Kembali
16
1
2021 Pustabiblia : Journal of Library and Information Science Vol 5 · 2 ISSN 2549-3868

Pengaruh Kegiatan Pengembangan Profesi Terhadap Karier Pustakawan di Universitas Hasanuddin

Universitas Hasanuddin; Universitas Hasanuddin; Universitas Gadjah Mada

Abstract

Research purposes is analyze and describe the Effect of Professional Development of Librarians on Career Development of Librarians at Hasanuddin University. This research is quantitative. The research subject is Hasanuddin University librarian. Determination of respondents using purposive sampling method. The number of re spondents was 48 civil servant librarians. Collecting data through the distribution of questionnaires and documentation. Descriptive statistical data analysis and multiple linear regression. The study found that partially only the innovative work of librarians affected the career development of librarians at Hasanuddin University. Meanwhile, self-development and scientific publications do not affect the career development of librarians at Hasanuddin University. Then simultaneously self-development, scientific publications and innovative works affect the career development of librarians at Hasa nuddin University. Barriers to librarians in professional development are the lack of motivation of librarians; less confident; less focus; ability or knowledge and skills; limited time due to work; less productivity due to environmental factors; limited budget and forum for professional development activities; lack of attention and appreciation from the leadership or agency. Meanwhile, the lack of opportunity and narrow insight is not an obstacle. Furthermore, the obstacles for librarians in career development are lack of strength or ability, feeling satisfied with the position they have, lack of cooperation or a supportive network in their environment. Meanwhile, unsure of the librarian’s competence, lack of responsibility such as lazy, likes to be late, often not in the office; lack of strength or ability; lack of information is not obstacle for librarians in career development activities
Keywords: librarian · professional development · career development

Introduction

Perpustakaan dalam menjalankan kegiatannya membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan profesional dalam bidangnya yaitu pustakawan. Pustakawan merupakan jabatan fungsional karena memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan, serta pelaksana dalam tugas utama bidang kepustakawanan. “Kepustakawanan adalah kegiatan ilmiah dan profesional yang meliputi kegiatan pengelolaan perpustakaan, pelayanan perpustakaan, dan pengembangan sistem kepustakawanan”.1 Berdasarkan data UPT Perpustakaan Universitas tahun 2020 bahwa jumlah pejabat fungsional pustakawan di lingkungan Universitas Hasanuddin sebanyak 4 orang jabatan Tingkat Terampil dan 40 orang Tingkat Ahli. Data tersebut menunjukkan bahwa Universitas Hasanuddin sudah memiliki tenaga pustakawan yang cukup sesuai dengan standar berdirinya perpustakaan perguruan tinggi. “Standar berdirinya perpustakaan perguruan tinggi dalam buku Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Perguruan Tinggi Tahun 2015 dijelaskan bahwa perpustakaan dikelola oleh tenaga perpustakaan paling kurang 2 orang pustakawan; untuk 500 mahasiswa pertama: 1 orang pustakawan dan 1orang staf;untuk setiap tambahan 200 mahasiswa, ditambah 1 orang pustakawan”.2 Perkembangan ilmu pengetahuan, ledakan informasi dan terknologi informasi yang sangat pesat dan cepat, mutu kinerja pustakawan dan kinerja institusi, serta jabatan fungsional merupakan tantangan bagi profesi pustakawan dalam menjalankan kegiatannya. Tuntutan tersebut, mengharuskan pustakawan untuk melakukan pengembangan profesi. “Pengembangan profesi adalah pengembangan pengetahuan, keahlian, keterampilan, sikap dan bakat yang bermanfaat untuk profesi pustakawan dalam melaksanakan tugas kepustakawanan”.3Tujuan pengembangan profesi pustakawan adalah untuk meningkatkan kompetensi, kualitas kerja dan kinerja institusi dan karier pustakawan. Kegiatan pengembangan profesi perlu dilakukan oleh semua pustakawan. Kegiatan tersebut meliputi pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif. Pengembangan diri merupakan bentuk perwujudan dari aktualisasi diri, yaitu sebuah bentuk keinginan yang dimiliki pustakawanakan kemampuan dirinya untuk mencapai tujuan yang diingikan. Publikasi ilmiah adalah karya tulis yang telah dihasilkan oleh pustakawan dan dipublikasikan kepada masyarakat, baik bentuk tercetak maupun elektronik. Karya inovatif pustakawan adalah suatu karya pengembangan kepustakawanan yang bersifat penemuan baru seperti penemuan teknologi informasi perpustakaan, pengemasan informasi dari bentuk cetak ke digital, penyusunan standar, pedoman dan sejenisnya. Kegiatan pengembangan profesi pustakawan merupakan dampak nyata yang memerlukan dukungan dari institusi atau lembaga induknya dalam rangka meningkatkan kinerja perpustakaan, mutu kerja, keberadaan profesi pustakawan dan perkembangan karier. Pengembangan karier pustakawan adalah proses kemampuan aktivitas yang dilakukan oleh pustakawan untuk mempersiapkan diri dalam kemajuan jalur karier yang direncanakan dan diharapkan. Dengan adanya pengembangan karier tersebut, sehingga pustakawan akan mendapatkan hak-hak yang lebih baik dari apa yang diperoleh sebelumnya. Rivai (2014) berpendapat bahwa “pengembangan karier adalah serangkaian proses peningkatan kemampuan kerja individu yang dicapai dalam rangka mencapai karir yang diinginkan yang bertujuan menyesuaikan antara kebutuhan dan tujuan karyawan dengan kesempatan karir yang tersedia di perusahaan saat ini dan di masa yang akan dating”.4 Sejalan dengan pendapat Nawawi (2016) bahwa “pengembangan karier merupakan usaha formal untuk meningkatkan dan menambah kemampuan, yang diharapkan bedampak pada pengembangan dan perluasan wawasan, yang membuka kesempatan mendapatkan posisi/jabatan yang memuaskan dalam kehidupan sebagai pekerja dengan tujuan memperbaiki dan meningkatkan efektivitas pelaksanaan pekerjaan, agar semakin mampu memberikan kontribusi terbaik dalam mewujudkan tujuan organisasi”.5 Namun kondisi saat ini, banyak pustakawan, khususnya pustakawan yang ada di lingkup Universitas Hasanuddin, belum menjalankan kegiatan pengembangan profesi sebagaimana mestinya. Sementara itu, pengembangan profesi sangatlah penting bagi pustakawan dalam perkembangan karier ke jenjang lebih tinggi, serta dapat mewujudkan sumber daya mansuia perpustakaan yang kompeten dan berkualitas. Menurut Wuryandini (2014) bahwa “permasalahan yang dihadapi kegiatan PKB antara lain dikemukakan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Ketua MGMP, Kepala Sekolah dan Guru bahwa: guru memiliki karakteristik yang berbeda (individu dan lingkungan ); belum adanya sosialisasi diklat workshop tentang pengembangan diri publikasi ilmiah, dan karya inovatif; terbatasnya anggaran; kurangnya kesiapan dan komitmen untuk mengikuti pengembangan; kesempatan tidak berkelanjutan ; kurangnya motivasi; metode pelatihan dan workshop dinilai masih kurang tepat”.6 Sejalan dengan pendapat Abdan (2018) bahwa “kendala dalam melakukan kegiatan menulis dipengaruhi oleh faktor internal mencakup kurangnya motivasi, tidak memiliki ide, tidak percaya diri, kurang fokus, wawasan yang sempit, tidak berbakat, kurang menguasai kebahasaan, merasa puas sebagai konsumen. Faktor eksternal yaitu tidak mempunyai waktu, lingkungan tidak kondusif, terbatasnya wadah pelatihan, kurangnya apresiasi. Namun demikian, keterampilan menulis itu tidak akan dikuasai hanya melalui teori saja tetapi harus dilaksanakan melalui latihan dan praktek yang teratur diimbangi dengan membaca yang banyak, mendengarkan dengan cermat, dan menulis yang banyak Hambatan pengembangan karier menurut Krestyawan (2018) bahwa “hambatan utama yang ditemui dalam pengembangan karir, yaitu: kurangnya rasa percaya diri, kebiasaan dan perilaku buruk, kurangnya informasi untuk mengembangkan karir, tujuan karir dan nilai-nilai diri yang tidak selaras, kurangnya kesadaran diri tentang kekuatan-kekuatan diri, pengetahuan, keterampilan diri, ketidakmampuan berkomunikasi secara efektif,dan kurangnya jaringan yang mendukung”.8 Faktor yang mempengaruhi kenaikan pangkat/jabatan pustakawan dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal berasal dari dalam diri pustakawan yang bersangkutan, misalnya: minat, motivasi, kesungguhan, persepsi menjadi pustakawan, jenjang pendidikan Perpusdokinfo maupun minat bekerja di perpustakaan. Faktor eksternal berasal dari luar diri pustakawan yang bersangkutan, misalnya: nilai satuan angka kredit dalam butir kegiatan kepustakawanan yang terlampau kecil, lingkungan kerja kurang kondusif, tim penilai yang kurang kompeten dalammelakukan penilaian, perhatian pimpinan terhadap pustakawan kurang mendukung, apresiasi terhadap profesi pustakawan yang sangat kurang darilembaga, pustakawan selain mengerjakan tupoksi juga mengerjakan pekerjaan lain di luar perpusdokinfo. Berdasasrkan beberapa pendapat di atas, maka dapat dikatakan bahwa ada beberapa faktor penghambat yang menyebabkan kegiatan pengembangan profesi meliputi pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovasi antara lain: kurangnya pengetahuan, kemampuan dan keterampilan; rendahnya minat; motivasi pustakawan rendah;tidak percaya diri, tidak fokus, terbatasnya waktu; kurang produktivitas karena faktor lingkungan; terbatasnya anggaran dan wadah; dan kurangnya perhatian dari pimpinan. Sementara itu, hambatan dalam pengembangan karier yaitu minat, motivasi, jenjang pendidikan, prestasi kerja, kurang percaya diri, tidak yakin dengan kompetensi diri, kurangnya informasi, merasa puas dengan jabatan yang dimiliki, nilai satuan angka kredit terlampau kecil, kurangnya jaringan kerjasama. Hambatan-hambatan pengembangan profesi tersebut akan berdampak pada perkembangan karier. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan suatu penelitian untuk menjawab permasalahan apakah pengembangan profesi meliputi kegiatan pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karyai novatifberpengaruh terhadap perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanuddin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan gambaran tentang pengaruh pengembangan profesi terhadap perkembangan karier pustakawan serta hambatan-hambatan yang dihadapi oleh pustakawan dalam melakukan kegiatan pengembangan profesi dan perkembangan kariernya di Universitas Hasanuddin. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan bagi Universitas Hasanuddin Makassar dalam menyusun rencana strategis dan operasional untuk pengembangan profesi jabatan pustakawan; dan bahan perbandingan dan sumber rujukan bagi peneliti peneliti atau penulis yang mengkaji tentang pengembangan profesi dan pengembangan karier jabatan fungsional pustakawan;serta dapat memberikan sumbangsih bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang kepustakawanan

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitaif dengan metode survei yaitu penelitian yang menggunakan kuesioner atau angket. Populasi penelitian adalah semua pegawai perpustakaan Universitas Hasanuddin sebanyak 57 orang (data statistic, 2020). Sampel penelitian adalah pustakawanpegawai negeri sipil Universitas Hasanuddin. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Jumlah sampel sebanyak 48 pustakawan Pegawai. Metode pengumpulan data menggunakan angket atau kuesioner dan dokumentasi. Pengolahan data menggunakan SPSS 25.0. Metode analisis data adalah statistik deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Untuk pengujian data dilakukan uji parsial atau sendiri sendiri (T-Tes) yaitu untuk menganalisis pengaruh masing-masing variable independen (X) terhadap variable dependen (Y) dengan asumsi bahwa bila nilai T hitung lebih besar dari T tabel, maka Ho ditolak, artinya signifikan. Sebaliknya jika T hitung lebih kecil dari nilai T tabel, maka Ho diterima, artinya tidak signifikan. Sementara, uji simultan atau uji bersama-sama (F-Test) yaituuntuk menganalisis pengaruh semua variable independen (X) terhadap variable dependen (Y) dengan asumsi bahwa jika nilai F Hitung lebih besar dari F tabel, maka Ho ditolak, artinya signifikan. Sebaliknya jika nilai F hitung lebih kecil dari nilai F tabel, maka Ho diterima, artinya tidak signifikan. Sementara itu, Uji analisis determinsasi (R2) yaitu untuk menguji besarnya tingkat pengaruh variabel pengembangan profesi pustakawan terhadap variabel perkembangan karier pustakawan

Discussion

Pengaruh masing-masing Pengembangan Diri, Publikasi Ilmiah, dan Karya Inovatif Terhadap Perkembangan Karier Pustakawan di Universitas Hasanuddin. Untuk melihat hasil penelitian pengaruh secara parsial pengembangan profesi pustakawan (Pengembangan Diri, Publikasi Ilmiah, dan Karya Inovatif) terhadap perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanuddin Makassar dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Uji Hipotesis Parsial Coefficientsa Simbol Variabel Penelitian Nilai Thitung Nila Ttabel Nilai Sig. Nilai Standardized Coefficients X1 Kegiatan Pengembangan Diri 1,705 2,021 0,095 X2 Kegiatan Pubilkasi Ilmiah-0,120 0,230 2,021 0,905-0,018 X3 Kegiatan Karya Inovasi 3,128 2,021 ,0,003 0,450 Sumber: data primer, 2021a. Dependent Variable: Perkembangan Karier Berdasarkan tabel 1, terlihat bahwa variabel kegiatan pengembangan diri pustakawan memiliki nilai Thitung sebesar 1,705 dan Ttabel 2,021. Data tersebut menunjukkan bahwa nilai Thitung 1,705 < Ttabel 2,021 atau nilai signifikasi0,095 > 0,05, maka Ho diterima. Artinya tidak terdapat pengaruh pengembangan diri terhadap perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanunddin. Besar tingkat tidak signifikansinya yaitu sebesar 0,23 atau 23 %. Hasil ini menggambarkan bahwa ternyata kegiatan pengembangan diri pustakawan seperti mengikuti pendidikan lebih tinggi di bidang perpusdokinfo; mengikuti pelatihan atau diklat; mengikuti workshop, seminar, ceramah dan lain-lain; aktif dalam pengurus dan kegiatan Ikatan Pustakawan Indonesia baik lokal maupun nasional tidak memberikan dampakpositif pada perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanudddin. Pengembangan diri merupakan bentuk perwujudan dari aktualisasi diri, yaitu proses mewujudkan diri menjadi yang terbaik sejalan dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki. Setiap individu mempunyai kekuatan yang bersumber dari dirinya, namun banyak orang yang merasa tidak mempunyai kemampuan apa-apa, merasa dirinya tidak berguna dan tidak mampu mencapai aktualisasi diri. Pengembangan bisa dikatakan suatu langkah awal yang dilakukan seseorang guna mengenali dirinya sendiri, dalam segala hal baik itu dalam segi pelajaran, pekerjaan dan lain sebagainya. Sehingga pengembangan diri merupakan suatu proses mengembangkan bakat ataupun potensi yang dimiliki oleh seseorang. “Pengembangan diri bisa dilakukan dengan berbagai cara dan berbagai tempat, dalam dunia pendidikan pengembangan diri sendiri termasuk di luar mata pelajaran yang tercantum dalam kurikulum di suatu sekolah. Pengembangan diri merupakan penyesuaian potensi, bakat dan minat seseorang yang merujuk pada definisi diatas pengembangan diri dilakukan dengan berbagai kegiatan dan acara. Kegiatan itu dilakukan untuk menumbuhkan dan semakin memupuk kiranya bakat ataupun potensi apa yang melekat pada seseorang (Antika dan Suharso 2013)”.38 Sementara itu, variabel kegiatan publikasi ilmiah pustakawan pada table 1, diketahui bahwa nilai Thitung publikasi ilmiah yaitu sebesar -0,120, sedangkan nila Ttabel yaitu sebesar 2,021. Data tersebut menunjukkan bahwa nilai Thitung -0,120 < Ttabel 2,021 atau nilai signifikasi0,91 > 0,05, maka Ho diterima. Artinya tidakterdapat pengaruhkegiatan publikasi ilmiah terhadap perkembangan karier pustakaawan di Universitas Hasanuddin. Besarnya tingkat tidak signifikansinya adalah sebesar -0,18 atau -18 %. Hasilini menggambarkan bahwa kegiatan publikasi ilmiah pustakawan tidak dapat memberikan dampak positif pada perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanudin Makassar. Publikasi ilmiah merupakan suatu bentuk kegiatan penyebarluasan karya ilmiah seseorang atau kelompok dalam bentuk laporan baik hasil penelitian, makalah, buku, artikel dan lain-lain. Salah satu wujud dari profesionalisme pustakawan adalah melakukan kegiatan publikasi ilmiah. Publikasi ilmiah pustakawan berkontribusi dalam keilmuan bidang kepustakawanan, karena berbagai pengalaman kerja pustakawan dan idepengembangan perpustakaan yang ditulis pustakawan pada suatu karya ilmiah akan lebih bermanfaat jika dipublikasikan secara luas. Publikasi ilmiah pustakawan dapat meningkatkan citra profesi pustakawan, karena menulis karya ilmiah merupakan salah satu upaya pemasaran kepada publik mengenai berbagai hal yang terkait dalam sebuah profesi.Menulis karya tulis ilmiah merupakan salah satu upaya pemasaran kepada publik mengenai berbagai hal yang terkait dalam sebuah profesi, tak terkecuali pustakawan. “Menulis karya ilmiah yang dipublikasikan secara luas melalui buku, artikel jurnal ilmiah maupun media massa, pustakawan dapat mempengaruhi dan menepis opini masyarakat yang masih memandang sebelah mata profesi pustakawan. Kontribusi pustakawan dalam komunikasi ilmiah bidang perpustakaan dan informasi merupakan salah satu langkah pembuktian eksistensi pustakawan dan upaya meningkatkan profesionalisme profesi pustakawan dalam dunia akademik (Novianto, 2020)”.39 Selanjutnya Masriyatun (2018) mengatakan bahwa “pustakawan harus mempunyai kemampuan dalam bidang meneliti bidang kepustakawanan agar profesinya dapat lebih diakui eksistensinya di masyarakat di mana penelitian yang dilakukan dapat melalui berbagai aspek bidang ilmu perpustakaan dan informasi di sebuah perpustakaan berkaitan dengan produk informasi, sistem informasi, perilaku penelusuran informasi dan pemakai informasi itu sendiri”.40 Namun variable kegiatan karya inovasi pustakawan pada table 1, diketahui bahwa nilai Thitung karya inoatif pustakawan (X3) yaitu sebesar 2,021, sedangkan nila Ttabel yaitu sebesar 2,021. Data tersebut menunjukkan bahwa nilai Thitung 3,128 > Ttabel 2,021 atau nilai signifikasi0,003 < 0,05, maka Ho ditolak, artinya terdapat pengaruh positif kegiatan karya inovatif terhadap perkembangan karier pustakawan. Besarnya tingkat signifikansinya adalah sebesar 0,45 atau 45 %.Hasil ini menggambarkan bahawaternyata karya inovatif pustakawan dapat memberikan dampak yang besar pada perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanudin. Pustakawan kreatif inovatif adalah pustakawan yang mampu membuat program serta terobosan yang mampu membuat pemustaka sering mengunjungi perpustkaan. Pustakawan kreatif dan inovatif merupakan pustakawan yang luar biasa. Pustakwan mampu menguraikan kompleksitas tantangan dan memikirkan berbagai alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk menghadapi tantangan zaman. Pustakawan kreatif inovatif selalu bekerja dengan luar biasa. Pustakawan seperti ini selalu berpan dangan positif dan orientasi pandangannya terhadap suatu persoalan merupakan kunci awal baginya untuk membangun kreativitas. Menurut Biranvand (2015: 13) dalam penelitiannya menyatakan bahwa “perpustakaan modern harus lebih kreatif dan inovatif untuk mengatasi kompleksitas komunikasi ilmiah dan berhasil menanganiteknologi informasi”.41 “Strategi kunci untuk merajut inovasi dalam rangka optimalisasi pengembangan SDM perpustakaan perguruan tinggi agar berkualitas dan menjadi terobosan yang menantang untuk diwujudkan, salah satunya dengan embedded librarians (Fatmawati, 2016)”.42 Pandangan Lieutenant (2013) bahwa “embedded librarian adalah mensyaratkan keaktifan, partisipasi aktif, ada target capaian keluar dari perpustakaannya. Pustakawan dapat memberikan informasi terkait topik penelitian, literasi informasi, cara membuat daftar pustaka, kontak informasi yang penting, dan cara menelusur sumber informasi elektronik. Kemudian untuk suksesnya embedding librarianship dalam pembelajaran online, mencakup aspek partnership, participation, dan community”.43 4.2. Pengaruh Secara Bersama-Sama Pengembangan Profesi Pustakawan (Pengembangan Diri, Publikasi Ilmiah, dan Karya Inovatif) Terhadap Perkembangan Karier Pustakawan di Universitas Hasanuddin. Untuk melihat hasil penelitian pengaruh secara simultan antara pengembangan profesi (pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif pustakawan terhadap perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanuddin Makassar dapat dilihat pada tabel 2. abel 2. Hasil Uji F ANOVAa Regresi Model 1 Regression Residual Total Sum of Squares 3.533 9.743 df 3 Mean Square F hitung F Tabel 1.178 5.198 43 13.277 a. 46 .227 2,82 Sig. .004b Dependent Variable: Y . b. Predictors: (Constant), X3, X1, X2. Sumber: data primer, 2021 Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 2, terlihat bahwa nilai Fhitung variabel pengembangan profesi (kegiatan pengembangan diri, publikasi ilmiah dan inovatif pustakawan) yakni sebesar 5,198 dan Ftabel sebesar 2,82, sedangkan nilaisig. 0,004 dan level of significant (0.05), karena nilai Fhitung 5,198 > Ftabel 3,21 atau nilai 0,004< 0,05, maka Ho di tolak. Artinya terdapat pengaruh positif secara bersama-sama pengembangan profesi terhadap perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanuddin. Hasil ini menggambarkan bahwa ternyata pengembangan profesi pustakawan terdiri dari: kegiatan pengembangan diri, kegiatan publikasi ilmiah, dan kegiatan karya inovasi pustakawan dapat memberikan dampak positif pada perkembangan karier pustakawan. Sementara itu, untuk mengetahui besarnya kemampuan pengaruh yang diberikan oleh variable pengembangan profesi terdiri dari: kegiatan pengembangan diri; kegiatan publikasi ilmiah; dan kegiatan karya inovasi pustakawanterhadap perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanuddin dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .516a .266 .215 Durbin-Watson .476 a. 1.930 Predictors: (Constant), X3, X1, X2. Dependent Variable: Y. Sumber: data primer, 2021 Berdasarkan hasil output pada tabel 3, diperoleh nilai R2 (R Square) yakni 0,266, artinya pengembangan profesi terdiri dari: kegiatan pengembangan diri; kegiatan publikasi ilmiah; dan kegiatan karya inovasi pustakawandapat mempengaruhi perkembangan karier pustakawan sebesar 27%. Sementara, sisanya 73% dipengaruhi oleh variable lain yang tidak diteliti. Pengembangan profesi pustakawan menititikberatkan pada kegiatan penelitian, pelatihan, seminar atau workshop dan kreatif inovatif. Dalam rangka meningkatkan profesi pustakawan, maka pustakawan harus memiliki motivasi dan semangat yang tinggi dalam pengembangan profesinya. Pustakawan yang memiliki motivasi dan semangat yang tinggi dapat lebih mudah untuk meningkatkan pengembangan profesinya melalui berbagai macam kegiatan pengembangan profesi yang diikuti sehingga nantinya dapat meningkatkan kompetensi pustakawan dan mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas di perpustakaan. Menurut Nashihuddin (2011), “profesionalisme pustakawan mempunyai arti pelaksanaan kegiatan perpustakaan yang didasarkan pada keahlian dan rasa tanggungjawab sebagai pengelola perpustakaan. Keahlian menjadi faktor penentu dalam menghasilkan hasil kerja serta memecahkan masalah yang mungkin muncul. Sementara itu, tanggungjawab merupakan proses kerja pustakawan yang tidak semata-mata bersifat rutinitas, tetapi senantiasa dibarengi dengan upaya kegiatan yang bermutu melalu prosedur kerja yang benar”.44 4.3. Hambatan dalam pengembangan profesi pustakawan dan perkembangan karier pustakawan pustakawan di Universitas Hasanuddin. Untuk mengetahui hasil penelitian mengenai hambatan pengembangan profesi pustakawan di Universitas Hasanuddin dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Penilaian Pustakawan Pustakawan Terhadap Hambatan Pengembangan Profesi Kategori Penilaian Indikator Pengembangan Profesi 1. Kurang motivasi 2. Kurang percaya diri 3. Kurang fokus 4. Wawasan sempit 5. Tidak memiliki kemampuan pengetahuan/ keterampilan 6. Kurangkesempatan 7. Terbatasnya waktu 8. Kurang produktivitas 9. Terbatasnya anggaran dan wadah Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju F % F % F % F % F %) 7 15 28 58 11 23 2 4 48 100 2 2 Jumlah Responden 5 10 22 46 15 31 6 13 48 100 5 10 26 54 13 27 4 8 48 100 4 17 35 22 46 7 14 48 100 4 24 50 18 38 4 8 48 100 3 4 1 6 20 42 21 44 4 8 48 100 8 22 46 18 38 4 8 48 100 2 27 57 17 35 3 6 48 100 7 15 22 46 12 25 7 15 48 100 10. Kurangnya perhatian dan apresiasi dari pimpinan atau instansi. 3 6 21 44 17 35 7 15 48 100 Sumber: data primer, 2021 Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 10 (sepuluh) indikator hambatan pengembangan profesi pustakawan di Universitas Hasanuddin terdiri dari:kurannya motivasi; kurang percaya diri; kurang fokus; wawasan sempit; tidak memiliki kemampuan atau pengetahuandan keterampilan; kurangnya kesempatan; terbatasnya waktu karena pekerjaan; kurang produktivitas karena faktor lingkungan; terbatasnya anggaran dan wadah; kurang perhatian dan apresiasi dari pimpinan atau instansi, ada 8 (delapan) indikator yang dinilai responden menyatakan setuju yakni kurangnya motivasi pustakawan; kurang percaya diri; kurang fokus; kemampuan atau pengetahuan dan keterampilan; terbatasnya waktu karena pekerjaan; kurang produktivitas karena faktor lingkungan; terbatasnya anggaran dan wadah untuk kegiatan pengembangan profesi; kurangnya perhatian dan apresiasi dari pimpinan atau instansi.Sementara itu, 2 (dua) indikator yang menyatakan kurang setuju yaitu pustakawan kurang memiliki kesempatan dan memiliki wawasan sempit dalam melakukan kegiatan pengembangan profesi di Universitas Hasanuddin. Hasil ini menggambarkan bahwa pengembangan profesi pustakawan seperti kurangnya motivasi pustakawan; kurang percaya diri; kurang fokus; kemampuan atau pengetahuan dan keterampilan; terbatasnya waktu karena pekerjaan; kurang produktivitas karena faktor lingkungan; terbatasnya anggaran dan wadah untuk kegiatan pengembangan profesi; kurangnya perhatian dan apresiasi dari pimpinan atau instansi bukan merupakan hambatan dalam kegiatan pengembangan profesi. Sedangkan, pustakawan kurang memiliki kesempatan dan memiliki wawasan sempit dalam melakukan kegiatan pengembangan profesi di Universitas Hasanuddin merupakan hambatan. “Pengembangan profesionalisme, yang mana menitikberatkan pada kegiatan pelatihan ataupun seminar tentang pustakawan dan ilmu perpustakaan serta keterlibatan dalam organisasi profesi yang diharapkan dapat meningkatkan kompetensi. Hal tersebut kembali lagi mengungkapkan pemahaman bahwa tugas dan peran administratif merupakan kunci utama dalam peningkatan kompetensi, peran bahkan kinerja pustakawan. Upaya pengembangan profesionalisme pustakawan dapat dilakukan dengan meningkatkan kompetensinya. Salah satu konsep pengembangan profesionalisme pustakawan, sebagaimana disebut International Federation of Library Association (IFLA) selaku federasi internasional perpustakaan, adalah melalui CPD, namun demikian penerapan konsep tersebut dalam pengembangan profesionalisme pustakawan di perguruan tinggi pada umumnya masih kurang mendapat perhatian (Widodo, 2015)”.45 Untuk mengetahuan hasil penelitian mengenai hambatan perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanuddin dapat dilihat pada table 5. Tabel 5. Penilaian Pustakawan Terhadap Hambatan Pengembangan Karier Kategori Penilaian Indikator Pengembangan Profesi 1. Tidak yakin kompetensi diri 2. Kurangnya bertanggungjawab 3. Kurangnya kekuatan atau kemampuan 4. Tidak mampu mengumpulkan angka kredit 5. Kurangnya promosi Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju F % F % F % F % F (%) 3 1 2 Jumlah Responden 6 15 31 20 42 10 21 48 100 2 11 23 21 44 15 31 48 100 4 13 27 21 44 12 25 48 100 1 0 6. Merasa puas dengan jabatan yang dimiliki 7. Kurangnya kerjasama 3 1 2 23 48 18 38 6 12 48 100 0 19 34 22 46 7 15 48 100 6 22 46 16 33 7 15 48 100 2 26 54 14 29 7 15 48 100 Suber: data primer, 2021 Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 7 indikator hambatan perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanuddin terdri dari: tidak yakin dengan kompetensi; kurangnya tanggungjawabseperti malas, suka terlambat, sering tidak berada di kantor; kurangnya kekuatan dan kemampuan; tidak mampu mengumpulkan kredit yang disyaratkan sesuai dengan tupoksi jabatannya; merasa puas dengan jabatan yang dimiliki; kurangnya kerjasama atau jaringan yang mendukung di lingkungannya, ada 4 (empat) indikatoryang dinilai responden menyatakan kurang setuju yakni tidak yakin dengan kompetensi pustakawan; kurangnya tanggung jawab seperti malas, suka terlambat, sering tidak berada dikantor; kurangnya kekuatan atau kemampuan; dan kurangnya informasi dalam peluang promosi. Sementara itu, 3 indikator lainnya yakni kurangnya kekuatan atau kemampuan, merasa puas dengan jabatan yang dimiliki, kurangnya kerjasama atau jaringan yang mendukung di lingkungannya menyatakansetuju.Hasil ini menggambarkan bahwa 4 (empat) indikator yakni tidak yakin dengan kompetensi pustakawan;kurangnya tanggung jawab seperti malas, suka terlambat, sering tidak berada dikantor; kurangnya kekuatan atau kemampuan; dan kurangnya informasi bukan merupakan hambatan bagi pustakawan dalam perkembangan kariernya. Sementara, 3 (tiga) indikator lainnya yakni kurangnya kekuatan atau kemampuan; merasa puas dengan jabatan yang dimiliki; kurangnya kerjasama atau jaringan yang mendukung di lingkungannya merupakan hambatan bagi pustakawan dalam perkembangan karier di Universitas Hasanudin. Pengembangan karier pustakawan sangat penting karena tuntutan pekerjaan dan jabatan, sebagai akibat kemajuan teknologi dan semakin ketatnya peraturan pemerintah tentang jabatan fungsional tertentu. Pengembangan karier pustakawan bisa dilakukan melalui 2 jalur, yakni melalui pendidikan dan latihan (Diklat) dan melaksanakan tugas atau pekerjaan kepustakawanan. Pelaksanaan perkembangan karier dapat terwujud sesuai yang direncanakan apabila pustakawan memilki kompetensi, kepedulian, promosi, wadah dan minat. Pengembangan karier pegawai bisa diwujudkan apabila promosi didasarkan pada pertimbangan- pertimbangan yang obyektif, rasional, dan diketahui secara luas dikalangan pegawai. Kepedulian adalah memberikan umpan balik kepada para pegawai tentang pelaksanaan tugas masing-masing, sehingga para pegawai mengetahui potensi yang perlu dikembangkan dan kelemahan yang perlu diatasi dan ini sudah berjalan sesua dengan standar secara prosedural. Para pegawai umumnya mengharapkan bahwa mereka mempunyai akses terhadap informasi tentang berbagai peluang untuk dipromosikan. Akses ini sangat penting terutama apabila lowongan yang tersedia di isi melalui proses seleksi internal yang sifatnya kompetitif. Pendekatan yang tepat digunakan dalam pengembangan karir adalah menimbulkan minat para pekerja untuk pengembangan karir adalah pendekatan fleksibel dan proaktif. Kepuasan pegawai dalam pengembangan karir ditentukan apabila pegawai tersebut dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya dapat dipertanggung jawabkan dengan baiksecara moril maupun materil (Muahajir, 2015).46

Conclusion

Pengaruh masing-masing Pengembangan Diri, Publikasi Ilmiah, dan Karya Inovatif Terhadap Perkembangan Karier Pustakawan di Universitas Hasanuddin. Untuk melihat hasil penelitian pengaruh secara parsial pengembangan profesi pustakawan (Pengembangan Diri, Publikasi Ilmiah, dan Karya Inovatif) terhadap perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanuddin Makassar dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Uji Hipotesis Parsial Coefficientsa Simbol Variabel Penelitian Nilai Thitung Nila Ttabel Nilai Sig. Nilai Standardized Coefficients X1 Kegiatan Pengembangan Diri 1,705 2,021 0,095 X2 Kegiatan Pubilkasi Ilmiah-0,120 0,230 2,021 0,905-0,018 X3 Kegiatan Karya Inovasi 3,128 2,021 ,0,003 0,450 Sumber: data primer, 2021a. Dependent Variable: Perkembangan Karier Berdasarkan tabel 1, terlihat bahwa variabel kegiatan pengembangan diri pustakawan memiliki nilai Thitung sebesar 1,705 dan Ttabel 2,021. Data tersebut menunjukkan bahwa nilai Thitung 1,705 < Ttabel 2,021 atau nilai signifikasi0,095 > 0,05, maka Ho diterima. Artinya tidak terdapat pengaruh pengembangan diri terhadap perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanunddin. Besar tingkat tidak signifikansinya yaitu sebesar 0,23 atau 23 %. Hasil ini menggambarkan bahwa ternyata kegiatan pengembangan diri pustakawan seperti mengikuti pendidikan lebih tinggi di bidang perpusdokinfo; mengikuti pelatihan atau diklat; mengikuti workshop, seminar, ceramah dan lain-lain; aktif dalam pengurus dan kegiatan Ikatan Pustakawan Indonesia baik lokal maupun nasional tidak memberikan dampakpositif pada perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanudddin. Pengembangan diri merupakan bentuk perwujudan dari aktualisasi diri, yaitu proses mewujudkan diri menjadi yang terbaik sejalan dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki. Setiap individu mempunyai kekuatan yang bersumber dari dirinya, namun banyak orang yang merasa tidak mempunyai kemampuan apa-apa, merasa dirinya tidak berguna dan tidak mampu mencapai aktualisasi diri. Pengembangan bisa dikatakan suatu langkah awal yang dilakukan seseorang guna mengenali dirinya sendiri, dalam segala hal baik itu dalam segi pelajaran, pekerjaan dan lain sebagainya. Sehingga pengembangan diri merupakan suatu proses mengembangkan bakat ataupun potensi yang dimiliki oleh seseorang. “Pengembangan diri bisa dilakukan dengan berbagai cara dan berbagai tempat, dalam dunia pendidikan pengembangan diri sendiri termasuk di luar mata pelajaran yang tercantum dalam kurikulum di suatu sekolah. Pengembangan diri merupakan penyesuaian potensi, bakat dan minat seseorang yang merujuk pada definisi diatas pengembangan diri dilakukan dengan berbagai kegiatan dan acara. Kegiatan itu dilakukan untuk menumbuhkan dan semakin memupuk kiranya bakat ataupun potensi apa yang melekat pada seseorang (Antika dan Suharso 2013)”.38 Sementara itu, variabel kegiatan publikasi ilmiah pustakawan pada table 1, diketahui bahwa nilai Thitung publikasi ilmiah yaitu sebesar -0,120, sedangkan nila Ttabel yaitu sebesar 2,021. Data tersebut menunjukkan bahwa nilai Thitung -0,120 < Ttabel 2,021 atau nilai signifikasi0,91 > 0,05, maka Ho diterima. Artinya tidakterdapat pengaruhkegiatan publikasi ilmiah terhadap perkembangan karier pustakaawan di Universitas Hasanuddin. Besarnya tingkat tidak signifikansinya adalah sebesar -0,18 atau -18 %. Hasilini menggambarkan bahwa kegiatan publikasi ilmiah pustakawan tidak dapat memberikan dampak positif pada perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanudin Makassar. Publikasi ilmiah merupakan suatu bentuk kegiatan penyebarluasan karya ilmiah seseorang atau kelompok dalam bentuk laporan baik hasil penelitian, makalah, buku, artikel dan lain-lain. Salah satu wujud dari profesionalisme pustakawan adalah melakukan kegiatan publikasi ilmiah. Publikasi ilmiah pustakawan berkontribusi dalam keilmuan bidang kepustakawanan, karena berbagai pengalaman kerja pustakawan dan idepengembangan perpustakaan yang ditulis pustakawan pada suatu karya ilmiah akan lebih bermanfaat jika dipublikasikan secara luas. Publikasi ilmiah pustakawan dapat meningkatkan citra profesi pustakawan, karena menulis karya ilmiah merupakan salah satu upaya pemasaran kepada publik mengenai berbagai hal yang terkait dalam sebuah profesi.Menulis karya tulis ilmiah merupakan salah satu upaya pemasaran kepada publik mengenai berbagai hal yang terkait dalam sebuah profesi, tak terkecuali pustakawan. “Menulis karya ilmiah yang dipublikasikan secara luas melalui buku, artikel jurnal ilmiah maupun media massa, pustakawan dapat mempengaruhi dan menepis opini masyarakat yang masih memandang sebelah mata profesi pustakawan. Kontribusi pustakawan dalam komunikasi ilmiah bidang perpustakaan dan informasi merupakan salah satu langkah pembuktian eksistensi pustakawan dan upaya meningkatkan profesionalisme profesi pustakawan dalam dunia akademik (Novianto, 2020)”.39 Selanjutnya Masriyatun (2018) mengatakan bahwa “pustakawan harus mempunyai kemampuan dalam bidang meneliti bidang kepustakawanan agar profesinya dapat lebih diakui eksistensinya di masyarakat di mana penelitian yang dilakukan dapat melalui berbagai aspek bidang ilmu perpustakaan dan informasi di sebuah perpustakaan berkaitan dengan produk informasi, sistem informasi, perilaku penelusuran informasi dan pemakai informasi itu sendiri”.40 Namun variable kegiatan karya inovasi pustakawan pada table 1, diketahui bahwa nilai Thitung karya inoatif pustakawan (X3) yaitu sebesar 2,021, sedangkan nila Ttabel yaitu sebesar 2,021. Data tersebut menunjukkan bahwa nilai Thitung 3,128 > Ttabel 2,021 atau nilai signifikasi0,003 < 0,05, maka Ho ditolak, artinya terdapat pengaruh positif kegiatan karya inovatif terhadap perkembangan karier pustakawan. Besarnya tingkat signifikansinya adalah sebesar 0,45 atau 45 %.Hasil ini menggambarkan bahawaternyata karya inovatif pustakawan dapat memberikan dampak yang besar pada perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanudin. Pustakawan kreatif inovatif adalah pustakawan yang mampu membuat program serta terobosan yang mampu membuat pemustaka sering mengunjungi perpustkaan. Pustakawan kreatif dan inovatif merupakan pustakawan yang luar biasa. Pustakwan mampu menguraikan kompleksitas tantangan dan memikirkan berbagai alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk menghadapi tantangan zaman. Pustakawan kreatif inovatif selalu bekerja dengan luar biasa. Pustakawan seperti ini selalu berpan dangan positif dan orientasi pandangannya terhadap suatu persoalan merupakan kunci awal baginya untuk membangun kreativitas. Menurut Biranvand (2015: 13) dalam penelitiannya menyatakan bahwa “perpustakaan modern harus lebih kreatif dan inovatif untuk mengatasi kompleksitas komunikasi ilmiah dan berhasil menanganiteknologi informasi”.41 “Strategi kunci untuk merajut inovasi dalam rangka optimalisasi pengembangan SDM perpustakaan perguruan tinggi agar berkualitas dan menjadi terobosan yang menantang untuk diwujudkan, salah satunya dengan embedded librarians (Fatmawati, 2016)”.42 Pandangan Lieutenant (2013) bahwa “embedded librarian adalah mensyaratkan keaktifan, partisipasi aktif, ada target capaian keluar dari perpustakaannya. Pustakawan dapat memberikan informasi terkait topik penelitian, literasi informasi, cara membuat daftar pustaka, kontak informasi yang penting, dan cara menelusur sumber informasi elektronik. Kemudian untuk suksesnya embedding librarianship dalam pembelajaran online, mencakup aspek partnership, participation, dan community”.43 4.2. Pengaruh Secara Bersama-Sama Pengembangan Profesi Pustakawan (Pengembangan Diri, Publikasi Ilmiah, dan Karya Inovatif) Terhadap Perkembangan Karier Pustakawan di Universitas Hasanuddin. Untuk melihat hasil penelitian pengaruh secara simultan antara pengembangan profesi (pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif pustakawan terhadap perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanuddin Makassar dapat dilihat pada tabel 2. abel 2. Hasil Uji F ANOVAa Regresi Model 1 Regression Residual Total Sum of Squares 3.533 9.743 df 3 Mean Square F hitung F Tabel 1.178 5.198 43 13.277 a. 46 .227 2,82 Sig. .004b Dependent Variable: Y . b. Predictors: (Constant), X3, X1, X2. Sumber: data primer, 2021 Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 2, terlihat bahwa nilai Fhitung variabel pengembangan profesi (kegiatan pengembangan diri, publikasi ilmiah dan inovatif pustakawan) yakni sebesar 5,198 dan Ftabel sebesar 2,82, sedangkan nilaisig. 0,004 dan level of significant (0.05), karena nilai Fhitung 5,198 > Ftabel 3,21 atau nilai 0,004< 0,05, maka Ho di tolak. Artinya terdapat pengaruh positif secara bersama-sama pengembangan profesi terhadap perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanuddin. Hasil ini menggambarkan bahwa ternyata pengembangan profesi pustakawan terdiri dari: kegiatan pengembangan diri, kegiatan publikasi ilmiah, dan kegiatan karya inovasi pustakawan dapat memberikan dampak positif pada perkembangan karier pustakawan. Sementara itu, untuk mengetahui besarnya kemampuan pengaruh yang diberikan oleh variable pengembangan profesi terdiri dari: kegiatan pengembangan diri; kegiatan publikasi ilmiah; dan kegiatan karya inovasi pustakawanterhadap perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanuddin dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .516a .266 .215 Durbin-Watson .476 a. 1.930 Predictors: (Constant), X3, X1, X2. Dependent Variable: Y. Sumber: data primer, 2021 Berdasarkan hasil output pada tabel 3, diperoleh nilai R2 (R Square) yakni 0,266, artinya pengembangan profesi terdiri dari: kegiatan pengembangan diri; kegiatan publikasi ilmiah; dan kegiatan karya inovasi pustakawandapat mempengaruhi perkembangan karier pustakawan sebesar 27%. Sementara, sisanya 73% dipengaruhi oleh variable lain yang tidak diteliti. Pengembangan profesi pustakawan menititikberatkan pada kegiatan penelitian, pelatihan, seminar atau workshop dan kreatif inovatif. Dalam rangka meningkatkan profesi pustakawan, maka pustakawan harus memiliki motivasi dan semangat yang tinggi dalam pengembangan profesinya. Pustakawan yang memiliki motivasi dan semangat yang tinggi dapat lebih mudah untuk meningkatkan pengembangan profesinya melalui berbagai macam kegiatan pengembangan profesi yang diikuti sehingga nantinya dapat meningkatkan kompetensi pustakawan dan mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas di perpustakaan. Menurut Nashihuddin (2011), “profesionalisme pustakawan mempunyai arti pelaksanaan kegiatan perpustakaan yang didasarkan pada keahlian dan rasa tanggungjawab sebagai pengelola perpustakaan. Keahlian menjadi faktor penentu dalam menghasilkan hasil kerja serta memecahkan masalah yang mungkin muncul. Sementara itu, tanggungjawab merupakan proses kerja pustakawan yang tidak semata-mata bersifat rutinitas, tetapi senantiasa dibarengi dengan upaya kegiatan yang bermutu melalu prosedur kerja yang benar”.44 4.3. Hambatan dalam pengembangan profesi pustakawan dan perkembangan karier pustakawan pustakawan di Universitas Hasanuddin. Untuk mengetahui hasil penelitian mengenai hambatan pengembangan profesi pustakawan di Universitas Hasanuddin dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Penilaian Pustakawan Pustakawan Terhadap Hambatan Pengembangan Profesi Kategori Penilaian Indikator Pengembangan Profesi 1. Kurang motivasi 2. Kurang percaya diri 3. Kurang fokus 4. Wawasan sempit 5. Tidak memiliki kemampuan pengetahuan/ keterampilan 6. Kurangkesempatan 7. Terbatasnya waktu 8. Kurang produktivitas 9. Terbatasnya anggaran dan wadah Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju F % F % F % F % F %) 7 15 28 58 11 23 2 4 48 100 2 2 Jumlah Responden 5 10 22 46 15 31 6 13 48 100 5 10 26 54 13 27 4 8 48 100 4 17 35 22 46 7 14 48 100 4 24 50 18 38 4 8 48 100 3 4 1 6 20 42 21 44 4 8 48 100 8 22 46 18 38 4 8 48 100 2 27 57 17 35 3 6 48 100 7 15 22 46 12 25 7 15 48 100 10. Kurangnya perhatian dan apresiasi dari pimpinan atau instansi. 3 6 21 44 17 35 7 15 48 100 Sumber: data primer, 2021 Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 10 (sepuluh) indikator hambatan pengembangan profesi pustakawan di Universitas Hasanuddin terdiri dari:kurannya motivasi; kurang percaya diri; kurang fokus; wawasan sempit; tidak memiliki kemampuan atau pengetahuandan keterampilan; kurangnya kesempatan; terbatasnya waktu karena pekerjaan; kurang produktivitas karena faktor lingkungan; terbatasnya anggaran dan wadah; kurang perhatian dan apresiasi dari pimpinan atau instansi, ada 8 (delapan) indikator yang dinilai responden menyatakan setuju yakni kurangnya motivasi pustakawan; kurang percaya diri; kurang fokus; kemampuan atau pengetahuan dan keterampilan; terbatasnya waktu karena pekerjaan; kurang produktivitas karena faktor lingkungan; terbatasnya anggaran dan wadah untuk kegiatan pengembangan profesi; kurangnya perhatian dan apresiasi dari pimpinan atau instansi.Sementara itu, 2 (dua) indikator yang menyatakan kurang setuju yaitu pustakawan kurang memiliki kesempatan dan memiliki wawasan sempit dalam melakukan kegiatan pengembangan profesi di Universitas Hasanuddin. Hasil ini menggambarkan bahwa pengembangan profesi pustakawan seperti kurangnya motivasi pustakawan; kurang percaya diri; kurang fokus; kemampuan atau pengetahuan dan keterampilan; terbatasnya waktu karena pekerjaan; kurang produktivitas karena faktor lingkungan; terbatasnya anggaran dan wadah untuk kegiatan pengembangan profesi; kurangnya perhatian dan apresiasi dari pimpinan atau instansi bukan merupakan hambatan dalam kegiatan pengembangan profesi. Sedangkan, pustakawan kurang memiliki kesempatan dan memiliki wawasan sempit dalam melakukan kegiatan pengembangan profesi di Universitas Hasanuddin merupakan hambatan. “Pengembangan profesionalisme, yang mana menitikberatkan pada kegiatan pelatihan ataupun seminar tentang pustakawan dan ilmu perpustakaan serta keterlibatan dalam organisasi profesi yang diharapkan dapat meningkatkan kompetensi. Hal tersebut kembali lagi mengungkapkan pemahaman bahwa tugas dan peran administratif merupakan kunci utama dalam peningkatan kompetensi, peran bahkan kinerja pustakawan. Upaya pengembangan profesionalisme pustakawan dapat dilakukan dengan meningkatkan kompetensinya. Salah satu konsep pengembangan profesionalisme pustakawan, sebagaimana disebut International Federation of Library Association (IFLA) selaku federasi internasional perpustakaan, adalah melalui CPD, namun demikian penerapan konsep tersebut dalam pengembangan profesionalisme pustakawan di perguruan tinggi pada umumnya masih kurang mendapat perhatian (Widodo, 2015)”.45 Untuk mengetahuan hasil penelitian mengenai hambatan perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanuddin dapat dilihat pada table 5. Tabel 5. Penilaian Pustakawan Terhadap Hambatan Pengembangan Karier Kategori Penilaian Indikator Pengembangan Profesi 1. Tidak yakin kompetensi diri 2. Kurangnya bertanggungjawab 3. Kurangnya kekuatan atau kemampuan 4. Tidak mampu mengumpulkan angka kredit 5. Kurangnya promosi Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju F % F % F % F % F (%) 3 1 2 Jumlah Responden 6 15 31 20 42 10 21 48 100 2 11 23 21 44 15 31 48 100 4 13 27 21 44 12 25 48 100 1 0 6. Merasa puas dengan jabatan yang dimiliki 7. Kurangnya kerjasama 3 1 2 23 48 18 38 6 12 48 100 0 19 34 22 46 7 15 48 100 6 22 46 16 33 7 15 48 100 2 26 54 14 29 7 15 48 100 Suber: data primer, 2021 Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 7 indikator hambatan perkembangan karier pustakawan di Universitas Hasanuddin terdri dari: tidak yakin dengan kompetensi; kurangnya tanggungjawabseperti malas, suka terlambat, sering tidak berada di kantor; kurangnya kekuatan dan kemampuan; tidak mampu mengumpulkan kredit yang disyaratkan sesuai dengan tupoksi jabatannya; merasa puas dengan jabatan yang dimiliki; kurangnya kerjasama atau jaringan yang mendukung di lingkungannya, ada 4 (empat) indikatoryang dinilai responden menyatakan kurang setuju yakni tidak yakin dengan kompetensi pustakawan; kurangnya tanggung jawab seperti malas, suka terlambat, sering tidak berada dikantor; kurangnya kekuatan atau kemampuan; dan kurangnya informasi dalam peluang promosi. Sementara itu, 3 indikator lainnya yakni kurangnya kekuatan atau kemampuan, merasa puas dengan jabatan yang dimiliki, kurangnya kerjasama atau jaringan yang mendukung di lingkungannya menyatakansetuju.Hasil ini menggambarkan bahwa 4 (empat) indikator yakni tidak yakin dengan kompetensi pustakawan;kurangnya tanggung jawab seperti malas, suka terlambat, sering tidak berada dikantor; kurangnya kekuatan atau kemampuan; dan kurangnya informasi bukan merupakan hambatan bagi pustakawan dalam perkembangan kariernya. Sementara, 3 (tiga) indikator lainnya yakni kurangnya kekuatan atau kemampuan; merasa puas dengan jabatan yang dimiliki; kurangnya kerjasama atau jaringan yang mendukung di lingkungannya merupakan hambatan bagi pustakawan dalam perkembangan karier di Universitas Hasanudin. Pengembangan karier pustakawan sangat penting karena tuntutan pekerjaan dan jabatan, sebagai akibat kemajuan teknologi dan semakin ketatnya peraturan pemerintah tentang jabatan fungsional tertentu. Pengembangan karier pustakawan bisa dilakukan melalui 2 jalur, yakni melalui pendidikan dan latihan (Diklat) dan melaksanakan tugas atau pekerjaan kepustakawanan. Pelaksanaan perkembangan karier dapat terwujud sesuai yang direncanakan apabila pustakawan memilki kompetensi, kepedulian, promosi, wadah dan minat. Pengembangan karier pegawai bisa diwujudkan apabila promosi didasarkan pada pertimbangan- pertimbangan yang obyektif, rasional, dan diketahui secara luas dikalangan pegawai. Kepedulian adalah memberikan umpan balik kepada para pegawai tentang pelaksanaan tugas masing-masing, sehingga para pegawai mengetahui potensi yang perlu dikembangkan dan kelemahan yang perlu diatasi dan ini sudah berjalan sesua dengan standar secara prosedural. Para pegawai umumnya mengharapkan bahwa mereka mempunyai akses terhadap informasi tentang berbagai peluang untuk dipromosikan. Akses ini sangat penting terutama apabila lowongan yang tersedia di isi melalui proses seleksi internal yang sifatnya kompetitif. Pendekatan yang tepat digunakan dalam pengembangan karir adalah menimbulkan minat para pekerja untuk pengembangan karir adalah pendekatan fleksibel dan proaktif. Kepuasan pegawai dalam pengembangan karir ditentukan apabila pegawai tersebut dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya dapat dipertanggung jawabkan dengan baiksecara moril maupun materil (Muahajir, 2015).46