Kembali
16
1
2022 Al Maktabah: Jurnal Kajian Ilmu dan Perpustakaan Vol 7 · 1 ISSN 2657-2346

Pengembangan Koleksi E-Resources Perpustakaan Pada Masa Pandemi Covid-19

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstrak

Artikel ini mendiskripsikan mengenai bagaimana pengembangan koleksi perpustakaan pada masa pandemi covid-19. Masa pandemi covid mengharuskan seluruh orang untuk beradaptasi dengan kegiatan dan new habit. Hal ini pun berakibat pula pada perpustakaan. dimana banyak muncul inovasi dan habit baru dalam dunia perpustakaan. Salah satunya adalah perpustakaan digital. Pengembangan koleksi dalam perpustakaan digital diantaranya koleksi e-boook, e-journal, podcast dan lain sebagainya. Penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan dekriptif dan studi literatur atau library research. Semua bertujuan agar memnuhi tingakat kebutuhan informasi dan koleksi dari masyarakat dalam berbagai bidang. Hal ini berdampak positif antara lainnya, kemudahan dalam mengakses, biaya lebih murah, dapat mengakses buku lebih banyak, dapat diakses hanya dalam satu perangkat saja, dapat dibawa kemana saja, efektif dan efesien. Selain itu, adanya tantangan yang harus dilewati oleh pustakawan dalam mengembangkan koleksi di antarana adalah kuranya pendanaan dari pemerintah dikarenakan pemerintah lebih berfokus kepada bidang kesehatan, kurangnya sosialisasi tentang pengaksesan perpustakaan digital dan kurangnya jangkauan alat elektrok dan juga internet yang belum merata di seluruh Indonesia. Hasil dari penelitian ini anatara lain adanya new habit dan inovasi yang muncul pada perpustakaan, seperti ipusnas, amazon, gramedia digital.

Abstract

This article describes how to develop library collections during the covid-19 pandemic. The Covid pandemic period requires everyone to adapt to new activities and habits. This also affects the library. where many innovations and new habits emerge in the library world. One of them is a digital library. Development of collections in digital libraries including collections of e-books, e-journals, podcasts and so on. This research is qualitative with descriptive approach and literature study or library research. All aim to meet the level of information and collection needs of the community in various fields. This has positive impacts, among others, ease of access, lower costs, can access more books, can be accessed on only one device, can be taken anywhere, effective and efficient. Moreover, there are difficulties that should be overwhelmed by custodians in developing collections, including the lack of funding from the government because the government focuses more on the health sector, the lack of socialization about accessing digital libraries and the lack of reach of electronic devices and also the internet that is not evenly distributed throughout Indonesia. The results of this study include the existence of new habits and innovations that appear in libraries, such as Ipusnas, amazon, digital grammar.
Keywords: Perpustakaan · Sumber Informasi Elektronik · Pandemi Covid-19

Introduction

Pandemi covid 19 sudah berdampak secara global. WHO memberikan himbauan untuk memberhentikan kegiatan yang menyebabkan masa berkerumunan. Hal ini menyebabkan pelayanan dan aktivitas di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, bisnis maupun bidang lainnya harus beradaptasi. Tidak lupa pula berdampak pada perpustakaan. IFLA (International Federation of Library Associations) yaitu Lembaga internasional di bidang perpustakaan juga mengumpulkan data dari perpustakaan United States, Eropa, dan Timur Tengah mengenai bagaimana mengemabangakan pelayanan dan berbagai inovasi yang menjadikan referensi pada masa pandemi. Menurut Undang-Undang Republika Indonesia Nomor 43 tahun 2007 tetang perpustakaan menyebutkan bahwa ―perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak dan atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka.‖ Pentingnya peran perpustakaan dalam memenuhi semua informsai dalam keadaan apapun selama masa pandemi, sehingga semua perpustakaan perlu meningkatkan secara keseluruhan dengan cukup baik. Fungsi palayanan perpustakaan yang awalnya manual dan semi online menjadi full daring. Beralihnya semua kegiatan menjadi full online bertujan agar tidak terjadinya kerumunan sehingga menekan penyebaran covid-19. Salah satu bagian penting dalam perpustakaan adalah koleksi. Untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat, perpustakaan perlu memiliki koleksi yang baik dan memadai. TINJAUAN PUSTAKA 1. Pandemi Covid 19 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pandemi adalah ―wabah yang berjangkitan serempak dimana-mana atau meliputi geografi yang luas.‖ Ini menyiratkan bahwa Virus Covid-19 telah dianggap tidak terbatas secara praktis dari satu sisi planet ke sisi lainnya. Untuk sementara, menurut WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) Pandemi adalah apa yang terjadi ketika seluruh populasi mungkin akan terkena kontaminasi ini dan mungkin beberapa dari mereka menjadi sakit. Menurut (Ilmiyah, 2020; Hui, et al., 2020).Covid-19 sendiri merupakan ―coronavirus jenis terbaru pertama kali ditemukan pada tahun 2019 di Wuhan, Hubei, China. 1 Oleh karena itu, virus corona jenis baru ini diberi nama Corona Virus Sickness 2019 yang disingkat menjadi Covid-19. Sejak terungkapnya Covid-19, telah menyebar secara umum hingga membuat pandemi di seluruh dunia yang berlangsung hingga hari ini. Efek samping dari Covid-19 adalah demam 38°C, kering, dan berangin dan efek yang paling mengerikan bagi manusia adalah kematian.‖ 2 2. Koleksi E-resoucess di masa Pandemi Covid 19 Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Deri Hediana Priadi, dan kawankawannya dengan judul ―Pandemi Covid-19 dan inovasi Perpustakaan Tinggi‖ menuliskan bahwa adanya mendekitalkan koleksi perpustakaan sehingga munculnya banyak koleksi e-resources. Dengan perpustakaan canggih, karya dapat didistribusikan secara universal ke seluruh dunia dengan bantuan web. Untuk mmenuhi kebutuhan masyarakat luar, di perpustakaan terdapat layanan pengembangan koleksi. Diadakanya pengembangan koleksi bertujuan supaya koleksi-koleksi yang diserahkan kepada pengguna atau masyarakat tepat dan dibutuhkan oleh masyarakat. Salah satu inovasi yang dilakukan anatara lain pelatihan terhadap pustakawan untuk meningkatkan kualitas layanan, kemudian adanya perpustakaan digital dan adanya resources sharing. Dengan Resources sharing diharapkan bisa membuat koleksi bertambah.3 Pada penelitian Tatik Herwati yang berjudul ―new habit pada perpustakaan di masa Pandemi covid-19‖ menuliskan bahwa munculnya kegiatan baru seperti melakukan kegiatan promosi perpustakaan melalui media sosial semakin dilakukan, memproduksi dan mengembangkan koleksi digital, melakuakn kerjasama dengan perustakaan lain. Penerapan new habit yang di lakukan di perpustaaan UII antara lain adanya koleksi digital secara daring melalui portal library.uii.ac.id sehingga pengguna dapat mengakses beragam koleksi digital seperti jurnal online, ebook, hingga repository TA. Selain itu pemustaka dapat mnginstal aplikasi perpustakaan digital UII pada smartphone mereka.4 Mengindentifikasi suatu koleksi diperpustakaan merupakan, langkah yang dilakukan oleh petugas perpustakaan yang berguna untuk memilah suatu koleksi pustaka mana yang masih bisa digunakan dan tidak. Selain itu dengan diadakanya pengembangan koleksi (collection development) dana pembelian koleksi pustaka baru tidak membengkak, dikarenakan sebelumnya kita sudah menganalisis kebutuhan koleksi yang dibutuhkan oleh pengguna perpustakaan. Dahulu koleksi perpustakaan hanyalah sebuah fisik seperti buku, jurnal, cd-room tetapi seiring perkembangan zaman koleksi perpustakaan pun beragam mulai dari buku elektronik, film, music. Kemajuan teknologi informasi membuat perkembangan percetakan terhadap media cetak berkembang pesat, dikarenakan mudah didapat dan harganya tidak semahal dulu. Percetakan sekarang pun ada yang digital, dimana membuat koleksi putaka kita menjadi digital yang bisa di akses dimana saja dengan bantuan internet. Perkembangan koleksi sejalan dengan perkembangan dimasyarakat, dimana dahulu masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Masyarakat industri merupakan masyarakat yang menciptakan suatu jasa dan produk, berbeda dengan masyarakat agraris yang dimana masyarakat bergantung kepada alam. Masyarakat industri ini tergantung dengan teknologi informasi untuk menciptakan suatu karya, oleh karena itu koleksi yang dibutuhkan pun beragam. Dalam melakukan proses pengembangan koleksi, pustakawan melakukan sembilan kegiatan yang dimulai dari kegiatan mengidentifikasi, seleksi, pengadaan, pengelompokkan, mengolah, menyimpanan, menginterpretasi, pemanfaatan, dan penyebaran. Seiring dengan perkembangan zaman, jenis koleksi perpustakaan pun bertambah yang dahulu karya non cetak, cetak dan mikro sekarang ada sumber daya elektronik. Aset elektronik ini terdiri dari delapan jenis sumber, khususnya buku harian elektronik, buku elektronik (buku digital), kumpulan data akumulasi, kumpulan file dan data unik, kumpulan data referensi, basis informasi faktual dan matematis, gambar elektronik, sumber daya media umum elektronik. Jurnal elektronik merupakan jurnal ilmiah yang dapat diakses melalui laporan elektronik melalui kantor PC sebagai PDF (desain catatan praktis) dan berbagai jenis jelas untuk mendapatkan buku harian ini memerlukan koneksi web. Buku elektronikl (e-books) merupakan buku cetak yang fisiknya berubah menjadi digital. Format dari buku ini biasanya epub,pdf,lit dan lain-lain, biasanya dapat di unduh di googleplaybooks,amazon prime book,ebrary, ebscohost books, wiley ebooks dan springer e-books. Indonesia sendiri melalui Kementerian Pendidikan Nasional menerbitkan layanan buku sekolah elektronik. Buku sekolah elekronik ini merupakan buku legal yang berbasis legal tersedia dari tingakatan sekolah dasar sampai atas. Pangkalan data indeks dan abstrak merupakan sumber informasi elektronik yang berisikan berbagai jenis informasi secara elektronik. Contohnya model sumber daya elektronmik seperti SCOPUS dan Proquest Abstract. Pangkatan data referensi merupakan sumber daya elektronik pangakalan data referensi dalam memberikan suatu informasi yang terdapat dalam biografi, kamus, direktori, ensiklopedia dan lain-lainya. Contohnya pangakalan data referensi adalah BRITANNICA ONLINE. Audio / visual merupakan sumber yang menyediakan data dalam bentuk audiovisual seperti film, videoklip, documenter, musik, dan lain-lain, Contohnya seperti Youtube, Itunes, Spotify, Netflix, IDMB.5 3. Perpustakaan digital Perpustakaan merupakan salah satu unit kerja yang berupa tempat menyimpan, mengelola, mengumpulkan, dan menata koleksi bahan pustaka secara urut, yang dapat digunakan pengguna sebagai sumber informasi dan sebagai sarana pembelajaran yang tidak membosankan. Lebih khusus dari , fungsi utama perpustakaan adalah (1) pengumpulan bahan pustaka yang menggabungkan buku dan nonbuku sebagai sumber data, (2) pengolahan dan pemeliharaan bahan pustaka, dan (3) penyediaan layanan bahan pustaka. 6 International Federation of Library Associations and Institutions atau IFLA, 2020 Jika mereka telah menyampaikan aturan yang direncanakan pada perpustakaan di seluruh dunia untuk tetap menawarkan jenis bantuan selama pandemi. Untuk situasi ini, perpustakaan dipercaya dapat memperkuat administrasi komputerisasinya. Cara yang mungkin dilakukan adalah dengan mencoba memperluas administrasi yang ada dengan membuat pengembangan baru, untuk bekerja dengan kebutuhan klien dalam mendapatkan data. Perpustakaan digital merupakan perpustakaan yang melakukan layanan secara melalui daring dan dipenuhi dengan berbagai koleksi digital perpustakaan yang dapat diakses oleh semua masyarakat kapanpun dengan memanfaatkan internet dan TI. Kelebihan perpustakaan digital: 1. Praktis. Untuk situasi ini, ini menyiratkan bahwa pengguna dapat memperoleh beberapa buku hanya dalam satu gadget. 2. Efesien dalam menghemat ruang. Semua koleksi bacaan di perpustakaan berbasis komputer adalah koleksi virtual, sehingga tidak memakan banyak ruang tambahan. 3. Akses ganda (multiple access). Karena aksesibilitas online yang tinggi, Anda juga dapat mengakses koleksi di perpustakaan ini secara bersamaan. 4. Efesien dan efektif dari waktu dan tenaga. Dengan daring, perpustakaan terkomputerisasi dapat diperoleh dimana saja dan kapan saja dengan asumsi ada organisasi yang mampu sebagai penghubung. 5. Ketimbang buku-buku cetak yang ada di perpustakaan-perpustakaan tradisional, perpustakaan-perpustakaan mengubah buku-buku digital agar bisa dimanfaatkan oleh banyak klien. Membuat buku digital bisa dibilang sangat mahal. Meskipun demikian, buku digital dapat disalin berkali-kali tanpa batas dengan biaya yang wajar.7 4. Tantangan Pengambangan Koleksi pada masa Pandemi Prayetno (2015) mengartikan tantangan sebagai berikut, ―tantangan adalah suatu hal atau bentuk usaha yang memiliki tujuan untuk menggugah kemampuan‖. Kemudian menurut KBBI tantangan merupakan ―hal atau objek yang merubah tekad untuk meningkatkan kemampuan untuk mengatasi masalah; rangsangan agar bekerja lebih giat dan sebagainya‖. Tantangan ini menjadi peluang yang dapat ditangkap saat ini dengan mengikuti perkembangan yang ada untuk memberikan kegiatan pengelolaan atau pelayanan yang tersedia bagi pemustaka perpustakaan, walaupun sebatas kunjungan langsung ke perpustakaan. 8 Kemudian, ujian atau mungkin sesuatu yang bisa menjadi penghambat selama masa perbaikan bantuan selama pandemi Covid-19 ini merupakan tanda pengenal untuk terus meningkatkan dan mengembangkan pelayanan lebih lanjut. Menurut data yang didapatkan oleh penulis penelitian yang berjudul ―Tantangan dan inovasi perpustakaan Daerah Kabupaten Subang di masa pandemic Covid19‖ bahwa anggaran dari pemerintah daerah yang dalam hal ini bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dalam jurnal disebutkan bahwa Kabupaten Subang yang dianggarkan secara eksplisit untuk perbaikan perpustakaan hanya 0,2% dan rencana belanja ini masih belum memadai untuk peningkatan administrasi di Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Subang. Karena keterbatasan dana, perpustakaan menambah koleksi cetakan terbaru Pada tahun 2018, dan terakhir pada tahun 2019, Kantor Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Suban mendapat dukungan dari Bank Indonesia hingga 350 eksemplar (selanjutnya disebut BI Corner).Rencana keuangan yang dianggap kurang memadai, kemudian diturunkan lagi karena pengalihan kemampuan aset atau rencana keuangan untuk latihan kesejahteraan untuk memikirkan masalah kesehatan umum karena pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung. Permintaan pengguna terhadap koleksi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Suban terus meningkat di masa pandemi ini. Hal ini dikarenakan sebagian eks pengguna arsip dan kantor perpustakaan Kabupaten Subang adalah mahasiswa, dan koleksi yang diminta berkaitan dengan bahan pustaka yang memiliki poin terkait dengan masalah keuangan. Dalam situasi ini, pandemi Covid-19 mungkin masuk akal bahwa konten data atau bahan pustaka yang ditentukan oleh klien belum disesuaikan. Agar mengetahui kebutuhan informasi pengguna yang nantinya akan dipertimbangkan untuk memberikan tujuan pengelolaan dan referensi, kurator arsip dan perpustakaan Kabupaten Subang melakukan tinjauan kebutuhan pengguna atau yang lebih umum relevan di daerah setempat.

Method

Penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan dekriptif dan studi literatur atau library research. Dimana Studi literature adalah serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan strategi mengumpulkan perpustakaan, membaca, dan mencatat, serta menangani bahan penelitian.

Result & Discussion

Di masa pandemi COVID-19 ini, banyak kegiatan yang tidak memungkinkan keramaian. Banyak kegiatan yang awalnya face to face atau offline sekarang online. Hal ini bertujuan agar mencegah penyebaran covid 19. Mulai dari kegiatan pendidikan, ekonomi, bisnis dan lainnya diharuskan untnuk beradaptasi dengan adanya pandemi covid 19. Begitu pula dengan perpustakaan. Banyaknya kegiatan perpustakaan yang awalnya tatap muka menjadi online. Begitu pula dengan pengembangan koleksi, koleksi meruapakan salah satu komponen yang penting bagi perpustakaan. walaupun masih dalam masa pandemi, tingkat kebutuhan informasi dalam bidang pendidikan dan lainnya masih sangat tinggi. Sehingga para pustakawan diharuskan untuk berinovasi menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Salah satu inovasi yang dibuat oleh pustakawan adalah mengembangan bagian eresources dalam perpustakaan digital. Perpustakaan digital merupakan sebuah perpustakaan yang seluruh pelayananna melalui jalur daring atau online. Diantara koleksi eresources dlam perpustakaan digital adalah ebook, e-journal, podcast, dan lain-lainnya. Sehingga koleksi atau seumber informasi yang dapat diakses dengan jarak jauh (digital information). Selain itu ada beberapa aplikasi membaca buku ang disediakan berbagai platform, seperti amazon, ipusnas, gramedia. Perubahan dalam perpustakaan ini membuat kemudahan bagi ara pengguna dimana pemustaka dapat mengakses kolekksi digital dimana saja dan gratis. Kelebihan dari perpustakaan digital ini adalah praktis, efesien dalam menghemat ruang, akses ganda, efesien dan efektif dari segi waktu dan tenaga dan hemat biaya Akan tetapi adanya tantangan yang dimiliki dalam mengemabangkan koleksi pada masa pandemi. Salah satunya adanya anggaran dana, dimana sekarang ini dana dari pemerintah lebih terfokuskan pada bidang kesehatan. Maka anggaran dalam bidang lain perlu disesuaikan dengan keadaan sekarang. Selain itu, banyaknya pengguna yang masih belum tahu bagaimana cara mengakses perpustakaan online. Sehingga pustakawan perllu melakukan pengenalan dan sosialisasi mengani perpustakaan online. Dari apa itu perpustakaan online, bagaimana cara menemukanna dan cara mengaksesnya. Hak cipta merupakan salah satu kesulitan terbesar dalam dunia perpustakaan komputerisasi, dan pengelolaannya tetap sangat sulit karena tidak ada otoritas yang sah untuk menutupinya.11 Akan tetapi, tentang hak cipta pada koleksi tercetak, hal itu telah diatur pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2004 pasal 47, dijelaskan bahwa ―perpustakaan hanya diperbolehkan membuat 1 (satu) salinan dan perpustakaan harus menjamin bahwa salinan yang ada tersebut hanya dipergunakan untuk kepentingan penelitian dan pendidikan.‖ 12 Perpustakaan digital sebagai instrumen yang menciptakan dan dikenang untuk jagat internet yang berisi penimbunan informasi dan data sebagai berbagai macam buku, suara, gambar, dan rekaman yang terkomputerisasi dalam organisasi elektronik dan cara paling umum untuk menyebarkan data menggunakana laptop menghadirkan kesulitan bagi kurator. Tes ini adalah cara terbaik untuk mengamankan koleksi Anda dari berbagai operasi yang dapat terjadi di perpustakaan komputerisasi Anda. Jika pada perpustakaan konfensional yang mungkin terjadi misalnya pembobolan, pemilahan yang tidak kembali, pemusnahan buku, dll. Sehingga pelanggaran yang dapat terjadi pada perpustakaan tingkat lanjut dapat dibayangkan dengan memanfaatkan PC atau gadget yang masuk ke perpustakaan terkomputerisasi di web. Terlebih lagi, pertaruhan untuk mendapatkan pelaku pelanggaran ini juga kecil mengingat tingkat akses ke perpustakaan komputer sangat luas. Banyaknya penemuan-penmuan di bidang teknologi meningkatkan keefesienan dan efektifitas dari aktivitas di bidang perpustakaan. selain itu banyaknya muncul new habit baru yang membantu kemajuan di bidang perpustakaan salah satunya adalah perpustakaan digital. Jalinan kerjasama anatar perpustakaan pun semakin erat dengan tujuan membantu satu sama lain dane meningkatan dalam hal pelayanan dan pengembangan koleksi itu sendiri. Layanan sirkulasi, layanan ini sangat terbatas jumlahnya dan mungkin diperbolehkan jika kebutuhan akan berbagai bahan pustaka dibawa kembali dan diperoleh dalam beberapa hari sudah jelas penjelasan dan alasan klien mendapatkan sumber data. Dalam layanan sirkulasi selama masa pandemi, ada perbedaan dalam pelaksanaannya jika dibandingkan dengan organisasi pengangkutan jauh sebelum pandemi, terlebih lagi klien dapat memilih bahan perpustakaan dan membandingkannya dengan berbagai pencipta pada titik yang sama dan dapat dengan sembarangan dan berhasil memilih berbagai macam bahan perpustakaan. dapat dibawa kembali. Dimana buku yang bisa dikreditkan jumlahnya dibatasi dengan memperkirakan seberapa signifikan buku tersebut untuk pengguna dan selanjutnya kerangka pengambilan bahan pustaka hanya dilakukan oleh perpustakaan, sedangkan klien hanya memberikan judul dan penulis buku. Jika perlu, maka perpustakaan akan memberikan buku tersebut kepada klien. Terlebih lagi, ada perawatan untuk koleksi bahan pustaka yang dipinjamkan dengan cara melepas buku selama beberapa hari dengan hand sanitizer. Setelah buku dianggap dilindungi, perpustakaan akan mengatur. 13 Dari pustakawan maupun pemerintah sekarang sudah semaksimal mungkin meningkatkan koleksi dalam berbagai koleksi cetak maupun non cetak. tak dapat dipungkiri bahwa dalam hal terbilang lebih sedikit dari tahun sebelum pandemic. Sekarang pun pandemi masih berlanjut dan muncul banyak istilah barus seperti new normal. Tentuna pustakawan dituntut kembali memunculkan inovasi-inovasi baru menyesuaikan dari peraturan pemerintah dan status kesehatan di Indonesia sendiri.

Conclusion

Dari penjelasan diatas dapat disimpulan bahwa pengembangan koleksi e-resources di masa pandemic covid-19 sudah berkembang sangat pesat. Munculnya banyak inovasi baru dalam pengembangan koleksi. Koleksi yang difokuskan untuk dikembangan pada masa pandemi ini adalah koleksi digital sepeti e-book, e-journal, podcast dan lainnya. Sehingga pengguna dapat megakses dan membuka koleksi dari masa saja dan kapan saja. Salah satu produkyang muncul dalam merespon pandemi ini adalah, ipusnas, amazon, gramedia. Ketiga platform ini menyediakan berbagai jenis koleksi digital yang cukup lengkap. Selain itu ada juga beberapa situs yang memuat ebook dan e-journal. Dampak postif yang didaptkan adalah kemudahan dalam mengakses, biaya lebih murah, hanyak perlu memiliki satu perangkat yaitu handphone maupun laptop. Akan tetapi ada pula bebagai tantangan yang perlu dihadapi pustakawan pada menigkatkan pengembangan koleksi, diantaranya adalah kurangnya pembiayaan pemerintah, pengetahuan akses digital yang belum banyak diketahui, alat elektroni yang kurang memadai dan belum meratana internet di seluruh Indonesia. Saran 1. Perpustakaan memperbanyak jalin kerjasama dengan perpustakaan lain mauapun beberapa penerbit buku untuk melengkapi ketersediaan buku yang lebih lengkap. 2. Melakukan sosialisai bagaimana cara mengakses dan menggunakan perpustakaan digital. 3. Membuat video tutorial cara menggunakan dan mengakses perpustakaan digital atau website yang menyediakan koleksi digital lainnya. 4. Sedikit demi sedikit meningkatkan fasilitas elektronik agar proses online lebih memadai.