Kembali
16
1
2021 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 5 · 1 ISSN 2598-3040

Kemampuan Literasi Digital Anggota Pers Mahasiswa Hayamwuruk Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro dalam Merespon Hoax

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi kemampuan literasi digital anggota Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk (LPM Hayamwuruk) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro dalam menyikapi hoax. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penentuan informan dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi dan wawancara semi terstruktur. Data yang telah terkumpul kemudian diolah dengan menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa informan menggunakan media informasi digital dengan bantuan internet sebagai sumber informasi. Hadirnya internet memang memberikan banyak kemudahan kepada informan, namun tetap ada sisi negatifnya seperti contoh maraknya persebaran hoax. Informan mengaku pernah percaya dengan hoax. Dari pengalaman tersebut, membuat informan kini lebih selektif saat menerima berita baru. Verifikasi merupakan salah satu bentuk cara informan dalam mengevaluasi berita yang didapat. Kemampuan dan kesadaran tentang hoax yang dimiliki informan menjadikan ia sebagai pribadi yang bijak dalam menggunakan media digital dan ikut serta berupaya memberantas hoax dengan cara berkontribusi dalam menulis pemberitaan dan mengedukasi orang terdekatnya.

Abstract

The purpose of this study is to explore the literacy abilities of members of the Hayamwuruk Student Press Institute (LPM Hayamwuruk), Faculty of Cultural Sciences, Diponegoro University in dealing with hoaxes. This study uses a qualitative method. Determination of informants was done using the purposive sampling technique. The data technique in this research used observation and semi-structured interviews. The data that has been collected are then processed using thematic analysis. The results of this study reveal that the informants use digital information media with the help of the internet as a source of information. The presence of the internet does provide a lot facilities to informants, but there are still negative sides, such as examples of the wide spread of hoaxes. The informans claimed to have believed in hoaxes. From this experience, they are now more selective when receiving new news. Verification becomes one form of informans method in selecting the news obtained. The informants ability and awareness of hoaxes make the a wise person in using digital media and participate in trying to eradicate hoaxes by contributing to writing news and educating those closest to them.
Keywords: digital literacy · implementation of digital literacy · digital literacy students · hoax

Introduction

Kemunculan internet mempermudah proses pekerjaan seseorang dalam hal mengakses informasi guna memenuhi kebutuhannya. Internet mempermudah dan mempercepat dalam proses penemuan informasi untuk menyelesaikan tugas seseorang, menambah pengetahuan dan wawasan, maupun memberi kemudahan dalam mendapatkan hiburan guna mengisi waktu luang. Banyaknya informasi yang ada di internet memberikan dampak lain berupa sulitnya menemukan informasi yang benar-benar kredibel serta maraknya informasi palsu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya atau sekarang ini lebih dikenal dengan istilah hoax. (Silverman, 2015) berpendapat bahwa hoax dapat diartikan sebagai informasi yang dengan sengaja dibuat menyesatkan, kemudian dilayangkan seperti kebenaran. Saat ini berita bohong atau hoax makin marak tersebar di beragam platform terlebih di media sosial. Pelaku yang tidak bertanggung jawab atas penyebaran informasi hoax biasanya mendapat dorongan oleh dua hal sebagai berikut : pertama adalah uang, artikel berita yang viral di media sosial dapat menarik pendapatan dari iklan ketika pengguna mengklik situs asli. Kedua yaitu ideologi, hal ini cenderung ke ranah politik, beberapa penyedia berita hoax berupaya membuat citra baik kandidat yang mereka dukung (Allcott, Hunt dan Gentzkow, 2017). Kemunculan fenomena persebaran hoax lantaran literasi digital masyarakat yang masih rendah, hal tersebut merupakan pandangan APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) dan MASTEL (Masyarakat Telematika Indonesia) (Jamaludin, 2017). Sebagaimana yang dijabarkan oleh Gilster, ia berpendapat bahwa literasi digital ialah kemampuan untuk memahami informasi serta menggunakannya dalam beraneka ragam format dari sumber digital yang ditampilkan lewat komputer (Gilster, 1997). Penggalakan literasi digital di Indonesia digagas oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMDIKBUD) namun dalam pelaksanaannya butuh mendapat perhatian dari seluruh elemen masyarakat. Mahasiswa merupakan salah satu elemen penting di masyarakat. Dinamika bangsa Indonesia menurut catatan sejarah tidak terlepas dari peranan mahasiswa. Mahasiswa disebut sebagai pemimpin masa depan, sehingga tidak bisa dihindari para pemimpin bangsa harus melek digital agar dapat tampil aktif di masyarakat dan untuk pembangunan negara (Hossain, 2015). Sebagai golongan intelektual calon pemimpin bangsa, mahasiswa dituntut untuk bersikap kritis dan mampu dengan bijak menanggapi persoalan-persoalan yang ada di masyarakat. Terlebih di era teknologi informasi saat ini, tingkat penggunaan media digital yang tinggi seharusnya diimbangi dengan pemahaman yang baik. Mahasiswa perlu berbekal kemampuan literasi digital supaya tidak mudah terprovokasi bila dihadapkan dengan informasi yang belum tentu kebenarannya maupun informasi yang dengan sengaja dibuat untuk menyesatkan atau istilahnya hoax. Bahaya bila mahasiswa yang dianggap sebagai agen perubahan malah turut berpartisipasi dalam menyebarluaskan sebuah hoax (Priadi, 2020). Pada kenyataannya masih saja ada mahasiswa yang tanpa sadar ikut menyebarkan hoax. Maraknya peredaran hoax di kalangan mahasiswa salah satu penyebabnya adalah membaca informasi yang diterima tidak sampai tuntas lalu disebarluaskan melalui bantuan media sosial. Penelitian tentang kemampuan literasi digital dalam menyikapi hoax perlu dilakukan untuk melihat sejauh mana kemampuan yang dimiliki pada diri seseorang dalam memahami serta menggunakan informasi yang berasal dari berbagai sumber digital. Selain itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui apakah mahasiswa yang aktif bersinggungan langsung dengan media digital hingga sampai mempublikasikan artikel tingkat kemampuan literasi digital yang dimilikinya tergolong mumpuni dan bagaimana pula penerapannya. Sejauh hasil pengamatan awal peneliti, aktif memanfaatkan teknologi digital untuk mengakses informasi hingga mengolahnya menjadi suatu berita juga dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro yang tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk (LPM Hayamwuruk). Peneliti memilih anggota LPM Hayamwuruk sebagai objek yang akan dikaji. Hal tersebut dikarenakan mahasiswa yang tergabung di LPM Hayamwuruk dinilai secara nyata memanfaatkan media digital guna mengakses informasi, hingga menghasilkan informasi baru berupa content dan memanfaatkan media digital lagi sebagai alat penyebaran informasi tersebut. Peneliti tergerak ingin mengeksplorasi implementasi kemampuan literasi digital mahasiswa yang tergabung dalam LPM Hayamwuruk Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro yang berkaitan dengan cara mereka menyikapi hoax. Berdasarkan penjabaran latar belakang di atas, peneliti melakukan penelitian ini dengan judul “Literasi Digital Anggota Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk (LPM Hayamwuruk) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro dalam Menyikapi Hoax”. 2. Landasan Teori Literasi telah memperluas jangkauan semantiknya dari yang berarti kemampuan “membaca dan menulis” sekarang menjadi “kemampuan untuk memahami informasi yang disajikan” (Lanham, 1995). Gagasan mengenai literasi digital mulai marak menjadi bahan diskusi pada tahun 1997. Sebagaimana yang dijabarkan oleh Gilster, ia berpendapat bahwa literasi digital ialah kemampuan guna memahami informasi serta menggunakannya dalam beraneka ragam format dari sumber digital yang ditampilkan lewat komputer (Gilster, 1997). Lebih lanjut lagi, (Bawden, 2001) memberikan sebuah pemahaman baru tentang literasi digital yang hal tersebut didasari pada pengembangan konsep literasi komputer dan literasi informasi. Literasi digital melibatkan lebih dari sekadar kemampuan untuk menggunakan perangkat lunak atau mengoprasikan perangkat digital. literasi digital mencakup variasi kompleks dari beberapa keterampilan, yang dibutuhkan pengguna agar dapat berfungsi secara efektif di lingkungan digital. Keterampilan literasi digital meliputi membangun pengetahuan dari navigasi hipertekstual, mengevaluasi kualitas dan validitas informasi, dan memiliki pemahaman yang matang dan realistis tentang kebijakan yang berlaku di dunia maya (Eshet-Alkalai, 2004). Ada 8 elemen esensial yang menjadi acuan kompetensi literasi digital yaitu, pemahaman konteks (cultural), meluaskan pikiran (cognitive), menciptakan hal positif (constructive), cakap berkomunikasi dan berjejaring (communicative), percaya diri dan bertanggung jawab (confident), melakukan hal baru (creative), kritis menyikapi konten (critical), mendukung terwujudnya civil society (civic) (Belshaw, 2011). Elemen cultural dimaknai dengan kemampuan memahami beraneka ragam konteks digital. Elemen ini singkatnya terkait dengan masalah teknis, mengenai “melek internet”. Diharapkan sesesorang tidak akan gagap ketika menghadapi internet dan perkembangannya dengan adanya literasi digital. Elemen kedua yaitu sikap memperluas wawasan yaitu elemen cognitive. Elemen cognitive adalah elemen dasar dariliterasi. Wawasan yang luas membimbingseseorang untuk bertindak lebih hati-hati. Bila dihubungkan dengan konteks digital, terdapat permasalahan kompleks yang tersimpan di dunia digital khususnya media sosial, seperti ujaran kebencian, cyber crime, cyberbullying, pornografi, radikalisme, kecanduan gadget, dan tentu saja hoax. Ketika memanfaatkan internet, seseorang akan lebih berhati-hati karena terbekali literasi digital. Selanjutnya menciptakan hal positif atau constructive, dapat diartikan sebagai melakukan kegiatan yang bermanfaat dengan menggunakan perantara berupa internet. Dampak positif maupun negatif dari internet tergantung dari pemakaian oleh pengguna, karena internet merupakan suatu hal yang bebas. Kemudian elemen cakap berkomunikasi dan berjejaring (communicative) diartikan percaya diri dan bertanggung jawab (confident), dan melakukan suatu hal baru (creative), diartikan bahwa orang yang terliterasi secara digital ia akan mampu dengan baik dalam komunikasi, memiliki rasa bertanggung jawab, serta mampu menciptakan inovasi baru. Elemen ketujuh yaitu elemen critical atau kritis, yaitu menggambarkan seseorang yang secara aktif menggunakan nalar kritisnya dalam menggunakan teknologi digital, memanfaatkan internet, dan menyikapi konten yang ada di internet. Elemen critical merupakan elemen yang paling besar pengaruhnya dalam hal menyikapi konten hoax. Elemen terakhir yaitu civic, yang dapat diartikan sebagai mendukung terciptanya tatanan sosial yang lebih baik atau masyarakat madani dengan hadirnya internet. Guna memahami cara kerja atau mekanisme literasi digital, dapat menggunakan 8 elemen esensial yang diinisiasi oleh Belshaw sebagai dasar acuan. Seseorang dapat memanfaatkan literasi digital untuk beragam kepentingan mengingat dunia teknologi yang semakin berkembang ini. Literasi digital demi menangkal cyberbullying, membendung radikalisme, dan tentu saja bijak dalam menyikapi hoax.

Method

Peneliti memilih metode kualitatif karena penelitian kualitatif ialah metode-metode guna mengeksplorasi serta memahami makna yang oleh sekelompok orang atau individu dianggap berasal dari masalah sosial dan atau kemanusiaan (Creswell, 2012). Dari pernyataan tersebut, peneliti berpendapat kalau metode yang paling cocok untuk penelitian ini ialah metode kualitatif. Hal tersebut dikarenakan penjabaran dari metode kualitatif sejalan dengan tujuan dari penelitian ini yaitu peneliti hendak mengeksplorasi dan mengetahui implementasi dari literasi digital oleh sejumlah individu dalam hal ini yaitu anggota Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk. Selain itu peneliti juga menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif memiliki tujuan memeriksa penyebab dari suatu fenomena dan menggambarkan sifat fenomena yang diteliti (Umar, 2007). Metode ini digunakan karena dalam hasil akhir penelitian, peneliti akan menjabarkan dengan cara menarasikan hasil analisis dari data yang ada yaitu kemampuan literasi digital anggota Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro dalam menyikapi hoax. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif maka dibutuhkan adanya informan. Informan ialah seseorang yang memiliki pengetahuan mengenai latar penelitian dan bersedia memberi informasi mengenaikondisi serta situasi latar belakang penelitian (Moloeng, 2005). Informan dalam penelitian ini yaitu mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro periode 2019-2020. Peneliti ingin mengkaji anggota LPM Hayamwuruk yang aktif memanfaatkan media digital hingga mengolahnya menjadi artikel yang nantinya disebarkan lagi dengan memanfaatkan media sosial. Peneliti tidak memberikan kesempatan yang sama terhadap anggota LPM Hayamwuruk. Menurut (Morrison, 2007) purposive sampling merupakan teknik pemilihan partisipan yang dilakukan dengan cara tidak secara random atau acak tetapi berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti yang disesuaikan dengan kebutuhan penelitian. Guna mempermudah peneliti dalam menetapkan partisipan di dalam penelitian ini maka dilakukan pemilihan kriteria. Peneliti menggunakan metode pengambilan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi merupakan suatu metode yang digunakan dalam penelitian pada saat peneliti ingin belajar tentang perilaku dan makna dibalik perilaku tersebut (Sugiyono, 2015). Metode observasi cocok untuk penelitian ini karena metode pengambilan data ini diterapkan peneliti ketika dalam proses pengamatan mencari informan hingga memahami pola perilaku informan. Metode wawancara digunakan karena peneliti ingin mendapatkan informasi langsung dari narasumber (Sugiyono, 2011). Peneliti memilih menggunakan wawancara semi terstruktur sebagai teknik pengambilan data pada penelitian ini. Pemilihan wawancara semi terstruktur dikarenakan peneliti nantinya dapat memberikan pertanyaan tambahan di luar daftar atau list pertanyaan yang sudah dibuat sebelumnya bila diperlukan. Wawancara dilakukan kepada anggota LPM Hayamwuruk Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro dengan sebelumnya sudah meminta persetujuan. Dikarenakan pandemi Covid-19 proses wawancara dilakukan secara daring. Sebagai pelengkap dari metode observasi dan wawancara pada penelitian kualitatif biasanya menggunakan dokumentasi. Hasil penelitian akan terlihat lebih kredibel bila didukung dengan foto maupun karya tulis akademik yang telah ada (Sugiyono, 2015). Pada penelitian ini metode pengumpulan data dokumentasi salah satunya diterapkan pada saat mengambil tangkapan layar beberapa laman media sosial LPM Hayamwuruk. Penelitian ini peneliti menerapkan teknik analisis tematik. Maksud dari analisis tematik yaitu cara mengidentifikasi tema-tema yang terpola yang ada di suatu fenomena. Terdapat enam tahapan dalam menganalis data tematik yang berpedoman dari gambaran penjabaran milik Braun dan Clarke yaitu memahami data, menyusun kode, mencari tema, meninjau tema, memberikan nama tema, dan menyusun laporan (Braun, V dan Clarke, 2006). Maintaining Quality dilakukan sebagai pembuktian penelitian yang dilakukan ini ialah penelitian ilmiah sekaligus mengkaji data yang sudah didapatkan. Maintaining Quality di sini dapat diuji dengan mengacu pada pendapat yang meliputi empat aspek yaitu credibility, transferability, dependability, dan confirmability (Lincoln, Y. S. dan Guba, 1985).

Result & Discussion

4.1 Sumber Informasi yang Digunakan oleh Anggota LPM Hayamwuruk Salah satu elemen dalam mengetahui literasi digital seseorang adalah dengan melihat kemampuannya dalam menggunakan dan memahami beraneka ragam konteks digital. Mahasiswa semakin melek terhadap media digital sebab setiap harinya selalu bersinggungan dengan media tersebut (Riyanto, Buddy dan Hastuti, 2017). Hasil penelitian ini selaras dengan yang dikemukakan oleh Riyanto dan Hastuti dalam penelitiannya, informan dalam penelitian ini sudah dapat dikatakan “melek digital”. Informan telah mengenal dan memanfaatkan sumber informasi digital sedari kecil. Diketahui bahwa informan mulai mengenal sumber informasi berbasis digital sejak ia berada di bangku sekolah dasar. Ia menggunakan google sebagai mesin pencari informasi, namun sebatas untuk mencari hiburan. Kini fitur Google seperti google scholar dimanfaatkan informan untuk mencari informasi terkait tugas kuliahnya, selain itu ia juga menggunakan JSTOR untuk melihat referensi. Sedangkan dalam hal memenuhi kebutuhan informasi untuk dijadikan referensi konten di Hayamwuruk, informan mengacu pada portalportal berita yang dinilai terpercaya seperti Tirto.id dan Kompas. Pada pembahasan sebelumnya informan sempat menyebutkan mencari referensi salah satunya di website yang dinilai terpercaya. Ada beberapa aspek yang menjadi perhatian informan dalam menilai suatu website dapat dipercaya dan dapat dijadikan acuan. Informan memandang bila suatu website sudah dijadikan acuan oleh banyak orang maka dapat dinilai website tersebut dapat dipercaya. Sehubungan dengan tugas kuliah, bila dosen sudah merekomendasikan suatu website itu berarti dosen tersebut sudah percaya, maka informan ikut mempercayai website yang dipercaya oleh dosennya. Ciri-ciri selanjutnya dilihat dari penulis yang mengunggah artikel di website tersebut serta isi artikel yang diunggah dapat dipertanggungjawabkan. Sumber rujukan yang jelas sangat mempengaruhi penilaian seseorang terhadap tingkat kredibilitas suatu website. Selain itu informan berpendapat bahwa website-website milik lembaga resmi sudah pasti terpercaya. 4.2 Pemahaman tentang Hoax oleh Anggota LPM Hayamwuruk Menurut Belshaw, Literasi digital tidak sebatas pada kemampuan menggunakan seperangkat alat teknis, namun literasi adalah tentang memperluas pikiran (Belshaw, 2011). Perkembangan teknologi digital khususnya internet memang memberikan banyak manfaat untuk masyarakat, namun dibalik itu juga harus dipahami bahwa tetap ada sisi negatif salah satunya adalah maraknya hoax. Internet merupakan sesuatu yang bebas, segala manfaat dan kerugian yang didapat dari internet hanya pengguna itu sendiri yang mampu mengendalikannya. informan menyebutkan bahwa kehadiran internet sangat mempermudah dalam menemukan informasi yang dibutuhkan, namun jika kita tidak berhati-hati maka ancaman dampak buruk dari internet bisa saja menghampiri seperti salah mempercayai berita yang ternyata palsu atau biasa disebut hoax. Pemahaman tentang hoax menjadi tema kedua yang ditemukan oleh peneliti pada saat analisis data. Pemahaman tentang hoax di sini berisi tentang pemaknaan hoax dari berbagai sudut pandang informan, mulai dari definisi, faktor pendorong, hingga antisipasi penyebaran hoax. 4.2.1 Definisi Hoax Istilah hoax secara umum diartikan sebagai informasi palsu. Siverman berpendapat bahwa hoax dapat diartikan sebagai informasi palsu yang dengan sengaja dibuat menyesatkan, kemudian dilayangkan seperti kebenaran (Silverman, 2015). Salah satu informan mendekripsikan hoax sebagai suatu hal bersifat palsu, bohong, penipuan, cari perhatian, manipulasi, dan jahat. Salah satu bentuk identifikasi hoax yaitu suatu opini yang belum terverifikasi kejelasannya. Informan berpandangan bahwa sesuatu bisa dianggap hoax karena tidak didukung bukti yang kuat serta tidak melalui proses verifikasi. 4.2.2 Faktor Pendorong Hoax Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin canggih membuat masyarakat dengan mudah mengakses informasi yang mereka butuhkan melalui internet. Melalui internet seseorang bisa dengan mudah memperoleh informasi, dengan demikian sangat mudah pula persebaran informasi tersebut. Meskipun kemajuan teknologi memberikan banyak keuntungan bagi manusia namun tidak sedikit pula menimbulkan dampak negatif seperti informasi menyesatkan atau hoax (Sujana, Atep dan Dewi, 2019). Salah satu hasil perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ialah media sosial. Media sosial memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat modern kini, selain sebagai media komunikasi ia juga menjadi sumber informasi. Dibalik kebermanfaatannya, media sosial tanpa disadari menjadi jembatan penyebaran hoax. Selain itu faktor pendorong maraknya hoax salah satunya adalah perputaran informasi yang sangat cepat. Sekarang ini hanya dalam hitungan detik saja semua orang dapat melihat apa yang kita unggah di media sosial kapan pun dan dimana pun. Begitu pun sebaliknya kita bisa mendapatkan beragam informasi sekaligus saat membuka media sosial dan tidak menutup kemungkinan terselip hoax di dalamnya. 4.2.3 Antisipasi Hoax Nampaknya butuh waktu cukup lama agar masyarakat Indonesia bisa terbebas dari kasus hoax. Supaya kasus hoax tidak semakin merajalela dapat dilakukan tindakan meminimalisir persebarannya yaitu dengan mengantisipasi hoax. Berdasarkan penjabaran informan pertama dapat diketahui bahwasannya seseorang sejak dulu sudah dibekali kemampuan untuk berpikir. Seperangkat kemampuan itu disebut dengan literasi pada dasarnya meliputi kemampuan membaca, menulis, berbicara, menghitung, serta memecahkan masalah. Mengikuti perkembangan teknologi yang serba digital, kini beragam informasi lebih mudah didapat melalui media digital. Oleh sebab itu dibutuhkan kemampuan untuk mengoperasikan hingga mengolah informasi yang di dapat dari media digital. kemampuan tersebut dikenal dengan istilah literasi digital. Ketika mendapatkan suatu informasi baru kita bisa menggunakan kemampuan dasar yang dimiliki untuk mengecek kebenaran informasi tersebut. Diharapkan literasi digital dapat menjadi benteng pertahanan seseorang supaya tidak mudah terhasut hoax. Temuan tersebut sejalan dengan yang diungkapkan Ati, bahwasannya literasi digital merupakan seperangkat kemampuan yang dibutuhkan untuk menghadapi beragam tantangan di era digital salah satunya berperan dalam mencegah hoax (Ati, 2019). 4.3 Evaluasi Berita Evaluasi berita merupakan tema ketiga yang peneliti angkat dalam penelitian ini berdasarkan hasil olah data yang telah dilakukan. Pada tema sebelumnya peneliti menggali tentang sudah sejauh mana informan melek internet dan pemahaman mereka tentang hoax yang merupakan salah satu dampak negatif internet. Di era tanpa batas saat ini memungkinkan persebaran informasi tanpa filter, semua informasi tercampur menjadi satu entah itu fakta atau hoax. Pada akhirnya kemampuan seseorang akan diuji dalam menilai suatu informasi (Purwaningtyas, 2018). Penjabaran dari pernyataan tersebut tertuang dalam pembahasan selanjutnya di sub bab ini, mengenai bagaimana langkah yang diambil oleh informan ketika berhadapan dengan informasi bersumber digital yang belum jelas kebenarannya. Secara lebih terperinci sub bab ini membahas tentang pengalaman informan yang sempat percaya dengan beberapa berita hoax, tanggapan terhadap berita viral, mencari kejelasan berita, dan penulisan berita. 4.3.1 Kasus Hoax Sikap kritis yang dimiliki informan saat ini tidak terlepas dari pengalaman mereka di masa lalu yang sempat salah menilai suatu informasi. Informan mengaku pernah sempat percaya dengan berita viral hingga pada akhirnya informasi pada berita tersebut terbukti hoax belaka. Informan kedua menceritakan bahwa ia sempat mempercayai hoax yang beredar seperti pada kasus Dwi Hartanto dan Audrey. Ada pelajaran penting yang didapat oleh informan dari pengalaman yang sempat dibohongi oleh pemberitaan Audrey. Kini informan ketiga lebih berhati-hati lagi ketika mendapat informasi baru yang belum terkonfirmasi kebenarannya. Dari pengalaman tentang hoax yang disampaikan oleh informan dapat ditarik simpulan bahwa mayoritas masyarakat pernah tertipu oleh hoax, tidak terkecuali dengan seseorang yang menyandang status sebagai mahasiswa. Namun dari pengalaman tersebut ada pembelajaran penting yang dapat dipetik yaitu menjadikan informan sebagai individu yang lebih kritis dan tidak mudah percaya dengan berita viral. 4.3.2 Tanggapan Terhadap Berita Online Bercermin dari masa lalu yang sempat percaya dengan hoax, kini informan lebih behati-hati dalam mengambil sikap saat menemui berita baru yang di dapat dari internet khususnya media sosial. Seperti yang diungkapkan oleh Belshaw bahwa sudah sepatutnya individu ketika menerima informasi tidak sekadar menganggap benar atau salah namun juga harus memahami isi sebaik mungkin (Belshaw, 2011). Salah satu informan mengatakan bahwa ia lebih mengedepankan sikap tidak langsung percaya begitu saja dengan pemberitaan apa pun. Sebelum mempercayai sesuatu terlebih dahulu informan mencari tahu dahulu kebenarannya. Berdasarkan pernyataan para informan, diketahui bahwa untuk mencari tahu kebenaran suatu informasi dapat dilakukan dengan cara verifikasi. Terdapat beberapa langkah dalam verifikasi data, antara lain berdiskusi dengan rekan, mencari informasi tersebut di media yang dinilai kredibel, serta mengkomparasikan data yang di peroleh dari beberapa media. Dari hasil analisis yang telah dilakukan tampak sedikit perbedaan hasil antara penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Riyanto dan Hastuti. Dapat diketahui pada penelitian ini mahasiswa terlihat mengedepankan evaluasi informasi yang di dapat dengan berbagai cara. Sedangkan pada penelitian sebelumnya didapat hasil bahwa mahasiswa kurang mempunyai kemampuan mengevaluasi kredibilitas sumber informasi. Mereka cenderung langsung menerima informasi yang didapat tanpa menelusuri kebenarannya (Riyanto, Buddy dan Hastuti, 2017). 4.3.3 Penulisan Berita Seiring dengan berkembangnya kajian teori tentang literasi digital, kini literasi digital tidak hanya dinilai sebagai kemampuan seseorang dalam mengoperasikan alat digital dan mengolah infomasi yang didapat dari sumber digital. Berdasarkan penemuan salah seorang ahli bernama Belshaw, ia menjabarkan bahwa terdapat beberapa elemen lain dalam literasi digital diantaranya meliputi communicative, creative, dan confident (Belshaw, 2011). Dari penjabaran tersebut dapat diartikan bahwa orang yang literasi digitalnya mumpuni ia akan mampu dengan baik dalam berkomunikasi dan berjejaring, mampu menciptakan inovasi baru, serta memiliki rasa tanggung jawab. Setelah pada sub bab sebelumnya membahas tentang cara informan menyikapi berita, pada sub bab ini ditemukan pembahasan baru yaitu penulisan berita oleh informan. Menjadi bagian dari Lembaga Pers Hayamwuruk Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro membuat informan tanpa disadari telah menerapkan elemen communicative, creative, dan confident. informan menggunakan kemampuan berpikir dan kreativitasnya untuk menciptakan hal baru yaitu laporan berita tentang informasi simpang siur yang sebelumnya di dapat dari berbagai media. Kreativitas merupakan salah satu elemen penting literasi digital, yaitu tentang melakukan hal-hal baru dengan cara baru, ini berkaitan dengan menggunakan teknologi untuk melakukan tugas dan mencapai hal-hal yang sebelumnya belum dilakukan oleh kebanyakan orang (Belshaw, 2011). Setiap berita yang diunggah di Hayamwuruk sebelumnya melewati beberapa tahapan terlebih dahulu, mulai dari mencari bahan bahasan hingga proses editing. Dibutuhkan komunikasi yang baik dan kerjasama tim oleh anggota Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk untuk mempercepat proses penyusunan dalam menghasilkan berita yang up to date. Kerjasama tim juga dilakukan sebagai upaya pengecekan hasil pemberitaan untuk meminimalisis kekeliruan dalam penulisan. Setiap artikel berita yang diunggah di Hayamwuruk selalu mencantumkan nama-nama orang yang berkontribusi dalam penyusunan berita tersebut. Biasanya pencantuman nama dan job desk diletakkan di bagian paling bawah berita. Pencantuman nama sebenarnya bisa menggunakan nama asli maupun nama pena, namun informan lebih memilih menggunakan nama asli. Dari jawaban itu pula peneliti memiliki gambaran bahwa informan adalah seseorang yang percaya diri dan siap bertanggung jawab atas apa pun yang telah ia perbuat karena berani menampilkan nama aslinya ke publik. 4.4 Upaya Melawan Hoax Tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran informasi kini kerap kali diiringi dengan hoax. Dibutuhkan tindakan nyata untuk sedikit demi sedikit mewujudkan tatanan masyarakatat anti hoax. Salah satu elemen penting literasi digital menurut Belshaw adalah civic, yaitu berkaitan dengan partisipasi untuk mendukung pengembangan masyarakat sipil dengan melibatkan kemampuan praktik literasi (Belshaw, 2011). Pada sub bab ini peneliti mendapatkan pengetahuan tentang kontribusi nyata yang secara tidak sadar telah informan lakukan untuk mencegah penyebaran hoax, dan beberapa himbauan oleh informan untuk masyarakat terkait pencegahan penyebaran hoax. 4.4.1 Kontribusi Dibutuhkan tindakan nyata untuk mengupayakan pemberantasan hoax dikalangan masyarakat umum. Tanpa disadari para informan dalam penelitian ini yang berstatus mahasiswa telah turut andil aktif berperan dalam upaya melawan hoax. Beberapa upaya yang telah dilakukan mahasiswa dimulai dari lingkup kecil seperti di lingkup keluarga dan teman. Salah satu informan telah berkontribusi meluruskan pemahaman keluarganya yang sempat percaya dengan hoax. Tindakan yang telah ia lakukan adalah mencoba memverifikasi kebenaran berita yang sumbernya kurang kredibel seperti youtube. Sedangkan informan lain menceritakan alih-alih menggiring opini, membantah, ataupun mengajak debat, ia lebih mengedepankan diskusi positif untuk menyamakan persepsi dengan pendapat temannya. Seluruh informan yang ada di dalam penelitian ini tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro. Terlepas dari kontribusi personal, mereka sebagai anggota dari Lembaga Pers Hayamwuruk telah turut berpartisipasi dalam melawan hoax dengan cara menulis berita dengan berpedoman pada kaidah jurnalistik. Verifikasi merupakan bagian penting dalam proses penulisan berita. Oleh sebab itu setiap anggota Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk melakukan verifikasi supaya berita yang ditulisnya jelas, dapat dipertanggung jawabkan, serta tidak mengandung hoax. 4.4.2 Himbauan untuk Masyarakat Informan sepakat untuk penting menanamkan sikap tidak mudah percaya terhadap sesuatu dan melakukan verifikasi. Jangan mudah percaya sesuatu yang masih berunsur “katanya”. Berbagi informasi memang merupakan suatu hal yang baik namun harus dipertimbangkan pula kebenaran informasi tersebut. Jika kita asal menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya dan nantinya informasi tersebut terbukti keliru, maka kita bisa dianggap sebagai pihak yang patut dipersalahkan juga karena turut andil memperbesar pusaran hoax. Masyarakat dihimbau untuk menahan diri agar tidak langsung mempercayai dan menyebarkan informasi ke orang lain. Lakukan verifikasi atau pengecekan ulang terlebih dahulu terhadap segala informasi yang baru didapatnya. Salah satu bentuk verifikasi data yang dapat dilakukan adalah mengedepankan bertanya “mengapa” dan cari tau untuk apa informasi itu dibuat. 4.5 Keterkaitan antar Tema Keempat tema yang sudah disajikan sebelumnya merupakan hasil penjabaran dari berbagai implementasi kemampuan literasi digital oleh anggota Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk Fakultas Ilmu Budaya Univeritas Diponegoro. Tema yang telah ditemukan sebelumnya tentu mempunyai keterkaitan satu sama lain. Tema pertama yaitu sumber informasi, tema ini menjelaskan gambaran tentang kemampuan melek digital yang dimiliki anggota Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan fakta bahwasannya sekarang ini informan sama sekali tidak gagap dengan perkembangan teknologi. Bahkan informan bergantung dengan teknologi berupa internet untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Informan memanfaatkan mesin pencari Google untuk membantu menemukan informasi. Tidak semua hasil pencarian yang ditampilkan oleh Google dijadikan referensi oleh informan. Ia tetap memilah-milah berita yang diunggah oleh website terpercaya untuk dijadikan sumber rujukan. Tema pertama berkaitan dengan tema kedua. Perkembangan teknologi digital khususnya internet memang memberikan banyak manfaat untuk masyarakat, namun dibalik itu tetap ada sisi negatif salah satunya adalah maraknya hoax. Pada tema kedua dibahas pemahaman tentang hoax oleh para informan. Istilah hoax secara umum diartikan sebagai informasi palsu. Salah satu bentuk identifikasi hoax yaitu suatu opini yang belum terverifikasi kejelasannya. Terdapat beberapa faktor yang mendorong maraknya penyebaran hoax, antara lain perputaran informasi yang sangat cepat, perantara pendukung seperti media sosial, serta kurangnya kemampuan verifikasi data. Dalam rangka antisipasi guna membentengi diri dari hoax dibutuhkan faktor internal berupa penguatan literasi digital. Selain itu dibutuhkan faktor eksternal pula sebagai penunjang meminimalisir persebaran hoax, dalam hal ini media indormasi sangat berperan penting. Literasi digital melibatkan lebih dari sekadar kemampuan untuk menggunakan perangkat lunak atau mengoprasikan perangkat digital. literasi digital mencakup variasi kompleks antara membangun pengetahuan dari navigasi hipertekstual, mengevaluasi kualitas dan validitas informasi. Oleh sebab itu tema pertama dan kedua dalam penelitian ini berkaitan dengan tema ketiga. Evaluasi berita merupakan tema ketiga yang peneliti angkat dalam penelitian ini berdasarkan hasil olah data yang telah dilakukan. Pada tema sebelumnya peneliti menggali tentang sudah sejauh mana informan melek internet dan pemahaman mereka tentang hoax yang merupakan salah satu dampak negatif internet. Selanjutnya pembahasan tema ketiga mengenai bagaimana langkah yang diambil oleh informan ketika berhadapan dengan informasi bersumber digital yang belum jelas kebenarannya. Informan mengaku pernah sempat percaya dengan berita viral hingga pada akhirnya informasi pada berita tersebut terbukti hoax belaka. Dari pengalaman tersebut informan mendapat pelajaran untuk tidak langsung percaya kepada berita-berita viral. Kini setiap ada berita baru yang di dapat informan selalu melakukan verifikasi. Terdapat beberapa langkah dalam verifikasi data, antara lain berdiskusi dengan rekan, mencari informasi tersebut di media yang dinilai kredibel, serta mengkomparasikan data yang di peroleh dari beberapa media. Setelah mengetahui kebenaran suatu berita, informan tergerak untuk menulis pemberitaan tersebut lalu mengunggahnya di website Hayamwuruk. Pada saat menulis berita, informan melakukan diskusi dan bekerja sama dengan rekannya. Tema ketiga memiliki keterkaitan dengan tema keempat. Pada tema sebelumnya membahas tentang cara-cara informan mengevaluasi berita, itu semua dilakukan supaya terhindar dari hoax. Pada tema keempat ditemukan upaya-upaya lain yang telah dilakukan informan untuk melawan hoax. peneliti mendapatkan pengetahuan tentang aksi nyata yang secara tidak sadar telah informan lakukan untuk mencegah penyebaran hoax. Upaya melawan hoax yang telah dilakukan informan antara lain berkontribusi meluruskan pemahaman keluarganya yang sempat percaya dengan hoax, bertukar pendapat dengan teman yang percaya hoax, serta melakukan publikasi berita di Hayamwuruk sesuai dengan kaidah jurnalistik untuk meluruskan pemberitaan. Selain telah melakukan kontribusi nyata, pada tema keempat ini informan juga memberikan himbauan supaya terciptanya masyarakat anti hoax. Isi pesan tersebut meliputi himbauan untuk menanamkan sikap tidak mudah percaya terhadap sesuatu dan melakukan verifikasi.

Conclusion

Berdasarkan hasil analisis penelitian yang mengungkapkan literasi digital angggota Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro dalam menyikapi hoax dapat ditarik simpulan bahwa implementasi literasi digital oleh informan diinterpretasikan dengan penggunaan media digital dan pemanfaatan internet sebagai sumber informasi, pemahaman hoax sebagai dampak buruk hadirnya internet, sehingga muncul tindakan evaluasi berita untuk menangkal hoax, serta turut berupaya melawan hoax. Informan menggunakan media informasi digital dengan bantuan internet sebagai sumber informasi. Hadirnya internet memang memberikan banyak kemudahan kepada informan, namun tetap ada sisi negatifnya seperti contoh maraknya persebaran hoax. Informan mengaku pernah percaya dengan hoax. Dari pengalaman tersebut, informan kini lebih selektif saat menerima berita baru. Verifikasi merupakan salah satu bentuk cara informan dalam mengevaluasi berita yang didapat. Kemampuan dan kesadaran tentang hoax yang dimiliki informan menjadikan ia sebagai pribadi yang bijak dalam menggunakan media digital dan ikut serta berupaya memberantas hoax dengan cara berkontribusi dalam menulis pemberitaan dan mengedukasi orang terdekatnya.