Kembali
16
1
2021 Nusantara Journal of Information and Library Studies (N-JILS) Vol 4 · 1 ISSN 2654-6469

Program Literasi Informasi Bertema Sejarah di SD Nasima

Politeknik Baja Tegal

Abstrak

Saat ini banyak ana k-anak paham teknologi, sehingga pencarian inform asi dilakukan melalui internet bu kan pe rpustakaan, dan teknologi juga membuat anak-anak l ebih paham sejarah negara lain daripada sejarah Indonesia. T ujuan dari penelitian ini adalah u ntuk mengetahui program literasi informasi bertema sejarah di S D Nasima. Penelitian in i menggunakan meto de deskr iptif kualitatif. S ubjek penelitian adalah siswa se kolah dan pustakawan SD Nasima. Hasil analisis the big 6, yaitu task definition pustakawan memberi tugas kepada siswa unt uk mencari tahu tentang sejarah. P ada tahap i nformation se eking strategies. si swa me nentukan sumber apa yang akan dipakai seperti buku, majal ah, audio, video dan lain-lain. P ada tahap location and access siswa mengunjungi pe rpustakaan. p ada tahap use of information siswa diminta mem baca, mendengarkan dan menonton. p ada tahap synth es is sis wa menggabungkan informasi dari berbagai sumber, dan diminta untuk mempresentasikan dari hasil informasi yang didapatkan. P ada tahap evaluation, siswa mengevaluasi dari apa yang sudah dilakukan. Adapun kegiatan yang p aling efektif dalam siswa m ener im a informasi yang disampaikan adalah dengan menonton video. © 20 21 NJILS . All rights reserved.

Abstract

Currently, many children understand technology, so information search is done through the internet instead of libraries, and technology also makes children more aware o f the history of other countries than the history of Indonesia. The purpose of this stud y is to find out information literacy programs with historical themes at Nasima Elementary School. This study used the descriptive qualitative method. The research subj ects were sch ool students and lib rarians of SD Nasima. The results of the big 6 analysis , namely Task Definition, the librarian gave the task to students to find out about history. At the stage of Information Seeking Strategies. Students determine what sou rces will be used such as books, magazines, audio, video, and others. In the Location an d Access stage, students visit the library. In the Use of Information stage, students are asked to read, listen and watch. At the Synthesis stage, students combine info rmation from various sources and are asked to present the results of the information obt ained. At the Evaluation stage, students evaluate what has been done. The most effective activity for students to receive the information presented is by watching video s.
Keywords: school library · information literacy · information architecture · the big 6

Introduction

Di era industry 4.0 masyarakat sudah menjadikan teknologi sebagai kebutuhan primer. Sudah banyak masyarakat yang melek akan te knologi. Hal ini sa ngat bermanfaat karen a dapat mempermudah segala aktivitas yang dilakukan m asyarakat. Namun , sungguh d i sayangkan masih ada beberapa tempat yang belum bisa m eng orel asikannya dengan teknologi. S aat ini perpustakaan se kolah, ma sih banyak dit emukan perpustaka an konvensional. Jika i ngin mengimbangi d engan keadaan sekarang ini, seharus nya sudah menerapkan perpustakaan hibrida. Saat ini perpustakaan sekolah masih sulit jika harus melakukan transformasi dari perpustakaan konvensional menjadi perpu st a kaan hibrida. Ha l ini d i sebabkan kare na ketidaksiapannya pada anaggaran dan Sumber Daya Ma nusia. Oleh karena itu , perlu ada cara l ain untuk mengatasi masalah ini yaitu adanya literasi informasi . Pustakawan sekolah harus mampu berpikir k reatif untuk m engembangkan perp us takaan, j ika pustak awa n pasif, perpustakaan akan sepi pengunjung. Siswa-sis wa sekarang ini kebanyakan memiliki smartphone sehingga ketika mereka ingin mencari informasi bisa langsung mencari di internet tanpa harus datang k e perpust a kaan . Selain itu juga s iswa-siswa sekarang in i sangat minim pengetahuan tentang sejarah Indonesia. Siswa banyak yang tidak mengenal sejarah, mereka justru mengenal budaya atau sejarah dari negara lain. Sungguh miris jika hal tersebut dibiarkan, k arena jasa-jas a para pahlawan y an g telah berjuang mati-matian melawan penjajah untuk membela bangsa Indonesi a tidak dihargai lagi. Kehidupan yang nyaman dan tentram terjadi setelah sang merah putih berkibar, dibalik itu semua ada para pahlawan yang berjuan g sekuat jiwan nya yang merasakan k esakitan dan kesengsar aan saat belum ada kesepakatan kata merdeka. Untuk it u ingatlah kata (Jasmerah) Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, kata tersebut merupakan semboyan yang diucapkan oleh Soekarno, dalam pidatonya . Permasalahan tersebut mirip de ng an penelitian terdahul u dari (Septiani & Marlini, 2012) mengatakan bahwa ditemukan siswa dalam mencari informasi hanya terpaku kepada layanan internet, karena mencari sumber informasi di Internet siswa leb ih dapat mempe roleh informasi d en gan cepat dibandingk an dengan membaca buku . Pustakawan hanya melakukan la yanan sirkulasi dan menjaga perpustakaan. sementara pustakawan tidak menambah pengetahuan mereka seperti pengetahuan tentang literasi informasi. Keter ampilan litera si informasi yang b erkembang pada saat ini memungkinkan semua siswa dapat memperoleh informa si yang tepat guna. Hasil yang di dapatkan dari penelitian terdahulu yaitu optimalisasi informasi di perpustakaan SMA N 1 Padang, ditemui siswa dan si swi SMA N 1 Pa dang telah memanf aa tkan teknologi infor masi dengan baik. Akan tetapi pustakawan SMA N 1 Pada ng belum mampu membantu siswa dalam mencari informasi yang tepat guna. Dari perbandingan penelitian ini dengan penelitian terdahulu terdapat pembaharu an yaitu pada penelitian ini pu st akawan mampu dalam m elakukan literasi informasi kepada para siswa, tindak an literasi informasi dilakukan dengan metode video , storytelling , membaca dan game . Penelitian ini memiliki t uj uan untuk mengetahui program literasi informasi ber tema sejarah di S D Nasima . Penggunaan p erpustakaan sekolah didasarkan karena masih ada keleb ihan yang tidak dimiliki oleh Google. Kelebihan tersebut yaitu menyediakan informasi yang benar. Mencari informasi di Google tidak selalu mendapatkan informasi yang benar, tetapi te rd apat juga sebuah inf ormasi yang salah atau hoax. Kelebihan itulah yang ma sih mampu d i jadikan senjata bagi pustakawan untuk menarik kembali pemustaka agar mau datang ke perpustakaan sekolah. Pemanfaatan perpu s takaan sekolah dapat dimaksi malkan dengan car a mengajarkan literasi informasi yang benar kepada siswa. Literasi informas i berguna untuk memberikan informasi yang mudah d i ingat sehingga informasi tidak akan mudah menghilang. Seperti pada kasus ini tentang banyaknya siswa-siswa yang te lah melupakan sej ar ah. Oleh karena itu, Perlu adanya peran pustakawan dalam mengenalkan seja rah lagi. Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk meneliti tentang Program Literasi Informasi Bertema Sejarah di SD Nasima . B. TINJAUA N PUSTAKA Lite rasi Informasi Is ti lah literasi informa si pertama kali diperkenalkan oleh Paul Zurkowski (Pr esiden Information Industry Association) pada tahun 1974 di Amerika Serikat dalam proposalnya kepada The National Commission on Libraries and Informat ion Science (N CLIS) . Penggunaan l iterasi informasi me nggambarkan teknik dan kemampuan, kemampuan dalam mem anfaatkan berbagai alat-alat informasi serta sumber informasi u ntuk menyelesaikan suatu masalah. L iterasi informasi merupakan kemampuan dalam menemuka n informasi ya ng dibutuhkan, me ng erti bagaimana perpu stakaan diorganisir, familiar dengan sumber daya yang tersedia (termasuk format informasi dan sarana penelusuran digital) pengetahuan dan teknik yang biasa digunakan dalam pencarian informasi (Pattah, 2014) . Literasi informasi sangat penting dimiliki oleh tiap orang dikarenakan semua info rmasi yang ada belum tentu relevan . Kemudahan dalam menyebarkan infor masi dengan bantuan teknologi menyebabkan ka ndungan inform asi tidak selalu ak urat . Menurut Sub arjo ( 2017) mengatakan seseorang yang memiliki literasi informasi maka seorang akan mampu m enyadari kebutuhan informasi , m enemukan dan mengevaluasi kualitas informasi yang didapatkan , m enyimpan dan mene m u kan kembali informasi , m embua t dan me nggunakan info rmasi secara etis dan efektif , dan m eng k omunikasikan pengetahuan . Oleh karena itu , dengan adanya literasi informasi akan memudahkan seseorang untuk belajar secara mandiri d imana pun berada dan mampu memil ah berbagai in formasi secara te pa t . S aat ini literasi informasi perlu dimiliki oleh masyarakat, karena informasi yang salah akan menyebabkan suatu permasalahan yang mampu menyebabkan pertengkaran dan fitnah. Literasi i nformasi wajib dilakukan karena memili ki banyak manf aat yaitu pertama m ampu memecahkan masal ah. Hal ini merupakan salah satu manfaat yang dapat diperoleh ketika pemustaka berhasil menerapkan literasi informasi dalam kehidupannya . Kedua , m ampu mengemukakan pendapat. Pada prinsipnya mengemukakan pendapat seca ra baik dan benar a dalah hasil dari pemb elajaran atau pengetahuan yang dapat diperoleh dengan menerapkan literasi informasi. Ketiga , m empelajari atau menemukan hal baru. Diharapkan setiap individu atau pe mustaka dapat berkembang dengan memili ki pengetahuan mengenai hal-hal y ang baru yang bermanf aat. Hal-hal baru itu tentunya diperoleh dengan menerapkan literasi informasi. Keempat , b ersifat kritis . Bersifat kritis artinya tidak dapat mempercayai hal-hal yan g tidak sesuai dengan keberadaan ilmu pengetahuan da n teknologi, sena nt iasa mencari kebenara n dan menghindari kesalahan. Seseorang yang memiliki literasi informasi akan mampu memilih informasi mana yang benar dan mana yang salah, sehingga tidak mudah saja percaya dengan informasi yang diperole h ( Iskandar , 20 16) . Model The Big 6 adalah model literasi informasi yang dikembangkan oleh Michael B. E i senberg dan Robert E Berkowitz pada tahun 1987. Model The Big6 ini merupakan model pemecahan ma salah informasi melalui pendekatan ter hadap perpusta kaan dan pengajar an berbagai keterampila n informasi. Model literasi ini telah banyak digunakan di seluruh dunia antara lain Amerika Serikat, Italia, Belanda, Afrika Selatan, Taiwan, Selandia Baru dan Indo nesia. Hal ini karena T he Big 6 mudah diterapkan pad a masyarakat (R ahayu , 2020) . Menurut A nanta ( 2019) mengatakan bahwa Model The Big 6 terdiri dari enam keterampilan dan dua belas langkah . K eterampilan pertama adalah task definition ( p erumusan m asalah ) . P ad a keterampila n ini l angkah yang d ilakukan adalah m erum uskan masalah informasi dan m engidentifikasikan kebutuhan informas i. K eterampilan kedua adalah information seeking strategies ( s trategi m encari i nformasi ) . P ada keterampila n ini l angkah yang dilakukan a dalah m enetapk an sumber se c ara in telektual dan fisik d an m emilih sumber terbaik . K eterampilan ke tiga adalah location and access ( l okasi dan a kses ) . P ada keterampila n ini l angkah yang dilakukan adalah m engalokasikan sumber-sumber (baik isi maupun fisik) , d an m enemukan i nformasi dalam su mb er tersebut . K eteramp ilan k e empat adalah use of information ( p emanfaatan in formasi ) . P ada keterampila n ini l angkah yang dilakukan adalah m embaca, mendengar, dan meraba ; serta m engekstra k si informasi yang relevan . K eterampil an kelima adal ah synthesis ( s in te sis ) . P ada keterampi la n ini l angkah yang dilakukan adalah m engorganisasi informasi dari berbagai sumber dan m e mpre sentasikan informasi tersebut . K eterampilan ke e nam adalah evaluation ( e valuasi ) . P ada keterampila n ini l angk ah yang dilaku kan adalah m engev al uasi hasil (efektivit as) dan m engevaluasi proses (efesien ) . Dengan mengikuti langkah-langkah tersebut membuat Model the big 6 ini sangat bagus digunakan dalam memecahkan masalah, pelaksanaan t ugas dan pengambilan keputusan. Perpustakaa n Sekolah Perpust ak aan sebagai salah sat u sarana pendidikan penunjang kegiatan belajar siswa yang memegang peranan yang sangat penting dalam memacu tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. Perp us tak a an sering d ikatakan sebagai gudangnya ilmu pengetahuan, bukan berarti di da lam perpustakaan ruan gannya kotor dan berdebu, melainkan di dalam perpustakaan terdapat bermacam - macam ilmu pengetahuan yang dapat d i manfaatkankan secara gratis dan di dalam perpustakaan rua ngannya bersih sehingga akan me mbuat rasa nya man bagi pemustak a. Adanya hubungan per pustakaan dengan sekolahan menjadikan sarana pendidikan sangat penting dilakukan di sekolah. Para siswa bisa mendapatkan banyak informasi secara gratis. Menurut Novriliam & Yunaldi ( 2012) , p erpustakaan sekolah merupakan bagian penting d ari program penyelenggaraan pen didikan tingka t sekolah yang me mi liki fungsi dan manfa at untuk mendukung pe n yelenggaraan perpustakaan sekolah. Selain itu , perpustakaan sekolah merupakan sumber informasi dalam pembelajaran bagi siswa untuk memberikan keteram pilan dan pengetahuan yang ses uai dengan kuri kulum belajar. P e rp ustakaan sekolah berg una untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi pemustaka di lingkungan sekolah, khususnya para guru dan murid. Peran sebuah perpustakaan sekolah juga bisa sebagai media dan s arana untuk menunjang kegiatan proses belajar mengajar di ting ka t sekolah. Pada perp ustakan sangat diperlukan sebuah layanan, tujuan n ya agar bahan-bahan pustaka dapat dimanfaatkan dan dapat diberdayagunakan dengan optimal oleh para pemakai perpustakaan, s ehingga perpustakaan dapat menj alankan seluru h fungsi-fungsiny a dengan baik. Pelayana n tersebut sangat dibutuhkan, karena tanpa adanya pelayanan, perpustakaan sekolah tidak akan berjalan. Pemakai pelayanan perpustakaan sekolah tidak membeda ka n golongan, se mua berhak memakainya seperti s iswa, guru dan kepala sekolah. Ad anya pemberian pelaya nan perpustakaan kepada pemakai tidak bertujuan untuk mencari untung, melainkan menjadikan pemakai merasa nyaman dan terpenuhi kebutuhan informasi pemakai. Pelayanan perpu stakaan sekolah dapat d i kategor ikan menjadi d ua macam yaitu pe la yanan sirkulasi dan p elayanan refer ensi. Pelayanan sirkulasi adalah kegiatan p encatatan dalam pemanfaatan dan penggunaan koleksi dengan tepat guna da n tepat waktu untuk kepentingan pengguna (Bororing, 2016) . P elayanan r eferensi adala h salah satu kegi at an pokok yang dilakuk an di perpustakaan, yang khusus melayani atau menyajikan koleksi referensi kepada para pemakai perpustakaan (Kalsum, 2016) . Layanan ini bersifat pribadi jadi informasi yang ada pada layanan referensi hanya terbatas, seperti untuk mencari literatur khusus, kepentingan studi khusus, riset, dan lain - lain. Kole ksi yang ada p ada layanan refer en si berbeda dengan lay anan sirkulasi, jika pada layanan sirkulasi koleksi bisa d i pinjam namun pada layanan referensi tidak bisa dipinjam. Arsitektur Informasi Informasi dapat dipahami dengan mudah jika memiliki alur yang be nar. Cara untu k bisa mengkemas in formasi agar terlihat bagus dan mudah dipahami yaitu dengan menggunakan arsitektur informasi. Arsitekur Informasi adalah seni menggambarkan suatu model atau konsep informasi yang digunakan dalam a ktiviatas-aktivitas yang me mbutuhkan deta il eksplisit dari s uatu sistem yang komp leks. Fungsi arsitektur informasi untuk m emudahkan para pencari informasi dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan dengan cepat (Kurniasih, 2016) . Penelitian terdahulu yang telah peneliti temukan berasal dari Septian i dan Marlini pada tahun 2012 berjud ul Optimalisasi Penerap an Literasi Informasi di Perpustakaan SMA Negeri 1 Padang . Penelitian tersebut memiliki kemiripan pada penelitian ini dikarenakan sama-sama menggunakan l iterasi informasi . Perbedaan penelitian ini terja di dikarenakan penelitian terda hu lu tidak menggunakan model the big 6. Hasil penelitian terdahulu yaitu Perpustakaan SMA N 1 Padang seharusnya memiliki pustakawan yang memiliki pengetahuan yang luas mengena i literasi informasi, literasi informasi ini bergu na untuk memba ntu siswa untuk m ey elesaikan proses bela jar di kelas. Perpustakaan SMA N 1 Padang harus menerapkan literasi informasi di Perpustakaa nnya , sehingga kebutuhan informasi siswa dapat terpe nuhi dengan baik. Tetapi untuk penelitian ini hasi lnya akan berkaitan de ngan ting ka t pemahaman para sisw a dalam menggunakan literasi informasi yang didesain dengan arsitektur informasi bernuansa sejarah.

Method

Penelitian ini menggunakan metod e penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitat if. Menurut Pratiwi ( 2017) penelitian k ualitatif adalah metod e penelit ia n yang berlandaskan p ada filsafat postpostivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebag ai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilaku kan secara triangulasi (gabunga n) , analisis data bersi fat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian lebih menekankan makna gene ralisasi . Subjek penelitian adalah siswa SD Nasima Semarang kelas 2 yang mendap atkan informasi dari buku, video , game dan storyte lling dan pustakawan S D Nasima. T eknik sampling yang d igunakan yaitu non probability sampling dengan tujuan tidak memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi. Kemudian sampel d i spesifik asik an lagi dengan menggun a kan purposive sampling sehingg a sampel diambil atas dasar ada ny a pertimbangan terten tu. Penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari observasi dan wawancara . T in dakan observasi yang dilakukan peneliti yaitu deng an mengamati cara sisw a dalam m el akukan literasi infor masi dengan menggunakan model The Big 6. Sedang kan wawancara dilakukan dengan berkomunikasi dengan pustakawan sampai menemukan jawaban jenuh. Dat a sekun der diperoleh dari studi kepustakaan terutama mela l ui buku, artikel, dan hasi l - ha si l penelitian terdahul u. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah model (Miles , Huberman , & Saldana, 2014) mel iputi reduksi data, pe nyajian d at a, dan penarikan kesi mpulan. Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstraka n, transformasi data kasar yang mun cul dari catatan-catatan lapangan . Setelah data di reduksi, lang kah analisis selanjutn ya adalah p enyajian data. Penyaj ian data merupaka n sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungki nan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan . Terakhir dilakukan penarikan kesimpulan atau verifikasi adalah us aha untuk mencari at au memaha mi makna/arti, keteratu ran, pola-pola, pe njelasan, alur sebab akibat atau proposisi. Setelah selesai melakukan analisis maka perlu dilakukan keabsahan data, denga n menggunakan teknik triangulasi. Teknik Triangulasi bertujuan untuk memeriksa keabsa han data ya ng memanfaatkan sesua tu yang lain .

Result & Discussion

Pada penelitian ini menghasilkan tentang cara mengatasi permasalahan dari menurunnya pengetahuan tentang sejarah Indonesia yang dimiliki para siswa. Siswa malas untuk datang ke perpustakaan sekolah karena sudah ada internet. Mereka lebih asik mencari informasi melalui internet. Padahal banyak terdapat informasi hoaks. Informasi tersebut yang nantinya akan menggiring para siswa untuk mempercayai informasi secara mentah-mentah. Salah satu dampak dari internet membuat pihak luar negeri mampu mempengaruhi para siswa untuk menyukai dan menerapkan kebudayaan dari negerinya. Memang tidak sepenuhnya salah pihak luar negeri mengenalkan kebudayaan atau sejarah negaranya ke masyarakat Indonesia.Adanya permasalahan tersebut membuat Perpustakaan SD Nasima melakukan sebuah inovasi tentang program yang akan dijalankan. Program tersebut berkaitan dengan penerapan literasi informasi bagi siswa. Literasi informasi yang dijalankan yaitu dengan menciptakan arsitektur informasi pada perpustakaan yang bernuansa sejarah. Bentuk arsitektur informasi yang digunakan yaitu arsitektur eksplisit, sehingga nanti sistem susunan informasi yang disediakan di perpustakaan dengan mengelompokkan informasi kunci. Seperti pada Perpustakaan SD Nasima membagi menjadi beberapa kata kunci yaitu kisah asal-usul, dan lokasi kejadian. Pemilihan tema sejarah yang digunakan perpustakaan SD Nasima berdasarkan dengan hari besar nasional pada kalender Indonesia. Berikut pembagian tema yang diambil dalam tiap bulannya, yaitu:Tabel 1. Susunan Tema SejarahNoBulanTema1JanuariHari Tritura2FebruariHari Peringatan Pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA)3MaretHari Peringatan Bandung Lautan Api4AprilHari Kartini5MeiHari Kebangkitan Nasional6JuniHari Lahir Pancasila7JuliHari Lahir Korps Pelajar Islam Indonesia (PII)8AgustusHari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia9SeptemberHari Peringatan Gerakan 30 September 196510OktoberHari Sumpah Pemuda11NovemberHari Pahlawan12DesemberHari Bela NegaraSumber: Data hasil penelitian, 2019Dari pemilihan tema tersebut diharapkan para siswa mampu mengingat sejarah Indonesia. Para siswa mampu mengetahui kisah perjuangan para pahlawan yang rela berkorban untuk membela negeri Indonesia dari para penjajah. Serta para siswa melakukan pencarian informasi di perpustakaan. Berdasarkan dari hasil wawancara dengan Informan yaitu:“Perpustakaan SD Nasima memiliki alasan untuk menerapkan desain perpustakaan dengan tema yang berbeda-beda dikarenakan Perpustakaan SD Nasima ingin menciptakan suasana baru yang menarik bagi para siswa, serta dapat sekaligus memberikan pengetahuan tentang sejarah Indonesia yang sekarang ini sudah mulai dilupakan oleh para siswa (Vitalita, Wawancara, Oktober 10, 2019)."Berdasarkan dari hasil pantauan siswa SD Nasima, mereka lebih tertarik dengan kebudayaan atau sejarah dari Negara Korea. Saat para siswa ditanya tentang sejarah Indonesia, mereka hanya tahu sekedar nama tokoh pahlawan saja, tanpa mengetahui secara jelas kisah dari lahir sampai mati dari tokoh pahlawan tersebut. Munculnya ide tentang program tersebut berdasarkan penjelasan pustakawan terdapat tiga faktor yang membuat terciptanya ide tersebut diantaranya pertama, mengenai rendahnya kemampuan siswa dalam memilah informasi yang benar dan yang salah. Mereka cenderung langsung percaya saja akan informasi yang pertama kali mereka baca. Padahal informasi tersebut tidak selalu salah, namun perlu dilakukan pemeriksaan atas isi informasi tersebut. Kedua, semakin rendahnya pengetahuan tentang Sejarah Indonesia. Ketiga, sepinya perpustakaan dikarenakan dampak dari internet yang memanjakan para siswa dalam mencari informasi sehingga mereka melupakan perpustakaan. Oleh karena itu, perpustakaan perlu adanya inovasi baru.Pustakawan dalam mendesain membutuhkan waktu yang cukup lama, karena ruangan perpustakaan didesain semenarik mungkin. Dinding perpustakaan dihiasi dengan gambar atau pernak-pernik yang berhubungan dengan temanya. Buku yang sesuai dengan tema, diatur di rak display dengan diisi buku cerita sejarah yang sesuai tema, dinding-dinding diberi hiasan gambar berupa tokoh, dan diberi tulisan yang berkaitan dengan tema sejarah, tujuannya agar ketika siswa masuk ke perpustakaan langsung bisa merasakan nuansa sejarahnya. Pustakawan menyediakan video yang bercerita tentang tema yang sedang berlangsung. Pustakawan membuat skenario cerita storytelling untuk diceritakan ke para siswa, serta menyiapkan juga alat peraganya. Pustakawan membuat peralatan game edukasi yang akan dimainkan di perpustakaan. Terakhir untuk melengkapi nuansa sejarah di perpustakaan, pustakawan memakai baju pahlawan.Biaya dalam mendesain perpustakaan sesuai tema membutuhkan uang tidak terlalu banyak. Uang yang digunakan bisa diambil dari uang denda siswa. Bahan yang digunakan untuk menghias ruangan hanya membutuhkan seperti kertas manila, bendera, sedotan, balon, tali dan lain sebagainya. Peralatan yang digunakan sudah tersedia di perpustakaan seperti gunting, lem, penggaris dan lain sebagainya. Perpustakaan SD Nasima dalam mengatasi permasalahan tersebut membuat program kegiatan yang dilakukan dalam satu bulan, yaitu: Minggu pertama siswa diberi informasi tentang sejarah dengan cara membaca buku, Minggu kedua siswa diberi informasi tentang sejarah dengan cara menonton video, Minggu ketiga siswa diberi informasi tentang sejarah dengan cara storytelling, dan Minggu keempat siswa diberi informasi tentang sejarah dengan cara game edukasi yang dipandu pustakawan.Dalam satu bulan, siswa akan selalu dibimbing oleh pustakawan untuk menjalankan program tersebut. Saat menjalankan kegiatan tiap minggunya, siswa akan diajarkan literasi informasi dengan menggunakan metode The Big 6. Berdasarkan hasil analisis di Perpustakaan SD Nasima saat menggunakan tema Kartini diketahui bahwa pada minggu pertama, pada tahap task definition, yaitu pustakawan memberi tugas kepada siswa untuk mencari tahu tentang sejarah Kartini. Pada tahap information seeking strategies, yaitu para siswa diarahkan untuk memanfaatkan buku perpustakaan dalam mencari sejarah tentang Kartini. Pada tahap location and access, yaitu pustakawan menyediakan perpustakaan sebagai tempat lokasi dan sebagai sarana untuk mencari informasi tentang sejarah Kartini. Pada tahap use of information, yaitu para siswa diharapkan mampu membaca secara konsentrasi, agar apa yang dibaca mampu dipahami dan diingat. Pada tahap synthesis, yaitu informasi yang didapatkan dari berbagai buku yang dibaca, diminta untuk menggabungkannya, dan setelah itu siswa diminta untuk mempresentasikannya. Pada tahap evaluation, yaitu siswa melakukan evaluasi dari apa yang sudah dilakukan.Gambar 1. Membaca bukuSumber: Dokumentasi penelitian, 2019Pada minggu kedua, tahap task definition dilakukan oleh Pustakawan dengan cara memberi tugas kepada siswa untuk mencari tahu tentang sejarah Kartini. Pada tahap information seeking strategies, yaitu para siswa diarahkan untuk menonton video dalam mencari sejarah tentang Kartini. Pada tahap location and access, yaitu pustakawan menyediakan peralatan seperti monitor atau LCD, proyektor, laptop atau komputer, dan sound di perpustakaan sebagai tempat lokasi dan sebagai sarana untuk mencari informasi tentang sejarah Kartini bagi para siswa. Pada tahap use of information, yaitu para siswa diharapkan mampu menonton secara konsentrasi, agar apa yang ditonton mampu dipahami dan diingat. Pada tahap synthesis, yaitu informasi yang didapatkan dari berbagai video yang ditonton, diminta untuk meringkasnya, dan setelah itu siswa diminta untuk mempresentasikannya. Pada tahap evaluation, yaitu siswa melakukan evaluasi dari apa yang sudah dilakukan.Gambar 2. Menonton videoSumber: Dokumentasi penelitian, 2019Pada minggu ketiga, pelaksanaan tahap task definition yang dilakukan pustakawan adalah memberi tugas kepada siswa untuk mencari tahu tentang sejarah Kartini. Pada tahap information seeking strategies, yaitu para siswa diarahkan untuk menyimak storytelling yang diberikan oleh Pustakawan untuk mendapatkan informasi tentang sejarah Kartini. Pada tahap location and access, yaitu pustakawan menyediakan perpustakaan sebagai tempat lokasi berkumpulnya siswa dalam mencari informasi tentang Sejarah Kartini dengan cara menyimak storytelling. Pada tahap use of information, yaitu para siswa diharapkan mampu menyimak secara konsentrasi, agar apa yang disimak mampu dipahami dan diingat. Pada tahap synthesis, yaitu informasi yang didapatkan dari menyimak storytelling, diminta untuk merangkumnya, dan setelah itu siswa diminta untuk mempresentasikannya. Pada tahap evaluation, yaitu siswa melakukan evaluasi dari apa yang sudah dilakukan.Gambar 3. Mendengarkan StorytellingSumber: Dokumentasi penelitian, 2019Pada Minggu keempat, pelaksanaan task definition dengan cara pemberian tugas kepada siswa untuk mencari tahu tentang sejarah Kartini oleh pustakawan. Pada tahap information seeking strategies, yaitu para siswa diarahkan untuk memanfaatkan game edukasi dalam mencari sejarah tentang Kartini. Pada tahap location and access, yaitu pustakawan menyediakan perpustakaan sebagai tempat lokasi bermain siswa yang mendidik karena tujuannya untuk mencari informasi tentang Sejarah Kartini. Pada tahap use of information, yaitu para siswa diharapkan mampu bermain dengan baik tanpa curang, agar apa yang dimainkan mampu dipahami dan diingat nilai informasi yang terkandung pada permainan tersebut. Pada tahap synthesis, yaitu informasi yang didapatkan dari game edukasi, diminta untuk merangkumnya, dan setelah itu siswa diminta untuk mempresentasikannya. Pada tahap evaluation, yaitu siswa melakukan evaluasi dari apa yang sudah dilakukan.Gambar 4. Bermain GameSumber: Dokumentasi penelitian, 2019Hasil dari tiap minggunya, tentu akan menunjukkan perbedaan tingkat pemahaman siswa dalam mendapatkan informasi sejarah Kartini. Ada yang menghasilkan pemahaman yang tinggi dan ada juga yang rendah. Berikut hasil wawancara yang dilakukan dengan Pustakawan SD Nasima pada tanggal 10 Oktober 2019, jam 10.00, tentang hasil saat menggunakan tema Kartini. Pustakawan SD Nasima melakukan kegiatan tersebut dengan menggunakan metode Model The Big 6.Hasil yang didapatkan dengan metode Model The Big 6 pada tahap task definition, yaitu pustakawan memberi tugas kepada siswa untuk mencari tahu tentang sejarah. Pada tahap information seeking strategies, yaitu siswa menentukan sumber apa yang akan dipakai seperti buku, majalah, audio, video dan lain-lain. Pada tahap location and access siswa mengunjungi perpustakaan. Pada tahap use of information siswa diminta membaca, mendengarkan dan menonton. Pada tahap synthesis siswa menggabungkan informasi dari berbagai sumber, dan diminta untuk mempresentasikan dari hasil informasi yang didapatkan. Pada tahap evaluation, yaitu siswa mengevaluasi dari apa yang sudah dilakukan.Dari hasil metode Model The Big 6 dapat diketahui bahwa penggunaan metode video merupakan metode yang paling banyak disukai para siswa, sehingga siswa mudah memahami informasi. Metode storytelling merupakan metode kedua yang paling disukai para siswa, dan metode membaca merupakan metode ketiga yang disukai para siswa. Adapun metode game merupakan urutan terakhir metode yang disukai para siswa. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa melalui metode video dan storytelling menjadikan siswa lebih aktif untuk bertanya. Namun, ketika menggunakan metode membaca ternyata siswa lebih sulit untuk diatur dan diarahkan dalam mengikuti kegiatan. Hal yang sama juga terjadi ketika menerapkan metode game edukasi menjadikan siswa banyak yang berbicara sendiri atau mengobrol dengan teman-temannya.Secara keseluruhan penerapan program literasi informasi melalui arsitektur informasi pada perpustakaan yang bernuansa sejarah ternyata mampu membuat siswa banyak yang tertarik datang ke perpustakaan. Para siswa datang untuk mencari tahu informasi seputar sejarah Indonesia secara mendalam, sehingga tingkat peminjaman buku meningkat. Arsitektur informasi yang dikemas secara baik, membuat siswa penasaran untuk ingin membaca alur cerita sejarah secara jelas, sehingga membuat siswa mengalami peningkatan dalam minat baca. Pustakawan dalam membuat program ini tidak merasa susah, karena pustakawan tidak bekerja sendiri. Dari awal pembuatan, menyiapkan peralatan sampai selesai banyak teman-teman guru atau siswa yang mau membantu dalam membuat program tersebut.

Conclusion

Penerapan program literasi informasi Model The Big 6 sukses dilaksanakan di Perpustakaan SD Nasima. Program ini dikemas menarik melalui dekor perpustakaan sehingga tercipta arsitektur informasi yang bernuansa sejarah. Dalam pelaksanaan program literasi informasi Model The Big 6 dimulai pada tahap task definition, yaitu pustakawan memberi tugas kepada siswa untuk mencari tahu tentang sejarah Kartini. Tahap kedua adalah information seeking strategies dengan mengarahkan pada siswa untuk mengikuti kegiatan pemutaran video, storytelling, membaca buku dan game edukasi dalam mereka mencari sejarah tentang Kartini. Tahap ketiga, yaitu location and access. Pada tahap ini pustakawan menyediakan perpustakaan sebagai tempat lokasi bermain yang mendidik sehingga siswa menggunakan perpustakaan untuk memahami sejarah Kartini. Tahap keempat yaitu use of information. Pada tahap ini para siswa dilatih untuk dapat mengikuti kegiatan dengan baik, sehingga informasi yang disampaikan pada kegiatan mampu dipahami dan diingat. Tahap kelima, yaitu synthesis. Pada tahap ini para siswa diminta untuk merangkum dan mempresentasikan informasi yang diperoleh dari berbagai kegiatan yang diikuti. Tahap terakhir adalah evaluation. Pada tahap ini pustakawan dan siswa bersama-sama melakukan evaluasi dari berbagai tugas dan kegiatan yang sudah dilakukan. Berdasarkan evaluasi ini kemudian diketahui bahwa kegiatan menonton video paling efektif dalam memberikan pemahaman kepada siswa mengenai sejarah Kartini dibandingkan dengan kegiatan storytelling, membaca buku dan game edukasi.