Kembali
16
1
2018 Edulibinfo Vol 5 · 2 ISSN 2541-3279

PROGRAM PELESTARIAN BUDAYA EDUTOURISM PADA TAMAN BACA MASYARAKAT ECO BAMBU CIPAKU

Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia

Abstrak

Taman Baca Masyarakat ECO Bambu berada satu atap dengan Sanggar Seni Budaya yang menjadi salah satu wisata edukasi di Kota Bandung. Bentuk dari wisata edukasi yang dikembangkan yaitu literasi budaya yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yaitu program edutourism. Program edutourism yang dijalankan merupakan pengenalan seni dan budaya yang berbasis koleksi, sehingga membuat TBM ini menghadirkan bahan bacaan yang dapat mendorong masyarakat untuk mencintai buku. Pernyataan di atas dapat mendukung salah satu ayat dalam Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan yang disimpulkan bahwa upaya dalam memajukan kebudayaan dapat dilakukan oleh perpustakaan melalui koleksi. Pendekatan yang digunakan yaitu kualitatif dengan metode deskriptif. Informan dalam penelitian terdiri dari pengelola dan pengunjung. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Proses pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Teknik analisis data melalui triangulasi teknik dengan menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa program pelestarian budaya telah diselenggarakan oleh Sanggar Seni Budaya ECO Bambu dalam bentuk kegiatan program edutourism yang memberikan pengetahuan kepada masyarakat dengan cara menyenangkan. Program edutourism bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar lebih mencintai seni dan budaya yang ada di Jawa Barat. Maka dari itu program edutourism dibuat bersinergi dengan TBM melalui koleksi.

Abstract

ECO Bambu Community Reading Park is one building with the Cultural Arts Studio which is one of the educational tours in the city of Bandung. The form of educational tourism developed is cultural literacy that can be applied in everyday life, called by edutourism program. The edutourism program that is run is an introduction to collection-based art and culture, making TBM present reading material that can encourage people to love books. The above statement can support one of the paragraphs in Law Number 43 of 2007 concerning Library which concluded that efforts in promoting culture can be carried out by the library through collections. The approach used is qualitative with descriptive method. The informants in the study consisted of managers and visitors. The selection of informants used purposive sampling technique. The process of collecting data uses interviews, observation, and documentation studies. Data analysis techniques through technical triangulation using data reduction, data presentation, and drawing conclusions and verification. The results obtained showed that the cultural preservation program was held by the ECO Bambu Art and Culture Studio in the form of edutourism program activities that provide knowledge to the community in a fun way. The edutourism program aims to educate people to love art and culture in West Java. Therefore the edutourism program is made in synergy with TBM through collections.
Keywords: Cultural Preservation · Edutourism Program · Community Reading Park

Introduction

Taman Baca Masyarakat (TBM) merupakan bagian dari perpustakaan yaitu termasuk dalam perpustakaan umum. Peran dari TBM tidak jauh berbeda dengan peran perpustakaan, yaitu membantu pemerintah dalam mendorong maupun menstimulus masyarakat untuk meningkatkan budaya membaca serta sebagai agen budaya. Adapun TBM yang optimal berdasarkan hasil penelitian Spoyan, dkk (2017) TBM hendaknya terdapat visi dan misi, struktur organisasi yang baku dan teroptimalkannya pengurus TBM atau Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pengelolaan TBM. Dalam Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan termaktub bahwa peran perpustakaan yaitu sebagai wadah pelestarian kekayaan budaya bangsa. Implementasi dari peran tersebut dapat dilakukan dengan cara yang menarik, yaitu melalui program edutourism, karena program edutourism merupakan salah satu dari pengembangan fungsi rekreasi bagi perpustakaan. Hal ini dapat menjadi salah satu media promosi bagi perpustakaan untuk meningkatkan minat kunjung pemustaka ke perpustakaan. Edutourism yang dikenal dalam Bahasa Indonesia yaitu Eduwisata (wisata pendidikan) merupakan gabungan antara konsep pariwisata dengan pendidikan yang dikemas menjadi sebuah program perjalanan edukasi yang dilakukan oleh individu maupun kelompok. Hal ini diungkapkan oleh Bodger, D (dalam Fauzi, 2016) bahwa edutourism adalah “Suatu program dimana peserta melakukan perjalanan ke suatu lokasi secara individual atau kelompok dengan tujuan agar dapat terlibat langsung dalam pengalaman belajar ditempat tersebut”. Maka dapat disimpulkan bahwa edutourism ini merupakan suatu program perjalanan wisata edukasi yang dilakukan oleh individu maupun kelompok. Orang yang melakukan perjalanan wisata tersebut dapat terlibat langsung dalam mencari pengalaman belajar sambil bermain. Program edutourism berfungsi sebagai sarana rekreasi, serta pelestarian budaya. Pada fungsi rekreasi, pengunjung tidak hanya bermain namun juga belajar dari hasil pengamatan serta pengalaman yang bertujuan untuk mengembangkan diri dalam mempelajari keunikan tempat wisata yang dikunjungi. Pada dasarnya program edutourism tidak hanya dapat diterapkan pada bidang pariwisata, namun dapat diterapkan pada salah satu bidang pendidikan sebagai penunjang pembelajaran. Dimana program edutourism ini bisa sebagai salah satu fasilitas yang diberikan untuk sarana belajar sambil bermain guna sebagai daya tarik peserta didik. Selain sebagai sarana rekreasi, edutourism juga dapat dijadikan sebagai sarana pelestarian budaya. Sebuah lembaga informasi haruslah memiliki peran strategis dalam upaya pelestarian budaya. Peran ini diperkuat dengan fungsi perpustakaan pada umumnya adalah sebagai pusat informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian, dan kebudayaan (Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Dengan adanya program edutourism ini dapat dijadikan sebagai salah satu media promosi untuk meningkatkan minat kunjung pemustaka Penerapan program edutourism ini telah dilaksanakan oleh Taman Baca Masyarakat (TBM) Education Cipaku Oase (ECO) Bambu Cipaku yang terletak di Jalan Cipaku Indah XII Nomor 8, Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung. TBM ini merupakan bagian dari Yayasan Sanggar Seni Budaya ECO Bambu Cipaku. TBM ECO Bambu merupakan wisata literasi budaya bagi masyarakat. Tujuan hadirnya TBM ECO Bambu Cipaku ini sama halnya dengan tujuan TBM pada umumnya, yaitu meningkatkan minat baca masyarakat, melalui cara yang menyenangkan dan rekreatif. Salah satu program yang dicanangkan oleh Sanggar Seni Budaya ECO Bambu Cipaku adalah program edutourism yang bersinergi dengan TBM ECO Bambu Cipaku. Program edutourism ini difasilitasi untuk masyarakat umum belajar sambil bermain, serta melestarikan budaya Jawa Barat. Berdasarkan pemaparan di atas, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana program edutourism yang bersinergi dengan TBM ECO Bambu Cipaku, serta bagaimana upaya yang dilakukan untuk meningkatkan minat kunjung TBM melalui program edutourism. Program tersebut dapat mendukung salah satu ayat dalam Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan yang berbunyi, “Bahwa sebagai salah satu upaya untuk memajukan kebudayaan nasional, perpustakaan merupakan wahana pelestarian kekayaan budaya bangsa”. Dengan adanya program edutourism di ECO Bambu diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi pemustaka untuk datang ke TBM ECO Bambu Cipaku. TINJAUAN PUSTAKA Pelestarian Budaya Pelestarian budaya terdiri dari dua suku kata yang berbeda, yaitu pelestarian dan budaya. Menurut Lewis (dalam Karmadi, 2007, hlm. 5) bahwa pelestarian budaya mempunyai muatan ideologis yaitu “Sebagai gerakan untuk mengukuhkan kebudayaan, sejarah dan identitas”. Sedangkan menurut Smith (dalam Karmadi , 2007, hlm. 5) dipaparkan bahwa sebagai “Penumbuh kepedulian masyarakat untuk mendorong munculnya rasa memiliki masa lalu yang sama diantara anggota komunitas”. Dari pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa bentuk dari pelestarian budaya ini sangat beragam. Usaha dalam melakukan pelestarian budaya harus diperhatikan, karena proses dari pelestarian budaya tersebut akan berjalan dalam kurun waktu yang lama, maka perlu dikembangkan pelestarian sebagai upaya yang berkelanjutan (sustainable). Dalam menjalankan pelestarian budaya ini, tentunya harus ada dukungan dari masyarakat. Karena dengan adanya dukungan dari masyarakat proses pelestarian budaya pun akan terus berkembang serta bertahan lama, sehingga peran masyarakat tampak nyata. Bentuk dari pelestarian budaya sangat beragam, salah satunya dapat diterapkan di perpustakaan. Karena di perpustakaan merupakan tempat menyimpan karya-karya hasil ide manusia yang perlu dilestarikan. Hal ini termaktub dalam pengertian perpustakaan menurut Keputusan Presiden RI nomor 11 Tahun 1989 tentang Perpustakaan Nasional, bahwa “Salah satu sarana pelestarian bahan pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional”. Sehingga perpustakaan merupakan salah satu sumber pelestarian budaya melalui bahan pustaka sebagai hasil budaya, dan salah satu sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Edutourism Edutourism merupakan gabungan antara konsep pariwisata dengan pendidikan. Pada saat ini pariwisata dapat dijadikan sebagai sumber penting dalam pertumbuhan ekomosi masyarakat. Hal ini diungkapkan oleh Ankomah dan Larson (dalam Sharma, A, 2015, hlm. 2) bahwa “Tourism today is one of the major global industries and an important source for economic growth and employment generatioan”. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pariwisata dapat menjadi sumber pekerjaan untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat. Sehingga, dapat dikembangkan menjadi sebuah program wisata edukasi yang dapat menguntungkan bagi masyarakat luas. Sedangkan menurut Ankomah dan Larson (dalam Ma’rifah dan Suryadarma, 2015) dikatakan bahwa edutourism merupakan penawaran produk kepada peserta yang akan melakukan perjalanan ke tempat tertentu dengan tujuan untuk mendapatkan pengalaman belajar. Dari pernyataan diatas maka dapat disimpulkan bahwa edutourism merupakan program dalam melakukan perjalanan wisata yang bertujuan sebagai pemenuhan fungsi rekreasi maupun edukasi. Selain itu, adanya literatur lain yang dikatakan bahwa pertumbuhan sektor pariwisata pendidikan merupakan bagian dari wisata budaya dan wisata pendidikan. Hal ini diungkapkan oleh Richards (dalam McGladdery dan Lubbe, 2017). Dari pernyataan di atas disimpulkan bahwa pariwisata pendidikan merupakan turunan dari wisata budaya. Ada beberapa alasan individu melakukan perjalanan wisata. Hal ini diungkapkan oleh Suwantoro (2004), diantaranya : a)Memenuhi kebutuhan rekreasi; b)Memenuhi kebutuhan pendidikan serta penelitian; c)Memenuhi kebutuhan religi; d)Memenuhi kebutuhan kesehatan; e)Memenuhi kebutuhan terhadap seni dan budaya; f)Sebagai kebutuhan dalam memenuhi kepentingan keamanan; g)Sebagai kebutuhan dalam memenuhi kepentingan hubungan keluarga; h)Sebagai kebutuhan dalam memenuhi kepentingan politik. Dapat disimpulkan dalam berwisata setiap individu memiliki alasan yang beragam, sehingga dapat membentuk wisata yang berdasarkan tujuan individu dalam melakukan perjalanan wisata. Program edutourism ini menawarkan kegiatan berbeda dengan perjalanan wisata pada umumnya, karena edutourism ini menawarkan perjalanan wisata berbasis pendidikan yang dapat memberikan pengalaman serta pengetahuan secara langsung. Sehingga, dapat memenuhi kebutuhan rekreasi dan edukasi. Edutourism ini perlu dikembangkan oleh daerah yang memiliki potensi kearifan lokal. Edutourim ini dapat dikembangkan atau diterapkan di berbagai destinasi wisata yang memiliki potensi untuk melestarikan budaya pada bidang pendidikan. Salah satunya yaitu Perpustakaan ataupun museum. Dalam pelaksanaannya program edutourism ini tidak dapat berdiri sendiri. Perlu adanya pengelola serta pengunjung. Dengan demikian akan dirasakan manfaat dalam pelaksanaan program edutourism. Menurut Winarto (2016) disebutkan manfaat dari pelaksanaan edutourism ialah sebagai berikut : 1.Pengunjung akan memperoleh pengalaman langsung dari objek yang dilihat; 2.Pengunjung turut serta dalam berbagai kegiatan sehingga dapat mengembangkan bakat serta keterampilan; 3.Pengunjung dapat memperdalam serta memperluas wawasan; 4.Pengunjung dapat mempraktikkan teori ke dalam praktik; 5.Pengunjung dapat memperoleh pengetahuan serta pengalaman yang terintegrasi. Dari pembahasan di atas, manfaat edutourism sejalan dengan fungsi perpustakaan antara lain fungsi rekreasi maupun fungsi edukasi. Edutourism ini dapat diterapkan sebagai bidang promosi bagi perpustakaan. Sedangkan menurut Smith, A (2013, hlm. 6) dinyatakan bahwa manfaat dari edutourism ialah “Educational tourism is practically unmentionable in local and national tourism planning strategies”. Yang artinya bahwa manfaat edutourism secara praktik tidak mengacu pada perencanaan lokal dan nasional. Taman Baca Masyarakat (TBM) Hadirnya TBM ini merupakan wujud komitmen dari masyarakat untuk membantu pemerintah dalam mencerdaskan anak bangsa yang bertujuan untuk membangun generasi yang berkualitas melalui gerakan budaya membaca. TBM merupakan sebuah lembaga untuk melayani kebutuhan informasi berupa ilmu pengetahuan bagi masyarakat dalam bentuk bahan bacaan maupun bahan pustaka lainnya (Kalida, 2014). Berdasarkan hasil analisis yang mengatakan bahwa adanya perbedaan TBM dengan perpustakaan yaitu dilihat dari segi pengelolanya. TBM dikelola oleh masyarakat sekitar atau sukarelawan yang belum mengikuti pendidikan kepustakawanan, sedangkan perpustakaan dikelola pemerintah daerah yang bersangkutan serta telah melalui pendidikan kepustakawanan. Dalam penyelenggaraan TBM diperlukan adanya sinergi dengan perpustakaan. Terdapat tiga elemen utama dalam bersinergi yang diungkapkan oleh Rahmawati dan Sudarsono (2012) yaitu : 1)Kolaborasi. Pada langkah ini pertama kalinya dibangun sebuah komunikasi antara kedua belah pihak untuk membentuk suatu kesepakatan. 2)Keterlibatan. Langkah selanjutnya yaitu partisipasi sepenuh hati yang dilakukan oleh semua anggota yang terlibat. Dimulai dari hubungan antar pribadi berubah menjadi hubungan antar kelompok. 3)Kepercayaan. Ini merupakan kunci utama dalam melakukan proses sinergi. Dengan adanya kepercayaan, dapat terjalin komunikasi terbuka serta saling percaya antara kedua pihak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perpustakaan harus bersinergi dengan TBM, karena dapat bertukar pikiran serta pengalaman dalam mengelola sarana belajar bagi pemustaka. TBM membutuhkan alat penunjang, salah satunya yaitu sarana dan prasarana. Menurut Kalida, dkk., (2014) mengemukakan bahwa sarana yang hendak dimiliki TBM yaitu : 1)Sarana utama terdiri dari buku dan rak buku; 2)Sarana administrasi terdiri dari Alat Tulis Kerja (ATK), katalog, kartu anggota, buku inventaris, buku induk, buku peminjaman, dan lain-lain; 3)Sarana pendukung terdiri dari papan nama, papan informasi, alas duduk, pengeras suara, komputer, dan lain-lain. Sedangkan prasarana yang harus dimiliki diantaranya : 1)Ruangan atau bangunan; 2)Ruangan untuk membaca; 3)Toilet; 4)Instalasi daya maupun jasa; 5)Prasarana pendukung seperti ruang ibadah, kantin, dan sebagainya. Jika sarana dan prasarana ini tidak dipenuhi, maka pengelolaan dan layanan operasional di TBM tidak dapat dilakukan secara maksimal. Selain itu, di TBM diperlukan layanan dalam penyelenggaraan. Karena layanan merupakan point penting. Layanan tersebut diadakan untuk mempermudah masyarakat dalam mengakses informasi serta untuk meningkatkan kualitas diri dari masyarakat. Adapun koleksi yang harus disediakan oleh TBM. Karena koleksi tersebut dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk berkunjung ke TBM. Menurut Kalida, dkk (2014) ada beberapa jenis bahan pustaka di TBM, diantaranya : 1)Karya cetak, yaitu buku fiksi, buku tes, buku rujukan, surat kabar, majalah, dan sebagainya; 2)Karya non-cetak, yaitu CD, DVD, dan sebagainya. Koleksi yang tersedia di TBM harus melalui tahap penyeleksian, agar koleksi tersebut dapat dimanfaatkan oleh pemustaka. Dalam penentuan jumlah (judul) koleksi perlu adanya landasan yang mengatur. Berdasarkan Standar Nasional Perpustakaan 2011 tentang Perpustakaan Umum Kabupaten/ Kota dikatakan bahwa sekurang-kurangnya 0,025 per kapita dikalikan jumlah penduduk di wilayah tersebut. Daftar koleksi perkapita tersebut tertera pada Tabel 1 berikut ini. Tabel 1 Daftar Koleksi Perkapita No. Jumlah Penduduk (Jiwa) Jumlah Koleksi (Judul) Ket 1.<200.000 5.000 2.200.000-300.000 7.500 3.300.00-400.000 10.000 4.Dst (kelipatan 100.000) Penambahan 2500 judul (Sumber : Standar Nasional Perpustakaan, 2011) Program edutourism pada TBM ECO Bambu Cipaku TBM ECO Bambu Cipaku identik dengan nuansa budaya, karena TBM ini merupakan bagian dari Yayasan Sanggar Seni Budaya ECO Bambu Cipaku. Sanggar Seni Budaya ECO Bambu memiliki sebuah program untuk meningkatkan budaya baca di kalangan masyarakat serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Maka dari itu Yayasan Sanggar Seni Budaya ECO Bambu bersinergi dengan TBM. Salah satu bentuk dari sinergi tersebut berupa program kunjungan wisata edukasi bagi masyarakat. Wisata edukasi yang ditawarkan ini memberikan fasilitas serta menyediakan permainan tradisional dan penampilan seni budaya yang dikembangkan oleh Sanggar Seni Budaya ECO Bambu Cipaku. TBM ECO Bambu Cipaku menghadirkan program yang dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk meningkatkan budaya baca serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Salah satu program tersebut ialah program edutourism yang merupakan kunjungan edukasi melalui pengenalan seni budaya. Pengenalan seni budaya tersebut merupakan sebuah penampilan seperti bela diri (pencak silat), seni musik (angklung), dan juga seni tari (jaipong), serta pengenalan permainan tradisional yang harus dilestarikan. Sumber informasi yang menjadi bahan rujukan pada saat pengenalan seni budaya tersebut merupakan sumber rujukan berupa koleksi tercetak (buku) dari TBM ECO Bambu Cipaku. Namun, koleksi yang dimiliki oleh TBM ECO Bambu Cipaku yang selaras dengan pengenalan seni budaya pada kunjungan edukasi ialah seni bela diri (pencak silat). Sehingga program tersebut masih berjalan dan dapat menyelaraskan antara teori dengan praktik. Hal ini merupakan bentuk pelestarian budaya yang dilakukan oleh TBM ECO Bambu Cipaku melalui buku dengan cara mentransfer informasi melalui budaya. Di dalam penyelenggaraannya, TBM tidak hanya memberikan fasilitas berupa koleksi, namun harus ada inovasi baru untuk membuat pemustaka nyaman ketika berada di TBM. Dengan demikian, inovasi tersebut dapat menarik minat kunjung masyarakat agar dapat memanfaatkan TBM secara maksimal. Dari paparan tersebut, maka pengelola TBM harus membuat stategi agar masyarakat dapat tertarik untuk berkunjung ke TBM. Strategi tersebut dapat menggunakan media promosi yang bertujuan untuk memperkenalkan kepada masyarakat pelayanan yang diberikan, sehingga dapat menarik minat kunjung pemustaka serta dapat memanfaatkan fasilitas yang diberikan (Mustafa, B, 2009, hlm. 1.23). Studi lain yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional tahun 2010 terhadap TBM (dalam Khayatun, 2011) diungkapkan bahwa terdapat lima faktor yang mempengaruhi masyarakat untuk berkunjung ke TBM, yaitu : 1)Pelayanan yang diberikan oleh TBM harus ramah, sehingga dapat menarik minat masyarakat untuk datang serta memanfaatkan TBM; 2)Koleksi yang dilayankan harus beragam. Karena semakin beragamnya suatu bacaan, maka semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk berkunjung TBM; 3)Ruangan yang bersih dan cukup luas, sehingga membuat masyarakat akan lebih nyaman ketika berada di TBM; 4)Koleksi diperbarui; dan 5)Koleksi yang dilayankan bersifat populer, dan disertai dengan ilustrasi gambar. Sehingga masyarakat tidak merasa jenuh dengan koleksi yang ada di TBM. Berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam menarik minat kunjung pemustaka dapat dilakukan dengan melalui media promosi, pelayanan, koleksi, serta sarana dan prasarana yang dimaksimalkan. Sehingga pemustaka dapat menikmati fasilitas yang diberikan oleh pihak TBM. Program edutourism yang diselenggarakan oleh Sanggar Seni Budaya ECO Bambu Cipaku memiliki keterkaitan dengan faktor yang dapat mempengaruhi daya tarik pemustaka untuk mengunjungi TBM. Karena program edutourism yang diselenggarakan di ECO Bambu Cipaku ini bersinergi dengan TBM ECO Bambu Cipaku.

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Dipilihnya pendekatan kualitatif ini yaitu untuk mengkaji sebuah program pelestarian budaya yang disinggung dalam Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, serta dikemas lebih menarik dengan memadukan antara bidang pendidikan dan wisata yaitu program edutourism. Penelitian ini dilakukan di TBM ECO Bambu Cipaku yang yang merupakan bagian kecil dari Sanggar Seni Budaya ECO Bambu Cipaku, yang berlokasi di Jalan Cipaku Indah XII no 8, Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung. Subjek penelitian ini adalah pengelola TBM, pengelola ECO Bambu, dan pengunjung. Pengumpulan data yang dilakukan yaitu menggunakan triangulasi teknik meliputi ahli, pengelola, dan pengunjung. Trianglasi teknik bersifat menggabungkan berbagai teknik pengumpulan data dengan sumber data yang sama. Triangulasi ini digunakan untuk menguji kredibilitas data yang digunakan dalam penelitian. Pengumpulan data yang digunakan, yaitu wawancara bertahap, observasi, dan studi dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan langkah reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan dan verifikasi.

Result & Discussion

Pembahasan hasil penelitian ini untuk menjawab pertanyaan penelitian umum dan khusus. Pertanyaan penelitian umum pada penelitian ini yaitu “Bagaimana program pelestarian edutourism pada TBM ECO Bambu Cipaku?”. Sedangkan untuk pertanyaan penelitian khusus pada penelitian ini yaitu : (1) bagaimana upaya meningkatkan minat kunjung melalui program edutourism pada TBM ECO Bambu Cipaku ? (2) faktor pendukung apa saja yang mempengaruhi pelaksanaan program pelestarian budaya edutourism terhadap masyarakat di lingkungan TBM ECO Bambu Cipaku ? dan (3) faktor penghambat apa saja yang dapat mempengaruhi pelaksanaan program pelestarian budaya edutourism terhadap masyarakat di lingkungan TBM ECO Bambu Cipaku ? Hasil penelitian menunjukkan bahwa ECO Bambu Cipaku telah mengembangkan program edutourism yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat melalui literasi budaya, serta dapat memberikan pengalaman pembelajaran kepada masyarakat. Bentuk dari program edutourism di ECO Bambu Cipaku yaitu paketan wisata. Berada satu atap dengan wisata edukasi, maka TBM dibuat bersinergi dalam membudayakan gemar membaca melalui program edutourism berupa literasi budaya yang berbentuk permainan tradisional. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan didirikan TBM ECO Bambu Cipaku ialah untuk meningkatkan minat maca, seni dan budaya masyarakat. Program edutourism tersebut tidak akan berhasil dalam mencapai tujuan jika tidak mengimplementasikan fungsi-fungsi manajemen. Dari mulai perencanaan sampai tahap evaluasi. Proses perencanaan sampai dengan evaluasi ini dilakukan oleh pengelola ECO Bambu Cipaku yang dibuat dalam struktur kepengurusan ECO Bambu Cipaku. Upaya dalam Meningkatkan Minat Kunjung Melaui Program Edutourism pada TBM ECO Bambu Cipaku Upaya yang dilakukan dalam meningkatkan minat kunjung melalui program edutourism diantaranya melaui promosi dan kenyamanan Tujuan dilakukannya promosi oleh pihak ECO Bambu Cipaku ialah untuk memberitahukan keberadaan program edutourism serta TBM berbasis budaya agar dapat menarik masyarakat untuk datang ke Sanggar Seni Budaya ECO Bambu Cipaku. Upaya melalui promosi telah dilakukan dengan maksimal, salah satu promosi yang dilakukan yaitu sosialisasi ke sekolah, media sosial, dan pihak ECO Bambu pernah melakukan promosi pada saat Car Free Day (CFD) dengan membawa permainan tradisional serta koleksi yang ada di TBM untuk dikenalkan kepada masyarakat. Tujuan dilakukannya promosi tersebut agar masyarakat mengetahui bahwa di Sanggar Seni Budaya ECO Bambu Cipaku terdapat kegiatan yang dapat mengedukasi masyarakat dengan cara yang menyenangkan melalui program edutourism serta memberikan fasilitas TBM yang dapat diakses oleh masyarakat umum. Berada satu atap dengan Sanggar Seni Budaya ECO Bambu Cipaku membuat keberadaan TBM ini lebih sejuk, karena berada di Jalan Cipaku Indah yang memiliki cuaca sejuk, jauh dari kebisingan, sarta dibangun dengan menggunakan bambu. Sehingga membuat TBM ini terasa nyaman dan terlihat unik serta menarik dengan memberikan konsep budaya dari bangunannya. Selain itu hubungan komunikasi pengelola TBM dengan pemustaka dapat menjadi daya tarik. Ketika pengelola TBM tersebut ramah dan dapat melakukan komunikasi dengan baik, maka pemustaka pun akan tertarik untuk berkunjung kembali ke TBM. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam meningkatkan daya tarik pemustaka untuk berkunjung ke TBM dengan melalui aspek kenyamanan lingkungan dan kenyamanan sosial. Dengan kondisi lingkungan TBM yang jauh dari keramaian membuat TBM ini jauh dari polusi udara. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara bahwa lokasi TBM ini dapat membuat nyaman, karena didukung oleh faktor lingkungan. Faktor Pendukung Pelaksanaan Program Edutourism Untuk mendukung keberlangsungan program edutourism ini maka dibuat bersinergi dengan TBM ECO Bambu Cipaku. Karena TBM ini memberikan fasilitas untuk kegiatan program edutourism melalui pelayanan, koleksi, sarana dan prasarana serta koleksi. Sehingga terjadi kolaborasi antara keduanya. Sehingga membuat TBM ikut terlibat dalam pelaksanaan program edutourism. Dalam mendukung program edutourism, TBM membutuhkan alat penunjang bagi keberhasilan suatu layanan. Salah satunya ialah sarana dan prasarana. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti bahwa sarana yang dimiliki oleh TBM ECO Bambu Cipaku terdiri dari sarana utama yaitu koleksi dan rak buku, serta sarana pendukung seperti permainan tradisional, laptop, dan wifi. Sedangkan prasarana yang dimiliki meliputi bangunan dari TBM itu sendiri, dan tempat untuk membaca. Prasarana lainnya seperti toilet dan tempat ibadah telah disediakan oleh pihak Sanggar Seni Budaya ECO Bambu Cipaku yang berada diluar TBM nya itu sendiri. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan yang telah dilakukan bahwa koleksi yang tersedia di TBM ECO Bambu Cipaku hanya memiliki satu jenis, yaitu koleksi tercetak saja. Koleksi yang dilayankan di TBM ECO Bambu Cipaku sebagian dapat di akses di web Sistem Informasi Perpustakaan Taman Baca Masyarakat (SIMACAM) berbasis web di Kota Bandung yang terintegrasi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DISPUSIP) Kota Bandung (sumber : http://dispusip.bandung.go.id/simacam/). Koleksi yang dilayankan di TBM ini beragam, namun karena TBM ini berbasis budaya, maka tidak semua koleksi dilayankan kepada pemustaka. Koleksi yang dilayankan merupakan hasil seleksi dari pihak pengelola TBM ECO Bambu Cipaku agar dapat disesuaikan dengan lingkungan ECO Bambu yang memiliki ciri khas seni dan budaya. Koleksi yang dilayankan di TBM ECO Bambu memiliki jumlah yang kurang. Hal ini berdasarkan Standar Nasional Perpustakaan tahun 2011 tentang Perpustakaan Umum Kabupaten / Kota yang disimpulkan bahwa jika jumlah penduduk <200.000, maka jumlah koleksi yang harus disediakan adalah 5.000 eksemplar. Sedangkan jumlah koleksi di TBM ECO Bambu Cipaku berjumlah kurang dari 500 judul / eksemplar. Faktor Penghambat Pelaksanaan Program Edutourism Pada penelitian ini terdapat dua faktor penghambat yang dapat mempengaruhi pelaksanaan program edutourism. Faktor penghambat tersebut dapat dirasakan oleh pihak internal maupun pihak eksternal. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak internal dikatakan bahwa faktor penghambat yang dirasakan selama kegiatan program edutourism yaitu SDM yang kurang memadai, dan koleksi yang memiliki jumlah sedikit. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Perpustakaan Umum Kabupaten / Kota tahun 2009 termaktub bahwa jumlah SDM di perpustakaan umum salah satunya yaitu TBM berjumlah sekurangkurangnya tujuh orang. Sedangkan jumlah SDM di TBM ECO Bambu Cipaku kurang dari tujuh orang. Hal ini disebabkan karena kebanyakan relawan adalah mahasiswa yang menyebabkan terbaginya waktu dengan kegiatan lain. Sehingga tidak bisa fokus pada kegiatan yang dilaksanakan di ECO Bambu Cipaku, dan menimbulkan permasalahan berupa double job desk pada pelaksanaan program edutourism. Berdasarkan hasil pengamatan bahwa benar kurangnya SDM dilihat dari segi kualitas, sehingga tidak dibukanya layanan TBM ketika program edutourism sedang berlangsung. Hal ini membuat pemustaka tidak bisa memanfaatkan fasilitas yang ada di TBM, dan tidak adanya keterlibatan TBM dalam kegiatan program edutourism. Dengan adanya hambatan tersebut tidak membuat pelaksanaan program edutourism menjadi tidak terlaksana. Pengelola ECO Bambu mencari solusi agar hambatan tersebut tidak menjadi penghalang dalam pelaksanaan program edutourism. Solusi tersebut dengan melakukan rekrutmen kepada relawan baru untuk diikutsertakan dalam pelatihan fasilitator, serta melakukan kerjasama dengan penerbit. Sedangkan dari hasil dari wawancara yang dilakukan dengan pihak eksternal menunjukkan bahwa tidak adanya hambatan ketika kegiatan berlangsung, hanya saja kurangnya alat kegiatan seperti permainan tradisional yang digunakan. Berdasarkan hasil pengamatan bahwa jumlah permainan tradisional yang dimiliki oleh ECO Bambu Cipaku tidak sebanding dengan jumlah siswa/i yang hadir. Sehingga membuat siswa/i tersebut menunggu lama untuk bergiliran bermain. Serta disayangkan tidak adanya pemberian cendramata untuk siswa/i karena cendramata dapat memberikan kesan positif kepada siswa/i terhadap permainan tradisional. Hal tersebut dapat menunjang tujuan dari kegiatan permainan tradisional.

Conclusion

Simpulan Program pelestarian budaya telah diselenggarakan oleh Sanggar Seni Budaya ECO Bambu Cipaku yaitu dalam bentuk sebuah program berupa kegiatan program edutourism yang memberi pengetahuan kepada masyarakat dengan cara yang menyenangkan. Program edutourism bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar lebih mencintai seni dan budaya yang ada di Jawa Barat. Maka dari itu program edutourism ini dibuat untuk saling bersinergi dengan Taman Baca Masyarakat (TBM) melalui koleksi. Karena program edutourism merupakan program awal dari TBM. Adapun motivasi dari dibuatnya TBM yaitu untuk meningkatkan minat baca masyarakat, dan sebagai fasilitas penunjang bagi keberlangsungan program edutourism. Dari pernyataan di atas diketahui bahwa program edutourism telah bersinergi dengan TBM. Upaya TBM ECO Bambu Cipaku dalam meningkatkan minat kunjung melalui program edutourism ini dilihat dari dua faktor yaitu promosi dan kenyamanan. Promosi yang telah dilakukan oleh pihak ECO Bambu adalah melalui sosialisasi langsung ke sekolah yang dituju serta melalui media sosial. Sedangkan dari kenyamanan dilihat dari faktor kenyamanan lingkungan dan kenyamanan sosial. Dengan memperhatikan promosi serta kenyamanan akan membuat pengunjung mengetahui keberadaan dari TBM serta merasa nyaman ketika berada di TBM. Upaya tersebut telah dilakukan dengan maksimal oleh pihak ECO Bambu. Faktor pendukung yang dapat mempengaruhi pelaksanaan program edutourism adalah TBM. Karena program edutourism ini bersinergi dengan TBM melalui fasilitas yang diberikan, yaitu pelayanan, sarana dan prasarana, serta koleksi. Dari hasil penelitian mengatakan bahwa TBM telah melakukan usaha yang maksimal dengan kondisi yang minimal untuk mendukung keberhasilan dari program edutourism. Faktor penghambat dapat berupa kendala yang dirasakan oleh pihak internal maupun eksternal. Dari pihak internal mendapati kendala dari segi SDM serta fasilitas pendukung seperti koleksi yang ada di TBM. Sedangkan dari pihak eksternal merasakan tidak adanya hambatan, hanya saja alat penunjang kegiatan program edutourism memiliki jumlah yang sedikit, sehingga membuat pelaksanaan teknis dirasa kurang. Dari pernyataan di atas diketahui bahwa kurang diperkenalkan serta dimaksimalkan fasilitas dari TBM, sehingga membuat keberadaan TBM kurang diketahui oleh beberapa pengunjung. Namun upaya yang telah dilakukan oleh pihak ECO Bambu telah dilaksanakan dengan maksimal, namun terdapat kendala dari pihak internal. Dari simpulan di atas, dapat bermanfaat bagi pengembangan ECO Bambu Cipaku agar program yang dijalankan dapat terlaksana sesuai dengan perencanaan. Dan program tersebut dapat diimplementasikan oleh beberapa lembaga khususnya perpustakaan maupun TBM sebagai upaya untuk media promosi bagi lembaga tersebut. Implikasi Dari hasil penelitian di atas, berimplikasi secara pengembangan TBM ECO Bambu Cipaku meliputi kegiatan manajerial dalam pembuatan kebijakan serta pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), dan pengawasan dari implementasi program edutourism yang dilaksanakan di Sanggar Seni Budaya ECO Bambu Cipaku. Rekomendasi Berdasarkan hasil simpulan yang telah disampaikan, maka peneliti memberikan beberapa rekomendasi yang diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak yang bersangkutan, yaitu sebagai berikut. Pengelola ECO Bambu Cipaku 1)Menyediakan SDM khusus untuk memperkenalkan keberadaan TBM dengan memberikan informasi bahwa, di Sanggar Seni Budaya ECO Bambu Cipaku terdapat taman bacaan. 2)Membentuk jaringan antara program edutourism dengan TBM agar terjadi hubungan timbal balik, sehingga minat baca masyarakat akan muncul melalui daya tarik budaya. Bentuk jaringan tersebut dapat memasukkan unsur membaca pada awal kegiatan program edutourism, begitupun sebaliknya. 3)Memberikan tanggungg jawab kepada pengelola TBM agar adanya pelayanan yang diberikan kepada pemustaka ketika pelaksanaan program edutourism. 4)Dilakukan pengawasan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama pada kegiatan selanjutnya Pengeloa TBM ECO Bambu Cipaku 1)Melakukan koordinasi kembali dengan pihak ECO Bambu sebelum pelaksanaan program edutourism. 2)Lebih interaktif dengan pemustaka untuk lebih memperkenalkan keberadaan dari TBM, 3)Melakukan kerjasama dengan pihak penerbit agar koleksi yang dilayankan oleh pihak TBM dapat lebih bervariasi dan memenuhi standar koleksi dari TBM.