Kembali
16
1
2021 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 5 · 4 ISSN 2598-3040

Strategi Perpustakaan Umum dalam Mendukung Program Sustainable Development Goals

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Perpustakaan merupakan lembaga yang menyediakan sumber informasi dan layanan informasi yang berguna untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan agenda PBB yang yang bernama Sustainable Development Goals. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY dalam mendukung program Sustainable Development Goals melalui bebagai macam layanan yang disediakan untuk masyarakat. Melalui pendekatan kualitatif penelitian ini menggunakan wawancara semi terstruktur dan data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan thematic analysis. Hasil analisis menunjukkan dua tema utama penerapan poin-poin dalam SDGs, yaitu penerapan SDGs poin 1, dan penerapan poin 4. Hasil penelitian ini bermanfaat untuk perpustakaan umum dalam mengembangkan layanannya khususnya layanan informasi yang terkait dengan implementasi SDGs.

Abstract

The library is an institution that provides sources of information and information services that are useful for improving the quality of life of the community. This is under the UN agenda called the Sustainable Development Goals. This study aims to understand the role of Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY in supporting the Sustainable Development Goals program. By providing a variety of services so that the understanding of librarians is needed to create library services based on the SDGs. Through a qualitative approach, this research uses semi-structured interviews, observation, and documentation studies as data collection methods. The collected data is analyzed by thematic analysis by combining the results of interviews, observations, and documentation studies. The results found from this study include understanding the meaning of SDGs, implementing point 1 SDGs, and implementing point 4 SDGs.
Keywords: public library · balai layanan perpustakaan dpad diy · sustainable development goals

Introduction

Sustainable Development Goals diciptakan dengan alasan untuk dapat menciptakan pembangunan di seluruh negara dengan bertanggung jawab. Karena pada dasarnya negara-negara di seluruh dunia saling membutuhkan dan saling berkaitan. Setiap pembangunan yang dilakukan oleh suatu negara tanpa disadari dapat berdampak langsung ataupun tidak langsung terhadap negara yang lainnya. Indonesia juga termasuk ke dalam salah satu negara yang setuju dan berkomitmen untuk dapat mengimplementasikan SDGs didalam setiap pelaksanaan pembangunan. Maka dari itu, melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pemerintah menjalin kerja sama dengan pemerintah kota dan pihak swasta agar setiap pembangunan yang dilakukan sesuai dengan SDGs. Pemerintah kota dapat memanfaatkan setiap sarana prasarana yang dimiliki oleh pemerintah kota dalam mendukung program SDGs tanpa terkecuali sebuah perpustakaan. Karena pada dasarnya perpustakaan umum yang merupakan lembaga non profit memiliki peran dalam menyalurkan informasi kepada masyarakat agar informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat dapat terpenuhi dengan baik. Sejalan dengan dasar program SDGs yang meliputi mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan. Hal itu, sesuai dengan program SDGs perpustakaan umum yang dapat memberikan pelayanan dalam mendukung SDGs agar dalam ruang lingkup tersebut dapat mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan. Salah satu daerah yang sudah ikut andil dalam mendukung program SDGs ialah Daerah Istimewa Yogyakarta karena dari 17 tujuan SDGs sudah mendukung 14 tujuan tersebut (Pemerintah Daerah DIY, 2019). Oleh karena itu, keterkaitan peran sebuah perpustakaan dan SDGs merupakan hal yang penting untuk diketahui guna mendapatkan informasi mengenai peran perpustakaan dalam mendukung program SDGs. Artikel ini mengidentifikasi peran Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY dalam mendukung program SDGs. 2. Tinjauan Pustaka 2.1 Layanan Perpustakaan Umum Konsep perpustakaan merupakan sebuah ruangan yang terdiri dari berbagai koleksi sumber informasi yang peletakan koleksinya disusun secara teratur sehingga mudah untuk ditemukan (Sutarno, 2006). Perpustakaan memiliki berbagai jenis perpustakaan, dimana salah satu jenis perpustakaan yaitu perpustakaan umum. Perpustakaan umum adalah perpustakaan dilayankan untuk masyarakat umum tanpa terkecuali dengan mendapatkan biaya dari pemerintah (Sulistyo-Basuki, 1991). Perpustakaan umum merupakan perpustakaan yang melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang, status sosial, agama, suku, dan pendidikan (Hermawan, Rachman dan Zen, 2007). Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan umum adalah perpustakaan yang dapat dikunjungi oleh berbagai lapisan masyarakat umum tanpa terkecuali. Hal ini, dikarenakan perpustakaan umum dikelola oleh pemerintah yang dimana sumber dana tersebut diambil dari pajak masyarakat. Dalam membahas sebuah perpustakaan tidak lepas dengan adanya sebuah layanan perpustakaan. Layanan perpustakaan sendiri merupakan upaya pemberdayaan berupa penyedia jasa sirkulasi, baca di tempat, layanan rujuk, penulusuran jurnal, sajian informasi terbaru, penyeleksi sajian informasi, layanan audiovisual, layanan internet, bimbingan pemakai, jasa fotokopi, layanan terjemahan, layanan interlibraryloan, dan layanan konsultasi (Lasa, 2007). Bentuk dalam layanan perpustakaan tidak hanya tersedia didalam sebuah ruangan banyak layanan perpustakaan yang dapat dinikmati tanpa harus berkujung secara langusng kesebuah perpustakaan. Karena pada dasarnya layanan perpustakaan merupakan pemberian informasi kepada pemakai perpustakaan mengenai informasi yang dapat dimanfaatkan oleh pemustaka baik didalam perpustakaan maupun diluar perpustakaan dengan memanfaatkan berbagai sarana penelusuran informasi yang tersedia dalam rujukan informasi (Darmono, 2007). Maka dari itu peneliti menjelaskan layanan perpustakaan merupakan adanya sebuah upaya dari pihak perpustakaan sebagai penyedia jasa berbagai informasi baik sarana dan prasarana yang telah disediakan untuk kebutuhan pemustaka yang sesuai dengan standar pelayanan. 2.3 Sustainable Development Goals Sustainable Development Goals (SDGs) ialah agenda kesepakatan pembangunan global yang disahkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 25 september 2015. SDGs memiliki tema “Mengubah Dunia Kita: Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan”. Yang dimana Sustainable Development Goals adalah rencana aksi global yang merupakan dari program Millenium Development Goals (MDGs) memiliki target waktu selama 15 tahun dimulai dari tahun 2016 dan berkahir pada tahun 2030 (INFID, 2017a) Alasan utama diciptakan SDGs ialah untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi seluruh dunia tanpa terkecuali. Seperti menghilangkan diskriminasi pada pengentasan kemiskinan, pendidikan yang merata, dan menjaga lingkungan agar tetap terawat. Prinsip utama dalam SDGs adalah leave no one behind atau tidak meninggalkan satu orangpun dengan dasar program SDGs guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan. Dalam penerapan Sustainable Development Goals terdapat 17 tujuan yang meliputi (1) menghapus kemiskinan; (2) mengakhiri kelaparan; (3) kesehatan yang baik dan kesejahteraan; (4) pendidikan bermutu; (5) kesetaraan gender; (6) akses air bersih dan sanitasi; (7) energi bersih dan terjangkau; (8) pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi; (9) infrastruktur, industri dan inovasi; (10) mengurangi ketimpangan; (11) kota dan komunitas yang berkelanjutan; (12) konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab; (13) penanganan perubahan iklim; (14) menjaga ekosistem laut; (15) menjaga ekosistem darat; (16) perdamaian keadilan dan kelembagaan yang kuat; (17) kemitraan untuk mencapai tujuan (INFID, 2017b)

Method

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan alasan karena tujuan dari penelitian ini yang ingin memahami bagaimana peran Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY dalam mendukung porgram SDGs dengan mengembangkan analisis secara lebih mendalam. Data yang dilakukan dengan teknik observasi, wawancara semi-terstruktur, dan studi dokumentasi, karena terkendala pandemi covid-19, peneliti melakukan observasi dengan cara mengikuti akun media sosial resmi Instagram dan YouTube yang dikelola oleh Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY. Dalam melakukan wawancara peneliti dapat diberikan kesempatan untuk mewawancarai 4 orang staf Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY melalui WhatsApp karena perizinan di kala pandemi yang membatasi setiap pertemuan secara langsung. Studi dokumentasi yang dilakukan peneliti ialah dengan cara menganalisis kiriman yang diunggah dalam Instagram resmi Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY, website resmi yang dikelola oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY, dan website resmi Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY. Peneliti mencatat setiap komunikasi yang dilakukan dengan informan mulai dari setiaap jawaban yang diberikan kepada informan dalam kegiatan wawancara. Data yang peneliti dapatkan dianalisa.Peneliti mencatat setiap aktivitas yang dilakukan bersama mahasiswa, termasuk mencatat setiap komunikasi yang terjadi antara peneliti dengan mahasiswa selama kegiatan penelusuran berlangsung. Data yang diperoleh, peneliti analisa dengan menggunakan metode thematic analysis untuk mendapatkan tema berdasarkan hasil dari informasi yang di dapat (Heriyanto, 2018).

Result & Discussion

Pihak Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY yang menjadi obyek penelitian ini diwakilkan oleh 4 orang informan yang terdiri dari seorang pegawai dan tiga orang pustakawan Balai Layanan perpustakan DPAD DIY. Perwakilan dari 4 orang informan tersebut juga termasuk kedalam staf atau semua sumber daya manusia yang terdapat didalam suatu organiasi (Handoko, 1998). Staf yang melaksanakan turut andil dalam kegiatan yang dilakukan oleh Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY baik secara langsung aatupun secara tidak langsung.Oleh karena itu, layanan yang diberikan oleh Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY merupakan hal yang diketahui oleh staf Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY. 4.1 Memahami Arti SDGs Memahami arti SDGs merupakan tema pertama yang menceritakan tentang perspektif para informan mengenai tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya poin-poin didalam SDGs yang berhubungan dengan sebuah perpustakaan. Semua informan menyampaikan bahwa Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Dari ketujuh belas tujuan yang terdapat didalam SDGs, satu diantaranya terdapat tujuan keempat mengenai pendidikan berkualitas yang menjadi salah satu tujuan yang dimana dianggap oleh informan paling sesuai dengan Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY. Seperti yang dikatakan oleh informan 1 “Kalau yang paling kelihatan Perpustakaan itu mendukung tujuan yang keempat yaitu pendidikan yang berkualitas karena Perpustakaan mendorong kesempatan belajar.” (Informan 1). Pendapat diatas dikuatkan oleh Masriastri (2018) yang menjelaskan bahwa perpustakaan dan masyarakat informasi selalu berhubungan satu sama lain tanpa terkecuali. Karena masyarakat yang memanfaatkan perpustakaan untuk belajar dapat berkembang menjadi masyarakat informasi yang menjadikan informasi sebagai suatu hal yang sangat dibutuhkan dan tidak dapat ditinggalkan. Perspektif dari informan 2 juga menjelaskan bahwa secara tidak langusng dalam mendukung tujuan pertama Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY telah memiliki slogan ‘dari membaca menjadi karya’. Slogan tersebut dapat diketahui bahwa Balai Layanan Perpustakaan DPAD mengharapkan pemustaka untuk dapat meningkatkan taraf hidupnya melalui koleksi-koleksi yang dimiliki DPAD. “Kemudian untuk tujuan pertama mengakhiri kemiskinan yaitu dengan menyelenggarakan kegiatan peningkatan kreativitas kegiatan ini tagline nya adalah dari membaca menjadi karya. Dan dari karya ini diharapkan nanti ada nilai ekonomi yang pada akhirnya dapat meningkatkan taraf hidup pemustaka melalui kegiatan peningkatan kreativitas yang diselenggarakan oleh perpustakaan.” (Informan 2) Dalam pemenuhan kebutuhan pengguna dapat dikaitkan bahwa perpustakaan harus terus meningkatkan layanan yang diberikan, terutama dari segi ketersediaan koleksi (Yudisman & Rahmi, 2020). Hal tersebut memunculkan layanan informasi yang ditawarkan tentu berorientasi terhadap peningkatan kompetensi masyarakat yang dimana pada akhirnya dapat membantu masyarakat dalam mencari nafkah serta berkarya melalui profesi masing-masing. Adapun, pendapat Turnadi (2018) juga menjelaskan bahwa setiap perpustakaan memiliki beragam informasi yang berguna bagi pemustaka. Hal tersebut sesuai dengan keterangan dari Informan 4, yang dimana beranggapan bahwa jika sebuah perpustakaan dalam memberikan layanan yang tepat, seperti memberikan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan memberikan pelayanan dalam membantu untuk memenuhi kebutuhan pemustaka. Maka, peran perpustakaan secara tidak langsung dapat mendukung pemustaka untuk menjadikan seseorang yang berkualitas dalam kompetensi sehingga dapat meningkatkan taraf hidupnya. Seperti yang disampaikan oleh informan 4 dibawah ini, “...Menurut saya perpustakaan ada di poin keempat Terkait perkembangan layanan transformasi berbasis inklusi sosial, diharapkan perpustakaan berperan penting dalam pengentasan kemiskininan atau nomor poin pertama Melalui kegiatan yang dilaksanakan Balai Layanan Perpustakaan...” (Informan 4) Pemahaman pustakawan tentang perpustakaan dan upayanya dalam mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan mengarah ke fungsi dan kebermanfaatan perpustakaan bagi masyarakat. Bahwasanya perpustakaan berkontribusi dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan yaitu melalui satu aspek yang memiliki peran penting dalam pembangunan karakter masyarakat. Sehingga, aspek tersebut adalah pendidikan, yang dimana perpustakaan mendukung masyarakat untuk memanfaatkan segala fasilitas dan layanan untuk keperluan belajar maupun untuk keperluan pekerjaan masyarakat. 4.2 penerapan poin pertama SDGs Dalam implementasi poin pertama SDGs, perpustakaan perlu untuk melakukan jangkauan layanan yang seluas-luasnya. Jangkauan layanan perpustakaan ini dimaksudkan untuk membuka kesempatan kepada masyarakat luas untuk menggunakan perpustakaan. Sehingga, diharapkan layanan perpustakaan tersebut dapat memberikan manfaat pada masyarakat secara keseluruhan tanpa terkecuali. Perpustakaan dapat mengembangkan inovasi layanan untuk dapat memudahkan masyarakat dalam mengkases informasi (Nurhayati, 2018). Hal tersebut dilihat dari adanya ketiga lokasi, diharapkan sebuah perpustakaan pada dasarnya merupakan sumber informasi untuk pembelajaran yang lebih mudah diakses oleh pemustaka. Dengan cara Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY memberikan layanan perpustakaan agar pemustaka dapat menikmati layanan dari perpustakaan sesuai dengan kebutuhan pemustaka, seperti yang dikatakan oleh informan 3: “...Jadi kita menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan mereka dengan layanan seperti pemustaka istimewa, perpustakaan keliling, layanan paket buku, layanan kerjasama, perpustakaan sepatu jolifa, pojok baca (tahun depan masuk ke layanan menetap). Dengan adanya Layanan seperti ini masyarakat akan lebih mudah mengakses perpustakaan sebagai sumber belajar...” (Informan 3) Tidak ada perpustakaan yang dapat menyediakan segala informasi bagi pemustakanya. Setiap perpustakaan memiliki kekurangan dalam menyediakan informasi bagi masyarakat penggunanya. Perpustakaan perlu melakukan kerjasama dengan perpustakaan lainnya seperti mebuat jaringan layanan antar perpustakaan agar dapat memberikan jangkauan akses informasi bagi pemustaka ketika memiliki masalah dalam hal ketidaktersediaan informasi yang mereka butuhkan. Hal ini seperti yang dikatakan oleh informan 1: “...Kami juga membuat jaringan layanan perpustakaan untuk apa untuk mempermudah masyarakat dalam mengakses literasi dan informasi yang kami punya mungkin pernah mendengar mengenai SEPATU JOLIFA (Sistem perpustakaan Terpadu Jogja Library For All) sistem layanan perpustakaan yang ada di Jogja.” (Informan 1) Perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang dapat memberikan layanan kepada pemustaka secara seluas-luasnya tanpa terkecuali. Bukti dari sebuah perpustakaan ingin memberikan pelayanan yang maksimal adalah dengan cara menyediakan perpustakaan dibanyak lokasi, peprustakaan melakukan kerjasama dengan perpustakaan lain untuk memenuhi informasi pemustaka, dan perpustakaan melakukan “jemput bola” agar pemustaka yang mengalami kesulitan untuk dapat memanfaatkan informasi yang dimiliki oleh perpustakaan dapat teratasi. Upaya perpustakaan untuk meningkatkan kesejahteraan pemustaka dapat diterapkan dengan layanan perpustakaan berbasis aktivitas. Maksud dari berbasis aktivitas dkemukakan oleh pernyataan Suhaime (2016) yakni pembinaan potensi dan kemandirian masyarakat yang dapat dilakukan secara berencana dan dirancang untuk dapat memperdayakan masyarkat sekitar. Contoh layanan berbasis aktivitas yang dimiliki oleh Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY ialah bedah buku yang dilakukan di desa-desa yang sesuai dengan keunggulan dari desa tersebut. Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY juga memiliki lokasi perpustakaan yang khusus untuk melakukan kegiatan aktivitas seperti di lokasi Rumah Belajar Modern. Rumah Belajar Modern merupakan salah satu upaya dari perpustakaan DPAD DIY untuk meningkatkan kesejahteraan pemustaka karena perpustakaan berperan dalam meningkatkan keterampilan mereka hal tersebut seperti yang dijelaskan oleh informan 3, “Perpustakaan untuk kesejahteraan artinya perpustakaan sebagai tempat belajar masyarakat yang dengan membaca buku maka mereka dapat meningkatkan ketrampilannya sehingga mampu mensejahterakan dirinya.” (Informan 3) Pemanfaatan perpustakaan dan kualitas hidup pemustaka merupakan hal yang beriringan. Hal ini disebabkan pemustaka yang dapat memanfaatkan koleksi dan layanan yang diberikan oleh perpustakaan dengan baik akan memiliki informasi yang pemustaka tersebut butuhkan sehingga pemustaka tersebut dapat memiliki kompetensi untuk melakukan pekerjaannya sehingga diharapkan dapat mensejahterakan pemustaka. 4.3 penerapan poin keempat SDGs Salah satu aspek pendidikan bermutu bagi perpustakaan ialah ketersediaan koleksi. Koleksi perpustakaan terus berkembang mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Namun, dengan diiringi perkembangan zaman sebuah koleksi masa lalu yang memiliki informasi dimasa lampau memiliki keunggulan tersendiri bagi pemiliknya. Seperti yang dikatakan oleh informan 1, “Koleksi langka dan koleksi budaya itu salah satu apa namanya keunggulan kami dan itu yang akan semakin akan kita angkat lagi karena itu juga dipakai untuk para peneliti.” (Informan 1) Sebuah perpustakaan yang baik pada dasarnya menyediakan koleksi yang berkualitas. Koleksi yang berkualitas yang dimaksud ialah perpustakaan menyediakan berbagai informasi dari informasi terbaru yang dapat digunakan oleh pemustaka secara umum ataupun informasi yang langka yang biasa digunakan oleh peneliti dengan bebagai bentuk koleksi dari bentuk digital ataupun non digital. Perpustakaan umum pada dasarnya menyediakaan informasi bagi semua usia tanpa terkecuali. Hal ini sependapat dengan Astuti dan Dewi (2016) menjelaskan bahwa dalam memenuhi kebutuhan informasi pemustaka, koleksi yang tersedia beragam sehingga dari segala usia dapat memilih apa yang ingin pemustaka baca. Oleh karena itu, sebuah perpustakaan umum seperti Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY bertanggung jawab terhadap pemustaka yaitu masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta yang terdiri dari balita hingga masyarakat lanjut usia. Karena perbedaan kebutuhan informasi dari setiap usia maka sebuah perpustakaan harus menyediakan informasi tersebut. Seperti yang dikatakan informan 1 yakni, “...Kami sendiri kan perpustakaan umum ya artinya kami harus menyediakan informasi untuk anakanak Yang masih batita 2-3 tahun sampai lanjut usia artinya Seumur hidup harus itu kami harus bisa menyediakan itu yang paling utama sebenarnya.” (Informan 1) Pernyataan informan ketiga menguatkan bahwa sebuah perpustakaan harus dapat menyediakan koleksi yang bermanfaat bagi pemustakanya dan ditambah dengan pelayanan yang memiliki tujuan untuk dapat mendekatkan masyarakat ke perpustakaan. Seperti yang disampaikan oleh informan 3 dibawah ini, “...Kegiatan layanan ekstensi bertujuan mendekatkan layanan kepada masyarakat yang inklusi, jadi kita menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan mereka...” (Informan 3). Pentingnya pendidikan teknologi informasi dan komunikasi sangat diperlukan untuk saat ini. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Masriastri (2018) teknologi informasi dapat memenuhi kebutuhan informasi agar lebih akurat, cepat, dan tepat. Terlebih ketika informasi dapat diakses melalui perangkat digital. Apalagi disaat wabah virus corona yang menghambat pemustaka untuk berkunjung ke perpustakaan karena adanya kekhawatiran dengan penyebaran virus corona. Seperti yang dikatakan oleh informan 1 berikut, “Kemudian juga meningkatkan akses TIK kami membantu masyarakat apalagi dalam kondisi covid gini ya TIK itu sangat-sangat apa namanya dibutuhkan sekali itu salah satu kegiatan yang dilakukan di rumah belajar modern bagaimana kita mengenalkan teknologi informasi ke anak-anak bagaimana pemanfaatannya kemudian bagi apa-apa sih yang tidak boleh dilakukan dan sebagainya.” (Informan 1) Tujuan perpustakaan didirikan ialah untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Maka dari itu aspek sebuah perpustakaan dalam menyediakan informasi bagi semua usia merupakan hal yang penting karena tanpa hal tersebut pemustaka tidak membutuhkan sebuah perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan informasinya dan perpustakaan juga dapat memberikan berbagai layanan untuk dapat memudahkan pemustaka dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Balai Layanan Perpustaakan DPAD DIY memberikan fasilitas dan pelayanan terbaik karena itu merupakan sebuah tugas perpustakaan untuk menciptakan kepuasan terhadap pemustaka. Perpustakaan juga perlu untuk mempromosikan layanan dan koleksi yang dimilikinya agar pemustaka mengetahui koleksi bahan pustaka dan layanan informasi Balai Layanan Perpustaakan DPAD DIY. Balai Layanan Perpustaakan DPAD DIY juga mempunyai target untuk dapat melihat layanan atau koleksi mana yang memiliki minat yang tinggi bagi pemustaka sehingga dapat memaksimalkan dari minat pemustaka tersebut untuk dapat membuat rencana pada periode berikutnya. Seperti yang dikatakan oleh informan 2, “Perpustakaan akan mengupayakan untuk mencapai target sasaran sesuai SDGs yang sudah ditentukan kemudian pengaruhnya terhadap pemustaka yaitu kunjungan perpustakaan meningkat karena kualitas layanan yang baik dalam rangka memenuhi kebutuhan belajar masyarakat manfaat langsungnya Yaitu pemustaka dapat memanfaatkan layanan perpustakaan secara langsung dan kemudian kalau di kegiatan peningkatan kreativitas pemustaka dapat mendapatkan nilai ekonomi hasil dari pelatihan yang dilaksanakan oleh perpustakaan.” (Informan 2) Jenis kegiatan yang dilakukan DPAD adalah dengan mengadakan perlombaan dan melakukan kerjasama dengan komunitas yang berhubungan dengan literasi untuk memaksimalkan Balai Layanan Perpustaakan DPAD DIY. Seperti yang dikatakan oleh informan 1, “Kemudian mendukung berbagai gerakan literasi kerjasama dengan apa namanya komunitas komunitas penggerak literasi dengan berbagai lomba dengan berbagai kegiatan itu itu yang kami lakukan mas di tempat di tiga tempat tadi.” (Informan 1) Sebuah perpustakaan melakukan berbagai upaya agar pemustaka dapat merasa nyaman dan kebutuhan informasinya terpenuhi. Perpustakaan juga perlu untuk bekerja sama dengan instansi pemerintahan terkait agar dapat menyesuaikan rencana program yang akan dilakukan. Komunitas yang berhubungan dengan perpustakaan juga dapat dimanfaatkan untuk dapat memaksimalkan pelayanan yang ada di perpustakaan.

Conclusion

Peran Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY dalam mendukung program SDGs dilakukan melalui layanan berbasis aktivitas dan layanan berbasis koleksi. Informan memahami SDGs sebagai acuan untuk sebuah perpustakaan dalam memberikan pelayanan yang dapat membangun karakter masyarakat, sesuai dengan poin pertama dan keempat didalam SDGs. Untuk layanan dan kegiatan perpustakaan DPAD sangat relevan dengan pencapaian tujuan SDGs poin pertama, yaitu turut meminimalisir angka kemiskinan, ini dilakukan melalui penyediaan koleksi dan pelatihan peningkatan kemampuan teknis masyarakat. Misalnya, layanan peningkatan kreativitas pelatihan hidroponik yang dilaksanakan oleh Rumah Belajar Modern Sewon. Sedangkan, dalam mencapai tujuan SDGs poin keempat, yaitu penyediaan pendidikan yang bermutu. Dibuktikan dengan menciptakan penyediaan di tiga unit lokasi yang berbeda dan masing-masing dari lokasi tersebut memiliki keunggulannya masing-masing. Seperti, Grhatama Pustaka yang memiliki koleksi yang up to date, Jogja Library Center dengan keunggulan koleksi langka, dan Rumah Belajar Modern Sewon dengan keunggulan layanan perpustakaan berbasis aktivitas. Berdasarkan hal tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa peran sebuah perpustakaan dalam mendukung program SDGs masih dapat ditingkatkan lagi dalam bentuk memeberikan informasi terkait lowongan kerja dan membantu pemustaka dalam mengembangkan kompetensi pemustaka dengan cara memberikan refrensi koleksi yang tersedia ataupun pelatihan agar dapat meningkatkan peluang diterima pada pekerjaan tersebut. Dapat pula sebuah perpustakaan untuk bekerja sama dengan komunitas-komunitas untuk melaksanakan edukasi terkait kegiatan yang sedang populer di masyarakat. Maka dari itu, pada penelitian ini juga dapat dilanjutkan untuk subyek perpustakaan lain. Misalnya, perpustakaan sekolah atau perpustakaan perguruan tinggi untuk mengetahui perannya dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.