Kembali
16
1
2023 IKOMIK: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol 3 · 2 ISSN 2798-9607

Strategi Komunikasi Kelompok Karang Taruna Klepu Dalam Mendorong Minat Baca Warga

Universitas Muhammadiyah Surakarta; Universitas Amikom Purwokerto

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi Karang Taruna Desa Klepu dalam mendorong budaya membaca warga Dukuh Tempel Desa Klepu dengan pendekatan group syntality theory (teori kepribadian kelompok). Ada dua aspek yang diperhatikan dari pendekatan ini yakni maintenance energy dan effective energy. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menitikberatkan teknik pengumpulan data pada wawancara dan observasi sebagai data primer dan dokumentasi sebagai data sekunder. Hasil dari penelitian ini menunjukkan maintenance energy berhasil dibangun dengan baik oleh Karang Taruna Desa Klepu melalui pemetaan masalah di lingkungan internal yang menjadi faktor penghambat kesuksesan gerakan budaya membaca warga. Hasil pemetaan tersebut yang kemudian digunakan menjadi acuan untuk membangun ulang komitmen dan soliditas anggota terhadap kelompok dan tujuan yang telah disepakati bersama. Adapun dari aspek effective energy Karang Taruna Desa Klepu berhasil menjadikan dinamika kelompok sebagai kekuatan utama untuk membangun ulang komitmen anggota. Kekuatan itu dibangun melalui strategi komunikasi yang menekankan harmonisasi dan simultansi. Selain itu, Karang Taruna Desa Klepu berhasil memetakan varian strategi komunikasi yang lebih luas. Hanya saja demi simultansi kesuksesan kegiatan sejenis di masa depan, Karang Taruna Desa Klepu perlu membangun komunikasi intensif dengan berbagai pihak dan juga merancang ulang pola evaluasi yang lebih terarah dan terukur melalui data komprehensif.
Keywords: Syntality Theory · Karang Taruna · Komunikasi kelompok · Strategi Komunikasi

Introduction

Budaya membaca memiliki peran penting bagi pengembangan kualitas hidup manusia. Budaya membaca berkaitan dengan bagaimana manusia terbiasa dan berkeinginan melatih kognisinya untuk senantiasa menyerap informasi secara simultan dalam hidupnya. Lebih lanjut, simultansi informasi inilah yang membuat manusia bisa memiliki wawasan dan ilmu pengetahuan yang baru dan terbaik. Hal ini seperti diungkapkan Rozin, budaya membaca adalah kegiatan positif rutin yang baik dilakukan untuk melatih otak untuk menyerap segala informasi yang baru dan terbaik untuk diterima seseorang dalam kondisi dan waktu tertentu (Hasanah, 2018).Hanya saja memang tidak semua masyarakat memiliki kesadaran budaya membaca yang baik. Di Indonesia misalnya, menurut data yang dikeluarkan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menyebutkan bahwa Indonesia berada pada urutan kedua dari bawah soal literasi dunia yang artinya Indonesia memiliki minat baca sangat rendah. Masih menurut UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia disebut juga sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca (Kominfo, 2017). Hal senada juga bisa dilihat dari data Indonesia National Assesment Program di tahun 2016 yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Pendidikan (Puspendik) Kementerian Pendidikan & Kebudayaan memperlihatkan bahwa rata-rata nasional distribusi literasi pada kemampuan membaca pelajar diIndonesia adalah 46,83% berada pada kategori kurang, sedangkan 6,06% berada pada kategori baik, dan 47,11 berada pada kategori cukup (Tahmidaten & Krismanto, 2020). Rendahnya budaya membaca tersebut perlu disikapi dengan seksama. Ini penting karena minat membaca merupakan faktor utamadalam meningkatkan kualitas masyarakat (Susanto et al., 2020).Pemerintah Indonesia sendiri telah melakukan beberapa upaya untuk mendorong budaya membaca masyarakat, mulai dari dukungan regulasi, pemerintah Indonesia telah menerbitkan sedikitnya delapan payung hukum dan juga sejumlah program Gerakan Literasi Nasional (GLN) (Odunewu, 2019). Gerakan ini merupakan gerakan peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui budaya membaca. Gerakan ini menitikberatkan pada pelibatan masyasrakat secara langsung dalam mendorong budaya literasi, termasuk juga di dalamnya kelompok-kelompok yang ada di masyarakat seperti karang taruna.Semangat gerakan literasi nasonal juga sempat diimpelemntasikan dengan gencar oleh KarangTaruna Dukuh Tempel, Desa Klepu, KecamatanCeper, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah yang beranggotakan 60 anak muda, putra dan putri.Awalnya, kelompok ini cukup aktif memberdayakan kegiatan hari membaca serta mendorong masyarakat sekitar untuk meningkatkan kualitas hidup melalui kegiatan membaca. Namun respon masyarakatyang kurang aktif akhirnya memengaruhi semangat kelompok ini. Lambat laun kelompok ini mulai tidak aktif menggencarkan budaya membaca bagi masyarakat Desa Klepu. Padahal keberhasilan budaya membaca dapat diraih jika ada simultansi rutin dari seluruh anggota karang taruna. Ini penting karena kebiasaan membaca merupakan pemanfaatanmembaca sebagai aktifitas rutin, hal tersebut merupakan pengembangan sikap dan keterampilan yang membuat membaca menjadi aktivitas yangmenyenangkan, teratur, dan konstan (Igwe, 2016).Indikasi hilangya simultansi anggota KarangTaruna Desa Klepu dalam menggalakkan budayamembaca sudah mulai terlihat menjelang akhir tahun 2019. Indikasi ini berbeda dengan kondisi awalnya kelompok ketika memulai gerakan ini. Kelompok ini cukup aktif dalam melakukan kegiatan stimulan untuk mendorong minat membaca warga, salah satunya melalui pelaksanaan kegiatan rutin hari membaca yang dilakukan sejak 2019, namun jelang akhir tahun 2019 antusiasme warga mulai berkurang. Kondisi ini mempengaruhi semangat anggota Karang TarunaDesa Klepu. Meski demikian, di awal tahun 2020 kelompok ini mulai menata kembali semangatnya, mencoba untuk memberdayakan kembali kegiatan ini dengan konsep yang masih sama dengan tahun lalu. Di mana pelaksanaan kegiatan rutin hari membaca dilakukan satu kali dalam seminggu, tiap hari Sabtu. Namun ternyata respon masyarakat tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Kondisi ini kembali mengendurkan semangat anggota Karang Taruna Desa Klepu. Padahal inisiasi kegiatan hari membaca sangat baik untuk mendorong budayamembaca warga. Kurangnya membaca adalahbencana karena membaca adalah cara paling efisien untuk memperoleh pengetahuan untuk mencapaiperkembangan pikiran dan fisik yang sehat (Itsekor & Nwokeoma, 2017).Kegiatan hari membaca dibentuk atas dasarkesadaran Karang Taruna Desa Klepu. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan dan mengembangkanedukasi literasi yang mumpuni bagi warga Desa Klepu. Karang Taruna Desa Klepu bahkan jugasudah mengupayakan lahirnya perpustakaan desa yang bertempatan sementara di rumah salah satu pengurus aktif Karang Taruna. Lebih lanjut, untuk mendorong minat warga agar kembali aktif pada kegiatan ini, Karang Taruna Desa Klepu mencoba membangun atmosfer lokasi yang variatif melalai pelaksanaan kegiatan hari membaca yang dilakukan secara bergilir di rumah warga. Selain itu juga memanfaatkan fasilitas umum seperti taman Desa Klepu, alun-alun Kota Klaten dan pinggiran sungai.Variasi lokasi dimaksudkan agar warga tidak merasa bosan dengan suasana kegiatan hari membaca yang monoton. Karang Taruna Desa Klepu juga mengisi perpustakaan dengan beberapa koleksi buku hasil donasi dari anggota pengurus Karang Taruna Desa Klepu dan warga yang mendonasikan buku bekasnya.Jumlah buku yang dimiliki Karang Taruna Desa sementara hanya sekitar 40 hingga 60 buku. Jumlah ini cukup memprihatinkan. Padahal ketersediaan buku yang lengkap mampu menjadi salah satu daya tarik perpustakaan karena esensi perpustakaan adalah bisa menjadi sarana dalam penyediaan bahan bacaan (Huriyah, 2016).Sarana keteresediaan bacaan perpustakaanberbasis komunitas sebenarnya cukup baik karena mengindikasikan adanya semangat kebersamaanmasyarakat dalam mendorong budaya literasi. Apalagi jika kemudian dipadukan dengan kegiatan membaca yang dilakukan secara rutin, bersamaan oleh anggota masyarakat dalam rentang waktu tertentu. Namun itu nampaknya tidak berjalan baik di Desa Klepu. Kondisi ini juga yang menjadi pertanyaan bagi anggota Karang Taruna Dukuh Tempel. Mereka telah melakukanbeberapa stimulan mulai dari menyediakan buku bacaan di perpustakaan, pelibatan anggota secara aktif, dan setting lokasi informal yang variatif namun ternyata tetap belum mampu mendorongminat baca warga Desa Klepu. Kondisi ini berbeda dengan yang diungkapkan Chommanad Boonareedan Anne Goulding, keduanya menjelaskan dalam penelitiannya bagaimana perpustakaan komunitas mampu mendapatkan respon positif dari warga, In Thailand, best practices in community libraries (CLs) that empower women and girl through personal develpment, literacy development support, and income generations. Cases showed that the informal atmosphere in CLs encouraged unconfident and disadvantaged people in the rural Northeast (Isan) area of Thailand to enter libraries and attend library activities (Boonaree & Goulding, 2019).Hal fundamental yang perlu disadari KarangTaruna Desa Klepu adalah minimnya budayamembaca di desa mereka telah memberikan dampak signifikan bagi warganya. Ini terlihat dari bagaimana warga muda di desa ini sudah mulai kurang percaya diri dalam menghadapi berbagai problematika karena terbatasnya pengetahuan dan informasi dari membaca.Meksi kondisi psikografis warga yang digambarkan dalam penelitian Chommanad Boonaree dan Anne Goulding memiliki tipologi yang hampir samadengan di Desa Klepu yakni minimnya kesadaran membaca yang membuat budaya literasi tergolong rendah hingga berimplikasi pada rasa percaya diri dalam menyikapi problematika tertentu, namun di perpustakaan komunitas yang digambarkan dalam penelitian tersebut telah memiliki infrastruktur yang cukup baik. Ini berbeda dengan kondisi perpustakaan di Desa Klepu. Kondisi infrastruktur yang kurang memadai ini juga yang mungkin memengaruhisemangat warga dalam mengunjungi perpustakaan atau aktif dalam kegiatan hari membaca. Implikasinya, melemahkan juga semangat anggota Karang Taruna Desa Klepu dalam meningkatkan kualitas hidup Desa Klepu melalui budaya membaca.Desa Klepu adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis, desa ini berada di antara 2 kota besar yaitu Solo dan Jogjakarta. Dilihat dari jumlah warganya, ada kurang lebih 260 KK (Kartu Keluarga) yang ada di desa ini. Kemudian jika dilihat dari akses infrastruktur jalan, desa Klepu memiliki akses jalan utama yang cukup berperan sentral bagi warga. Dari ketersediaan infrastruktur jalan tersebut jika dilihat secara ekonomi, desa ini punya potensi untuk tidak tertinggal dengan desa sekitar. Terkait literasi warga, Desa Klepu hanya memiliki satu perpustakaan kecil dengan fasilitas minim. Ketua Karang Taruna Desa Klepu, Syarifudin menjelaskan bahwa “Diadakannya perpustakaan desa itu pada awalnya merupakan proses pengkampanyean budaya literasi. Ada keresahan kami mengenai kurangnya budaya baca warga kita. Kami beranggapan, budaya membaca ini bisa ditularkan dengan masif. Inilah yang yang mendorong kami menggalakkan kegiatan budaya membaca” (Syarifudin, wawancara, 10 Januari 2021). Meski sasaran dari kegiatan budaya membaca yang digalakkan Karang Taruna Desa Klepu adalah masyarakat umum, namun secara spesifik, target utama dari kegiatan ini adalah warga mudanya.Karang taruna Dukuh Tempel menilai warga muda merupakan target potensial. Semakin baik budaya membaca warga mudanya, semakin baik pula kualitas hidup masyarakat Desa Klepu di masa depan. Ini penting karena minat membaca dapat dibentuk atau ditumbuhkan sejak dini, minat membaca anak sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi lingkungan di mana mereka tinggal (Asri, 2018).Namun di lapangan, tantangan yang dihadapioleh Karang Taruna Desa Klepu ternyata bukan hanya mengenai rendahnya minat baca masyarakat terutama pada kalangan anak-anak serta orang tua, dan juga infrastruktur perpustakaan komunitas. Tantangan lain yang juga menjadi berpotensi menjadi hambatan adalah adanya soliditas anggota karang taruna yang sudah mulai memudar. Padahal soliditas kelompok merupakan modal utama kesuksesan kegiatan ini.Dalam hal ini, effective sinergy dari kelompok sudah mulai rendah, sehingga tidak dapat mencapai lebih dari apa yang dapat dilakukan secara individual.Di titik inilah setiap anggota yang dengan suka rela bergabung menjadi karang taruna perlu kembali memahami kepribadian kelompok karang taruna.Pasal 1 angka 1 Peraturan Menteri Sosial No. 77/ HUK/2010 tentang Pedoman Dasar Karang Taruna (Permensos 77/2010) dijelaskan bahwa Karang Taruna adalah organisasi sosial kemasyarakatan sebagai wadah dan sarana pengembangan setiap anggota masyarakat yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa atau kelurahan yang bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial. Dari pengertian tersebut maka anggota karang taruna perlu memahami tentang peran sentralnya dalam mengembangkan dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sekitarnya, termasuk salah satunya adalah upaya untuk mengembangkan budaya membaca warga. Dengan adanya persoalan yangdialami Karang Taruna Desa Klepu maka pendekatan group syntality theory (Teori kepribadian kelompok) yang dicetuskan oleh Raymond Cattell dapat menjadi solusi untuk mengembalikan soliditas anggota Karang Taruna Dukuh Tempel dalam mendorong budayamembaca warga Desa Klepu. Syntality refers to the group acting as a group, that is, as a single entity. Traits in this first panel, inferred from members’ behaviour, are the group analogue to the individul personality traits. Stated another way, syntality is a compound, not a mixture, derived from the behaviour and feelings are those of a single entity, a unity called the group (Ruzicka, Palisi, & Berven, 1979).Group syntality theory menitikberatkan padainteraksi internal yang ada pada suatu kelompok dengan berbagai dinamika kepribadian yang menyelimuti para kelompoknya. Secara lebih sederhana penedekatan ini melihat bagaimana perbedaan tiap individu yang ada dalam suatu kelompok mulai dari usia, latar belakang, hingga karakteristik yang berbeda secara otomatis akan menjadi semacam kesatuan yang akan menjadi kepribadian dan wajah kelompok. Keberadaanmereka yang berbeda dalam sebuah kelompok sama akan terpadu menjadi satu yang disebut sinergisitas kelompok.Konsep sinergi menurut Catell dapattersusun dari dua hal yakni maintenance energy dan effective energy (Fadillah, 2019). Kedua hal ini yang menjadi sasaran dari pendekatan group syntality theory. Maintenance energy berkaitan dengan adanya kegiatan langsung yang diarahkan pada upaya untuk membentuk keharmonisan kelompok. Adapuneffective energy berkaitan dengan adanya kegiatan yang diarahkan langsung pada tujuan kelompok.Kedua hal tersebutlah yang akan digunakan untuk menelaah lebih jauh bagaimana strategi komunikasi kelompok yang dilakukan Karang Taruna DesaKlepu dalam mendorong budaya membaca wargaDesa Klepu. Muara dari group syntality theory adalah terbentuknya soliditas anggota Karang Taruna Desa Klepu terhadap tujuan yang ingin dicapai. Soliditas ini terbentuk melalui kesadaran akan kemampuan menggerakkan warga yang terjadi secara alami dari dalam diri anggota. Raymond Cattell menyebut kondisi tersebut dengan istilah cognitive abilities (Reynolds, et all, 2013).

Method

Penelitian ini menggunakan metode deksriptif kualitatif, yakni, suatu metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas (Sugiyono, 2005). Adapun populasi dalam penelitian ini adalah anggota Karang Taruna Dukuh Tempel yang terdiri dari 60 anggota pengurus aktif. Sedangkan sampel dalam penelitian ini ditentukan melalui purposive sampling yang merupakan teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu seperti orang yang dianggap paling mengerti mengenai apa yang akan kita teliti (Sugiyono, 2014). Kriteria yang paling relevan untuk menjadi sampel dalam penelitian ini adalah top struktural yang berkaitan langusng dengan Karang Taruna Desa Klepu dan kegiatan hari membaca, yakni, Syariffudin (Ketua Karang Taruna Desa Klepu), Gigih Yulia Sahira (Penanggung Jawab Kegiatan Hari Wajib Membaca), Rifqi Usada (Penasehat Karang Taruna Dukuh Tempel) dan Verasta Maylani (Wakil Ketua Karang Taruna Dukuh Tempel).Penelitian ini memiliki dua sumber datayaitu data primer dan data sekunder. Sumber data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara.Observasi dilakukan dengan pengamatan dan peran serta yang penulis lakukan terhadap subjek penelitian.Wawancara dilakukan dengan sampel yang telah penulis tentukan. Teknik wawancara dilakukan dengan model open ended interview. Kemudian terkait sumber data sekunder penelitian ini menitikberatkan pada studi literaasi melalui berbagai sumber tertulis yang relevan. Untuk menguji validitas data, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber data.Triangulasi sumber data ialah cara untuk memeriksa dan membandingkan informasi yang didapat dengan sumber lainya. Setelah itu masing-masing sumber data akan memberikan pandangan mengenai fenomenayang sedang diteliti (Pujileksono, 2015).Terkait analisa data, penelitian inimenggunakan model Miles dan Huberman yangterdiri dari 3 aspek, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data merupakan cara penulis dalam mengkategorikan hal pokok yang selanjutnya dirangkum dan berfokus pada bahasan penting serta mencari tema dan pola data yang sudah terkumpul. kemudian penyajian data dilakukan dalam bentuk teks yang bersifat naratif agar lebih mudah untuk memahami hal apa yang terjadi lalu merencanakan rencana kerja berikutnya berdasarkan apa yang telah dipahami, selanjutnya kesimpulan atau verifikasi dilakukan untuk menjawab rumusan masalah penelitian yang bersifat sementara dan terus mengalami berbagai perkembangan selama berlangsungnya penelitian di lapangan (Asri, 2018).

Result & Discussion

Karang Taruna Desa Klepu, seperti halnyaorganisasi Karang Taruna secara umum, merupakan organisasi kepemudaan setempat yang memiliki landasan hukum Keputusan Menteri Sosial RINomor13/HUK/EP/1981 tentang susunan organisasi dan tata kerja karang taruna. Karang Taruna Dukuh Tempel memiliki 60 anggota yang berasal dari warga muda di Desa Klepu. Karakteristik anggotanya sangat beragam. Dilihat dari latar belakang pendidikan ada yang merupakan lulusan Sekolah Menengah Umum (SMU), S1 ataupun on going SMU dan S1, dengan taksiran rentang usia antara 15- 35 tahun.Karang Taruna Desa Klepu memiliki sejumlahkegiatan positif yang melibatkan warga Desa Klepu.Terkait gerakan budaya membaca warga, ada beberapa program keja yang telah dilakukan Karang Taruna Desa Klepu mulai dari membangun perpustakaan komunitas, menyediakan buku bacaan, kajian ringan dan kegiatan hari membaca. Dari beberapa program yang ada, kegiatan hari membaca merupakanprogram andalan Karang Taruna Desa Klepu dalam mendorong gerakan literasi warga, membiasakan warga Desa Klepu untuk memiliki minat membaca.Hanya saja lambat laun kegiatan ini mulai pasif.Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kurang maksimalnya kegiatan hari membaca. Selain adanya faktor yang membuat motivasi warga menjadirendah, keberadaan gadget juga mempengaruhi warga untuk menghidupkan budaya membaca melaluiperpustakaan dan kegiatan hari membaca. Kondisi ini persis seperti yang diungkapkan Aina, Ogungpeni, Adigun dan Ogundipe, seiring berjalannya waktu, masyarakat bisa kehilangan minat membaca karena ada beberapa pilihan menarik lainya selain buku (Aina et al., 2011).Memudarnya antusiasme warga yang jugaakhirnya mulai memengaruhi semangat anggota Karang Taruna Desa Klepu. Selain ada faktor lain seperti kesibukan dari tiap anggota pengurus Karang Taruna Desa Klepu yang juga berpengaruh pada simultansi kegiatan, menurunnya antusiasme warga menjadi alasan mendasar yang melemahkan semangat Karang Taruna Desa Klepu. Namun hal yang disayangkan adalah anggota Karang Taruna Desa Klepu sendiri juga memiliki minat yang rendah untuk membudayakan membaca. ”Kondisinya yamemang tidak aktif, kurang begitu aktif. Memang bisa dilihat juga pada saat ini pemuda pemudi kita sudah mulai krisis membaca,” (Sahira, wawancara, 17 Januari 2021). Kondisi ini jika dibiarkan berlarutlarut tentu akan memengaruhi kualitas hidup pemuda Desa Klepu di masa depan. Kebiasaan membaca yang buruk terjadi pada anak-anak hingga dewasa karena membaca tidak dianggap sebagai kegiatan yang relevan (Itsekor & Nwokeoma, 2017)Meski demikian, pengurus Karang TarunaDesa Klepu kembali mencoba membangun semangat dan soliditas anggota untuk mendorong budaya membaca warga. Apalagi pandemi covid-19 telah secara tidak lansung telah membuat ruang gerak warga menjadi terbatas. Warga muda yang biasanya lebih banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan di luar desa mau tidak mau menjadi lebih banyak menghabiskan waktu di lingkungan desa. Dari kondisi inilah pengurus Karang Taruna Desa Klepu mulai berusaha membangkitkan kembali kegiatan hari membaca sebagai tulang punggung gerakan mendorong budaya membaca warga. Pengurus Karang Taruna Desa Klepu melihat adanya pandemi covid-19 seharusnya bisa menjadi titik balik bagi warga desa untuk tetap berdiam di rumah atau di lingkungan desa dan menghabiskan waktunya dengan aktivitas positif, salah satunya adalah membaca. Dengan demikian, berangkat dari pemahaman itulah penelitian ini ingin melihat lebih jauh strategi komunikasi kelompok yang dilakukan Karang Taruna Dukuh Tempel Desa Klepu dalam memanfaatkan momen pandemi covid-19untuk mendorong budaya membaca warga DesaKlepu dilihat dari pendekatan group syntality theory yang memperhatikan aspek maintenance energy dan effecvtive energy.Maintenance EnergyMaintenance energy berkaitan dengan upayapengadaan kegiatan langsung yang diarahkan pada upaya untuk membentuk keharmonisan kelompok.Maintenance energy juga berkaitan dengan “Energy that directed toward the development and maintenance of the group” (Stones, 1987). Maintenance energy perlu menjadi perhatian pimpinan kelompok untuk menjamin keberlangsungan kelompoknya. Ini penting karena dalam perjalanan kelompok, potensi gesekan antar anggota dan pimpinan tidak bisa dihindari.Perbedaan cara pandang, sikap, saran dan pendapat merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kelompok. Persoalannya tinggal pada upaya kelompok dalam menyikapi perbedaan tersebut. Kondisi ini juga yang dialami oleh Karang Taruna Desa Klepu. Sejak kegiatan hari membaca mulai dicetuskan sebagai tulang punggung gerakan budaya membaca warga, terlihat adanya perbedaan semangat, motivasi dan kepentingan antar anggota dan organisasi. Namun perbedaan tersebut tidak berlangsung tajam yang mengakibatkan konflik tertentu. Perbedaan tersebut lahir justru karena adanya perbedaan pandangan di antara mereka dalam menyikapi bagaimanaseharusnya kegiatan akan dilakukan.Lebih lanjut, perbedaan seharusnya bukanlah hambatan berat yang sulit diatasi oleh pengurus Karang Taruna Desa Klepu. Perbedaan merupakan sesuatu yang lumrah terjadi dalam kelompok, khususnya pada waktu awal pembentukan kepengurusan, kegiatan, penyusunan kegiatan, penentuan arah kegiatan dan penetapan tujuan kegiatan. Perbedaan perlu disikapi dengan bijak, karena tidak semua perbedaan ditujukan untuk melemahkan kelompok. Hal terpenting dari menyikapi perbedaan tersebut adalah bagaimana anggota kelompok bisa mencari nilai-nilai persamaan yang bisa menjadi kekuatan bersama untuk menjaga kelompok tetap stabil dalam mencapai tujuannya.Jadi, ketika semua anggota kelompok dapat menyadari adanya kesamaan nilai yang mereka perjuangkan, gesekan perbedaan akan menjadi faktor pendorong yang membuat kelompok menjadi lebih kuat. Semua kelompok perlu memahami bahwa adanya perbedaan dan adanya kesadaran untuk mencari nilai-nilai persamaan yang justru akan mempersatukan seluruh anggota dan membuat kelompok menjadi lebih kuat lagi. Hal ini seperti diungkapkan oleh Stones, “In the early stages of group formation, maintenance energy is high in that there is always a certain amount of friction among group members resulting from status striving, power seeking, member incompatibility, and so forth. However, it decreases over time as group norms are established, member roles clarified, and leaders emerge” (Stones, 1987). Lebih lanjut, keberadaan nilainilai persamaan yang khas dalam kelompok perlusenantiasa ditumbuhkan, dirawat dan diketahui oleh seluruh anggota kelompok. Nilai-nilai itulah yang bisa mengikat seluruh anggota kelompok.Keberadaan nilai-nilai tersebut juga yangmenyatukan seluruh elemen organisasi untukmemiliki komitmen bersama bagi pencapaiantujuan organisasi. Nantinya, nilai-nilai inilah yang bisa menjadi modal penting bagi organisasi untuk senantiasa merawat organisasi ketika dihadapkan dalam situasi gesekan tertentu. Ketika gesekan terjadi, maka penguatan ulang soliditas kelompok terhadap nilai-nilai organisasi perlu diingatkan kembali, khususnya setelah ada gesekan atau konflik. Di titik inilah pengurus Karang Taruna Desa Klepu perlu senantiasa merawa komunikasi yang akomodatif, mendengar dan mengetahui berbagai kendalayang dihadapi anggotanya. Dalam tahap lebih lanjut, pengurus Karang Taruna Desa Klepu perlu melibatkan ketokohan yang berperan penting bagi kelompok. Salah satunya adalah pelibatan penasahet kelompok. Penasehat inilah yang perlu ditempatkan sebagai perekat visi, misi dan pencapaian tujuan kelompok. Penasehat ini juga yang harus mampu dioptimalkan perannya secara bijak dan baik demi kemajuan kelompok. Keberadaan penasehar perlu dilibatkan, penasehat juga perlu menunjukkan kepeduliannya pada kelompok, memerhatikankebutuhan kelompok, membangun kembali semangat kelompok, menumbuhkan motivasi serta komitmen yang kuat bagi anggota kelompok dan mengajak anggota kelompok yang pasif. Nantinya jika kondisi internal telah semakin solid maka langkah berikutnya yang perlu dilakukan kembali menyusun ulang strategi komunikasi yang relevan dalam mendorong budaya membaca warga.Persoalan lain yang memengaruhi kondisiinternal anggota Karang Taruna Desa Klepu karena kurang optimalnya dukungan dari pemerintah desa.Pihak pemerintah desa hanya memberikan dukungan berupa pemberian ijin terkait dengan kegiatan hari membaca di Dukuh Tempel. Donasi yang berkaitan dengan donasi atau bentuk dukungn finansial lainnya belum ada. Padahal untuk menyukseskan program hari membaca yang merupakan tulang punggung gerakan budaya membaca warga, dukungan infrastruktur sangat penting. Misalnya, revitalisasi perpustakaan yang kondusif bagi waraga, ketersediaan buku bacaan yang memadai dan dukungan internet untuk akses electronic books serta lainnya. Di sinilah pentingnya sinergisitas dari semua elemen masyarakat, termasuk di dalamnya pemerintah desa dengan dukungan finansialnya. Pemerintah desa memiliki peran signifikan dalam pengelolaan proses sosial di dalam masyarakat. Tugas utama yang harus diembanpemerintah desa adalah bagaimana menciptakan kehidupan demokratik yang harmonis, memberikan pelayanan sosial yang baik sehingga dapat membawa warganya pada kehidupan yang sejahtera, rasa tentram dan berkeadilan (Latiana et al., 2018).Jika pemerintah desa mampu memberikandukungan finansial yang diarahkan pada infrastruktur perpustakaan memadai, tentu ini akan menjadi dorongan dan energi tambahan yang bisa mendorong semangat anggota kelompok untuk semakinmenggalakkan kegiatan ini. Implikasinya, ketika anggota internal kelompok telah memiliki dorongan dan semangat yang baru, hal ini akan memberikan dampak juga bagi lingkungan eksternal. Mereka akan lebih aktif dalam mendorong warga untuk mengunjungi perpustakaan, membangun budayamembaca dan menyukseskan gerakan hari membaca.Tidak adanya dukungan finansial dari pemerintah desa sangat disayangkan karena modal yangdiberikan pemerintah desa untuk memberdayakan masyarakatnya dapat berasal dari berbagai sumber, salah satunya adalah dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Danatersebut merupakan Alokasi Dana Desa (ADD) yang berjumlah 10% dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) (Sari, 2015). Ada harapan dan keinginan dari pengurus agar kegiatan ini juga mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah desa.Meski kondisinya demikian, pengurus KarangTaruna Desa Klepu tetap mencoba berpikiran positif terhadap pemerintah desa. Mereka beranggapan jika minimnya support dari pemerintah desajuga dikarenakan keterbatasan dana yang bisa disumbangkan atau dialokasikan bagi kegiatan literasi membaca warga. Karang Taruna Desa Klepu tetap berpikiran positif dan memberikan apresiasi besar pada pemerintah desa khususnya terkait dukungan lainnya, seperti, pemberian ijin pelaksanaan kegiatan dalam beberapa waktu tertentu. Selain soal dukungan yang berasal dari dana, kondisi lain yang juga berpotensi melemahkan semangat anggota Karang Taruna Desa Klepu adalah sulitnya mencari donatur buku, sementara di sisi lain, hampir beberapa buku yang tersedia merupakan buku lama yang sudah diketahui atau dibaca oleh warga. Hal seperti ini juga penting untuk diperhatikan, karena bisa saja warga sudah mulai enggan mengunjungi perpustakaan atau enggan untuk ikut kegiatan hari membaca karena mereka sudah membaca atau mengetahui semuabuku yang ada di perpustakaan. Ada kebosanan di sisi warga dalam mengakses ketersediaan buku yang ada. Warga membutuhkan buku baru dengan tema yang juga variatif. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Karang Taruna Desa Klepu. Meski juga dalam beberapa kesempatan, anggota Karang Taruna Desa Klepu juga sudah mencoba mengajak warga desa setempat atau desa tetangga yang memiliki buku bekas untuk disumbangkan ke perpustakaan, namun hasilnya tetap tidak optimal. Mereka tidak mampu menyumbangkan buku secara optimalkarena memang tidak memiliki cukup buku bekas untuk disumbangkan. Masyarakat desa setempat juga memiliki keterbatasan dalam hal kepemilikan buku.Semua hal tersebutlah yang perlu dihimpunoleh ketua, penasehat dan anggota Karang Taruna Desa Klepu untuk kemudian dikaji bersama. Dalam beberapa kesempatan, ketua dan penasehat juga mengadakan kegiatan kumpul bareng anggota dan warga untuk mendengarkan keluhan, saran serta kendala dari sudut pandang mereka. Dalam kegiatan ini ketua dan penasehat juga berusaha untuk kembali mendorong semangat anggota dan warga sembari mencari solusi dari berbagai persoalan yang menjadi hambatan dalam gerakan mendorong budayamembaca warga Desa Klepu. Ketua dan penasehat Karang Taruna Desa Klepu memahami bahwa kondisi serba keterbatasan jangan sampai memengaruhi atmosfer komunikasi yang terjalin di antara mereka.Pengurus Karang Taruna senantiasa menekankan bahwa komunikasi yang harmonis dan positif adalah kunci utama untuk membangun sinergisitas pengurus.Keberadaan pengurus yang masih bertahan dan tetap peduli pada kondisi ini harus tetap dijaga melalui komunikasi sinergis. Mengedepankan harmonisasi dan keberasamaan yang kondusif di antara pengurus.Sinergisitas itulah yang akan menjadi energi bagi Karang Taruna Dukuh Tempel untuk membangunkembali komitmen bersama, menjaga semangat dan komitmennya untuk senantiasa mencerdaskan warga desa melalui budaya membaca.Effecvtive energyEffective energy berkaitan dengan adanyakegiatan yang diarahkan langsung pada tujuan kelompok. Effefctive energy is energy that directed toward achievement of individual and group related goals (Stones, 1987). Dalam hal ini adalah bagaimana ketua dan penasehat Karang Taruna Desa Klepu yang telah berhasil membangkitkan kembali semangat anggotanya, menciptakan fokus kegiatan yang memberikan dampak langsung pada tujuan, yakni, mengaktifkan kembali kegiatan hari membaca sebagai saluran sentral untuk meningkatkan budaya membaca warga dan juga ajang komunikasi serta silaturahmi antar warga desa Klepu.Pada tahun 2020, Karang Taruna Desa Klepusepakat untuk kembali mengaktifkan kegiatan hari membaca. Kegiatan ini akan menjadi fokus utama dalam mendorong budaya membaca warga, khususnya selama pandemi covid-19 banyak warga desa yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, di desa, tidak banyak yang keluar desa. Tentu saja agar kegiatan tersebut mendapatkan respon postif warga, Karang Taruna Desa Klepu lebih mempersiapkan diri dengan matang, mencoba mengatasi terlebih dulu berbagai persoalan yang menjadi hambatan. Secara keseluruhan ada beberapa persoalan yang bisa diperhatikan, yakni masalah faktor perbedaan sikap antar individu dalam mengikuti kegiatan hari membaca, kurangnya pemahaman mengenai pentingnya membaca dankurangnya strategi komunikasi dari pihak Karang Taruna Desa Klepu dengan berbagai pihak relevan demi peningkatan budaya membaca warga.Terkait persoalan pertama, aspek yangperlu dikaji oleh Karang Taruna Desa Klepu adalah penentuan fokus target kegiatan. Target yang spesifik akan memudahkan pencapaian tujuan organisasi.Lebih lanjut, Karang Taruna Desa Klepu perlu senantiasa konsisten terhadap target yang lebih selektif. Target utama dari kegiatan tersebut adalah warga Desa Klepu, sedangkan target khususnya adalah anak-anak dan remaja. Dua target inilah yang lebih bisa didorong untuk membaca. Berbeda dengan tipologi warga yang sudah berusia lanjut, mereka lebih fokus menjalani profesinya sehari-hari. Perbedaan sikap, sifat, usia, pekerjaan dan karakteristik lainnya berpengaruh pada antusiasme keikutsertaan warga dalam kegiatan ini. Lebih lanjut, penentuan target yang sesuai bisa memengaruhi kesuksesan kegiatan.Hal lain yang juga perlu menjadi perhatianbagi pengurus Karang Taruna Desa Klepu adalah adanya beberapa warga muda desa Klepu yangenggan mengikuti kegiatan hari membaca ternyata juga karena adanya rasa minder, kurang percaya diri dari diri mereka sendiri. Salah satu sesi dalam kegiatan hari membaca adalah forum diskusi. Di momen inilah beberapa warga muda Desa Klepu merasa minder, apalagi jika berhadapan dengan pengunjung lain yang aktif berdiskusi. Tidak bisa dihindari dalam kegiatan ini mereka yang hadir tidak semuanya memiliki latar belakang pendidikan sama.Kondisi inilah yang memengaruhi bagaimana mereka mengikuti forum diskusi. Tidak bisa dipungkiri, mereka yang berpendidikan lebih tinggi cenderung lebih kritis dan bisa menguasai jalannya diskusi. Di sisi lain mereka yang berpendidikan lebih rendah dan kurang kritis akhirnya lebih banyak memilih diam, hanya menjadi penonton dan mulai tidak percaya diri.Padahal menurut Hakim, “Percaya diri setiap orang merupakan salah satu kekuatan jiwa yang sangat menentukan berhasil tidaknya orang tersebut dalam mencapai berbagai tujuan hidupnya” (Rohayati, 2011).Kondisi inilah yang kemudian harus disikapi lebih lanjut oleh pengurus Karang Taruna Desa Klepu. Mereka perlu membangun suasana forum diskusi yang lebih harmonis, hangat, kondusif dan mendorong semua anggota diskusi menjadi aktif namun tetap positif. Ketua harus mampu membangun atmosfer komunikasi yang sarat nuansa keberimbangan namun tetap menarik dan tidak membosankan. Atmosfer tersebutlah yang bisa menjadi jembatan bagi semua anggota diskusi. Jika suasana harmonis senantiasa terbangun dalam forum diskusi, maka bukan tidak mungkin warga Desa Klepu akan kembali aktif mengikuti kegiatan hari membaca di waktu berikutnya. Hubungan antar individu dalam kelompok ditentukan oleh bagaimana struktur yang ada dalam kelompok dapat saling bersinergi.Aspek berikutnya yang juga perludiperhatikan oleh Karang Taruna Desa Klepu adalah dengan menjalin komunkasi harmonis dengan pihak di luar kelompok. Dalam hal ini Karang Taruna Desa Klepu perlu melakukan komunikasi yang lebih intensif dengan beberapa tokoh masyarakat mulai dari tokoh pemuda, masyarakat, agama hingga pemerintah desa. Dengan pelibatan tokoh-tokoh tersebut maka ada beban peran dan tanggung jawab yang dibagi bersama. Dengan adanya pembagian peran tersebut maka akan memunculkan rasa saling memiliki satu sama lain, termasuk juga perasaan yang sama untuk memajukan kualitas hidup warganya melalui budaya membaca.Komunikasi intensif juga perlu dilakukanKarang Taruna Desa Klepu dengan pihak-pihak di luar desa. Khususnya untuk menjaring donatur buku. Jadi, ketika warga Desa Klepu sudah tidak bisa memberikan sumbangsih buku, maka Karang Taruna Desa Klepu perlu memperluas target donaturnya.Salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah open donation melalui media sosial dengan memanfaatkan akun masing-masing pengurus dan warga. Open donation berbasis platform online memiliki jangkauan yang lebih luas. Kemajuan teknologi saat ini telah memunculkan tren baru yaitu donasi secara online, yang mana setiap orang di berbagai penjuru dunia bisa melakukan aktivitas kedermawanan dengan memanfaatkan akses internet (Hidayat, 2019).Kegiatan open donation melalui media berbasis internet bisa menjadi alternatif yang solutif. Internet akan membuat kegiatan Karang Taruna Desa Klepu memiliki visibilitas yang lebih luas, terbuka dan diketahui oleh lebih banyak orang. Bukan tidak mungkin dari visibilitas yang luas tersebut akan dipertemukan dengan calon donator yang memiliki kemampuan finansial mumpuni, jiwa sosial tinggi dan terpanggil untuk mengatasi kesulitan yang sedang dialami oleh Karang Taruna Desa Klepu.Meski pandemi covid-19 sudah mereda,namun Karang Taruna Desa Klepu perlu tetap mempertahankan kegiatan ini. Segala sesuatu yang berkaitan dengan budaya membaca akan memberikan dampak positif kualitas kehidupan masyarakat. Oleh karenanya Karang Taruna Desa Klepu perlu senantiasa melakukan penataan ulang maintenance energy dan effective energy dengan melibatkan masukan dari berbagai pihak sebagai langkah strategis dalam membangun dan mendorong pencapaian tujuankelompok. Tujuan perlu senantiasa disampaikan dan diketahui oleh seluruh anggota kelompok. Tujuan inilah yang perlu menjadi nilai dorongan mendasar bagi kelompok. Upaya kelompok dalam mencapai tujuan inilah yang kemudian perlu diseragamkan sebagai pengejewantahan nilai-nilai kepribadian kelompok.Nilai-nilai ini mencakup keinginan bersama untuk memajukan dan meningkatkan kualitas hidup warga Desa Klepu melalui budaya membaca. Kalaupaun ada perbedaan dalam mengimplementasikan langkah mencapai tujuan itu, pengurus Karang Taruna Desa Klepu perlu senantiasa menjaga iklim komunikasi yang kondusif dan harmonis. Kedua hal tersebutlah yang akan menjadi kekuatan kelompok dalammencapai tujuannya.Secara keseluruhan, upaya yang dilakukanpengurus Karang Taruna Desa Klepu dalammempertahankan pencapaian tujuan dari kegiatan tersebut sudah cukup baik hanya saja kelompok ini perlu juga menganalisis sejauh mana hasil akhir dan dampak positif yang diterima warga dalam kurung waktu tertentu. Ini penting karena suatu kebijakan dikatakan baik jika dilihat pada segi output (hasil) dan outcome (dampak) yang ditimbulkan (Restianto & Rahaju, 2020). Di tahap inilah Karang Taruna Desa Klepu perlu membangun monitoring dan evaluasi berkelanjutan yang harmonis dalam rentang waktu tertentu. Nantinya hasil monitoring antar waktu tersebut dapat dikomparasikan lebih lanjut utuk menjadi acuan untuk memperbaiki dan menyempurnakan kegiatan sejenis di masa mendatang.

Conclusion

Hambatan yang dialami Karang Taruna DesaKlepu dalam mendorong gerakan budaya membaca di desa Klepu cukup kompleks. Meski demikian melalui pemetaan maintenance energy dan effecvtive energy, Karang Taruna Desa Klepu akhirnya berhasil mengatasi berbagai hambatan tersebut. Penyelesaian berbagai hambatan dilakukan melalui pendekatan komunikasi yang menekankan harmonisasi dansimultansi, baik di lingkungan internal kelompok ataupun hubungan antara kelompok dengan pihak di luar kelompok, eksternal. upaya yang dilakukan pengurus Karang Taruna Desa Klepu dalammempertahankan pencapaian tujuan dari kegiatan tersebut sudah cukup baik hanya saja kelompok ini perlu juga menganalisis sejauh mana hasil akhir dan dampak positif yang diterima warga dalam kurung waktu tertentu. Ini penting karena suatu kebijakan dikatakan baik jika dilihat pada segi output (hasil) dan outcome (dampak) yang ditimbulkan (Restianto & Rahaju, 2020). Di tahap inilah Karang Taruna Desa Klepu perlu membangun monitoring dan evaluasi berkelanjutan yang harmonis dalam rentang waktu tertentu. Nantinya hasil monitoring antar waktu tersebut dapat dikomparasikan lebih lanjut utuk menjadi acuan untuk memperbaiki dan menyempurnakan kegiatan sejenis di masa mendatang.