Kembali
16
1
2024 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 8 · 2 ISSN 2598-3040

Interpretasi Kata Borrowing Pada Novel The Borrowers Karya Mary Norton : Kajian Semiotika

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Sastra anak merupakan objek kajian yang menarik untuk diteliti karena walaupun sasaran pembacanya adalah kalangan anak-anak tetapi sastra jenis tersebut juga diminati oleh orang-orang dewasa. Objek penelitian dari tulisan ini adalah sastra anak berjenis novel yang berjudul The Borrowers karya Mary Norton. Permasalahan yang akan diangkat dari penelitian ini adalah tentang interpretasi kata borrowing yang menjadi salah satu inti cerita di dalam novel tersebut. Dengan menggunakan teori semiotika milik Charles Sanders Peirce khususnya tentang ikon, indeks dan simbol akan dilihat bagaimana makna kata borrowing jika dikaitkan dengan konteks sosial masyarakat negara Inggris pada saat novel tersebut diciptakan. Melalui permasalahan yang diangkat di dalam penelitian ini akan dilihat bahwa sebenarnya pemaknaan dari kata borrowing di dalam novel dapat dihubungkan dengan kondisi sosial masyarakat Inggris pasca Perang Dunia ke-2, sehingga kata borrowing tersebut sebenarnya memiliki interpretasi yang lebih dalam maknanya. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa makna borrowing yang terdapat di dalam novel sebenarnya merupakan pencerminan dari sikap pemerintah Negara Inggris terhadap masyarakat Inggris yang pada saat itu menderita akibat Perang Dunia ke-2 yang terjadi.

Abstract

Children's literature is an interesting object to study because although the target audience is children, this type of literature is also enjoyed by adults. The research object of this paper is children's literature, a novel entitled The Borrowers by Mary Norton. The problem that will be presented in this research is the interpretation of the word “borrowing” which is one of the main topics of the stories in the novel. By using the semiotic theory of Charles Sanders Peirce, especially about icons, index and symbols, it will be seen how the meaning of the word “borrowing” is associated with the social context of British society at the time the novel was created. Through the problems raised in this research, it will be seen that the actual meaning of the word “borrowing” in the novel can be related to the social conditions of British society after World War II, so the word “borrowing” actually has a deeper interpretation. The results of this study indicate that the meaning of borrowing in the novel is actually a reflection of the attitude of the British government towards British society, who at that time suffered from the Second World War that occurred.
Keywords: children's literature · semiotics · icons · indexes · symbols

Introduction

Salah satu jenis sastra yang sebenarnya sangat menarik untuk di teliti adalah sastra anak. Jenis sastra ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan jenis sastra yang lain. Sastra anak biasanya bercerita tentang dunia fantasi yang di dalamnya berisi tentang nilai-nilai moral yang dapat diajarkan kepada anakanak sebagai sasaran pembaca utama dari karya sastra jenis ini (Lerer, 2009). Inggris merupakan salah satu negara yang terkenal dalam menghasilkan karya sastra anak. Beberapa penulis seperti Charles Dickens, Robert louis Stevenson dan Roald Dahl merupakan penulis karya sastra anak yang terkenal yang berasal dari Inggris(Butler, 2017). Sedangkan untuk penelitian yang akan dilakukan di dalam tulisan ini akan menggunakan novel berjudul The Borrowers karya Mary Norton yang juga merupakan salah satu karya sastra anak. The Borrowers adalah novel karya Mary Norton yang diterbitkan pada tahun 1952. Novel tersebut mengisahkan tentang kehidupan keluarga Clock sebagai the borrower, manusia kecil sebesar tikus yang tinggal di dalam rumah manusia. The borrowers biasanya tinggal di loteng atau di bawah lantai rumah dan hidup dengan cara “meminjam” (borrowing) barang-barang milik manusia di rumah itu. Keluarga Clock terdiri atas Pod, Homily serta Arrietty, anak mereka yang berumur 14 tahun. Sebagai seseorang anak yang sedang dalam tahap pertumbuhan, Arrietty memiliki keingintahuan yang sangat besar baik itu tentang pekerjaan Pod sebagai borrower serta tentang kehidupan “beans” (panggilan manusia oleh kaum borrower). Karena keingintahuannya yang besar akhirnya Arrietty diperbolehkan untuk menemani Pod dalam melakukan pekerjaannya sebagai borrower. Di saat Arrietty sedang berkeliaran sendiri, ia bertemu dengan anak manusia yang akhirnya menjadi temannya. Pertemanan itu menjadi awal dari kejadian buruk yang menimpa keluarga Clock karena keberadaan mereka diketahui oleh manusia. Keadaan ini memaksa mereka mengungsi untuk mencari rumah baru untuk ditempati(Olson, 1970). Novel The Borrowers (Norton M. & Stanley D. L, 1952) karya Mary Norton ini diterbitkan pada tahun 1952, di mana pada saat itu kondisi sosial masyarakat di negara Inggris masih terdampak akibat adanya Perang Dunia ke-2. Masyarakat Inggris pada saat itu masih memiliki trauma akan perang yang terjadi di kawasan Eropa. Efek dari Perang Dunia ke-2 membuat banyak infrastruktur di negara tersebut rusak parah dan mengakibatkan negara Inggris mengalami kerugian secara material yang sangat besar (Deighton, 2010). Selain itu, perang dingin yang terjadi pasca Perang Dunia ke-2 juga membuat negara Inggris memiliki hutang yang besar pada negara Amerika Serikat. Bukan secara material saja tetapi secara mental masyarakat negara Inggris juga mengalami dampak yang sangat besar (O’Malley, 2003). Beberapa permasalahan yang muncul akibat Perang Dunia tersebut bagi masyarakat Inggris antara lain adalah kemiskinan, proses pendidikan terhambat, masyarakat yang tidak memiliki tempat tinggal, kurangnya lapangan pekerjaan, dan permasalahan Kesehatan (Howlett, 2006). Pada saat terjadi permasalahanpermasalahan tersebut di negara Inggris, peran pemerintah Inggris sangat besar dalam membangun kembali negaranya tersebut untuk kembali menjadi lebih baik keadaan masyarakatnya sehingga masyarakat dapat mengembalikan kepercayaannya kepada negara Inggris pasca Perang Dunia ke-2 (Harris, 1992). Dari keadaan sosial masyarakat negara Inggris yang diceritakan di paragraf sebelumnya sebenarnya dapat dilihat secara sekilas akan keterkaitannya dengan cerita dari novel The Borrowers ini. Hubungan antara keluarga Pod (dengan kata lain kaum borrowers) dengan The Human Beans (manusia) dalam skala kecil mempunyai kemiripan dengan hubungan masyarakat Inggris dengan Pemerintah Inggris, atau dalam skala yang lebih besar, hubungan di dalam novel tersebut memiliki kemiripan dengan hubungan antara negara Inggris dengan negara Amerika Serikat pada saat setelah berakhirnya Perang dunia ke-2 (Dubosarsky, 2006). Masyarakat Inggris pada saat itu hidup dengan bergantung dari bantuan pemerintah akibat dampak dari perang, sementara di dalam novel kaum borrowers di ceritakan bahwa kelangsungan hidup mereka berasal dari “meminjam” barang-barang milik manusia di tempat asal mereka tinggal. Hal tersebut juga mirip dengan kondisi negara Inggris pada saat itu yang berhutang dalam jumlah yang sangat besar pada negara Amerika Serikat agar dapat beradaptasi dengan keadaan pasca Perang Dunia ke-2 yang terjadi di wilayah Eropa (Diefendorf, 1989). Terdapat beberapa penelitian yang menggunakan novel The Borrowers sebagai objek kajiannya. Salah satu diantaranya adalah artikel yang di tulis oleh Jon. C. Stott yang berjudul “Anatomy of a Masterpiece: The Borrowers” (Stott, 1976) yang isinya adalah penelitian tentang diksi dari novel The Borrowers. Tulisan lain yang menggunakan novel The Borrowers sebagai objek kajiannya adalah skripsi yang di tulis oleh Rendadirza Yulia yang berjudul “Transitivity Process in Mary Norton’s Novel The Borrowers”(Rendadirza & Ardi, 2020). Tulisan milik Yulia tersebut membahas mengenai transitivitas yang terdapat di dalam cerita The Borrowers. Artikel yang ketiga adalah tulisan berjudul “Post-war Place and Displacement in Rumer Godden’s The Dolls and Mary Norton’s The Borrowers” yang ditulis oleh Ursula Dubosarsky (Dubosarsky, 2006). Artikel tersebut berisi tentang novel The Borrowers yang merupakan cerminan keadaan masyarakat pasca perang dan bagaimana kedudukan masyarakat tersebut di dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat. Berdasarkan konteks sosial karya sastra yang sudah dibicarakan di atas, maka ada dua permasalahan yang akan diangkat di dalam penelitian ini. Permasalahan pertama adalah tentang Analisis ikon, indeks dan simbol yang terdapat pada novel The Borrowers karya Mary Norton. Sedangkan permasalahan kedua adalah tentang interpretasi kata “borrowing” di dalam novel dikaitkan dengan hasil analisis dari ikon, indeks dan simbol yang terdapat di dalam novel.

Method

Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif. Melalui metode tersebut akan dilihat data yang sudah dikaji dan kemudian analisis dengan menggunakan pendekatan semiotika. Pendekatan semiotika yang akan digunakan adalah berupa ikon, indeks dan symbol. Ikon, indeks dan symbol tersebut nantinya akan digunakan untuk mengungkapkan makna-makna tersirat dari novel The Borrowers. Makna yang tersirat dalam novel tersebut nantinya akan digunakan untuk menginterpretasikan kata borrowing di dalam novel tersebut.

Result & Discussion

3.1 Ikon, Indeks dan Simbol di dalam novel The Borrowers Semiotika berasal dari kata Yunani yaitu semion yang secara harafiah dapat diartikan sebagai tanda. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda (Pradopo, 1999). Menurut para pakar semiotika, segala sesuatu yang ada di dunia ini dapat dilihat sebagai sebuah tanda sehingga setiap tanda tersebut memiliki makna yang bermacam-macam. Semiotik memandang bahwa segala fenomena sosial budaya dapat dilihat sebagai sebuah bahasa sehingga fenomena tersebut juga dapat dianggap sebagai sebuah tanda. Bahasa sendiri sebagai suatu medium komunikasi diangggap sebagai sistem semiotik yang tentu saja memiliki arti dari setiap tanda-tanda yang ada di dalam sistem tersebut (Pradopo, 2009). Salah satu pakar di dalam ilmu semiotika adalah Charles Sanders Peirce. Peirce melihat bahwa tanda adalah proses kognitif yang bersumber dari penangkapan sebuah objek oleh pancaindra kita (Peirce & Buchler, 1955). Peirce juga mengatakan bahwa suatu hal dapat dikatakan sebagai tanda jika hal tersebut memiliki makna lain selain makna harafiahnya (Peirce & Buchler, 1955). Peirce menyebutkan tanda sebagai representamen dan konsep, benda, gagasan, dan seterusnya, yang diacunya sebagai objek (Danesi, 2004). Menurut Peirce ada tiga faktor yang menentukan keberadaan sebuah tanda, yaitu tanda itu sendiri, hal yang di tandai dan sebuah tanda baru yang muncul karena interpretasi yang dilakukan oleh orang yang menerima tanda tersebut (Peirce et al., 1933). Dari penjelasan tiga faktor sebelumnya dapat dilihat bahwa menurut Peirce, semiotika dapat diartikan sebagai hubungan antara tanda dan apa yang ditandakan. Hasil dari apa yang ditandakan itu sendiri juga masih bergantung dengan kemampuan individu yang menginterpretasikan tanda tersebut sesuai dengan pemahamannya. Sehingga dapat dikatakan bahwa tanda di dalam semiotika memiliki pemaknaan yang berbeda-beda menurut dengan individu yang memaknai tanda tersebut. Di dalam ilmu semiotika yang diungkapkan oleh Peirce, tanda secara sederhana di klasifikasikan lagi menjadi tiga, yaitu: ikon, indeks dan simbol (Peirce & Buchler, 1955). Kalsifikasi tanda oleh Peirce tersebut lebih dikenal dengan konsep trikotomi. Ikon, indeks dan simbol memiliki hubungan yang sangat erat dalam proses pemaknaan suatu karya sastra. Ketiga unsur tersebut harus di lihat secara seksama di dalam proses pembacaan suatu karya sastra sehingga nantinya pembaca dapat mengetahui makna di balik karya sastra tersebut secara utuh sesuai dengan pemahaman pembaca itu sendiri. Konsep trikotomi tersebut merupakan sebuah hubungan di dalam karya sastra. Hubungan yang dimaksud adalah hubungan antara objek, representamen dan interpretan (Wulandari & Siregar, 2020). Lebih lanjut lagi, hubungan tersebut dibagi menjadi tiga bagian yaitu hubungan tanda dilihat dari persamaan antara unsur-unsur yang diacu yang dapat disebut sebagai ikon, kemudian hubungan tanda dilihat dari adanya sebab akibat di dalam tanda yang disebut dengan indeks, yang terakhir adalah hubungan tanda yang dilihat berdasarkan proses pemahaman antar unsur tersebut yang dapat disebut dengan simbol (Peirce & Buchler, 1955). Ikon adalah objek yang secara fisik menyerupai dengan apa yang di representasikannya (Peirce & Buchler, 1955). Sebuah tanda dirancang untuk mempresentasikan sumber acuan melalui simulasi atau persamaan (Danesi, 2004). Representasi tersebut biasanya dilihat dari kemiripannya. Sebagai contoh dari ikon adalah gambar, patung, dll. Peirce menjelaskan bahwa ikon merupakan tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya berdasarkan atas kemiripan bentuk secara alamiah (Peirce & Buchler, 1955). Dari penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa ikon merupakan hubungan antara tanda dan objek yang memiliki kemiripan secara fisik atau lebih sederhana lagi ikon merupakan tanda yang mirip antara benda aslinya dengan apa yang direpresentasikannya. Indeks sendiri adalah tanda yang memperlihatkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat sebab-akibat (Peirce & Buchler, 1955). Sebagai contoh untuk penggambaran definisi indeks adalah cahaya sebagai tanda dari keberadaan lampu. Indeks merupakan tanda yang muncul melalui hubungan sebab-akibat yang ditimbulkan oleh ciri petanda yang sifatnya tetap atau pasti (Peirce & Buchler, 1955). Indeks adalah tanda yang mewakili sumber acuan dengan cara menunjuk padanya atau mengaitkannya (secara eksplisit atau implisit) dengan sumber acuan lain (Danesi, 2004). Secara sederhana dapat di tarik kesimpulan bahwa indeks merupakan hubungan antara tanda dan petanda yang hubungannya bersifat sebab-akibat karena tanda tersebut tidak akan muncul jika petandanya sendiri tidak hadir. Simbol sendiri adalah tanda yang menunjukkan hubungan antara tanda dan petanda yang sifatnya arbiter atau hubungan yang berdasarkan konvensi masyarakat (Peirce et al., 1933). Makna-makna dalam suatu simbol dibangun melalui kesepakatan sosial atau melalui beberapa tradiasi historis (Danesi, 2004). Simbol dapat dimaknai sebagai perwujudan lain dari objek yang akan dimaknai tersebut. sebagai contoh adalah warna merah. Secara harafiah warna merah tersebut dimaknai sebagai sebuah warna biasa yaitu merah tetapi jika dilihat sebagai sebuah simbol maka warna merah tersebut dapat berubah maknanya menjadi sebagai representasi tentang keberanian. Sehingga dapat dikatakan bahwa simbol adalah tanda yang mengharuskan pembaca untuk melakukan proses pemaknaan lebih lanjut dengan mengkaitkannya dengan objek tanda tersebut. konsep trikotomi dari Peirce memiliki hubungan yang sangat erat di dalam proses pemaknaan sebuah karya sastra (Peirce et al., 1933). Ikon, indeks, dan simbol harus diperhatikan secara cermat di dalam proses pembacaan suatu karya sastra sehingga nantinya saat unsur-unsur tersebut dihubungkan dengan unsur ekstrinsik karya sastra tersebut dapat memunculkan pemahaman yang lebih mendalam lagi bagi pembaca. Unsur pertama yang akan diteliti adalah tentang ikon yang terdapat di dalam novel The Borrowers. Unsur ikon yang paling menonjol di dalam cerita novel ini adalah tokoh utama dari novel ini sendiri yaitu kaum borrowers. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa ikon merupakan sebuah objek yang bentuknya menyerupai dengan apa yang direpresentasikannya. Borrowers digambarkan di dalam novel memiliki kemiripan dengan manusia namun memiliki ukuran yang sangat kecil sebesar tikus. “It was because they were frightened, he thought, that they had grown so small. Each generation had become smaller and smaller, and more and more hidden. In the olden days, it seems, and in some parts of England, our ancestors talked quite openly about the 'little people”(Norton M. & Stanley D. L, 1952). Dari kutipan di atas dapat di mengerti bahwa bentuk fisik borrower yang kecil tersebut disebabkan karena ketakutan mereka terhadap dunia luar sehingga membuat perubahan fisik terhadap diri mereka menjadi semakin kecil setiap generasinya untuk membantu kehidupan mereka yang memang tidak menginginkan keberadaan mereka diketahui oleh manusia normal di sekitar mereka. Sehingga dapat dikatakan bahwa borrower sebagai tanda memiliki kemiripan bentuk fisik dengan penandanya yaitu manusia normal. Kemiripan tersebut akan Nampak lebih jelas saat melihat tokoh utamanya yaitu keluarga Clock. Bukan hanya secara fisik saja tetapi gaya hidup keluarga Clock tersebut juga mirip dengan manusia normal di mana Pod sebagai seorang kapala keluarga bertugas untuk menghidupi keluarganya dengan “meminjam” barang-barang dari manusia. Sementara Homily selayaknya seorang ibu rumah tangga bertugas untuk mengurus pekerjaan domestik keluarga Clock. Sementara Arrietty sebagai seorang anak keluarga Clock memiliki keingitahuan yang besar akan dunia di luar keluarga borrower. Sama seperti bentuk fisik dan gaya hidup mereka yang mirip dengan manusia normal, penampilan mereka juga mirip dengan manusia normal di mana mereka juga mengenakan pakaian normal selayaknya manusia. Selain dari ukuran tubuh secara fisik dan gaya hidup kaum borrower tidak memiliki perbedaan dengan bentuk fisk dan gaya hidup manusia normal. Borrower menjadi sebuah tanda yang memiliki kemiripan rupa dengan penandanya yaitu manusia sehingga dapat dikatakan bahwa borrower merupakan sebuah ikon yang merepresentasikan manusia. Borrower sebagai sebuah ikon dari manusia normal di dalam novel ini sendiri memiliki pengaruh yang besar terhadap proses pembacaan dimana hal tersebut membuat pembaca merasa tidak ada perbedaan kehidupan yang sangat jauh antara borrower dengan manusia normal. Unsur selanjutnya yang terdapat di dalam novel yang akan di bahas adalah tentang indeks. Dikatakan di dalam teori semiotika di sub bab sebelumnya bahwa indeks muncul melalui hubungan sebab akibat yang disebabkan oleh penanda. Di dalam novel The Borrowers ini sendiri dapat dikatakan bahwa gaya hidup borrower dalam “meminjam” barang-barang milik manusia tempat mereka tinggal merupakan sebuah indeks. "Oh dear," exclaimed Mrs. May lightly, "don't say they're in this house too!" "That what are?" asked Kate. "The Borrowers," said Mrs. May, and in the half-light she seemed to smile. Kate stared a little fearfully. "Are there such things?" she asked after a moment. "As what?" "As people, other people, living in a house who… borrow things?" (Norton M. & Stanley D. L, 1952). Dari kutipan dialog di atas dapat di lihat bahwa tindakan “meminjam” yang dilakukan oleh borrower merupakan sebuah indeks. Barang-barang milik manusia yang hilang merupakan sebuah tanda akan keberadaan dari borrower sesuai dengan apa yang di percayai oleh tokoh manusia pada dialog di atas. Tindakan “meminjam” oleh borrower tersebut menyebabkan munculnya hubungan sebab-akibat sesuai dengan pengertian dari indeks. Dengan adanya tindakan “meminjam” oleh borrower tersebut maka menyebabkan keberadaan dari borrower itu sendiri menjadi mendekati kenyataan dan hal tersebut membuat manusia menjadi percaya akan keberadaan borrower. Indeks lain yang terdapat di dalam novel adalah tentang “gerbang” (gate). “It was only Pod who knew the way through the intersecting passages to the hole under the clock. And only Pod could open the gates” (Norton M. & Stanley D. L, 1952). Kutipan di atas memperlihatkan bagaimana “gerbang” merupakan sebuah indeks, dimana terdapat hubungan sebab akibat dari keberadaan “gerbang” tersebut. “gerbang” di sini merupakan tanda yang mengisyaratkan bahwa Pod dan Homily sebagai orang tua Arrietty menginginkan anaknya tersebut agar tidak dapat berpetualang keluar dari rumah mereka yang dianggap sebagai tempat mengerikan dikarenakan adanya keberadaan manusia. “Gerbang” tersebut merupakan alat untuk mengekang kebebasan Arrietty di dalam keingintahuannya akan dunia di luar kehidupan dirinya sebagai borrower. Unsur yang ketiga di dalam konsep trikotomi milik Peirce adalah simbol. Salah satu simbol yang terdapat didalam novel ini adalah nama keluarga Clock dimana nama tersebut menyimbolkan lokasi tempat tinggal mereka yaitu di bawah jam di ruangan dapur tempat tinggal manusia. "Because we Clocks live under the kitchen, that's why. Because we don't talk fancy grammar and eat anchovy toast. But to live under the kitchen doesn't say we aren't educated. The Clocks are just as old a family as the Harpsichords” (Norton M. & Stanley D. L, 1952). Dijelaskan sebelumnya bahwa definisi dari simbol merupakan hubungan antara tanda dan petanda yang sifatnya arbiter atau sifatnya konvensional. Nama Clock sendiri dapat di lihat sebagai simbol yang artinya dijelaskan secara konvensional di dalam novel ini yaitu karena keluarga borrower tersebut tinggal di bawah jam sehingga mereka dinamai keluarga Clock. Jika simbol jam yang terdapat di dalam novel dikaitkan dengan konteks sosial novel maka simbol tersebut dapat dilihat sebagai menara Big ben di Inggris yang yang merupakan salah satu bangunan terkenal di Inggris. Penejelasan mengenai konteks sosial simbol jam tersebut memperlihatkan adanya keterkaitan antara novel The Borrowers dengan negara Inggris dalam hal setting tempat di dalam novel. Simbol lain yang terdapat di dalam novel The Borrowers adalah tindakan “meminjam” yang dilakukan oleh borrower itu sendiri. Ketergantungan kaum borrowers akan tindakan “meminjam” untuk dapat bertahan hidup merupakan alasan mengapa mereka dinamakan dengan borrowers. Tindakan tersebut dapat dikatakan sebagai simbol karena konotasinya dengan ketidakmampuan secara material atau kemiskinan. Sehingga dapat dikatakan bahwa “meminjam” sebagai sebuah simbol menunjukan bahwa borrower adalah kaum yang tidak mampu secara materi atau miskin. 3.2 Pemaknaan Kata “Meminjam” (borrowing) di dalam Novel The Borrowers Setelah menganalisis ikon, indek dan simbol yang ada pada novel The Borrowers, hasil analisis tersebut akan dikaitkan dengan konteks sosial yang terjadi di Inggris pada masa itu. Dari hasil analisis semiotika yang sudah dilakukan dapat dilihat analoginya jika dihubungkan dengan konteks sosial negara Inggris pasca Perang Dunia ke-2 pada saat itu. Dari analisis ikon yang terdapat di dalam novel dapat di lihat bahwa borrower merupakan representasi dari manusia itu sendiri dan jika dihubungkan kembali dengan ukuran borrower yang kecil maka dapat ditarik kesimpulan bahwa borrower merupakan penggambaran masyarakat kelas menengah ke bawah di Inggris pada saat itu. Selain dari analisis ikon, penggambaran masyarakat menengah ke bawah juga dapat dilihat melalui simbolisasi gaya hidup kaum borrowers yang tergantung dengan tindakan “meminjam”mereka. Analisis indeks tentang tindakan “meminjam” dan tentang gerbang untuk melindungi Arrietty dari keingintahuannya tetang dunia luar dapat dihubungkan dengan keadaan sosial masyarakat Inggris pada saat itu. Masyarakat kelas menengah ke bawah di negara Inggris pasca Perang Dunia ke-2 pada saat itu sangat terdampak perang yang terjadi saat itu. Masyarakat kelas tersebut secara ekonomi sangat kesulitan untuk dapat menjalankan kehidupannya secara normal sehingga dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka harus meminjam atau meminta pertolongan dari bank-bank atau pemerintah Inggris. Sementara itu analisis mengenai indeks gerbang di dalam novel dapat dianalogikan sebagai tindakan pemerintah Inggris pada saat itu dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah akan keselamatan mereka yang berada di negara Inggris pasti aman dan terjaga setelah adanya perang yang melanda negara tersebut. Analisis simbol tentang nama keluarga Clock dapat dianalogikan secara sederhana bahwa analisis tersebut menunjukkan negara Inggris sebagai fokus utama dari permasalahan yang terjadi. Clock atau jam sendiri dapat dilihat sebagai simbol dari negara Inggris jika dikaitkan dengan salah satu bangunan ikonik yang terdapat di Inggris yaitu menara Big Ben yang terdapat di London, Inggris. Sedangkan tindakan “meminjam” sebagai simbol dari kemiskinan sendiri sudah dijelaskan sebelum di dalam penjelasan indeks bahwa kemiskinan dan ketidakmampuan masyarakat Inggris pada saat itu merupakan dampak dari Perang Dunia ke-2 yang terjadi pada waktu itu. Melalui penjelasan di atas dapat dilihat penjelasan tentang analogi dari tindakan “meminjam” yang dilakukan oleh borrower ke dalam kehidupan nyata masyarakat Inggris pada saat itu. Namun sebenarnya jika dilihat kembali melalui cerita novel The Borrower sebenarnya terdapat perbedaan yang sangat mendasar di dalam pemaknaan kata “meminjam” (borrowing) dengan maknanya secara harafiah. Secara logika yang dinamakan dengan tindakan “meminjam” tentu akan mengembalikan barang yang di pinjam tersebut pada suatu saat. Namun di dalam cerita The Borrower di katakan walaupun mereka menamakan tindakan mereka tersebut dengan kata “meminjam” pada kenyataannya mereka tidak mengembalikan barang-barang yang sudah mereka pinjam tersebut kepada pemilik aslinya. Borrower menganggap bahwa barang yang sudah mereka pinjam tersebut menjadi barang milik mereka. Jika hal tersebut dianalogikan di dalam konteks sosial negara Inggris pada saat itu maka dapat diartikan bahwa tindakan “meminjam” tersebut merupakan bentuk bantuan dari pemerintah Inggris terhadap masyarakatnya dengan cara memberikan bantuan berupa makanan, lapangan pekerjaan ataupun tempat tinggal sehingga kondisi masyarakat Inggris dapat membaik secara bertahap dan menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat Inggris terhadap pemerintah. Jika analogi makna “meminjam” di dalam konteks sosial negara inggris tersebut dikembalikan lagi ke dalam cerita novel The Borrowers maka dapat dilihat bahwa makna dari kata “meminjam” di dalam novel bukanlah seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Makna “meminjam” di dalam novel ini dapat diartikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh borrower agar dapat menumbuhkan rasa kepercayaan terhadap manusia sehingga mungkin pada suatu saat nanti kaum borrower tidak perlu menyembunyikan keberadaannya kepada manusia normal.

Conclusion

Sastra anak merupakan jenis sastra yang sebenarnya sangat menarik untuk dikaji di dalam penelitian kepustakaan. Sastra anak yang sasaran utama pembacanya adalah anak-anak sebenarnya jika diteliti lebih dalam dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang pembaca anak-anak. Hal tersebut juga dapat ditemukan pada novel The Borrowers karya Mary Norton yang juga termasuk di dalam kategori sastra anak. Dari analisis yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya dapat dilihat bagaimana novel tersebut yang bertemakan tentang cerita fantasi anak-anak dapat dilihat dengan sudut pandang yang berbeda jika dibaca dengan menggunakan teori semiotika dan pengetahuan akan konteks sosial zaman saat karya sastra tersebut diciptakan. “Borrowing” menjadi salah satu inti cerita yang disajikan di dalam novel The Borrowers. Melalui analisis yang sudah di jelaskan pada bab sebelumnya dapat dilihat bahwa sebenarnya kata borrowing tidak hanya dapat dimaknai secara harafiah saja tetapi juga mengandung makna yang lain. Borrowing merupakan cara borrowers untuk memnuhi kebutuhan hidup mereka, akan tetapi cara borrowing di dalam novel lebih terlihat seperti mencuri barang dari manusia tempat kaum borrowers tersebut menetap. Dalam analisis di bab sebelumnya kegiatan borrowing tersebut dianalogikan sebagai kebijakan pemerintah pada saat itu untuk memberi pinjaman kepada masyarakat Inggris yang kesulitan untuk bertahan hidup pasca Perang Dunia ke-2. Pemerintah Inggris memberi pinjaman kepada masyarakat Inggris agar dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat negara Inggris kepada pemerintah setelah negara Inggris kacau karena terdampak Perang Dunia pada saat itu. Dari penjelasan makna borrowing dalam kaitannya dengan konteks sosial negara Inggris tersebut dapat disimpulkan bahwa sebenarnya makna kata borrowing di dalam novel itu sendiri merupakan suatu cara untuk memberitahu manusia tentang keberadaan mereka dan harapan agar suatu saat nanti mereka dapat hidup tanpa perlu bersembunyi dari manusia. Hal tersebuit juga sama dengan harapan dari pemerintah Inggris di mana mereka berharap bahwa dengan membangun kembali kepercayaan masyarakat Inggris terhadap pemerintah maka diharapkan suatu saat nanti pemerintah Inggris dapat membangun kembali kondisi masyarakat seperti pada saat sebelum terdampak perang. Dari penjelasan makna borrowing diatas dapat dikatakan bahwa novel The Borrowers sebenarnya merupakan cerminan tentang bagaimana kondisi sosial masyarakat di negara Inggris pasca Perang Dunia ke-2 yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka tanpa adanya bantuan dari pemerintah Inggris dan bagaimana cara pemerintah negara Inggris mengatasi masalah dampak perang secara mental di masyarakat yang terjadi di negara mereka pasca Perang Dunia ke-2.