Kembali
16
1
2021 Jurnal Imam Bonjol : Kajian Ilmu Informasi dan Perpustakaan Vol 5 · 1 ISSN 2579-3160

PELAYANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH SELAMA MASA PANDEMI COVID-19

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Pandemi covid-19 telah berlangsung selama kurang lebih delapan bulan lamanya di negara Indonesia. Berbagai kegiatan yang seharusnya dapat dilaksanakan secara langsung, harus dialihkan menjadi kegiatan daring, ditunda, atau bahkan ditiadakan terlebih dahulu. Kebijakan pemerintah yang mengharuskan pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar pada masa awal menyebarnya covid-19 di Indonesia mengharuskan berbagai lembaga ditutup, termasuk lembaga pendidikan formal atau sekolah serta perguruan tinggi. Kebijakan mendadak tersebut memberikan berbagai macam hambatan yang cukup besar dalam berbagai aspek. Salah satu bagian yang juga harus menerima hambatan tersebut adalah perpustakaan. Perpustakaan yang berada di sekolah merupakan salah satu bagian yang ikut serta dalam proses penyebaran informasi dan ilmu pengetahuan di lingkungan sekolah. Layanan perpustakaan yang semula dapat dilaksanakan secara langsung dan leluasa, harus dialihkan kepada berbagai alternatif atau bahkan diberhentikan terlebih dahulu. Proses layanan sirkulasi yang terhambat mengharuskan pustakawan untuk memikirkan cara lain untuk memastikan kembali bahan pustaka yang dipinjam oleh pemustaka telah dikembalikan atau belum. Selain hal tersebut, selama masa pandemi covid-19 pemanfaatan media sosial juga menjadi salah satu jalan agar pelayanan di perpustakaan dapat terus dijalankan. Dengan adanya pandemi covid-19 juga, kegiatan yang telah direncanakan jauh-jauh hari juga harus dipikirkan kembali oleh pihak-pihak yang bersangkutan dalam proses penyelenggaraannya. Adaptasi pada kebiasaan baru juga ternyata telah menghasilkan berbagai inovasi di tengah-tengah masyarakat. Meski begitu, kegiatan yang dialihkan menjadi kegiatan daring juga menjadi salah satu alternatif yang dapat dipilih oleh masyarakat agar dapat menekan angka penyebaran covid19 di Indonesia

Abstract

The covid-19 pandemic has been going on for approximately eight months in Indonesia. Various activities that should be able to be carried out directly, should be transferred into online activities, postponed, or even eliminated first. Government policy requiring the implementation of Large-Scale Social Restrictions in the early days of the spread of covid-19 in Indonesia requires various institutions to be closed, including formal educational institutions or schools and universities. The sudden policy provides a considerable range of obstacles in various aspects. One part that must also accept such obstacles is the library. The library in the school is one of the parts that participates in the process of disseminating information and science in the school environment. Library services that can initially be implemented directly and freely, must be transferred to various alternatives or even dismissed first. The stalled circulation service process requires librarians to think of other ways to ensure that library materials borrowed by the library have been returned or not. In addition, during the covid-19 pandemic, the use of social media is also one of the ways that services in libraries can continue to be run. With the covid19 pandemic also, activities that have been planned in the future must also be retreated thought through by the parties concerned in the process of organizing it. Adaptation to new habits has also resulted in various innovations in the community. Even so, activities that are diverted into online activities are also one of the alternatives that can be chosen by the public in order to reduce the spread of covid-19 in Indonesia.
Keywords: Covid-19 · Library · School Library · Library Service · New Habit

Introduction

Di dalam kehidupan, manusia tidak akan pernah bisa lepas dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dapat dikatakan sebagai dasar berkembangnya kehidupan manusia. Semenjak awal lahirnya, ilmu pengetahuan telah terus berkembang hingga saat ini. Salah satu sumber formal ilmu pengetahuan adalah sekolah. Di dalam tujuannya, sekolah tidak hanya berperan untuk memberikan ilmu pengetahuan kepada bangsa Indonesia. Akan tetapi, sekolah juga berperan sebagai salah satu pusat pendidikan formal yang memberikan pendidikan karakter kepada setiap pelajar. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan berbagai macam dukungan yang berasal dari sisi positif pada segi geopolitik, kekayaan alam yang melimpah ruah, kemajemukan sosial dan budaya, serta jumlah penduduk yang begitu banyak. Meski demikian, banyaknya permasalahan sosial yang timbul di Indonesia dari dulu hingga sekarang telah menimbulkan keresahan dari berbagai pihak yang begitu peduli dengan kemajuan bangsa. Karena para pelajar merupakan salah satu harapan bangsa yang diharapkan dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik di masa mendatang nanti, sekolah memiliki peran yang cukup besar untuk mengarahkan mereka agar dapat melahirkan bangsa yang bermartabat dan berilmu pengetahuan. Dewasa ini, ketersediaan sumber daya manusia telah menjadi kebutuhan vital. Oleh karena itu, sekolah yang merupakan sumber pendidikan formal untuk mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan global dan daya saing bangsa di masa mendatang. Sebagaimana yang telah termaktub di dalam undang-undang no.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan bertujuan untung mengembangkan potensi peserta didik, “...agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Pada masa pandemi covid-19 yang telah dialami negara Indonesia selama lebih kurang delapan bulan ini, berbagai macam kegiatan harus dialihkan kepada kegiatan daring. Termasuk sekolah dan perguruan tinggi. Pelajar dan mahasiswa dengan terpaksa harus mengikuti arahan pemerintah untuk mengikuti kegiatan Study From Home yang cukup menimbulkan berbagai pro dan kontra dalam pelaksanaannya. Covid-19 merupakan nama dari sebuah penyakit yang berasal dari virus sars-cov-2. Penyebaran covid-19 ini dimulai dari kota Wuhan di China hingga berbagai negara di belahan Dunia, termasuk Indonesia. Hingga saat ini, pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai macam upaya untuk menekan angka penyebaran covid-19. Mulai dari dilaksanakannya masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), masa transisi, hingga penelitian ilmiah yang bertujuan untuk menemukan vaksin covid-19 sehingga negara Indonesia dapat kembali bena-benar melaksanakan kegiatan normal seperti sedia kala. Dilansir dari (Covid19.go.id, 2020) Kampanye vaksinasi atau imunisasi kepada masyarakat luas yang dilaksanakan oleh para pakar kesehatan telah dilaksanakan secara terusmenerus dan terbilang sangat digencarkan. Hal tersebut dilaksanakan karena dari berbagai data yang telah dikumpulkan hingga saat ini, masih terdapat masyarakat yang takut divaksinasi karena kurangnya informasi yang didapatkan dan beredarnya berbagai mitos yang sangat mempengaruhi kepercayaan masyarakat. Banyaknya simpang siur informasi yang beredar di masyarakat, menjadi perhatian besar yang harus diatasi oleh berbagai kalangan terpelajar agar penyebaran informasi di Indonesia dapat disesuaikan dan dengan sumber yang dapat dipercaya pula. Pada era digital seperti saat sekarang ini, masyarakat bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan dari berbagai media, utamanya media sosial. Oleh karena hal tersebutlah, muncul berbagai informasi yang tidak sesuai dan meresahkan. Perpustakaan, sebagai salah satu lembaga yang berperan penting dalam proses penyebaran informasi dan ilmu pengetahuan telah mengambil langkah penting untuk dapat mengedukasi masyarakat melalui berbagai macam cara. Dengan mencapai masyarakat melalui media sosial, perpustakaan terus memberikan upaya terbaiknya agar dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dalam hukum kelima yang terdapat di dalam lima hukum ilmu perpustakaan (five laws of library science) yang disampaikan oleh Ranganathan pada tahun 1930, dikatakan bahwasanya perpustakaan adalah organisme yang sedang tumbuh (A ibrary is a growing organism) (Amiyati, 2020). Dengan demikian, meski pandemi covid-19 menghambat berbagai macam kegiatan di tengah-tengah masyarakat termasuk pendidikan formal yaitu sekolah, perpustakaan harus terus tumbuh dan berkembang untuk mengikuti perkembangan zaman sehingga dapat bersaing dengan lembaga informasi lainnya. Oleh karena itu, agar dapat menghasilkan generasi muda yang memiliki daya saing tinggi dalam mengembangkan negara Indonesia, perpustakaan juga memiliki peran penting agar pelajar dapat terus meningkatkan minatnya dalam membaca dan pembiasaan literasi. Di dalam Undang-Undang nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, disebutkan fungsi perpustakaan adalah sebagai wahana pendidikan, penelitian, informasi, pelestarian, dan rekreasi, yang bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pembangunan nasional, perpustakaan sekolah dirancang untuk mendukung terlaksana dan tercapainya tujuan sekolah dan tujuan pendidikan pada umumnya. Selama masa pandemi covid-19, di mana ditutupnya akses langsung ke pada pelayanan perpustakaan, sudah sebaiknya perpustakaan sekolah menghadirkan inovasi atau kebiasaan baru agar pelajar tetap dapat memanfaatkan perpustakaan sebagaimana mestinya. Dengan adanya pandemi covid-19 ini, tidak sedikit inovasi yang dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Contohnya, kegiatan seminar yang biasanya dilaksanakan di tempat tertentu dan dengan peserta yang terbatas pula, dapat dilaksanakan secara online melalui aplikasi virtual meeting yang dapat menampung peserta hingga 500 orang dan mencapai daerah-daerah di luar daerah pelaksaan seminar tersebut. Seminar yang dilaksanakan secara online ini, biasa disebut dengan webinar. Dari banyaknya kegiatan seminar, penulis menemukan beberapa seminar yang dilaksanakan langsung oleh perpustakaan dalam rangka penyebaran informasi dan ilmu pengetahuan kepada masyarakat Indonesia, termasuk pelajar. Tujuan dari ditulisnya artikel ini adalah, untuk menjawab sebuah pertanyaan mengenai apakah perpustakaan sekolah juga telah menghasilkan inovasi serupa atau malah lebih dalam proses pelayanannya untuk memberikan akses kepada para pelajar terhadap kebutuhannya akan ilmu pengetahuan. Sebagaimana telah disampaikan pada paragraf sebelumnya, perpustakaan memiliki fungsi penting dalam proses mencerdaskan bangsa. Oleh karena itu, sangat besar harapan penulis untuk menemukan hal-hal baru yang berbeda dari pelayanan perpustakaan, utamanya perpustakaan sekolah. Selain itu, artikel ini juga bertujuan untuk mengetahui perbedaan pelayanan perpustakaan sekolah selama masa pandemi dengan sebelum munculnya pandemi seperti sekarang ini. Dengan adanya penulisan artikel ini, penulis juga berharap semoga kesadaran pelajar terhadap pentingnya perpustakaan sekolah dapat meningkat dan perpustakaan sekolah dapat jauh lebih berkembang.

Method

Penelitian ini dilaksanakan dengan metode kualitatif deskriptif melalui dua pendekatan, yaitu observasi dan studi pustaka. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang datadatanya bukan berbentuk angka atau biasanya dapat disebut sebagai data statistik. Penelitian kualitatif deskriptif biasanya berisi gambaran mengenai suatu peristiwa atau objek tertentu yang didasarkan kepada perspektif dari seorang penulis. Observasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah peninjauan secara cermat yang dapat dilaksanakan di berbagai tempat penelitian di mana data yang dibutuhkan berada. Selanjutnya, studi pustaka dapat diartikan sebagai teknik pengumpulan data dari berbagai buku, jurnal atau artikel yang memiliki kaitan dengan objek penelitian. Penelitian ini bersumber dari data primer dan data sekunder. Data primer berarti data tersebut diperoleh secara langsung dari sumber aslinya. Sedangkan data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung atau melalui perantara. Data primer pada penelitian ini merupakan pengamatan pada layanan di perpustakaan sekolah sebelum pandemi dan selama masa pandemi covid-19, serta beberapa data dari sumber asli lainnya. Sedangkan data sekundernya adalah jurnal dan artikel ilmiah mengenai pelayanan di perpustakaan sekolah. Subyek pada penelitian ini adalah pelayanan perpustakaan sekolah selama masa pandemi covid-19, sedangkan obyek dari penelitian ini adalah inovasi atau kebiasaan baru yang dihasilkan oleh perpustakaan sekolah dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan selama pandemi. Penelitian ini dilakukan secara berkala di salah satu sekolah menengah atas di Kabupaten Agam dengan cara melakukan wawancara mendalam dengan pustakawan dan beberapa siswa yang memanfaatkan pelayanan perpustakaan selama masa pembelajaran daring. Berdasarkan pengamatan dan data yang telah penulis dapatkan selama berada di lapangan, terdapat beberapa data yang tidak sesuai atau memenuhi ekspektasi penulis. Dengan adanya pandemi ini, berbagai macam kegiatan di sekolah menjadi terhambat dan program kerja yang telah dirancang pada awal semester tidak dapat dilaksanakan dan harus tertunda hingga waktu yang tidak dapat ditentukan dengan pasti. Akan tetapi, adanya beberapa kebiasaan baru dalam pelayanan perpustakaan di sekolah, menjadi salah satu hal yang akan penulis paparkan di dalam artikel ini.

Result & Discussion

Munculnya pandemi covid-19 tidak semata-mata dapat diatasi dalam waktu singkat oleh berbagai lembaga terkait. Pandemi covid-19 telah menghambat berbagai kegiatan masyarakat karena munculnya kebijakan baru dari pemerintah yang membatasi kegiatan berskala besar di tengah-tengah masyarakat. Keberadaan perpustakaan tidak dapat langsung memberikan inovasi baru terhadap penyebaran informasi dan ilmu pengetahuan. Hal tersebut disebabkan oleh proses adaptasi masyarakat yang harus menghabiskan beberapa waktu hingga akhirnya masyarakat dapat terbiasa dengan berbagai macam kebiasaan baru yang diterapkan. Dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar, sekolah dengan terpaksa harus ditutup dan mengalihkan semua kegiatannya ke dalam proses pembelajaran daring. Meskipun pada awalnya proses pembelajaran daring dilewati siswa dengan senang hati karena tidak perlu repot-repot untuk bangun pagi dan berangkat sekolah, namun pada akhirnya proses pembelajaran daring menjadi salah satu bumerang yang membuat siswa merasa malas dan bosan untuk terus mengikuti kegiatan belajar. Rasa rindu akan suasana normal di sekolah dan bombardir tugas yang diberikan oleh guru membuat sebagian besar siswa di Indonesia merasa stres dan bahkan memakan korban jiwa. Banyaknya tugas yang diberikan kepada siswa, sebenarnya memiliki alasan yang cukup masuk akal yaitu, harapan agar para siswa tidak dapat berkeliaran di luar rumah agar dapat menekan angka tertular covid-19. Namun siapa sangka, kebijakan tersebut malah membuat siswa semakin merasa terbebani dengan kegiatan pembelajaran daring tersebut. Dengan banyaknya hambatan yang dialami selama proses kegiatan belajar dan mengajar yang dilaksanakan secara daring, perpustakaan sekolah juga ikut terdampak. Sehingga, pelayanan perpustakaan sekolah juga harus mengalami perubahan dan dilaksanakan dengan cara yang cukup berbeda dengan masa sebelum pandemi atau masa normal sebelum covid-19 menyebar dengan cepat di negara Indonesia. Layanan perpustakaan dapat diartikan sebagai penyediaan bahan pustaka dan sumber informasi secara tepat serta penyediaan bahan pustaka dan sumber informasi secara tepat, menyediakan berbagai layanan dan bantuan kepada pengguna sesuai dengan kebutuhannya (Hamiyah & Jauhar, 2015). Dengan itu, pelayanan di perpustakaan bukan hanya berkaitan dengan pemberian layanan kepada pengguna dalam membantunya untuk menemukan informasi yang dibutuhkan, tetapi layanan perpustakaan juga berperan sebagai penyedia bahan pustaka sesuai dengan kebutuhan pengguna perpustakaan. Sebagai contoh, apabila perpustakaan berada di sekolah maka bahan pustaka yang disediakan adalah koleksi-koleksi yang dapat menunjang minat dan kebutuhan pelajar dan tenaga pendidikan dalam proses belajar dan mengajar. Hal tersebut sesuai dengan UU nomor 43, pasal 23 tentang perpustakaan sekolah/madrasah bahwasanya, perpustakaan sekolah wajib memiliki buku teks dengan jumlah yang mencukupi untuk melayani semua siswa dan guru. Darmono (2001), di dalam (Rahmah, 2018) mengatakan, hakikat layanan perpustakaan meliputi: segala bentuk informasi yang dibutuhkan pemustaka, baik untuk dimanfaatkan di tempat atau dibawa pulang agar dapat digunakan di luar perpustakaan dan sebagai sarana penelusuran informasi yang disediakan oleh perpustakaan merujuk pada keberadaan suatu informasi. “Layanan yang disediakan oleh perpustakaan meliputi layanan sirkulasi, layanan informasi, silang layan, layanan multimedia, dan jasa pendidikan pengguna” (Rahmah, 2018). Selain layanan-layanan tersebut, perpustakaan juga menyediakan layanan kecil namun penting, yaitu fotokopi dan pemindaian. Dari data yang penulis dapatkan dari sumber berbeda, layanan di perpustakaan juga meliputi layanan referensi, layanan bimbingan pembaca, layanan komputer/internet/database, layanan CAS, layanan informasi kilat, dan pelayanan khusus. Keberhasilan yang dimiliki oleh layanan perpustakaan berarti keberhasilan yang dimiliki oleh lembaga perpustakaan dalam menjalan fungsi serta tugas yang dilaksanakannya (Sukaesih, 2020). Perpustakaan sekolah adalah pusat sumber ilmu pengetahuan dan informasi yang berada di sekolah (Yuliawati, 2011). Di dalam undangundang Republik Indonesia nomor 43 tahun 2007 disebutkan, perpustakaan merupakan wahana belajar sepanjang hayat yang berperan dalam proses pengembangan potensi masyarakat dan juga menjadikan warga negara agar bertanggung jawab dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan nasional. Sistem nasional yang dimiliki oleh perpustakaan dan pendidikan nasional memiliki fungsi yang sama yaitu untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas, sejalan dengan pembentukan karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat (Indonesia, 2007) Dalam proses pengamatan di salah satu sekolah menengah atas di Kabupaten Agam, penulis menemukan beberapa hal menarik dalam proses pelayanan di perpustakaan sekolah tersebut. Perpustakaan sekolah telah menyediakan pelayanan yang tidak hanya dijalankan oleh pustakawan, namun juga melibatkan peserta didik serta pendidik. Dalam layanan pengembangan koleksi misalnya, pustakawan membuat sebuah kuesioner yang dapat berfungsi untuk mendata apa saja buku yang dibutuhkan oleh para guru untuk nanti direkapitulasi dan diserahkan kembali kepada pihak sekolah untuk selanjutnya berperan dalam pengadaan kebutuhan buku tersebut. Tidak jauh berbeda dengan pengadaan bahan pustaka yang termasuk ke dalam kategori fiksi. Siswa di sekolah dapat mengajukan judul buku yang ingin dibacanya kepada pustakawan untuk nanti direkapitulasi dan diserahkan kepada pihak sekolah. Beragamnya bahan pustaka atau koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan sekolah tentu akan menimbulkan proses pembelajaran yang inovatif karena tersedianya berbagai macam referensi yang dapat dimanfaatkan. Dalam proses pembelajaran jarak jauh, layanan perpustakaan harus dirancang untuk memenuhi kebutuhan informasi, instruksional dan pengguna untuk menyediakan beberapa bentuk akses pengguna langsung kepada anggota perpustakaan (ALA, 2008). Setiap institusi atau lembaga informasi tentu akan memiliki cara yang berbedabeda pula untuk memberikan layanan kepada penggunanya. Selama masa pandemi covid-19, karena kegiatan belajar dan mengajar di sekolah harus dilaksanakan secara daring, sekolah tidak dapat melaksanakan kegiatankegiatan dengan normal, begitu pula dengan perpustakaan. Dari hasil wawancara penulis dengan pustakawan di perpustakaan sekolah yang penulis amati, selama masa pandemi covid-19 ini, pelayanan perpustakaan di sekolah tersebut tetap dibuka untuk peserta didik yang membutuhkan buku teks atau bahan koleksi lainnya. Jadi setiap peserta didik yang membutuhkan buku dapat terlebih dahulu menghubungi pihak sekolah dan mendatangi sekolah dengan menerapkan protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah. Sama dengan layanan yang diterapkan di perpustakaan perguruan tinggi, di perpustakaan sekolah peserta didik juga diberi keringanan selama proses sirkulasi bahan pustaka. Hal tersebut tentu sudah menjadi ketentuan umum, bahwasanya pustakawan tidak dapat membebani pemustaka untuk mendatangi perpustakaan dan mengembalikan buku sesuai jadwal seperti kegiatan sebelum pandemi. Selain layanan sirkulasi dan layanan pengembangan koleksi. Tim di perpustakaan sekolah juga memiliki program literasi yang sudah diterapkan semenjak beberapa tahun yang lalu. Program literasi tersebut meliputi: a.) kegiatan membaca dan mengambil inti sari buku setiap pagi sebelum proses belajar dan mengajar dimulai, b) pembuatan perpustakaan mini di setiap kelas yang didasari oleh kreativitas peserta didik dan dilombakan, c) pembuatan resensi isi buku (minimal tiga judul buku untuk siswa kelas 10 dan kelipatannya untuk siswa di kelas diatasnya) yang sudah dibaca oleh setiap peserta didik yang dijadikan sebagai syarat kenaikan kelas. Akan tetapi, dengan terjadinya pandemi covid-19 seluruh kegiatan tersebut terpaksa ditiadakan. Sebagai gantinya, peserta didik tetap diminta untuk melaksanakan kegiatan literasi di rumah masing-masing, namun peserta didik tidak dibebani dengan tugas tambahan minimal jumlah buku tadi. Data lainnya yang penulis temukan, sebelum masa pandemi tepatnya sejak awal semester baru dimulai, pustakawan telah memiliki beberapa program kerja berupa pembuatan komunitas anak pecinta literasi, pemilihan duta literasi, dan beberapa program lainnya. Karena pada dasarnya sekolah tidak ingin membebani peserta didik, maka banyak sekali kegiatan di luar proses belajar mengajar yang harus ditunda terlebih dahulu. Pelayanan terbuka di perpustakaan maksudnya adalah pelayanan di mana pemustaka dapat mendatangi perpustakaan, mencari bahan pustaka yang dibutuhkannya, dan meminjamnya secara langsung. Keuntungan diadakannya pelayanan terbuka ini adalah, pemustaka dapat menghemat waktu dan tenaga untuk melayani pemustaka dalam menemukan koleksi yang dibutuhkannya. Selama ini pelayanan terbuka di perpustakaan sekolah yang penulis amati juga telah menyediakan OPAC (Online Public Access Catalogue) yang dapat diakses langsung di perpustakaan oleh setiap pengunjung perpustakaan. Program literasi di sekolah merupakan salah satu realisasi dari Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang telah diaplikasikan pemerintah semenjak tahun 2015 tahun silam. Gerakan literasi nasional ini dilaksanakan agar masyarakat di Indonesia dapat menguasai enam literasi dasar yang meliputi: 1) literasi baca tulis (bahasa), 2) literasi numerasi, 3) literasi finansial, 4) literasi digital, 5) literasi sains, dan 6) literasi budaya dan kewargaan (Kemendikbud, 2017). Tujuan umum dilaksanakannya GLN yaitu untuk menumbuhkembangkan budaya literasi mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam rangka pembelajaran sepanjang hayat sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup. Adanya kegiatan literasi di sekolah sangat sejalan dengan tujuan diadakannya pendidikan formal dan perpustakaan sekolah, yaitu pembelajaran sepanjang hayat yang akan mengembangkan potensi dan daya saing peserta didik di masa mendatang. Gerakan literasi yang diselenggarakan oleh perpustakaan sekolah adalah perlombaan. Istilah tersebut penulis gunakan karena setiap tahunnya, tatanan kelas akan berubah sesuai dengan kesepakatan peserta didik di kelas yang mereka tempati. Dengan adanya gerakan literasi di sekolah, peserta didik dapat menjadi lebih kreatif, inovatif, dan mengetahui minat mereka. Di dalam buku berjudul Good Service is Good Business yang ditulis oleh (DeVrye, 2001), terdapat tujuh strategi yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk mencapai keberhasilan dari pemberian layanan, yaitu: 1) Self Esteem, yaitu upaya yang dimaksudkan untuk memberikan nilai kepada diri sendiri untuk memahami terlebih dahulu keadaan secara internal, 2) Exceed Expectation,yaitu hal yang berkaitan dengan pemenuhan harapan pengguna dan berusaha untuk memberikan hal lebih dari yang telah dijanjikan, 3) Recover, termasuk di dalamnya tanggapan atas keluhan dari orang-orang yang menggunakan layanan dan mencari tahu apa yang dipikirkan oleh masyarakat konsumen, 4) Vision, berisi rencana yang matang berkaitan dengan pelayanan jangka panjang yang juga memperhitungkan penilaian konsumen, sehingga dapat diperhatikan oleh lembaga terkait dan dijadikan bahan evaluasi, 5) Impove, yaitu mengusahakan peningkatan secara terencana dan terus menerus sehingga mempunyai kemampuan untuk bersaing dan bahkan memenangkan persaingan, 6) Care, menaruh cukup perhatian termasuk pada hal-hal kecil terhadap konsumen atau pengguna, sehingga mereka merasa dihargai dan betul-betul diperhatikan, 7) Empower, memberdayakan lingkungan internal seperti memberi latihan, menanamkan rasa tanggung jawab, percaya pada kemampuan diri serta menggugah untuk memberikan respons. Dari hasil yang penulis dapatkan, strategi pelayanan yang disampaikan DevRye tersebut telah dilaksanakan dengan baik oleh perpustakaan sekolah. Hal tersebut penulis dapatkan melalui pengamatan yang berlangsung dalam waktu lama secara berkala di perpustakaan sekolah yang penulis amati. Dialihkannya pendataan layanan sirkulasi terhadap bahan pustaka selama masa pandemi berlangsung cukup memberikan kepuasan kepada peserta didik karena mereka mendapatkan keringanan dan tidak perlu membayar denda meski terlambat mengembalikan buku. Peserta didik juga dapat memanfaatkan bahan pustaka dalam jangka waktu panjang sehingga proses pembelajarannya dapat terus terlaksana dengan baik. Selain pelayanan perpustakaan sekolah, beberapa peserta didik juga memanfaatkan fitur perpustakaan digital seperti iPusnas sehingga mereka masih bisa membaca buku yang diinginkan meskipun tidak bias keluar rumah dan mengobrakabrik koleksi atau bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan sekolah. Kepuasan dari para pengguna perpustakaan juga merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kemajuan perpustakaan. Oleh karena itu, dengan membuat survei kepuasan pengguna perpustakaan akan dapat semakin berkembang dengan lebih baik. Hal tersebut didasari oleh penilaian yang diberikan oleh pemustaka sehingga pustakawan dapat mengevaluasi segala kegiatan di perpustakaan dari sudut pandang yang berbeda-beda. Kebijakan pemerintah mengenai pembatasan sosial berskala besar selama beberapa bulan pada masa awal menyebarnya covid-19 tela dicabut. Sekarang masyarakat sudah dapat keluar rumah dan mendatangi berbagai tempat dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mengurangi risiko terpapar virus sars-cov-2. Sama halnya dengan pusat ekonomi dan pusat rekreasi, perpustakaan juga telah dibuka. Bahkan, sekolah di beberapa daerah aman telah kembali mengizinkan peserta didik untuk datang ke sekolah dan mengikuti pembelajaran tatap muka secara bertahap dan bergiliran. Tentu dengan adanya kebijakan tersebut perpustakaan sekolah dapat kembali beroperasi. Namun demikian, alih-alih mendatangi perpustakaan untuk memanfaatkan layanan yang disediakan, peserta didik lebih disibukkan dengan kegiatan sekolah lainnya yang tidak kalah penting dan sempat tertunda. Tidak ada hasil yang instan untuk sebuah usaha, tetapi apabila terus diusahakan dengan baik tentu masyarakat Indonesia akan menuai hasil yang memuaskan di kemudian hari. Dengan adanya kepedulian terhadap gerakan literasi dari generasi muda, maka dengan seiring berjalannya waktu perpustakaan akan semakin berkembang. Adaptasi dengan keadaan baru di tengah-tengah masa pandemi seperti saat ini memanglah membutuhkan usaha yang sangat besar agar masyarakat dapat terbiasa dan kembali mengerahkan kemampuannya untuk kemajuan bangsa melalui pendidikan formal maupun non formal. Meskipun tidak ada inovasi yang dilaksanakan oleh perpustakaan dari sekolah yang menjadi sumber primer penelitian ini, akan tetapi dengan adanya adaptasi dengan kebiasaan baru sebenarnya telah menjadi langkah awal bagi perpustakaan agar dapat menghasilkan inovasi di masa mendatang. Berbagai program kerja yang telah direncanakan juga dapat dilaksanakan secara bertahap ketika sekolah kembali dibuka dengan berbagai macam kebiasaan baru dan penerapan protokol kesehatan yang sama sekali tidak boleh dilupakan oleh masyarakat di Indonesia.

Conclusion

Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan peneliti mendapatkan hasil bahwa masa pandemi covid-19 telah memberikan berbagai macam perubahan kepada segala tatanan kehidupan masyarakat, bukan hanya masyarakat Indonesia tetapi juga masyarakat global. Perubahan yang terjadi memberikan berbagai dampak positif yang dapat dipetik dan juga dampak negatif yang harus diatasi agar tidak berkelanjutan dan memberikan pengaruh yang lebih besar lagi kepada masyarakat. kebijakan pembatasan sosial berskala besar pada beberapa bulan awal menyebarnya covid-19 kini sudah dicabut sehingga perpustakaan dapat kembali dibuka dan memberikan pelayanan dengan protokol kesehatan yang harus dilaksanakan oleh seluruh pustakawan serta pemustaka. Dengan dimanfaatkannya perpustakaan digital tentu pelayanan pada perpustakaan dapat terus dilaksanakan. Perpustakaan sekolah dapat memberikan arahan kepada peserta didik agar informasi yang didapatkan oleh peserta didik tersampaikan secara menyeluruh. Meski tidak dapat mendatangi perpustakaan, ternyata bisa mendapatkan bahan pustaka atau koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan dengan cara yang berbeda. Hal tersebut merupakan salah satu PR besar untuk pihak perpustakaan sekolah. Berbeda dengan perpustakaan perguruan tinggi yang dapat melanggan banyak jurnal ilmiah, perpustakaan sekolah dapat mengemas informasi-informasi dengan lebih menarik dan inovatif agar peserta didik mendapatkan informasi baru yang akan sangat bermanfaat bagi mereka. Salah satu media sosial yang dapat dimanfaatkan perpustakaan sekolah ialah instagram dan web perpustakaan yang memuat lebih banyak informasi mengenai perpustakaan serta hal-hal lainnya yang berkaitan dengan perpustakaan. Semoga dengan diadakannya gerakan literasi dan gencarnya perpustakaan memperkenalkan berbagai program kepustakaan, generasi muda di Indonesia dapat mengembangkan minatnya untuk membaca serta memanfaatkan berbagai layanan yang disediakan perpustakaan untuk mengembangkan minat dan potensinya pada berbagai macam bidang.