JANJI PERPUSTAKAAN DIGITAL
Universitas Bengkulu
Abstrak
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang selanjutnya disingkat ICT (Information and Communication Technology) realitanya saat ini berdampak pada berbagai sektor kehidupan, baik lembaga formal maupun non formal, tidak terkecuali pada sebuah institusi besar seperti perpustakaan, pemanfaatan ICT merupakan sebuah upaya dalam meningkatkan kualitas layanan dan operasional pada perpustakaan. Performa perpustakaan kini telah beralih dari konsep konvensional menuju perpustakaan digital. Dalam memenuhi janjinya keberadaan perpustakaan digital diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan kecepatan dalam proses layanan kepada pemustaka sehingga iklim belajar mengajar dan budaya membaca akan lebih tumbuh berkembang ke arah yang lebih baik lagi, sebagai harapan ketatnya kompetisi dalam segala bidang kehidupan tidak lagi disikapi secara canggung. Peran pustakawanpun sebagai salah satu sumber kekuatan perpustakaan harus ikut andil dalam memberikan sumbangsih bagi perkembangan perpustakaan digital, oleh karenanya sangat penting bagi seorang pustakawan untuk terus meningkatkan skill yang dimiliki dan tidak berjarak pada perkembangan ICT. The development of information and communication technology called ICT (Information and Communication Technology), is currently affecting various sectors of life, both formal and non formal institutions, including a large institution such as a library, the use of ICT is an effort to improve service quality and operational in the library. Library performance has now shifted from conventional concepts to digital libraries. In fulfilling its promise the existence of a digital library is expected to be able to improve the quality and speed in the service process so that the climate of teaching and reading culture will grow further in a better goals, as the hope of tight competition in all areas of life is no longer awkwardly addressed. The librarian’s role as one of the sources of the library’s power must contribute in contributing to the development of digital libraries, therefore it is very important for a librarian to continue to improve skills possessed and not to keep the distance to the development of ICT
Abstract
The development of information and communication technology, hereinafter abbreviated as ICT (Information and Communication Technology), is currently affecting various sectors of life, both formal and non-formal institutions, including a large institution such as a library, the use of ICT is an effort to improve service quality and operational in the library. Library performance has now shifted from conventional concepts to digital libraries. In fulfilling its promise the existence of a digital library is expected to be able to improve the quality and speed in the service process so that the climate of teaching and reading culture will grow further in a better direction, as the hope of tight competition in all areas of life is no longer awkwardly addressed. The librarian’s role as one of the sources of the library’s power must contribute in contributing to the development of digital libraries, therefore it is very important for a librarian to continue to improve skills possessed and not distant to the development of ICT. The development of information and communication technology called ICT (Information and Communication Technology), both formal and non formal institutions, including a large number of libraries, the use of ICT is an effort to improve service quality and operational in the library. Library performance has now shifted from conventional concepts to digital libraries. In fulfilling the promise of the digital library, the promise of the existence of a digital library will grow better and better, as the hope of tight competition in all. the area of life is no longer awkwardly addressed. The librarian’s role as one of the sources of the library’s power must contribute in contributing to the development of digital libraries, therefore it is very important for librarians.
Keywords:
ICT
· digital library
Introduction
Pada kehidupan yang serba digital dan menjanjikan kecepatan ini, semua orang membutuhkan informasi sebagai hal yang sangat hakiki. Tanpa adanya informasi, masyarakat akan mengalami kehidupan yang cukup sulit untuk berkembang serta akan cenderung tersisih dan terbelakang. Kemajuan teknologi dan informasi membawa perubahan besar terhadap perkembangan dan persebaran ilmu pengetahuan. Hal tersebut turut mempengaruhi pola manusia dalam mengakses informasi. Manusia menginginkan informasi yang tepat dan cepat, bahkan tanpa harus berpindah tempat. Perpustakaan sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas informasi dituntut memiliki sistem akses yang memudahkan penggunanya. Dalam hal ini perpustakaan memegang peranan yang sangat besar dalam rangkaian penyebaran informasi. Dalam UU Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan disebutkan, bahwa Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam (cetak dan non cetak) secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Selanjutnya, menurut Wafford (1961) perpustakaan merupakan salah satu organisasi sumber belajar yang menyimpan, mengelola, dan memberikan bahan pustaka baik buku maupun non buku kepada masyarakat pengguna (user) tertentu maupun masyarakat umum. Senada dengan itu, Sulistiyo (2007) menyatakan perpustakaan adalah kumpulan buku atau bangunan fisik tempat buku dikumpulkan, disusun menurut sistem tertentu untuk kepentingan pemakai. Secara umum perpustakaan mempunyai arti sebagai tempat yang di dalamnya terdapat kegiatan penghimpunan, pengolahan, dan penyebarluasan (pelayanan) segala macam informasi baik yang tercetak maupun terekam dalam berbagai media seperti buku, majalah, surat kabar, film, kaset, tape recorder, video, komputer, dan lain-lain (Pawito, 2007). Dunia saat ini tengah memasuki era digitalisasi, oleh karenanya paradigma mengenai perpustakaanpun kini telah mengalami pergeseran, jika dulu perpustakaan masih dipandang sebagai sebuah gedung (fisik), sekarang perpustakaan dipandang dari segi akses, yaitu seberapa mampu perpustakaan memenuhi kebutuhan informasi penggunanya, dari sanalah muncul gagasan tentang perpustakaan digital. Konsep perpustakaan digital menjanjikan banyak kemudahan bagi pemustaka diantaranya, kemudahan akan akses, serta kecepatan yang tinggi dalam penyebarluasan informasi. Pengguna bisa mengakses informasi tanpa harus pergi ke lokasi informasi, cukup dengan mengaksesnya melalui internet maka pengguna akan mendapatkan full text dari informasi. Dengan teknologi informasi ini pula faktanya hari ini telah mengubah wajah perpustakaan serta layanannya dari yang bersifat konvensional ke modern yang penuh dengan pemanfaatan digital. Digitalisasi mampu memberikan kemudahan dan keluasaan untuk mencari, menemukan, menyebarluaskan, dan bahkan mencipatakan informasi itu sendiri (Rahayuningsih, 2015), hal ini turut dipertegas oleh Suwarno (2016) bahwa dinamika perkembangan perpustakaan satu dasawarsa terakhir terkesan cukup signifikan. Dari penggunaan fasilitas yang manual, kemudian otomasi perpustakaan, sampai pada tahapan digitalisasi. Hal itu sematamata demi memenuhi kebutuhan pemustaka yang semakin berkembang pula. Perpustakaan merupakan penyedia informasi dan pelestari bahan pustaka yang berperan penting di dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, maka di era globalisasi ini dibutuhkan perpustakaan digital dan teknologi informasi supaya pengguna perpustakaan tidak ketinggalan informasi. Dinamika informasi di era global menunjukkan bahwa informasi yang diiterima oleh masyarakat merupakan informasi yang berkualitas yaitu informasi yang relevan, tepat dan akurat. Artikel ini akan mendeskripsikan lebih jauh bagaimana sejarah perpustakaan digital, definisi perpustakaan digital, bagaimana skill pustakawan dalam menghadapi era digitalisasi, serta apa saja janji perpustakaan digital.
Discussion
Sejarah Perpustakaan Digital Gagasan perpustakaan digital muncul pertama kali pada bulan Juli 1945 oleh Vanner Bush. Bush mengeluhkan penyimpanan informasi manual yang menghambat akses terhadap penelitian yang dipublikasikan. Bush mengajukan ide untuk membuat catatan pada perpustakaan pribadi (untuk buku, rekaman atau dokumen dan komunikasi) yang termekanisasi. Jika mengajukan pendapat Bush (dalam Sulistyo, 2011) maka awal perpustakaan digital di Indonesia dimulai sejak komputer mulai digunakan di Indonesia. Maka perintis perpustakaan dimulai pada akhir tahun 1960-an atau awal 1970-an tatkala komputer mulai digunakan untuk automasi daftar majalah yang ada di beberapa pepustakaan di Indonesia. Bila melihat pemahaman perpustakaan digital sesungguhnya sudah teraplikasi perpustakaan digital, terutama di lingkungan perpustakaan perguruan tinggi dan khusus. Perpustakaan pengguruan tinggi, perpustakaan khusus dan perpustakaan umum rata-rata sudah memiliki situs web dengan laman masing-masing. Kini banyak perguruan tinggi yang mewajibkan mahasiswa menyerahkan karya akhirnya dalam bentuk berkas lunak (soft files) ke perpustakaan, selanjutnya perpustakaan yang akan memasukan ke server. Server ini dapat diakses oleh pihak luar dan akses serta sitiran yang dilakukan pihak luar akan menentukan peringkat universitas di lingkungan dunia. Definisi Perpustakaan Digital Perkembangan terkini dalam dunia teknologi informasi dan komunikasi, mengalami perubahan yang signifikan, tidak terkecuali dengan perpustakaan. Perpustakaan telah berabad-abad lamanya terkungkung dalam koleksi tercetak, baik buku, jurnal, maupun majalah. Informasi yang disimpan di perpustakaan berupa catatan-catatan. Sistem temu kembali informasinya pun belum terotomasi dan masih menggunakan sistem manual, seperti katalog, indeks, atau yang lainnya yang masih belum menggunakan alat bantu komputer. Belum lagi bagaimana perpustakaan melayankan informasi ini kepaqda pengguna, tentu dalam konteks ini masih berada pada yang merepotkan dalam arti masih murni menggunakan tenaga manusia (Suwarno, 2015). Kini zaman menuntut lain, koleksi yang dimiliki perpustakaan dituntut dalam bentuk digital, padahal sistem konvensional sudah meruah jumlahnya. Tetapi jika pada era globalisasi ini tidak mengubah wajah konvensionalnya nilai jual perpustakaan juga semakin berkurang, atau mungkin suatu ketika perpustakaan harus siap ditinggalkan penggunanya. Adalah suatu hal yang menarik jika dikatakan bahwa era globalisasi ini, bagi perpustakaan adalah era digital. Maka munculnya konsep digital library, yang koleksinya mengarah pada e journal, e book, dan sejenisnya. Seperti yang dikatakan oleh Zainal A. Hasibuan (2005), digital library atau sistem perpustakaan digital merupakan konsep menggunakan internet dan teknologi informasi dalam manajemen perpustakaan. Sedangkan Ismail Fahmi (2004) mengatakan bahwa perpustakaan digital adalah sebuah sistem yang terdiri dari perangkat hardware dan software, koleksi elektronik, staf pengelola, pengguna, organisasi, mekanisme kerja, serta layanan dengan memanfaatkan berbagai jenis teknologi informasi. Dari kedua definisi tersebut dapat dikatakan bahwa perpustakaan digital merupakan suatu perpustakaan di mana seluruh isi koleksi dan proses pengelolaan serta layanannya berupa kumpulan data dalam bentuk digital. Sebuah perpustakaan digital adalah suatu sistem yang menyediakan suatu komunitas pengguna dengan akses terpadu yang menjangkau keluasan informasi dan ilmu pengetahuan yang telah tersimpan dan terorganisasi dengan baik. Pada umumnya pembahasan tentang perpustakaan digital selalu dimulai dengan perspektif dalam arti sempit, yakni alat dan perangkat bantuan komputer atau berteknologi digital. Teknologi baru di bidang komputer dan informasi membawa pemikiran baru yang di beri tajuk perpustakaan digital. Kenneth Dowlin dalam bukunya The Electronic Library tahun 1984 (Pendit, 2007) yang mendukung ide tentang perpustakaan elektronik dan menggambarkan ciri perpustakaan elektronik sebagai berikut: 1. Memakai komputer untuk mengelola sumberdaya perpustakaan. 2. Mengunakan saluran elektronik untuk menghubungkan penyedia informasi dengan pengguna informasi 3. Memanfaatkan transaksi elektronik yang dapat dilakukan dengan bantuan staf jika diminta oleh pengguna 4. Memakai sarana elektronik untuk menyimpan, mengelola, dan menyampaikan informasi kepada pengguna. Usaha untuk mewujudkan perpustakaan elektronik atau digital yang ideal bukan pekerjaan mudah, karena pemanfaatan teknologi baru di perpustakaan bukanlah sekedar mengganti buku dengan komputer. Pada kenyataannya, manfaat perpustakaan konvensional tidak dapat terhapus sama sekali, seberapa pun maju teknologi informasi yang diterapkan di sebuah masyarakat. Menurut Widyawan tahun 2005 (Saleh, 2010) perpustakaan digital itu tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan sumber-sumber informasi lain dan pelayanan informasinya terbuka bagi pengguna di seluruh dunia. Koleksi perpustakaan digital tidak terbatas pada dokumen elektronik pengganti bentuk cetak saja, ruang lingkup koleksinya malah sampai pada artefak digital yang tidak bisa tergantikan dalam bentuk tercetak. Skill Pustakawan di Era Digitalisasi Keberhasilan perpustakaan sangat ditentukan oleh pustakawan, meskipun perpustakaan memiliki anggaran luar biasa, dilengkapi dengan teknologi canggih, dipercantik dengan layanan sangat excellent dan banyaknya layanan terbarukan. Jika tanpa andil pustakawan dengan kapasitas maupun kredibilitas maka bisa dijamin roda perpustakaan tidak akan optimal karena antara fasilitas dan sumber daya manusia dua hal saling melengkapi. Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan (UU RI No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan). Selanjutnya dalam UU tersebut dijelaskan bahwa di perpustakaan terdapat 2 (dua) kelompok pustakawan, yaitu: 1. Pustakawan Yaitu seorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh pendidikan dan/ pelatihan kepustakawanan, serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. 2. Tenaga Teknis Perpustakaan Yaitu tenaga nonpustakawan yang secara teknis mendukung pelaksanaan fungsi perpustakaan, misalnya tenaga teknis komputer, audiovisual, ketatausahaan. Oleh karena itu Mount dan Massoud (1999) (dalam Makmur, 2015) menyaratkan minimal 3 (tiga) kriteria yang harus dimiliki pustakawan diantaranya: a). Personal traits, yaitu memiliki sifat dan kepribadian yang baik, b). Education, yaitu pendidikan yang baik, dan c). Experiences, serta memiliki pengalaman yang cukup. Pustakawan memiliki beberapa keistimewaan, menurut Hermanto (dalam Makmur, 2015) diantaranya: 1. Adanya perhatian pemerintah yang memberikan peluang dan kesempatan lebih banyak untuk mengembangkan karir dan peningkatan kinerja para pustakawan dengan dikeluarkan keputusan Menpan No. 33 tahun 1998 tentang jabatan fungsional pustakawan dan angka kreditnya. 2. Profesionalisme pustkawan dalam pelaksanaan kegiatan perpustakaan berdasarkan keahlian dan rasa tanggung jawab. Keahlian merupakan dasar dalam menelurkan hasil kerja yang tidak sembarang orang dapat menghasilkannya. 3. Pustakawan merupakan seorang manajer informasi 4. Mempunyai banyak teman baik dari kalangan mahasiswa, dosen, karyawan maupun masyarakat luas 5. Bisa menambah ilmu pengetahuan dan memperluas wawasan karena banyak informasi atau bahan pustaka di perpustakaan 6. Dapat mengikuti perkembangan teknologi imnformasi 7. Pustakawan merupakan pekerjaan yang mulia 8. Dapat ikut serta dalam pengentasan kebodohan dan mencerdaskan generasi bangsa 9. Bisa menanamkan disiplin, sabar dan percaya diri dalam melakukan pekerjaan kepustakawan 10. Dapat ikut serta membantu pemerintah dalam menumbuhkan minat dan kemampuan membaca masyarakat. Jadi dapat disimpulkan bahwa pustakawan adalah profesi yang setara dengan profesi lainnya karena memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan, serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan dan telah memenuhi syarat antara lain: 1) Memiliki pendidikan khusus, baik teori maupun praktek 2) Memiliki organisasi profesi, sebagai wadah mengembangkan profesi dan anggota 3) Memiliki Kode Etik sebagai pedoman anggota profesi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat pengguna dan, 4) Berorientasi kepada jasa. Pustakawan hendaknya dapat dipercaya dan bersungguhsungguh mencintai pekerjaannya, mampu mengambil keputusan yang tepat dan memiliki kemampuan untuk belajar, sederhana dan berperan sebagai manajer. Di era digital, seorang pustakawan dituntut lebih ekstra dalam hal skill yang dimiliki, kesiapan dalam menghadapi tuntutan zaman harus pula diimbangi dengan penguasaan teknologi dan siap bersaing dan terus berinovasi. Secara singkat menurut Fatmawati (2010) (dalam Makmur 2015: 5) terdapat beberapa hal penting yang harus dipersiapkan oleh perpustakaan untuk ke arah perpustakaan digital, riset dan berkompetitif antara lain: 1. Sumber daya manusia (brain ware). Pustakawan yang harus mencakup subjek spesialis pada disiplin ilmu. 2. Koleksi yang dapat memenuhi kebutuhan para peneliti spesifik di bidang tertentu, baik itu buku text, jurnal, majalah, CD Rom dan literatur lainnya. 3. Sarana dan prasarana yang mendukung akses informasi di perpustakaan termasuk kesediaan hardware dan software. 4. Layanan yang sudah dapat diakses secara online melalui internet, sehingga terjadi sharing information. 5. Kerjasama yang saling menguntungkan dengan silanglayan antar perpustakaan. Dalam menghadapi tuntutan kebutuhan pemustaka yang semakin tinggi dan beraneka ragam, maka perpustakaan perlu mempersiapkan pustakawan yang profesional, yaitu pustakawan yang memiliki skill, knowledge, kemampuan (ability), serta kedewasaan psikologis (Ratnaningsih, 1998) dalam (Makmur, 2015). Tantangan ke depan, di era teknologi, pustakawan akan menghadapi “peran baru” atau peran utama pustakawan yaitu sebagai arsiparis, preservation, bibliographers, pengindeks, programer, strategi digital, tekhnologi digital, marketing/librarian communication, teaching/learning librarian dan lain-lain. Sebuah realita bahwa kemajuan perpustakaan tidak terlepas dari kualitas sumber daya manusia (SDM), perpustakaan tidak cukup dengan menghasilkan produk yang baik saja, tetapi suguhan menarik juga diperlukan. Dengan kreativitas akan memunculkan aktivitas-aktivitas yang selalu menguntungkan pelanggan. Dengan harapan melalui kreativitas, pelanggan akan merasa betah dan tertarik untuk selalu memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan digital. Kekuatan sumber daya manusia merupakan modal yang penting dalam perpustakaan karena pustakawan dalam hal ini sebagai “man behind the machine”, secanggih apapun mesin pengolah data tetap saja manusia handal pengendalinya. Oleh karenanya untuk mengelola perpustakaan yang berbasis konsep baru maka pustakawan harus mempunyai pengetahuan, kompetensi dan keterampilan digital. Hal ini penting agar pustakawan lebih mudah beradaptasi. Keahlian diri dapat dikembangkan dengan membaca, mendengarkan rekaman positif, berkenalan dengan orang positif, bergabung dengan organisasi positif lain dan kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Suliman dan Foo (2008) (dalam Makmur 2015: 78) terdapat enam kategori kompetensi yang harus dimiliki profesional dalam bidang informasi pada era informasi, khususnya pustakawan: 1. Tool and technology skill (keterampilan teknologi dan perkakas) 2. Informations skill (keterampilan informasi) 3. Leadership and management skill (keterampilan manajemen dan kepemimpinan) 4. Srategis thinking and analytical skill(keterampilan berfikir strategis dan analitis) 5. Personal behaviorand attributes (perilaku dan sifat-sifat yang bersifat pribadi). Selanjutnya, Barden (1997) dalam (Makmur, 2015: 78) menegaskan bahwa pustakawan masa depan memerlukan 4 (empat ) dimensi kompetensi yaitu : 1. Technology skill and network management (keterampilan teknologi dan manajemen jaringan) 2. Customer care (kepedulian pelanggan) 3. Media management (manajemen media) 4. Storage and retrieval and business development (penyimpanan dan pemerolehan kembali serta pengembangan bisnis) Dengan berbagai kompetensi yang dimiliki diharapkan pustakawan akan lebih siap menghadapi revolusi industri yang akan membawa perubahan yang sangat signifikan pada perpustakaan dan layanannya. Semakin siap pustakawan dalam era digital maka akan semakin berkembang pula perpustakaan digital yang dikelolannya, rambu-rambu atau regulasi pada perpustakaan digital akan lebih mudah tersampaikan dengan baik kepada pemustaka, sebaliknya jika pustakawan tidak meningkatkan kompetensi dan skill yang dimiliki maka lambat laun perpustakaan digital yang dikelola akan ditinggalkan dan tidak mendapat atensi dari pemustaka. Implementasi Janji Perpustakaan Digital Disisi lain, era digital menjanjikan kecepatan dan kemudahan, oleh karenanya perpustakaan digitalpun setidaknya harus mampu memenuhi kedua unsur tersebut. Jika dilihat dari karakteristik yang melekat pada perpustakaan digital, maka pemustaka akan memperoleh berbagai kelebihan layanan perpustakaan digital, berikut di antaranya: 1. Menghemat ruang karena koleksi perpustakaan digital adalah dokumen berbentuk digital, maka penyimpanannya akan sangat efisien. 2. Akses ganda (multiple access) artinya setiap pemakai dapat secara bersama-sama menggunakan sebuah koleksi buku digital yang sama baik untuk dibaca maupun untuk diunduh atau dipindahkan ke komputer pribadinya (download) 3. Tidak dibatasi ruang dan waktu artinya perpustakaan digital dapat diakses dari mana saja dan kapan saja dengan catatan ada jaringan komputer (computer internetworking) 4. Koleksi dapat berbentuk multimedia yaitu koleksi perpustakaan digital dapat berbentuk kombinasi antara teks, gambar dan suara, bahkan dapat menyimpan dokumen yang hanya bersifat gambar bergerak dan suara (film) yang tidak mungkin digantikan dengan teks. 5. Biaya lebih murah artinya secara relatif dapat dikatakan bahwa biaya untuk dokumen digital termasuk murah, tetapi tidak sepenuhnya benar karena untuk memproduksi sebuah e-book mungkin perlu biaya yang cukup besar. Namun jika melihat sifat e-book yang dapat digandakan dengan jumlah tidak terbatas, maka dapat disimpulkan bahwa dokumen elektronik tersebut biayanya sangat murah. Penerapan teknologi informasi di perpustakaan saat ini sering menjadi barometer untuk mengetahui sejauh mana tingkat kemajuan dari perpustakaan tersebut bukan lagi besarnya gedung yang dipakai, banyaknya rak buku, ataupun berjubelnya pengguna melainkan semakin canggih dan otomatis kinerja perpustakaan. Alasannya dengan adanya teknologi informasi maka akan lebih banyak yang dikerjakan dan dilayani. Perkembangan terakhir menunjukkan kecepatan pengembangan perpustakaan telah banyak dipengaruhi oleh sentuhan teknologi, hal ini dikarenakan pemanfaatan teknologi mampu meningkatkan fungsi dan peran perpustakaan sebagai media penyebaran ilmu pengetahuan dan informasi. Salah satu hal yang sangat dirasakan manfaatnya dengan kehadiran teknologi informasi adalah adanya “database” atau basis data menggunakan komputer dan perpustakaan digital (digital library baik online maupun offline). Kemudahan yang dapat diperoleh melalui pengunaan teknologi informasi diharapkan pekerjaan, kegiatan dan layanan perpustakaan semakin meningkat lebih baik, sehingga perkembangan perpustakaan akan semakin maju secara pesat. Era globalisasi menjanjikan kecepatan dan kemudahan dalam mengakses informasi, sebagai lumbung informasi maka selayaknya perpustakaan digital mampu memberikan yang terbaik kepada pemustaka. Dalam upaya memenuhi janji tersebut, pembenahan di segala lini terus dilakukan, semisal dengan melestarikan datadata maupun informasi yang dimiliki, penggunaan berbagai teknologi penyimpanan data (file) sudah diterapkan di perpustakaan, pemanfaatan teknologi CD-ROM, aplikasi komputer untuk menyimpan data base katalog, maupun jurnal berbagai disiplin ilmu yang dapat diakses oleh setiap pengunjung. Pesatnya kemajuan teknologi, dalam konteks perpustakaan, berpengaruh terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan oleh perpustakaan. Teknologi yang didominasi oleh penggunaan komputer dianggap telah mampu menggantikan fungsi tenaga manusia dalam menjalankan dan menyelesaikan tugas-tugas yang biasa dikerjakan manusia, tidak terkecuali pustakawan. Meski tidak seluruh aspek manusia dapat digantikan mesin, namun harus diakui bahwa teknologi mampu menghasilkan produk yang segi kuantitas maupun kulaitasnya melebihi produk karya manusia Suwarno (2016)
Conclusion
Pemustaka tentu berharap besar terhadap implementasi dari janji perpustakaan digital, hal ini tidak lain adalah agar kebutuhan pemustaka terhadap informasi dapat segera terpenuhi, bagaimanapun informasi saat ini telah menjelma menjadi denyut nadi kehidupan, kini tanpa informasi seseorang akan tertinggal dan ditinggalkan oleh kompetisi di berbagai level, mau tidak mau persaingan dunia akan dimulai dan dimenangkan oleh mereka yang menguasai informasi, demikian yang dijanjikan oleh perpustakaan digital. Ini menjadi tugas besar perpustakaan yang memerlukan komitmen serius agar fasilitas perpustakaan dapat dimanfaatkan secara digital agar bisa diakses diseluruh dunia, supaya dapat mewujudkan janji perpstakaan digital.