Peranan Teknologi Informasi Komunikasi Sebagai Media Pelayanan di Perpustakaan INSTIDLA
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Abstrak
Penelitian ini menjelaskan tentang Peranan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) sebagai Media Pelayanan Perpustakaan mulai dilakukan oleh Institut Teknologi dan Sains Diniyyah Lampung (INSTIDLA) sebagai bentuk penyesuaian perkembangan, dan kebutuhan mahasiswa di era Society 5.0 saat ini. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh teknologi informasi dan komunikasi terhadap layanan di Perpustakaan INSTIDLA. Metode kualitatif digunakan pendekatan deskriptif analitis dimana Peran TIK dijelaskan secara komprehensif di Perpustakaan INSTIDLA sebagai Media Pelayanan Perpustakaan. Metode pengumpulan data dengan cara observasi dan wawancara. Objek penelitian ini adalah layanan perpustakaan dan media sosial INSTIDLA. Layanan Perpustakaan INSTIDLA adalah perpaduan antara layanan manual dan layanan yang berdasarkan teknologi informasi dan komunikasi atau disingkat (TIK) yang menunjang profesionalisme perpustakaan dalam meningkatkan layanan perpustakaan INSTIDLA. Hasil dari yang ditemukan dalam penelitian adalah adanya pengaruh signifikan diantara Peran TIK dan layanan perpustakaan melalui media sosial antara lain: membantu serta memudahkan pekerjaan staf perpustakaan, menarik pengunjung ke perpustakaan, serta memudahkan dalam komunikasi pustakawan dengan pengunjung perpustakaan dan terakhir yaitu basis informasi perpustakaan via media sosial.
Abstract
This Study aims to describe role of Information Communication Technology (ICT) as a Library Service Media began to be carried out by the Diniyyah Lampung Institute of Technology and Science (INSTIDLA) as a form of adjustment to the development and needs of students in the current era of Society 5.0. This study aims to determine the influence of information and communication technology on INSTIDLA library services. This research uses a qualitative method with an analytical descriptive approach where the role of ICT is explained comprehensively in the INSTIDLA Library as a Library Service Media. Data collection techniques use observation and interviews. The object of this study is instidla's library and social media services. INSTIDLA Library Services is a combination of manual services and information and communication technology (ICT) based services that support library professionalism in improving INSTIDLA library services. The result of this study is a significant influence between the development of ICT and library services through social media, including helping and facilitating the work of library staff, attracting visitors to the library, and facilitating the communication of librarians with library visitors and finally, the library information base via social media.
Keywords:
Libraries
· Library Services
· ICT
· Perpustakaan
· Pelayanan Perpustakaan
· TIK
Introduction
Pemikiran yang muncul di benak masyarakat saat menyebutkan kata pustakawan adalah seseorang yang hanya bertugas menjaga perpustakaan duduk dan merapikan buku-buku yang berantakan, tanpa diketahui bahwa tugas dan peran pustakawan dalam mengembangkan perpustakaan lebih dari itu, tak banyak juga orang berpendapat bahwa pustakawan adalah seseorang yang berjasa besar untuk mengembangkan pengetahuan masyarakat, memberikan jasa layanan yang baik dan ramah. Perkembangan teknologi informasi yang sangat signifikan dan dengan mudahnya meluas hingga ke pelosok daerah begitu juga dengan perpustakaan, dalam hal ini perpustakaan yang ada di sekolah dan perguruan tinggi, maupun perpustakaan yang digunakan untuk menyimpan suatu bahan pustaka hasil karya dari seseorang, apabila seorang pustakawan memberikan pelayanan kepada pemustaka dengan baik namun tidak mengikuti perkembangan yang terjadi pada teknologi informasi dan komunikasi dalam mengelola informasi dan memberikan informasi yang benar kepada pemustaka maka perpustakaan tersebut tidak berkembang, begitu besar pengaruh yang dibawa oleh teknologi informasi dan komunikasi sebagai media penyebar informasi. Dengan adanya perkembangan yang terjadi pada teknologi informasi dan komunikasi berdampak signifikan pada perpustakaan, hal ini sudah terjadi banyak perubahan di perpustakaan mulai dari pelayanan terhadap pemustaka, pengadaan koleksi, penyeleksian bahan pustaka, pengorganisasian, penyimpanan serta pemeliharaan bahan pustaka. Pada saat belum adanya teknologi informasi yang berkembang dengan signifikan tugas tugas seperti penyeleksian pengadaan dan penyusunan bahan pustaka membutuhkan suatu ketelitian yang besar agar tidak terjadi kesalahan, kerumitan yang terjadi membuat banyak orang enggan untuk menjadi seorang pustakawan, selain itu tugas-tugas yang dilakukan tersebut berhubungan dan dapat menyulitkan pustakawan.(Santoso & Widayanti, 2018) Perpustakaan harus melakukan pengembangan berdasarkan hukum "five new laws of librarianship" yang ketiga adalah use technology intelligently to enhance service ia telah mengeluarkan paradigma yang baru dan lebih mudah dalam menjalankan pelayanan di perpustakaan salah satunya dengan menggunakan jaringan internet yang mana bisa membantu pustakawan dalam memberikan layanan yang lebih cepat dan luas tanpa harus bertatap muka langsung kepada pemustaka, dengan adanya jaringan internet yang telah hadir di masyarakat maka akan mengubah pola hidup masyarakat baik dalam kehidupan sehari-hari seperti komunikasi maupun mengenai hal-hal lain yang tidak sulit lagi untuk dilakukan. Untuk hasil survei pengguna internet yang telah lakukan berdasarkan penelitian yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di tahun 2019, yaitu mengalami peningkatan yang signifikan yaitu 8,9% atau 23,5 Juta jiwa dari tahun 2018. APJII mencatat ada 196,7 Juta jiwa yang pada tahun 2019-kuartal II/2020 yang telah menggunakan internet di Indonesia. Sementara pengguna internet terbesar yang ada di Indonesia yaitu dari provinsi Jawa Timur, 23,4 Juta jiwa, untuk Jawa Tengah 26,5 Juta jiwa dan Jawa Barat yaitu 35,1 Juta jiwa. Ini menjadi gambaran bagi seorang pustakawan untuk menjadikan internet sebagai satu diantaranra beberapa media yang digunakan untuk mengembangkan perpustakaan baik dalam segala bidang seperti pelayanan, koleksi, dan lainnya, baik perpustakaan yang ada di kota besar maupun pada daerah-daerah yang berjauhan dari kota.(Utomo, 2019) Penelitian lainnya ditulis oleh Anang Fitrianto Sapto Nugroho tentang Teknologi Informasi Komunikasi di perpustakaaan merupakan tempat pengelola dan juga sebagai pelayanan informasi bagi publik, terlepas dari itu perpustakaan umum juga sedang melewati beberapa hambatan di era society 5.0 saat ini. Transformasi teknologi informasi yang sangat pesat terimplementasi secara nyata mampu membentuk kinerja perpustakaan.(Prasanti & Indriani, 2018) Penelitian ini berfokus pada transformasi social perpustakaan secara umum, sedangkan perbedaan dengan tulisan ini adalah pada pendekatan Tekonologi Informasi Komunikasi pada Perpustakaan Institut Teknologi dan Bisnis Diniyyah Lampung (INSTIDLA) berguna dan bermanfaat dalam pengembangan perpustakaan itu sendiri. Dengan demikian penelitian ini berfokus pada peran Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK) pada sebuah perpustakaan sebagai media pelayanan perpustakaan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian penelitian sebelumnya adalah penelitian ini fokus terhadap teknologi informasi dan komunikasi, sedangkan penelitian sebelumnya hanya membahas teknologi informasi atau komunikasi (salah satu) saja terhadap layanan perpustakaan. Dalam meneliti, penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analistis. Dengan menjelaskan secara komrehensif penelitian dari sumber data yang ada di Institut Teknologi dan Bisnis Diniyyah Lampung (INSTIDLA). Lalu juga dilakukan penelitian yang bersumber pada penelitian terdahulu seperti Jurnal-Jurnal dan buku-buku yang membahas hal serupa. Objek penelitian ini adalah layanan perpustakaan dan media sosial Institut Teknologi dan Bisnis Diniyyah Lampung (INSTIDLA). Pengumpulan data pada kajian ini menggunakan metode obsrevasi, wawancara dan tinjauan literatur. Dalam meneliti, penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analistis. Dengan menjelaskan secara komrehensif penelitian dari sumber data yang ada di Institut Teknologi dan Bisnis Diniyyah Lampung (INSTIDLA). Lalu juga dilakukan penelitian yang bersumber pada penelitian terdahulu seperti Jurnal-Jurnal dan buku-buku yang membahas hal serupa. Objek penelitian ini adalah layanan perpustakaan dan media sosial Institut Teknologi dan Bisnis Diniyyah Lampung (INSTIDLA). Pengumpulan data pada kajian ini menggunakan metode obsrevasi, wawancara dan tinjauan literatur.
Result & Discussion
Perpustakaan adalah sebuah sarana penyedia informasi bagi siswa/siswi maupun mahasiswa/mahasisiwi dalam mencari referensi tugas yang telah diberikan oleh gurunya, dengan adanya tugas tugas tersebut maka guru berharap bahwa siswa/siswi akan datang keperpustakaan dan mengerjakan tugasnya sambari membaca buku yang ada di perpustakaan. Perpustakaan adalah unit yang didalamnya menyimpan banyak koleksi buku dengan dibantu oleh pegawai-pegawai perpustakaan untuk membantu pengguna dalam mencari informasi untuk memberi kenyaman pada pengguna dan memudahkan pengguna perpustakaan.(Pebrianto, 2010) Adapun pengertian dari layanan pemustaka menurut Rahayuningsih adalah suatu cara yang dilakukan oleh pustakawan dalam membantu pemustaka dalam mencari informasi, layanan pemustaka adalah layanan pokok yang harus ada pada perpustakaan, layanan pemustaka menjadi tolak ukur bagi perpustakaan apabila layanan yang diberikan oleh pustakawan baik maka perpustakaan tersebut akan mendapat apresiasi dari pemustaka, pemustaka akan betah dan terus datang ke perpustakaan tersebut. Kegiatan layanan di perpustakaan adalah suatu kegiatan yang mempertemukan langsung pustakawan dengan pemustaka dalam mencari informasi sehingga pada saat itu pemustaka akan dapat dengan langsung menilai baik atau tidaknya sikap dan layanan yang telah diberikan oleh pemustaka. Adapun layanan yang diberikan oleh pustakawan kepada pemustaka diantaranya adalah layanan sirkulasi. Layanan sirkulasi merupakan layanan secara langsung berkaitan pada pemanfaatan bahan pustaka seperti pinjam dan pengembalian serta perpanjangan saat peminjaman bahan pustaka, perpanjangan bahan pustaka dalam hal ini yaitu suatu cara yang dilakukan oleh pemustaka untuk mengurus waktu pengembalian bahan pustaka agar bisa lebih lama dipinjam. Dalam bidang ilmu perpustakaan perpanjangan waktu peminjaman ialah dengan mencatat kembali bahan pustaka yang dipinjam dan diganti dengan tanggal baru lalu mengembalikan sesuai waktu yang ditetapkan.(Siswanti, 2015) Pada perpustakaan, pustakawan tidak hanya identik dengan menyusun buku-buku di rak-rak saja, namun ada juga peranan penting yang menjadikan pustakawan lebih banyak mendapat apresiasi dan tidak dapat digantikan oleh sembarang orang yaini pelayanan di perpustakaan. Pustakawan akan mengerahkan semua tenaga dan pikirannya untuk mengoptimalkan bahan pustaka agar digunakan di baca oleh pemustaka, pelayanan perpustakaan juga tidak hanya tentang peminjaman dan pengembalian bahan pustaka saja namun ada beberapa hal yang dapat dikategorikan sebagai pelayanan perpustakaan seperti pelayanan informasi karena pustakawan yang ada di perpustakaan memiliki kreativitas dan keaktifan yang tinggi, yang mana dapat memberikan kesan positif kepada para pemustaka dan pada akhirnya mereka akan merasa comfort (nyaman) dan senang ketika di perpustakaan, pelayanan perpustakaan tidak hanya berlaku pada saat bertatapan langsung, pelayanan perpustakaan bisa dilakukan melalui short message service seperti menggunakan whatsapp ataupun SMS. Prastowo dalam penelitiannya menjelaskan bahwa ada 3 kegiatan yang dilakukan di perpustakaan yaitu, pengadaan, pengolahan dan menyebarluaskan, dan saat melakukan pelayanan perpustakaan maka seorang pustakawan telah melakukan kegiatan yang ketiga yaitu menyebarluaskan informasi yang ada pada perpustakaan karna pada saat ini seorang pustakawan melaksanakan tugasnya untuk melayani pemustaka dengan baik dan ramah baik dalam hal peminjaman pengembalian maupun mencari informasi. Ia juga menyatakan bahwa yang termasuk penyebaran informasi yaitu diantaranya layanan promosi, pelayanan referensi dan informasi publik, layanan peminjaman koleksi, dan layanan bimbingan bagi pembaca. Selanjutnya mengenai pelayanan bagi pemustaka kepada guru dan siswa/siswi dalam mencari informasi mengenai minat dan kebutuhan mereka. Sebagai seorang pustakawan dituntut untuk mampu menyediakan informasi-informasi lain diluar dari pembahasan koleksi buku di perpustakaan, perpustakaan di masa mendatang jika terus mengikuti zaman maka akan menjadi pusat informasi untuk kesehatan, peternakan, pertanian, sain dan ilmu lainnya. Inilah mengapa pustakawan tidak hanya berada di dalam elemen yang berkelompok dibidang koleksi saja. Saat ini pustakawan bukan hanya menjadi penjaga perpustakaan yang hanya berteman dengan buku, melainkan juga mampu memberikan informasi baru dan lebih aktif dalam mengikuti perkembangan yang ada pada dunia.(Abid, 2017) Karjaluoto menulis bahwa media sosial terbagi dalam beberapa bagian diantaranya: Blog, adalah halaman situs untuk menyampaikan tulisan di internet berbasis text dan gambar, yang dilaksanakan oleh perorangan maupun kelompok, untuk menyediakan tempat untuk pembaca serta memberikan kebebasan mengirimkan komentar.(Rohmiyati, 2018) Forums merupakan situs bagi user nya untuk menulis dan mengomentari informasi yang disampaikan. Forum biasanya dijadikan sebagai rujukan untuk orang-orang yang tertarik masalah yang dibahas. Jejaring Sosial, adalah kumpulan kelompok orang didunia maya dan bisa menghubungkan dengan berbagai orang atau pengguna-pengguna lain. Pembuatan situs ini supaya dapat memperluas jaringan berbagai kelompok. Yang termasuk jejaring sosial misalnya facebook maupun Instagram. Komunitas Konten, merupakan situs yang memberikan kemudahan untuk memasang dan menyebarluaskan konten dalam format video dan foto lalu ceritanya dapat dibagikan dalam situs tersebut. Dalam situs tersebut biasanya membuat menu voting agar para pengunjungnya bisa memberikan penilaian konten yang layak untuk dipasang.(Budi, Arif, & Roem, 2019) Media Sosial INSTIDLA dan Konteks Perpustakaan Media dalam bahasa latin yaitu pengantar atau perantara, dan secara bahasa media yaitu suatu benda atau alat sebagai bagian yang digunakan oleh seseorang untuk menyampaikan pesan dan informasi kepada orang lain, dalam dunia pendidikan media yang digunakan berupa gambar video teks dan sebagainya yang dapat digunakan oleh semua kalangan dalam mendapatkan dan mengelola informasi baik verbal maupun visual, media sosial adalah media yang digunakan dengan menyambungkan ke jaringan untuk memudahkan dalam komunikasi dan sosialisasi walaupun tidak bertemu secara langsung dalam artian lain yaitu suatu alat yang dapat digunakan untuk melakukan interaksi meskipun lawan bicara berada diluar kota atau bahkan di luar negeri. (Widiarti, 2017) Media sosial memiliki kelebihan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan media lainnya media sosial dapat membantu pustakawan dalam melakukan peningkatan pelayanan perpustakaan. Media sosial juga dapat menjadi alat promosi bahan pustaka yang ada di perpustakaan untuk menarik minat pemustaka, dengan media sosial maka promosi yang dihasilkan lebih cepat tersalurkan dan lebih efisien karena masyarakat beranggapan bahwa media sosial menjadi alat sederhana yang dapat dengan mudah mengakses semua informasi dari manapun. Media Sosial yang dimiliki oleh INSTIDLA diantanranya adalah Instagram, Facebook, Twitter dan Website dengan pengikut yang cukup signifikan. Dari data tersebut terlihat pengikut Instagram 764 follower dan 2 ribu teman di Platform facebook, hal ini menunjukan trend yang cukup signifikan dari penggunaan social media INSTIDLA dan Pengaruhnya terhadap Perpustakaan. Selain itu dalam konteks itu juga media perpustakaan juga memberikan manfaat positif seperti : 1. Media yang digunakan untuk berdiskusi, dengan media sosial maka antara pemustaka dengan pustakawan dapat melakukan interaksi seperti, seorang pemustaka dapat dengan mudah menanyakan dan meminta pendapat mengenai buku yang tepat untuk menyelesaikan tugasnya tanpa harus datang langsung ke perpustakaan. Cara-cara seperti ini dapat dilakukan melalui instagram, facebook, whatsapp, line atau group forum diskusi yang telah dibuat oleh pustakawan perpustakaan. 2. Menjadi alat untuk menunjang kegiatan dalam memberikan informasi kepada pemustaka, dengan adanya media sosial maka dapat dengan mudah menyampaikan banyak informasi kepada pemustaka, baik mengenai koleksi-koleksi yang ada di perpustakaan maupun pelayanan pelayanan yang yang ada di perpustakaan yang disampaikan pemustaka. Informasi yang dimaksud dapat berupa informasi dari satu orang kepada orang lain atau bahkan dari seorang pustakawan ke beberapa pemustaka.penyampaian informasi dapat berupa short message ataupun interaksi langsung dimana pengirim pesan/informasi bisa langsung berinteraksi dan penerima pesan/pemustaka memberikan respon,adapun melalui media sosial maka seorang pustakawan memberikan pesan/informasi melalui media seperti sms, whatsapp dan lainnya yang mana aplikasi tersebut juga digunakan oleh pemustaka, sehingga antara pemustaka dan pustakawan akan melakukan proses interaksi meskipun tidak bertatapan secara langsung. Dengan adanya media sosial pustakawan akan dapat mengembangkan inovasi nya dalam menciptakan dan mengembangkan hal baru yang sebelumnya belum terdapat di perpustakaan, media sosial berperan dalam memberikan semangat kepada pemustaka untuk memberikan terobosan-terobosan baru mengenai layanan-layanan yang harus dikembangkan dan diciptakan untuk perkembangan perpustakaan. Layanan perpustakaan yang terdapat di perpustakaan dapat diinformasikan oleh pustakawan melalui gambar bergerak yang kemudian dilengkapi dengan suara (audio visual) sehingga informasi mengenai layanan perpustakaan tidak hanya berbentuk tulisan saja dan informasi mampu diterima dengan lebih mudah oleh pemustaka. Dalam menyampaikan informasi mengenai layanan perpustakaan tersebut, video yang disajikan dapat berupa tutorial dalam memanfaatkan layanan yang di sediakan oleh perpustakaan, layanan apa saja yang disediakan bagi pemustaka, dan informasi lainnya, yang kemudian informasi dalam bentuk video tersebut dapat dapat dibagikan melalui media sosial seperti instagram, youtube, dan facebook. Bahkan media sosial dalam bentuk chat pun dapat dimanfaatkan dalam membagikan informasi tersebut seperti whatsapp, line, telegram, dan BBM. Perpustakaan dapat menyediakan layanan berupa layanan penelusuran informasi (information retrieval service) melalui aplikasi media sosial seperti yang dijelaskan diatas sehingga pemusta tidak harus bertemu muka atau berada dalam satu tempat yang sama jika ingin bertanya mengenai koleksi yang ada di perpustakaan.(Utomo, 2019) Perpustakaan sering disebut sebagai gudangnya ilmu pengetahuan semua kalangan dapat keperpustakaan untuk menjadi buku atau informasi yang mereka butuhkan mulai dari guru, dosen, siswa/siswi, mahasiswa/mahasiswi dan masyarakat lainnya. Merek diperbolehkan untuk datang dan membaca buku yang mereka inginkan semaunya. Adapun dosen dan guru mencari referensi buku untuk menjadi bahan ajar bagi siswa/siswi dan mahasiswa/mahasisiwinya. Dosen juga dapat mendukung pengajaran, penelitian, dan pengabdian di perpustakaan, agar perpustakaan dapat menjalankan fungsinya dengan maksimal maka sebagai seorang pustakawan harus membuat strategi dan manajemen yang baik bagi perpustakaan, agar informasi yang ada di perpustakaan juga dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat. Dengan adanya media sosial maka fungsi pelayanan perpustakaan akan semakin mudah untuk dijalankan, contohnya dengan mengakses katalog perpustakaan melalui handphone dengan menggunakan user yang telah dibuat. Dengan adanya handphone maka proses pencarian buku melalui katalog akan dipermudah dan dapat dilakukan dimana saja tanda batasan waktu dan tempat. Misalnya seperti seorang murid yang perpustakaannya jauh dari jangkauan rumah, maka ia dapat memanfaatkan handphone yang ia punya untuk mencari katalog atau bahkan meminjam buku melalui handphonenya. Perpustakaan yang telah berbasis digital juga akan dapat melakukan kerjasama dengan perpustakaan digital lainnya sehingga membuat koleksi yang ada di perpustakaan menjadi lebih banyak dan lebih lengkap. Hal ini kan menguntukan bagi perpustakaan perpustakaan itu.(Yunita, Pitri, & Kesuma, 2021) Adapun Kekuatan Kelemahan Peluang dan Tantangan adanya Media Sosial Dalam Perpustakaan INSTIDLA Untuk mengetahui berapa efektifnya sosial media untuk mencari informasi di perpustakaan maka dapat dilakukan dengan analisis SWOT: 1. Strength (kekuatan) media sosial bisa dimanfaatkan sebagai alat untuk menjangkau banyak pemustaka. Dengan adanya media sosial jangkauan yang akan dicapai oleh perpustakaan akan cepat dan efisien tanpa perlu menghabiskan banyak biaya. Perpustakaan juga bisa membuat konten kreatif dengan memanfaatkan fitur-fitur yang ada di perpustakan sebagai daya tarik untuk pemustaka/pengguna perpustakaan. konten yang dibuat dapat ditayangkan pada banyak media sosial seperti instagram, facebook, twitter sehingga pemustaka akan merasa tertarik dan mulai muncul keingintahuannya mengenai koleksi-koleksi yang ada di perpustakaan, konten yang dibuat juga menggunakan modal yang sedikit namun peluang yang besar untuk perkembangan dan kemajuan perpustakaan. Sedangkan menurut Alliance konten-konten yang bisa dibagikan menggunakan media sosial yaitu : a. Pinterest untuk brainstorming dan menciptakan infografis; b. Twitter untuk terhubung ke blog dan menikmati serta membuat percakapan; c. Google+ untuk berbagi foto dan tautan sebuah artikel; d. Youtube untuk berbagi video, webinar dan tips; e. Facebook untuk menampilkan gambar yang menarik termasuk panggilan untuk melakukan sebuah aksi; f. Instagram untuk membuat kutipan dan meme.(Kurniasih, 2016) 2. Weakness (kelemahan) ada beberapa kendala yang sering dihadapi oleh seorang pustakawan dalam memanfaatkan sosial media seperti keterbatasan jumlah informasi pustakawan dan ketidak tahuan dalam membuat kreasi kreasi baru yang memikat pemustaka. Untuk mengatasi itu semua diharapkan pemustaka yang bertanggung jawab pada sosial media perpustakaan terus belajar dan mengasah kemampuan agar dapat menciptakan hal-hal baru yang menarik. Belajar menggunakan aplikasi-aplikasi foto atau video agar dapat menampilkan sesuatu yang bagus sehingga tidak mudah bosan dilihat oleh pemustaka lama maupun pemustaka baru. 3. Opportunity (peluang) dengan adanya interaksi secara langsung yang terjalin antara pustakawan dan pemustaka di perpustakaan maka pustakawan akan mengetahui pelayanan seperti apa yang pemustaka inginkan, bagaimana sikap pustakawan kepada pemustaka. Dengan mengandalkan media sosial perpustakaan akan memperluas jangkauan pemustaka/mencari pemustaka baru namun tetap memperhatikan pemustaka lama sehingga perpustakaan dan pemustaka harus bekerjasama untuk menyatukan pemustaka. Pemanfaatan perpustakaan sebagai media pembelajaran bagi pengguna dan masyarakat menjadikan potensi yang harus digali dan diusahakan oleh pengelola perpustakaan.(Suharso & Muntiah, 2020) Adanya generasi digital native yang kini telah menjadi pustakawan juga dapat menjadi peluang untuk terbentuknya desain penggunaan media sosial yang baik. Generasi digital native dirasa sudah mengenali teknologi sedari kecil sehingga diharapkan telah terbiasa pula dengan penggunaan aplikasi teknologi termasuk dalam operasi multimedia. Pustakawan digital native dapat menciptakan konten-konten kreatif, contoh kecilnya dapat diambil dari pekerjaan-pekerjaan layanan referensi seperti menulis ulasan buku, membuat buletin khusus pengguna, mengembangkan program atau kelas dan sebagainya melalui hal tersebut kemudian pustakawan dapat mengemasnya menjadi sebuah konten video, podcast, artikel blog, infografik, dan sebagainya untuk kemudian diunggah pada akun media sosial perpustakaan khususnya Instagram.(Husna, 2019) Salah satu yang juga menjadi peluang dalam Instagram adalah likes, seperti menurut respon pengguna memberikan likes tersebut termasuk dalam respons dan perhatian dari pengguna ke perpustakaan.(Istiana, 2017) 4. Threats (ancaman) pada saat telah membuat akun media sosial maka ada kemungkinan akun tersebut akan diperetaskan oleh orang-orang atau akun yang tidak bertanggung jawab. Apabila sudah seperti itu maka data-data yang ada pada akun perpustakaan akan hilang, atau bahkan diambil oleh pihak tersebut. Sebaiknya data data yang dianggap penting tidak untuk dimasukan di dalam media sosial yang bersifat umum/publik. Sehingga dengan adanya perkembangan dalam teknologi informasi dapat menjadi jalan atau peluang bagi perkembangan perpustakaan itu sendiri, dalam hal ini teknologi informasi dan perpustakaan memiliki hubungan yang penting dan saling berhubungan. Suatu perpustakaan dikatakan sebagai perpustakaan semi-modern jika layanan yang disediakan yaitu campuran yang terdiri dari layanan manual dan layanan berbasis teknologi. Perkembangan teknologi informasi sangat mempengaruhi layanan yang terdapat di perpustakaan, karena dengan layanan yag menggunakan teknologi dapat menarik minat pemustaka untuk berkunjung dengan fasilitas yang menarik dan dapat mempermudah pekerjaan pustakawan.(Suharso & Muntiah, 2020) Dalam memenuhi keinginan pemustaka akan informasi, suatu perpustakaan memberikan layanan terbaik dengan memanfaatkan teknologi informasi yang disediakan. Teknologi informasi mampu meningkatkan paradigma perpustakaan yang konvensional menuju perpustakaan yang lebih mutakhir, teknologi informasi dapat berupa alat yang digunakan dengan cara baru dan kreatif dalam proses pelayanan kepada pemustaka sehingga teknologi informasi tidak hanya berupa alat yang canggih saja. Teknologi informasi yang dapat dimanfaatkan di suatu perpustakaan dapat berupa perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software), serta perlu tersedianya pustakawan yang ahli dan kompeten dalam menerapkan kemampuan soft-skills maupun hard-skill.(Fahrizandi, 2020) Media sosial memiliki manfaat yang begitu penting dalam proses mengkomunikasikan dalam bentuk informasi sehingga dapat membantu dan mempermudah kegiatan yang ada di perpustakaan. Informasi yang disajikan dapat berupa koleksi apa saja yang terdapat di perpustakaan, bentuk kegiatan yang dilakukan, dan layanan yang di sediakan oleh perpustakaan. Dalam mengoptimalkan penggunaan media sosial yang ada di perpustakaan perlu dilakukannya beberapa hal agar optimalisasi penggunaan media sosial yang ada di perpustakaan dapat tersampaikan dengan baik dan maksimal dari segi keseluruhan informasi. Dalam dunia perpustakaan, media sosial sangat efektif digunakan untuk meningkatkan layanan perpustakaan karena penggunaan media sosial sebagai media komunikasi, menjadikan perpustakaan sebagai institusi yang dapat memberika layanan yang tidak terbatas oleh jarak dan waktu. Media sosial dapat dilakukan untuk promosi, informasi, transaksi, silaturahmi, komunikasi, berbagi atau sharing, dan media pengembangan diri bagi pihak perpustakaan maupun pemustaka.(Haryanto, 2019)
Conclusion
Layanan perpustakaan menjadi tolak ukur bagi pemustaka untuk menilai baik atau buruknya perpustakaan tersebut, seorang pustakawan harus menjadi panutan bagi pemustaka, saat memberikan pelayanan kepada pemustaka seorang pustakawan harus menunjukan keramah tamahannya, pada saat ini seorang pustakawan dituntut untuk turut mempelajari teknologi informasi dan komunikasi (TIK) guna memudahkan dalam melakukan pelayanan dan promosi perpustakaan salah satunya melalui media sosial. Sehingga adanya pengaruh yang signifikan antara perkembangan TIK dan layanan perpustakaan melalui media sosial Institut Teknologi dan Bisnis Diniyyah Lampung (INSTIDLA) antara lain: membantu serta memudahkan pekerjaan staf perpustakaan, menarik pengunjung perpustakaan, serta memudahkan dalam komunikasi pustakawan dengan pengunjung perpustakaan.