Kembali
16
1
2023 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 7 · 2 ISSN 2598-3040

Pengetahuan Lokal dan Museum: Analisis Tematik di Google Scholar

Universitas Padjadjaran; Universitas Diponegoro

Abstrak

Kearifan lokal merupakan produk intangible yang lahir dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Meski tidak berwujud, kearifan lokal lekat dengan produk budaya yang diciptakan oleh warga setempat. Produk budaya ini umumnya disimpan di museum. Dengan demikian, hubungan antara pengetahuan lokal dan museum dapat dilihat. Kompleksitas hubungan telah mendorong peneliti untuk mempelajari lebih lanjut tentang literatur yang membahas hubungan di antaranya. Berdasarkan pengalaman penulis, jumlah karya ilmiah dengan tema ini masih sulit didapatkan karena sebagian besar artikel dengan tema ini berada di jurnal internasional berbayar. Namun, akses gratis ke artikel dapat dilakukan di Google Scholar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan lokal dan museum dan siapa peneliti yang telah menulis artikel tentang tema ini. Penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis tematik dengan aplikasi VosViewer digunakan untuk mengetahui hubungan antara konsep pengetahuan lokal dengan museum dan siapa penulisnya. Kami memilih kata kunci "museum local knowledge". Penggunaan kata kunci dalam bahasa Indonesia bertujuan untuk memetakan hasil penelitian dari penulis dalam negeri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan lokal dan museum berkaitan dengan bagaimana memanfaatkan pengetahuan lokal dalam mengelola museum, baik dari segi pengelolaan koleksi maupun layanan informasi. Tema penelitian ini dilakukan oleh Nurislaminingsih et al. (2019) dan Yolla (2019). Kesimpulan dari penelitian ini adalah koleksi yang mewakili etnis tertentu ditampilkan sesuai dengan pengetahuan masyarakat pembuatnya. Pengetahuan lokal di balik koleksi tersebut kemudian digunakan oleh pemandu wisata museum untuk memberikan informasi kepada para pengunjung.

Abstract

Local knowledge is an intangible product born from people's daily lives. Although intangible, local knowledge is attached to cultural products created by local residents. These cultural products are generally stored in museums. Thus, the relationship between local knowledge and museums can be seen. The complexity of the relationship has prompted researchers to study further about the literature that discusses the relationship between them. Based on our experience, the number of scientific papers with this theme is still difficult to obtain because most of the articles with this theme are in paid international journals. However, free access to articles can be done on Google Scholar. Therefore, this study aims to analyze the relationship between local knowledge and museums and who are the researchers who have written articles on this theme. Qualitative research with a thematic analysis approach with the VosViewer application is used to determine the relationship between the concept of local knowledge and the museum and who the authors are. We chose the keyword "museum local knowledge". The use of keywords in bahasa aims to map the results of research from domestic writers. The result shows that local knowledge and museums are related to how to use local knowledge in managing museums, both in terms of collection management and information services. This theme study was conducted by Nurislaminingsih et al. (2019) and Yolla (2019). The conclusion of this study is that a collection that represents a certain ethnicity is displayed according to the knowledge of the community of the maker. The local knowledge behind the collection is then used by the museum tour guide to give information to the visitors.
Keywords: Google Scholar · local knowledge · museum · thematic analysis

Introduction

Pengetahuan lokal merupakan hal penting yang dimiliki oleh masyarakat karena menjadi penanda kekhasan dari komunitas pemiliknya. Pengetahuan lokal diciptakan, digunakan, dibagikan dan dilestarikan dalam siklus kehidupan mereka. Berdasarkan sifatnya, pengetahuan jenis ini berkembang secara natural dan umumnya tanpa ada catatan atau rekaman. Lestarinya pengetahuan lokal bergantung pada daya ingat dan kemampuan masyarakat dalam menguasainya. Tingkat keseringan penggunaan pengetahuan lokal juga berperan signifikan dalam preservasi sedangkan intensitas tersebut sangat bergantung pada minat generasi penerus dalam menggunakan pengetahuan lokal dalam kehidupan mereka meski zaman telah berubah menjadi era modern. Hal ini seperti yang disampaikan Okorafor (2010) pengetahuan lokal atau pengetahuan pribumi dapat didefinisikan sebagai pengetahuan atau cara bertahan hidup yang khas dari suatu masyarakat, budaya atau komunitas tertentu. Pengetahuan ini juga mencakup “teknologi” khas mereka. Pengetahuan lokal didapat dari pengalaman hidup kelompok masyarakat tertentu, dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan diwariskan ke generasi yang lebih muda. Transisi budaya dialami generasi muda yang berada diposisi hidup di tengah budaya setempat namun dalam era modern. Kemudahan akses terhadap pengetahuan modern melalui produk teknologi dirasa menjadi pilihan yang lebih tepat bagi usia muda bila dibanding mempelajari pengetahuan lokal yang biasanya tidak terdokumentasi. Kondisi ini berdampak pada memudarnya minat mereka pada pengetahuan lokal. Dengan demikian perlu diadakan upaya pelestarian pengetahuan lokal agar keberadaannya tidak tergerus zaman. Urgensi pelestarian pengetahuan lokal dikemukakan Olaide dan Omolere (2012) bahwa dokumentasi sangat perlu untuk dilakukan untuk menghindari hilangnya informasi penting yang ada pada setiap jenis pengetahuan lokal. Hal ini dikarenakan pengetahuan lokal umumnya dikuasai secara maksimal hanya oleh orang yang sudah lanjut usia. Anak muda saat ini sudah banyak yang enggan mempelajari dan menggunakan pengetahuan lokal. Para profesional informasi perlu melakukan kemas ulang pengetahuan lokal sehingga proses pemilihan, pelestarian, distribusi dan peruntukannya dapat lebih tepat sebab dikerjakan oleh ahlinya. Contoh kemas ulang pengetahuan lokal yang dilakukan oleh profesional informasi terdapat pada penelitian Burtis (2009) yang membahas Ara Irititja Project. Proyek ini bentukan The South Australian Museum yang bekerja sama dengan organisasi Aborigin setempat untuk mengumpulkan dan melestarikan materi dan cerita Anangu. Seluruh materi yang berasal dari penduduk lokal ini didokumentasikan kedalam database arsip multi-media interaktif. Pengetahuan lokal yang terdokumentasi ini kemudian dilayankan kepada masyarakat. Burtis (2009) beranggapan, sifat era informasi global yang memudahkan siapa saja untuk mendapatkan, memodifikasi dan menciptakan pengetahuan baru akan berpotensi memicu terjadinya penyalahgunaan dan penyelewengan pengetahuan lokal. Hal ini lebih disebabkan oleh proses penyimpanan pengetahuan lokal yang mayoritas dalam bentuk nondokumen. Dengan demikian pengetahuan lokal belum merambah secara luas di dunia maya. Minimnya bukti dokumentasi ini yang kemudian menyebabkan multi tafsir mengenai ragam pengetahuan khas masyarakat. Oleh sebab itu diperlukan upaya untuk mendokumentasikan pengetahuan lokal oleh institusi informasi agar pengetahuan lokal dapat dipahami dengan benar dan jelas. Beberapa kutipan tersebut menjadi acuan pentingnya keterkaitan konsep pengetahuan lokal dengan institusi informasi termasuk museum. Dempsey (2000) dalam Kirchhoff dkk. (2008) menjelaskan bahwa arsip, perpustakaan, dan museum memiliki tugas utama mengatur catatan budaya dan intelektual masyarakat. Konsep ini telah diterapkan di Eropa. Koleksi yang ada pada ketiga memory institution ini berasal dari ingatan masyarakat, komunitas, lembaga dan individu. Koleksi tersebut mengandung warisan ilmiah dan budaya bangsa untuk generasi mendatang. Setiap koleksi dapat digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat mulai dari anak usia sekolah, pelajar tingkat perguruan tinggi, cendekiawan, pebisnis, hingga turis lokal maupun asing. Siapapun yang berkepentingan dan terlibat dalam kajian pengetahuan lokal dan museum perlu terus menggali pemahaman agar dapat mengadopsi konsep pengetahuan lokal dalam museum. Begitu pula sebaliknya tentang cara pengelola museum mensinergikan aktivitas lembaga agar selaras dengan prinsip manajemen pengetahuan lokal. Hal ini menuntut adanya bahan rujukan yang tepat dan terpercaya agar mudah dikaji dan dipelajari secara mendalam oleh para stakeholder. Contoh sumber bacaan yang telah diakui kredibilitasnya adalah hasil penelitian ilmiah yang terpublikasi di jurnal atau repositori. Setiap artikel yang terbit di jurnal atau repositori merupakan hasil penelitian berdasarkan kenyataan yang telah diuji kebenarannya. Jurnal juga berisi hasil analisis literatur dan dokumen yang menjadi bukti otentik penelitian. Namun demikian, berdasarkan pengamatan peneliti, pilihan tulisan yang mengulas kaitan antara pengetahuan lokal dan museum masih sulit untuk didapatkan pada jurnal dalam negeri yang umumnya bersifat open access. Artikel yang membahas keterkaitan pengetahuan lokal dan museum mayoritas terdapat pada jurnal internasional yang umumnya berbayar. Hal ini kemudian menjadi hambatan bagi akademisi, praktisi dan peneliti untuk menggali konsep tersebut lebih dalam. Akses di Google Scholar menjadi salah satu cara untuk memencahkan masalah tersebut. Pada website-nya dijelaskan bahwa google scholar adalah salah satu fasilitas yang disediakan oleh mesin pencari google untuk mengakses karya tulis ilmiah dengan cara merujukkan pada pangkalan data penerbitnya. Google Scholar terus melalukan penambahan fitur yang memudahkan masyarakat Indonesia untuk dapat mengakses karya tulis dari peneliti dan akademisi di Indonesia. Kelebihan lain yang diberikan oleh Google Scholar adalah update dalam hal konten yang dapat dilakukan oleh si penulis itu sendiri. Jika seorang pengarang atau peneliti telah membuat account, maka seluruh karya tulisnya dapat dikelompokkan menjadi satu daftar yang berisi seluruh karyanya. Hal ini akan memudahkan masyarakat dalam memilih artikel berdasarkan nama penulis. Berdasarkan pengalaman peneliti dalam mengetikkan kata kunci “pengetahuan lokal museum” di Google Scholar, jumlah karya tulis dengan tema tersebut masih sangat terbatas. Kenyataan ini menjadi sumber inspirasi bagi peneliti untuk membuat peta tema penelitian yang didasarkan pada kedua bidang tersebut, yakni pengetahuan lokal dan museum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan pengetahuan lokal dan museum yang terdapat pada Google Scholar. Fokus penelitian ini adalah pemetaan tema. Penelitian sebelumnya yang sejenis dengan peta tematik di Google Scholar adalah penelitian Nurislaminingsih et al. (2021) dengan judul Manajemen Pengetahuan dan Perpustakaan: Analisis Tematik di Google Scholar. Persamaan keduanya terletak pada kaitan konsep manajemen pengetahuan dan institusi informasi. Persamaan lainnya adalah pemetaan kaitan konsep dilakukan pada pangkalan data Google Scholar dengan aplikasi Publish of Perish dan VosViewer. Perbedaan penelitian terletak pada inti tema kajian. Penelitian sebelumnya membahas tema manajemen pengetahuan dengan institusi informasi perpustakaan sedangkan pada penelitian ini menganalisis tema pengetahuan lokal dengan institusi informasi museum. Penelitian ini menggunakan kata kunci “pengetahuan lokal museum” bukan “indigenous knowledge museum” saat melakukan pemetaan di Google Scholar. Pengetikkan kata kunci berbahasa Indonesia dipilih dengan alasan bahwa peneliti hendak mengetahui peta penelitian di Indonesia dan dilakukan oleh peneliti dari Indonesia. Hasil dari penelitian ini akan berguna bagi siapa saja yang membutuhkan rujukan artikel berbahasa Indonesia yang free access. Artikel yang bebas biaya unduh tidak akan didapat dengan mudah bila kami mengetikkan kata kunci dengan Bahasa Inggris karena sistem akan memberikan referensi jurnal asing yang sebagian besar memasang tarif bagi pembaca yang ingin mendapat full text. Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah “untuk mengetahui kaitan tema penelitian pengetahuan lokal dengan museum dan siapa saja peneliti Indonesia yang pernah mengkaji tema tersebut dalam artikel yang terdapat di Google Scholar”.

Method

Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan analisis tematik. Boyatzis (1998) dalam Javadi dan Zarea (2016) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif merupakan cara penelitian yang mengkaji realita sosial. Analisis tematik merupakan salah satu jenis cara untuk mendeteksi dan mengurai tema data kualitatif. Brink, Wood (1997) dalam Javadi dan Zarea (2016) menjelaskan bahwa tema penelitian memiliki makna data penelitian yang dikelompokkan dalam inti permasalahan tertentu. Inti permasalah ini kemudian membentuk tema. Javadi dan Zarea (2016) mengatakan bahwa analisis tematik sesuai untuk penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengambil inti sari konsep yang terdapat dalam data penelitian, termasuk dalam menganalisis dan membuat peta tema. Analisis tematik merupakan metode analisis data kualitatif yang bersifat fleksibel dan berguna untuk membangun konstruksi data yang lebih sistematis. Analisis tematik tidak memerlukan tahapan analisis yang terlalu dalam sebagaimana studi kasus karena tujuan utama analisis tematik adalah untuk menganalisis tema yang berkaitan, sejenis atau tema yang berbeda. Analisis tematik pada dasarnya mengacu pada kegiatan analisis data tekstual yang dapat dilakukan dengan software atau aplikasi berbasis komputer untuk membuat visualisasi data dan pengelompokkan yang sesuai dengan cluster dari masing-masing tema. Tampilan tersebut akan memudahkan bagi siapa saja yang untuk mencari pola hubungan antara tema yang satu dengan lainnya dengan lebih tepat dan cepat (Castleberry & Nolen, 2018). Kemudahan ini akan sulit didapat bila menggunakan cara manual yang harus mengumpulkan satu persatu artikel dengan tema yang serupa. Kemudahan yang diberikan oleh perangkat teknologi sebagai alat bantu penelitian diutarakan oleh Miles dan Huberman (1994) dalam Alhojailan (2012) yang menjelaskan bahwa software berguna untuk analisis data kualitatif agar membentuk kelompok tema dan meningkatkan validitas data karena mampu mengaitkan tema dengan sangat detail dan otomatis dengan tampilan gambar. Tampilan ini akan menunjukkan kesamaan dan perbedaan hubungan antara tema. Penelitian ini menggunakan Publish of Perish dan VosViewer untuk menganalisis kaitan tema pengetahuan lokal dengan museum dari karya tulis ilmiah yang terdapat pada google scholar. Pada https://harzing.com/resources/publish-or-perish dijelaskan bahwa Public of Perish adalah software yang mengambil dan menganalisis kutipan akademik dari berbagai sumber data, termasuk Google Scholar. Kata kunci “pengetahuan lokal museum” kami gunakan untuk memperoleh pola tema dan nama-nama peneliti yang pernah mengulas tema tersebut. Pengetikan kata kunci dalam Bahasa Indonesia bertujuan untuk menyaring artikel hanya dari jurnal atau repositori dalam negeri. Filter ini juga menjadi cara otomatis dalam penentuan sampel penelitian ini (gambar 1). Filter selanjutnya dilakukan dengan VosViewer. Pada https://www.vosviewer.com/ dituliskan bahwa VosViewer adalah perangkat lunak untuk membangun dan memvisualisasikan jaringan bibliometrik. Peneliti memilih artikel yang berasal dari jurnal atau repositori untuk mengetahui visualisasi keterikatan tema pengetahuan lokal dengan museum. Peneliti memilih judul dan abstrak (lihat gambar 2) agar didapat pola keterkaitan tema pada keduanya. Analisis bibliografi pada nama penulis artikel (lihat pada gambar 3) dengan tema tersebut juga peneliti lakukan. Hal ini berguna untuk memudahkan siapa saja dalam mencari sumber rujukan saat melakukan penelitan sejenis. Proses penyaringan ini dapat di. Hal ini seperti yang dikatakan Emmel (2013) dalam Javadi dan Zarea (2016) bahwa pengambilan sampel dalam penelitian analisis tematik sesungguhnya bersifat fleksibel sesuai dengan tujuan penelitian dan teknik pengumpulan data. Gambar 1. Pemilihan Sampel Penelitian (Sumber: Tangkapan Layar Penggunaan Aplikasi PoP) Pada gambar 1 dapat diketahui bahwa peneliti memilih Google Scholar sebagai sumber untuk memperoleh data. Kata kunci yang peneliti ketikkan yakni “pengetahuan lokal museum” di publish of perish dengan tahun terbitan 0-2021 untuk memperoleh rujukan artikel hasil penelitian. Peneliti tidak membatasi tahun terbitan. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui trend penelitian tentang kedua tema tersebut yang sudah dilakukan selama ini. Terdapat dua karya tulis dengan tema “pengetahuan lokal museum” yang teindeks oleh Google Scholar. Karya tulis pertama berjudul Pemetaan Pengetahuan Lokal Sunda dalam Koleksi di Museum Sri Baduga dengan penulis Rizki Nurislaminingsih, Wina Erwina dan Asep Saeful Rohman. Artikel kedua berjudul Pemanfaatan Pengetahuan Lokal dalam Menjaga dan Melestarikan Ulos Suku Batak di Museum Negeri Sumatera Utara yang ditulis oleh Costarika Yolla. Kedua artikel tersebut sama-sama terbit di tahun 2019. Langkah selanjutnya yakni pemetaan tema kami lakukan dengan vosviewer. Gambar 2. Tahap Filter Judul dan Abstrak (Sumber: Tangkapan Layar Penggunaan Aplikasi VosViewer) Gambar 2 merupakan teknik memilih judul dan abstrak untuk ekstraksi dan kemudian analisis tema. Judul merupakan inti dari tema penelitian dan abstrak merupakan penjelasan singkat yang lengkap yang mewakili isi artikel. Dengan demikian akan diperoleh topik yang terkait dengan pengetahuan lokal dan museum yang lebih detail. Gambar 3. Tahap Filter Penulis Artikel (Sumber: Tangkapan Layar Penggunaan Aplikasi VosViewer) Gambar 3 adalah proses pemetaan pengarang artikel. Hasil dari aktivitas ini berguna untuk memberi rujukan nama penulis yang telah meneliti hubungan konsep pengetahuan lokal dan museum. Dengan demikian akan memudahkan siapa saja yang berminat melakukan penelitian sejenis untuk mendapatkan bahan bacaan yang menunjang penelitian.

Result & Discussion

Ngulube (2002) dalam Sarkhel (2017) berpendapat bahwa pengetahuan lokal (indigenous knowledge) umumnya diturunkan secara turun-temurun melalui tradisi lisan dan jarang dalam bentuk dokumentasi, oleh sebab itu pembuatan dokumen pengetahuan lokal perlu dilakukan. Proses dokumentasi pengetahuan lokal tidak saja dibatasi hanya pada pembuatan dokumen teks atau format elektronik saja. Metainformasi juga perlu diproduksi sehingga akan memudahkan bagi siapa saja untuk mempelajari informasi penting tentang pengetahuan lokal. Metainformasi dapat berupa catatan tentang sumber, ketersediaan, dan pemilik pengetahuan lokal. Nakata dkk. (2005) berujar bahwa saat ini minat dan motivasi masyarakat adat untuk mendokumentasikan pengetahuan mereka kian kompleks dan beragam. Mereka mulai menyadari pentingnya kagiatan tersebut karena terinspirasi dari kampanye pemerintah yang mendukung program pelestarian pengetahuan lokal. Kebutuhan bidang akademik dan penelitian yang makin gencar merambah penelitian lokal juga menjadi faktor pentingnya preservasi pengetahuan lokal dalam bentuk dokumen. Salah satu urgensi pelestarian pengetahuan lokal adalah pereservasi tradisi lisan. Pengetahuan lisan yang sampai sekarang tidak terdokumentasi terancam punah. Hasil dokumentasi cerita rakyat, lagu daerah, puisi, sajak, pantun dan sejenisnya mewakili budaya setempat perlu disimpan di perpustakaan, arsip dan museum. Begitu pula dengan pengetahuan lokal lainnya yang bukan tergolong tradisi lisan, perlu adanya usaha dokumentasi agar eksistensinya tetap terjaga selama ratusan tahun. Hal itu selaras dengan tujuan penelitian ini, yakni untuk mengetahui keterkaitan antara pengetahuan lokal dengan museum (gambar 4). Hal ini disebabkan museum merupakan salah satu lembaga informasi yang memiliki tugas untuk mengelola dokumen budaya. Penelitian ini juga memiliki tujuan untuk membuat peta nama peneliti yang pernah membuat artikel dengan tema tersebut. Gambar 5 menampilkan peta nama peneliti yang pernah meneliti tentang keterkaitan pengetahuan lokal dan museum. Peta nama berguna sebagai rujukan bagi para pembaca hasil penelitian ini untuk mencari bahan referensi terkait tema ini berdasarkan nama penulis. Gambar 4. Hasil Olah Data (Sumber: Tangkapan Layar Penggunaan Aplikasi VosViewer) Pada gambar terlihat pengelompokkan tema dengan jaring yang saling berkaitan dan dalam satu warna cluster. Pada gambar juga terlihat tidak ada garis jaring yang terpisah. Masing-masing tema yang tertulis di titik merah saling berkaitan satu sama lain. Jaring tema tersebut mencontohkan aktivitas pengelola Museum Negeri Sumatera Utara yang telah bekerja dengan cara memanfaatkan pengetahuan lokal dalam proses pelestarian Ulos. Pengetahuan lokal yang dimanfaatkan dan diterapkan oleh pengelola museum diluar dari SOP (Standar Operasional Prosedur) yang kaku. Pengetahuan yang dimiliki oleh staf museum tersebut berguna untuk menata koleksi dan memberikan deskripsi koleksi yang tepat sesuai dengan prinsip kelokalan Ulos. Pegawai museum yang mumpuni tentang pengetahuan tersebut juga akan mampu memberi informasi kepada para pengunjung museum tentang ulos dengan lebih tepat. Dengan demikian dapat dipahami bahwa keterkaitan pengetahuan lokal terkait dengan museum tertelak pada pemanfaatan pengetahuan lokal dalam mengelola museum, baik dalam hal teknis pemajangan koleksi maupun layanan informasi kepada masyarakat. Koleksi museum berupa produk budaya lokal (dicontohkan Ulos) merepresentasikan pengetahuan lokal dari pembuatnya. Pengetahuan lokal tentang koleksi ini yang kemudian digunakan oleh pengelola museum untuk menjelaskan segala sesuatu tentang Ulos kepada pengunjung. Dengan demikian para pengunjung akan mendapat informasi tentang Ulos dengan sangat jelas sesuai dengan kekhasan etnis pembuatnya. Usaha pengelola museum untuk membagikan informasi tentang ulos kepada masyarakat tersebut sesuai dengan prinsip informasi yang disampaikan oleh Buckland (1991) bahwa informasi dapat diposisikan ke dalam tiga istilah, yakni information as process, information as knowledge dan information as thing. Information as proses contohnya bila seseorang diberi informasi baru, maka ini artinya ia telah mendapat informasi yang belum pernah ia dapatkan. Pada contoh tersebut terlihat adanya proses memahami hal yang baru. Information as knowledge memiliki makna bahwa informasi yang didapat berubah menjadi pengetahuan bagi si penerima. Pengetahuan ini bersifat intangible (tak terlihat) karena dalam pikiran. Sebaliknya, information as thing berarti informasi terekam dalam benda yang berwujud seperti data dan dokumen. Aktivitas berbagi informasi tentang pengetahuan lokal yang dilakukan oleh pengelola Museum Negeri Sumatera Utara Kondisi Bahasa dan budaya yang hampir punah di alami oleh komunitas Sa’mi di Norwegia. Mereka kemudian membangun pusat dokumentasi untuk menangani buku, gambar, peta, film, pakaian, bangunan tradisional dan teknik bangunan, makanan, tempat suci, cerita, bercerita, musik, teater, kebangkitan Bahasa dan budaya. Semua dokumen ini tidak diperlakukan sebagai berisi pengetahuan statis. Pihak pengelola mentransmisikan pengetahuan kepada masyarakat luas (Grenersen, 2012). Hasil pemetaan tema yang terdapat pada gambar 4 menggambarkan bahwa information as thing yang berupa benda nyata (koleksi museum) yang merepresentasikan pengetahuan lokal Ulos. Information as process terjadi pada penerimaan informasi tentang pengetahuan lokal Ulos oleh pengunjung museum. Information as knowledge berupa benda tak nyata (pengetahuan) yang didapat oleh pengunjung setelah mendapatkan informasi tentang Ulos dari pengelola museum. Hasil pemetaan tema yang terdapat pada gambar 4 juga sesuai dengan pendapat Lund (2009) yang menjelaskan secara umum dokumen memiliki 3 karakteristik yakni berupa objek tertulis yang menyatakan dan membuktikan transaksi, kesepakatan, dan keputusan yang dibuat oleh masyarakat. Kedua, dokumen menjadi alat bukti hukum. Ketiga, dokumen merupakan benda yang berisi informasi. Berdasarkan gambar 4 dapat diketahui bahwa koleksi tentang Ulos yang tersimpan museum adalah dokumen yang membuktikan produk budaya masyarakat Sumatra Utara sekaligus menjadi sumber informasi tentang Ulos bagi pihak luar yang tertarik mempelajari tentang pengetahuan lokal Ulos. Setelah mengetahui tema penelitian tentang pengetahuan lokal dan museum, peneliti kemudian memetakan author. Hasil mapping ada pada gambar 5. Gambar 5. Peta Peneliti (Sumber: Tangkapan Layar Penggunaan Aplikasi VosViewer) Gambar 5 menujukkan bahwa penelitian tentang pengetahuan lokal dan museum dilakukan oleh Nurislaminingsih (co-author Erwina) dan Yolla. Kami kemudian mengetik kata kunci “pengetahuan lokal museum nurislaminingsih erwina yolla” di google scholar. Peneliti memperoleh artikel ilmiah berjudul Pemetaan Pengetahuan Lokal Sunda dalam Koleksi di Museum Sri Baduga dengan penulis Rizki Nurislaminingsih, Wina Erwina dan Asep Saeful Rohman (2019). Karya tulis lain yang didapat adalah adalah skripsi dengan judul Pemanfaatan Pengetahuan Lokal dalam Menjaga dan Melestarikan Ulos Suku Batak di Museum Negeri Sumatera Utara yang ditulis oleh Costarika Yolla (2019). Langkah selanjutnya analisis isi dari kedua karya tulis ilmiah tersebut. Inti dari penelitian Nurislaminingsih et al. (2019) mengkaji tentang pengetahuan lokal yang ada di balik koleksi museum. Pada penelitian ini tidak mengulas tentang pengetahuan lokal yang dimiliki oleh pegawai museum sebagaimana tujuan dari penelitian Yolla (2019). Penelitian Yolla menekankan pada aktivitas para pengelola museum yang bekerja dengan lebih fleksibel sesuai dengan pengetahuan lokal yang dimiliki seperti sejarah, makna, jenis, cara pembuatan hingga perawatan Ulos. Konsep kajian dari para peneliti tersebut telah terlebih dahulu dilakukan oleh Marcum (2014) bahwa perpustakaan, pusat arsip dan museum terus melakukan inovasi layanan. Koleksi dari ketiga pusat informasi tersebut tidak lagi hanya bisa dinikmati oleh pengunjung yang datang ke lokasi. Kini masyarakat luas dapat mengakses koleksi dalam berbagai format digital yang terpajang di website. Beberapa institusi juga sudah mencontohkan gabungan layanan arsip, perpustakaan, dan museum. Cukup dengan mendatangi satu lokasi, baik lokasi nyata maupun maya, masyarakat bisa menikati koleksi museum, mencari bukti tertulis dalam bentuk arsip dan mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap dari koleksi perpustakaan.

Conclusion

Berdasarkan hasil analisis dengan VosViewer dapat diketahui bahwa tema kaitan pengetahuan lokal dan museum berupa pemanfaatan pengetahuan lokal dalam mengelola museum, baik dalam hal teknis tata display koleksi maupun layanan informasi kepada masyarakat. Koleksi yang mewakili etnis tertentu di pajang sesuai dengan kelompok pengetahuan lokal karena koleksi tersebut di buat oleh masyarakat lokal. Dengan kata lain, ada pengetahuan lokal dibalik koleksi. Pengetahuan ini kemudian dimanfaatkan oleh tour guide museum untuk memberi informasi tentang produk budaya tersbeut kepada para pengunjung museum. Kajian tema hubungan pengetahuan lokal dan museum dilakukan oleh Nurislaminingsih et al. (2019) dan Costarika Yolla (2019). Hasil dari penelitian ini berguna bagi siapa saja yang berminat menganalisis penerapan konsep pengetahuan lokal dalam organisasi informasi museum. Kami menyarankan untuk mengembangkan kajian pada analisis layanan museum yang sesuai dengan kaidah pengetahuan lokal atau analisis koleksi museum yang mengandung pengetahuan lokal.