skor sejumlah 267 untuk perilaku melakukan pencarian informasi dengan mengunjungi perpustakaan. Hal ini menggambarkan b a h w a p e r p u st a k a a n m e n j a d i sumbe r/s a lur an informa si yang diutamakan oleh pemustaka untuk melakukan pencarian informasi. Perpustakaan merupakan sumber informasi yang juga dimaknai sebagai tempat menyimpan dan penyebarluasan informasi. Segala macam bentuk informasi terdapat di perpustakaan, termasuk yang sangat identiknya ialah buku tercetak. Buku merupakan rekaman informasi yang tidak bosan dicari oleh pembacanya, meski berkembangnya era digital, namun tidak cukup menggeser kemanfaatan koleksi buku di perpustakaan. Minat baca masyarakat pun masih bisa terdorong dengan adanya koleksi buku di perpustakaan. 4. Perilaku Pemustaka Setelah Melakukan Pencarian Informasi Hasil skor total pada subvariabel perilaku pemustaka setelah melakukan pencarian informasi sebesar 2063 atau senilai dengan 69,88%. Angka tersebut jika dalam skala interval berada pada posisi cukup baik, sehingga subvariabel perilaku pemustaka setelah melakukan pencarian informasi dapat dikatakan cukup baik. Perilaku pemustaka yang ditunjukkan pada perolehan skor terhadap tujuh alternatif pilihan, menunjukkan skor sejumlah 271 untuk pilihan pernyataan perilaku pemanfaatan informasi yang telah diperoleh untuk mendukung aktivit a s/prof e si. Skor t e rs ebut menunjukkan bahwa pemustaka lebih banyak memilih perilaku pemanfaatan informasi yang telah diperoleh terhadap aktivitas/profesinya langsung, baik dalam tataran teoritis maupun praktis. Pemanfaatan informasi menurut Khulthau dinamai dengan tahapan presentation yang sebelumnya diiringi o l e h t a h a p a n c o l l e c t i o n a t a u mengumpulkan informasi. Pemustaka melakukan pilihan perilaku yang sesuai dengan teori ini. Adapun perilaku menyimpan informasi dari berbagai sumber dengan berbagai cara sesuai dengan media pencarian yang dipilih pemustaka menunjukkan perilaku menyimpan informasi digital memiliki skor satu poin lebih tinggi dari pada perilaku mencatat informasi pada buku catatan. Perilaku menyimpan pada perangkat digital skornya sebesar 232 sedangkan perilaku mencatat informasi yang diperoleh pada buku catatan sebesar 231. 5.Hambatan yang Ditemukan dan Perilaku Pemustaka Untuk Mengatasinya Hasil skor total pada subvariabel hambatan yang muncul selama proses pencarian informasi dan perilaku pemustaka dalam mengatasinya sebesar 2015 atau senilai dengan 61,43%. Angka tersebut jika dalam skala interval berada pada posisi cukup baik, sehingga subvariabel hambatan yang muncul selama proses pencarian informasi dan perilaku pemustaka dalam mengatasinya dapat dikatakan cukup baik. Pe ril aku pemust aka yang ditunjukkan pada perolehan skor terhadap enam alternatif pilihan mengenai hambatan yang ditemukan pemustaka dalam pencarian informasi, menunjukkan skor paling tinggi sebesar 237. Skor ini berada pada pernyataan tidak menemukan informasi pokok yang dibutuhkan namun menemukan informasi lain yang bisa m e n a m b a h w a w a s a n . H a l i n i menunjukkan pemustaka dalam pencarian informasinya menemukan informasi yang bagus namun tak sesuai. Akan tetapi informasi tersebut tidak diabaikan begitu saja melainkan disimpan karena dianggap bisa menambah wawasan baru bagi pemustaka. Adapun pilihan solusi yang memiliki skor tertinggi yaitu sebesar 223 untuk perilaku mengunjungi toko buku untuk mencari dan membeli buku yang dicari karena di perpustakaan tidak ada. Wawancara dilakukan terhadap tiga orang responden yang telah mengisi angket sebelumnya. Ketiga responden memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda. Subjek 1 berinisial KAF, 22 tahun, berjenis kelamin perempuan, agama Islam, sarjana ekonomi, bersuku Batak, dan mengunjungi perpustakaan sebanyak dua kali. Subjek 2 berinisial BR, 56 tahun, berjenis kelamin laki-laki, agama Islam, lulusan akademi, bersuku Sunda, dan mengunjungi perpustakaan sebanyak lebih dari lima kali. Subjek 3 berinisial RRN, 23 tahun, berjenis kelamin perempuan, agama islam, lulusan SMK namun sedang menjalani cuti kuliah, bersuku Sunda, dan mengunjungi perpustakaan sebanyak lima kali. 1. Kebutuhan Informasi Pemustaka Terkait Dengan Studi Agama Islam Subjek dalam penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan dalam mengaktualisasikan diri. Persamaan terletak pada kebutuhan masing-masing subjek sebagai individu yang menganut agama Islam. KAF dan RRN sebagai seorang muslimah yang sudah saatnya untuk membina rumah tangga merasa perlu mempelajari hukum-hukum pernikahan dalam Islam. Dengan mempelajari hukum yang benar berdasarkan alquran dan hadis, maka rumah tangga ideal yang diharapkan bisa terwujud. Untuk informasi lainnya, KAF senantiasa membutuhkan wawasan mengenai ilmu alquran. Selain itu pada bidang ilmu yang lain, KAF memiliki ketertarikan pada ilmu alquran dan sejarah Islam, sedangkan RRN lebih tertarik dan ingin mendalami ilmu aqidah dan akhlak terhadap sesama manusia. Adapun RRN dalam menghadapi permasalahannya dengan sesama manusia, membutuhkan bacaan mengenai akhlak dan bagaimana mengelola hati agar tidak timbul prasangka buruk. KAF dan RRN juga sama-sama mengalami masa perkuliahan yang dituntut untuk mengerjakan berbagai tugas, sehingga mengharuskannya untuk selalu memperbaharui wawasan terkait dengan jurusan kuliah masing-masing, KAF pada jurusan akuntansi dan RRN pada jurusan rekam medis. Sebagai mahasiswa, KAF dan RRN dituntut harus bisa belajar sebaikbaiknya dan bisa menyelesaikan setiap tugas kuliah yang diberikan dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan nilai ilmiahnya, khususnya dalam prosesnya menyusun skripsi yang dilakukan oleh KAF. Informasi yang ia butuhkan adalah berkaitan dengan akuntansi dan manajemen keuangan. Informasiinformasi ini berkembang terus seiring d e n g a n b e rt amb a h p u l a b e b a n perkuliahan KAF tiap tingkatnya. KAF berusaha mengerjakan tugas kuliah yang diberikan para dosen dan menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya. Peran lain yang diemban KAF ialah sebagai aktivis organisasi yang menuntut harus memahami arah tujuan organisasi yang meliputi bidang ilmu yang dipelajari. Organisasi yang KAF ikuti selama kuliah dan setelahnya berkaitan dengan ekonomi Islam. Hal ini menjadi tuntutan dan ketertarikan t e rs endiri baginya . KAF ha rus mempelajari berbagai hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan ekonomi agar ia menjadi kader organisasi yang paham akan tujuan organisasi dan bisa tetap menjalankan roda organisasi dengan baik. Selain itu, sebagai senior di organisasinya, KAF memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk membagi ilmu dan wawasan yang sudah ia peroleh tersebut kepada para juniornya. Adapun peran RRN lain yang berbeda dengan KAF, ialah pernah terlibat pada dunia kerja yang mengharuskannya mamp u mema h ami t u g a s d a ri pekerjaannya. RRN yang bekerja pada sebuah restoran diberi kesempatan untuk membuat menu-menu makanan yang baru. Hal ini pun mendorong RRN untuk mempelajari hal-hal yang terkait dengan inovasi-inovasi menu yang akan ia buat demi untuk meningkatkan kualitas r e st o r a n t e m p a t n y a b e k e r j a . Sebagai individu yang beragama, kebutuhan BR terhadap ilmu-ilmu agama pun sama halnya dengan yang dibutuhkan oleh KAF dan RRN. BR memiliki minat lebih besar terhadap ilmu alquran dan hadis. BR berprinsip bahwa ayat-ayat yang ia dengarkan penjelasan dalam tafsirnya itu haruslah tepat. Begitu pun dengan hadis yang ia dapatkan mengenai hukum-hukum tertentu, ia utamakan hadis-hadis yang sahih. Tingkatan hadis memang bermacam-macam, dan hadis sahih inilah yang tingkatannya paling tinggi dan lebih baik daripada hadis-hadis lain karena berasal dari orang-orang yang sudah diyakini ke sha l ehan dan kecerdasannya dalam ilmu agama. Aktivitas BR sehari-hari ialah berdagang, ini adalah aktualisasi dirinya sebagai seorang kepala rumah tangga yang harus memberikan nafkah dengan cara yang baik. BR berprinsip menerapkan hukum-hukum dan syariat Islam dalam transaksi perdagangannya. Ia akan memperhatikan betul bagaimana tiap kesepakatan-kesepakatan yang di buat dengan pembeli agar tidak ada kekeliruan setelah masing-masing memperoleh haknya, BR dengan bayaran sesuai dengan harga yang ditawarkan dan disepakati, pembeli dengan barang beliannya yang memuaskan dan tanpa cacat. Dalam Islam hal ini di atur menjadi fiqih tersendiri, yaitu fiqih muamalah. Fiqih ini menjelaskan transaksi yang dilakukan BR tadi sebagai bagian dari istilah akad, yaitu kesepakatan penjual dan pembeli yang ditandai dengan lafaz serah-terima barang dan uang, maupun tanpa lafaz yang dimaksud. Intinya dengan akad ini diharapkan terjadi kesepakatan harga antara kedua belah pihak yang saling menguntungkan. Begitulah di antaranya aturan Islam perihal jual beli. 2. Perilaku Pemustaka Sebelum Melakukan Pencarian Informasi Perilaku sebelum melakukan pencarian informasi ini termasuk dalam pendapat yang dikemukakan oleh Carol Khulthau yaitu inisiasi dan selection. Inisiasi ialah penentuan informasi yang dibutuhkan dan selection ialah mengidentifikasi informasi yang akan dicari. Ketiga subjek menunjukkan perilaku yang hampir sama dengan teori tersebut di atas. KAF lebih banyak menyatakan sering melakukan persiapanpersiapan sebelum melakukan pencarian informasi. Ia bahkan akan dengan teliti membuat daftar informasi yang harus ia temukan dalam sebuah catatan kecil. Menunjukkan KAF ingin mendapatkan informasi yang lengkap namun tetap menjaga agar waktu pencariannya efektif dan efisien. A d a p u n B R m a s i h memperhatikan beberapa persiapan dengan menyatakan sering pada beberapa pernyataan, meski menyatakan jarang pada persiapan lain. Hal ini dapat diketahui bahwa BR memang tidak selalu menggunakan saluran informasi yang lebih beragam seperti KAF. BR cenderung masih menggunakan peralatan yang sederhana karena tidak terbiasa menggunakan peralatan teknologi yang canggih. Dalam kegiatan menelaah dan menentukan subjek agar lebih spesifik, BR merasa hal ini juga penting. Ia mencontohkan bahwa jika sebelum ia bertanya mengenai sesuatu yang belum ia pahami dan berharap dengan bertanya kepada orang yang lebih paham itu bisa mendapatkan informasi yang lebih jelas dan lengkap, BR akan memastikan bahwa apa yang sudah diketahuinya ini tidak keliru dan benar adanya pernah ia dengar atau baca dari saluran informasi lain. Lain halnya pula dengan RRN yang dominan menyatakan jarang melakukan persiapan di awal sebelum melakukan pencarian informasi. RRN memiliki alasan yaitu terbatasnya waktu untuk melakukan hal tersebut. Sehingga hanya peralatan sederhana yang ia siapkan tanpa mengabaikan pula perlengkapan yang lainnya. Namun untuk melakukan penelaahan merasa penting dilakukan oleh RRN, termasuk jika menyangkut tugas kuliah. Ia akan memahami betul tugas yang diberikan agar dapat dengan mudah mencari sumber informasinya. Bahkan untuk memahaminya pun RRN akan bertanya kepada teman hingga ke dosen bersangkutan. 3. Perilaku Pemustaka Saat Proses Pencarian Informasi Information seeking theory yang dikembangkan oleh Khulthau dalam salah satu tahapannya terdapat exploration yaitu mencari dan membandingkan sejumlah informasi yang didapatnya di lapangan (Yusup, 2012, hlm.159). Namun dalam proses ini, peneliti masih memfokuskan pembahasan pada proses informasi, proses membandingkan informasi akan dibahas untuk tahapan berikutnya. Dapat dilihat dari pernyataan yang muncul, bahwa KAF menunjukkan perilaku yang menyatakan sering melakukan keseluruhan perilaku yang tercantum dalam pilihan pernyataan. Hal ini dapat digolongkan bahwa KAF melakukan pencarian informasi yang terstruktur. Ia hampir selalu browsing terlebih dahulu di internet untuk mendapatkan rekomendasi buku yang tepat untuk tugas atau skripsinya, lalu mencari di perpustakaan atau bertanya pada orang-orang tertentu. Kebutuhan informasi KAF dengan berbagai perannya yang berbeda-beda, serta kesempatan waktu yang tersedia, memungkinkan KAF untuk mencari informasi dari lebih banyak saluran informasi yang terjangkau olehnya. BR menunjukkan perilaku yang hampir sama, browsing terlebih dahulu informasi yang akan dicarinya, namun tidak menjadikan internet sebagai saluran yang mesti ia gunakan. Hal ini dapat dipengaruhi dari faktor usia BR yang belum terbiasa dengan kehadiran teknologi pada zaman ini. BR yang sudah terbiasa dengan peralatan sederhana dan saluran informasi yang mudah dijangkau oleh kemampuan finansialnya, merasa cukup dengan mengunjungi perpustakaan dan menghadiri majelis-majelis ilmu lalu b e r d is k u si d i s a n a , k e timb a n g mengandalkan kecanggihan teknologi yang mudah bagi sebagian besar orang pada masa kini, namun tidak mudah bagi BR sendiri. RRN yang juga memiliki pengalaman dalam memenuhi tugas sebagai mahasiswa melakukan perilaku pencarian informasi yang sama dengan KAF. RRN browsing terlebih dahulu di internet, jika tidak ditemukan informasi yang dibutuhkannya maka akan memanfaatkan buku-buku yang ada di perpustakaan kampusnya. Jika ada tugas atau materi kuliah yang tidak ia mengerti, RRN akan menanyakan kepada teman dan dosen yang bersangkutan. Perilaku ini menunjukkan RRN juga mencari informasi dengan terstruktur dari satu s a l u r a n k e s a l u r a n y a n g l a i n . U n t u k i n f o r m a si d a l a m pemenuhan kebutuhannya sebagai karyawan, RRN lebih mendapatkan kemudahan. Owner atau pemilik restoran tempatnya bekerja selalu memberikan referensi bacaan-bacaan yang dapat memberinya inspirasi untuk membuat menu-menu baru. Begitu pun informasi mengenai Service excelent, biasa juga ia dapatkan dari owner tersebut. Bahkan RRN pernah diikutsertakan dalam sebuah seminar demi agar menambahkan wawasan baginya untuk meningkatkan kualitas kinerjanya. 4. Perilaku Pemustaka Setelah Melakukan Pencarian Informasi Da l am t ahapan penc a ri an informasi menurut Khulthau, terdapat dua tahapan yang mewakili perilaku setelah melakukan pencarian informasi ini, yaitu collection dan presentation. Collection merupakan tahapan ketika seorang pencari informasi menampung semua data atau informasi yang diperolehnya, hingga ia merasakan betul telah mendapatkan informasi dan data secara lengkap. Sedangkan presentation ialah tahapan yang sudah memasuki aspek p e m a n f a a t a n i n f o r m a si y a n g diperolehnya tadi. Informasi yang sudah didapatkan bisa menjadi informasi utama atau hanya sebagai tambahan wawasan bagi pencari informasi. Ketiga subjek menunjukkan perilaku yang di maksud dalam teori Khulthau ini. KAF dan RRN menyatakan sering menyimpan seluruh maupun sebagian informasi yang diperolehnya. Informasiinformasi tersebut disimpan dan kemungkinan akan dibutuhkan pada waktu yang akan datang. Adapun BR juga melakukan penyimpanan terhadap informasi yang diperolehnya, dan kemudian akan menyeleksi dan memverifikasi kebenaran informasi tersebut pada sumber-sumber lain. Dalam tahap presentation, ketiga subjek mema n f a a t k a n i n f o rma si y a n g diperolehnya untuk aktivitas dan profesi masing-masing. Perolehan informasi disalurkan sesuai dengan kebutuhan dari masing-masing peran yang dijalankan subjek, sebagai individu beragama, sebagai mahasiswa, karyawan, maupun pedagang. Semua peran tersebut mendapatkan porsi yang sama dalam penyaluran hasil pencarian informasi. 5. Hambatan yang Dihadapi dalam Pencarian Informasi serta Solusi untuk Menanganinya Rintangan-rintangan dalam pencarian informasi disebutkan oleh Wilson diantaranya ialah pribadi, interpersonal, dan lingkungan. Dalam hal ini disimpulkan bahwa rintangan berasal dari dalam (internal) dan luar individu (eksternal). Masing-masing subjek mengalami hambatan yang disebutkan dalam teori tersebut, hambatan eksternal dan hambatan internal, atau hambatan dari luar dirinya dan hambatan dari dalam dirinya sendiri. Subjek KAF mengalami hambatan dari luar dan dalam dirinya. Hambatan tersebut berupa keterbatasan KAF dalam mengunjungi perpustakaan yang di sana ia bisa menemukan informa si yang diinginkannya , keterbatasan yang dimaksud meliputi masalah finansial yang membuatnya akan mencari solusi lain dengan mengunjungi perpustakaan yang lebih dekat dan lebih t e r j a n g k a u o l e h k e m a m p u a n finansialnya. Hambatan internal adalah rasa kebosanannya dalam melakukan pencarian informasi sementara banyak sumber informasi yang harus ia telusuri. Hambatan eksternal yang dialami oleh BR ialah terhadap sumber informasi yang tidak diyakininya memberikan keterangan yang benar sehingga membuatnya harus mencari informasi pada sumber yang lain demi menguatkan keyakinannya pada kebenaran suatu hukum dan dalil, terutama yang berkaitan dengan agama Islam. Terkadang menurutnya, tidak mudah mendapatkan keterangan yang sahih dari sebuah dalil atau hukum hanya dengan satu kali mendengarkan atau membaca dari satu sumber. Bahkan orang yang menjadi narasumber terpercaya dalam beberapa hal tidak bisa memberikan keterangan dengan cepat dan sesuai dengan harapannya, sehingga membuat BR harus mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan ia ajukan dalam waktu lama, demi menghargai narasumber tersebut untuk mempersiapkan jawaban terbaik yang bisa ia berikan. Adapun RRN, nampak jelas bahwa hambatan eksternal lebih dominan selalu dihadapi. Hambatan eksternal berupa terbatasnya waktu untuk me l akukan penc a ri an informa si membuatnya tidak dapat melakukan penelusuran dengan leluasa. Waktu yang bisa dipergunakannya hanya di sela-sela jam istirahat kerja dan menjelang dimulainya perkuliahan. Meski begitu, RRN berupaya mengatasi hambatannya tersebut dengan memaksimalkan waktu yang dimilikinya agar lebih efektif. Selain itu juga berusaha bertanya dan berdiskusi dengan teman-teman sesama mahasiswa, namun hal itu pun tidak terlalu banyak membantu karena hampir kesemua t eman-t emannya juga memiliki keterbatasan yang sama.
Conclusion
Berdasarkan data hasil penelitian dan pembahasan, maka peneliti mengambil kesimpulan secara umum bahwa pemustaka perpustakaan masjid Pusdai melakukan pencarian informasi sesuai dengan information seeking theory. Perilaku ini ditunjukkan dengan mayoritas pilihan tindakan pemustaka merujuk pada tiga aktivitas pokok pencarian, yaitu perilaku sebelum melakukan pencarian informasi yang diawali dengan menelaah terlebih dahulu konten informasi yang akan dicari, perilaku pada proses pencarian informasi yang kebanyakan pemustaka memilih dua sumber informasi dengan kuantitas terbanyak; mengunjungi perpustakaan dan browsing di internet, serta perilaku setelah pencarian informasi yang mencatat dan menyimpan informasi yang diperoleh, kemudian dimanfaatkan untuk mendukung profesi/aktivitasnya. Adapun simpulan khusus berdasarkan rumusan masalah yang telah ditentukan ialah : 1. Kebutuhan Informasi Pemustaka Berdasarkan perhitungan skor terhadap kebutuhan informasi pemustaka berkaitan dengan studi agama Islam, diperoleh hasil bahwa ilmu aqidah/tauhid adalah informasi yang mayoritas dibutuhkan oleh pemustaka Perpustakaan Masjid Pusdai. Subjek 1 dan 3 membutuhkan informasi yang berkaitan dengan studi agama Islam ialah mengenai ilmu fiqih atau muamalah, khususnya fiqih munakahat (fiqih pernikahan). Adapun subjek 3 juga membutuhkan ilmu tentang perilaku/akhlak seorang muslim. Sedangkan subjek 2 membutuhkan informasi mengenai ilmu hadis dan ilmu fiqih atau muamalah, khususnya fiqih dalam jual beli. 2. Perilaku Sebelum Melakukan Pencarian Informasi Berdasarkan perhitungan skor terhadap subvariabel perilaku sebelum melakukan pencarian informasi,diperoleh hasil bahwa perilaku yang mayoritas dilakukan pemustaka Perpustakaan Masjid Pusdai sebelum melakukan pencarian informasi ialah menentukan konten/subjek informasi yang akan dicari agar mengarah pada informasi pokok yang dibutuhkan. Ke tiga subj ek me l akukan persiapan dengan melakukan telaah terlebih dahulu terhadap informasi yang akan dicari dan mempersiapkan alat tulis sebelum melakukan pencarian informasi. 3. Perilaku Saat Proses Melakukan Pencarian Informasi Berdasarkan perhitungan skor terhadap perilaku saat proses melakukan pencarian informasi, diperoleh hasil b a h w a p e r i l a k u m e n g u n j u n g i perpustakaan untuk mencari dan menemukan informasi menjadi pilihan terbanyak bagi mayoritas pemustaka Perpustakaan Masjid Pusdai. Subjek 1 dan 3 menggunakan internet sebagai sumber informasi awal. Subjek 2 menggunakan perpustakaan dan m a j e l is i l m u s e b a g a i s u m b e r informasinya. 4. Perilaku Setelah Melakukan Pencarian Informasi Berdasarkan perhitungan skor terhadap perilaku setelah melakukan pencarian informasi, diperoleh hasil bahwa mencatat pada buku catatan dan menyimpan file pada perangkat digital menjadi pilihan terbanyak dari pemustaka Perpustakaan Masjid Pusdai. Mayoritas pemustaka pun selalu memanfaatkan informasi tersebut untuk mendukung profesi/aktivitas. Subjek 1 dan 3 mencatat dan mengetik informasi yang diperolehnya, sedangkan subjek 2 mencatat saja informasi yang diperolehnya. Ketiga subjek mencatat dan menyimpan informasi kemudian digunakan untuk mendukung profesi/aktivitasnya. 5. Hambatan yang Ditemukan dan P e r i l a k u P e m u st a k a d a l a m Menghadapinya Berdasarkan perhitungan skor terhadap perilaku yang ditemukan dalam pencarian informasi, menunjukkan mayoritas pemustaka mengalami hambatan tidak menemukan informasi pokok yang dibutuhkan namun menemukan informasi lain yang dapat menambah wawasan. Adapun perilaku dalam mengatasi hambatan yang ditemukannya, mayoritas pemustaka memilih mengunjungi toko buku untuk mencari dan membeli buku yang berisi informasi yang dibutuhkannya. Subjek 1 terhambat dengan masalah finansial dan kejenuhan dalam mencari informasi dari sumber yang banyak. Solusi yang dipilihnya dengan menggunakan atau mendatangi sumber informasi yang lebih mudah dijangkau. Subjek 2 terhambat dengan merasa kurang akuratnya informasi yang ia peroleh. Solusinya menetapkan target jumlah narasumber sebanyak tiga hingga lima orang untuk meyakinkan dirinya bahwa informasi yang ia dengar adalah benar (sahih). Subjek 3 terhambat dengan terbatasnya waktu yang dimiliki. So l u si n y a i a l a h mema n f a a t k a n kesempatan sebelum perkuliahan untuk mengunjungi perpustakaan.