Kembali
16
1
2018 Edulibinfo Vol 5 · 1 ISSN 2541-3279

EFEKTIVITAS VLOG SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN PEMUSTAKA TERHADAP KEMAMPUAN PENELUSURAN INFORMASI DI PERPUSTAKAAN (Pre Eksperimental pada Peserta Didik SMA N 5 Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia

Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi dari perlunya inovasi pada pendidikan pemustaka yang dilaksanakan oleh perpustakaan sekolah dengan memanfaatkan perkembangan teknologi saat ini. Penelitian ini bertujuan mengetahui keefektivitasan vlog sebagai media pendidikan pemustaka terhadap kemampuan pemustaka dalam penelusuran informasi di Perpustakaan SMA N 5 Bandung. Metode penelitian yang digunakan ini ialah kuasi eksperimen pada satu kelompok sampel. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas 10 SMA N 5 Bandung. Sampel pada penelitian ini ialah kelas 10-G yang menerima pendidikan pemustaka dengan materi penelusuran informasi melalui media vlog. Dalam penelitian ini data diperoleh dari hasil pretes dan postes, serta lembar observasi dang angket untuk melangkapi data terkait gambaran vlog dan pelaksanaan pendidikan pemustaka. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini ialah vlog pendidikan pemustaka berupa channel pendidikan pemustaka perpustakaan SMA N 5 Bandung pada situs youtube, yang memuat video asinkron berisi materi penelusuran informasi. Pendidikan pemustaka dilaksanakan melalui vlog, dimana pemustaka dapat mengaksesnya masing-masing melalui alamat URL yang disediakan Terdapat efektivitas vlog sebagai media pendidikan pemustaka terhadap kemampuan penelusuran infortmasi di perpustakaan, yang ditunjukan dari perbedaan yang signifikan antara kemampuan awal dan kemampuan akhir penelusuran informasi.

Abstract

This research was motivated by the existence of social media trends in the form of online media, which can become an innovation in a library. This study was aimed to discover the effectiveness of a vlog as an users education media on the information seeking ability in library of SMAN 5 Bandung. The research method used in this study was a pre-experimental on a sample group. The population in this research was students from class 10 (ten) of SMAN 5 Bandung. The sample of this research was the 10-G class students that received user education with the material for information searching through a vlog. In this research, the data were collected from pre-test and post-test results, an observation sheet, and a questionnaire in order to complete the data related to vlog description and the implementation of user education. The conclusion obtained from this research was that user education vlog in the form of SMA N 5 Bandung library user education on youtube site, load asyncron video containing information seeking material. User education implemented trough vlog, where user’s can acces each by the URL addres that has been provide. There were an effectivity of vlog as a user education media on the information seeking ability in a library, which was shown from a significant difference between the initial ability and final ability on the information searching.
Keywords: user education · information seeking · vlogs

Introduction

Perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber informasi, akan selalu terlibat dengan pengguna yang memiliki berbagai keinginan, kemampuan literasi informasi serta karakter yang berbeda. Perpustakaan sekolah memiliki peranan yang sangat penting, hal ini terkait dengan fungsi perpustakaan selaku pusat informasi bagi seluruh warga sekolah. Terkait hal itu, petugas perpustakaan tidak dapat melakukannya pendampingan setiap saat kepada pemustaka dalam menemukan informasi yang dibutuhkannya. Maka dari itu, perpustakaan dapat memberikan pengajaran bagi pemustaka terkait bagaimana memanfaatkan fasilitas dan layanan yang ada di perpustakaan untuk menemukan informasi, termasuk menyaring informasi tersebut. Kegiatan tersebut disebut dengan pendidikan pemustaka. Pendidikan pemustaka dapat dilaksanakan dengan berbagai metode, baik dilakukan dengan pertemuan langsung dengan pemustaka (orientasi perpustakaan), kunjungan/ tour perpustakaan, maupun melalui mediamedia seperti buku pengayaan. Dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, pendidikan pemustaka dapat dirancang lebih ringkas dan menarik. Perkembangan dalam media sosial barubaru ini melahirkan berbagai tren baru yang dapat diaplikasikan dalam kegiatan perpustakaan, salah satunya adalah video blogging atau yang lebih dikenal dengan video blog/vlog, yaitu sebuah kegiatan blog yang menggunakan video untuk menyampaikan informasi. Vlog merupakan salah satu aplikasi media sosial yang populer saat ini. Molyneaux (dalam Mogallapu, 2011) mendefinisikan video blogging atau vlog sebagai kegiatan memproduksi dan membagikan video kepada pengguna. vlog sama seperti blog, namun yang berbeda adalah vlog menggunakan video tanpa teks untuk menyampaikan informasi. Jika pada blog hanya memerlukan alat pengedit teks, maka vlog juga memerlukan alat perekam video dan pengunggah. Berangkat dari hal diatas, timbul ketertarikan peneliti untuk mengetahui bagaimana respon pemustaka jika pendidikan pemusataka yang dilaksanakan perpustakaan sekolah menggunakan media video blog. Berdasarkan pada latar belakang masalah diatas, rumusan masalah umum dari penelitian ini adalah “Bagaimana efektivitas vlog sebagai media pendidikan pemustaka terhadap kemampuan penelusuran informasi di Perpustakaan SMA N 5 Bandung?” Adapun Rumusan masalah khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Bagaimana gambaran vlog sebagai media pendidikan pemustaka untuk meningkatkan kemampuan penelusuran informasi di perpustakaan SMA N 5 Bandung? b. Bagaimanakah pelaksanaan program pendidikan pemustaka dengan media vlog untuk meningkatkan kemampuan penelusuran informasi di perpustakaan SMA N 5 Bandung? c. Apakah terdapat perbedaan kemampuan penelusuran informasi pemustaka sebelum dan sesudah pelaksanaan pendidikan pemustaka? Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektivitasan vlog sebagai media pendidikan pemustaka terhadap kemampuan pemustaka dalam penelusuran informasi di Perpustakaan SMA N 5 Bandung. Dengan tujuan khusus sebagai berikut: a. Mengetahui gambaran vlog sebagai media pendidikan pemustaka untuk meningkatkan kemampuan penelusuran informasi di perpustakaan SMA N 5 Bandung b. Mengetahui gambaran pelaksanaan program pendidikan pemustaka dengan media vlog untuk meningkatkan kemampuan penelusuran informasi di perpustakaan SMA N 5 Bandung c. Mengetahui perbedaan kemampuan penelusuran informasi pemustaka sebelum dan sesudah pelaksanaan pendidikan pemustaka. TINJAUAN PUSTAKA Pendidikan Pemustaka Pendidikan pemakai atau pendidikan pemustaka dalam bahasa inggris dikenal sebagai user education yang kadang juga disebut user instruction. Sutarno (2006) mendifinisikan pendidikan pemustaka di perpustakaan sebagai “kegiatan yang dilakukan oleh petugas layanan untuk menjelaskan seluk-beluk perpustakaan, diantaranya pemanfaatan perpustakaan, persyaratan keanggotaan, tata tertib, jenis layanan, kegunaan sistem katalogisasi dan klasifikasi, serta partisipasi masyarakat di dalam perpustakaan. Semua dikerjakan dalam rangka memberikan pengetahuan dan keterampilan masyarakat pemakai dan memanfaatkan perpustakaan, secara cepat dan tepat tanpa banyak menghadapi kesulitan. Adapun hal-hal yang mendasari pelaksanaan pendidikan pemustaka ialah agar perpustakaan yang dikembangkan dengan biaya mahal dimanfaatkan secara maksimal oleh pemustaka. Selain itu, sumber informasi yang disediakan barada pada tempat dan tujuan yang tepat dalam memenuhi kebutuhan informasi. Fungsi pendidikan pemustaka pada dasarnya adalah agar supaya layanan informasi yang disediakan perpustakaan dapat digunakan secara mandiri oleh pemustaka. Tujuan pendidikan pemustaka adalah untuk memperkenalkan kepada pengguna bahwa perpustakaan adalah suatu sistem, yang terdiri dari tempat, koleksi, sumber daya manusia, pelayanan dan pemustaka. Semua hal tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain (Rahayuningsih, 2007). Pendidikan pemustaka yang dirancang dalam pelaksanaanya tentu memiliki materi pokok yang akan disampaikan, Ade Abdul Hak (2004) memaparkan, materi yang disampaikan dalam pendidikan pemustaka antara lain: a. Orientasi Perpustakaan, Orientasi perpustakaan meliputi pengenalan gedung perpustakaan, pengenalan katalog dan alat penelusuran lainya, dan pengenalan beberapa sumber bacaan termasuk bahan rujukan dasar atau referensi. b. Pengajaran Perpustakaan. Berisi materi penjelasan lebih dalam lagi mengenai bahan-bahan perpustakaan secara spesifik. c. Pengajaran Bibliografi Pengajaran bibliografi ini berisi materi yang lebih condong sebagai langkah persiapan mengadakan atau sebagai dasar penelitian dalam rangka penyusunan tugas/karya tulis akhir. Ade Abdul Hak (2004) mengemukakan ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam melaksanakan pendidikan pemustaka, diantaranya: a. Presentasi Atau Ceramah Dikelas b. Wisata Perpustakaan c. Penggunaan Audio-Visual d. Pengunaan Buku Pedoman Atau Pamflet Pemilihan tata cara pendidikan pemustaka dilakukan dengan melihat kebutuhan perpustakaan dan jumlah pemustaka, menggunakan satu metode atau kombinasi dari beberapa metode. Media Pendidikan Kata media berasal dari basa Latin “medium” yang berarti pengantar atau perantara. Gagne (dalam Sadiman dkk., 2009) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar. Sementara Briggs menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Pada dasarnya kegunaan media pendidikan ialah untuk menyampaikan pesan dari guru kepada siswa agar terjadinya proses belajar. Sadiman dkk (2009) menyatakan bahwa media pendidikan memiliki kegunaan sebagai berikut: a) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifast verbalisitis. b) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera. c) Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik. d) Keunikan sifat setiap siswa yang ditambah dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, akan menimbulkan kesulitan untuk ditangani secara sediri oleh guru. Sadiman dkk dkk (2009) mengidentifikasi media pendidikan kedalam beberapa jenis media yang sering dipakai di Indonesia, yaitu: a. Media grafis: media ini termasuk dalam media visual. b. Media Audio: media ini adalah media yang berkaitan dengan indera pendengaran. c. Media proyeksi diam: media ini memiliki persamaan dengan media grafik, dimana media ini menyajikan rangsangan secara visual dengan menggunakan alat proyeksi diam. Video Blog Sebagai Media Pendidikan Pemustaka Video blog merupakan media baru yang dihasilkan dari perkembangan pesat TIK, khususnya perkembangan internet. Selain itu semakin bertambahnya konten internet yang berupa video, serta hadirnya situs yang menyediakan layanan untuk membagikan video seperti YouTube, membuat pelaku vlog semakin bertumbuh. Molyneaux (dalam Mogallapu, 2011) mendefinisikan video blogging atau vlog sebagai kegiatan memproduksi dan membagikan video kepada pengguna. Vlog sama seperti blog, namun yang berbeda adalah vlog menggunakan video tampa teks untuk menyampaikan informasi. Jika pada blog hanya memerlukan alat pengedit teks, maka vlog juga memerlukan alat perekam video dan pengunggah. Vlog berbeda dengan video sharing. Sebuah situs berbagi video (video sharing) mungkin saja berisi berbacai macam video (misalnya iklan, review film, dan berita). Sedangkan video blog adalah rekaman video yang dihasilkan oleh individu secara mandiri dan isi dari video itu biasanya terkait dengan kehidupan seseorang atau opininya tentang suatu isu. Perangkat (hardware maupun software) yang dibutuhakan dalam membuat vlog diantaranya: a) Alat perekam video: terdiri dari kamera, microphone, dan memori penyimpan data. b) Perangkat untuk mengedit video: berupa komputer dan aplikasi khusus untuk mengedit video. c) Jaringan internet dan boardband: ini dibutuhkan untuk mengunggah video. Wen Gao dkk (2010, hal. 5) mengungkapkan siklus kehidupan sebuah vlog memiliki tiga tahap, yaitu: a) Membuat: Pada tahap ini, vlogger membuat dan mengedit sebuah video, dan meng-upload-nya ke situs hosting dan kemudian sebuah vlog baru telah dihasilkan. b) Memposting: Vlog baru telah didistribusikan secara online dan mulai dikenali di vlogosphere dan sering terhubung ke vlog yang lain. c) Mengarsipkan: Ketika vlog menjadi ketinggalan zaman atau kurang berguna, vlog akan diarsipkan atau bahkan dihapus. Penelusuran Informasi Jusni Djatin (1996, hal. 1) memaparkan bahwa: penelusuran informasi adalah mencari kembali informasi yang pernah ditulis orang mengenai suatu topik tertentu. Informasi tersebut terdapat dalam publikasi yang diterbitkan baik didalam maupun di luar negeri. Penelusuran informasi dapat dilakukan secara manual ataupun dengan bantuan komputer (perangkat pencarian informasi). Untuk menemukan informasi yang relevan dengan kebutuhan, terdapat tahapan yang ditujukan untuk menemukan informasi sesuai dengan topik yang dinginkan dan menguranggi kesalahan dalam melakukan penelusuran. Chowdhury (dalam Purwono, 2008) mengemukakan pencarian terpasang (online) mempunyai tahap-tahap sebagai berikut: a. Pelajari topik yang akan dicari sampai paham, apa sebenarnya yang diperlukan oleh pencari informasi. b. Dapatkan akses ke sebuah jasa informasi terpasang c. Mandaftar (logon) ke penyedia jasa yang dilanggan d. Memilih pangkalan data yang sesuai dengan kebutuhan pencari informasi e. Merumuskan pertanyaan untuk memulai pencarian informasi f. Memilih format tampilan g. Merumuskan kembali pertanyaan, jika diperlukan h. Menetapkan modus pengiriman hasil pencarian. Sebelum melakukan penelusuran, seorang yang membutuhkan informasi harus terlebih dahulu mengetahui kebutuhan informasinya. Selanjutnya adalah mengidentifikasi alat penelusuran yang tepat, apakah dilakukan secara manual menggunakan sumber tercetak (misalnya di perpustakaan) atau melalui internet (secara online) untuk mengakses pangkalan data. Secara manual, penelusuran informasi di perpustakan dapat dilakukan dengan menggunakan, katalog perpustakaan, bibliografi, indeks, abtrsak, ensiklopedia, kamus dan meminta bantuan pustakawan. Penelusuran secara online dilakukan guna menemukan informasi yang ada di pangkalan data internet. Adapun informasi tersebut dapat ditelusuri melalui search engine. Informasi yang tersedia secara online merupakan informasi yang beragam bentuk dari sisi konten informasi, maupun format berkasnya (file). Format berkas/ tipe dokumen itu dapat diketahui dari tiga atau empat huruf yang ada di akhir URL-nya. Adapun strategi dalam penelusuran informasi di internet sebagaimana yang dikutib dari Purwono (2008) adalah sebagai berikut: 1) Menentukan Kata Kunci Dalam penelusuran secara online, menentukan kata kunci akan sangat mempengaruhi hasil pencarian. Kesalahan pengetikan kata kunci sekalipun akan menyebabkan berbedanya hasilnya pencarian dari yang ingin ditemukan. 2) Menggunakan Fasilitas Pencarian Banyak tersedia fasilitas pencarian pada search engine untuk membantu penelusuran informasi, adapun fasilitas itu diantaranya: - Logika Boolean (Boolean logic) AND, OR, NOT. - Frasa (Phrase search). - Pemenggalan (Truncation). - Pembatasan field. - Akses langsung ke alamat situs (URL). - Case sensitive. Tinjauan Perpustakaan Sekolah Andi Prastowo (2012, hal. 45) mengemukan bahwa perpustakaan sekolah ialah sarana penunjang pendidikan di sekolah yang berupa kumpulan bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun bukan buku. Kumpulan bahan pustaka tersebut diorganisasi secara sistematis dalam satu ruang sehingga dapat membantu siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Sehingga dengan demikian, perpustakaan turut serta dalam menyukseskan pencapaian tujuan lembaga pendidikan. Dalam PBM, perpustakaan sekolah berperan sebagai media penunjang, dimana guru dapat memanfaatkannya sebagai sumber sumber pembelajaran, dan siswa dapat menggunakan perpustakaan sebagai sumber informasi dalam menyelesaikan tugas-tugas mata pelajaran yang diterima dalam PBM. Sama sepertihalnya perpustakaan umum, perpustakaan sekolah pun memiliki fungsi yang tak hanya terbatas pada penyediaan informasi. Pelaksaaan fungsi-fungsi perpustakaan tak bisa lepas dari tujuan perpustakaan itu sendiri. Menurut Sutarno (2006, hal. 25) “Tujuan perpustakaan adalah agar terciptanya masyarakat yang terdidik, terpelajar, terbiasa membaca dan berbudaya tinggi”. Sebagaimana perpustakaan secara umumnya, perpustakan sekolah selaku jantungnya sekolah pun adalah sebagai pusat sumber informasi sekolah, yang mana informasi ini peruntukkan bagi seluruh warga sekolah guna mendukung berlangsungnya kegiatan belajarmengajar dan rekreasi serta penelitian siswa dan warga sekolah lainya. Informasi yang umunya terkumpul dalam perpustakaan sekolah adalah yang berkaitan dengan mata pelajaran dan kurikulum di sekolah. DDC Sebagai Sistem Klasifikasi dan Penelusuran Koleksi di Perpustakaan DDC adalah sistem klasifikasi perpustakaan yang diciptakan oleh Melvil Dewey (1851-1931). Dalam sistem klasifikasi ini, Dewey membagi ilmu pengetahuan menjadi 10 bidang, yang masing-masing diberi symbol angka 0-9 (Suwarno, 2010). Adapun kesepuluh bidang pengetahuan yang menjadi kelas utama dalam klasifikasi DDC yaitu: 000 - Karya Umum 100 - Filsafat 200 - Agama 300 - Ilmu Sosial 400 - Bahasa 500 - Ilmu Murni/Alam 600 - Ilmu Terapan 700 - Kesenian dan olahraga 800 - Kesustraan 900 - Sejarah dan Geografi Setiap kelas utama tersebut dibagi dalam 10 divisi yang merupakan subordinasi dari kelas utama. Selanjutnya setiap divisi dibagi lagi dalam 10 seksi, serta setiap seksi dibagi lagi dalam 10 subseksi. Selain memuat notasi bagan utama, DDC menyediakan bagan tabel pembantu dan indeks subjek. Adapun tabel-tabel tersebut adalah 1) Tabel Subdivisi Standar 2) Tabel Wilayah 3) Subdivisi Sastra 4) Subdivisi Bahasa 5) Tabel Ras, Etnik dan Kebangsaan 6) Tabel Bahasa

Method

Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menegah Atas Negeri 5 Bandung, yang beralamatkan di Jalan Belitung nomor 8, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Adapun responden dari penelitian ini adalah pemustaka (siswa) perpustakaan sekolah SMA N 05 Bandung, khususnya kelas X. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode pre eksperimental dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Adapun bentuk rancangan pre eksperimental yang akan dilaksanakan adalah berupa one group pretest-posttest design, yaitu (hanya) ada satu kelompok eksperimen yang ada di dalamnya termasuk/diberikan pretest dan posttest, tetapi tidak ada kelompok kontrol. Berikut adalah gambaran one group pretest-posttest design menurut Campbell (1979) adalah sebagaimana dalam diagram dibawah ini : O1 X O2 Keterangan: O1 = Tes awal (pretest) O2 = Tes akhir (posttest) X = pemberlakuan treatment Penelitian ini dimulai dengan membuat video pendidikan pemustaka yang kemudian akan unggah ke vlog sebagai media treatment dalam penelitian ini, lalu melakukan test awal kepada sampel sebelum pemberlakuan treatment, setelah itu melaksakan test akhir. Terakhir adalah melakukan perbandingan rerata antara hasil test awal dan test akhir. Berikut adalah bagan yang mengambarkan desain penelitian ini: Membua t video pendidik an pemusta ka Melaksa nakan tes awal (Prestes t) kemamp uan pengaks esan informa si terhadap sampel Pembel akukan treatme nt dengan media vlog Melaksa nakan tes akhir (Postest) kemamp uan pengaks esan informas i terhadap sampel Membandingkan rerata antara hasil tes awal dan tes akhir Menarik kesimpulan untuk menjawab hipotesis penelitian Gambar 1 Bagan pelaksanaan penelitian kuasi ekseperimen Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah tes objektif yang berupa pilihan ganda, angket dan lembar observasi. Tes ini dipilih guna mengetahui sejauh mana pengaruh perlakuan pendidikan pemustaka dengan media vlog terhadap kemampuan pengaksesan informasi di perpustakan. Lembar observasi digunakan untuk mengetahui proses pelaksanaan pembuatan video dan pendidikan pemustaka di lapangan. Sedangkan angket ditujukan untuk mengetahui gambaran vlog, itensitas penggunaan, dan situs/web berbagi vlog yang sering digunakan pemustaka Teknik Analisis Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan kualitatif. Adapun Pada data kuantitatif diolah dengan melakukan uji statistika terhadap data dengan data N-gain. Namun pada data pretes dan postes dilakukan sampai uji deskriptif saja. Analisis data dilakukan dengan batuan software IBM Statistical Product and Service Solution (SPSS) 20 for windows, yang dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: a. Analisis data tes awal (pretest) Hasil pretes dari kelas eksperimen dianalisis secara deskriptif. b. Analisi data test akhir (posttest) Hasil postes kelas eksperimen, dianalisis uji secara deskriptif. c. Analisis data Gain Ternomalisasi (NGain) Penghitungan tersebut diperoleh dari nilai pretes dan postes. Pengelolahan N-Gain (Hake, 1999) dihitung dengan rumus: 𝑁 − 𝑔𝑎𝑖𝑛 = 𝑆𝑝𝑜𝑠 − 𝑆𝑝𝑟𝑒 𝑆𝑀𝐼 − 𝑆𝑝𝑟𝑒 Keterangan: N-gain : Gain ternormalisasi 𝑆𝑝𝑟𝑒 : skor pretes 𝑆𝑝𝑜𝑠 : skor postes SMI : skor maksimal ideal Sebelum melakukan uji hipotesis pada data N-gain, dilakukan terlebih dahulu uji normalitas data N-gain. Adapun peningkatan kemampuan yang terjadi pada sampel, dapat dilihat melalui penghitungan dengan rumus N-gain, yang diinterprestasikan kedalam kriteria N-gain sebagaimana dalam tabel berikut ini: Tabel 3. 1 Kriteria tingkat N-Gain N-gain Keterangan N-gain > 0.7 Tinggi 0,3 < N-gain ≤ 0,7 Sedang N-gain ≤ 0,3 Rendah 1. Uji Normalitas Hipotesis yang digunakan dalam uji normalitas ini ialah: H0: data N-gain berasal dari data yang berdistribusi normal. H1: data N-gain berasal dari data yang berdistribusi tidak normal. Pengujian dilakukan dari populasi berdistribusi normal dengan taraf signifikansi sebesar 5% (α = 0.05) dengan kriteria sebagai berikut: a) Jika nilai sig ≥ 5% maka H0 diterima. b) Jika nilai sig < 5% maka H0 ditolak. 2. Uji Hipotesis Pengujian hipotesis dilakukan guna memeriksa apakah hipotesis yang diajukan dapat diterima atau ditolak. Pada penelitian ini, uji hipotesis menggunakan uji t satu sampel (one sampel t test), yang mana syaratnya adalah data yang digunakan merupakan data berdistribusi normal. Adapaun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: t = X̅−μ0 s √n (Sugiyono, 2013) Keterangan: t = nilai t yang dihitung µ = nilai yang dihipotesiskan s = simpangan baku sampel n = jumlah anggota sampel Uji hipotesis dilakukan dengan bantuan software IBM SPSS Statistics 20 for windows. Kriteria pengambilan kesimpulan uji hipotesis adalah: a. Jika thitung ≤ ttabel maka H1 ditolak dan H0 diterima b. Jika thitung > ttabel maka H1 diterima dan H0 ditolak Selanjutnya data kualitatif yang didapati dalam penelitian, tahapan analisisnya adalah sebagai berikut: a. Data Angket Data yang diperoleh dari angket memberikan gambaran mengenai vlog yang biasa diakses pemustaka. Analisis data dilakukan dengan melihat kecenderuman mayoritas jawaban dari responden, hal ini karena angket yang digunakan bersifat terbuka, sehingga analisis dilakukan dengan membuat gambaran umum dari jawaban responden secara deskriptif. b. Data Observasi Data observasi memberikan gambaran mengenai aktivitas produksi dan kegiatan pendidikan pemustaka yang dilaksanakan. Adapun data yang diperoleh diolah dan dianalisis secara deskriptif

Result & Discussion

Gambaran Vlog sebagai Media Pendidikan Pemustaka di Perpustakaan SMA N 5 Bandung Pengambilan data terkait dengan gambaran vlog yang digunakan dalam pendidikan pemustaka di perpustakaan SMA N 5 Bandung ini ditujukan mengetahui kegiatan produksi video yang digunakan dan penggunaan vlog oleh pemustaka. Untuk menjawab hal tersebut digunakanlah observasi dan angket. Berikut adalah uraian hasil akhir analisis lembar observasi kegiatan pendidikan pemustaka: 1) Lokasi perekaman video ada 2 tempat, yaitu di perpustakaan SMAN 5 Bandung untuk merekam video penelusuran manual dan orientasi perpustakaan. Perekaman selanjutnya dilakukan di kostan peneliti untuk video penelusuran online. 2) Alat yang digunakan untuk rekaman terdiri dari: Kamera canon 700D untuk merekam video, tripod untuk menyesuaikan posisi pengambilan video, dan mikropon 3) Pengeditan dilakukan menggunakan komputer pribadi (PC) peneliti dengan aplikasi Adobe Premiere Pro CC 2017. 4) Pemeran dalam video adalah peneliti sendiri selaku pihak yang menyamnpaikan materi. 5) Vlog ditujukan kepada siswa SMAN 5 Bandung kelas 10-G (sebagai kelas eksperimen). 6) Selanjutnya vlog ditujukan untuk seluruh pemustaka perpustakaan SMAN 5 Bandung. Untuk melengkapi data mengenai gambaran penggunan vlog, maka di sebarkanlah angket terbuka kepada sampel yang berjumlah 32 siswa pada saat pelaksanaan tes awal (pretest). Angket terdiri dari 3 indikator yang dibagi dalam 5 pertanyaan singkat. Berikut adalah tafsiran dari data angket pada kelas eksperimen: 1) Berdasarkan itensitas 15,7% siswa tidak pernah mengakses vlog, 62,5% siswa kadang-kadang mengakses vlog, dan 21,8% sering mengakse vlog. 2) Rata-rata waktu yang digunakan untuk mengakses vlog dalam satu minggu adalah 4 jam. Adapun waktu yang paling banyak digunakan siswa untuk mengakses vlog adalah 21 jam dalam seminggu. 3) Jenis vlog yang diakses adalah, dayly vlog, travel vlog, vlog edukasi, dan tutorial DIY (doing by yourself). 4) Situs vlog yang diakses adalah youtube dan indoxxl. 5) Alasan siswa mengakses vlog adalah mengisi waktu luang, sebagai hiburan, ragam konten menarik pada vlog, untuk bahan belajar, karena akses vlog yang gratis, dan sebagai inspirasi. Vlog dalam penelitian ini merupakan media pendidikan, yang berfungsi sebagai perantara untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik. Vlog dapat diartikan sebagai alat, metode (dengan video) dan teknik yang digunakan untuk menyampaikan instruksi dalam pembelajaran. Penggunaan vlog juga bertujuan untuk mengefektifkan komunikasi antara guru dan siswa, dimana pengajaran dapat dilakukan di luar kelas. Hal ini senada dengan yang dikekemukakan oleh Umar (2013), yang menyatakan bahwa media pendidikan adalah alat, metodik dan teknik yang digunakan sebagai perantara komunikasi antara seorang guru dan murid dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan pengajaran di sekolah. Vlog untuk pendidikan pemustaka ini menggunakan video asinkron (telah di edit) sebagai bahan instruksi. Dalam pembuatannya, vlog ini menggunakan kamera DSLR yang dilengkapi oleh tripod dan mikropon untuk merekam video, lalu diedit dengan aplikasi Adobe Premiere Pro CC 2017. Wen Gao dkk (2010) mengemukakan 3 tahap siklus hidup sebuah vlog, yaitu: a. Membuat: merekam, mengedit dan mengunggah ke situs hosting. b. Memposting: mendistribusikan secara online kepada pengguna. c. Mengarsipkan: vlog tidak digunakan lagi. Berdasarkan pada teori tersebut, vlog yang digunakan dalam pendidikan pemustaka ini berada dalam tahap pertama dan kedua, dimana vlog dibuat dan dibagikan secara online kepada pemustaka yang dalam hal ini adalah pengguna vlog untuk pembelajaran. Pelaksanaan Pendidikan pemustaka di Perpustakaan SMA N 5 Bandung Aktivitas pelaksanaan pendidikan pemustaka kepada sampel dipantau melalui lembar observasi, yang dijabarkan melalui data kualitatif. Berikut adalah uraian hasil akhir analisis lembar observasi kegiatan pendidikan pemustaka: 1) Sasaran pendidikan pemustaka ini adalah siswa baru SMAN 5 Bandung, yang mana dalam hal ini adalah siswa kelas 10 2) Pendidikan pemustaka dilakukan via vlog pada situs berbagi video Youtube. Video pendidikan pemustaka di unggah pada situs http://www.youtube.com dengan nama channel Pendidikan Pemustaka Perpustakaan SMA N 5 Bandung. Selanjutnya alamat URL https://youtu.be/0F9rsz1uvLI untuk mengakses langsung vlog dibagikan kepada kelas eksperimen. Siswa diminta untuk mengakses secara mandiri vlog pendidikan pemustaka tersebut melalui gadget mereka.3) Pelaksanaan pendidikkan pemustaka dengan vlog dilaksanakan pada tanggal 6-7 agustus 2017 4) Pendidikan pemustaka dilaksanakan selama 2 hari Berdasarkan pada hasil observasi dan analisi dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pendidikan pemustaka di perpustakaan SMA N 5 Bandung dilaksanakan dengan menyasar pada pemustaka baru (siswa kelas 10), yang dilaksanakan dengan mengunakan vlog (video yang dapat diakses secara online) dalam waktu yang singkat. Pendidikan pemustaka adalah bimbingan pada pemustaka tentang cara pemanfaatan koleksi bahan pustaka yang disediakan secara efektif dan efisien, bimbingan itu dapat berupa bimbingan individu ataupun secara kelompok. Pelaksanaan pendidikan pemustaka ini mendorong pemustaka untuk dapat mengakses koleksi dan informasi secara mandiri melalui sistem temu balik yang disediakan perpustakaan. Selain itu, pemustaka didorong untuk dapat memanfaatkan fasilitas penelusuran online guna menemukan informasi yang mereka butuhkan jika informasi tersebut tidak tersedia di perpustakaan. Hal ini sejalan dengan yang dikemukan oleh Sutarno (2006), dimana salah satu fungsi dari pendidikan pemustaka ialah agar pemustaka dapat menggunakan sarana temu informasi yang tersedia seperti nomor klasifikasi, katalog dan petunjuk lainya, dan agar pemustaka dapat dengan cepat dan tepat menemukan apa yang diperlukan, tanpa banyak membuang waktu, tidak menemui kesulitan atau hambatan. Selanjutnya setiap pendidikan pemustaka memiliki tujuan yang ingin dicapai. Pelaksanaan pendidikan pemustaka ini bertujuan agar pemustaka dapat menggunakan sumber-sumber literatur, agar menemukan sumber literatur, dan menemukan informasi yang relevan dengan masalah yang dihadapinya. Selain itu tujuan lain ialah memberikan latihan atau petunjuk dalam menggunakan perpustakaan dan sumbersumber informasi agar pemustaka mampu meneliti suatu masalah, menemukan materi yang relevan, mempelajari dan memecahkan masalah. Hal ini sejalan dengan yang dikumakan oleh Rahayuningsih (2007) mengenai tujuan pendidikan pemustaka yang diantaranya: a. Memungkinkan pemustaka menggunakan sumber-sumber literatur, agar menemukan sumber literatur, dan menemukan informasi yang relevan dengan masalah yang dihadapinya. b. Memberikan latihan atau petunjuk dalam menggunakan perpustakaan dan sumber-sumber informasi agar pemustaka mampu meneliti suatu masalah, menemukan materi yang relevan, mempelajari dan memecahkan masalah. Setiap pendidikan pemustaka yang dilaksanakan memiliki materi pokok yang disampaikan, umumnya mengenai pengenalan perpustakaan. Pendidikan pemustaka yang dilaksanakan di perpustakan SMAN 5 Bandung merupakan pendidikan pemustaka dengan materi pengajaran perpustakaan, hal ini karena materi utama yang disampaikan adalah penelusuran informasi. Hal ini sejalan dengan apa yang dipaparkan oleh Ade Abdul Hak (2004) mengenai materi pendidikan pemustaka diantaranya adalah: a. orientasi perpustakaan (memperkenalkan seluk beluk perpustakaan) b. pengajaran perpustakaan (menjelaskan bahan perpustakaan secara spesifik, misalnya teknik penelusuran informasi) c. pengajaran bibliografi (materi persiapan penelitian) Pendidikan pemustaka dilaksanakan dengan media video, yang mana video di unggah kesitus youtube, sehingga dapat diakses oleh pemustaka dimanapun dan kapanpun. Dalam hal ini vlog merupakan alat, metode dan teknik yang digunakan dalam pendidikan pemustaka, dimana vlog adalag perantara bagi perpustakan untuk menyampaikan bimbingan kepada pemustaka. Dengan media vlog ini, pendidikan pemustaka dapat berjalan efektif karena pustakawan tidak perlu masuk ke setiap kelas untuk memaparkan materi seperti pada metode ceramah, atau mendatangkan siswa ke perpustakaan secara langsung yang dapat menganggu pelayanan perpustakaan pada pemustaka lain. Karena vlog adapat diakses dimanapun dan kapanpun oleh pemustaka melalui gadget mereka, maka pendidikan pemustaka dapat dijalankan kapanpun dan diluar jam sekolah. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Umar (2013) bahwa media pendidikan adalah alat, metodik dan teknik yang digunakan sebagai perantara komunikasi antara seorang guru dan murid dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pengajaran di sekolah. Perbedaan Kemampuan Penelusuran Informasi Sebelum dan Sesudah Pelaksanaan Pendidikan Pemustaka Kemampuan penelusuran informasi pemustaka diperoleh data hasil tes, yang meliputi data pretes dan data postes, data ini berbentuk data kuantitatif. Analisis data bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan penelusuran informasi siswa kelas 10-G yang mendapatkan pendidikan pemustaka melalui vlog. Data yang digunakan untuk mengetahui peningkatan kemampuan tersebut, terdiri dari data pretes, data postes dan data N-Gain dari masingmasing siswa. Berikut adalah hasil analisisnya: a. Analisis Data Pretes Pretes diberikan pada kelas eksperimen, ditujukan untuk mengetahui kemampuan awal siswa mengenai penelusuran informasi. Pretes diberikan kepada siswa 10-G SMA N 5 Bandung dengan jumlah 32 siswa. Data hasil pretes diolah menggunakan software IBM SPSS Statistics 20 for windows. Berikut ini adalah analisi statistik deskri ptif data pretes dalam penelitian ini: Tabel 1 Output abalisi statistik deskriptif data pretes N Min. Max. Mean Std. Dev. Var. Skor 32 3 14 10,31 2,645 6,996 Valid N (listwise) 32 Tabel 1 Menunjukan bahwa skor minimum yang diperoleh adalah 3 dan skor maksimum adalah 14. Rata-rata skor pretes adalah 10,31, dengan varian 6,996 dan standar deviasinya adalah 2,645. Berdasarkan data analisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemampuan awal siswa dalam penelusuran iniformasi masih tergolong rendah. b. Analisis Data Postes Analisi data postes dilakukan guna melihat peningkatan kemampuan penelusuran informasi kelas eksperimen setelah memperoleh pendidikan pemustaka. Deskriptif data skor postes diperoleh dengan bantuan software IBM SPSS Statistics 20 for windows. Berikut adalah hasil analisis statistik desktiptif data postes dalam penelitian ini: Tabel 2 Output analisi statistik deskriptif data postes N Min. Max. Mean Std. Dev. Var. Skor 32 11 26 18,09 3,666 13,443 (listwise) 32 Tabel 2 Menunjukan bahwa skor minimum yang diperoleh adalah 11 dan sk or maksimum adalah 26. Rata-rata skor postes adalah 18,09, dengan varian 13,443 dan standar deviasinya adalah 3,666. Berdasarkan data analisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemampuan awal siswa dalam penelusuran iniformasi tergolong sedang. c. Analisi Data N-Gain Berdasarkan pada analisis data pretes dan postes terdapat perbedaan kemampuan awal dan kemampuan akhir penelusuran informasi kelas eksperimen, yang ditunjukan dari perbedaan rata-rata skor yang di peroleh pemustaka pada dua data tersebut. Berikut adalah grafik perbandingan rata-rata skor pretes dan postes dalam penelitian ini: Gambar 2 Grafik perbandingan ratarata skor pretes dan postes uji kemampuan penelusuran informasi Untuk melihat perbandingan ratarata kemampuan awal dan akhir, dilakukan penghitungan indeks gain, dengan rumus berikut: 𝑁 − 𝑔𝑎𝑖𝑛 = 𝑆𝑝𝑜𝑠 − 𝑆𝑝𝑟𝑒 𝑆𝑀𝐼 − 𝑆𝑝𝑟𝑒 Data hasil N-gain digunakan untuk melihat kualitas peningkatan kemampuan penelusuran informasi siswa. Pengitungan N-Gain dilakukan dengan bantuan Microsoft Office Excel 2016. Berikut ini adalah statistik deskriptif data hasil indeks gain pada sampel yang diperoleh dengan bantuan software IBM SPSS Statistics 20 for windows. Tabel 3 Output analisi statitik deskriptif data hasil indeks gain N Min. Max. Mean Std. Dev. Var. N-Gain 32 1,5556 15,6296 7,430559 3,53712 12,511 Valid N (listwise) 32 Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat bahwa rata-rata indeks gain adalah 6,8993. Adapun berdasarkan pada kriteria indeks gain, data ini menunjukan bahwa rata-rata indeks gain berada pada kriteria sedang. Untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dalam pretes dan postes memiliki perbedaan yang signifikan atau tidak, dilakukanlah uji statistik, yang secara rincinya adalah sebagai berikut: 1) Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan guna mengetahui apakah data indeks gain tersebut berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Dalam pengujiannya, dirumuskan hipotesis untuk uji normalitas sebagai berikut: H0: data N-gain berasal dari data yang berdistribusi normal. H1: data N-gain berasal dari data yang berdistribusi tidak normal. Untuk mengetahui uji normalitas terhadap data penelitian, digunakan uji statistik Saphiro-Wilk, dengan taraf signifikansi sebesar 5% (α = 0.05) dengan kriteria sebagai berikut: a) Jika nilai sig ≥ 5% maka H0 diterima. b) Jika nilai sig < 5% maka H0 ditolak. Hasil uji normalitas disajikan pada dengan bantuan software IBM SPSS Statistics 20 f or windows, disajikan dalam tabel berikut ini: Tabel 4 Hasil uji normalitas data indeks gain Saphiro-Wilk Statistic df Sig. NGain 0,964 32 0,349 Berdasarkan data pada tabel tersebut, dapat dilihat bahwa nilai signifikan adalah 0,349. Nilai signifikan tersebut lebih besar dari 0,05. Sehingga berdasarkan pada hipotesis uji normalitas Ho diterima, artinya bahwa data indeks gain penelitian berasal dari populasi yang berdistribusi normal. 2) Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan guna menjawab pertanyaan utama penelitian. Pada uji ini, perumusan hipotesis dalam bentuk statistik sebagaimana berikut ini: H0: µ1 = µ2: tidak terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan antara hasil pretes dan postes. H1: µ1 ≠ µ2: terdapat perbedaan ratarata yang signifikan antara hasil pretes dan postes. Pada tabel (One-Sample Test) menunjukan nilai statistik, yaitu: nilai thitung sebesar 11,884, derajat kebebasan (degree of freedom/df) sebesar 31, dan signifikasi dengan uji 2 pihak 0.000. Berdasarkan pada tabel didapati thitung: 11,884 dengan taraf signifikan sebesar α= 0,05. Adapun derajat kebebasan (df) adalah 31 sehingga nilai ttabel= 2,0395. Ternyata thitung > ttabel atau 11,884 > 2,0395, maka berdasarkan hipotesis H0 ditolak atau H1 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan antara hasil pretes dan postes. Berdasarkan pada analisis deskriptif data pretes dan data postes, dapat disimpulkan terdapat perbedaan kemampuan penelusuran informasi pemustaka sebelum dan sesudah pelaksanaan pendidikan pemustaka. Selanjutnya, berdasarkan pada analisis statitstik data indeks gain, melalui uji hipotesis one sample t test, diperoleh kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan penelusuran informasi pemustaka sebelum dan sesudah pelaksanaan pendidikan pemustaka. Kemampuan penelusuran insformasi yaitu kemampuan untuk mencari dan menemukan kembali informasi yang pernah ditulis orang mengenai suatu topik. Informasi tersebut dapat dalam bentuk tercetak maupun dalam format digital yang diakses secara online. Melalui pretes pada kemampuan penelusuran informasi pemustaka, diketahui bahwa pemustaka memiliki kelemahan pengetahuan mengenai jenisjenis koleksi yang dapat digunakan sebagai alat telusur informasi di perpustakaan, DDC sebagai sistem klasifikasi koleksi perpustakaan serta strategi penelusuran online pada search engine. Namun disisi lain, pemustaka sudah banyak yang mengetahui jenis informasi dan sumbernya serta kelengkapan yang dibutuhkan dalam penelusuran online seperti search engine. Setelah melakukan pretes, diperolehlah data kemampuan awal siswa dalam penelusuran informasi. Hasil analisis deskriptif data pretes menunjukan ratarata kemampuan siswa dalam penelusuran informasi berada pada tingkat yang rendah, dengan jumlah ratarata skor sebesar 10,31. Selanjutnya dilaksanakan pendidikan pemustaka dengan media vlog. Selanjutnya dilakukan tes akhir (postes) guna mengetahui peningkatan kemampuan penelusuran informasi. Dari hasil postes dapati pemahaman pemustaka terkait penelusuran informasi meningkat, namun masih ditemui peningkatan yang sangat rendah, seperti dalam soal yang membahas penerapan dari literasi informasi. Hasil analisis deskriptif data postes, menunjukan ratarata skor siswa sebesar 18,09, yang mana dapat disimpulkan berada dalam tingkat sedang. Membandingkan rata-rata skor dari dua data tersebut, dapat disimpulkan kemampuan penelusuran informasi pemustaka mengalami peningkatan. Dari hasil temuan dan analisis pada data penelitian, pendidikan pemustaka menggunakan vlog ini memiliki kontribusi yanmg penting terhadap pemahaman pemustaka terkait penelusuran informasi. Hal ini berdasarkan pada kualitas pencapaian peningkatan kemampuan penelusuran informasi, yang dilakukanlah penghitungan indeks gain dari data pretes dan postes. Hasil pengolahan dan analisi deskriptif data indeks gain, menunjukan rata-rata indeks gain sebesar 7,430559, yang berada dalam kriteria sedang. Selanjutnya data indeks gain dianalisis secara statistik untuk melihat apakah peningkatan kemampuan penelusuran informasi tersebut signifikan atau tidak. Dari uji hipotesis yang telah dilakukan, ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai pretes dan nilai postes, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kemampuan awal dan kemampuan akhir penelusuran informasi pemustaka.

Conclusion

Berdasarkan pada pelaksanaan penelitian, pengolahan data, hasil analisis data, serta pembahasan, diperolehlah simpulan bahwa terdapat efektivitas vlog sebagai media pendidikan pemustaka terhadap kemampuan penelusuran informasi di perpustakaan, yang ditunjukan dari adanya perbedaan yang signifikan antara kemampuan penelusuran informasi sebelum dan sesudah pelaksanaan pendidikan pemustaka. Dari simpulan umum ini, dapat dijabarkan beberapa simpulan khusus yang berkaitan dengan penelitian ini, sebagai berikut: a. Vlog ini berbentuk channel khusus pendidikan pemustaka perpustakaan SMA N 5 Bandung pada situs youtube. Vlog memuat video asinkron (telah diedit) yang berisi materi penelusuran informasi, yang dibuat secara mandiri. Vlog pendidikan pemustaka SMA N 5 Bandung sama seperti halnya vlog edukasi lain, dimana video juga menyamapaikan materi dalam bentuk narasi dan teks disisi rekaman utama. b. Pendidikan pemustaka dilakukan melalui vlog. Video pendidikan pemustaka di ungah pada situs youtube, lalu alamat URL vlog di sebarkan kepada pemustaka baru. Selanjutnya pemustaka mengakses vlog pendidikan pemustaka ini melalui gadget (smartphone/personal computer) mereka masing-masing, untuk untuk mempelajari materi penelusuran informasi dengan menonton video pada vlog. c. Terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan penelusuran informasi sebelum dan sesudah pelaksanaan pendidikan pemustaka, hal ini ditunjukan dari adanya ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai pretes dan nilai postes pada tes kemampuan penelusuran informasi pemustaka.