Analisis Manajemen Perpustakaan dalam Menunjang Kegiatan Pembelajaran Di SMPN Karang Jaya Muratara
Institut Agama Islam Negeri Curup
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum optimalnya proses pembelajaran di SMPN Karang Jaya, yang salah satu penyebab utamanya adalah keterbatasan buku teks. Siswa harus bergantian dalam menggunakan buku karena jumlah koleksi yang terbatas. Selain itu, pengelolaan perpustakaan sekolah masih kurang maksimal, terlihat dari minimnya jumlah koleksi buku serta sarana dan prasarana pendukung perpustakaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengelolaan perpustakaan dalam mendukung proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan informan utama yaitu kepala perpustakaan, kepala sekolah, dan guru. Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) perencanaan perpustakaan dilakukan dalam bentuk program jangka pendek, menengah, dan panjang; (2) pengorganisasian perpustakaan mencakup pengelompokan koleksi dan penataan ruang baca secara fungsional; dan (3) penyediaan sumber belajar berupa buku, ruang baca, dan sistem penyimpanan buku telah dilakukan, meskipun masih terbatas. Secara keseluruhan, pengelolaan perpustakaan di SMPN Karang Jaya sudah mengarah ke arah yang positif, namun masih memerlukan peningkatan untuk mendukung pembelajaran secara optimal.
Abstract
This research was motivated by the suboptimal learning process at SMPN Karang Jaya, primarily caused by the limited availability of textbooks. Students have to take turns using books due to the small number of available copies. In addition, the school's library management is still not optimal, as indicated by the limited book collection and inadequate library facilities and infrastructure. The purpose of this study is to examine how library management supports the learning process. This research uses a qualitative method with a descriptive approach. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation, with the main informants being the head librarian, the principal, and teachers. Data analysis techniques consist of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings of the study reveal that: (1) library planning is carried out through short-term, medium-term, and long-term programs; (2) library organization involves grouping collections and arranging the reading space functionally; and (3) the provision of learning resources such as books, reading areas, and book storage systems has been implemented, although still limited. Overall, library management at SMPN Karang Jaya is moving in a positive direction, but further improvements are needed to optimally support the learning process.
Keywords:
Manajemen perpustakaan
· Pembelajaran
· SMPN Karang Jaya
Introduction
Perpustakaan sekolah merupakan salah satu komponen penting dalam mendukung tercapainya tujuan pendidikan. Melalui manajemen yang baik, perpustakaan mampu menyediakan informasi, sumber belajar, serta suasana literasi yang kondusif bagi peserta didik. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, setiap sekolah/madrasah diwajibkan memiliki perpustakaan yang sesuai dengan standar nasional perpustakaan. Dalam konteks inilah, manajemen perpustakaan di SMPN Karang Jaya Muratara menjadi penting untuk diteliti sebagai upaya memahami kontribusi perpustakaan terhadap kegiatan pembelajaran di sekolah. Perpustakaan merupakan suatu sarana yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan dunia pendidikan. Untuk mendukung tercapainya suatu tujuan maka perpustakaan sekolah melaksanakan fungsinya sebagai pusat pendidikan, pusat informasi dan pusat rekreasi. Dalam melaksanakan fungsi fungsi tersebut, perpustakaan sekolah perlu menghimpun, mengelola dan menyajikan bahan pustaka sebagai sumber informasi Perpustakaan juga menjadi hal yang penting karena didalamnya terdapat penyediaan buku teks, buku bacaan, referensi, kamus, dan ensiklopedia sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan dan juga bahan untuk kegiatan menunjang proses pembelajaran (Iztihana & Arfa, 2020). Perpustakaan juga harus mempunyai komponen utama yang mendukung pelaksanaannya yaitu petugas, sarana dan dana petugas perpustakaan merupakan unsur manusiawi yang mengelola perpustakaan agar dapat berjalan secara dinamis. Unsur sarana diperlukan untuk menyediakan koleksi penggunanya, seperti gedung, ruangan, meja, kursi, rak, lemari dan perlengkapan administrasi perpustakaan Pelaksanaan perpustakaan akan berjalan efektif apabila memiliki manajemen yang baik. Manajemen berasal dari Bahasa inggris managemen yang berarti tata laksana,tata pimpinan dan tata pengelola. Artinya manajemen adalah sebagai suatu proses yang di tetapkan oleh individua tau kelompok dalam suatu upaya koordinasi untuk mencapai tujuan (Yanto, 2020) (Rodin, 2022). Manajemen adalah suatu kegiatan yang mengharuskan suatu organisasi/lembaga untuk mencapai tujuan melalui cara-cara dalam hal mengatur orang lain untuk melaksanakan tugas dengan melibatkan semua komponen dalam sebuah organisasi/ lembaga sehingga dapat mencapai sasaran yang efektif dan efesien. Sedangkan George R. Terry dalam buku teori manajemen mengatakan bahwa manajemen adalah proses khas yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian, dilakukan untuk menentukan dan mencapai tujuan dengan menggunakan orang dan sumber daya (M.Yusuf Dkk, 2023). Pendidikan dalam presfektif yang luas, Pendidikan dasar diperlukan bagi siapa saja dan dimana saja, karena menjadi dewasa, berwawasan luas, dan dewasa adalah kebebasan dasar secara menyeluruh, ini berarti bahwa pelatihan pasti terjadi pada setiap jenis, struktur dan tingkat iklim,dari iklim tunggal yang ramah keluarga, hingga iklim regional yang lebih luas, dan terjadi terus menerus (Yanto, 2024). Indonesia adalah negara multicultural dan multikulturalis menya karena kekayaan nilai budaya dan dapat negative oleh kebijakan menjadi faktor potensial yang memicu konflik budaya berafiliasi dengan ras, agama dan kelompok etnis. Manajemen perpustakaan merupakan salah satu kajian tentang apa dan bagaimana cara yang dapat dilakukan, baik melalui teori maupun praktek agar perpustakaan dapat dikelola dengan berdaya guna dan berhasil guna sehingga keberadaannya ditengah lingkungan sekolah mampu menyeleksi, menghimpun, mengolah, memelihara sumber informasi dan memberikan layanan, serta nilai tambah bagi mereka yang membutuhkan (Surawardi, 2011). Manajemen perpustakaan sekolah/madrasah adalah suatu proses kegiatan yang dilaksanakan perpustakaan sekolah untuk mencapai sasaran seefisien mungkin dengan mendayagunakan semua sumber daya yang ada, meliputi SDM, metode dan dana. Perpustakaan sekolah/madrasah melaksanakan hal-hal tersebut disertai dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun tujuan madrasah atau sekolah melalui jasa layanannya dan kegiatan perpustakaan lainnya yang menunjang kurikulum dan kegiatanbelajar mengajar dan proses pembelajaran di madrasah atau sekolah (Anggraeni & Riady, 2024). Proses pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan oleh dua pihak yaitu guru sebagai fasilitator dan siswa sebagai pembelajaran perantara untuk menyampaikan pesan berupa kognitif, afektif dan psikomotorik. Smith & Ragan menyatakan bahwa proses pembelajaran merupakan penyampaian informasi dan aktivitas-aktivitas yang memudahkan atau memfasilitasi peserta didik untuk pencapaian tujuan khusus belajar yang diharapkan dan dalam proses pembelajaran tersebut, belajar merupakan pusat atau sentralnya pengalaman dalam kelas bagi peserta didik dan guru baik di jenjang pendidikan dasar maupun menengah (Ani Daniyati et al., 2023). Dalam agama Islam membaca bukan merupakan suatu kegiatan yang asing melainkan kegiatan yang sudah dimulai sejati aspek yang perlu diteliti untuk memastikan perpustakaan tetap relevan dan efektif dalam memenuhi kebutuhan pendidikan.
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Pendekatan kualitatif dipilih karena sesuai untuk menggali secara mendalam fenomena sosial dan budaya yang terjadi di lingkungan sekolah, khususnya berkaitan dengan pengelolaan perpustakaan dan kontribusinya terhadap proses pembelajaran. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk memahami makna, perspektif, serta pengalaman para informan secara langsung dalam konteks yang alamiah, tanpa manipulasi variabel atau perlakuan eksperimental. Adapun jenis penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian lapangan (field research), di mana peneliti terlibat langsung dalam pengumpulan data di lokasi penelitian, yaitu di SMPN Karang Jaya. Peneliti berupaya memperoleh informasi yang faktual dan akurat melalui interaksi langsung dengan subjek penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode utama, yaitu: 1. Wawancara mendalam (in-depth interview) Wawancara dilakukan dengan pihak- pihak yang memiliki informasi relevan, seperti kepala sekolah, kepala perpustakaan, dan guru. Wawancara ini bersifat semi-terstruktur, sehingga memungkinkan fleksibilitas dalam menggali data yang lebih luas. 2. Observasi langsung – Peneliti melakukan pengamatan terhadap aktivitas perpustakaan, penggunaan sarana dan prasarana, serta interaksi pengguna (siswa dan guru) dengan lingkungan perpustakaan. Observasi ini bertujuan untuk memperoleh data yang bersifat kontekstual dan non-verbal yang mungkin tidak terungkap melalui wawancara. 3. Dokumentasi Dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan berbagai dokumen pendukung seperti daftar koleksi buku, jadwal kegiatan perpustakaan, program kerja, foto-foto kegiatan, serta arsip lainnya yang berkaitan dengan pengelolaan perpustakaan. Teknik analisis data dalam penelitian ini mengacu pada model analisis interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman (1994). Model ini terdiri dari empat tahapan utama, yaitu: 1. Reduksi data (data reduction) Tahapan ini melibatkan proses pemilahan, penyederhanaan, dan pemfokusan data mentah yang telah dikumpulkan, sehingga hanya data yang relevan dan bermakna yang dipertahankan. 2. Penyajian data (data display) - Setelah data direduksi, data disajikan dalam bentuk narasi deskriptif, tabel, atau diagram yang memudahkan peneliti dalam memahami pola, hubungan, dan kecenderungan dari hasil temuan. 3. Verifikasi dan penarikan kesimpulan (conclusion drawing/verification) Pada tahap akhir, peneliti melakukan proses interpretasi terhadap data yang telah dianalisis untuk menarik kesimpulan. Kesimpulan yang diperoleh terus diverifikasi sepanjang proses penelitian untuk menjaga keabsahan dan keandalannya. Prosedur ini dilakukan secara berkesinambungan, di mana proses pengumpulan dan analisis data berjalan secara paralel dan saling memengaruhi. Validitas data dijaga melalui teknik triangulasi, yakni dengan membandingkan data dari berbagai sumber dan metode untuk memastikan konsistensi informasi yang diperoleh. Dengan menggunakan metode ini, diharapkan penelitian mampu memberikan gambaran yang komprehensif, mendalam, dan akurat mengenai bagaimana pengelolaan perpustakaan di SMPN Karang Jaya dapat mendukung proses pembelajaran siswa secara lebih optimal.
Discussion
Manajemen Perpustakaan Manajemen berasal dari bahasa Prancis ménagement yang berarti seni melaksanakan dan mengatur, serta dari bahasa Latin manus (tangan) dan agere (melakukan), yang digabung menjadi manager (menangani). Dalam bahasa Inggris, manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengelola atau memimpin. Manajemen adalah proses mengatur dan mengelola sesuatu yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Dalam organisasi, manajemen penting untuk menunjang fungsi dan pencapaian tujuan organisasi melalui perencanaan, pengaturan, pengarahan, dan pengawasan secara efektif. (Angelya, 2022). Dalam organisasi, manajemen sangat dibutuhkan. Karena dengan manajemen yang baik secara keseluruhan akan mendukung fungsi daripada organisasi tersebut didirikan. Secara sederhana Manajemen merupakan suatu proses tindakan atau seni perencanaan, mengatur, pengarahan dan pengawasan yang dinamis yang menggerakan organisasi mencapai tujuannya (Rheza Pratama, 2019) (Rodin, 2019). Menurut George R. Terry manajemen sebuah proses yang khas yang terdiri dari beberapa tindakan, perencanaan, pengorganisasian, menggerakan, dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber-sumber lainnya Teori Terry ini kemudian terkenal dengan konsep POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). Perpustakaan adalah tempat pengumpulan pustaka atau kumpulan pustaka yang diatur dan disusun dengan sistem tertentu, sehingga sewaktu-waktu diperlukan dapat ditemukan dengan mudah dan cepat.Dalam bukunya Dictionary of the English Language, Perpustakaan adalah suatu tempat, berupa sebuah ruangan atau gedung yangberisi buku dan bahan lain untuk bacaan, studi, ataupun rujukan. Perpustakaan adalah suatu unit kerja yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang diatur secara sistematis dan dapat digunakan oleh pemakainya sebagai sumber informasi. Manajemen perpustakaan adalah proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya untuk dapat mengelola bahan pustaka baik berupa buku maupun non buku sehingga dapat digunakan sebagai bahan informasi oleh setia pemakainya sumber daya tersebut dikelola melalui proses manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengawasan (Susilawati et al., 2021). Manajemen merupakan rangkaian kegiatan yang telah dirancang sedemikian rupa yang bertujuan untuk mencapai tujuan organisasi yang telah disepakati Bersama. Dimana dalam kegiatan manajemen tersebut memerlukan sumber daya secara efisien dan efektif (Murni Yanto, 2021). Sugesti memberikan definisi mengenai manajemen perpustakaan, Manajemen perpustakaan merupakan pelaksanaan fungsi manajemen untuk memberdayakan unsur manajemen meliputi segala proses dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, sampai pengawasan untuk mencapai tujuan perpustakaan (Rahman Senjaya; Susinta, 2022). Para pendidik perlu memberikan berbagai penguatan agar perilaku siswa selalu positip dan dapat mendukung tujuan Pendidikan (Zahra & Fathoni, 2024). Manajemen perpustakaan merupakan upaya pencapaian tujuan dengan pemanfaatan sumber daya manusia, informasi, sistem dan sumber dana dengan tetap memperhatikan fungsi manajemen, peran dan keahlian untuk dapat mencapai tujuan perlu sumber daya manusia dan non manusia berupa sumber dana, teknik, fisik, perlengkapan, alam, informasi, ide, peraturan-peraturan dan teknologi. Sumber daya tersebut dikelola melalui proses manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengawasan yang diharapkan mampu mengeluarkan produk berupa barang atau jasa. Manajemen perpustakaan pada dasarnya adalah proses mengoptimalkan konstribusi manusia, material dan anggaran. mencapai tujuan (Leni Fitrianti, 2022). Fungsi Manajamen Perpustakaan Proses yang dilakukan dalam rangka mencapai sebuah tujuan yang telah ditetapkan pada suatu organisasi termasuk perpustakaan, membutuhkan serangkaian kegiatan manajemen yang dijalankan berdasarkan fungsi-fungsi dari manajemen dengan tahapan-tahapan tertentu dalam pelaksanaannya. 1. Perencanaan (Planning) Perencanaan adalah proses yang sistematis dalam menentukan tujuan dan langkah-langkah yang perlu diambil untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam konteks organisasi, perencanaan melibatkan pengumpulan informasi, analisis situasi saat ini, identifikasi sumber daya yang tersedia, serta penentuan strategi yang tepat untuk menciptakan hasil yang diinginkan. Proses ini mencakup berbagai aspek, mulai dari perencanaan jangka pendek hingga jangka panjang, dan dapat diterapkan di berbagai bidang, seperti bisnis, pendidikan, pemerintahan, dan proyek pribadi. Perencanaan efektif tidak hanya membantu dalam mengorganisir sumber daya dan waktu, tetapi juga memungkinkan para pengambil keputusan untuk mengantisipasi tantangan yang mungkin muncul di masa depan. Dengan adanya perencanaan yang baik, individu atau organisasi dapat mengurangi ketidakpastian, meningkatkan efisiensi, dan memaksimalkan peluang yang ada. Selain itu, perencanaan sering kali melibatkan pengukuran dan evaluasi untuk memastikan bahwa langkah-langkah yang diambil sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, sehingga memungkinkan untuk melakukan penyesuaian jika diperlukan. Dalam menjalankan perpustakaan perencanaan memegang peran penting karena perencanaan merupakan rangkaian panduan perpustakaan yang digunakan sebagai dasar aktivitas dalam kegiatan perpustakaan. Anwar menjelaskan bahwa perencanaan melibatkan urusan memilih tugas yang harus dilakukan untuk mempertahankan tujuan organisasi, menjelaskan bagaimana tugas harus dilaksanakan, dan memberi indikasi kapan harus dikerjakan Aktivitas perencanaan memfokuskan pada mempertahankan tujuan. Sutarno menjelaskan mengenai pentingnya perencanaan bagi suatu perpustakaan, maka dalam penyusunan diperlukan pengetahuan dan pengalaman yang luas. Perencanaan merupakan dasar pelaksanaan aktivitas, perencanaan merupakan alat pengawasan, dan perencanaan yang profesional akan membawa efektivitas dan efisiensi Perencanaan perpustakaan merupakan proses yang berkaitan dengan pemilihan penetapan metode yang mau digunakan sebagai bentuk usaha untuk mencapai tujuan yang akan dicapai oleh perpustakaan, perencanaan yang baik dalam sebuah kegiatan akan membantu kelancaran dan keberhasilan pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Perencanaan mempengaruhi hampir seluruh kegiatan, sehingga dalam melaksanakan proses perencanaan diharapkan dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan hasil kegiatan yang efektif, efisien, dan juga maksimal (Afriatin & Danusiri, 2021). 2. Pengorganisasian (Organizing) Organisasi merupakan suatu proses yang dilakukan untuk merancang struktur formal, pengelompokkan, mengatur dan juga membagi tugas atau pekerjaan antara para anggota yang telah ditentukan agar tujuan organisasi dapat tercapai. Pengorganisasian juga mengelompokkan kegiatan dari penyediaan keperluan sampai wewenang untuk melaksanakan kegiatannya. Proses pengorganisasin ini meliputi penetapan tugas yang harus dilakukan, siapa saja yang akan terlibat didalam kegiatan tersebut dan mengemban tugas, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, dan bagaimana tindakan yang dilakukan untuk menjalankan rencana yang telah disusun sebelumnya. Dalam proses pengorganisasian ini, harus benar-Dapat disimpulkan bahwa pengorgnisasian perpustakaaan merupakan sebuah proses penentuan, pengelompokkan, dan pengaturan unsur-unsur perpustakaan serta sumber daya manusia mengenai aktivitas-aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan perpustakaan yang telah ditentukan. Penentuan sumber daya manusia dengan tugas yang akan diemban harus memperhatikan kemampuan dari sumberdaya manusianya agar tugas yang diberikan dapat dilaksanakan dengan baik. Jika pengorganisasian ditetap kan dengan baik maka tujuan pun akan lebih mudah dicapai (Permata et al., 2023). 3. Pelaksanaan (Actuating) Pelaksanaan mencakup kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh seorang pemimpin atau manajer untuk mengawali dan melanjutkan kegiatan yang telah ditetapkan dalam proses perencanaan dan pengorganisasian agar tujuan-tujuan yang ditetapkan dapat tercapai. Proses pelaksanaan mencakup penetapan dan pemuasan kebutuhan dari pegawai atau staf yang bekerja, memberikan penghargaan, memimpin, mengembangkan dan memberikan kompensasi kepada mereka. Pelaksanaan perpustakaan sekolah merupakan aspek penting dalam mendukung proses pembelajaran dan pengembangan literasi siswa. Sebagai pusat sumber informasi, perpustakaan sekolah berfungsi tidak hanya sebagai tempat penyimpanan buku, tetapi juga sebagai ruang interaksi dan eksplorasi pengetahuan. Dalam konteks ini, perpustakaan harus dikelola dengan baik agar dapat menyediakan koleksi buku yang bervariasi, termasuk buku teks, novel, referensi, dan bahan multimedia yang relevan dengan kurikulum. Selain itu, perpustakaan juga harus dilengkapi dengan fasilitas yang memadai, seperti ruang baca yang nyaman, akses internet, dan perangkat teknologi yang mendukung kegiatan belajar. Pentingnya pelatihan bagi pustakawan juga tidak bisa diabaikan, karena mereka kepala perpustakaan sebagi pemimpin perpustakaan harus memperhatikan cara-cara khusus atau trik yang dapat dipakai dalam menggerakkan sumber daya di perpustakaan (Bastian et al., 2022). 4. Pengendalian (Controlling) Dalam konteks manajemen, pengendalian berfungsi untuk mengidentifikasi penyimpangan dari rencana yang telah ditentukan, serta memberikan umpan balik yang berguna untuk perbaikan berkelanjutan. Dengan demikian, pengendalian bukan hanya sekadar tindakan korektif, tetapi juga merupakan bagian integral dari perencanaan dan pelaksanaan yang memastikan semua elemen organisasi bekerja secara sinergis untuk mencapai tujuan. Dalam konteks pengendalian pada manajemen perpustakaan merupakan aspek penting dalam proses pengelolaan perpustakaan, yang mana proses ini melihat perencanaan dan tujuan dari pengelola perpustakaan untuk tetap berada pada jalur yang seharusnya. Dijelaskan bahwa pengendalian berkaitan dengan menjaga segala proses manajemen perpustakaan untuk tetap berada di jalurnya memperoleh keberhasilan sesuai tujuan yang telah ditentukan, dapat mengidentifikasi kelemahan dalam operasional pengelolaan perpustakaan, dan mengembangkan untuk dilakukan perbaikan nantinya. Moran & Morner menyebutkan pengendalian manajemen perpustakaan ini ditentukan oleh tiga langkah dasar yaitu: Penetapan standar, Pengukuran kinerja terhadap standar Perbaikan dan evaluasi. Dalam manajemen di perpustakaan dapat dikatakan bahwa pengendalian merupakan kegiatan pengamatan, penelitian terhadap semua tugas dan pekerjaan yang ada di perpustakaan sesuai dengan pengorganisasian yang telah ditetapkan Kegiatan ini dilakukan oleh manajer atau kepala perpstakaan agar sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang ada sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan dengan baik. Pengertian Perpustakaan Sekolah Perpustakaan sekolah perlu merealisasikan misi dan kebijakannya dalam memajukan masyarakat sekolah dengan mempersiapkan tenaga pustakawan yang memadai, koleksi yang berkualitas serta serangkaian aktifitas layanan yang mendukung suasana pembelajaran yang menarik (Zulfitri, 2019). Perpustakaan sekolah adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. Dalam pengertian buku dan terbitan lainnya termasuk di dalamnya semua bahan cetak, buku, majalah, laporan, pamflet, prosiding, manuskrip (naskah), lembaran musik berbagai karya musik, berbagai karya media audio visual seperti film, slid, kaset, piringan hitam, bentuk mikro seperti mikrofilm, mikrofis. Fungsi Perpustakaan Sekolah Menurut undang-undang nomor 43 tahun 2007 pasal 3 menyebutkan bahwa perpustakaan memiliki beberapa fungsi yang mengarah pada upaya untukmeningkatkan kecerdasan dan kebudayaan bangsa. Menurut pasal tersebut fungsi perpustakaan sebagai wahana pendidikan artinya perpustakaan mengemban amanah untuk mengiringi proses Pendidikan melalui koleksi perpustakaan dan berbagai layanan yang diselenggarakan perpustakaan perpustakaan berfungsi menyediakan berbagai ragam informasi. Ragam informasi ini berguna untuk memenuhi kebutuhan pemakai yang datang ke perpustakaan dengan latar belakang dan tujuan yang berbeda-beda. Serta rekreasi perpustakaam menyediakan berbagai koleksi non fiksi yang bersifat menyegarkan seperti buku cerita, novel, buku cerita bergambar, dan lain-lain. Pemakai dapat menggunakan jenis koleksi ini untuk memberikan efek menyenangkan, menghibur diri, dan menyegarkan pikiran (Khasiati, 2021). Beberapa ahli mendefinisikan perpustakaan sekolah sebagai berikut: Perpustakaan yang maju tidak hanya menyediakan bahan pustaka dalam bentuk buku, tetapi juga bahan non buku/non buku seperti majalah surat kabar, buletin, brosur, peta, bahkan fasilitas membaca. Dengarkan overhead, proyektor, televisi, VCR, dan banyak lagi. Semua ini akan memberikan informasi atau materi yang dibutuhkan siswa. Fungsi Pendidikan Perpustakaan sekolah menyediakan buku fiksi dan nonfiksi. Buku-buku ini ada untuk memungkinkan siswa belajar secara mandiri, baik secara individu maupun kelompok kecil, tanpa bimbingan seorang guru. Adanya perpustakaan sekolah dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa. Selain itu, perpustakaan sekolah menyediakan buku-buku yang dibeli sesuai dengan kurikulum sekolah. Hal ini untuk dapat menunjang pelaksanaan pendidikan sekolah.Adanya perpustakaan sekolah dengan fungsi rekreatif berarti perpustakaan sekolah dapat digunakan sebagai tempat mengisi waktu luang, seperti membaca buku cerita, novel roman, majalah (Rahmat Fadli, 2021). Tujuan Perpustakaan Sekolah Perpustakaan sekolah memiliki tujuan yang sangat penting dalam mendukung proses pembelajaran dan pengembangan siswa. Salah satu tujuan utamanya adalah menyediakan akses yang luas terhadap berbagai sumber informasi, baik dalam bentuk buku, majalah, jurnal, maupun media digital, yang dapat membantu siswa dalam mencari referensi dan memperdalam pengetahuan mereka di berbagai bidang. Selain itu, perpustakaan juga berfungsi sebagai tempat untuk mengembangkan keterampilan literasi informasi, di mana siswa mengajarkan cara mencari, menggali, dan menggunakan informasi secara efektif dan etis. Dengan adanya perpustakaan, siswa dapat belajar menjadi pembaca yang kritis dan mandiri, serta meningkatkan kemampuan berpikir analitis mereka. Perpustakaan sekolah juga berperan sebagai ruang yang mendukung kegiatan belajar yang menyenangkan dan interaktif, di mana siswa dapat terlibat dalam berbagai program, seperti diskusi buku, lokakarya, dan kegiatan literasi lainnya. Selain itu, perpustakaan juga berfungsi sebagai pusat kegiatan komunitas, di mana siswa dapat berkolaborasi, berbagi ide, dan mengembangkan keterampilan sosial mereka. Dengan demikian, perpustakaan sekolah tidak hanya sekedar tempat menyimpan buku, tetapi juga merupakan lingkungan yang mendukung pengembangan karakter, kreativitas, dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan di kalangan siswa. Tujuan Perpustakaan Sekolah adalah memberikan layanan informasi yang memuaskan kepada peserta didik dalam meningkatkan ilmu dan pengetahuan melalui penyediaan buku-buku referensi, buku pelajaran dan buku bacaan lainnya yang berguna bagi kepentingan peserta didik, memperkaya pengalaman belajar selain belajar di ruangan kelas, menanamkan belajar mandiri, mempercepat penguasaan dan pemahaman materi pelajaranyang disampaikan guru di dalam kelas serta meningkatkan minat baca terhadap peserta didik (Iztihana & Arfa, 2020). Tujuan perpustakaan sekolah berperan dalam proses pendidikan sepanjang hayat. Dengan adanya perpustakaan sekolah diharapkan juga mampu untuk memberikan kontribusi dalam lembaga pendidikan dan upaya menumbuhkan minat baca. Dengan meningkatnya minat baca pada siswa akan berimbas pada kemajuan pendidikan di Indonesia serta mampu mengarahkan pada tujuan negara yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, untuk itu diperlukan kerja sama antara pemerintah kepala sekolah, guru, pustakawan (Damanik et al., 2023). Menurut Standar Perpustakaan Sekolah (SNI 7329- 2009), Adanya perpustakaan sekolah yaitu memiliki tujuan sebagai sumber belajar yang bisa dimanfaatkan dengan baik, untuk membantu pengembangan dan peningkatan dari minat belajar, membaca, literasi, daninformasi Perencanaan Proses Pembelajaran (Permatasari & Fathurrohman, 2022). Perencanaan proses pembelajaran merupakan langkah krusial dalam pendidikan yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Dalam perencanaan ini, seorang pendidik perlu mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari analisis kebutuhan siswa hingga penentuan metode pengajaran yang tepat Pertama-tama, pendidik harus memahami karakteristik dan kebutuhan siswa, termasuk gaya belajar, minat, serta tingkat kemampuan mereka. Setelah itu, perlu ditetapkan tujuan pembelajaran yang jelas dan terukur, yang dapat menjadi acuan dalam mengevaluasi keberhasilan proses belajar mengajar, pemilihan materi ajar yang relevan dan menarik sangat penting untuk menjaga motivasi siswa. Pendidik juga harus menyusun strategi pembelajaran yang beragam, seperti diskusi, simulasi, atau proyek, untuk mengakomodasi berbagai gaya belajar. Selain itu, penting untuk merancang penilaian yang tidak hanya mengukur hasil belajar, tetapi juga proses belajar siswa. Dengan melakukan refleksi dan evaluasi secara berkala, pendidik dapat melakukan perbaikan berkelanjutan pada rencana pembelajaran yang telah disusun, sehingga dapat menghasilkan pengalaman belajar yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Perencanaan yang matang tidak hanya memberikan arah yang jelas bagi pendidik, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi siswa untuk berkembang secara optimal. Perencanaan adalah berbagai Latihan yang telah ditentukan sebelumnya yang harus diselesaikan dalam jangka tertentu untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan (Yanto, 2022). Perencanaan ialah menentukan apa yang akan dilaksanakan. Perencanaan memiliki beberapa rangkaian keputusan yang luas, serta penjabaran-penjabaran dari tujuan, pengambilan kebijakan penentuan program, pemilihan metode serta prosedur- prosedur tertentu, dan juga menentukan aktivitas yang sesuai dengan jadwal kegiatan sehari-hari (Nur et al., 2020). Perencanaan proses pembelajaran merupakan teknik mengkhususkan keadaan- keadaan untuk belajar sehingga perencanaan proses pembelajaran ialah persiapan yang dilakukan oleh tenaga pendidik untuk melaksanakan tugasnya dengan menerapkan berbagai prinsip-prinsip pembelajaran beserta prosedur pembelajaran untuk memenuhi ambisi yang telah ditetapkan berupa perencanaan, pelaksanaan maupun penilaian. Perencanaan pembelajaran berfungsi untuk membantu tenaga pendidik dalam pencapaian target atau sasaran. Jadi perencanaan proses pembelajaran ialah persiapan yang dilakukan oleh tenaga pendidik untuk melaksanakan tugasnya dengan menerapkan berbagai prinsip-prinsip pembelajaran beserta prosedur pembelajaran untuk memenuhi ambisi yang telah ditetapkan berupa perencanaan, pelaksanaan maupun penilaian. Perencanaan pembelajaran berfungsi untuk membantu tenaga pendidik dalam pencapaian target atau sasaran. Pelaksanaan Proses Pembelajaran Pelaksanaan proses pembelajaran adalah proses yang diatur sedemikian rupa menurut langkah-langkah tertentu agar pelaksanaan mencapai hasil yang diharapkan. Menurut Majid pelaksanaan proses pembelajaran merupakan kegiatan belajar mengajar sebagai unsur inti dari aktifitas proses pembelajaran yang dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan rambu rambu. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, guru perlu menyadari bahwa perannya tidak hanya sebagai pentransfer ilmu, namun juga sebagai fasilitator dan motivator pelaksanaan proses pembelajaran erat kaitannya dengan penciptaan lingkungan yang memungkinkan siswa belajar secara aktif, pengembangan aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa, penyesuaian dengan rencana kegiatan dan pengelolaan kelas. Evaluasi Proses Pembelajaran Secara umum evaluasi proses pembelajaran adalah proses yang sistematis dan terencana untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar siswa, menganalisis data tersebut, dan membuat penilaian terhadap pencapaian tujuan proses pembelajaran evaluasi ini dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik dan instrumen evaluasi yang relevan (Miftha Huljannah, 2021). Dalam hubungannya dengan proses pembelajaran dijelaskan oleh. Harjanto evaluasi pembelajaran adalah penilaian atau penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan peserta didik kearah tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam hukum (Ubabuddin, 2019). Manajemen Perpustakaan Sekolah dalam Menunjang Proses Pembelajaran di SMPN Karang Jaya Muratara Manajemen perpustakaan merupakan salah satu kajian tentang apa dan bagaimana cara yang dapat dilakukan, baik melalui teori maupun praktek agar perpustakaan dapat dikelola dengan berdaya guna dan berhasil guna sehingga keberadaannya di tengah masyarakat mampu menyeleksi, menghimpun, mengolah memelihara sumber informasi dan memberikan layanan, serta nilai tambah bagi mereka yang membutuhkan (Zaifaturridha & Syahputra, 2022). Manajemen perpustakaan sekolah/madrasah adalah suatu proses kegiatan yang dilaksanakan perpustakaan sekolah untuk mencapai sasaran seefisien mungkin dengan mendayagunakan semua sumber daya yang ada, meliputi SDM, metode dan dana. Perpustakaan sekolah/madrasah melaksanakan hal-hal tersebut disertai dengan pencapaian. Tujuan pendidikan maupun tujuan madrasah atau sekolah melalui jasa layanannya dan kegiatan perpustakaan lainnya yang menunjang kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di madrasah atau sekolah. Mudjiono mengartikan pembelajaran sebagai kegiatan yang ditunjukkan untuk membelajarkan siswa dalam pengertian lain, pembelajaran adalah usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri siswa (Nurlina dkk, 2022) (Rhoni Rodin, 2018). Perpustakaan sekolah merupakan salah satu komponen vital dalam mendukung proses pendidikan dan pembelajaran di lingkungan sekolah. Di SMP Negeri Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), peran perpustakaan sekolah tidak hanya terbatas pada penyediaan buku pelajaran, melainkan juga berfungsi sebagai pusat informasi, sarana literasi, dan tempat membentuk budaya belajar yang mandiri dan berkelanjutan. Melalui pengelolaan atau manajemen yang baik, perpustakaan sekolah telah menjadi bagian penting dalam strategi peningkatan mutu pendidikan di sekolah ini. 1. Perencanaan Strategis Manajemen Perpustakaan Tahapan awal dari manajemen perpustakaan di SMPN Karang Jaya dimulai dari perencanaan yang terstruktur dan berbasis kebutuhan. Dalam menyusun perencanaan, kepala sekolah bersama tim pustakawan dan guru mata pelajaran melakukan analisis kebutuhan koleksi dan layanan perpustakaan sesuai dengan Kurikulum Merdeka yang saat ini diterapkan. Perencanaan ini mencakup pengadaan buku pelajaran inti, buku pendamping, ensiklopedia, kamus, serta buku-buku pengayaan seperti novel, biografi tokoh, buku motivasi, dan karya sastra lokal. Selain koleksi, perencanaan juga menyasar aspek ruang, teknologi informasi, serta program-program literasi yang bersifat rutin maupun insidental. Perencanaan dilakukan dengan melibatkan seluruh elemen sekolah agar pengelolaan perpustakaan dapat menyesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran yang dinamis dan kontekstual. 2. Pengorganisasian Sumber Daya Perpustakaan Dalam hal pengorganisasian, perpustakaan SMPN Karang Jaya dikelola oleh seorang petugas perpustakaan tetap yang memahami dasar-dasar kepustakawanan. Petugas ini bertugas untuk mengelola administrasi perpustakaan, melakukan klasifikasi dan katalogisasi buku berdasarkan sistem Dewey Decimal Classification (DDC), serta menyusun koleksi sesuai tema dan jenjang kelas. Struktur organisasi kecil dibentuk untuk melibatkan siswa sebagai duta literasi atau tim "sahabat perpustakaan". Mereka berfungsi sebagai relawan yang membantu dalam promosi buku, mendampingi siswa lain saat membaca, hingga mengelola kegiatan literasi mingguan. Upaya ini memperkuat keterlibatan siswa secara aktif dalam proses manajemen, sekaligus meningkatkan rasa memiliki terhadap perpustakaan sekolah. 3. Pelaksanaan Layanan Perpustakaan Pelaksanaan layanan perpustakaan di SMPN Karang Jaya telah mengadopsi pendekatan inklusif dan berbasis kebutuhan pembelajaran siswa. Layanan yang diberikan mencakup peminjaman buku, layanan baca di tempat, referensi tugas sekolah, serta ruang diskusi dan kerja kelompok kecil. Perpustakaan dibuka setiap hari kerja dengan jadwal kunjungan yang telah disesuaikan agar tidak mengganggu jam pelajaran. Berbagai program literasi juga digelar, seperti: a. "Literasi Pagi" sebelum jam pelajaran dimulai, di mana siswa membaca selama 15 menit. b. "Hari Kunjung Perpustakaan" yang dijadwalkan setiap minggu, mengajak kelas secara bergiliran datang ke perpustakaan. c. "Pojok Baca Kelas" yang dibina oleh wali kelas dengan dukungan koleksi dari perpustakaan utama. d. "Tantangan Membaca Buku" dengan sistem reward untuk siswa yang rajin membaca dan meresensikan buku. Kegiatan ini menunjukkan bahwa manajemen perpustakaan tidak hanya berkutat pada buku, tetapi juga menyentuh aspek pembelajaran aktif, kolaboratif, dan menyenangkan. 4. Pemanfaatan Teknologi dalam Pengelolaan Walaupun berada di wilayah yang relatif terpencil, perpustakaan SMPN Karang Jaya mulai mengintegrasikan teknologi informasi secara bertahap. Sistem katalog digital sederhana menggunakan aplikasi berbasis Excel atau Google Form dimanfaatkan untuk pencatatan sirkulasi buku dan pemantauan koleksi. Petugas perpustakaan juga membuat grup komunikasi melalui WhatsApp untuk menyebarkan informasi buku baru dan kegiatan literasi. Selain itu, sekolah telah mulai menjalin kerja sama dengan Dinas Perpustakaan Daerah untuk pelatihan digitalisasi katalog dan penyediaan bahan bacaan elektronik. Ini merupakan langkah awal menuju transformasi perpustakaan konvensional ke perpustakaan digital secara bertahap. 5. Evaluasi dan Pengembangan Evaluasi perpustakaan dilakukan secara berkala oleh kepala sekolah bersama tim manajemen sekolah. Indikator evaluasi mencakup tingkat kunjungan siswa, jumlah peminjaman buku, keterlibatan guru dalam pemanfaatan perpustakaan, serta kualitas kegiatan literasi. Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar dalam perencanaan pengembangan perpustakaan di tahun ajaran berikutnya. Feedback juga dikumpulkan dari guru dan siswa melalui angket sederhana untuk mengetahui kekurangan layanan dan koleksi. Dengan evaluasi yang berkelanjutan, perpustakaan SMPN Karang Jaya mampu terus memperbaiki diri agar tetap relevan dan berdaya guna dalam menunjang proses belajar-mengajar. 6. Peran Perpustakaan dalam Mendukung Pembelajaran Secara konkret, perpustakaan sekolah telah menjadi sarana pembelajaran yang mendukung semua mata pelajaran. Guru Bahasa Indonesia memanfaatkan koleksi fiksi dan non-fiksi untuk tugas resensi. Guru IPS mendorong siswa untuk menggunakan atlas dan buku sejarah sebagai sumber belajar. Guru IPA menggunakan buku referensi tambahan dari perpustakaan untuk eksperimen sederhana. Hal ini menunjukkan bahwa perpustakaan telah menjadi bagian dari proses pembelajaran, bukan hanya pelengkap. Lebih dari itu, perpustakaan turut membentuk karakter siswa melalui bacaan- bacaan inspiratif, memperkuat budaya membaca, serta melatih keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Manajemen perpustakaan sekolah di SMPN Karang Jaya Muratara menunjukkan bahwa dengan komitmen, kerja sama, dan perencanaan yang matang, perpustakaan dapat menjadi pusat pengetahuan yang dinamis dan strategis. Perpustakaan bukan hanya ruang penuh buku, tetapi tempat berkembangnya pemikiran, kreativitas, dan semangat belajar siswa. Dengan terus memperkuat manajemen perpustakaan, sekolah dapat memperkuat pencapaian tujuan pendidikan nasional, khususnya dalam membentuk generasi literat, kritis, dan berakhlak mulia.
Conclusion
Manajemen perpustakaan merupakan bagian dari integral serta Lembaga Pendidikan sebagai wadah berkumpulnya bahan Pustaka, baik berupa buku dan non buku dengan tujuan adalah pengguna perpustakaan sekolah adalah meningkatkan bersama- sama dengan unsur sekolah sedangkan tujuan lainnya menunjang, mendukung dan melengkapi semua kegiatan. Manajemen Perencanaan perpustakaan berupa program jangka pendek,jangka menengah dan jangka Panjang. Pengorganisasian perpustakaan dalam menunjang proses pembelajaran mencakup pengelompokan koleksi buku dan fisik perpustakaan.. Menyediakan sumber belajar berupa buku, ruang baca dan sistem penyimpanan buku. Namun secara oprasional tujuan perpustakaan bila di kaitkan dengan pelaksanaan program sekolah diantaranya adalah memupuk rasa cinta dan keperdulian terhadap sekolah serta menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan membaca serta memperluas pengetahuan.