ANALISIS FAKTOR KERUSAKAN BAHAN PUSTAKA TERCETAK OLEH MANUSIA (STUDI DESKRIPTIF KUALITATIF TENTANG USAHA PRESERVASI BAHAN PUSTAKA PADA PERPUSTAKAAN SEKOLAH TINGGI PARIWISATA BANDUNG)
Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya kesadaran pemustaka untuk memelihara bahan pustaka sehingga mengalami kerusakan dan tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Masalah yang ditujukan dalam penelitian ini adalah bagaimana faktor kerusakan bahan pustaka tercetak oleh manusia dan usaha preservasi bahan pustaka pada Perpustakaan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) tindakan preventif yang dilakukan Pustakawan terhadap kerusakan bahan pustaka tercetak di Perpustakaan STPB; (2) bentuk kerusakan yang disebabkan oleh faktor manusia terhadap bahan pustaka tercetak di Perpustakaan STPB; (3) tindakan kuratif yang dilakukan Pustakawan terhadap kerusakan bahan pustaka tercetak di Perpustakaan STPB. Informan dalam penelitian ini adalah satu orang pustakawan dan dua orang staf perpustakaan STPB menggunakan teknik purposive sampling. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan melalui hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpustakaan STPB sudah menerapkan prosedur pencegahan melalui proses pengolahan yang didukung dengan pemberian sampul plastik pada setiap bahan pustaka. Pengawasan pada ruang baca dilakukan melalui kegiatan peminjaman dan pengembalian. Perpustakaan juga merencanakan dan menerapkan prosedur perbaikan bahan pustaka untuk meminimalisir terjadinya kerusakan selanjutnya.
Keywords:
bahan pustaka cetak
· faktor perusak bahan pustaka
· perpustakaan STPB
Introduction
Pada perpustakaan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB) berdasarkan hasil wawancara dengan pustakawan yang dilaksanakan pada tanggal 28 maret 2016, terdapat masalah kerusakan yang terjadi pada bahan pustaka tercetak di perpustakaan STPB, koleksi yang sering mengalami kerusakan adalah koleksi yang berada pada ruang sirkulasi, karena koleksi tersebut sering dimanfaatkan oleh pemustaka setiap harinya. Jumlah koleksi yang melebihi 13.000 eksemplar dan hampir setengahnya merupakan koleksi sirkulasi. Peminjaman koleksi setiap bulannya mencapai 300 koleksi dan rata-rata terdapat dua koleksi yang mengalami kerusakan. Tindakan mutilasi dan vandalisme seperti melipat kertas, mencoret, merobek, menjadi salah satu faktor terjadinya kerusakan pada koleksi, kerusakan yang sering terjadi di perpustakaan STPB yaitu halaman kertas dan cover buku yang terlepas, sampul plastik robek, label nomor klasifikasi yang rusak dan hilang. Sedangkan pada bagian referensi koleksi yang sering mengalami kerusakan adalah koleksi tugas akhir skripsi dan tesis dikarenakan koleksi tersebut yang sering dimanfaatkan oleh pemustaka. Kerusakan koleksi tercetak pada perpustakaan STPB tidak begitu parah, karena setiap hari dilakukan kegiatan pelestarian koleksi dengan memilih bukubuku di rak untuk mencari koleksi yang harus diperbaiki. Usaha awal yang dilakukan pustakawan dalam melestarikan koleksi adalah dengan memberi sampul plastik pada setiap koleksi tercetak. Dari keadaan yang terlihat pada Perpustakaan Perguruan Tinggi saat ini, adapun penyebab kerusakan yang terdapat pada koleksi perpustakaan menurut Purwono, (2010) mencakup beberapa faktor, seperti faktor disebabkan oleh binatang pengerat, serangga, dan jamur. Faktor fisika atau alamiah yang terdapat pada koleksi seperti debu, suhu udara dan kelembaban tempat penyimpanan koleksi, dan juga cahaya. Faktor kimia yang disebabkan oleh kandungan asam dalam kertas atau tinta juga akan mempercepat kerusakan pada bahan pustaka buku atau bahan kertas dan tinta. Faktor lainnya yaitu yang disebabkan oleh manusia dalam menggunakan koleksi dan bencana alam yang tidak tahu kapan akan terjadi, untuk itu peneliti memfokuskan faktor yang akan diteliti yaitu kerusakan yang disebabkan oleh manusia. Untuk itu perlu adanya usaha p e l e st a ri a n ( p r e s e r v a si), me n u r u t International Federation Library Association (IFLA) preservasi yaitu mencakup semua aspek usaha melestarikan bahan pustaka, keuangan, ketenagaan, metode dan teknik, serta penyimpanannya. Tujuan pelestararian bahan pustaka adalah melestarikan hasil budaya cipta manusia, baik yang berupa informasi maupun fisik dari bahan pustaka tersebut. Kelestarian bahan pustaka tergantung pada beberapa faktor, diantaranya mutu bahan dasar, lingkungan penyimpanan, serta faktor lainnya (Martoatmodjo, Karmidi, 2009). Untuk melestarikan bahan pustaka kita perlu melakukan tindakan preventif untuk mengurang terjadinya kerusakan dan tindakan kuratif terhadap bahan pustaka yang telah mengalami kerusakan dengan cara menganalisis dan mengetahui apasaja yang menjadi penyebab kerusakan dan bagaimana penanganannya. Perpustakaan adalah organisasi non profit, dan STPB merupakan perpustakaan pergurun tinggi dengan pemustaka merupakan para akademisi. Perpustakaan sering dimanfatkan oleh mahasiswa sehingga memperbesar kesempatan terjadinya kerusakan bahan pustaka. Kerusakan disebabkan oleh kurangnya kesadaran pemustaka untuk memelihara bahan pustaka sehingga tidak menghiraukan hal-hal kecil seperti melipat kertas untuk menandai informasi yang dibutuhkan dan lainnya yang menyangkut kerusakan bahan pustaka atau yang disebut sebagai koleksi. Setelah mengetahui faktor penyebab kerusakan bahan pustaka cetak, diharapkan dapat dilakukan pengawasan lebih terhadap koleksi. Peneliti tertarik untuk meneliti fenomena yang sering terjadi sebagaimana latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka untuk penelitian ini memilih judul “ Analisis Faktor Kerusakan Bahan Pustaka Tercetak Oleh Manusia (Studi Deskriptif Kualitatif Tentang Usaha Preservasi Bahan Pustaka Pada Perpustakaan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung)” M a k s u d p e l e s t a r i a n i a l a h mengusahakan agar bahan pustaka tidak cepat mengalami kerusakan. Bahan pustaka dapat dipakai lebih lama. Koleksi yang dirawat dimaksudkan bisa menimbulkan daya tarik sehingga orang yang tadinya tidak menggunakan buku perpustakaan menjadi rajin menggunaakan bahan pustaka. Tujuan pelestarian bahan pustaka sebagai berikut, menyelamatkan nilai informasi dokumen, menyelamatkan fisik dokumen, mengatasi kendala kekurangan ruangan. Dengan pelestarian yang baik diharapkan bahan pustaka dapat berumur lebih panjang. Dengan bahan pustaka yang lestari terawat dengan baik, pustakawan dapat memperoleh kebanggaan dan peningkatan kerja. Lingkungan yang sehat, ruang kerja yang baik, rapi dan menarik, membuat kehidupan pustakawan menjadi lebih berarti dan menyenangkan.
Method
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode ini dipilih karena sesuai dengan permasalahan yang dikaji yaitu untuk mendeskripsikan dan mengetahui faktor perusak bahan pustaka tercetak pada perpustakaan STPB. Hasil penelitian dapat mendeskripsikan secara jelas, rinci, serta dapat memperoleh data yang akurat dan mendalam dari fokus penelitian. Analisis data yang digunakan mengacu pada konsep Milles & Huberman yang mengelompokkan dalam tiga langkah berikut (1) Reduksi data (Data Reduction ), Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan lapangan. (2) Penyajian data ( Display Data ), Penyajian data adalah pendeskripsian sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. (3) Penarikan kesimpulan (Verifikasi ), Penarikan kesimpulan atau verifikasi merupakan kegiatan akhir penelitian kualitatif. Peneliti harus sampai pada kesimpulan dan melakukan verifikasi, baik dari segi makna maupun kebenaran kesimpulan yang disepakati oleh tempat penelitian itu dilaksanakan.
Result & Discussion
Pembahasan hasil penelitian dimaksudkan untuk menjawab rumusan masalah dari penelitian yaitu bagaimana faktor kerusakan bahan pustaka tercetak oleh manusia dan usaha preservasi bahan pustaka pada Perpustakaan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB)?, yang dijabarkan dalam penjelesan berikut, 1. Usaha pencegahan (preventif) kerusakan bahan pustaka tercetak di perpustakaan. Usaha pencegahan kerusakan bahan pustaka tercetak di perpustakaaan STPB dimulai dari proses pengadaan, dengan meminimalisir terjadinya kerusakan dari koleksi yang baru datang, dan dilanjutkan dengan proses pengolahan sampai kepada penya ji an kol eksi di r ak untuk dimanfaatkan oleh pemustaka. a. P r o s e s p e n g a d a a n k o l e k s i perpustakaan Pe rpust aka an STPB memiliki kebijakan tersendiri dalam proses pengadaan koleksi untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustakanya. Pengadaan dapat dilakukan dengan memberikan daftar formulir untuk setiap fakultas ataupun prodi. Perpustakaan juga menyiapkan kotak saran atau rekomendasi kepada pemustaka yang ingin memberi masukan tentang perpustakaan maupun koleksi perpustakaan yang tersedia. P r o s e s p e n g a d a a n k o l e k s i perpustakaan didapatkan melalui empat sumber yaitu, Melalui pembelian yang dilakukan pihak yayasan STPB. Melalui sumbangan alumni, melalui kerjasama dengan Asian Foundation, melalui sumbangan dosen STPB, biasanya merupakan hasil karya dosen STPB yang diberikan untuk dimanfaatkan oleh pemustaka. Koleksi dari dosen ini diletakkan di koleksi STPIANA. b. P r o s e s p e n g o l a h a n k o l e k si perpustakaan Setelah kelengkapan koleksi secara fisik dan isi dilakukan pengecekkan, maka selanjutnya koleksi tersebut diolah pada bidang pengolahan dengan alat dan bahan yang digunakan dalam kelengkapan koleksi adalah kertas untuk nomor panggil, label buku, sampul buku, dan kantung buku, dan tentu saja cap sebagai tanda koleksi tersebut milik perpustakaan STPB. Pengolahan bahan perpustakaan STPB tidak jauh beda dengan yang diungkapkan Andi Prastowo. Pengolahan perpustakaan STPB dibagi menjadi tiga bagian yaitu klasifikasi bahan pustaka, input data bibiografis ke NCI dan inventaris bahan pustaka. Berikut tahapan dalam pengolahan pada perpustakaan STPB yaitu, 1. Klasifikasi dan katalogisasi bahan pustaka. Klasifikasi buku yang dilakukan adalah menggunakan sistem klasifikasi DDC. Setelah k o l e k si y a n g d a t a n g d a n d i k e l omp o k k a n b e r d a s a r k a n kelompok nomor klasifikasinya, maka selanjutnya akan dilakukan p r o s e s k a t a l o g is a si d e n g a n mencantumkan identitas bahan pustaka yang nantinya akan di input data bibliografinya ke software NCI Bookman. 2. Input data bibliografis ke NCI Bookman. NCI Bookman.merupakan software yang digunakan sebagai OPAC untuk menelusur koleksi pe rpust akaka an aga r mudah ditemukan. Data yang akan diinput merupakan data koleksi bibliografis setiap bahan pustaka dan pemustaka dapat menelusur koleksi melalui komputer yang telah disediakan oleh perpustakaan STPB. 3. Inventaris Bahan Pustaka. Inventaris buku yang dilaksanakan adalah memasukkan data bibiografis bahan pustaka ke dalam Microsoft excel, labeling pada bahan perpustaka, p ema s a n g a n k a n t o n g k a rt u peminjaman, penempelan nomor barcode, penyampulan bahan pustaka dan display bahan pustaka ke rak buku. 4. Memasukkan data bibliografis bahan perpustakaan ke dalam Microsoft excel. Kegiatan memasukkan data bibliografis bahan perpustakaan ke dalam Microsoft excel ini bertujuan untuk mendata bahan perpustakaan a g a r m e m u d a h k a n d a l a m penginputan data bibliografis ke NCI. Adapun format data bibliografis bahan perpustakaan ke dalam Microsoft excel adalah sebagai berikut : nomor, judul buku, pengarang, tahun terbit, tempat terbit, ISBN/ISSN, nomor klasifikasi, kolasi, nomor panggil, nomor barcode, keterangan buku, warna label, subjek buku, sumber buku, tanggal penerimaan buku dan harga. c. Proses penyajian koleksi perpustakaan Setelah koleksi diolah dan koleksi perpustakaan siap untuk di display di rak maka butuh teknik juga dalam penyusunan koleksi dirak bertujuan agar pemustaka mudah menemukan dan menjangkau koleksi yang di sajikan. Koleksi yang sudah di sampul akan di beri bedak tabur, ini bertujuan agar koleksi yang akan disusun dirak tidak akan lengket. Pada saat meletakan koleksi di rak, maka pada ujung rak tidak akan dipenuhi oleh koleksi, agar ada ruang untuk mengambil koleksi dan koleksi tersebut tidak terjepit, sehingga mudah untuk mengambilnya keluar dari rak. Menurut Prastowo, Andi (2012, hlm. 164) Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam penyusunan buku di perpustakaan yaitu buku fiksi sebaiknya disimpan tersendiri yang disusun berdasarkan urutan nomor panggil. Buku n o n fi k si d a p a t d i k e l o m p o k k a n menggunakan klasifikasi DDC (Dewei D e c i m a l C l a si f i c a t i o n ) , y a i t u pengelompokkan dari nomor kecil (000) sampai nomor besar (900). Buku hendaknya disusun dengan berdiri sehingga punggung buku terlihat jelas dan labelpun bisa mudah terbaca. Koleksi dirak sudah menerapkan tata cara penyusunan menurut klasifikasi berdasarka DDC, maka bahan pustaka akan mudah untuk di jangkau karena pemustaka sudah mengerti apabila koleksi baru akan di letakkan dibagian tengah rak dan informasi ini juga akan diberikan oleh pustakawan secara langsung apabila ada pemustaka yang kesulitan dalam menemukan koleksi perpustakaan, sedangkan koleksi yang lama akan diletakkan di bagian paling atas dan bawah rak dengan kondisi rak terdiri dari empat rak dimana rak kesatu dan keempat diisi oleh koleksi lama dari tahun 2000 sampai 2010, dan rak kedua dan ketiga diisi koleksi terbaru dari 2010 sampai 2016, koleksi terlama juga berisi sebagian tahun yang sudah lama berada di bawah terbitan 2000 karena koleksi tersebut dianggap penting dan akan diletakkan pada koleksi referensi. Selain dengan memberikan nomor panggil perpustakaan juga memberikan label warna pada setiap kelopok klasifikasi seperti warna ungu untuk kelas 600 yaitu manajemen, ini juga untuk mempermudah pemustaka menjangkau koleksi yang diinginkan. 2. Bentuk kerusakan yang disebabkan oleh faktor manusia Koleksi pada perpustakaan STPB tentu saja akan mengalami kerusakan karena koleksi sering dimafaatkan oleh pemustaka, khususnya pemustaka di lingkungan STPB. Koleksi perpustakaan yang sering mengalami kerusakan yaitu koleksi tercetak pada layanan sirkulasi dan referensi karena memang koleksi sirkulasi dan referensi sering dimanfaatkan oleh pemustaka. Begitu pula dengan koleksi skripsi, tesis dan disertasi, yang biasanya sering dimanfaatkan oleh pemustaka yang akan mengerjakan tugas akhir. a. Bentuk pengawa s an t e rhadap pemustaka di ruang baca Perpustakaan belum melakukan user education mengenai bagaimana seharusnya cara memperlakukan bahan pustaka, tetapi untungnya pemustaka di perpustakaan STPB cukup baik dan tidak melakukan tindakan vandalisme yang berbahaya seperti sengaja di robek atau lainnya karena pemustaka dalam lingkungan STPB adalah pemustaka pada tingkat sekolah tinggi, mereka cukup sadar untuk tidak melakukan tindakan kerusakan yang parah terhadap koleksi perpustakaan. Pada perpustakaan STPB Layanan fotokopi sudah disediakan berikut staf yang memegang layanan fotokopi. Tujuan pengadaan layanan fotokopi ini yaitu untuk meminimalisir terjadinya kerusakan pada saat mengfotokopi koleksi di luar perpustakaan STPB, karena fotokopi di luar perpustakaan tidak menjamin terhadap keutuhan koleksi, bisa saja koleksi tersebut mengalami kerusakan seperti sampu yang copot, halaman yanng lepas, dan kertas yang terlipat. Pada saat menfotokopi bahan, apabila staf menemukan tindakan vandalisme berupa tindakan melipat, mencoret bahan pustaka, maka staf perpustakaan langsung memberikan pengertian bahwa koleksi perpustakaan tidak boleh di rusak, karena bahan pustaka akan digunakan oleh pemustaka lainnya. b. Penerimaan dan peminjaman bahan pustaka. Setiap koleksi yang dipinjam akan selalu dilakukan pengecekkan, bertujuan u n t u k me n j ami n n k o l e k si y a n g dipinjamkan dalam kondisi yang baik dan dapat dimanfaatkan pemustaka dengan baik pula. Tindakan ini juga dapat memastikan koleksi yang nantinya dikembalikan berada dalam kondisi yang baik pula. Koleksi setelah dimanfaatkan dan dipinjam oleh pemustaka, pada saat mengembalikan koleksi tersebut staf perpustakaan juga melakukan pengecekkan untuk mengidentifikasi apabila terdapat kerusakan setelah digunakan oleh pemustaka tersebut. Apabila bahan pustaka yang dikembalikan mengalami kerusakan kecil seperti halaman buku yang terlipat, copot sedikit, yang termasuk kepada kerusakan bahan pustaka dalam kondisi rusak ringan maka pustakawan hanya menegur dan memberikan pengertian bahwa koleksi perpustakaan tidak hanya digunakan oleh satu pemustaka saja, tetapi digunakan oleh banyak pemustaka lainnya untuk itu kita harus sama-sama menjaga keutuhan koleksi agar dapat dimanfaatkan oleh orang banyak. Apabila terjadi kerusakan parah dalam artian kerusakan yang berat bahkan menghilangkan koleksi perpustakaan, maka pemustaka diberikan sanksi untuk mengganti koleksi yang sama atau mencari koleksi yang mendekati sama dengan koleksi yang lainnya. Karena mengganti koleksi yang dihilangkan sanski tersebut sudah dis epaka iti da l am a tur an perpustakaan. Perpustakaan STPB tidak menereapkan sepenuhnya langkah-langkah y a n g d a p a t d i l a k u k a n d a l a m memperlakukan lembaran arsip dan bahan pustaka, karena memang belum adanya user education yang dilaksanakan oleh perpustakaan mengenai cara yang benar dalam memperlakukan bahan pustaka. Berdasarkan uraian diatas maka staf perpustakaan dan pemustaka turut memperlakukan bahan pustaka secara benar, maka dapat membantu menghindari terputusnya akses informasi dimasa yang akan datang. 3. Tindakan (kuratif) setelah terjadinya kerusakan bahan pustaka tercetak di perpustakaan. Tindakan yang dilakukan pustakawan setelah terjadinya kerusakan terhadap koleksi perpustakaan tergantung kepada jenis kerusakan, apabila kerusakan yang terjadi hanya kerusakan kecil, maka pihak perpustakaan akan menyeleksi koleksi dan melakukan perbaikan secara langsung, apabila koleksi mengalami kerusakan yang parah maka akan dilakukan oleh pihak yang dianggap ahli untuk melakukan perbaikan. Apabila koleksi perpustakaan hilang maka pemustaka akan dikenakan sanksi beruapa mengganti koleksi yang telah rusak, sesuai dengan aturan perpustakaan yang berlaku. a. Rencana dan rentang waktu dalam perbaikan (preservasi) bahan pustaka yang rusak. Setiap harinya pustakawan akan melakukan penyeleksian bahan pustaka yang ada di rak, ini betujuan untuk merapikan kembali letak koleksi yang tidak beraturan di rak. Setelah melakukan penyeleksian, apabila pemustaka menemukan koleksi yang mengalami kerusakan maka koleksi tersebut langsung ditarik dari rak dan dipisahkan dari koleksi yang ada dirak. Setelah mengumpulakan koleksi yang mengalami kerusakan, maka koleksi tersebut siap di perbaiki untuk dilestarikan dan dapat dimanaatkan kembali oleh pemustaka. Rentang waktu dalam melakakukan perbaikan bahan pustaka tergantung kepeada jenis kerusakannya. Apabila kerusakan kecil seperti sampul copot nomor panggil robek, dan halaman lepas selembar akan dilakukan pada saat itu juga bila ada waktu. Dan bila kerusakan sedikit susah dilakukan perbaikan dengan tidak hanya merekatkan lem pada halaman yang copot bahkan sampai menjahit sampul terhadap halaman yanng lepas akan dikumpulkan dan diberikan keesokan harinya kepada staf bagian preservasi. Selanjutnya apabila koleksi mengalami kerusakan yang sangat parah dan tidak bisa di perbaiki oleh pustakawan STPB kemungkinan waktu perbaikannya kurang lebih seminggu. b. Tindakan yang diambil dalam pelestarian bahan pustaka yang mengalami kerusakan Koleksi perpustakaan yang sudah diseleksi dan siap untuk dilakukan perbaikan akan langsung dilakukan perbaiknnya oleh staf perpustakaan bidang layanan pada saat waktu senggang, ini berlaku apabila koleksi yang rusak hanya mengalami kerusakan yang kecil, seperti jilid yang lepas bisa dengan merekat kan kembali kepada buku, nomor panggil yang robek dengan menggantinya dengan yang baru. Dan bila sampul depan judul buku sudah tidak bisa berdiri maka sampul depan akan di topang dengan menepelkan kertas karton sisa supaya sampul dapat berdiri tegak untuk dapat di display kembali ke rak. Setelah kita mengetahui berbagai macam perusak bahan pustaka dan macam kerusakan yang ditimbulkan, maka kita harus dapat memperbaikinya. Menurut Martoatmodjo, Karmidi (2009, hlm. 2.22) Pekerjaan memperbaiki bahan pustaka ini disebut sebagai restorasi. Pekerjaan tersebut meliputi, menambal kertas, memutihkan kertas, mengganti halaman yang robek, mengencangkan benang jilidan yang kendur, memperbaiki punggung buku, engsel, atau sampul buku yang rusak. Apabila koleksi mengalami kerusakan berupa halaman robek dan robekkannya hilang maka akan diganti dengan mengfotokopi buku yang sama dan menyatukan kembali halaman yang hilang dengan merekatkannya, bila koleksi halaman copot dan sampulnya lepas maka akan dijahit agar sampulnya kuat, cover buku yang harus di jahit dan lainnya akan di perbaiki oleh staf preservasi. Apabila koleksi mengalami kerusakan yang sangat parah seperti hilangnya tulisan pada halaman, dan masalah lainnya yang tidak bisa diatasi oleh pustakawan perpustakaan STPB, maka pihak perpustakaan memberikan koleksi tersebut pada orang yang ahli diluar perpustakaan STPB yang dapat mengembalikan keutuhan koleksi yang mengalami kerusakan parah tersebut, dan kerusakan parah ini jarang sekali terjadi.
Conclusion
Faktor kerusakan bahan pustaka tidak dapat dihindari karena bahan pustaka ada untuk dimanfaatkan oleh pemustaka. Faktor kerusakan bahan pustaka tercetak oleh manusia sering terlihat pada aktivitas ruang baca dimana pemustaka memanfaatkan bahan pustaka untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Usaha dalam preservasi bahan pustaka pada Perpustakaan STPB sudah dilakukan dimulai dari pemilihan bahan pustaka dengan pemberian kriteria bahan pustaka yang boleh disumbangkan pada proses pengadaan. Pada proses pengolahan, sesuai dengan aturan melalui pengecekkan fisik bahan pustaka, pemberian atribut buku dan pemberian sampul plastik pada luar kulit buku. Pada proses penyajian bahan pustaka sudah diatur jarak penyusunannya agar mudah terjangkau, meletakkan bahan pustaka baru pada rak kedua dan ketiga agar mudah diakses dan rak pertama dan keempat diletakkan koleksi lama. Melalui usaha pencegahan dapat mengurangi terjadinya kerusakan pada bahan pustaka. namau Tindakan kuratif setelah terjadinya kerusakanpun sudah direncanakan, dengan adanya seorang staf perpustakaan yang memegang layanan fotokopi dan preservasi untuk memperbaiki bahan pustaka yang telah rusak.