Kembali
16
1
2014 Edulibinfo Vol 1 · 1 ISSN 2541-3279

HUBUNGAN ANTARA KOMPETENSI PUSTAKAWAN DENGAN KUALITAS PELAYANAN PADA PERPUSTAKAAN ISLAM BANDUNG

Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia

Abstrak

Hubungan antara Kompetensi Pustakawan dengan Kualitas Pelayanan pada Perpustakaan Universitas Islam Bandung.Skripsi, Program Studi Perpustakaan dan Informasi, Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia, 2014.Pustakawan perpustakaan perguruan tinggi, yang melayani sivitas akademika dengan kebutuhan yang berbeda-beda dan selalu dinamis, harus selalu meningkatkan kompetensinya untuk dapat memberikan yang terbaik melalui pelayanan prima (service excellence). Perpustakaan Universitas Islam Bandung (Unisba) salah satu perpustakaan perguruan tinggi yang memiliki pustakawan handal, menghadapi masalah terkait pelayanan yang diberikan kepada pemustaka. Data survei menunjukkan beberapa pemustaka mengeluh tentang kualitas pelayanan yang diberikan perpustakaan yaitu, kurangnya koleksi dalam memenuhi kebutuhan pemustaka, sikap acuh tak acuh pustakawan, belum memadainya sarana dan prasarana sehingga menciptakan lingkungan yang kurang nyaman.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kompetensi pustakawan dengan kualitas pelayanan pada perpustakaan Unisba.Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan angket (kuesioner), studi pustaka, dan wawancara. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling insidental.Sampel dalam penelitian ini sebanyak 98 responden.Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa pertama, kompetensi umum pustakawan memiliki hubungan yang sedangdengan kualitas pelayanan. Kedua, kompetensi inti pustakawan memiliki hubungan yang kuat dengan kualitas pelayanan.Ketiga, kompetensi khusus pustakawan memiliki hubungan yang sedang dengan kualitas pelayanan.Hal ini berarti bahwa kompetensi pustakawan memiliki hubungan yang sedang dan signifikan dengan kualitas pelayanan pada perpustakaan Universitas Islam Bandung.

Abstract

The Relationship between Librarian Competency and The Quality of The Library Services in Bandung Islamic University. Essay, Library and Information Studies, Departement of Curriculum and Educational Technology, Faculty of Education, Indonesia University of Education, 2014.Librarian of university library, serving academic society with different needs and always dynamic, must increase their competence to be able to provide the best through service excellence. Bandung Islamic University libraryone of university library has librarians reliable, face problems related to the service provided to the users. The survey data shows some users complain about the quality of service provided library is lack of collection to satisfy needs of the users, indifference librarian, inadequate facilities and infrastructure so as to create an environment that is less convenient. This study aims to determine iswhether there is a relationship between the competency of the librarian and the quality of Unisba library services. The method used is descriptive correlational study with a quantitative approach. Data collection technique used in this study is questionnaire, library research, and interviews. Sampling technique used in this study is incidental sampling. Sample in this research is 98 respondents. Based on the data analysis it is known that first, general competency have the category ofmediumrelationship with the quality of services. Second, core competencies have the category of strongrelationship with the quality of services. Third, specific competencies have the category of mediumrelationship with the quality of services. This means that librarian competency have the category ofmediumand significant relationship with the quality of services at Unisba Library.
Keywords: Competence · Quality Service · Librarian · Library

Introduction

Perkembangan teknologi informasi saat ini menyebabkan terjadinya banyak perubahan di segala bidang. Salah satu perubahannya adalah pada cara penyampaian informasi. Perpustakaan perguruan tinggi melaksanakan Tri Dharma Perguruan Ti n g g i d e n g a n c a r a memi l i h , menghimpun, mengolah, merawat, dan melayankan sumber informasi untuk keperluan proses belajar-mengajar (PBM), penelitian, dan pengabdian masyarakat para sivitas akademiknya. Pelayanan perpustakaan perguruan tinggi diharapkan mampu memenuhi kebutuhan semua pemustakanya dan dapat menjalankan fungsinya secara baik dan benar serta perlu didukung dengan tersedianya tenaga yang handal yaitu pustakawan. Perpustakaan Universitas Islam Ba n d u n g ( U n is b a ) s a l a h s a t u perpustakaan perguruan tinggi yang m e m i l i k i p u st a k a w a n h a n d a l , menghadapi masalah terkait pelayanan yang diberikan kepada pemustaka, seperti hasil survei yang saya lakukan di perpustakaan tersebut.Data survei menunjukkan beberapa pemustaka mengeluh tentang kualitas pelayanan yang diberikan perpustakaan yaitu, kurangnya koleksi dalam memenuhi kebutuhan pemustaka, sikap acuh tak acuh pustakawan, belum memadainya s a r ana dan pr a s a r ana s ehingga menciptakan lingkungan yang kurang nyaman. Perguruan tinggi adalah tempat berkumpulnya orang untuk berinteraksi dan bersinergi dalam menimba, berbagi, menerapkan, dan mengembangkan ilmu.Kegiatan tersebut dikenal sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pembelajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Rosalin (2008, hlm. 55) menyebutkan bahwa pada hakikatnya perpustakaan perguruan tinggi adalah: Suatu unit kerja yang merupakan bagian integral dari suatu lembaga induknya, yang bersama-sama dengan unit lainnya tetapi dalam peranan yang berbeda, bertugas membantu perguruan tinggi yang bersangkutan dalam melaksanakan Tri Dharma-nya. Jadi, perpustakaan perguruan tinggi merupakan unsur penunjang perguruan tinggi, yang bersama-sama dengan unsur penunjang lainnya, berperan serta dalam melaksanakan tercapainya visi dan misi perguruan tinggi serta memenuhi semua k e b u t u h a n p e m u st a k a d a l a m mendapatkan informasi. Kompetensi adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas/pekerjaan yang didasari atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai dengan unjuk kerja yang dipersyaratkan. Utomo (dalam Hermawan dan Zen, 2010, hlm. 174) menyatakan bahwa: Kompetensi adalah kemampuan, pengetahuan dan keterampilan, sikap, nilai, perilaku dan karakteristik seseorang yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan tertentu dengan tingkat kesuksesan secara optimal. Pene liti an ini menggunakan terminologi/istilah kompetensi yang dirumuskan oleh SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia). SKKNI (2012, hlm. 2-3) ini menjelaskan bahwa “pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja diwujudkan dalam tiga kelompok unit kompetensi, yaitu Ke l omp o k Komp e t e n si Umum, Kelompok Kompetensi Inti dan Kelompok Kompetensi Khusus”. 1.Kompetensi Umum adalah kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh setiap pustakawan, diperlukan untuk melakukan tugas-tugas perpustakaan, meliputi: (1) Mengoperasikan Komputer Tingkat Dasar, (2) Menyusun Rencana Kerja Perpustakaan, (3) Membuat Laporan Kerja Perpustakaan. Kompetensi umum ini melekat dalam kompetensi inti dan khusus. 2.Kompetensi Inti adalah kompetensi fungsional yang harus dimiliki oleh setiap pustakawan dalam menjalankan tugastugas perpustakaan. Kompetensi inti mencakup unit-unit kompetensi yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugastugas inti dan wajib dikuasai oleh pustakawan. Kompetensi inti meliputi: ( 1 ) Me l a k u k a n Se l e k si Ba h a n Perpustakaan, (2) Melakukan Pengadaan Bahan Perpustakaan, (3) Melakukan Pengatalogan Deskriptif, (4) Melakukan Pengatalogan Subyek, (5) Melakukan Perawatan Bahan Perpustakaan, (6) Melakukan Layanan Sirkulasi, (7) Melakukan Layanan Referensi, (8) Melakukan Penelusuran Informasi Sederhana, (9) Melakukan Promosi Perpustakaan, (10) Melakukan Kegiatan Literasi Informasi, (11) Memanfaatkan Jaringan Internet untuk Layanan Perpustakaan. 3.Kompetensi Khusus merupakan kompetensi tingkat lanjut yang bersifat spesifik, meliputi: (1) Merancang Tata Ruang dan Perabot Perpustakaan, (2) M e l a k u k a n P e r b a i k a n B a h a n Perpustakaan, (3) Membuat Literatur Sekunder, (4) Melakukan Penelusuran Informasi Kompleks, (5) Melakukan Kajian Perpustakaan, (6) Membuat Karya Tulis Ilmiah. Pemaparan di atas menunjukkan bahwa pustakawan untuk memberikan pelayanan prima dibutuhkan ketiga kompetensi, yaitu kompetensi umum, kompetensi inti, dan kompetensi khusus.Kompetensi-kompetensi itu biasanya dapat diperoleh dari perguruan tinggi atau institusi induknya, workshop, pelatihan dan lain-lain. Definisi kualitas pelayanan berikut ini dikemukakan oleh Parasuraman, Zeithaml dan Berry (dalam Lupiyoadi, 2001, hlm. 148): Service quality is the extent of d i s c r e p a n c y b e t w e e n customersexpectation or desires and their perceptions. J a d i , s e r v i c e q u a l i t y d a p a t didefinisikan sebagai seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan pelanggan atas layanan yang mereka terima/peroleh. Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa selisih atau kesenjangan (gap) antara persepsi dan harapan konsumen sudah jelas terlihat.Jika jasa yang diberikan oleh penyedia pelayanan melebihi harapan konsumen, maka kualitas pelayanan dikatakan sangat baik.Bila pelayanan diberikan seperti yang diharapkan konsumen berarti kualitas pelayanan tersebut baik.Tetapi jika pelayanan yang diterima konsumen lebih rendah dari harapan, maka kualitas pelayanannya adalah buruk. Layanan prima adalah layanan yang membantu menyiapkan apa yang diperlukan seseorang dengan sangat baik sehingga kebutuhan informasi yang diharapkan pemustaka dapat terpenuhi dengan baik. Beragam definisi berkaitan dengan l ayanan prima (s e r v i c e excellence) telah dijelaskan dalam beberapa sumber rujukan. Pratiknyowati (dalam Emawati, 1998, hlm. 41-42) mendefinisikan bahwa: Pelayanan prima atau pelayanan unggul adalah suatu sikap atau cara petugas dokumentasi informasi perpustakaan (dokinfopus) dalam me l a y a n i p e n g g u n a s e c a r a memuaskan. Kemudian Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (dalam Achmad, dkk. 2012, hlm. 90-91) menyederhanakan sepuluh dimensi sebelumnya menjadi lima dimensi pokok. 1.Tangibles (bukti fisik) Berkenaan dengan fasilitas fisik, p e rl e n g k a p a n y a n g d i g u n a k a n perusahaan, serta penampilan karyawan. 2.Reliability (kehandalan) Kemampuan untuk memberikan layanan yang dijanjikan secara akurat dan tidak membuat kesalahan sejak awal serta menyampaikan jasanya sesuai dengan waktu yang disepakati. 3.Responsiveness (daya tanggap) Berkenaan dengan kesediaan dan kemampuan para karyawan untuk membantu pa r a pe l anggan dan memberikan jasa secara cepat. 4.Assurance (jaminan) Berarti bahwa para karyawan selalu be rsikap sopan dan mengua s a i pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan sehingga pelanggan menaruh kepercayaan penuh kepada perusahaan. 5.Empathy (empati) Berarti perusahaan sangat peduli dan bersedia memberikan perhatian secara individu kepada para pelanggan.

Result & Discussion

Pembahasan hasil penelitian dimaksudkan untuk menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan dan membuktikan kebenaran hipotesis. Terbukti bahwa kompetensi pustakawan mempunyai hubungan rendah dengan kualitas pelayanan, kompetensi umum memiliki hubungan yang sedang dengan kualitas pelayanan, kompetensi inti memiliki hubungan yang kuat dengan kualitas pelayanan, dan kompetensi khusus memiliki hubungan yang sedang dengan kualitas pelayanan. Pembahasan hasil penelitian akan dipaparkan berdasarkan rumusan masalah yang telah dirumuskan. Adapun penjelasan lebih rinci akan dipaparkan di bawah ini. 1 Hubungan antara KompetensiPustakawan dengan Kualitas Pelayanan pada Perpustakaan Universitas Islam Bandung Pembahasan mengenai hubungan kompetensi pustakawan dengan kualitas pelayanan pada perpustakaan Unisba berdasarkan hasil pengujian hipotesis melalui uji korelasi yang dilakukan menunjukkan bahwa terdapat hubungan kompetensi pustakawan dengan kualitas pelayanan pada perpustakaan Unisba yakni sebesar 0,524 yang berada pada interpretasi sedang dan signifikan. Kompetensi pustakawan memiliki hubungan yang sedang terhadap kualitas pelayanan pada perpustakaan Unisba. Hal ini dilihat dari pengukuran terhadap masing-masing sub variabel yang digunakan, yaitu kompetensi umum, kompetensi inti, dan kompetensi khusus. Dengan demikian pengujian hipotesis yang dilakukan menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H diterima, hal ini berarti 1 terdapat hubungan yang signifikan antara kompetensi pustakawan dengan kualitas pelayanan pada perpustakaan Unisba. Berdasarkan hasil dari pengolahan data di lapangan, kompetensi pustakawan memang memiliki hubungan yang kuat dengan kualitas pelayanan. Pustakawan Unisba merupakan lulusan dari S1 Informa si dan Pe rpust aka an di Universitas Padjadjaran, memang sudah sesuai dengan pekerjaannya sekarang sebagai pustakawan. Latar belakang pendidikan tersebut menjadi salah satu faktor pustakawan Unisba berkompeten dalam memberikan layanan kepada pemustaka. Faktor-faktor lainnya bisa didapat dari pelatihan-pelatihan atau seminar-seminar tentang perpustakaan. 2.Hubungan antara KompetensiUmum Pust akawan dengan Kua lit a s Pelayanan pada Perpustakaan Universitas Islam Bandung Untuk menge t ahui gamba r an kompetensi umum pustakawan dibuat dalam 4 butir pernyataan. Keempat pernyataan tersebut terdapat pada nomor 1, 2, 3, 4 pada angket. Sedangkan berdasarkan hasil pengujian korelasi masing-masing sub variabel yang dilakukan, dapat diketahui bahwa kompetensi umum pustakawan memiliki hubungan sebesar 0,482 dengan kualitas pelayanan, besaran hubungan tersebut berada pada tingkatan sedang jika dilihat dari tabel pedoman interpretasi koefisien korelasi. Hal ini berarti terdapat hubungan antara kompetensi umum pustakawan dengan kualitas pelayanan, karena k omp e t e n si umum me r u p a k a n kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh pustakawan. Dalam melaksanakan tugastugasnya pustakawan memang harus memiliki kompetensi umum ini, diantaranya mengoperasikan komputer dan membuat rencana kerja perpustakaan. Tanpa kompetensi ini mungkin perpustakaan akan ketinggalan zaman dan ditinggalkan oleh pemustakanya karena teknologi yang kurang dipahami oleh pustakawannya sendiri. Meskipun teknologinya sudah canggih dan sesuai zaman jika pustakawannya tidak mengerti bagaimana mengoperasikan teknologi tersebut, itu semua akan sia-sia. Berdasarkan kenyataan di lapangan, pustakawan Unisba sudah terlatih dalam mengoperasikan komputer dan hampir semua layanan menggunakan teknologi sesuai dengan perkembangan zaman. Karena segala tugas-tugas yang dikerjakan oleh pustakawan Unisba menggunakan komputer dan teknologi informasi. Sedangkan untuk pembuatan rencana kerja perpustakaan, pustakawan dituntut untuk mahir dalam membuat peraturan atau ketentuan untuk pemustaka. Rencana kerja tersebut harus disesuaikan dengan pemustakanya jangan sampai merugikan salah satu pihak, baik perpustakaannya sendiri maupun pemustaka. Namun pada kenyataannya, peraturan yang sudah ada pada perpustakaan Unisba membuat pemustaka kurang nyaman, misalnya ketentuan layanan peminjaman dan pengembalian bahan perpustakaan yang masih manual sehingga pada waktu istirahat pustakawan, mahasiswa tidak bisa melakukan transaksi layanan sirkulasi (peminjaman dan pengembalian bahan perpustakaan). Kompetensi ini merupakan tahap pertama yang harus dimiliki pustakawan, tanpa kompetensi ini pustakawan tidak mungkin memiliki kompe t ensikompetensi selanjutnya. Sejalan dengan pemaparan dalam SKKNI (2012, hlm. 23) bahwa “kompetensi umum ini melekat dalam kompetensi inti dan khusus”. 3. Hubungan antara KompetensiInti Pust akawan dengan Kua lit a s Pelayanan pada Perpustakaan Universitas Islam Bandung Untuk menge t ahui gamba r an kompetensi inti pustakawan dibuat dalam 15 butir pernyataan.Keempat pernyataan tersebut terdapat pada nomor 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19 pada angket.Sedangkan berdasarkan hasil pengujian korelasi masing-masing sub variabel yang dilakukan, dapat diketahui bahwa kompetensi inti pustakawan memiliki hubungan sebesar 0,687 dengan kualitas pelayanan, besaran hubungan tersebut berada pada tingkatan kuat jika dilihat dari tabel pedoman interpretasi koefisien korelasi.Hal ini berarti terdapat hubungan antara kompetensi inti pustakawan dengan kualitas pelayanan, karena kompetensi inti merupakan kompetensi fungsional yang harus dimiliki pustakawan.Seperti yang sudah dijelaskan dalam SKKNI (2012, hlm. 2-3) bahwa “kompetensi inti mencakup unitunit kompetensi yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas-tugas inti dan wajib dikuasai oleh pustakawan”.Dari pemaparan tersebut pustakawan wajib memiliki kompetensi inti ini untuk menunjang seluruh kegiatan yang ada di perpustakaan Unisba.Kompetensi ini mencakup kemampuan pustakawan dalam memberikan layanan, diantaranya layanan sirkulasi, layanan referensi, dan lain-lain.Berdasarkan kenyataan di lapangan, pustakawan Unisba sudah mampu melakukan setiap layanan yang ada di perpustakaan dengan baik untuk memenuhi kebutuhan informa si pemustaka. Pustakawan juga harus memiliki kemampuan untuk mempromosikan perpustakaannya agar orang-orang yang tidak tahu koleksi atau layanan yang ada di perpustakaan menjadi tahu dan be rmina t untuk be rkunjung ke perpustakaan serta pustakawan mampu melakukan kegiatan literasi informasi dengan memanfaatkan jaringan internet untuk berbagi informasi dan layanan p e r p u st a k a a n me l a l u i w e b si t e perpustakaan Unisba. Apabila pustakawan berbagi informasi dalam berbagai media, maka pemustaka a k a n m e r a s a k e b u t u h a n a k a n informasinya telah terpenuhi dengan berbagai strategi yang dilakukan oleh perpustakaan. Dengan demikian pelayanan yang diharapkan pemustaka akan t e rl aks ana s e sua i dengan kemampuan yang dimiliki pustakawan. Namun pada kenyataannya, pustakawan Unisba belum mampu memanfaatkan media yang sudah ada untuk melakukan promosi diantaranya melalui banner, brosur, dan lain-lain.Pustakawan Unisba juga kurang berperan aktif dalam memberikan informasi secara lisan kepada pemustaka yang melakukan transaksi layanan sirkulasi, layanan referensi, maupun layanan lainnya. 4. Hubungan antara KompetensiKhusus Pust akawan dengan Kua lit a s Pelayanan pada Perpustakaan Universitas Islam Bandung Untuk menge t ahui gamba r an kompetensi khusus pustakawan dibuat dalam 5 butir pernyataan. Kelima pernyataan tersebut terdapat pada nomor 20, 21, 22, 23, 24 pada angket. Sedangkan berdasarkan hasil pengujian korelasi masing-masing sub variabel yang dilakukan, dapat diketahui bahwa kompetensi khusus pustakawan memiliki hubungan sebesar 0,599 dengan kualitas pelayanan, besaran hubungan tersebut berada pada tingkatan sedang jika dilihat dari tabel pedoman interpretasi koefisien korelasi. Hal ini berarti terdapat hubungan antara kompetensi khusus pustakawan dengan kualitas pelayanan, karena k omp e t e n si k h u s u s me r u p a k a n kompetensi tingkat lanjut yang harus dimiliki pustakawan. Kompetensi ini lebih spesifik lagi mencakup kemampuan pustakawan untuk membuat sumber cadangan atau literatur sekunder dan membuat karya tulis ilmiah tentang perpustakaan yang disajikan bagi pemustaka yang membutuhkan. Sehingga pemustaka dapat menggunakan layanan tersebut untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Namun pada kenya t a annya , pustakawan Unisba sejauh ini membuat karya tulis ilmiah hanya untuk memenuhi persyaratan mengikuti beberapa kegiatan seperti user education, jabatan fungsional, dan lain-lain.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, kenyataan di lapangan menunjukkan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kompetensi pustakawan dengan kualitas pelayanan. Kompetensi pustakawan memiliki tingkat hubungan yang sedang dengan kualitas pelayanan pada perpustakaan Unisba. Terdapat hubungan yang sedang dan signifikan antara kompetensi umum pustakawan dengan kualitas pelayanan. Terdapat hubungan yang kuat dan signifikan antara kompetensi inti pustakawan dengan kualitas pelayanan. Terdapat hubungan yang sedang dan signifikan antara kompetensi khusus pustakawan dengan kualitas pelayanan.