Tabel Pokok Bahasan sebagai Alat Bantu Pencarian Buku Pelajaran di Perpustakaan Sekolah Menengah Atas
SMA Negeri 8 Yogyakarta; SMA Negeri 8 Yogyakarta
Abstrak
Salah satu konsekuensi pergantian kurikulum di jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah pergantian buku pelajaran yang akan digunakan oleh para siswa. Hal ini tidak jarang merepotkan perpustakaan sekolah, khususnya dalam menyediakan buku pelajaran sesuai kurikulum terbaru dengan anggaran yang cenderung terbatas. Analisis secara mendalam menunjukkan bahwa materi-materi pelajaran kurikulum terbaru tidak jauh berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun tabel pokok bahasan pada beberapa mata pelajaran sesuai Kurikulum 2013 (revisi 2016) jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA)/sederajat. Menggunakan tabel tersebut, koleksi buku pelajaran pada kurikulum sebelumnya (Kurikulum 2013/Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006/Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004) yang masih tersedia di perpustakaan sekolah tetap dapat dimanfaatkan oleh para pemustaka. Kata Kunci: buku pelajaran, kurikulum baru, MIPA, perpustakaan sekolah.
Abstract
The change of the curriculum is one of the reasons behind the need to change the circulating books in the school library, especially in the elementary and secondary school. This condition often become important problem, since the library must spent much of its budget to buy the new books and provide enough space to keep the new books. On the other hand, further analysis show that the contents of the new curricula are similar to the previous curricula. In this research we construct "topic tables" in several subjects according to the 2013 Curriculum (with revision in 2016) at the level of Senior High School. Using this table, the book collection according the previous curriculum (i.e. the 2013 Curriculum, the Education Unit Level Curriculum 2006, and the Competence Based Curriculum 2004) could be used by the students, especially in the school library. Keywords: school books, new curriculum, science, school library
Keywords:
school books
· new curriculum
· science
· school library
Introduction
Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu tujuan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagaimana tercantum dalam alinea IV pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia 1945. Secara lebih jelas, pasal 31 UUD 1945 ayat 3 juga menyatakan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Salah satu bentuk usaha pemerintah dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional adalah dengan menetapkan kurikulum. Menurut Susilana dkk. (2006), istilah kurikulum berasal dari kata latin curere yang berarti tempat berpacu, yakni jarak yang harus ditempuh seorang pelari dari start sampai dengan finish untuk memperoleh penghargaan. Berdasarkan pengertian tersebut, kurikulum dapat dipahami sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh seorang siswa dari awal hingga akhir program pelajaran untuk memperoleh ijazah. Pengertian lain yang lebih luas mengenai kurikulum dikemukakan oleh Hilda (dalam Ali, 2008), yang menyebutkan bahwa kurikulum merupakan rencana pembelajaran (a plan for learning), sehingga tersusun oleh hal-hal yang diketahui terkait dengan proses pembelajaran maupun perkembangan individu. Lebih lanjut, Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, materi/isi atau bahan pelajaran, serta metode cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Secara umum, suatu kurikulum memuat pokok-pokok bahasan serta standar yang harus dipenuhi oleh siswa pada setiap periode dalam setiap jenjang pendidikan. Sampai dengan tahun 2018, pemerintah Republik Indonesia telah melakukan perom-bakan kurikulum sebanyak delapan kali (Wirianto, 2014). Kurikulum pertama yang berbahasa Indonesi, yakni kurikulum 1947, berturut-turut diganti dengan kurikulum 1968 lalu menjadi kurikulum 1975. Sejak saat itu, pergantian kurikulum berlangsung tiap sekitar 10 tahun, yang ditandai dengan munculnya kurikulum 1984, diikuti oleh kurikulum 1994 yang kemudian disempurnakan pada tahun 1999 (Khanafi, 2013). Pada tahun 2002, terjadi perubahan sistem tahun ajaran di jenjang pendidikan dasar dan menengah dari model catur wulan (cawu) menjadi model semester. Perubahan kebijakan pasca reformasi memungkinkan sejumlah sekolah di Indonesia mengadopsi kurikulum internasional, misalnya kurikulum International Baccalaureate (IB), kurikulum internasional Cambridge, kurikulum International Primary (IPC), dan berbagai kurikulum lainnya (https://squlio.com/kurikulum-internasional-di-indonesia/ diakses pada tanggal 30 Juni 2018). Pada tahun 2004, muncullah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang hanya berusia dua tahun, dan digantikan oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun 2006 (Widuri, 2012). Pada tahun 2013, kurikulum baru yang disebut sebagai "Kurikulum 2013" dengan segala kontroversinya diperkenalkan dan diujicobakan pada sejumlah sekolah. Pada waktu itu, sekolah-sekolah yang tidak menjadi lokasi uji coba Kurikulum 2013 tetap menggunakan KTSP 2006. Kurikulum 2013 ini ternyata juga hanya berumur singkat, karena pada tahun 2016 muncul Peraturan Menteri Pendidikan Republik Indonesia nomor 20, 21, 22, dan 23 tahun 2016 berturut-turut tentang Standar Kelulusan, Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian yang memuat revisi besar atas kurikulum 2013. Dewasa ini, kurikulum 2013 revisi 2016 inilah yang digunakan secara luas di Indonesia. Pergantian kurikulum dalam waktu singkat, baik dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum 2013 revisi 2016 maupun dari KBK 2004 ke KTSP 2006 menimbulkan kebutuhan buku-buku pelajaran yang sesuai dengan kurikulum terbaru. Perpustakaan sekolah sebagai salah satu unit kerja dengan tugas menyediakan informasi yang menunjang keberhasilan kegiatan belajar mengajar di sekolah tentu perlu menyediakan buku-buku pelajaran ini sesuai dengan jumlah siswa yang ada (Komariah, 2009; Rosyada, 2004). Terlebih, perpustakaan sekolah juga dipandang sebagai sumber ilmu pengetahuan, pusat kegiatan belajar, dan sumber ide-ide baru bagi warga sekolah (Mangnga, 2015). Riset menunjukkan bahwa ketidaklengkapan koleksi merupakan salah satu hambatan dalam upaya meningkatkan minat kunjung siswa ke perpustakaan sekolah (Yusuf, 2017). Padahal, Nuriyah (2017) menyebutkan bahwa ketersediaan koleksi di perpustakaan sekolah berkorelasi positif secara signifikan terhadap kunjungan siswa maupun prestasi belajar. Bagi sekolah-sekolah dengan anggaran perpustakaan terbatas, pengadaan buku-buku sesuai kurikulum terbaru dapat menjadi beban yang cukup berat. Di satu sisi, terdapat buku-buku terbitan pemerintah yang dapat dibeli dengan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Di sisi lain, buku buku terbitan pemerintah sesuai Kurikulum 2013 revisi 2016 untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) hanya tersedia pada kelompok mata pelajaran wajib, yakni Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Seni Budaya, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Tidak diterbitkannya buku-buku mata pelajaran peminatan oleh Pemerintah menyebabkan perpustakaan sekolah perlu membeli buku terbitan swasta, yang tidak jarang memiliki harga lebih tinggi dibandingkan buku-buku terbitan pemerintah. Beban anggaran tersebut semakin terasa berat bila perpustakaan sekolah diminta menyediakan buku-buku berkualitas tinggi sejumlah seluruh siswa di sekolah tersebut. Di samping kendala anggaran, tidak jarang perpustakaan sekolah hanya memiliki kapasitas ruang yang terbatas. Akibatnya, penggantian koleksi dengan buku-buku kurikulum terbaru tentu menyebabkan perpustakaan harus segera melakukan penyiangan koleksi demi menyediakan ruang bagi buku-buku baru. Penyiangan koleksi yang terlalu sering atau dilakukan dalam waktu singkat (umur buku cukup pendek) tentu bukanlah pilihan yang menyenangkan, apalagi bila kondisi buku masih cukup baik dan layak dibaca. Perpustakaan juga tidak dapat menjual buku-buku pelajaran tersebut dengan harga yang layak, mengingat pergantian kurikulum menyebabkan buku-buku tersebut dianggap usang. Terdapat kerugian materi dan waktu bila buku-buku pelajaran tersebut harus disiangi dalam kondisi utuh. Di sisi lain, bila melihat singkatnya masa berlaku kurikulum 2013, tidak ada jaminan bahwa buku-buku kurikulum 2013 revisi 2016 akan dipergunakan dalam jangka waktu lama. Buku pelajaran Kurikulum 2013 yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun telah mengalami revisi dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, diperlukan solusi agar buku-buku kurikulum lama yang masih relevan di perpustakaan sekolah tetap dapat dimanfaatkan oleh para pemustaka, khususnya para siswa, sebagai buku penunjang pelajaran. Kajian mendalam pada kompetensi inti masing-masing mata pelajaran menunjukkan bahwa perubahan kurikulum hanya menyebabkan perubahan urutan penyampaian suatu pokok bahasan dalam suatu mata pelajaran. Sebagai contoh, materi Fungsi Komposisi dan Fungsi Invers yang mula-mula diberikan dalam mata pelajaran Matematika kelas XI semester II, pada kurikulum terbaru diberikan dalam mata pelajaran Matematika kelas X. Contoh lain, materi Kimia Organik dan Minyak Bumi yang mula-mula diberikan di kelas X, dalam kurikulum 2013 revisi 2016 disampaikan di kelas XI semester I. Oleh karena itu, masuk akal bila buku-buku pelajaran dalam kurikulum lama masih dapat dimanfaatkan oleh para siswa sebagai penunjang pelajaran. Tantangan utama dalam menggunakan buku pelajaran kurikulum lama adalah menemu-kan buku yang memuat pokok bahasan tertentu. Diperlukan upaya untuk memudahkan siswa menemukan buku pelajaran yang memuat pokok bahasan tertentu. Proses ini, yang dapat dipandang sebagai proses penelusuran pustaka atau bantuan pemustaka, tentu merupakan tugas pustakawan (Wahyuni, 2015). Di sisi lain, luasnya ruang lingkup mata pelajaran maupun banyaknya mata pelajaran di tingkat sekolah menengah menyebabkan pustakawan sekolah akan menghadapi kesulitan untuk menghafalkan seluruh pokok bahasan. Banyaknya siswa yang memerlukan bantuan untuk penelusuran pustaka juga merupakan tantangan, terlebih bila pustakawan yang ada juga merangkap sebagai guru mata pelajaran sehingga tidak dapat selalu berada di perpustakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan sebaran materi pelajaran jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) berdasarkan buku-buku pelajaran dari beberapa kurikulum yang seringkali masih tersedia di perpustakaan sekolah, yakni kurikulum 2013, kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) 2006, kurikulum berbasis kompetensi (KBK) 2004, dan kurikulum 1994 dengan suplemen GBPP 1999. Data sebaran materi ini dapat digunakan oleh pustakawan maupun para pemustaka untuk mencari buku yang memuat pokok bahasan terten-tu sesuai kurikulum 2013 revisi 2016. Dengan demikian, perpustakaan sekolah yang belum memiliki buku-buku sesuai kurikulum 2013 revisi 2016 dapat menggunakan buku-buku yang telah tersedia secara lebih optimal.
Method
Penelitian ini bersifat kualitatif, dilakukan dengan metode telaah pustaka dan dokumen-tasi pada buku-buku pelajaran tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah (MA). Sebagai bahan dalam riset ini adalah buku mata pelajaran kelas X, kelas XI, dan kelas XII SMA sesuai Kurikulum 2013 revisi 2016, buku mata pelajaran sesuai kurikulum 2013, buku mata pelajaran sesuai kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) 2006, buku mata pelajaran sesuai kurikulum berbasis kompetensi (KBK) 2004, dan buku mata pelajaran sesuai kurikulum 1994 dengan suplemen GBPP 1999. Walaupun belum ada penelitian empiris mengenai rata-rata usia buku di perpustakaan sekolah, berdasarkan pengalaman peneliti buku-buku pelajaran yang berusia di bawah 20 tahun masih dapat dijumpai di sejumlah perpustakaan sekolah dalam kondisi relatif baik. Buku-buku yang telah dipilih kemudian dianalisis untuk melihat sebaran pokok bahasan pada setiap jenjang dan setiap mata pelajaran. Berdasarkan tabel Kompetensi Inti Kurikulum 2013 revisi 2016, dibentuk tabel-tabel sebaran pokok bahasan tiap mata pelajaran. Sebaran pokok bahasan pada kurikulum terbaru ini kemudian dicocokkan dengan sebaran pokok bahasan pada buku-buku pelajaran dari kurikulum yang berlaku pada periode sebelumnya. Guna menghindari konflik kepentingan dengan perusahaan/lembaga penerbit buku pelajaran maupun penulis buku pelajaran, identitas buku yang digunakan tidak dicantumkan dalam artikel ini.
Discussion
Dalam pembahasan ini akan disajikan kesetaraan pokok bahasan dalam mata pelajaran Biologi, Kimia, Fisika, dan Matematika di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sesuai kurikulum 2013 revisi tahun 2016. Biologi Kesetaraan pokok bahasan pada mata pelajaran Biologi tingkat SMA dapat dilihat pada tabel 1, tabel 2, dan tabel 3 berikut. [Tabel 1, 2, 3]. Dari tabel 1, tabel 2, dan tabel 3 di atas, terlihat bahwa sebagian besar materi Biologi SMA tidak mengalami perubahan, sehingga buku-buku kurikulum lama secara terpaksa masih dapat digunakan di perpustakaan. Kimia Kesetaraan pokok bahasan pada mata pelajaran Kimia tingkat SMA dapat dilihat pada tabel 1, tabel 2, dan tabel 3 berikut. [Tabel 1, 2, 3]. Dari uraian di atas, terlihat bahwa susunan sebagian besar materi pelajaran Kimia SMA, khususnya di kelas kelas XI dan XII sesuai kurikulum KBK 2004 tidak mengalami perubahan hingga masa kurikulum 2013 revisi 2016 yang digunakan saat ini. Di samping itu, pada kurikulum terbaru ini tidak terdapat materi atau bahan ajar yang belum dijumpai pada kurikulum-kurikulum sebelumnya. Dengan demikian, buku-buku Kimia SMA sesuai Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, maupun Kurikulum 2013 tetap dapat digunakan pada kurikulum 2013 revisi 2016. Fisika Kesetaraan pokok bahasan pada mata pelajaran Fisika tingkat SMA dapat dilihat pada tabel 4, tabel 5, dan tabel 6 di bawah ini. [Tabel 4, 5, 6]. Dari uraian di atas, terlihat bahwa susunan materi pelajaran Fisika di tingkat SMA mengalami perubahan yang cukup besar dari satu kurikulum ke kurikulum berikutnya. Hanya beberapa materi di kelas X semester I (misal pengukuran, vektor, gerak lurus) dan di kelas XII semester II (misal fisika kuantum, teori relativitas khusus, dan strutkur atom) yang relatif kurang mengalami perubahan. Di sisi lain, terdapat dua pokok bahasan pada kurikulum 2013 revisi 2016 yang tidak dijumpai pada buku-buku kurikulum sebelumnya, yakni teknologi digital (materi kelas XII) dan pemanasan global (materi kelas XI). Oleh karena itu, buku-buku kelas X semester I dan kelas XII semester II yang tersedia di perpustakaan sekolah masih dapat dimanfaatkan dengan mudah oleh para siswa. Sebagai catatan, pada kurikulum 2013 tidak ada buku pegangan wajib atau buku paket mata pelajaran Fisika SMA yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia, sedangkan buku-buku yang tersedia di pasaran dengan label kurikulum 2013 tidak memberikan urutan materi yang sama. Tabel di atas berlaku untuk buku-buku Fisika SMA kurikulum 2013 yang sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 64, 65, dan 66 tahun 2013 tentang standar isi, standar proses, dan standar penilaian jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan menengah di Indonesia. Matematika Sesuai Kurikulum 2013 revisi 2016, pelajaran Matematika di tingkat SMA dapat dbedakan menjadi dua bagian, yakni Matematika Wajib (wajib diberikan untuk semua siswa SMA) dan Matematika Peminatan (wajib diberikan pada siswa SMA dengan peminatan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, namun dapat menjadi pilihan bagi siswa dengan minat minat lainnya). Kesetaraan pokok bahasan pada mata pelajaran Matematika Wajib tingkat SMA dapat dilihat pada tabel 7, tabel 8, dan tabel 9 di bawah ini. Penggolongan pada buku-buku Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 dan kurikulum sebelumnya mengacu pada buku kelas XI dan XII SMA program Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). [Tabel 7, 8, 9, 10, 11, 12]. Uraian di atas menunjukkan bahwa sebagian besar materi matematika jenjang SMA sesuai dengan kurikulum 2013 revisi 2016, baik wajib maupun peminatan, juga dapat dijumpai pada buku-buku referensi kurikulum sebelumnya. Sebagai pengecualian beberapa materi baru misalnya pertidaksamaan kuadratik dua variabel (Matematika Wajib kelas X semester I) serta distribusi normal dan pengujian hipotesis (Matematika Peminatan kelas XII) tidak dijumpai dalam buku-buku kurikulum sebelumnya. Penyajian Informasi Guna membantu para pemustaka di perpustakaan sekolah, tabel-tabel dalam artikel ini dapat dilengkapi dengan foto-foto sampul buku yang tersedia di perpustakaan sekolah. Tabel dapat disajikan dengan menarik dan diletakkan di tempat yang mudah diakses oleh pemustaka. Contoh penyajian tabel dapat dilihat pada gambar 1 berikut. [Gambar 1]. Sebagai catatan, penggunaan buku-buku kurikulum lama ini juga memiliki kelemahan, yakni materi yang tersebar sehingga siswa perlu membaca sejumlah buku (dari jenjang yang berbeda) untuk memperoleh keseluruhan materi dalam satu semester sesuai kurikulum terbaru. Sebagai contoh, berdasarkan tabel 6 di muka, siswa kelas XI pada semester genap (semester II) perlu membaca sekurang-kurangnya tiga buku pelajaran pada tingkatan yang berbeda agar dapat memahami seluruh pokok bahasan pada semester tersebut. Oleh karena itu, perpustakaan tetap harus mengupayakan tersedianya buku-buku pelajaran sesuai dengan kurikulum terbaru.
Conclusion
Dalam penelitian ini telah ditunjukkan bahwa tidak sedikit materi pelajaran jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) sesuai kurikulum 2013 revisi 2016 yang juga dapat ditemukan dalam buku-buku pelajaran SMA sesuai kurikulum sebelumnya. Bagi pustakawan di sekolah, hal ini berarti bahwa perpustakaan sekolah tetap dapat menyediakan buku-buku sesuai kurikulum sebelumnya, terutama selama buku sesuai kurikulum terbaru belum tersedia. Bagi para pe-mustaka, informasi ini dapat membantu mereka menemukan materi atau pokok bahasan yang hendak dipelajari dari buku buku yang masih tersedia di perpustakaan sekolah. Walaupun demikian, keberadaan buku-buku kurikulum sebelumnya tidak bermaksud menggantikan buku buku referensi sesuai dengan kurikulum terbaru. Tabel-tabel yang dihasilkan dalam penelitian ini tentu dapat diperluas untuk mencakup materi pelajaran bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), misalnya Ekonomi, Geografi, Sosiologi, dan Sejarah. Untuk pengembangan atau perluasan tersebut, pustakawan sekolah dapat bekerja sama dengan guru masing-masing mata pelajaran.