Kembali
16
1
2024 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 8 · 3 ISSN 2598-3040

Kompetensi Pustakawan di Layanan Referensi UPT Perpustakaan Universitas Indonesia Sebagai Research Librarian

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

UPT Perpustakaan Universitas Indonesia (UI) pada hakikatnya menyediakan sumber, layanan dan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan pemustaka. Penelitian atau riset kerap dilakukan oleh sivitas akademika sebagai bagian dari Tri Dharma perguruan tinggi. Kualitas penelitian di UI juga didorong dengan adanya misi menjadi universitas riset kelas dunia. Hal tersebut menghasilkan transformasi dan tuntutan pustakawan di layanan referensi UI menjadi seorang research librarian yang memiliki pengetahuan, keterampilan serta sikap yang mumpuni. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kompetensi pustakawan di layanan referensi perpustakaan UI sebagai seorang research librarian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara semi tersturuktur, observasi dan studi dokumen. Pemilihan informan dalam penelitian ini didasarkan pada teknik purposive sampling yang mana mengikuti kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti. Informan pada penelitian ini berjumlah 4 orang yang terdiri dari 3 pustakawan dan 1 pemustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa pustakawan di layanan referensi UPT Perpustakaan UI memiliki lima unit kompetensi sebagai research librarian yakni keterampilan pengelolaan layanan efektif, kemampuan kerjasama guna peningkatan pelayanan, pemahaman terhadap perpustakaan dan kebutuhan informasi sivitas akademika, keterampilan sumber daya informasi dan sikap atau komitmen dalam pelayanan.

Abstract

The UPT Library of the University of Indonesia (UI) basically provides resources, services and facilities to meet the needs of the library. Research or research is often conducted by academic staff as part of the Tri Dharma college. The quality of research at UI is also driven by the mission of becoming a world-class research university. This resulted in the transformation and demands of librarians in UI reference services into a research librarian with knowledge, skills and a capable attitude. Thus, this study aims to identify librarian competencies in UI library reference services as a research librarian. The method used in this study is a qualitative research method with a case study approach. The data collection techniques used are semi-structured interviews, observations and document studies. The selection of informants in this study was based on purposive sampling techniques which followed the criteria established by the researcher. The informants in this study were 4 people consisting of 3 librarians and 1 librarian. The research results show that librarians in the UPT reference service Library UI have five units of competence as research librarians: effective service management skills, cooperative capabilities for improved service, understanding of libraries and academic information needs, information resource skills and attitude or commitment in service.
Keywords: competencies · librarians · research librarian · reference services · upt university of indonesia library

Introduction

Kegiatan penelitian menjadi hal umum bagi sivitas akademika untuk memenuhi tujuan Tri Dharma Perguruan Tinggi, ini dikarenakan penelitian menjadi praktik nyata guna menunjukan output dari kualitas pendidikan melalui penemuan dan penyelesaian masalah di masyarakat. Salah satu penunjang proses tersebut adalah dengan ketersediaan perpustakaan sebagai perangkat pendukung yang menyediakan sumber, layanan, dan fasilitas informasi. Perpustakaan harus mampu mengenali dan mempelajari tantangan yang dihadapi pemustaka dan membantu mencarikan jalan keluar. Hal tersebut dapat terwujud melalui peran andal pustakawan sebagai jantung utama yang memiliki kapasitas ilmu untuk menjadi fasilitator bagi pemustaka. Pustakawan sebagai tenaga profesional dapat memberdayakan skill dan kemampuannya guna menjalankan fungsi perpustakaan. Tujuan tersebut dapat dilakukan dengan menanamkan kompetensi yang terus dikembangkan dan dievaluasi. Kompetensi secara teoritis adalah keterampilan dan perilaku langsung maupun tidak langsung yang memungkinkan individu untuk melakukan tugas, pekerjaan dan perannya secara efektif (Draganidis & Mentzas, 2006). Kompetensi mampu menjadi arahan pustakawan untuk menuju prestasi kerja yang mencakup bagaimana kualitas, frekuensi dan ketepatan waktu dalam pencapaian tugasnya. Bagi perpustakaan, kompetensi juga dapat menunjukan image yang baik terhadap tingkat pelayanan dikarenakan ini merepresentasikan jaminan terhadap kualifikasi melalui keterampilannya secara profesional dan unggul. Kompetensi dalam implikasinya juga menjadi ajang pembekalan performa atau mutu pustakawan terhadap pemuasan kebutuhan sivitas akademika. Tanpa adanya kompetensi, pustakawan kehilangan petunjuk untuk menghadapi situasi khusus dan ekspektasi pemustaka terhadap keberhasilan pelayanan. Pustakawan juga berpeluang dianggap sebagai pekerjaan yang tidak menjunjung profesionalitas dan kredibilitas. Kompetensi dipandang sebagai keperluan dasar atau roda penggerak aktif guna menjalankan fungsi dan tugasnya dalam bidang kepustakawanan yang seringkali berhadapan dengan kebutuhan kompleks pengguna (Cahyono, 2011). Berangkat dari krusialnya kebutuhan pemustaka, ini memicu perjalanan kompetensi secara dinamis, seperti halnya pada visi dalam mewujudkan kepentingan riset di lingkungan akademik, maka terdapat beberapa peran yang harus dimiliki pustakawan salah satunya yakni sebagai research librarian. Research librarian merupakan pustakawan yang bertugas sebagai seorang asistensi dimana mampu memahami, menyampaikan, dan memenuhi kebutuhan yang berbeda dari penelitian masingmasing pelaku di sebuah komunitas (Mamtora, 2013). Dibandingkan pustakawan subjek atau referensi, research librarian lebih berpengetahuan tentang proses penelitian dalam berbagai disiplin ilmu, serta terampil dalam kegiatan kolaboratif untuk mendukung penelitian (Walker, 2009). Research librarian juga perlu memiliki kompetensi untuk merefleksikan perannya lebih dalam dengan menguatkan kemampuan untuk merujuk pada kebutuhan spesial terkait penelitian pemustaka. Salah satu perpustakaan di Indonesia yang membangun peran sebagai research librarian ini yakni terdapat di UPT Perpustakaan Universitas Indonesia. UPT Perpustakaan Universitas Indonesia (UI) secara simultan berupaya menjadi institusi riset terkemuka di dunia. Upaya tersebut telah didukung dengan hasil pemeringkatan SCImago Institutions Rankings (SIR) tahun 2023 dimana UI menempati ranking 1 di Indonesia dengan indikator penilaian yakni kinerja penelitian, luaran inovasi dan dampak sosial (Purwadi, 2023). Berdasarkan pernyataan Wakil Rektor UI Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UI (2021) menjadi perpustakaan universitas riset kelas dunia diwujudkan salah satunya melalui pembenahan dan peningkatan kualitas SDM. Perpustakaan UI melakukan optimalisasi peran pustakawan di layanan referensi dengan meningkatkan kemampuan sebagai research librarian. Research librarian perpustakaan UI merupakan peran yang berada di layanan referensi agar menjadi tempat penting sebagai profesional akademik yang menguasai kebutuhan spesifik terkait riset, sumber literatur terkini, serta mampu memanfaatkan teknologi terbaru dengan efektif untuk melayani pemustaka. Dalam hal ini, pustakawan di perpustakaan UI memiliki tuntutan untuk menempatkan posisinya dengan strategis dan mendukung kegiatan penelitian di UI dengan terus mengembangkan kompetensi terutama sebagai research librarian yang mampu berinovasi dalam pengembangan layanan. Berdasarkan permasalahan yang ada penelitian bertujuan untuk mengekplorasi bagaimana kompetensi pustakawan di layanan referensi UPT Perpustakaan UI sebagai research librarian. Untuk itu, penulis akan melakukan penelitian berjudul “Kompetensi Pustakawan di Layanan Referensi UPT Perpustakaan Universitas Indonesia Sebagai Research Librarian”. 2. Landasan Teori 2.1 Kompetensi Pustakawan Kompetensi pustakawan menurut Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2021 Tentang Kamus Kompetensi Teknis Jabatan Urusan Pemerintahan Bidang Perpustakaan, kompetensi pustakawan adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh pustakawan berupa pengetahuan, keahlian dan sikap/perilaku dalam pelaksanaan tugas dan jabatannya. Kompetensi ini dapat merujuk ke beberapa jenis pekerjaan atau layanan yang menjadi pemberian tanggung jawab untuk pustakawan. 2.2 Kompetensi Pustakawan di Layanan Referensi Pada layanan referensi, pustakawan diarahkan untuk memiliki seperangkat kemampuan untuk menemukan informasi pada koleksi referensi atau sumber informasi lain untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman terkait kebutuhan pengguna. Pustakawan di layanan referensi yang berhubungan dan berinteraksi secara langsung untuk membimbing pemustaka, perlu berkompetensi agar menciptakan layanan humanis yang prima. Adapun menurut Reference and User Services Association (RUSA) oleh American Library Association (2008) terdapat 6 unit kompetensi profesional yang patut dimiliki oleh pustakawan referensi antara lain: 1. Kompetensi akses pengetahuan dan informasi terekam yang relevan dan akurat, serta menawarkan layanan yang responsif terhadap kebutuhan pengguna yang diungkapkan individu. 2. Kompetensi evaluasi, pengumpulan, pengambilan, dan sistesa informasi dari berbagai sumber, serta identifikasi dan menyajikan sumber yang direkomendasikan. 3. Kompetensi interaksi dan kolaborasi dengan rekan kerja dan lainnya untuk memberikan konsultasi, mediasi, dan bimbingan dalam penggunaan pengetahuan dan informasi. 4. Kompetensi literasi informasi dan instruksi, termasuk literasi tekstual, digital, visual, numerik, dan spasial. 5. Kompetensi evaluasi dan menanggapi keragaman dalam kebutuhan pengguna, komunitas pengguna, dan preferensi pengguna. 6. Kompetensi penyelidikan, analisa, dan perencanaan untuk mengembangkan layanan di masa mendatang. 2.3 Kompetensi Pustakawan di Layanan Referensi Sebagai Research Librarian Pustakawan di layanan referensi pada beberapa kondisi dapat merujuk pada peran tertentu sesuai kebutuhan khas pemustaka sivitas akademika. Seperti halnya bidang atau keterlibatan penelitian, terdapat peran layanan referensi menjadi research librarian. Research Librarian merupakan pustakawan yang bertugas melakukan pekerjaan layanan penelitian serta seringkali ikut serta dalam membantu kegiatan penelitian. Adapun menurut Association of Southeastern Research & Libraries (2001) terdapat 5 kompetensi yang perlu dimiliki research librarian. Association of Southeastern Research Libraries (ASERL) itu sendiri merupakan suatu komite pendidikan yang didirikan pada tahun 1999 untuk menyelidiki kebutuhan ilmu pustakawan guna mendukung adanya perpustakaan penelitian di masa depan. Terbangunnya ASERL menghasilkan ketetapan bahwa salah satu cara mendukung misi tersebut adalah dengan mengidentifikasi kompetensi yang diperlukan pustakawan. Maka berikut merupakan elemen kompetensi yang patut dimiliki oleh seorang research librarian: 1. Mampu mengembangkan dan mengelola secara efektif layanan yang memenuhi kebutuhan pengguna dan mendukung misi penelitian perpustakaan. 2. Mendukung kerjasama dan kolaborasi untuk meningkatkan pelayanan. 3. memahami perpustakaan di dalam konteks perguruan tinggi dan kebutuhan mahasiswa, dosen hingga peneliti. 4. Mengetahui struktur, pengorganisasian, penciptaan, pengelolaan, penyebaran, penggunaan dan pelestarian sumberdaya informasi baru dan yang sudah ada dalam semua format. 5. Mampu menunjukan komitmen untuk nilai dan prinsip kepustakawanan.

Method

Penelitian bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana kompetensi pustakawan di layanan referensi UPT Perpustakaan UI sebagai research librarian. Sejalan dengan ini metode kualitatif digunakan pada penelitian dikarenakan berusaha untuk menggali permasalahan melalui investigasi dan pengamatan secara mendalam terhadap pengalaman subjek penelitian tanpa adanya ketetapan intervensi dari peneliti. Penelitian kualitatif itu sendiri dimaknai sebagai metode penelitian dengan pendekatan yang plural dan naturalistik dimana penelitian menelisik hal-hal dalam kebiasaan natural mereka, mencoba mendalami atau menafsirkan peristiwa dalam hal sudut pandang orang terhadap mereka (Denzin & Lincoln, 2011). Selanjutnya, penelitian kualitatif ini tergolong sebagai penelitian dengan pendekatan studi kasus (case study). Penelitian studi kasus merupakan penelitian yang dilakukan secara intensif, mendetail dan kompherensif (Sanapian, 1999). Informan sebagai sumber data dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang disesuaikan dengan kriteria yang ditetapkan oleh peneliti sebagai intrumen penelitian. Adapun informan merupakan pustakawan di layanan referensi UPT Perpustakaan UI yang memiliki peran sebagai research librarian, serta pemustaka yang pernah menggunakan layanan research librarian. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semi-terstruktur, observasi non-partisipatif dan studi dokumen. Analisa data pada penelitian merujuk pada teori Miles & Huberman (1992) yang meliputi Data input, Reduksi data, Penyajian data dan penarikan kesimpulan. Kemudian, untuk menjaga kualitas atau keabsahan dari data yang diperoleh, peneliti menggunakan teori Lincoln & Guba (1985) yang meliputi credibility, transferability, dependability dan confirmability.

Result & Discussion

4.1 Pustakawan Sebagai Research Librarian Research librarian menaungi pekerjaan sebagai mitra penelitian atau riset sivitas akademika. Mitra yang dilabeli kepada pekerjaan pustakawan merujuk pada pemberian bantuan dan bimbingan terhadap produk riset. Pustakawan dalam kegiatannya melakukan penyediaan secara fisik dan nonfisik, artinya dapat berupa literatur, saran penelitian, data riset dan sebagainya. Menurut penelitian oleh Andayani (2017) pustakawan membopong terjadinya aktivitas riset perguruan tinggi melalui penyediaan sumber-sumber dan menyelenggarakan program instruksional yang diperlukan untuk mendukung kegiatan riset. Research librarian di UI juga menjadi bentuk Academic Advancement dimana perpustakaan mengalami kemajuan tidak hanya sebagai tempat penyimpanan, tetapi bertindak sebagai mediator dalam penelitian dan pengajaran. 4.2 Kompetensi Pustakawan di Layanan Referensi UI Sebagai Research Librarian 4.2.1 Pengelolaan Layanan Efektif oleh Research Librarian UI Unit kompetensi pengelolaan layanan berhubungan dengan bagaimana pustakawan meningkatkan dan mengembangkan layanan menjadi lebih efektif untuk kebutuhan lingkup pemustaka terutama pada tujuan penelitian. Praktik pengelolaan layanan efektif dilakukan research librarian melalui metode sosialisasi atau pengajaran. Metode sosialisasi menjadi langkah andal untuk memberikan umpan keterampilan mandiri terkait perpustakaan yang mana menurut Andayani (2017) partnership antara pustakawan akademik dan sivitas akademika dalam kegiatan riset dilakukan dengan penanaman dan pengajaran kemampuan riset (research skills) diluar kewajibannya dalam menjembatani sumber informasi. Efektifitas layanan juga perlu dipastikan dengan menilai kepuasan pemustaka. Research librarian kerap melakukan evaluasi dengan memahami respon yang diberikan pemustaka. Kegiatan tersebut juga membuka kesempatan bagi pustakawan untuk mendapat pengakuan atas kinerja, serta mengantisipasi adanya kekurangan dan mempersiapkan penyelesaian. Pengelolaan layanan tidak lepas dari adanya komunikasi yang dipahami sebagai ajang pemeliharaan hubungan baik dengan pemustaka. Komunikasi yang terjalin dimulai secara verbal pada kelas perkuliahan metodologi penelitian. Komunikasi yang terbentuk juga dapat menggunakan perantara seperti email dan whatsapp. Selanjutnya, efektif layanan oleh research librarian juga disokong dengan perencanaan, prioritas dan pengorganisasi pekerjaan. Pustakawan dalam hal ini, mampu melakukan pengorganisasian dengan mengatur beban kerja secara numerik atau metode pengklasifikasian. Adapun research librarian juga menentukan perencanaan dengan membuat target capaian kerja, jadwal program hingga rapat rutin agar lebih terarah. Dalam rangkaian pemeliharaan layanan, pustakawan menemukan adanya tantangan. 4.2.2 Kerjasama Guna Peningkatan Pelayanan oleh Research Librarian Kerjasama merupakan salah satu cara mengatasi kekurangan atau hambatan yang dialami pustakawan ketika melaksanakan pekerjaannya. Kerjasama yang dilakukan research librarian UI berupa pembangunan tiga kemitraan. Pertama rekan sejawat, pustakawan menyadari kekurangan menampung semua skill atau pengetahuan dalam melayani keberagaman pemustaka, maka pustakawan memutuskan meminta bantuan dengan pihak dalam perpustakaan. Bentuk hubungan dengan rekan sejawat juga sejalan dengan unit kompetensi menurut RUSA (2008) yakni kompetensi kolaborasi dengan rekan kerja dilakukan untuk membantu proses konsultasi atau mediasi dalam pelayanan. Kedua, jaringan perpustakaan perguruan tinggi yang menjembatani perpustakaan UI dengan perpustakaan lain untuk saling menutup keterbatasan, seperti ketersediaan e-resources atau koleksi guna tumpuan riset. Ketiga, bergabungnya kedalam organisasi profesi yang menjadi strategi pertemuan dengan cakupan lebih nasional dan memungkinkan adanya pengembangan diri secara profesional dan keilmuan. Praktik kerjasama tersebut menghasilkan peluang pertukaran seperti pengetahuan, keterampilan, serta ketersediaan sumber perpustakaan maupun informasi. 4.2.3 Pemahaman Perpustakaan dan Kebutuhan Informasi oleh Research Librarian Unit kompetensi membahas bagaimana pustakawan mampu mengenali perpustakaan dalam ruang lingkup perguruan tinggi melalui pemahaman terhadap komunitas atau individu sivitas akademika. Pada kompetensi ini research librarian UI melakukan pelayanan penelitian komunikatif melalui aktivitas edukasi untuk mendukung pembelajaran atau program pendidikan tinggi. Pustakawan dalam membuat program, melihat pola kebiasaan yang dikehendaki menurut fakultas tertentu berupa jenis kekhususan materi serta mengadopsi pemanfaatan teknologi seperti e-resources, aplikasi manajemen referensi, hingga vos viewer. Keragaman jenis kebutuhan yang ada menuntut pustakawan dalam menguasai skill teknologi agar mampu menavigasi ketika mengadakan edukasi. Kebutuhan informasi sivitas akademika UI terpenuhi dengan dua kegiatan yaitu identifikasi serta penyelesaian.1) Identifikasi kebutuhan informasi oleh Research Librarian Identifikasi kebutuhan informasi dilakukan dengan melihat pendekatan terhadap perspektif individu pemustaka. Pelayanan secara individu dengan sentuhan pribadi berlaku pada setiap pemustaka, kapan saja dan dimana saja pemustaka membutuhkannya (Widyawan, 2012). Proses yang diberlakukan pustakawan difasilitasi dengan wawancara referensi yang mengantarkan pada pertanyaan seputar kebutuhan umum dan bermuara pada pengkolektifan permintaan spesifik. Identifikasi kebutuhan informasi yang dilakukan erat hubungannya dengan menanyakan judul, topik atau subjek penelitian. 2) Penyelesaian Kebutuhan Informasi Pengguna oleh Research Librarian UI Penyelesaian informasi dilakukan dengan penelusuran untuk mencari referensi sebagai landasan riset pemustaka. Research librarian UI menggunakan beberapa tools yakni alat bantu telusur di perpustakaan dan alat bantu pencarian informasi di internet seperti thesaurus, goole metrics, hingga database. Pustakawan menerapkan streategi penelusuran seperti perumusan kata kunci dan tahun, kemudian data diolah untuk menetapkan subjek utama pencarian literatur. 4.2.4 Keterampilan Sumber Daya Informasi oleh Research Librarian UI Sumber informasi bagi research librarian menjadi alat utama untuk memenuhi kebutuhan literatur, data, atau referensi terkait penelitian pemustaka. Pustakawan harus mampu mengenali struktur, penciptaan, pengelolaan hingga penggunaan dari sumber informasi. Pemanfaatan sumber informasi oleh research librarian UI yakni rekomendasi terhadap Lontar UI. Lontar dinilai lebih memudahkan para pemustaka dalam menelusuri karena telah terhubung dengan banyak database yang dilanggan oleh universitas. Selain itu lontar juga menyediakan berbagai jenis koleksi mulai dari buku, e-jurnal, grey literature, majalah, prosiding, hingga koleksi terbaru. Melalui lontar pustakawan mengklaim bahwa informasi yang nantinya akan dimanfaatkan telah memiliki jaminan legal untuk diakses dan diunduh. Aktivitas pustakawan tersebut memiliki kesesuaian dengan pendapat (Nur’aini & Nasution, 2021) yang mana pustakawan mampu menjunjung hak atas informasi dengan akses seluasluasnya kepada pengguna, namun tetap menghormati dan menjaga hak cipta. 4.2.5 Sikap Pada Pelayanan Research Librarian UI Sikap merupakan unit kompetensi yang berhubungan dengan nilai individual yang ditanamkan oleh pustakawan dalam pekerjaannya. Sikap berupa komitmen dalam pelayanan profesional dengan tetap mengutamakan hak kerja pustakawan. Pustakawan mengklaim dapat memberikan pelayanan maksimal dan prima pada jam operasional perpustakaan berlangsung. Pustakawan juga menggambarkan adanya integritas. Integritas merupakan dorongan untuk memberikan pelayanan yang terbaik meski tidak diawasi atau pun tidak diberi reward, ini dikarenakan berasal dari adanya panggilan jiwa (Sungadi, 2019). Komitmen dapat menjadi tameng bagi perpustakaan untuk menguatkan identitasnya sebagai bagian dari perpustakaan, yang nantinya melahirkan motivasi untuk berdeikasi penuh terhadap pekerjaan yang diberikan kepada pustakawan.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian terkait bagaimana kompetensi pustakawan di layanan referensi UI sebagai seorang research librarian, dapat ditarik kesimpulan bahwa pustakawan telah memiliki dan mendalami lima unit kompetensi sebagai research librarian. Kompetensi tersebut meliputi yang pertama pengelolaan layanan efektif melalui metode sosialisasi hingga pengajaran, evaluasi untuk mengetahui penilaian kepuasan pemustaka, kemampuan komunikasi secara verbal maupun dengan perantara sarana elektronik, perencanaan dan pengorganisasian pekerjaan melalui manajemen pengaturan serta penentuan skala prioritas, dan kemampuan bertindak atas tantangan pelayanan. Kedua, kompetensi kerjasama guna peningkatan pelayanan melalui kemitraan rekan sejawat, jaringan antar perpustakaan perguruan tinggi dan bergabung dengan organisasi profesi. Ketiga, kemampuan memahami perpustakaan dan kebutuhan informasi sivitas akademika dengan pembangunan program yang telah disesuaikan dengan kebutuhan spesifik, dan keterampilan pemenuhan kebutuhan informasi dengan identifikasi hingga penyelesaian. Keempat, keterampilan sumber daya informasi untuk penyediaan literatur penelitian, disini research librarian mampu merekomendasikan alat bantu telusur lontar, database yang dilanggan UI dan literatur open access untuk menjunjung hak keterbukaan informasi. Kelima, sikap research librarian yang mana pustakawan memiliki komitmen untuk melakukan pelayanan secara profesional, responsif dan tanggap di dalam maupun luar jam operasional.