Identifikasi Peran Subject Specialist pada Perpustakaan Perguruan Tinggi: Sebuah Systematic Literature Review
Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro
Abstrak
Hingga saat ini ini, peran subject specialist di ranah perpustakaan akademik masih belum terlihat dan tidak jelas. Hal tersebut rupanya juga menjadi perdebatan di berbagai penelitian. Subject specialist sendiri merupakan ahli informasi yang bertugas untuk memberikan pendampingan dan layanan informasi terkait spesialisasi tertentu untuk keperluan informasi sebuah instansi, komunitas, maupun individu. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi peran subject specialist pada perpustakaan perguruan tinggi. Metode systematic literature review dengan pendekatan kualitatif berfungsi untuk menangkap dan menemukan jawaban mengenai peran subject specialist di lingkungan perguruan tinggi secara komprehensif. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis meta-agregasi. Meta-agregasi adalah sebuah teknik analisis yang menekankan pada hasil-hasil penelitian relevan yang disusun dalam bentuk ringkasan. Melalui penyaringan yang terstruktur, artikel jurnal yang menjadi subyek penelitian berjumlah 11 artikel. Berdasarkan hasil temuan penelitian yang telah disajikan di atas, peran subject specialist pada setiap perguruan tinggi rupanya berbeda-beda, sesuai dengan kebutuhan masingmasing instansi. Namun beberapa kesamaan peran yang paling sering ditemui dalam penelitian ini adalah layanan referensi subject khusus maupun umum, layanan asistensi penelitian, dan layanan pendidikan pemakai. Subject specialist membutuhkan banyak perubahan, terutama dalam organisasi struktur, sistem pengangkatan, dan program pendidikan dan pelatihan. Tentunya hal ini harus mendapat perhatian dari banyak pihak.
Abstract
This study discusses the roles of the subject specialist in college libraries. The division of roles among other library staff is unclear and overlaps causing confusion in the duties of the subject specialist profession. Subject specialists are information experts whose job is to provide assistance and information services related to certain specializations for the information needs of an agency, community, or individual. This study aimed to identify the role of subject specialists in university libraries. The systematic literature review method with a qualitative approach serves to capture and find answers regarding the roles and responsibilities of subject specialists in a comprehensive university environment. The data analysis technique in this research is the meta-aggregation analysis technique. Meta-aggregation is an analytical technique that emphasizes relevant research results which are compiled in summary form. Through a structured screening, eleven selected journal articles were found. Based on the research results described above, the role of subject specialists in each university seems to be different, according to the needs of each institution. However, the most common roles encountered in this research are general and special subject reference services, research assistance services, and user education services.
Keywords:
subject specialist
· specialization services
· college library
Introduction
Dewasa ini, ranah perguruan tinggi sedang gencar melakukan kegiatan peningkatan mutu pada fasilitas, layanan, maupun sarana dan prasarananya. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 Pasal 2 menyatakan bahwa Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT) terdiri atas Standar Nasional Pendidikan, Standar Penelitian, dan Standar Pengabdian Masyarakat (Indonesion Ministry of Education and Culture, 2020). Ketiga standar tersebut merupakan implementasi dari Tridarma Perguruan Tinggi. Pada Konvensi Nasional V Asosiasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Indonesia tahun 2010, Surniati Chalid menegaskan bahwa eskalasi mutu pendidikan di perguruan tinggi adalah mendesak yang harus segera dilakukan perbaikan dan peningkatan (Chalid, 2010). Dalam prakteknya, sebagian besar perguruan tinggi mensyaratkan kelulusan bagi mahasiswanya dengan melakukan kajian akademik atau biasa disebut skripsi, tesis, maupun disertasi. Tidak hanya mahasiswa, tenaga pengajar di lingkungan perguruan tinggi juga dituntut untuk menghasilkan publikasi ilmiah melalui berbagai serangkaian penelitian. Namun sayangnya, tidak semua civitas akademika menilai bahwa kegiatan penelitian tersebut sebagai hal yang mudah. Dalam studi diagnostik yang dilakukan oleh Tim Riset Mitra KSI di empat perguruan tinggi Indonesia, beberapa faktor internal yang dapat menghambat civitas akademika dalam melakukan penelitian ialah kapasitas pengetahuan peneliti terkait manajemen data, pencarian rujukan, serta penulisan artikel jurnal ilmiah dirasa kurang mumpuni (Tim Riset Mitra KSI, 2020). Dalam hal ini, perpustakaan harus menyediakan fasilitator informasi antara pemustaka dengan ilmu pengetahuan. Fasilitator tersebut, nantinya juga dapat menjadi asisten penelitian dalam bidang ilmu tertentu. Sebagai contoh nyatanya, Perpustakaan Universitas Northern Illinois memiliki beberapa layanan perpustakaan spesial yang berfungsi untuk melayani asistensi pencarian sumber penelitian, evaluasi sumber penelitian yang pengguna dapat, layanan pengajaran pada subjek ilmu tertentu, serta kegiatan rekomendasi pembelian materi atau bahan ajar untuk kebutuhan pengajaran atau penelitian (NIU, n.d.). Layanan tersebut dikerjakan oleh pustakawan subjects specialist di area subyek tertentu seperti subyek biologi, musik, pendidikan, teknologi, sampai ilmu bisnis dan pemerintahan. Subject specialist sendiri merupakan seorang ahli di bidang informasi dan layanan tertentu, yang bertugas untuk menanggapi permintaan referensi, memberikan bantuan penelitian, dan menawarkan instruksi perpustakaan (Fortson, 2011). Subject specialist sebagai anggota staf perpustakaan yang ditunjuk untuk bertanggungjawab untuk layanan teknis atau referensi perpustakaan dalam bidang subjek tertentu. Terlepas dari kualifikasi subject specialist yang banyak didebatkan di dunia kepustakawanan, keberadaan pustakawan spesialis subjek pastinya akan banyak membantu pengguna dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Akan tetapi, perkembangan subject specialist belum banyak menunjukkan eksistensinya di lingkungan akademik. Tidak semua perpustakaan perguruan tinggi memiliki jenis layanan ini. Bahkan di Indonesia pun, layanan ini hanya menonjol di beberapa perguruan tinggi saja, salah satunya adalah di Universitas Padjadjaran yang membuka layanan Pustakawan Subject Specialist di bawah naungan Pusat Pengolahan Pengetahuan Universitas Padjadjaran. Adapun beberapa layanan yang ditawarkan adalah layanan bimbingan penelusuran ilmiah, layanan referensi, dan pengecekan plagiasi. Dalam praktiknya, perpustakaan memiliki sumber daya manusia yang beragam, seperti kepala perpustakaan, staf administasi, pustakawan referensi, subject specialist, hingga teacher librarian. Perbedaan terminologi mengidentifikasikan bahwa subject specialist memiliki peran dan tanggung jawab yang tidak sama dengan pustakawan umum. Akan tetapi, masyarakat awam maupun pihak perpustakaan sendiri bahkan tidak menyadari perbedaan antara peran subject specialist dan peran pustakawan umum. Seperti contohnya, layanan pustakawan subject specialist di UPT Perpustakaan Universitas Padjajaran bertugas untuk melakukan penelusuran ilmiah dan pengecekan plagiasi. Sedangkan, layanan yang sudah disebutkan di atas merupakan tugas umum dari seorang pustakawan referensi generalis. Jurnal yang berjudul “Becoming a Renaissance Reference Librarian in Academic: Attitudes toward Generalist and Subject Specific Reference and Related Profession Development” yang ditulis oleh Debbi A. Smith dan Olivia T. Victor menjelaskan bahwa terdapat dua jenis pustakawan referensi, yaitu pustakawan referensi generalis dan pustakawan referensi subjek (Smith & Oliva, 2010). Pustakawan referensi generalis bertanggungjawab pada layanan referensi umum yang sifatnya multidisiplin. Sementara pustakawan referensi subjek bertanggungjawab untuk layanan referensi bidang tertentu yang lebih mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa peran pustakawan referensi umum berbeda dengan subject specialist. John Rodwell juga menegaskan, sebaiknya pustakawan subject specialist adalah mereka yang berkompeten pada sumber informasi yang relevan dengan kebutuhan klien (Rodwell, 2001) Jika menyoroti kata ‘kompeten’, lantas kita berasumsi pada seseorang yang dituntut memiliki keahlian khusus pada suatu bidang tertentu. Akan tetapi, pada penelitian yang dilakukan oleh John J. Meier, menyebutkan bahwa pustakawan subject specialist juga memiliki andil dalam hal pengembangan koleksi, referensi, dan informasi literasi mereka (Meier, 2010). Dari beberapa teori yang telah dikaji oleh para peneliti, ditambah lagi oleh praktek subject specialist di ranah perpustakaan akademik yang terkadang tidak berjalan, membuat profesi ini seakan-akan memiliki peran ganda yakni peran referensi umum dan peran spesialisasi informasi di bidang tertentu. Kualifikasi subject specialist sangat berdampak pada penentuan tugas dan perannya di lapangan kerjanya. Jika kualifikasi mengenai subject specialist saja masih diperdebatkan, bagaimana dengan peran pokok terhadap profesi ini dapat ditentukan. Batas pembagian peran antar tenaga perpustakaan lain belum terlihat jelas dan tumpang tindih sehingga menyebabkan kerancuan tugas yang dapat membuat eksistensi subject specialist menjadi kabur. Oleh karena itu, hal yang dikaji dalam penelitian ini adalah peran subject specialist di perpustakaan perguruan tinggi dengan menggunakan metode systematic literature review. Metode ini berfungsi untuk merangkum inti peran subject specialist dari beberapa penelitian yang sudah ada. Melakukan identifikasi pada sejumlah penelitian terdahulu dapat memunculkan bagaimana gambaran peran subject specialist yang sesungguhnya. 2. Landasan Teori Peran merupakan status ketika seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan tugas yang berlaku. Peran juga merupakan kedudukan bagi setiap individu maupun kelompok (Brigette Lantaeda, 2002). Masih dalam jurnal yang sama, Riyadi mengungkapkan bahwa peran dapat diartikan sebagai orientasi dan konsep dari bagian yang dimilki oleh kelompok masyarakat. Dengan peran tersebut, individu maupun kelompok akan berperilaku sesuai dengan tatanan hidup dalam masyarakat. Peran juga diartikan sebagai tuntutan yang diberikan secara struktural dalam suatu organisasi atau lingkup kerja. Sistem kerja dan peran staf perpustakaan dibagi ke dalam beberapa bagian. Ada staf perpustakaan yang menangani bagian administasi namun tidak menutup kemungkinan dapat membantu di bidang kepustakawanan tertentu. Di sisi lain, ada juga yang memiliki fokus tugas hanya pada satu bidang, contohnya pustakawan referensi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang bertanggungjawab dan berfokus pada layanan referensi luring maupun daring (Perpusnas, 2022). Fokus kerja tenaga perpustakaan disesuaikan dengan kebutuhan instansi masing-masing. Namun permasalahannya, ada dua posisi kerja di perpustakaan yang memiliki tumpang tindih tugas maupun dalam hal pemaknaannya yakni pustakawan referensi general dan subject specialist. Keduanya sama-sama menyediakan sumber referensi bagi pengguna. Pustakawan referensi biasanya membantu menyediakan berbagai sumber bacaan dan referensi yang sifatnya multi-disiplin dan umum. Contohnya ketika pemustaka menggunakan layanan pustakawan referensi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, pengguna dapat memberikan request dan ketentuan umum seputar sumber bacaan. Setelah itu, pustakawan referensi mengirimkan sumber bacaan sesuai dengan apa yang pengguna minta. Walau terkesan sama, namun tujuan dari posisi pustakawan referensi general dan subject specialist berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari kedalaman penguasaan suatu subject dan pembimbingan asistensi pemustaka. Hal ini diperkuat dengan jurnal yang berjudul ”Becoming a renaissance reference librarian in academic: Attitudes Toward Generalist and Subject Specific Reference and Related Profession Development.” yang menyatakan bahwa pustakawan referensi umum dan subject specialist adalah kedua hal yang berbeda (Smith & Oliva, 2010). Topik mengenai peranan subject specialist telah diteliti oleh peneliti terdahulu. Jurnal dan halhal yang memiliki benang merah serta membahas kemiripan teori maupun subyek penelitian dijadikan sebagai anteseden dalam penelitian ini. Penelitian pertama tertuju pada artikel jurnal yang berjudul “Revisiting the Subject Librarian: A Study of English, Law and Chemistri” karya Georgina Hardy and Sheila Coral. Dalam mengumpulkan data, peneliti menggunakan kuesioner yang disebar di sepuluh universitas di Inggris. Partisipan yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah 32 pustakawan yang bertugas sebagai subject specialist di sepuluh perguruan tinggi tersebut. Hasil survei menunjukkan bahwa profesi ini melakukan berbagai pekerjaan seperti pengajaran literasi informasi sebagai tugas utama (Corrall, 2015). Pekerjaan yang spesialis subyek ini lakukan menuntut mereka agar memiliki kemampuan mengajar yang mumpuni untuk melengkapi keahlian mereka. Sebagai upaya peningkatan kualitas pengajaran, kolaborasi akademis mulai ditempuh. Jadi kesimpulan yang dapat diperoleh dari artikel ini adalah subject specialist tidak hanya bertugas sebagai pembimbing informasi pemustaka. Terlebih profesi ini juga mencakup pengajaran subyek tertentu, sehingga membutuhkan kemampuan pedagogik yang mumpuni.. Jurnal yang ditulis oleh Debbi A. Smith dan Olivia T. Victor menjurus pada dua jenis pustakawan referensi, yaitu pustakawan referensi generalis dan pustakawan referensi subjek (Smith & Oliva, 2010). Pustakawan referensi generalis bertanggungjawab pada layanan referensi umum yang sifatnya multi-disiplin. Sementara itu subject specialist lebih berfokus pada layanan referensi pada bidang tertentu yang lebih mendalam serta kemampuan untuk melakukan asistensi penelitian pada pengguna. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa, pustakawan spesialis harus memperluas pemahaman dan pengetahuan mereka tentang referensi-referensi tertentu agar dapat menjawab dan memenuhi kebutuhan informasi pemustaka. Terlebih pekembangan jaman akan menuntut subject specialist untuk melakukan pekerjaan modern yang baru. Hal ini menunjukkan bahwa peran pustakawan referensi umum berbeda dengan subject specialist. Sementara itu, artikel dengan judul “The role of the academic Library Information Specialist (LIS) in teaching and learning in the 21st century” yang dirilis pada tahun 2017 menjadi acuan bagi penelitian lain dalam mengkaji topik mengenai peran subject specialist. Artikel ini menyebutkan bahwa di masa depan layanan konvensional perpustakaan seperti pustakawan referensi general maupun subject specialist, akan berubah menjadi Spesialis Informasi Perpustakaan. Peran dan konsep kerja akan didasarkan kepada kemampuan teknologi dan multimedia tambahan sesuai dengan perkembangan jaman yang ada. Ketika suatu masa terus berkembang, maka kemampuan untuk profesi kepustakawan juga harus mengalami perkembangan supaya tidak tergerus arus distrupsi (Allen & Taylor, 2017) Beberapa penelitian terdahulu tersebut memiliki pandangan yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan pemahaman mengenai subject specialist masih tinggi, serta dapat menunjukkan bahwa peran dan kemampuan subject specialist dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman. Tidak hanya penguasaan terhadap penguasaan informasi tertentu, kemampuan dalam memanfaatkan teknologi informasi rupanya juga menjadi tambahan akan kualifikasi profesi subject specialist.
Method
Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review atau yang biasa disebut SLR. Systematic literature review merupakan sebuah metode yang digunakan untuk mengkaji, menjabarkan atau menafsirkan suatu obyek penelitian dari beberapa sumber literatur dengan sistem alur penelitian yang ketat dan sistematis. Kitchenham memahami systematic literature review sebagai suatu metode penelitian untuk melakukan identifikasi, evaluasi, serta proses pemahaman terhadap semua hasil penelitian yang relevan terkait dengan pertanyaan penelitian maupun topik tertentu yang menjadi perhatian peneliti (Kitchenham, 2004). Dalam artikel lain, Siswanto menyebutkan bahwa systematic literature review bermanfaat untuk merangkum berbagai hasil penelitian yang relevan, sehingga fakta yang menjadi lebih komprehensif dan berimbang (Siswanto, 2010). Dalam mencari bahan mencari bahan pustaka, pemanfaatan digital library sangat diperlukan. Penelitian ini memanfaatkan tiga portal jurnal yaitu Emerald Insight, EBSCOhost, dan ProQuest. Pada portal jurnal Emerald Insight didapatkan 399 hasil temuan, Proquest 301 hasil temuan, dan EBSCOhost 425 hasil temuan yang telah difilter sesuai dengan tahun maksimal dan jenis tipe informasinya. Selain itu, peneliti mendapatkan 9 rekomendasi jurnal ilmiah dari pustakawan referensi yang ikut disertakan dalam total hasil pencarian. Maka dari itu, total artikel jurnal yang terkumpul berjumlah 1101. Tabel 1. Kriteria Inklusi dan Ekskusi Kriteria Inklusi Eksklusi Relevansi Artikel jurnal yang membahas mengenai peran, tugas, maupun tanggung jawab dari seorang subject specialist di ranah perpustakaan akademik Hal-hal lain yang tidak mencakup peran, kegiatan, dan fungsi subject specialist di ranah akademik Tipe Dokumen Jurnal ilmiah dan artikel penelitian Buku elektronik dan buku tercetak. Tahun Terbit Minimal terbitan tahun 2011 Terbitan dibawah tahun 2011 Bahasa Inggris Bahasa asing lainnya Untuk membatasi dan menilai apakah artikel jurnal yang digunakan sesuai dengan topik tentang subject specialist, maka terseleksi dibatasi oleh kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Kriteria inklusi adalah kriteria yang perlu dipenuhi oleh setiap artikel jurnal yang dapat diambil sebagai sampel. Sedangkan kriteria ekslusi adalah kriteria artikel yang tidak memenuhi kualifikasi artikel. Adapun kriteria eksklusi adalah ciri-ciri artikel jurnal yang tidak dapat dijadikan sampel. Alur penyeleksian artikel yang pertama adalah proses identifikasi. Pada proses identifkasi terjadi pada kegiatan pemasukan kata kunci pada ketiga portal jurnal pilihan yakni Emeral Insight, ProQuest, dan EBSCO Host dan ditemukan sebanyak 1101 artikel jurnal temuan. Ketika jurnal berada dalam urutan terbawah, maka sedikit demi sedikit relevansinya mulai hilang dan tidak sesuai dengan topik. Maka dari itu, peneliti memanfaatkan fitur most relevance pada setiap portal jurnal. Proses ini juga dilakukan penyaringan dari segi judul artikel sehingga hanya menyisakan 159 artikel. Langkah selanjutnya adalah penilaian kelayakan. Penilaian kelayakan didasarkan pada kriteria inklusi dan kriteria eksklusi yang sesuai dengan Tabel 1. Dalam proses ini, peneliti sudah mulai melakukan membacaan abstrak pada masing-masing jurnal yang tersiksa yakni 36 artikel. Ringkasan penelitian yang sesuai dan memiliki bahasan yang sama dengan topik penelitian ini dikumpulkan untuk dilakukan pembacaan secara menyeluruh. Akhirnya, artikel jurnal yang tersisa berjumlah 11.
Result & Discussion
Dalam KBBI, istilah peranan merujuk pada tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa tertentu. Sementara itu, peran sendiri adalah perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat. Mingyue Chen and Joyline Makani menjabarkan peran subject specialist dalam beberapa bagian yang tentunya tidak terikat pada terminologi istilah yang selama ini diperdebatkan saja (Chen et al., 2016). Peran-peran itu diantaranya: a. Peran evaluasi: membuat pangkalan data manajemen yang berisi data sumber daya yang ada di perpustakaan maupun organisasi induk. Alasan adanya peran ini adalah adanya transformasi sumber daya cetak ke sumber daya elektronik, sehingga butuh tenaga yang berperan dalam mengatur data-data penting di perpustakaan. b. Peran pemasaran layanan perpustakaan: Subject specialist bertugas melakukan analisis perencanaan strategis perpustakaan dan membuat rancangan promosi perpustakaan perpustakaan promosi. Dalam penelitian ini, peneliti lebih mengarahkan peran pustakawan subject specialist sebagai tenaga penghubung antara perpustakaan dengan pihak lain dan tidak terikat para terminologi subject specialist itu sendiri. Namun penelitian lain malah mencondongkan peran ini pada kegiatan praktek akademik, seperti: a. Pendidikan Pemakai dan Referensi Pendidikan pemakai adalah sebuah kegiatan dimana perpustakaan memberikan suatu pengajaran terkait tentang pengetahuan mengenai sumber-sumber apa saja yang ada perpustakaan, pelayanan dan sumber-sumber informasi perpustakaan tersebut, bagaimana menggunakan sumber-sumber tersebut, dan bagaimana pelayanannya. Layanan referensi berfungsi untuk mendukung pengajaran dan penelitian di lingkungan akademik serta menyediakan layanan terintegrasi untuk setiap departemen (Hoodless & Pinfield, 2018). Selain itu, transfer ilmu mengenai literasi informasi merupakan bagian dari fungsi pendidikan pemakai (Corrall, 2015). Deden Himawan dalam artikelnya yang berjudul “Pengantar Literasi Informasi” merupakan skillset seseorang untuk memahami kebutuhan informasinya, mencari informasi yang dibutuhkan, mengetahui strategi pencarian informasi tersebut, hingga mampu memaknai informasi yang sudah didapat untuk kepentingan tertentu (Himawan, 2014). Dalam artikel yang sama, penulis menyebutkan bahwa konsep literasi informasi mulai diperkenalkan oleh Paul G. Zurkowski pada tahun 1974. Walaupun saat ini muncul berbagai model (panduan) literasi informasi, hal itu masih sejalan dengan konsep yang dikemukakan oleh Paul pertama kali. Namun, mengingat frekuensi dan minat pada instruksi informasi semakin banyak, penting untuk menemukan cara untuk mengarahkan pengguna agar dapat memiliki keterampilan penggunaan informasi di luar pengalaman akademis mereka (Girven, 2017). b. Asistensi Penelitian Penelitian adalah hal yang melekat pada ranah perguruan tinggi. Dilihat dari tujuannya, penelitian merupakan bentuk kontribusi civitas akademika bagi perkembangan bidang keilmuannya. Kehadiran subject specialist menjadi solusi bagi perguruan tinggi untuk memaksimalkan kegiatan penelitian mereka. Pustakawan referensi akan memberi bantuan teknis dalam menemukan sumbersumber informasi yang dibutuhkan pengguna. Padahal asistensi subyek yang mendalam akan membantu peneliti maupun civitas akademika dalam mencapai output penelitiannya secara lebih cepat (Noh et al., 2011). Peluang inilah yang dapat dijadikan salah satu peran dari subject specialist. Sheila Corrall juga menambahkan bahwa subject specialist setidaknya dapat mengidentifikasi peluang strategis penting untuk menjadi penghubung pengetahuan antara perpustakaan dengan pengguna, pengolah data internal perpustakaan, serta pendukung penelitian lainnya (Corrall, 2015). Lebih lengkapnya, Dempsey menjabarkan beberapa hal yang dibutuhkan subject specialist dalam menjadi asisten penelitian bagi civitas akademika. Salah satu hal yang disorot adalah pengetahuan formal tanggung jawab untuk disiplin dalam hal koleksi, instruksi, dukungan penelitian, penjangkauan atau beberapa kombinasi dari ini (Dempsey, 2021). Namun untuk memenuhi peran ini, salah satu hal yang menjadi kendala adalah latar belakang dan pengalaman kerja yang bervariasi, tidak menjurus ke satu bidang saja. Menjadi asisten penelitian, maka juga akan berbicara tentang penyediaan bahan-bahan penelitian yang dibutuhkan oleh pengguna. Kegiatan ini umumnya disebut sebagai layanan referensi. Layanan ini menjadi perdebatan oleh beberapa kalangan mengingat tugas ini juga dikerjakan dapat dikerjakan oleh pustakawan referensi. Mingyue Chen and Joyline menyempitkan tugas referensi seperti permintaan pengguna dan informasi sumber daya, menangani data vendor, dan mengelola materi yang berdasarkan kebutuhan penelitian (Chen et al., 2016). c. Layanan Khusus Subyek Tertentu Selain diperlukan dalam layanan referensi, layanan khusus subyek tertentu dapat membantu perpustakaan perguruan tinggi dalam hal pengelolaan informasi. Subject specialist dapat terlibat dalam pemilihan dan evaluasi informasi dan penyediaan layanan perpustakaan pada bidang studi tertentu, dengan keunggulan pengetahuan bidang itu (Noh et al., 2011). Penelitian yang disampaikan oleh Dong-Joo Noh tersebut, sudah mengindikasikan bahwa kehadiran subject specialist adalah tenaga yang dapat membantu kegiatan referensi maupun asistensi penelitian pada bidang khusus. Peran asisten peneliti dapat disesuaikan dengan tugas-tugas yang dibutuhkan pada penelitian tertentu. Selain penguasaan subyek khusus, subject specialist harus paham dengan tata cara penelitian, pencarian literatur yang sesuai, serta sistematika penelitian itu sendiri. Hal ini didukung oleh pernyataan Lisa McGrath dalam jurnalnya yang berjudul “Hidden expectations: scaffolding subject specialists’ genre knowledge of the assignments they set” (McGrath et al., 2019). “This includes the stages required to complete the communicative act (e.g. produce an essay), such as literature searches and composition. Subject-matter knowledge pertains to the content learned in the disciplines.” Permintaan yang kuat atas kehadiran subject specialist, juga dirasakan oleh perpustakaan khusus (Noh et al., 2011). “In addition, many libraries specialized by subject or function have been established in Korea, such as law libraries, medical libraries, libraries for children and young adults, and Braille libraries. Therefore, Korean librarianship has a strong demand for professional human resources; people who are capable of successfully performing these specialized library services.” Dari beberapa penelitian diatas bahwa peran subject specialist dalam posisi asistensi penelitian masih dibutuhkan di masa sekarang, walau mungkin peran nya akan bertumbuh sesuai dengan perkembangan zaman yang terjadi di masa depan (Chen et al., 2016). d. Peran Tambahan Lainnya Peran subject specialist dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman. Perbedaan peran profesi ini pada setiap instansi dikarenakan perbedaan kebutuhan dan pemaknaan yang berbeda. Menurut beberapa jurnal yang telah dianalisis sebelumnya, beberapa peran subject specialist yang sering muncul adalah peran pendidikan pemakai (pembimbingan informasi pengguna dan pengajaran terhadap instruksi-instruksi yang ada di perpustakaan), layanan spesialisasi subjek yang ditujukan untuk kebutuhan asistensi penelitian dan referensi khusus (pada bidang tertentu). Dari inti peran tersebut ada beberapa peran dan tanggung jawab tambahan yang menyertainya seperti layanan penghubung antara pengguna dengan perpustakaan, hingga bantuan untuk manajemen data internal perpustakaan. Namun, seiring berkembangnya zaman yang serba digital, ada kalanya peran-peran subject specialist akan sedikit bergeser. Dong-Joo Noh menyebutkan bahwa subject specialist harus memiliki keterampilan teknologi informasi yang lebih baik untuk menangani dengan cepat mengembangkan lingkungan digital (Noh et al., 2011). Hal ini dikuatkan dengan pernyataan Annette Day & John Novak, yang menyebut kondisi bahwa pengetahuan akan selalu berkembang sehingga tidak akan bisa jika pustakawan memakai pendekatan subject specialist secara tradisional. Maka dari itu, perlu adanya pengembangan peran subject specialist secara optimal (Day & Novak, 2019).
Conclusion
Ada beberapa peran yang sering keluar dalam peran umum subject specialist pada perpustakaan perguruan tinggi yakni peran referensi subject khusus, peran asistensi penelitian, dan peran pendidikan pemakai. Peran referensi yang sering disorot dalam kesebelas jurnal pilihan adalah bantuan pencarian referensi terhadap bidang studi tertentu. Subject specialist dapat menjawab pertanyaan lebih mendalam terhadap sebuah bahasan yang dibutuhkan oleh pemustaka atau civitas akademika. Hal tersebut berbeda dengan peran pustakawan referensi yang hanya bertanggung jawab pada bantuan pencarian referensi umum yang sifatnya multi-disiplin. Selanjutnya, ciri khas peran subject specialist adalah bantuan dalam asistensi penelitian pada bidang tertentu. Subject specialist dapat ikut serta dan berkontribusi pada penelitian pemustaka, seperti membantu memberikan sumber relevan, merekomendasikan referensi topik tertentu secara lebih eksklusif, hingga bantuan pekerjaan asistensi lainnya. Peran dan tugas tambahan bergantung pada kebutuhan masing-masing instansi. Subject specialist membutuhkan banyak perubahan, terutama dalam organisasi struktur, sistem pengangkatan, dan program pendidikan dan pelatihan. Beberapa kiat tersebut diharapkan dapat membuat eksistensi, peran, serta ruang lingkup subject specialist menjadi jelas. Walau perubahan tersebut membutuhkan banyak waktu, perpustakaan diharapkan dapat melangkah sedikit demi sedikit untuk ketercapaian penerapan subject specialist di perpustakaan perguruan tinggi. Tentunya hal ini harus mendapat perhatian dari banyak pihak.