Preservasi Bencana Kebakaran di Perpustakaan Diplomasi
Universitas Bengkulu; Universitas Bengkulu; Universitas Bengkulu
Abstrak
Perpustakaan Diplomasi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia adalah jenis perpustakaan khusus yang berada di Indonesia tepatnya di Jakarta Selatan yang merupakan salah satu wilayah paling rawan terhadap bencana. Kebakaran menjadi bencana yang paling tinggi terjadi di Kota Jakarta dengan total 665 kejadian dalam kurun lima tahun terakhir menurut BPBD DKI Jakarta. Adapun penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan secara faktual, akurat serta sistematis terhadap fakta mengenai objek tertentu secara mendalam dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana upaya kegiatan preservasi yang dilakukan Perpustakaan Diplomasi dalam menghadapi bencana kebakaran pada sebelum, saat dan sesudah kejadian serta kendala apa yang dapat menjadi hambatan dalam menjaga suatu koleksi tetap utuh dan lestari sehingga dapat dipergunakan dalam waktu yang lama. Hasil dari penelitian menghasilkan bahwa Perpustakaan Diplomasi telah menunjukan ke-4 tahap perencanaan penanggulangan bencana kebakaran yaitu tahap pencegahan, perencanaan, respon bencana dan pemulihan telah berjalan dengan baik. Namun perpustakaan menujukukan adanya kendala belum adanya kebijakan secara tertulis dalam menghadapi preservasi koleksi perpustakaan terhadap bencana sehingga bisa saja pada saat setelah kejadian proses pemulihan koleksi dapat berjalan lambat bahkan terjadi kesalahan.
Abstract
The Diplomacy Library of the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia is a special type of library located in Indonesia, specifically in South Jakarta, which is one of the areas most prone to disasters. Fire is the highest disaster occurring in the city of Jakarta with a total of 665 incidents in the last five years according to BPBD DKI Jakarta. The research was carried out to describe factually, accurately and systematically the facts about certain objects in depth using descriptive qualitative methods. This research aims to find out how preservation activities were carried out by the Diplomacy Library in dealing with fire disasters before, during and after the incident and what obstacles could become obstacles in keeping a collection intact and sustainable so that it can be used for a long time. The results of the research show that the Diplomacy Library has shown that the 4 stages of fire disaster management planning, namely the prevention, planning, disaster response and recovery stages have gone well. However, the library points out that there is an obstacle, namely that there is no written policy in dealing with the preservation of library collections against disasters, so it is possible that after the incident the collection recovery process can be slow and errors may even occur. Keywords: Preservation; Fire; Diplomasi Library
Keywords:
Preservasi
· Kebakaran
· Perpustakaan Diplomasi
Introduction
A. Pendahuluan Perpustakaan Diplomasi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia adalah jenis perpustakaan khusus yang berada di Indonesia tepatnya di Jakarta Selatan yang merupakan salah satu wilayah paling rawan terhadap bencana karena keadaan geografis, geologis, hidrologis dan demografis yang dimiliki oleh Negara Republik Indonesia dapat menyebabkan rawan akan bencana. Suatu bencana akan selalu terjadi tanpa mengenal siapa saja, waktu dan tempat tidak terkecuali di perpustakaan dari bencana kecil hingga yang besar sekalipun. Maka sebagai penyedia sumber informasi bagi para pemustakanya, suatu perpustakaan tentu memiliki kewajiban dalam menjaga dan mempertimbangkan keamanan dari ancaman berbagai bencana yang mungkin saja terjadi di perpustakaan sehingga perpustakaan tersebut dalam mempertahankan koleksi tersebut tetap aman dan lestari. Semua yang terkena bencana dapat merasakan dampak dari bahaya yang ditimbulkan apabila suatu bencana terjadi termasuk berbagai komponen yang ada di perpustakaan, seperti kerusakan fasilitas ruang baca hingga kerusakan koleksi perpustakaan. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk menyelamatkan sarana, fasilitas dan berbagai koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan dari berbagai kerusakan yang timbul akibat bencana, dengan demikian perpustakaan memerlukan adanya penanganan yang dilakukan secara baik sehingga koleksi tersebut dapat terselamatkan (Dian Oktaningrum & Perdana, 2017). Maka kegiatan preservasi sangat dibutuhkan perpustakaan dalam upaya untuk memastikan bahwa semua bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan terorganisasi dalam perencanaannya ataupun tata kelolanya supaya dapat dipastikan bahwa koleksi bahan pustaka tersebut dapat sebaik mungkin dipergunakan, baik tercetak maupun non cetak bisa bertahan lama dan tidak mudah rusak (Kautsar et al., 2022) Kategori bencana terbagi dalam berbagai jenis sesuai dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dalam (Mareta, 2014) yang menyatakan bahwa bencana yang terjadi di Indonesia terdiri dari faktor alam atau faktor manusia. Bencana kebakaran menjadi salah satu bencana yang dapat diakibatkan oleh alam maupun manusia. Adapun kebakaran menjadi bencana yang paling tinggi terjadi di Kota Jakarta. Bencana ini dapat disebabkan dari berbagai faktor seperti korsleting listrik, tabung gas, pembakaran sampah dan kelalaian lainnya sehingga wilayah Jakarta yang pemukimannya cenderung padat/kumuh bisa mendorong kebakaran dapat mudah terjadi. Bahkan bencana kebakaran di Jakarta hampir setiap harinya dapat ditemukan 2 sampai 3 kejadian. Hal ini diperkuat dengan data angka kejadian bencana di Jakarta dalam waktu kurun lima tahun (2018-2022) didominasi oleh bencana kebakaran sebanyak 3.141 kejadian dan yang tertinggi terjadi pada tahun 2019 sebanyak 726 kejadian, bahkan kejadian bencana yang sering terjadi di Jakarta wilayah selatan juga berasal dari bencana kebakaran dengan total 665 kejadian dalam kurun lima tahun terakhir menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPBD) DKI Jakarta. Bencana kebakaran merupakan bencana yang dapat saja di alami oleh perpustakaan karena sebagian besar yang ada di dalam perpustakaan terdapat bahan- bahan yang cendrung membuat mudah terbakar seperti kertas-kertas yang ada pada bahan pustaka. Bencana kebakaran ini bisa membuat cacat suatu koleksi bahkan dapat dengan sangat cepat memusnahkan koleksi tanpa tersisa sedikitpun. Sehingga tidak jarang bencana kebakaran menjadi salah satu jenis bencana yang sangat mengerikan dan cukup sangat cepat dirasakan dari segi kerugian yang ditimbulkan dan memerlukan biaya yang cukup tinggi pada saat pemulihan. Melihat dari kenyataan tingginya kejadian bencana kebakaran yang terjadi di Jakarta Selatan, peneliti menyadari betapa penting adanya kegiatan preservasi bencana 208 kebakaran di Perpustakaan Diplomasi Kementerian Luar Negeri. Karena tidak menutup kemungkinan bahwa Perpustakaan Diplomasi Kementerian Luar Negeri tidak memiliki potensi jika suatu bencana kebakaran tersebut terjadi, sehingga perpustakaan tentu perlu mempersiapkan dan memperhitungkan dari keamanan bencana yang menjadi urusan oleh semua pihak. Adapun penelitian terdahulu yang pertama berjudul “Peran perpustakaan dalam menghadapi bencana : Sebuah tinjauan literatur” menjelaskan bagaimana gambaran yang dapat dilakukan supaya tidak merasakan akibat dari kerusakan bencana bagi perpustakaan dan pustakawan Indonesia serta peran apa yang dapat diberi oleh perpustakaan dan pustakawan di Indonesia sebelum, saat, atau setelah bencana. Metodologi penelitian ini berdasarkan metode tinjauan literatur (literature review). Hasil penelitian ini memberikan peran serta terbaru yang bisa dilaksanakan untuk berperan strategis sebelum, saat, dan pasca bencana oleh perpustakaan dan pustakawan tersebut dari berbagai bencana. Penelitian kedua berjudul "Kesiapsiagaan Masyarakat Menghadapi Bencana Kebakaran di Kampung Pelangi Kota Semarang Tahun 2020". Tujuan penelitian ini dilakukan untuk menganalisa tahap kesiapsiagaan warga terhadap bencana kebakaran yang terjadi di Kampung Pelangi dan mengidentifikasi penyebab apa saja yang dapat menghambat kesiapsiagaan bencana kebakaran oleh masyarakatnya. Metodologi penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan jumlah populasi seluruh kepala rumah tangga di kawasan Kampung Pelangi termasuk RW 03 dan RW 04 berjumlah 830 kepala keluarga. Hasil yang diperoleh, bahwa warga Kampung Pelangi kurang memiliki kesiapan untuk menghadapi bahaya bencana baik dari bahaya fisik maupun ekonomi dan kurang adanya inisiatif warga untuk mencatat nomor darurat serta kurangnya sosialisasi pencegahan atau simulasi saat terjadi bencana. Selanjutnya penelitian yang terakhir dikaji penulis berjudul "Preservasi Koleksi Bahan Pustaka Akibat Bencana Alam Di Perpustakaan SDN Kudang Tasikmalaya". Penelitian ini menggunakan metode dengan lebih menekankan dekripsi melalui pendekatan kualitatif, dalam menjabarkan suatu kejadian yang telah dialami oleh subyek penelitian. Adapun hasil yang didapatkan dari penelitian di Perpustakaan SDN Kudang menunjukan bahwa mereka belum memiliki tim tentang perencanaan pencegahan bencana alam sehingga mengakibatkan preservasi belum dapat terlaksana secara baik. Terdapat berbagai penelitian berbeda yang dilakukan peneliti sebelumya terhadap penelitian yang akan penulis lakukan yaitu pada penelitian pertama membahas berbagai peran yang dapat dilakukan perpustakaan dan pustakawan pada saat sebelum, saat, dan pasca bencana dari berbagai bencana. Perbedaan penelitian kedua bertujuan untuk menganalis tahap kesiapsiagaan warga terhadap bencana kebakaran yang terjadi di Kampung Pelangi dan mengidentifikasi penyebab apa saja yang dapat menghambat kesiapsiagaan bencana kebakaran oleh masyarakatnya sedangkan pada penelitian ketiga berisikan pokok pembahasan mengenai preservasi yang dilakukan Perpustakaan SDN Kudang dalam menghadapi bencana banjir. Adapun penelitian yang dilakukan penulis untuk mengetahui bagaimana upaya kegiatan preservasi yang dilakukan Perpustakaan Diplomasi dalam menghadapi bencana kebakaran pada sebelum, saat dan sesudah kejadian serta kendala apa yang dapat menjadi faktor penghambat dalam menjaga koleksi sehingga tetap utuh dan lestari agar dapat dipergunakan untuk waktu yang lama. Harapannya penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi perpustakaan dalam merawat bahan pustaka sebagai sumber informasi yang penting secara aman dari bencana kebakaran. 209
Method
B. Metode Penelitian Pada penelitian ini yang menjadi fokus peneliti adalah preservasi bahan pustaka yang disebabkan bencana kebakaran di Perpustakaan Diplomasi pada sebelum kejadian, saat kejadian dan setelah terjadinya bencana kebakaran. Adapun penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara faktual, akurat serta sistematis terhadap fakta mengenai objek tertentu secara mendalam. Penelitian kualitatif merupakan studi yang meneliti suatu kualitas hubungan, aktivitas, situasi, atau berbagai material (Adlini et al., 2022). Teknik pengumpulan data yang dilakukan menggunakan pengamatan secara langsung ke lapangan, dokumentasi dan melaksanakan wawancara kepada informan. Sumber data dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Sumber data primer dalam penelitian ini diperoleh dari proses observasi yang menggunakan lembar observasi dan proses wawancara dengan menggunakan lembar pedoman wawancara dari informan. Pemilihan salah satu informan berasal pegawai dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri karena Perpustakaan Diplomasi dibawah naungannya. Adapun analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi data yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data dan penarikan kesimpulan.
Discussion
C. Pembahasan Upaya dalam Mempersiapkan Preservasi Bencana Kebakaran Perpustakaan Diplomasi Kementerian Luar Negeri tidak luput dari ancaman bencana kebakaran dikarenakan Jakarta merupakan kawasan yang memiliki berbagai macam bencana baik dari faktor alam atau faktor manusia. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPBD) DKI Jakarta membuat kajian dari banyaknya bencana yang terjadi di Jakarta, bahwa kejadian bencana yang paling banyak terjadi yaitu bencana kebakaran dengan total 3.141 dalam waktu kurun lima tahun (2018-2022) termasuk wilayah Jakarta Selatan. Salah satu yang terkena dampak bencana yang dapat terkena apabila terjadi kebakaran adalah perpustakaan. Kebakaran adalah api yang tidak dapat dikendalikan dimana keadaannya di luar kemampuan manusia dan hal tersebut tidak diinginkan untuk terjadi (Suryoputro et al., 2018). Penyebab kebakaran api dapat terjadi dari berbagai unsur pristiwa oleh alam, non alam maupun bersumber dari manusianya sendiri yang berakibat adanya berbagai ancaman yang mungkin saja terjadi yang berpotensial terjadinya percikan api pada saat awal terjadinya kebakaran, penjalaran api hingga gas dan asap yang ditimbulkan oleh bencana tersebut. Sehingga dampak dari kebakaran tersebut dapat dirasakan oleh semua pihak baik dari pihak manusia, harta benda maupun lingkungannya. Maka dengan adanya suatu daerah yang memiliki kerawanan terhadap bencana diharapkan untuk mulai mengambil sikap terhadap langkah prosedur perencanaan kesiapan dalam menghadapi bencana terutama kebakaran. Perencanaan yang dilakukan dapat berupa kesiagaan yang memuat upaya penyelamatan sumber daya manusia dan koleksi perpustakaan dengan tujuan mencegah, menghambat dan mengurangi dampak apabila bencana kebakaran terjadi. Kesiagaan dalam menghadapi bencana adalah berbagai rangkaian kegiatan pengorganisasian meleawi langkah-langkah tepat guna yang dapat dilakukan pustakawan dalam mengantisipasi bencana (Laksmiwati, 2016). Kesiagaan terhadap bencana merupakan bentuk bagian upaya perlindungan dan pencegahan keruasakan dari kegiatan preservasi yang ada pada perpustakaan. Kegiatan preservasi adalah tindakan yang dilakukan agar suatu bahan pustaka dapat terpelihara dan terjaga secara baik sehingga dapat mencegah bahan pustaka dari berbagai acaman yang dapat merusak dari segi fisik maupun kandungan isi informasi yang terkandung di dalamnya, dengan memperhatikan tata kelola, penyimpanan, tenaga hingga metode yang 210 akan dilakukan guna memperpanjang kebertahanan usia bahan koleksi perpustakaan dan informasi yang terkandung didalamnya. Dengan ini, suatu perpustakaan perlu mempersiapkan secara baik dan terorganisasi terhadap segala kemungkinan yang bisa saja terjadi baik pada sebelum, saat ataupun setelah kejadian dari bencana (Dian Oktaningrum & Perdana, 2017). Tindakan preservasi yang dapat dilakukan perpustakaan dalam menghadapi bencana dapat dimulai dari bangunan atau gedung yang digunakan untuk penyimpanan koleksi perpustakaan ataupun sarana dan prasarana yang dapat menunjang antisipasi apabila suatu bencana terjadi serta sumber daya manusianya. Sehingga kesiapan ini sangat perlu disiapkan dan diperhitungkan secara matang sehingga dapat diterapkan apabila suatu ancaman bencana sudah nyata diperkirakan dalam kondisi yang mengancam. Selain itu, menurut (Harvey, 1993) terdiri berbagai tahap atau langkah pada saat merencanakan kesiapan menghadapi bencana meliputi empat tahap berupa: 1. Tahap Pencegahan Tahap pencegahan merupakan tahap yang paling dasar dalam melindungi terhadap suatu bencana. Perlindungan yang dilakukan ini memproritaskan tindakan kesiapsiagaan terhadap berbagai kemungkinan yang dapat saja terjadi (Hidayat & Desriyeni, 2015). Kegiatan kesiapsiagaan adalah berbagai rangkaian kegiatan melalui pengorganisasian yang dilaksanakan dalam mengantisipasi bencana secara langkah tepat guna dan berdaya guna (Asiri, 2020). Tahapan pencegahan ini memuat apa saja langkah yang harus dilaksanakan dalam mengidentifikasi penyebab terjadinya bencana oleh suatu lembaga, yaitu dapat berupa pemeriksaan bangunan ataupun pembuatan backup terhadap data koleksi perpustakaan. Adapun tahap pencegahan pertama yang dilakukan oleh Perpustakaan Diplomasi yaitu dimulai dari segi pembangunan gedung. Informasi yang diperoleh memalui hasil wawancara dengan informan menyatakan bahwa gedung Perpustakaan Diplomasi Kementerian Luar Negeri telah dipersiapkan secara matang dengan konstruksi pencegahan kebakaran. Tindakan pencegahan dari sisi bangunan yang ada di perpustakaan ini dapat terlihat dari tersedianya beberapa sarana dan fasilitas yang dapat membantu mencegah kebakaran berupa Detector smoke/fire/Gas Detector, TBFA (Terminal Box Fire Alarm), Sprinkler Head, lampu indikator alarm, APAR (Alat Pemadam Ringan), Alat Pemadam Api Berat (APAB), OBH (Outdoor Hydrant Box) dan IHB (Indoor Hydrant Box) di dalam ruangan perpustakaan maupun diluar perpustakaan. Adapun penempatan APAR (Alat Pemadam Ringan) dan Alat Pemadam Api Berat (APAB) diletakkan di tempat strategis yang mudah dijangkau oleh mata dan hampir ada di setiap sudut ruangan perpustakaan sehingga dapat dengan mudah ditemukan dan digunakan. Penyediaan APAR (Alat Pemadam Ringan) ini sangatlah penting terutama pada ruang tertutup ataupun pada ruangan terbuka terutama pada ruangan yang berpotensi atau rentan akan kebakaran (Nasution et al., 2021). Sehingga ini sejalan dengan acuan yang standar yang digunakan, Peraturan Menteril Tenaga Kerja dan Transmigrasi Repubik Indonesia No. Per-04/Men/1980 dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.26 Tahun 2008, yang menyebutkan bahwa APAR (Alat Pemadam Ringan) harus ditempatkan di tempat yang menyolok mata, ditempatkan dalam sepanjang perjalanan jalur lintasan normal akan lebih baik, dan akan lebih baik juga jika ditempatkan di daerah tempat keluar sehingga pada saat terjadinya kebakaran alat tersebut akan mudah dikenali oleh mata dan terjangkau serta siap sipergunakan setiap saat. Pada tahapan pencegahan yang kedua, perpustakaan Diplomasi mempunyai kegiatan tindakan pemeliharaan secara berkala. Pencegahan merupakan hal yang harus selalu dilakukan karena setiap hal yang kecil dapat menjadi penyebab kebakaran. Salah satu yang dilakukan Perpustakaan Diplomasi melakukan pemeriksaan secara berkala 211 terhadap bangunan tempat menyimpannya koleksi, pemeriksaan terhadap daya listrik serta pemeriksaan suhu ruangan AC (Air Conditioner) dan sebagainya dengan tujuan menjaga suhu ruang koleksi dan keamanan bahan pustaka tetap terjaga dari kerusakan dengan tingkat lanjut dari hal-hal terlihat kecil, karena pada dasarnya hal yang terlihat kecil jika ditumpuk bisa saja dapat mengakibatkan suatu hal menjadi lebih besar. Selain tersedianya alat-alat yang dapat digunakan apabila bencana kebakaran terjadi, Perpustakaan Diplomasi memiliki petunjuk sebagai tanda apabila bencana terjadi seperti adanya petunjuk keluar dan tanda titik kumpul. Selain persiapan perencanaan yang telah disediakan dari sarana dan prasarana yang berada di Perpustakaan Diplomasi, bahwa Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri juga telah memiliki SOP Peraturan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2019 tentang Pengamanan Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan Republik Indonesia serta kerjasama/ MOU (Memorandum of Understanding) apabila suatu bencana terjadi. Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada informan mengatakan bahwa; "Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri juga memiliki kerjasama dengan rumah sakit, pemadam kebakaran, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Pemerintah Provinsi dan pihak lainnya". Berdasarkan pernyataan diatas dapat diketahui bahwa Perpustakaan Diplomasi telah melakukan persiapan dari berbagai tahap dari pencegahan dengan melakukan pemeriksaan bangunan secara berkala, tersedianya sarana dan prasarana yang dapat digunakan apabila suatu bencana kebakaran terjadi dan adanya peraturan serta kerjasama yang telah dibuat. 2. Tahap Perencanaan Tahap perencanaan merupakan bagian bentuk dari kegiatan apabila situasi bencana dapat mengancam perpustakaan. Tahapan perencanaan yang diberikan dan dipersiapkan dalam upaya perencanaan dapat dilakukan dengan membuat peraturan, melakukan kegiatan pelatihan, dan lain sebagainya menyesuaikan terhadap bencana yang dapat menjadi ancaman bagi perpustakaan tersebut (Hidayat & Desriyeni, 2015). Adanya tahapan pencegahan ini agar dapat melakukan indentifikasi terhadap penyebab terjadinya suatu bencana dan dapat memperkecil resiko yang akan dihadapi kedepannya. Sebagai bentuk persiapan menghadapi bencana kebakaran, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri melakukan serangkaian kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan pegawainya tidak terkecuali pada Pustakawan dan staff perpustakaan untuk menghadapi bencana. Salah satu kegiatan untuk meningkatkan kemampuan pegawai tersebut adalah dengan mengadakannya kegiatan sosialisasi mengenai Mitigasi dan Penanggulangan Bencana. Adanya kegiatan sosialisasi ini dapat mendapat pengetahuan serta pemahaman yang tepat mengenai bahaya kebakaran. Kegiatan ini telah dilaksanakan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri dengan dihadiri seluruh pegawai Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri yang dilaksanakan pada hari Jumat, 27 Oktober 2023 dengan menghadirkan narasumber dari Pusat Data dan Informasi (BPBD) Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi DKI Jakarta secara langsung. Kegiatan sosialisasi Mitigasi dan Penanggulangan Bencana yang berlangsung diberikan pengetahuan melalui pengenalan berbagai macam bencana yang pernah terjadi di Jakarta, langkah-langkah apa yang harus dilakukan apabila suatu bencana terjadi melalui pemutaran video dan diskusi tanya jawab, bagaimana cara penyelamatan serta evakuasi yang tepat dan sesuai. Kegiatan ini membekali pegawai-pegawai dengan 212 pengetahuan dan pemahaman mengenai bencana yang pernah terjadi, tindakan tepat yang harus dilakukaan terhadap risiko bahaya bencana. Setelah dilaksanakannya sosialisasi mitigasi dan penanggulangan bencana, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri menyebutkan bahwa dari pihak Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri memiliki rencana untuk mengadakan pelatihan atau simulasi kebencanaan lagi secara praktik terhadap alat-alat yang akan dipakai apabila suatu bencana terjadi kedepannya seperti dalam penggunaan APAR (Alat Pemadam Ringan) dengan harapan pegawai Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri dapat memperkuat kemampuan personel secara lebih sigap dan tanggap dalam menghadapi suatu bencana. Berdasarkan pernyataan diatas dapat diketahui bahwa Perpustakaan Diplomasi telah mendapatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai mitigasi bencana yang dapat menjadi bahan pertimbangan tindakan tepat yang dapat dilakukan apabila sutu bencana terjadi dari kegiatan sosialisasi yang diadakan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri. 3. Tahap Respon Bencana Tahap respon bencana merupakan tahap pengujian terhadap segala hal yang telah diperhitungkan sebelumnya apabila bencana kebakaran yang benar benar terjadi (Hidayat & Desriyeni, 2015). Adanya respon bencana yang baik dari segala pihak pada saat menanggapi kebakaran sangat diperlukan dan dibutuhkan untuk penyelamatan jiwa manusia dan koleksi perpustakaan tersebut. Oleh karena itu untuk tahap ini, Perpustakaan Diplomasi sudah memiliki dan mempersiapkan dari strategi komunikasi yang dapat dilakukan dalam upaya memberikan informasi mengenai peringatan tanda bahaya apabila suatu bencana kebakaran terjadi, yang mana sistem alarm kebakaran ini akan bekerja apabila ada api yang mengenai sensor sehingga sistem lampu indikator yang akan memberikan tanda peringatan bahaya ketika suhu sudah melebihi dari suhu normal dan Sprinkler Head akan otomatis hidup, sehingga baik pemustaka ataupun pustakawan dapat mengetahui dengan cepat dan sistem akan merespon dengan cepat. Selain itu, sayangnya Perpustakaan Diplomasi belum memiliki seseorang yang ditunjuk sebagai bagian khusus dalam penanggulangan bencana seperti yang pernah diungkapkan oleh informan dalam sosialisasi yang pernah diadakan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri beliau mengatakan; "Seharusnya setiap ruangan atau lantai sebaiknya memiliki salah satu orang yang sudah terlatih dan yang ditunjuk secara langsung untuk mengarahkan apabila suatu bencana terjadi”. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hodgson dalam (Arisandi & Uman, 2019), yang menyatakan bahwa respon bencana dapat mencakup berbagai kegiatan seperti memberikan informasi mengenai perinagatan dini orang-orang di sekitar daerah rawan bencana, evakuasi korban, pencarian dan penyelamatan, penilaian dampak, logistik dan distribusi bantuan, mengamankan daerah dan orang-orang yang terkena dampak, rehabilitasi serta rekonstruksi. Berdasarkan pernyataan ditarik kesimpulan bahwa pada tahap respon Perpustakaan Diplomasi belum memiliki seseorang yang ditunjuk sebagai pemimpin apabila suatu bencana terjadi. Namun Perpustakaan Diplomasi telah memiliki sensor yang aktif apabila suatu bencana terjadi sehingga informasi kebakaran akan cepat tersampaikan dan sistem akan otomatis mengambil tindakan apabila suhu telah tercapai. 213 4. Tahap Pemulihan Tahap pemulihan merupakan serangkaian kegiatan dalam upaya yang dilakukan untuk mengembalikan kondisi perpustakaan setelah terjadinya dampak kerusakan dari bencana kebakaran. Pada tahap ini dangat perlu diperhitungkan dan dipersiapkan walaupun pelaksanaanya setelah bencana kebakaran terjadi. Tujuan dari adanya tahap ini adalah agar segala sesuatu yang terjadi dapat cepat difungsikan seperti semula. Menurut (Arisandi & Uman, 2019) tahap pemulihan mencakup berbagai kegiatan yang dapat mengurangi resiko dari kekacauan di masa mendatang seperti melakukan perbaikan, rekonstruksi atau mendapatkan kembali pencapaian terhadap sesuatu yang telah rusak atau hilang. Untuk saat ini Perpustakaan Diplomasi sudah memiliki tim dalam pemulihan bencana, ini sesuai dengan informan yang mengatakan bahwa; "Perpustakaan Diplomasi berada dibawah Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri maka akan ada tim yang akan dibentuk dalam pemulihan bencana seperti kejadian bencana yang pernah terjadi di MKKA (Museum Konferensi Asia Afrika)". Adanya tahap pemulihan yaitu dengan pembentukan tim bencana ini bertujuan agar serangkaian kegiatan seperti memulihkan koleksi, pembersihan koleksi, ataupun berbagai tindakan lainnya yang dilakukan dalam upaya penyelamatan koleksi dapat terkoordinasi dengan baik (Rizki Hidayat & Desriyeni, 2015). Berdasarkan pernyataan dapat ditarik kesimpulan bahwa pada tahap pemulihan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri sudah tim apabila suatu bencana terjadi jika Perpustakaan Diplomasi mengalami bencana. Kendala dalam Preservasi Bencana Kebakaran Dalam praktiknya, perencanaan kesiapan preservasi bencana kebakaran di Perpustakaan Diplomasi Kementerian Luar Negeri menghadapi beberapa kendala. Kesimpulan yang didapatkan memalui hasil wawancara yang dilakukan dengan informan dan observasi yang didapatkan, bahwa terdapat kendala dalam perencanaan kesiapan menghadapi bencana kebakaran di Perpustakaan Diplomasi Kementerian Luar Negeri yaitu, belum tersedianya kebijakan atau SOP (Standart Operating Procesure) dalam menangai preservasi koleksi perpustakaan secara khusus dalam penanggulangan bencana kebakaran. Namun untuk penanganan dari pihak instansi perpustakaan yaitu pihak Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia sudah memiliki aturan khusus yang dipersiapkan secara matang dalam menangani bencana apabila sewaktu-waktu perpustakaan mengalami bencana. Menurut (Dila, 2020) dengan adanya SOP (Standart Operating Procesure) dapat memperkecil kemungkinan adanya kejadian tumpang tindih pada saat melaksanakan tugas terkhusus dalam serangkaian kegiatan pelestarian bahan perpustakaan serta dapat membuat proses kegiatan preservasi berjalan dengan lancar sesuai dengan alurnya, selain itu dengan adanya SOP (Standart Operating Procesure) dapat membuat efektif dan efisien pada setiap pekerjaan. Sehingga SOP (Standart Operating Procesure) mengenai preservasi khususnya dalam penanganan bencana terhadap suatu bahan koleksi sangat penting dimiliki perpustakaan karena skala kerusakan akan dapat berbeda-beda dan koleksi yang rusak akan lebih cepat dilakukan penanganan secara khusus untuk merawatnya sehingga dapat memperkecil kemungkinan terjadinya tumpang tindih pekerjaan.
Conclusion
D. Kesimpulan Berdasarkan data yang telah dijabarkan diatas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Perpustakaan Diplomasi telah menunjukan ke-4 tahap perencanaan penanggulangan bencana kebakaran yaitu tahap pencegahan, perencanaan, respon 214 bencana dan pemulihan. Pada saat sebelum kejadian Perpustakaan Diplomasi meunjukan kesiapan yang matang dalam tahap pencegahan yaitu dengan tersedianya sarana dan prasarana seperti Detector smoke/fire/Gas Detector, TBFA (Terminal Box Fire Alarm), Sprinkler Head, lampu indikator alarm, APAR (Alat Pemadam Ringan), Alat Pemadam Api Berat (APAB), OBH (Outdoor Hydrant Box) dan IHB (Indoor Hydrant Box) di dalam ruangan perpustakaan maupun diluar perpustakaan. Selain itu, tahap perencanaan Perpustakaan Diplomasi telah melaksanakan pelatihan dan kerjasama yang dipersiapkan apabila bencana terjadi. Selanjutnya pada saat kejadian Perpustakaan Diplomasi meunjukan tahap respon bencana, bahwa sarana dan prasaranan yang dapat digunakan yang baik bahkan sensor asap kebakaran dapat berjalan secara otomatis sehingga informasi cepat tersampaikan. Walaupun dalam tahap respon ini belum adanya sosok yang ditunjuk sebagai pemimpin apabila suatu bencana terjadi. Kemudian setelah kejadian Perpustakaan Diplomasi telah memiliki kerjasama dan tim bencana yang dibentuk dalam memulihkan kondisi yang terdampak apabila suatu bencana kebakaran terjadi. Selain itu, perpustakaan Diplomasi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia juga terdapat kendala yang dimiliki dalam perencanaan kesiapan menghadapi bencana kebakaran meliputi, belum adanya seseorang yang ditunjuk secara langsung untuk bertanggung jawab mengarahkan apabila bencana terjadi dan belum adanya kebijakan secara tertulis dalam menghadapi preservasi koleksi perpustakaan terhadap bencana apabila terjadi. Adapun tindakan pengupayaan yang dapat dilakukan dalam mengatasi berbagai kendala yang mungkin saja terjadi di Perpustakaan Diplomasi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia meliputi perpustakaan dengan membuat kebijakan tertulis atau SOP (Standart Operating Procesure) secara khusus dalam menangani kegiatan preservasi khususnya dalam menghadapi bencana kebakaran.