Pemanfaatan Koleksi Internasional Pada Layanan Mancanegara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
Universitas Bengkulu; Universitas Bengkulu; Universitas Bengkulu
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan koleksi internasional di Layanan Mancanegara Perpustakaan Nasional. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, pengumpulan data dengan teknik analisis data menggunakan model Miles & Huberman yaitu dengan menggunakan teknik: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koleksi ini sangat diminati, khususnya oleh kalangan mahasiswa, sejumlah kendala yang dihadapi pengguna, seperti hambatan bahasa dan keterbatasan koleksi. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa faktor internal seperti kebutuhan, minat, dan motif pengguna, serta faktor eksternal seperti kelengkapan koleksi dan keterampilan pustakawan. Secara keseluruhan, koleksi internasional memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, namun perlu upaya lebih lanjut untuk mengatasi kendala dan meningkatkan sosialisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koleksi ini sangat diminati, khususnya oleh kalangan mahasiswa. Kendati demikian, terdapat sejumlah kendala yang dihadapi pengguna, seperti hambatan bahasa dan keterbatasan koleksi.
Abstract
This study aims to determine the utilization of international collections in the National Library's International Service. Using qualitative descriptive methods, data collection with data analysis techniques using the Miles & Huberman model, namely by using the techniques: data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that this collection is in great demand, especially by students, due to a number of obstacles faced by users, such as language barriers and limited collections. Further analysis shows that internal factors such as user needs, interests, and motives, as well as external factors such as the completeness of the collection and librarian skills. Overall, international collections have great potential to support the development of science, but further efforts are needed to overcome obstacles and increase socialization. The results of the study show that this collection is in great demand, especially among students. However, there are a number of obstacles faced by users, such as language barriers and limited collections.
Keywords:
Pemanfaatan Koleksi
· Koleksi internasional
· Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
Introduction
Layanan mancanegara merupakan salah satu layanan yang ada pada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang menyajikan koleksi monograf mengenai negara-negara di dunia yang memiliki fokus pada nilai sejarah, geografi, sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, kesenian, pariwisata serta biografi dari tokoh-tokoh dunia. Layanan yang berlokasi di lantai 20 Perpustakaan Nasional RI, Jalan Medan Merdeka Selatan ini merupakan layanan perpustakaan terbuka, yang berarti pemustaka dapat mengambil secara langsung koleksi yang ingin dibaca pada raknya. Layanan mancanegara merupakan satu-satunya layanan yang mengelompokkan bahan perpustakaan berdasarkan subjek negara koleksi di rak. Koleksi di layanan ini dikelompokkan berdasarkan negara, kawasan, dan benua, kemudian diurutkan berdasarkan aturan Dewey Decimal Classification (DDC). Sistem pengelompokkan ini memudahkan pemustaka untuk mengakses koleksi tentang apapun mengenai negara tertentu karena dalam satu rak negara/kawasan/benua sudah terkumpul koleksi semua subjek sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Jumlah koleksi yang ada hingga 30 September 2024 yaitu memiliki 14.969 judul dan 15.467 koleksi. Koleksi tersebut terdiri atas buku-buku mengenai 116 negara, 12 benua/kawasan, serta 2 pojok khusus yaitu Kazakhstan Corner dan Window on Korea. Layanan mancanegara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia terbuka untuk semua pengunjung di semua kelompok usia bahkan pada warga negara asing. Ketika berkunjung ke layanan mancanegara pengunjung akan diminta untuk menitipkan tas atau barangnya terlebih dahulu pada tempat yang disediakan lalu akan dimintakan kartu anggota perpustakaan dan bagi yang belum memiliki kartu anggota pengunjung akan diarahkan untuk mengisi buku tamu. Pengunjung pada layanan mancanegara termasuk bervariasi karena layanan mancanegara cukup sering dikunjungi oleh warga negara asing untuk melihat koleksi begitu juga dengan pengunjung lokal atau warga negara Indonesia dari berbagai status juga tertarik dengan koleksi yang ada di Layanan Mancanegara. Pemustaka pada layanan mancanegara dibedakan menjadi tiga kategori yaitu; Mahasiswa, Pelajar, dan Umum. Pemanfaatan koleksi internasional oleh pemustaka di dorong oleh faktor - faktor yaitu adanya kebutuhan yang ingin dipenuhi dan kebutuhan yang belum terpenuhi sehingga memerlukan sumber informasi yaitu koleksi yang disediakan oleh layanan mancanegara di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Selain untuk memanfaatkan koleksi yang ada tidak jarang juga pemustaka hanya untuk sekedar menggunakan layanan seperti tempat untuk belajar ataupun bekerja dengan menggunakan fasilitas yang disediakan oleh layanan. Banyaknya jenis koleksi tidak menjamin bahwa koleksi tersebut sudah dapat memenuhi kebutuhan pengguna karena dari sekian banyaknya buku tidak semua buku dimanfaatkan oleh pengguna (Suhendani, 2021). Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal yaitu buku yang disediakan kurang sesuai dengan keinginan pemustaka sehingga pemustaka memilih menggunakan buku yang itu itu saja. Atau bahkan ada kendala lainnya seperti kendala bahasa dimana pemustaka kesulitan memahami isi dari buku yang mereka baca karena tidak menguasai bahasa dari negara tersebut. Koleksi yang tersedia pada layanan mancanegara merupakan koleksi internasional yang didapatkan dari hasil pengadaan dan juga kerjasama, misalnya pada koleksi negara Korea yaitu dengan menjalin kerjasama internasional sehingga koleksi di negara Korea yang tersedia pada layanan mancanegara merupakan koleksi yang didatangkan langsung dari Perpustakaan Nasional Korea. Keberadaan koleksi dari negara-negara kecil jarang diketahui, hal tersebut disebabkan oleh kurangnya akses masyarakat terhadap koleksi yang ada pada layanan mancanegara. Tidak sedikit pemustaka kurang mengetahui bahwa adanya koleksi internasional yang tersedia pada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Hal tersebut dikarenakan kurangnya promosi yang dilakukan oleh pihak perpustakaan. Sehingga koleksi kurang dapat menjangkau lapisan masyarakat. Menurut (Harahap, 2021) Penerapan strategi promosi perpustakaan yang efektif merupakan faktor krusial dalam meningkatkan tingkat kunjungan pemustaka. Meskipun begitu pihak perpustakaan selalu meningkatkan kualitas koleksi dengan mengadakan kerjasama dengan berbagai instansi di kancah internasional. Koleksi yang disediakan perpustakaan tidak hanya bersifat wajib melainkan yang dapat mendukung ilmu untuk para pemustaka, dan yang paling utama koleksi yang disediakan harus mutakhir atau up to date (Bestari, 2016). Dinamika informasi global dan isu-isu internasional menunjukkan perkembangan yang eksponensial. Akibatnya, koleksi internasional yang tidak diperbarui secara berkala akan mengalami penurunan signifikansi dan gagal mengakomodasi kebutuhan informasi pemustaka secara optimal. Terutama bagi peneliti dan akademisi, ketersediaan informasi yang valid dan terpercaya. Buku dan bahan bacaan lainnya adalah hal yang paling penting di perpustakaan. Semua koleksi ini disiapkan khusus untuk pengunjung agar mereka bisa menggunakannya sesuai dengan keperluan (Mulyana, 2020). Koleksi menjadi kunci utama dalam membangun perpustakaan karena perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang dapat memenuhi kebutuhan penggunanya. Serta dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman sehingga peran dari perpustakaan akan tetap ada walaupun dengan terus berkembangnya teknologi. Pengunjung dapat menemukan dan mengakses semua koleksi ini dengan mudah, termasuk melalui komputer yang terhubung ke internet (Islami, 2021). Gagasan Islami (2021) yang menyoroti kemudahan akses koleksi, termasuk melalui internet, memiliki hubungan penting dengan studi tentang pemanfaatan koleksi internasional dalam layanan mancanegara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Aksesibilitas yang tinggi, khususnya melalui platform daring, menjadi elemen mendasar dalam konteks layanan yang melayani pengguna di berbagai lokasi geografis. Sebagaimana yang dijelaskan oleh (Satriadi, 2021) pemanfaatan koleksi adalah proses aktif menggunakan berbagai koleksi yang beragam di perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan informasi pengguna. Dengan memanfaatkan koleksi yang ada diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan perpustakaan berperan dalam memfasilitasi pengguna dalam mencari dan mengakses informasi yang mereka butuhkan. Pemanfaatan koleksi pada suatu perpustakaan akan optimal apabila jumlah koleksi sudah memadai serta jenis koleksi sesuai dengan kebutuhan penggunanya (Sompotan et al., 2023). Hal tersebutlah yang menjadi tugas pustakawan yaitu harus memikirkan dan memutuskan koleksi apa yang paling diminati dan diinginkan oleh pengguna sehingga kebutuhan informasi pengguna dapat terpenuhi dengan baik. Sebagaimana tugas perpustakaan dalam memberikan dan memfasilitasi pemustaka dalam mengakses dan mencari informasi yang terpercaya maka kualitas perpustakaan mempengaruhi kualitas masyarakat yang ada di sekitarnya. Perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang mampu membuat pengunjungnya merasa senang dan ingin datang lagi. Untuk mencapai hal ini, perpustakaan harus menyediakan layanan yang berkualitas tinggi dan menarik. Pelayanan perpustakaan mencakup segala upaya untuk memudahkan pengunjung dalam mengakses dan memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada (Sari et al., 2023). Konseptualisasi Sari et al. (2023) mengenai layanan perpustakaan sebagai totalitas usaha untuk menyederhanakan akses dan menggunakan secara efektif seluruh sumber informasi memiliki hubungan dengan studi ini. Prinsip fasilitasi akses dan pemanfaatan menjadi semakin signifikan dalam konteks layanan mancanegara mengingat adanya kendala geografis serta potensi perbedaan linguistik dan kultural antar pengguna. Dengan memanfaatkan koleksi diharapkan masyarakat mampu mengembangkan pengetahuannya terutama informasi pada kelas dunia untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada pada negara kesatuan Republik Indonesia. Sebagai pusat pengetahuan, perpustakaan menyimpan berbagai koleksi yang dapat diakses oleh masyarakat. Keberadaannya telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan pendidikan maupun institusi lainnya. Tujuan utama perpustakaan adalah memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Oleh karena itu, koleksi yang dimiliki harus relevan dan up-to-date, serta didukung oleh fasilitas yang memadai agar pengguna dapat memanfaatkannya secara optimal (Wahyuntini et al., 2021). Oleh karena itu, perpustakaan perlu secara proaktif mengembangkan koleksinya, terutama yang berkaitan dengan isu-isu global dan kemajuan ilmu pengetahuan terkini, serta menyediakan akses yang mudah dan luas bagi masyarakat. Selain itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mencari, memahami, dan mengevaluasi informasi agar mereka dapat memanfaatkan koleksi secara efektif dan kritis. Menurut (Eskha, 2018) perpustakaan dapat berperan sebagai pendorong utama dalam pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi dan kompetitif, yang mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap kemajuan bangsa dan negara. Koleksi perpustakaan, yang merupakan kumpulan pengetahuan dan informasi, sangat penting dalam memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Menurut (Lumamuly et al., 2019) dengan koleksi yang sesuai dan lengkap, masyarakat dapat mengakses informasi yang mereka butuhkan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, penelitian, dan pengembangan keterampilan. Akses terhadap informasi yang berkualitas ini membantu meningkatkan kemampuan individu dan kelompok, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). SDM yang berkualitas, melalui akses informasi yang baik, akan mendorong terciptanya masyarakat yang berpengetahuan, inovatif, dan kompetitif, yang berkontribusi pada kemajuan negara. Penelitian terdahulu yaitu diambil dari penelitian yang berjudul Analisis Pemanfaatan Koleksi American Corner di Perpustakaan Unand yang disusun oleh Gema Putra Islami dan Habiburrahman tahun 2021. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai bentuk evaluasi serta solusi agar koleksi pada American Corner dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh mahasiswa maupun pemustaka lainnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Layanan American Corner menyediakan berbagai koleksi antara lain majalah, jurnal, laporan dan koran serta koleksi referensi dan buku lainnya. American Corner memiliki beberapa layanan diantaranya layanan volunteer, layanan koleksi, layanan kegiatan dan acara, dan layanan multimedia (Islami, 2021). Penelitian ini berfokus kepada bagaimana pemanfaatan koleksi internasional pada Layanan Mancanegara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan memiliki subjek penelitian yang berbeda dari penelitian sebelumnya. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yaitu fokus koleksi dimana pada penelitian sebelumnya berfokus pada berbagai jenis koleksi di perguruan tinggi sedangkan penelitian ini spesifik pada koleksi internasional di Layanan Mancanegara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Perspektif lebih spesifik dibandingkan dengan penelitian sebelumnya dengan fokus pada koleksi internasional penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam pemahaman bagaimana pengguna memanfaatkan sumber daya informasi dan bagaimana perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia mengenai pemanfaatan koleksi internasional yang dimiliki Perpustakaan Nasional Republik Indonesia melalui analisis mendalam terhadap layanan yang tersedia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan strategi yang lebih efektif dalam memanfaatkan koleksi internasional tersebut. Dengan demikian, masyarakat Indonesia dapat memperoleh akses yang lebih luas terhadap informasi dan pengetahuan mengenai berbagai aspek global, yang relevan dengan kebutuhan dan kepentingan nasional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan koleksi internasional pada Layanan Mancanegara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan untuk mengetahui apa saja kendala yang dihadapi oleh pengguna dalam mengakses koleksi internasional di Layanan Mancanegara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Penelitian ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan informasi bagi pembaca, serta mampu dijadikan sebagai bahan referensi untuk penelitian yang berkaitan. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai perbandingan dalam penelitian dengan tema yang sama pada penelitian selanjutnya serta menjadikan sebagai bahan informasi untuk layanan mancanegara sebagai wadah dalam mengembangkan koleksi yang ada. Rumusan masalah pada penelitian ini ada dua yaitu sebagai berikut: 1) Bagaimana pemanfaatan koleksi internasional pada layanan mancanegara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia? 2) Apa saja kendala yang dihadapi pengguna dalam mengakses dan memanfaatkan koleksi internasional pada layanan mancanegara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia?
Method
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Permana.et.al (2023) menyebutkan bahwa penelitian kualitatif bertujuan untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena atau situasi yang mendalam. Informan dipilih secara purposive sampling, informan dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Subjek penelitian ini adalah yang meliputi pihak-pihak yang terlibat dalam pemanfaatan koleksi internasional di Layanan Mancanegara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Subjek penelitian ini adalah Ketua Kelompok Layanan Mancanegara, serta 1 (satu) orang pustakawan Layanan Mancanegara, 2 (dua) orang mahasiswa, 2 (dua) orang masyarakat umum dan 1 (satu) orang pelajar, yang mewakili setiap kategori pengunjung. Penelitian ini dilakukan di Layanan Mancanegara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tepatnya di Jalan Medan Merdeka Selatan, No.11, Gambir, Kecamatan Gambir Kota Jakarta Pusat. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi serta menggunakan sumber lain seperti buku, artikel, dan penelitian terdahulu. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model Miles & Huberman (2019) yaitu dengan menggunakan teknik: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data merupakan proses krusial yang melibatkan seleksi, pemfokusan, dan penyederhanaan data mentah yang diperoleh dari catatan lapangan atau transkrip wawancara, dengan tujuan untuk mengekstraksi informasi yang relevan. Penyajian data dilakukan melalui representasi data dalam bentuk narasi tekstual, matriks, atau diagram, yang memungkinkan pengorganisasian dan visualisasi data secara sistematis. Penarikan kesimpulan melibatkan interpretasi mendalam terhadap data yang telah disajikan, untuk mengidentifikasi pola, tema, dan makna yang mendasari fenomena yang diteliti. Penelitian deskriptif kualitatif merupakan pendekatan yang tepat untuk menjelaskan fenomena atau konteks yang memiliki kompleksitas tinggi. Metode ini memungkinkan peneliti untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai pengalaman subjektif individu atau kelompok dalam suatu latar kontekstual spesifik Sugiyono, (2019).
Discussion
Peneliti memilih tujuh informan yang merupakan pihak - pihak yang terlibat dalam pemanfaatan koleksi di layanan mancanegara dengan kriteria yang ditentukan, dengan kriteria tersebut akan mempermudah menentukan informan. Kemudian peneliti melakukan wawancara dengan pengguna atau pemustaka serta pustakawan layanan mancanegara dan hasil wawancara dijadikan dasar untuk menjawab masalah penelitian dengan menggunakan beberapa aspek yaitu sebagai berikut: Kunjungan Perpustakaan Data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara diketahui bahwa layanan mancanegara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia memiliki koleksi dari berbagai macam negara. Koleksi yang dimiliki oleh layanan mancanegara sampai dengan September 2024 yaitu sebanyak 14.969 judul dan 15.467 koleksi. Koleksi yang tersedia merupakan koleksi dari 116 negara, 12 benua dan 2 pojok khusus Kazakhstan Corner dan Window on Korea. Data tersebut merupakan data stock op name terbaru dari layanan mancanegara sendiri. Dengan jumlah koleksi yang ada, layanan mancanegara diharapkan mampu memberikan layanan informasi dengan maksimal agar koleksi yang tersedia dapat terpakai oleh pemustaka. Pemustaka yang datang ke layanan mancanegara dibedakan menjadi tiga kategori yaitu; Masyarakat Umum, Mahasiswa dan juga Pelajar. Berikut merupakan rincian jumlah pengunjung di Layanan Mancanegara sejak tahun 2023 hingga 2024. Tabel 1: Jumlah pengunjung Layanan Mancanegara Tahun 2023-2024 Berdasarkan tabel di atas terlihat perbedaan tingkat kunjungan data menunjukkan bahwa mahasiswa adalah kelompok yang paling sering mengunjungi fasilitas ini selama dua tahun terakhir, disusul oleh pengunjung umum dan pelajar. Hal ini menunjukkan bahwa layanan dan fasilitas yang disediakan lebih banyak diminati oleh kalangan mahasiswa. Namun, menariknya, jumlah kunjungan mahasiswa mengalami penurunan di tahun 2024, sementara pengunjung umum justru meningkat. Sebaliknya, jumlah kunjungan pelajar juga mengalami penurunan. Hal tersebut disebabkan oleh adanya fenomena yang mempengaruhi kunjungan di layanan mancanegara. Berdasarkan hasil wawancara dengan pustakawan menyebutkan fenomena yang mempengaruhi kunjungan pada layanan mancanegara yaitu adalah isu-isu yang sedang diperbincangkan di dunia. Pada saat isu-isu tersebut menjadi topik utama maka masyarakat akan lebih tertarik untuk berkunjung, sebaliknya ketika tidak adanya isu pengunjung yang datang merupakan pengunjung aktifnya saja. Faktor-faktor penyebab adanya penurunan kunjungan berdasarkan kategori disebabkan oleh beberapa alasan. Untuk kategori pelajar dari data diatas menunjukkan adanya penurunan yang signifikan dalam jumlah pelajar yang mengunjungi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dari tahun ke tahun. Pola kunjungan yang teramati mengindikasikan bahwa motivasi utama pelajar untuk datang ke perpustakaan adalah untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru mereka. Hal ini terlihat dari dominasi kunjungan kelompok pelajar yang didampingi guru, sementara kunjungan individu di luar konteks penugasan sangat jarang terjadi, terutama dalam pemanfaatan koleksi internasional. Sedangkan untuk kategori mahasiswa yaitu terlihat adanya penurunan jumlah mahasiswa yang mengunjungi perpustakaan. Menariknya, penurunan ini berbanding terbalik dengan periode ujian akhir semester. Artinya, ketika ujian semakin dekat, jumlah kunjungan justru meningkat pesat, mencapai puncaknya pada bulan-bulan menjelang ujian. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung memanfaatkan perpustakaan hanya ketika ada kebutuhan mendesak, yaitu untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian. Penelusuran Koleksi Internasional Berdasarkan hasil wawancara dengan para pengguna, terlihat bahwa cara yang paling umum digunakan untuk mencari koleksi internasional adalah dengan mengakses katalog Online Public Access Catalog (OPAC) secara langsung di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Kebanyakan pengguna memilih untuk datang langsung ke perpustakaan untuk melakukan pencarian. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan akses terhadap sumber daya digital di tempat lain, serta kepercayaan yang lebih tinggi terhadap kelengkapan dan akurasi data yang terdapat di OPAC Perpustakaan Nasional. Dengan mendatangi langsung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pemustaka mengungkapkan akan mendapatkan arahan oleh pustakawan di layanan sehingga lebih mudah untuk mendapatkan koleksi yang mereka inginkan. Dengan mendatangi OPAC yang tersedia pada layanan informasi pada lantai 2 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pemustaka akan diarahkan untuk mencari koleksi sesuai dengan kata kunci bisa menggunakan judul, subjek, nomor panggil, pengarang, penerbit, serta nomor ISBN/ISSN/ISMN. Langkah selanjutnya mereka akan langsung mendatangi layanan mancanegara untuk mencari koleksi internasional yang mereka inginkan dengan mencari secara langsung di rak yang tersedia dan jika tidak menemukan koleksi yang diinginkan baru mereka akan meminta bantuan pustakawan layanan mancanegara. Online Public Access Catalog (OPAC) di layanan mancanegara memiliki dua OPAC yaitu OPAC utama Perpustakaan Nasional dan khusus untuk layanan mancanegara. Akan tetapi OPAC yang satu hanya bisa diakses melalui komputer yang disediakan pada Layanan Mancanegara. Pustakawan layanan mancanegara menjelaskan bahwa memang koleksi yang ada terkoneksi pada OPAC utama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sedangkan untuk OPAC yang berada di layanan memang khusus untuk koleksi pada layanan mancanegara saja. Untuk OPAC khusus pada layanan mancanegara hanya bisa digunakan oleh pustakawan saja. Untuk pemustaka tetap menggunakan OPAC Perpustakaan Nasional yang utama, hal tersebut dilakukan untuk menghindari adanya human error pada website atau server down. Kedua OPAC yang digunakan tidak memiliki perbedaan dari segi fiturnya. Perbedaan tersebut terletak pada koleksi yang tersedia di sistem OPAC karena pada OPAC layanan data koleksi cenderung lebih rinci mulai dari pembagian-pembagian koleksi berdasarkan subjek yaitu negara, kawasan, dan benua atau bahkan pecahan negara-negara kecil pada suatu kawasan dan benua. Sedangkan OPAC pada utama masih kurang lengkap dibandingkan dengan OPAC layanan dikarenakan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia membedakan OPAC untuk setiap layanan yang ada. OPAC utama digunakan untuk mencari koleksi tetapi tidak bisa melakukan penelusuran terhadap koleksi secara rinci. Pemanfaatan Koleksi Internasional Hasil penelitian menunjukkan bahwa para informan memiliki pemahaman yang cukup baik tentang koleksi buku-buku asing yang ada di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Mereka umumnya berpendapat bahwa koleksi tersebut sangat beragam dan mencakup berbagai topik menarik tentang negara-negara di dunia. Beberapa informan menyebutkan contoh-contoh buku seperti buku tentang pariwisata atau sejarah. Hal ini menunjukkan bahwa upaya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam menyebarkan informasi tentang koleksi buku-buku asingnya sudah cukup efektif. Secara umum, para informan penelitian menganggap bahwa keberadaan koleksi buku-buku asing di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sangat penting. Mereka berpendapat bahwa koleksi ini sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang berbagai negara di dunia. Beberapa informan bahkan menyebutkan bahwa koleksi ini sangat berguna untuk penelitian atau studi. Kesimpulannya, para peserta menyadari bahwa koleksi buku-buku asing di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pemahaman yang lebih luas tentang dunia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kendala utama yang dihadapi informan dalam memanfaatkan koleksi internasional adalah hambatan bahasa. Sebagian besar menganggapnya sebagai penghalang yang signifikan dalam mengakses informasi. Namun, sebagian lainnya justru melihatnya sebagai peluang untuk mengembangkan kemampuan berbahasa. Selain kendala bahasa, kebijakan peminjaman buku juga menjadi kendala yang perlu diperhatikan. Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, informan memberikan beberapa saran. Pertama, mereka mengusulkan perluasan akses terhadap koleksi internasional melalui pelonggaran kebijakan peminjaman. Kedua, mereka menyarankan peningkatan kemampuan berbahasa melalui kegiatan membaca yang intensif. Ketiga, mereka mengusulkan penyediaan buku berbahasa Indonesia yang relevan dengan topik internasional dan alat bantu belajar bahasa. Terakhir, mereka menyarankan pengembangan alat bantu khusus untuk memudahkan akses terhadap koleksi internasional. Selain itu dari pihak layanan akan membantu pemustaka yang mengalami kendala bahasa dengan mendampingi pemustaka dalam mencari koleksi yang diinginkan. Terkait fleksibelitas peminjaman koleksi tidak dapat dilakukan karena koleksi yang tersedia merupakan koleksi khusus. Pemanfaatan koleksi internasional di layanan mancanegara dilihat dengan menggunakan teori faktor pemanfaatan koleksi yaitu faktor internal; Kebutuhan, Minat, dan Motif. Faktor eksternal; Kelengkapan Koleksi, Keterampilan Pustakawan, dan Keterbatasan Fasilitas Andi Asari et.,al, (2023). Faktor Internal 1. Kebutuhan Kebutuhan informasi setiap individu berbeda-beda dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Hasil penelitian menunjukan pemahaman para informan mengenai kebutuhan informasi menunjukkan keragaman namun saling melengkapi. Secara umum, mereka sepakat bahwa seseorang merasakan kebutuhan akan informasi ketika ingin memperoleh data, fakta, atau pemahaman baru untuk menyelesaikan masalah, memuaskan rasa ingin tahu, atau menambah wawasan. Kebutuhan ini seringkali bersifat mendesak, terutama saat seseorang perlu mengambil keputusan atau menyelesaikan tugas tertentu. Selain itu, beberapa informan menghubungkan kebutuhan informasi dengan proses belajar dan pengembangan diri. Pernyataan ini konsisten dengan pandangan Yusup (2016), yang mengemukakan bahwa kebutuhan terbagi atas 5 kategori yaitu: kognitif, efektif, integrasi personal, integrasi sosial, dan kebutuhan berhayal. Hal ini sudah melekat sejak awal yang berhubungan dengan dorongan untuk mengakuisisi dan mengintegrasikan informasi, pengetahuan, serta pemahaman yang lebih mendalam mengenai lingkungan seseorang. Hasil wawancara menunjukkan bahwa para informan umumnya mencari informasi spesifik tentang sejarah, budaya, dan kondisi sosial politik negara-negara asing, terutama di kawasan Asia seperti Korea Selatan, Jepang, dan Turki. Minat mereka juga mencakup informasi geografis seperti peta dan sejarah bangsa-bangsa di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa koleksi Layanan Mancanegara Perpustakaan Nasional RI telah berhasil menarik minat masyarakat yang ingin memperluas pengetahuan mereka tentang berbagai negara dan budaya. Secara umum, para informan memberikan penilaian positif terhadap kelengkapan koleksi yang tersedia di Layanan Mancanegara Perpustakaan Nasional RI. Sebagian besar menyatakan bahwa koleksi tersebut sudah cukup atau bahkan sangat lengkap untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka. Namun, ada juga yang menyarankan agar koleksi diperbarui secara berkala. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun koleksi saat ini sudah baik, namun dinamika informasi yang cepat menuntut adanya pembaruan agar koleksi tetap relevan dan up-to-date. Sama dengan dengan pendapat wawancara yang dilakukan dengan pustakawan pada layanan mancanegara terlihat jelas tiga tujuan utama pengguna dalam mengakses sumber daya yang tersedia. Pertama mahasiswa, dimana alasan mereka menggunakan koleksi adalah untuk memenuhi kebutuhan akademik seperti tugas kuliah dan tugas sekolah serta kebutuhan pribadi untuk sekedar menambah pengetahuan. Kedua pelajar, untuk pemustaka dengan kategori pelajar mereka akan diajak untuk belajar langsung oleh guru mereka ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk mencari informasi sebagai sumber belajar untuk informasi yang sering mereka cari di layanan mancanegara sendiri yaitu sejarah pada suatu negara atau kawasan. Mereka akan disuruh merangkum satu buku yang membahas sejarah dari masing - masing negara yang telah ditentukan oleh guru mereka. Ketiga untuk kategori pemustaka masyarakat umum mereka biasanya mencari koleksi untuk sekedar menambah pengetahuan saja atau sekadar menikmati pengalaman membaca tanpa adanya tujuan yang spesifik seperti pemustaka mahasiswa dan juga pelajar. 2. Minat Hasil penelitian menunjukkan bahwa para informan umumnya tertarik pada informasi spesifik tentang sejarah, budaya, dan kondisi sosial politik negara-negara di Asia, terutama Korea Selatan, Jepang, dan Turki. Selain itu, beberapa peserta juga tertarik pada informasi geografis seperti peta dan sejarah bangsa-bangsa di dunia. Minat yang tinggi ini menunjukkan bahwa koleksi yang dimiliki Layanan Mancanegara Perpustakaan Nasional RI berhasil menarik perhatian masyarakat yang ingin memperkaya pengetahuan mereka tentang berbagai negara dan budaya di dunia. Sejalan dengan pendapat Sutarno, (2016) Minat dapat didefinisikan sebagai kecenderungan afektif yang kuat atau preferensi kognitif yang signifikan terhadap suatu objek, aktivitas, atau konsep, seringkali disertai dengan tingkat antusiasme dan keinginan yang tinggi. Penggunjung umumnya menilai keberadaan koleksi di Layanan Mancanegara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sangat penting. Mereka berpendapat bahwa koleksi ini berperan krusial dalam membuka wawasan dan memperluas pengetahuan tentang berbagai negara di dunia, khususnya dalam hal sejarah, politik, budaya, dan pariwisata. Selain itu, beberapa informan juga menekankan bahwa koleksi ini sangat berguna sebagai sumber informasi untuk penelitian dan studi. Dengan demikian, para informan menyadari bahwa koleksi ini memiliki nilai strategis dalam mendukung pengembangan intelektual dan pemahaman yang lebih luas tentang dunia. Berdasarkan hasil wawancara dengan pustakawan Layanan Mancanegara mengatakan bahwa koleksi yang paling diminati berdasarkan wilayah adalah Asia Timur dimana negara Jepang, Korea dan Mongolia menjadi subjek yang selalu memasuki sepuluh negara yang paling sering dicari oleh pemustaka. Hal tersebut didukung oleh data pencarian dan peminjaman yang ada di layanan. Dimana setiap satu tahun sekali akan dilihat koleksi apa saja yang paling diminati oleh pemustaka sebagai pertimbangan untuk pengadaan koleksi di tahun berikutnya. Serta sebagai bahan evaluasi terhadap kualitas koleksi yang tersedia di Layanan Mancanegara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 3. Motif Penggunaan koleksi internasional di Layanan Mancanegara Perpustakaan Nasional oleh mahasiswa didorong oleh tiga faktor utama. Pertama, koleksi tersebut menawarkan materi yang unik dan tidak tersedia di layanan lain. Kedua, Perpustakaan Nasional memiliki akses eksklusif ke beberapa koleksi yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Ketiga, mahasiswa membutuhkan informasi yang komprehensif untuk memahami kondisi sosio-politik, ekonomi, dan budaya negara-negara lain. Kombinasi dari faktor-faktor ini menjadikan Layanan Mancanegara sebagai sumber informasi yang sangat penting bagi mahasiswa. Pemanfaatan koleksi internasional di Layanan Mancanegara Perpustakaan Nasional oleh pelajar didorong oleh dua faktor utama. Pertama, pelajar memiliki dorongan rasa ingin tahu intelektual yang kuat, dipicu oleh materi pembelajaran baru yang membangkitkan minat mereka untuk menjelajahi negara-negara lain. Kedua, kemudahan aksesibilitas koleksi yang terkumpul dalam satu lantai memungkinkan pelajar untuk mengaksesnya secara fleksibel tanpa batasan waktu yang signifikan. Hasil penelitian mengungkapkan berbagai alasan yang mendorong para informan untuk memanfaatkan koleksi Layanan Mancanegara Perpustakaan Nasional RI. Secara umum, tujuan utama mereka adalah memperkaya pengetahuan dan wawasan tentang berbagai negara di dunia. Beberapa informan tertarik untuk mempelajari budaya dan bahasa negara tertentu, sementara yang lainnya membutuhkan koleksi ini untuk menunjang penelitian atau studi akademik. Bahkan, ada pula yang sekedar ingin membaca dan mengoleksi buku-buku dari berbagai negara sebagai hobi. Hal ini menunjukkan bahwa koleksi tersebut tidak hanya bermanfaat bagi kalangan akademisi, tetapi juga menarik minat masyarakat luas yang ingin menambah pengetahuan dan pengalaman. Sejalan dengan pendapat Sutarno, (2016) yang menyatakan motif adalah dorongan yang terikat pada tujuan. Para informan memberikan berbagai masukan mengenai kelengkapan koleksi di layanan mancanegara. Sebagian besar merasa koleksi yang ada sudah memadai, namun beberapa usulan penambahan diajukan. Salah satunya adalah permintaan akan lebih banyak literatur asli dari negara-negara yang bersangkutan. Hal ini menunjukkan keinginan informan untuk mengakses sumber informasi yang lebih primer dan autentik. Selain itu, ada juga usulan untuk menambah koleksi tentang negara-negara kecil yang mungkin kurang terwakili. Hal tersebut disetujui oleh pustakawan pada layanan mancanegara karena koleksi yang tersedia belum menyediakan koleksi- koleksi dari seluruh dunia masih banyak negara-negara kecil yang belum diadakan koleksinya. Faktor Eksternal 1. Kelengkapan Koleksi Kelengkapan koleksi diartikan sebagai ketersediaan, penataan, dan pengorganisasian koleksi perpustakaan berdasarkan sistem klasifikasi yang sistematis. Tujuan utamanya adalah untuk memfasilitasi pengguna dalam proses penelusuran, identifikasi, dan pengumpulan informasi yang relevan dengan kebutuhan mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para informan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kelengkapan koleksi yang tersedia di layanan mancanegara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Sebagian besar informan merasa bahwa koleksi tersebut sudah cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka. Hal ini sejalan dengan teori Sutarno, (2016) yang menyatakan koleksi perpustakaan hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan pengguna perpustakaan. Beberapa informan juga menyarankan adanya perluasan koleksi, terutama untuk mencakup negara-negara yang kurang terwakili. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun koleksi saat ini sudah baik, namun masih terdapat potensi untuk ditingkatkan agar dapat memenuhi kebutuhan yang lebih beragam. Hal tersebut selaras dengan pendapat pustakawan di layanan mancanegara untuk menyediakan koleksi khususnya pada negara-negara kecil yang jarang diketahui oleh masyarakat sehingga masyarakat dapat mengetahui berbagai informasi dari berbagai negara di dunia meskipun negara kecil yang jarang diketahui. Dimana berdasarkan hasil wawancara dengan pustakawan memiliki target untuk menyediakan koleksi sebanyak 195 negara dari yang kini tersedia berjumlah 119 negara, 12 benua. Masih banyak koleksi dari negara-negara yang belum tersedia di layanan mancanegara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Pengadaan koleksi dilakukan setiap tahun dengan mempertimbangkan beberapa hal. Buku yang sering dicari akan diajukan untuk penambahan eksemplar hal ini dilihat dari data statistik yang ada pada layanan untuk memilih buku apa yang sering dibaca oleh pemustaka berdasarkan kategori. Akan tetapi berdasarkan hasil wawancara dengan pustakawan layanan mengungkapkan bahwa koleksi yang diadakan kurang sesuai dengan permintaan dari pihak layanan dan juga pemustaka. 2. Keterampilan Pustakawan Keterampilan pustakawan didefinisikan sebagai kapasitas untuk memberikan pelayanan dan berinteraksi secara efektif dengan pengguna perpustakaan, baik melalui komunikasi verbal maupun non-verbal, dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para informan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap peran pustakawan dalam membantu mereka menemukan informasi yang dibutuhkan di koleksi internasional. Mereka mengakui bahwa pustakawan memiliki peran yang sangat krusial, terutama dalam membantu menemukan sumber-sumber informasi yang sulit diakses secara mandiri. Hal ini mengindikasikan bahwa pustakawan telah berhasil menjalankan tugasnya sebagai pemandu informasi. Meskipun demikian, terdapat satu masukan dari informan terkait pentingnya peningkatan kemampuan pustakawan dalam mengingat lokasi koleksi. Meskipun kemampuan ini mungkin tidak kritikal di era digital saat ini, masukan tersebut dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk meningkatkan efisiensi layanan, misalnya dengan menyediakan petunjuk yang lebih detail atau memperbarui sistem pencatatan secara berkala. Dapat disimpulkan bahwa kemampuan komunikasi pustakawan yang ditandai dengan sikap ramah saat melayani pengguna memegang peranan krusial. Kehangatan dalam interaksi ini menciptakan kesan positif yang secara signifikan dapat mempengaruhi keputusan pengguna untuk memanfaatkan koleksi perpustakaan. Sejalan dengan pandangan Riffaudin M, (2017) sikap pustakawan memiliki pengaruh substantif baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap pengalaman dan keputusan pemustaka. Menurut salah satu informan yang merupakan ketua kelompok layanan mancanegara mengatakan bahwa untuk saat ini sumber daya manusia yang ada pada layanan mancanegara sudah cukup, dimana pada layanan mancanegara memiliki empat pegawai untuk keseluruhan. Akan tetapi beliau berharap adanya penambahan pegawai untuk meningkatkan kualitas layanan mancanegara kedepannya. Selain itu keterampilan yang harus ditingkatkan pustakawan layanan mancanegara adalah meningkatkan kemampuan dalam menghafal letak koleksi berdasarkan subjek dan juga nomor klasifikasi. Hal tersebut dianggap penting karena kemampuan tersebut merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang pustakawan untuk membantu pemustaka dalam pencarian koleksi. 3. Keterbatasan Fasilitas Aksesibilitas fasilitas penunjang seperti internet, perangkat komputer, serta lingkungan yang mendukung berperan krusial dalam mengoptimalkan pemanfaatan koleksi perpustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para informan memberikan penilaian positif terhadap fasilitas yang tersedia di layanan mancanegara. Mereka umumnya berpendapat bahwa fasilitas yang disediakan sudah cukup baik dan lengkap untuk mendukung kegiatan belajar dan penelitian mereka. Adanya area khusus yang dirancang untuk membaca dan mengerjakan tugas semakin memperkuat kesan positif ini. Secara umum, para informan merasa puas dengan kemudahan dalam memanfaatkan fasilitas yang ada untuk mencari informasi. Menurut Prastowo, (2017) prasarana perpustakaan merujuk pada seluruh fasilitas esensial yang mendukung dan memungkinkan terlaksananya kegiatan pelayanan perpustakaan secara optimal. Beberapa informan menyebutkan bahwa mereka kadang kesulitan menemukan buku tertentu karena sudah dipinjam oleh pengguna lain. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun fasilitas sudah memadai, perlu adanya upaya untuk meningkatkan ketersediaan koleksi, terutama untuk judul-judul yang populer. Para informan menunjukkan pemahaman yang baik tentang berbagai sumber informasi yang dapat mereka gunakan untuk mencari koleksi internasional. Mereka menyebutkan berbagai media, mulai dari yang konvensional seperti katalog dan buku, hingga yang modern seperti komputer, internet, dan media sosial. Penggunaan istilah-istilah seperti "digital elektronik" dan "media offline dan online" menunjukkan bahwa mereka sadar akan perbedaan antara sumber informasi fisik dan digital. Ketika ditanya tentang perbandingan kualitas koleksi internasional di layanan mancanegara dengan sumber informasi lainnya, para informan memberikan jawaban yang beragam. Meskipun tidak ada perbandingan yang eksplisit, beberapa informan cenderung lebih menyukai koleksi di layanan mancanegara karena
Conclusion
Meskipun koleksi internasional di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menunjukkan potensi signifikan dan memenuhi kebutuhan pengguna inti, pemanfaatannya belum optimal. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan cakupan koleksi terutama negara-negara kecil, pola kunjungan yang tidak stabil, serta kendala bahasa dan kebijakan peminjaman. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan, diperlukan strategi akuisisi koleksi yang lebih responsif, inisiatif proaktif untuk menarik pengguna berkelanjutan, dan evaluasi ulang kebijakan akses serta fasilitas pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koleksi ini sangat diminati, khususnya oleh kalangan mahasiswa. Kendati demikian, terdapat sejumlah kendala yang dihadapi pengguna, seperti hambatan bahasa dan keterbatasan koleksi. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa faktor internal seperti kebutuhan, minat, dan motif pengguna, serta faktor eksternal seperti kelengkapan koleksi dan keterampilan pustakawan, secara signifikan mempengaruhi pemanfaatan koleksi. Meskipun koleksi dinilai cukup lengkap, namun terdapat potensi peningkatan, terutama dalam hal representasi negara-negara kecil dan pembaruan koleksi. Pustakawan memiliki peran krusial dalam membantu pengguna, namun perlu peningkatan dalam hal penyediaan petunjuk yang lebih detail dan pembaruan sistem pencatatan. Secara keseluruhan, koleksi internasional memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, namun perlu upaya lebih lanjut untuk mengatasi kendala dan meningkatkan sosialisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para informan memberikan sejumlah masukan yang sangat berharga terkait upaya meningkatkan minat masyarakat terhadap koleksi internasional di Layanan Mancanegara. Secara umum, informan menyarankan perlunya intensifikasi sosialisasi, fleksibilitas dalam layanan peminjaman, dan upaya untuk membuat koleksi internasional lebih menarik dan relevan. informan mengusulkan agar perpustakaan melakukan sosialisasi yang lebih gencar melalui berbagai media, serta mempermudah akses masyarakat terhadap koleksi. Selain itu, penggunaan media visual dan penyediaan buku berbahasa Indonesia dari koleksi internasional juga dianggap penting untuk menarik minat yang lebih luas.