Kembali
16
1
2018 Pustabiblia : Journal of Library and Information Science Vol 2 · 2 ISSN 2549-3868

Persepsi Pemustaka terhadap Pemanfaatan Perpustakaan Perguruan Tinggi: Sebuah Analisis Korelasi

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta; Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Introduction

Perpustakaan perguruan tinggi telah memainkan peran penting di kampus sebagai “jantung universitas.” Sebagai upaya untuk memajukan di kalangan akademisi, perpustakaan telah mengakomodasi perubahan dalam tren pemanfaatan fasilitas untuk mendukung pemustaka dengan lebih baik dalam proses belajar dan pencarian sumber informasi sebagai karya intelektual. Perubahan yang terjadi dalam pendekatan pemustaka terhadap pencarian informasi dan pembelajaran telah membawa kebutuhan akan transisi di sisi fasilitas dan layanan perpustakaan. Perpustakaan akademis telah memanfaatkan teknologi baru dan mendesain ulang layanan untuk mengakomodasi perubahan dalam memenuhi kebutuhan dan perilaku pemustaka. Meski informasi yang luas tersedia dari jarak jauh, perpustakaan secara fisik masih menjadi pilihan bagi pemustaka (Applegate1, 2009). Berbagai penelitian telah melaporkan peningkatan penggunaan fasilitas perpustakaan (Houlihan2, 2005; McKay3, 2011; Shill4 & Tonner, 2004). Peneliti menyebut peningkatan tersebut sebagai “mental pasca internet” (Albanese5, 2003). Perpustakaan perguruan tinggi masih menjadi salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi mahasiswa di kampus. Perpustakan mendukung berbagai aktivitas pemustaka untuk mencari informasi, studi individu dan kelompok, sosialisasi, dan relaksasi. Karena semakin banyak aspek pembelajaran sosial dan kolaboratif yang ditekankan pada pendidikan tinggi, perpustakaan perguruan tinggi telah berkembang menjadi pusat kegiatan sosial serta pusat-pusat sumber informasi karya intelektual. Perpustakaan perguruan tinggi akan menyesuaikan dengan tren aktivitas akademis dan sosial pemustaka dan akan terus berfungsi sebagai institusi penting di dalam masyarakatnya. Dengan demikian, perpustakaan perguruan tinggi harus melakukan upaya terus menerus untuk menyediakan fasilitas dan layanan berbasis pemustaka berdasarkan pada pemahaman kebutuhan dan perilaku pemustaka. Menangkap perubahan persepsi dan perilaku pemustaka merupakan bagian yang sangat penting dalam merencanakan fasilitas dan layanan perpustakaan. Mengingat pentingnya perpustakaan perguruan tinggi di institusi akademis dan sifat perubahan persepsi dan perilaku pemustaka, sangat penting untuk menguji persepsi pemustaka perpustakaan akademis dan bagaimana kaitannya dengan pemanfaatan perpustakaan. Studi ini mengeksplorasi persepsi pemustaka dan pemanfaatan perpustakaan perguruan tinggi melalui survei. Survei ini menyelidiki persepsi pemustaka, pola pemanfaatan, dan korelasi persepsi pemustaka dan pemanfaatan fasilitas perpustakaan. Studi empiris tentang persepsi pemustaka dan perilaku pemanfaatan dapat memberikan wawasan mengenai peningkatan keputusan manajemen dalam merencanakan fasilitas dan layanan perpustakaan.

Discussion

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa perpustakaan perguruan tinggi merupakan tempat untuk belajar dan menghabiskan waktu di masa tidak ada perkuliahan di kampus. Hal ini mendukung temuan penelitian lain yang mengidentifikasi tempat favorit mahasiswa. Houlihan22 (2005) menunjukkan bahwa perpustakaan menjadi tempat yang lebih populer untuk bekerja dan bersosialisasi, terutama dan mengijinkan pemustaka membawa makanan dan minuman di dalam perpustakaan. Waxman, Clemons, Banning, dan McKelfresh23 (2007) menemukan bahwa perpustakaan merupakan tempat yang populer untuk bertemu dengan sesama mahasiswa, mengerjakan tugas kelompok, atau menemukan relaksasi dan menenangkan diri. Dalam sebuah penelitian yang menyelidiki pemanfaatan ruang di perpustakaan akademis, Bryant, Matthews, dan Walton24 (2009) melaporkan bahwa maha siswa cenderung melakukan tugas-tugas akademik dan kegiatan sosial secara bersamaan. Ruang terbuka perpustakaan yang mendukung aktivitas akademis dan sosial ditemukan sebagai daerah yang populer. Dalam penelitian ini, frekuensi kunjungan perpustakaan ditemukan secara signifikan dan berkorelasi positif dengan masa waktu rata-rata setiap kunjungan ke perpustakaan. Hasilnya menunjukkan bahwa pemustaka yang mengunjungi perpustakaan lebih sering cenderung tinggal lebih lama di setiap kunjungan. Selain itu, ditemukan bahwa frekuensi kunjungan perpustakaan secara signifikan dan berkorelasi positif dengan frekuensi kunjungan situs web perpustakaan. Ini menunjukkan bahwa pemustaka yang sering mengunjungi perpustakaan secara fisik dan cenderung mengunjungi situs web perpustakaan sesering mungkin. Namun, tidak ada korelasi yang signifikan antara waktu rata-rata setiap kunjungan ke perpustakaan secara f isik dan frekuensi kunjungan situs web perpustakaan. Aktivitas pemustaka yang paling sering di perpustakaan ditemukan se bagai belajar mandiri, diikuti dengan urutan menurun dengan mem baca, penggunaan komputer, menemukan informasi, studi kelompok, menggunakan layanan referensi dan informasi, dan pertemuan dan sosialisasi. Hasilnya konsisten dengan penelitian lain yang melaporkan bahwa ruang belajar merupakan ruang yang paling sering digunakan di perpustakaan akademik. King, Buss, Cohen, Stanley, Dan White25 (2008) menekankan pentingnya ruang belajar bahwa ruang yang paling umum digunakan di perpustakaan yaitu ruang untuk belajar mandiri dan kelompok. Laporan kecenderungan penggunaan perpustakaan oleh mahasiswa, Lawson26 (2004) mencatat bahwa banyak digunakan perpustakaan universitas sebagai tempat belajar secara individu atau berkelompok. Dengan demikian, perpustakaan akademik perlu menyediakan berbagai ruang belajar yang memenuhi gaya belajar dan preferensi ruang pemustaka. Membaca juga merupakan tujuan utama untuk datang ke perpustakaan akademik. Freeman27 (2005) mencatat bahwa banyak mahasiswa menganggap ruang baca tradisional sebagai area favorit perpustakaan mereka. Penggunaan komputer publik masih kuat di perpustakaan, dan meningkatkan jumlah komputer dan periferal (Lux, Snyder, & Boff28, 2016; Whitmire29, 2001). Menemukan informasi juga dilapor kan sebagai kegiatan yang sering dilakukan di perpustakaan. Nilai rata-rata untuk aktivitas pemustaka seperti pemanfaatan layanan referensi dan informasi dan pertemuan dan sosialisasi juga ditemukan relatif tinggi, se hingga menyiratkan pentingnya penyediaan layanan perpustakaan yang efektif dan lingkungan yang ramah yang memperkaya pengalaman sosial pemustaka. Memperoleh hubungan antara pola pemanfaatan dan akti vitas pemustaka di perpustakaan, frekuensi kunjungan ke perpustakaan memiliki korelasi positif yang signifikan dengan belajar mandiri, studi kelompok, belajar, dan penggunaan komputer. Ini menyiratkan bahwa pemustaka yang sering berkunjung ke perpustakaan cenderung melakukan aktivitas seperti studi individual, studi kelompok, belajar, dan penggunaan komputer lebih sering dilakukan. Perpustakaan akademik perlu memperluas fasilitas dan layanannya untuk mendukung kegiatan agar menarik lebih banyak pemustaka ke perpustakaan. Waktu rata-rata setiap kunjungan ke perpustakaan memiliki korelasi positif yang signifikan dengan belajar secara individu, diijinkan makan dan minum, menggunakan ruang, dan penggunaan komputer. Ini menunjukkan bahwa pemustaka yang tinggal lebih lama di perpustakaan pada setiap kunjungan cenderung terlibat dalam aktivitas ini menjadi lebih sering. Mengingat bahwa pemustaka yang terlibat dalam kegiatan semacam itu cenderung tinggal lebih lama di perpustakaan, perpustakaan perlu menciptakan lingkungan yang nyaman dan efisien untuk mendukung kegiatan tersebut. Selain itu, frekuensi kunjungan situs perpustakaan memiliki korelasi positif yang signifikan dengan menggunakan layanan referensi dan informasi, sirkulasi, dan belajar. Ini menunjukkan bahwa pemustaka yang mengunjungi situs web perpustakaan seringkali cenderung terlibat dalam aktivitas seperti lebih sering menggunakan layanan referensi dan informasi, sirkulasi, dan belajar. Dengan adanya korelasi tidak nonsignifikan antara frekuensi kunjungan situs perpustakaan dan rata-rata lama setiap kunjungan ke perpustakaan, pengunjung situs web yang sering tidak lama berkunjung di perpustakaan perlu diberi layanan efisien dan efisien saat mereka mengunjungi perpustakaan. Mengenai persepsi pemustaka perpustakaan universitas, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pemustaka memandang perpustakaan terutama sebagai tempat belajar dan pencarian informasi. Karena pem belajar an di bidang pendidikan tinggi menekankan interaksi dan diskusi kelompok yang memungkinkan mahasiswa untuk menemukan dan berbagi pengetahuan dengan peserta didik lainnya (Sens, 2009), perpustakaan perlu mendukung aspek sosial dan kolaboratif proses belajar mahasiswa dengan membentuk kembali ruang belajar. Mengakomodasi pendekatan baru untuk belajar dan berbagai gaya belajar pemustaka, perpustakaan harus melakukan upaya untuk membentuk kembali ruang perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka khususnya tren generasi saat ini. Seiring dengan berkembangnya ruang dan fasilitas, penyediaan informasi dan pelayanan sangat penting di perpustakaan untuk meningkatkan pembelajaran. Ini mungkin termasuk penyediaan koleksi cetak dan digital yang memenuhi persyaratan kualitas informasi dan preferensi pemustaka, menyiapkan pelatihan akses sumber informasi, dan pengelolaan tugas akhir mahasiswa yang efektif untuk pengetahuan komunitas akademik. Sebagai tempat mencari informasi, perpustakaan akademis perlu menyediakan layanan dan program informasi enterprenurship yang efektif yang memfasilitasi kegiatan belajar dan pengetahuan dari komunitas akademis. Kegiatan enterprenurship diberikan pada event tertentu seperti workshop yang melibatkan perpustakaan, pustakawan dan mahasiswa dalam berbagi pengalaman dengan pengusaha muda dalam hal ini mahasiswa. Selain itu, nilai rata-rata untuk persepsi pengguna perpustakaan akademik sebagai tempat perenungan dan tempat untuk bertemu dan bersosialisasi juga tergolong tinggi, menyiratkan bahwa perpustakaan dianggap sebagai tujuan multi tujuan yang diharapkan dapat melayani berbagai fungsi yang mencakup berbagai aktivitas pemustaka

Conclusion

Penelitian ini memberikan bukti empiris persepsi pemustaka dan pemanfaatan fasilitas perpustakaan perguruan tinggi. Ini menunjukkan bahwa perpustakaan merupakan tempat yang disukai untuk tempat belajar dan menghabiskan waktu di kampus. Ditemukan bahwa aktivitas pemustaka sering dilakukan di perpustakaan termasuk belajar mandiri, membaca, penggunaan komputer, mencari dan menemukan informasi, studi kelompok/ diskusi, menggunakan referensi dan layanan informasi, dan pertemuan dan sosialisasi. Pemustaka cenderung menganggap perpustakaan sebagai tempat belajar dan pencarian informasi. Persepsi pemustaka perpustakaan akademik sebagai tempat perenungan dan tempat untuk pertemuan dan bersosialisasi ditemukan relatif tinggi, menyiratkan harapan pemustaka akan perpustakaan sebagai tujuan multi guna yang mendukung berbagai aktivitas pemustaka. Mengingat pentingnya pembelajaran dan pencarian informasi yang teridentifikasi dalam persepsi pemustaka, maka perpustakaan perlu mengakomodasi ruang pemustaka untuk ruang belajar dan memberikan layanan dan program informasi yang efektif. Untuk tetap menjadi tempat yang bernilai bagi komunitas akademis, perpustakaan harus berkembang menjadi tempat yang menarik untuk mendukung berbagai aktivitas pemustaka dengan terus mereformasi fasilitas dan layanan yang tersedia. Kegiatan enterprenurship diberikan pada event tertentu seperti workshop sharing informasi berbagi pengalaman dengan pengusaha muda dalam hal ini mahasiswa. Temuan penelitian ini menunjukkan bagaimana pemustaka di perguruan tinggi saat ini memandang perpustakaan akademis dan bagaimana menggunakan ruang dan layanan perpustakaan. Pemustaka dapat memberikan wawasan tentang bagaimana perpustakaan dapat memperkuat dan memajukan peran mereka di komunitas akademis.