PERAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI SARANA PENGEMBANGAN BUDAYA LITERASI PADA SISWA SMAN 2 KOTA CIREBON
Universitas Padjadjaran
Abstract
With the rapid changes in technology, the world’s needs for generational growth are getting increasingly intense. A superior generation necessitates a competent level of education accompanied by improved literacy skills. Schools, as educational institutions, should encourage their pupils to develop a literacy culture. The school library, as an information shelter institution in schools, should also contribute to the development of a literacy culture by providing multiple access points that children may easily ac cess. As a result, this study was conducted to determine the role of the school library at SMAN 2 Cirebon in the development of a literacy culture among students. The research method used in the study is a descriptive qualitative method combining an interview and direct observation research method. The information obtained will be supported by research in the form of library research, which will use relevant library data to identify and describe in detail service activities at SMAN 2 Cirebon’s school library and the literacy program that has been implemented. According to the results of this study, the school library at SMAN 2 Cirebon has contributed in the development of a literacy culture among students. The literacy program that has been implemented in the school environment had a positive impact on students and encouraged them to read. The literacy program implemented by the school is deemed to be more effective because of the availability of quality services supplied by the school library. However, it is very unfortunate that the library has not digitized the library.
Keywords:
School Library
· Library Services
· Literacy
Introduction
Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman terhadap era digital maka kebutuhan manusia akan informasi pun semakin gencar. Dunia semakin menuntut generasinya untuk mampu dalam mengatasi berbagai permasalahan kedepannya dengan berpikir secara kritis, inovatif dalam menyelesaikan masalah, serta kreativitas yang menjadi salah satu ciri sumber daya manusia yang unggul dan anak bangsa yang cerdas. Kualitas sumber daya manusia yang unggul dapat ditunjang dengan pelaksanaan pendidikan yang layak serta berkualitas. Pelaksanaan pendidikan yang selama ini telah dijalankan di Indonesia belum membawa pengaruh yang begitu signifikan pada pola pikir individu masyarakatnya. Dalam rangka mewujudkan kecerdasan anak bangsa, taraf pendidikan harus disertai dengan masyarakatnya yang memiliki kemampuan serta literasi maupun minat baca yang tinggi sebagai fondasi. Indonesia memiliki tingkat kesadaran literasi yang cukup rendah sehingga sangat memungkinkan terjadinya hambatan dalam kemajuan bangsa di era digital ini. Oleh karena itu, penanaman literasi pada siswa dapat menjadi urgensi bangsa. Sekolah merupakan institusi pembelajaran serta tempat dimana seorang anak dapat memperoleh ilmu. Dalam sekolah ini lah tempat yang tepat untuk meningkatkan kemampuan literasi dan minat baca seorang anak. Literasi pada siswa sangat dipengaruhi oleh peran perpustakaan yang ada pada tingkat sekolah. Apabila dalam satuan pendidikan terutama sekolah tidak terdapat perpustakaan maka proses pembelajaran di sekolah pun tidak akan berjalan dengan efektif dan siswa tidak dapat mengenyam pendidikan dengan maksimal karena baik siswa dan gurunya tidak dapat memiliki kemudahan akses dalam menjangkau sumber bahan ajar. Begitu lah gambaran mengenai betapa pentingnya kehadiran perpustakaan dalam menunjang kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan sekolah. Perpustakaan sekolah memiliki fungsi penting dalam menjadi sarana sumber informasi yang sangat dibutuhkan oleh siswa. Dengan mengembangkan perpustakaan sekolah akan menjadikan fondasi yang kuat bagi tingkat literasi siswa sehingga berpengaruh juga pada kualitas sumber daya manusia yang mumpuni untuk memajukan bangsa dan negara. Perpustakaan sekolah secara langsung maupun tidak langsung dapat menjadi tempat dimana budaya literasi berkembang pada diri siswa. Ketika siswa telah menanamkan budaya literasi pada dirinya maka sumber daya manusia yang unggul pun akan tercipta kedepannya dan mampu juga dalam melakukan pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) Namun, budaya literasi pada siswa yang terwujud melalui peran perpustakaan sekolah ini hanya akan tercipta bila perpustakaan sekolah dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan maksimal. Keberfungsian peran perpustakaan sekolah dapat ditinjau berdasarkan layanan yang terdapat pada perpustakaan sekolah tersebut. Selain layanan, kondisi infrastruktur dan koleksi, kesesuaian koleksi, serta kemudahan akses dalam menjangkau koleksi juga dapat menjadi tinjauan dalam keberfungsian peran perpustakaan sekolah. Oleh karena itu peran perpustakaan sekolah hendaknya dijunjung tinggi guna menciptakan keberhasilan dalam melaksanakan program literasi di sekolah. Program literasi pada sekolah dilaksanakan agar siswa dapat terpengaruh dengan budaya membaca yang positif sehingga lebih mudah untuk dapat berpikir secara kritis dalam menyaring sumber informasi yang akurat dan menciptakan generasi bangsa yang cerdas dan unggul. Bertolak pada hal tersebut bahwa perpustakaan sekolah memiliki peranan penting dalam mewujudkan generasi bangsa yang unggul melalui pengembangan budaya literasi pada siswa di sekolah, dilihat cukup menarik untuk dikaji. Di wilayah Kota Cirebon tepatnya pada SMAN 2 Cirebon, program literasi pada siswa telah diterapkan melalui berbagai macam program serta terdapat keterlibatannya juga dengan peranan dan layanan pada perpustakaan sekolahnya. Hal ini membuat penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut terkait peranan yang perpustakaan sekolah lakukan dalam rangka ikut serta mengembangkan budaya literasi pada siswanya. Menilik dari beberapa fenomena yang telah disebutkan sebelumnya, rupanya sudah ada beberapa kajian literatur serupa yang memiliki pembahasan berkaitan dengan hal tersebut. Kajian literatur pada umumnya digunakan dalam penelitian sebagai landasan teoritis yang akan berguna sebagai sumber hipotesis. Wujud dari kajian literatur dapat berupa penelitian yang telah dilaksanakan oleh peneliti lain pada waktu tertentu dan area penelitian tertentu. Hasil penelitian tersebut tentunya dapat memiliki hubungan yang berkesinambungan dengan penelitian lainnya yang akan dapat menjawab dan menyelesaikan permasalahan yang akan dikaji oleh Penelitian sebelumnya yang telah dilaksanakan oleh Sri Agustin dan Bambang Eko Hari Cahyono pada tahun 2017 dengan judul Gerakan Literasi Sekolah untuk Meningkatkan Budaya Baca di SMA Negeri 1 Geger. Peneliti menganalisis mengenai deskripsi dari implementasi gerakan literasi sekolah yang dilaksanakan SMA Negeri 1 Geger dalam meningkatkan minat budaya baca pada siswanya. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung, wawancara, dan analisis dokumen. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dengan dilaksanakannya gerakan literasi sekolah ini dapat membantu menciptakan budaya membaca pada siswa dan juga dengan diadakannya program ini dapat menunjang program-program lainnya dalam mengembangkan sekolah. Dalam pelaksana an gerakan literasi ini di setiap kelas disediakan buku jurnal baca yang dapat memantau perkembangan budaya literasi pada siswa. Dapat diketahui bahwa budaya baca pada siswa sudah mulai nampak tetapi belum secara menyeluruh. Peneliti juga menemukan bahwa terdapat kendala dalam pelaksanaan program gerakan literasi sekolah yaitu kurangnya kesadaran akan pentingnya dilaksanakan gerakan literasi pada sekolah ini, para peserta didik yang mempunyai latar belakang sosial dan budaya yang heterogen, dan perpustakaan sekolah yang belum menyediakan koleksi bahan bacaan yang variatif. Penelitian terdahulu lainnya juga telah dilaksanakan oleh Komang Indra Kurniawan, Sang Ayu Putu Sriasih, dan I Gede Nurjaya pada tahun 2017 dengan judul Implementasi Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMA Negeri 1 Singaraja. Berbeda dengan penelitian sebelumnya penelitian ini bukan hanya melakukan analisis terhadap pelaksanaan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program tersebut saja tetapi juga mendeskripsikan manfaat yang ditimbulkan dari pelaksanaan program tersebut. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan data yang dikumpulkan melalui observasi dan wawancara Hasil penelitiannya menemukan bahwa dalam pelaksanaan program pengembangan literasi di sekolah, SMA Negeri 1 Singaraja telah dapat mencapai 20 indikator kinerja pencapaian dari 26 indikator yang ada. Selain itu adapun kendala yang dihadapi dalam proses berlangsungnya kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) diantaranya keluhan dari berbagai pihak mengenai tersitanya jam pembelajaran dan jam masuk serta pulang sekolah yang disebabkan oleh kegiatan literasi yang diadakan. Namun, dibalik kendala yang dihadapi ternyata terdapat juga manfaat yang dialami dari program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) antara lain siswa menjadi semakin aktif dalam menciptakan karya tulis serta kebiasaan membaca yang mulai tumbuh pada diri siswa pun sudah semakin terlihat. Tentunya telah banyak pula penelitian yang mengkaji terkait program literasi yang dilaksanakan oleh sekolah. Namun, pastinya setiap penelitian yang telah dilaksanakan sebelumnya memiliki fokus, tujuan, pola pikir, manfaat, serta gagasan yang beragam. Baik dari data yang diambil sebagai objek penelitian, model penelitian yang digunakan, hambatan yang dihadapi, permasalahan yang akan ditangani, hingga pihak-pihak yang terlibat pun pasti akan terdapat berbagai perbedaan. Berbeda dengan penelitian terdahulunya yang telah disebutkan, dalam penelitian ini penulis lebih memfokuskan penelitian terhadap peran dari perpustakaan sekolah itu sendiri baik dari layanan dan lainnya dalam ikut serta melaksanakan pengembangan budaya literasi pada siswa di SMAN 2 Cirebon. Penulis juga akan mengkaji lebih lanjut terkait layanan yang terdapat pada perpustakaan sekolah tersebut juga kondisi akses serta infrastruktur pada perpustakaan sekolah yang dapat membantu berjalannya program literasi sekolah dengan baik. Berdasarkan penjabaran sebelumnya, adapun beberapa permasalahan penelitian yang hendak dibahas penulis agar mendapatkan gambaran yang jelas serta komprehensif yang dirumuskan sebagai berikut: (1) Bagaimana kondisi infrastruktur, kesesuaian koleksi, serta kemudahan akses dalam menjangkau koleksi pada perpustakaan sekolah di SMAN 2 Cirebon? (2) Bagaimana layanan pada perpustakaan sekolah di SMAN 2 Cirebon? (3) Program literasi apa saja yang telah dilaksanakan oleh SMAN 2 Cirebon? (4) Bagaimana peran perpustakaan sekolah dalam menunjang program literasi yang dilaksanakan pada SMAN 2 Cirebon? Selain itu, ada juga tujuan pembahasan dalam penulisan ini berdasarkan permasalahan yang telah dijabarkan sebelumnya dirincikan sebagai berikut: (1) Untuk mengetahui kondisi infrastruktur, kesesuaian koleksi, serta kemudahan akses dalam menjangkau koleksi pada perpustakaan sekolah di SMAN 2 Cirebon (2) Untuk mengetahui deskripsi mengenai layanan yang terdapat pada perpustakaan sekolah di SMAN 2 Cirebon (3) Untuk mengetahui program literasi yang telah dilaksanakan oleh SMAN 2 Cirebon (4) Untuk mengetahui peran perpustakaan sekolah dalam menunjang program literasi yang dilaksanakan pada SMAN 2 Cirebon
Method
Metode penelitian yang digunakan penulis dalam penulisan artikel ilmiah kali ini berupa metode penelitian kualitatif deskriptif serta pendekatan melalui riset berupa studi kepustakaan (library research) yang menggunakan data pustaka sebagai sumber-sumber data yang akan ditelitinya. Menurut Danandjaja (2014) menyatakan bahwa metode penelitian kepustakaan merupakan suatu metode dalam penelitian data terkait dengan bahan bibliografi serta keterkaitannya dengan sasaran penelitian dan juga pengorganisasian sampai penyajian data. Metode penelitian kualitatif deskriptif digunakan dengan tujuan agar penulis dapat mendeskripsikan gambaran dari variabel fakta dan situasi sosial yang dikaji oleh penulis. Subjek dalam penelitian ini ialah kepala perpustakaan sekolah SMAN 2 Cirebon serta beberapa siswa yang mengenyam pendidikan di SMAN 2 Cirebon, sementara objek dalam penelitian ini secara umum berupa ragam kegiatan layanan dan kondisi akses yang terdapat pada perpustakaan sekolah dalam menunjang pengembangan program budaya literasi yang diterapkan sekolah pada siswa di SMAN 2 Cirebon. Metode pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam menjawab rumusan masalah penelitian dengan menggunakan pendekatan riset metode wawancara dan observasi langsung. Penelitian yang dilaksanakan bersumber dari data primer dan juga data sekunder karena penelitian ini juga menggunakan studi literatur. Data primer yang digunakan berasal dari pengamatan yang dilakukan secara langsung oleh penulis sementara data sekunder yang digunakan berupa bahan pustaka yang dapat digunakan sebagai sumber data dalam penelitian yang bisa didapat melalui buku, jurnal, dan juga sumber pustaka lainnya yang terdapat korelasi terhadap permasalahan yang dibahas. Data sekunder sendiri merupakan data yang tidak diperoleh secara langsung dari sumber autentiknya melainkan, data ini diperoleh melalui perantara atau secara tidak langsung dari sumber autentiknya. Fokus permasalahan penelitian dalam artikel ilmiah ini meninjau terhadap peranan dari perpustakaan terhadap pengembangan budaya literasi pada siswa di SMAN 2 Cirebon. Analisis yang dilakukan menggunakan data yang telah didapat dan dipadukan dengan data pustaka yang akan diambil dari sumber kredibel yang selaras sehingga dapat menjawab rumusan permasalahan penelitian yang telah disusun sebagaimana sebelumnya telah dicantumkan. Data yang telah didapatkan oleh penulis akan dicatat, dianalisis dan diobservasi dengan seksama dan dikembangkan menjadi hasil penelitian yang berkesinambungan menjadi suatu kesatuan informasi yang akan bermanfaat. Data yang telah diobservasi ini akan dideskripsikan secara detail dengan menjelaskan hasil analisis secara terperinci dan detail agar mendapatkan relevansi yang diharapkan dalam tujuan penulisan artikel ilmiah ini. Penulis juga akan melakukan interpretasi terhadap data yang didapat dari hasil observasi dengan detail terkait layanan yang telah dilakukan perpustakaan sekolah dalam menunjang keberlangsungan program literasi sekolah. Terakhir, penulis menarik kesimpulan terhadap seluruh pembahasan penelitian sembari memberikan saran yang berguna untuk keberlangsungan layanan perpustakaan di masa yang akan datang. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan terhadap perpustakaan di SMAN 2 Cirebon dan peranannya dalam pengembangan budaya literasi di lingkungan sekolah dapat dijabarkan hasilnya meliputi; kondisi infrastruktur, kesesuaian koleksi, serta kemudahan akses dalam menjangkau koleksi pada perpustakaan sekolah; kegiatan layanan yang dilakukan oleh perpustakaan sekolah; program literasi yang dilaksanakan oleh sekolah; peran perpustakaan sekolah dalam menunjang program literasi yang dilaksanakan; serta kendala yang dihadapi.
Discussion
Kondisi Infrastruktur Perpustakaan Menurut Rahadian, Rohanda, & Anwar (2014), ada beberapa hal mengenai perpustakaan yang dapat memberikan pengaruh terhadap peningkatan budaya literasi pada siswa diantaranya ialah tata ruang dan kondisi infrastruktur perpustakaan, ketersediaan koleksi yang lengkap, manajemen layanan pada perpustakaan, sumber daya pustakawan yang mengelola perpustakaan. Pada perpustakaan sekolah di SMAN 2 Cirebon kondisi infrastruktur gedung perpustakaan sudah cukup luas dan terletak di tempat yang cukup strategis, terlihat dengan jelas, dan dapat dikatakan berada di tengah-tengah sekolah bukan di tempat yang tidak terlihat oleh banyak civitas akademik. Penataan tata ruang perpustakaan juga sudah tertata dengan baik dan memberikan kenyamanan pada pemustaka yang datang. Perpustakaan sekolah ini memiliki sirkulasi udara yang cukup baik dengan disertai pendingin ruangan yang berfungsi dengan baik. Hal ini dapat ditinjau dari hasil wawancara terhadap siswa yang mengatakan bahwa terkadang siswa datang ke perpustakaan karena ruangan perpustakaan cukup dingin. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi infrastruktur pada perpustakaan sekolah telah mampu menarik minat siswa untuk mengunjungi perpustakaan. Namun, terdapat beberapa siswa yang mengatakan bahwa penerangan pada perpustakaan kurang baik sehingga membuat beberapa siswa enggan untuk membaca di perpustakaan karena dianggap kurang nyaman untuk membaca di dalam perpustakaan dan lebih memilih untuk membaca di tempat baca lain yang tersedia di sekolah seperti gazebo. 4.2 Koleksi Bahan Bacaan pada Perpustakaan Menurut Talita, Rachmawati, & Rizal (2017), dalam menyokong budaya literasi pada siswa, perpustakaan sekolah dapat mengadakan fasilitas membaca dengan tersedianya koleksi bahan bacaan yang digemari oleh siswa dan juga sesuai dengan kebutuhan dari para siswanya ataupun menyediakan koleksi bahan bacaan yang beragama jenisnya agar dapat menarik atensi para siswa untuk berkunjung ke perpustakaan. Ketersediaan koleksi pada perpustakaan sekolah di SMAN 2 Cirebon dapat dikatakan cukup lengkap dalam menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Buku pengetahuan bahan belajar selalu disediakan oleh perpustakaan sehingga jarang sekali terdapat kejadian dimana siswa tidak mendapatkan buku bahan belajar dari perpustakaan. Hal ini disebabkan karena dalam pengajuan pembelian buku pendidikan mudah dilakukan karena pihak sekolah sangat kooperatif sehingga stok buku pengetahuan selalu ada. Namun, menurut siswa ketersediaan koleksi di perpustakaan cenderung kurang variatif. Para siswa menginginkan ketersediaan bahan bacaan yang bersifat rekreatif diperbanyak tetapi terdapat keterbatasan dana dari pihak sekolah sehingga dana tersebut lebih difokuskan pada ketersediaan buku pengetahuan yang dapat menunjang pendidikan. Meskipun buku yang tersedia mayoritas buku pengetahuan tetapi buku-buku yang tersedia dinilai sudah dapat menunjang kegiatan pengayoman pendidikan di sekolah. Selain buku paket yang biasa dipakai dalam pembelajaran, perpustakaan juga menyediakan buku referensi bacaan lainya seperti buku latihan soal hingga buku olimpiade. Kondisi kemudahan akses pada perpustakaan sekolah di SMAN 2 Cirebon cukup mudah untuk dijangkau. Perpustakaan memiliki jam operasional yang buka setiap hari di hari sekolah mulai dari siswa berangkat sekolah hingga siswa pulang sekolah. Aksesnya sangat mudah karena perpustakaan dapat dikunjungi kapan saja di waktu sekolah bukan hanya pada jam istirahat saja tetapi dapat dikunjungi juga pada saat jam kegiatan belajar mengajar. Akses dalam peminjaman buku pun sangat mudah dengan diterapkannya sistem scan barcode pada buku yang hendak dipinjam yang memudahkan dan mempercepat dalam peminjaman buku. 4.3 Kegiatan Layanan pada Perpustakaan Terdapat beberapa kegiatan layanan pada perpustakaan sekolah di SMAN 2 Cirebon. Menurut Rochmah (2016), layanan pada perpustakaan secara umum dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) diantaranya: (1) layanan teknis, (2) layanan pengguna, (3) layanan administrasi. Layanan teknis endiri merupakan kegiatan dalam mengolah koleksi bahan pustaka mulai dari melakukan pengadaan bahan pustaka yang diperlukan oleh pemustaka, melakukan katalogisasi, melakukan klasifikasi, memasang label atau pelabelan, hingga menyusun koleksi dengan akurat sesuai dengan standar tertentu yang berlaku. Layanan teknis dilakukan agar pustakawan dapat dengan maksimal melayani kebutuhan pemustaka mulai dari mengadakan bahan bacaan apa saja yang sekiranya dibutuhkan oleh pengunjung suatu perpustakaan hingga dapat menemukan dengan cepat informasi yang diperlukan oleh pemustaka karena begitu banyak koleksi yang disimpan di perpustakaan tetapi dengan melakukan katalogisasi dan klasifikasi maka memungkinkan pustakawan untuk menemukan kembali informasi yang telah disimpan tersebut dengan mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama (efisien). Perpustakaan sekolah di SMAN 2 Cirebon melakukan layanan teknis pengadaan buku setiap tahun pada saat penerimaan peserta didik baru. Perpustakaan akan meminta data peserta didik baru untuk melakukan pengadaan koleksi buku pegangan pembelajaran sekolah. Perpustakaan juga bekerjasama dengan bagian kurikulum sekolah serta bagian sarana sekolah dalam pengadaan bahan bacaan di perpustakaan. Selain layanan teknis pengadaan buku, adapun layanan teknis pengkatogisasian pada perpustakaan sekolah di SMAN 2 Cirebon. Proses katalogisasi pada perpustakaan sudah memanfaatkan teknologi informasi yang berkembang yaitu Senayan Library Management System (SLiMS). Dengan memanfaatkan teknologi, proses pengkatalogisasian yang dilakukan perpustakaan sekolah menjadi lebih efektif dan efisien. Walaupun rak susunan buku telah ditata dengan rapi sedemikian rupa, terkadang masih saja terdapat siswa yang menaruh kembali buku bacaan yang telah diambilnya dengan asal sehingga mengakibatkan adanya beberapa buku yang ditempatkan di tempat yang tidak seharusnya dan susunan buku pada rak pun menjadi tidak serapi semula. Terdapat pula layanan pengguna yang merupakan kegiatan pelayanan pada perpustakaan yang terlibat secara langsung dengan pengguna perpustakaan (pemustaka). Layanan pengguna dapat dispesifikan lebih lanjut menjadi layanan sirkulasi yang merupakan suatu kegiatan melayani pemustaka dalam hal peminjaman maupun pengembalian koleksi bacaan beserta dengan pengurusan administrasi terkait peminjaman dan pengembalian koleksi tersebut. Layanan sirkulasi peminjaman dan pengembalian buku pada perpustakaan sekolah di SMAN 2 Cirebon berjalan dengan sangat baik. Layanan sirkulasi telah memanfaatkan teknologi dengan baik dengan penggunaan scan barcode yang juga mempermudah dan mempercepat pekerjaan pustakawan. Peminjaman buku dapat dilakukan oleh siapapun dalam lingkungan civitas akademik sekolah. Layanan peminjaman dan pengembalian buku pun dipermudah oleh pustakawannya yang ramah sehingga siswa pun tidak segan ataupun takut untuk meminjam buku di perpustakaan. Jika terdapat siswa yang menghilangkan buku bahan bacaan maka akan dikenakan denda berupa pembelian buku yang telah dihilangkan kepada perpustakaan. Pada masa pandemi Covid-19 tengah berlangsung yang menyebabkan pemerintah mengadakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sehingga menyebabkan sekolah juga harus melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), perpustakaan sekolah di SMAN 2 Cirebon tetap menjalankan layanannya dalam memenuhi kebutuhan siswa. Layanan peminjaman dan pengembalian buku tetap diadakan dengan mematuhi protokol kesehatan yang diberlakukan oleh pemerintah. Pada tahun ajaran baru dimana semua buku paket pembelajaran yang dipegang siswa harus diganti karena telah mengalami kenaikan kelas maka pengambilan peminjaman buku dilakukan dengan memperhatikan kuantitas siswa yang datang ke perpustakaan. Pengambilan peminjaman buku dilakukan dengan membagi para siswa menjadi beberapa sesi agar tidak timbul kerumunan dalam perpustakaan. Meskipun perpustakaan sekolah ini belum menerapkan perpustakaan digital dan masih hanya mengoperasikan perpustakaan secara konvensional tetapi menurut kepala perpustakaan sekolah menyatakan bahwa terdapat rencana kedepannya untuk menciptakan perpustakaan sekolah secara digital. Layanan perpustakaan secara digital tentunya memungkinkan pelayanan secara daring atau tidak langsung yang tentunya sangat sesuai dengan kebutuhan informasi para siswa yang berada di usia remaja saat ini dan cenderung lebih sering menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Bila menghadirkan perpustakaan digital maka siswa dapat mengakses informasi yang terintegrasi pada perpustakaan dimanapun dan kapanpun melalui internet. Para siswa pun dapat dengan mudah mencari serta menemukan informasi yang mereka inginkan karena bahan bacaan sudah tersedia dan dapat diakses secara online seperti e-journal maupun e-book sehingga dapat menambah kemudahan dalam proses belajar mengajar yang diadakan sekolah dan meningkatkan kualitas pendidikan. Meskipun belum terdapat perpustakaan digital tetapi siswa sudah memanfaatkan dengan maksimal fasilitas yang telah disediakan oleh perpustakaan. Fasilitas perpustakaan yang paling sering digunakan oleh para siswa ialah fasilitas komputer, printer, wifi, serta peminjaman buku pegangan pembelajaran. Adapun prinsip-prinsip dalam menjalankan layanan perpustakaan yang dijabarkan menurut Rochmah (2016) antara lain sebagai berikut: (1) selaras dengan keperluan yang pemustaka butuhkan, (2) dilaksanakan dengan akurat, cepat, dan mudah, (3) sesuai dengan ekspektasi para pemustaka sehingga mereka dapat merasa puas dan menikmati layanan yang diberikan. Hal ini dapat ditunjang dengan sumber daya pustakawan yang mumpuni. Sumber daya pustakawan yang mengelola perpustakaan sekolah di SMAN 2 Cirebon telah melakukan pelayanan dengan ramah. Pustakawan yang berada pada perpustakaan sekolah tersebut telah memberikan pelayanan yang baik pada para civitas akademik dengan bersikap sopan, ramah, dan selalu memberikan senyum. Bila terdapat siswa yang hendak bertanya mengenai suatu koleksi bahan bacaan maka pustakawan pun akan melayaninya dengan tulus dan bersikap baik pada seluruh civitas akademik. 4.4 Program Literasi di SMAN 2 Cirebon SMAN 2 Cirebon telah melaksanakan berbagai program literasi dalam mengembangkan budaya literasi pada siswanya. Mulai dari pelaksanaan literasi membaca buku jenis apapun pada 15 menit pertama sebelum pembelajaran dimulai pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menurut Satrianto (dalam Agustin & Cahyono, 2017) kegiatan literasi dalam jangka waktu yang pendek tetapi dilakukan dengn sering dinilai lebih efisien dibanding dengan kegiatan literasi yang dilakukan pada suatu waktu dengan jangka yang panjang tetapi jarang dilakukan lagi. Setelah selesai membaca para siswa akan ditugaskan untuk menulis kesimpulan singkat dari apa yang telah dibaca pada 15 menit pertama sebelum pembelajaran dimulai. Adapun program literasi yang dilakukan setelah upacara bendera dilakukan pada hari Senin. Sebelum memulai upacara, para siswa dianjurkan untuk membawa buku bahan bacaan ataupun dapat meminjamnya di perpustakaan sekolah. Setelah upacara bendera dilaksanakan, para siswa diminta untuk duduk di lapangan dan membaca buku bacaan yang telah mereka bawa sebelumnya selama 15 menit. Namun, para siswa menilai bahwa program literasi membaca setelah upacara dinilai kurang efektif. Hal ini dikarenakan para siswa diminta untuk membaca di lapangan setelah upacara yang mana sinar matahari masih bersinar cerah dan menyebabkan para siswa kegerahan dan merasa tidak nyaman saat membaca di lapangan terlebih lagi kegiatan ini dilakukan setelah upacara berlangsung. Meskipun terdapat program literasi yang dinilai kurang efektif menurut siswa, terdapat juga program literasi yang dinilai paling efektif menurut siswa yaitu resensi buku yang biasanya diintegrasikan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Para siswa menilai hal ini lebih efektif karena ketika membuat resensi dari suatu buku maka terdapat wawasan yang didapat dari buku yang dibaca dan pemahaman terkait buku tersebut menjadi lebih bertambah ketika membuat resensi. Bahkan, ketika diberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) resensi buku tetap ditugaskan dan dibuat menjadi lebih menarik dengan resensi buku yang dapat dikreasikan ke dalam bentuk video dan bukan hanya sekadar tulisan saja. Program literasi yang telah dilaksanakan menimbulkan berbagai dampak pada para siswa. Diantaranya juga memberikan dorongan kepada para siswa untuk membaca buku lebih lanjut dari yang sebelumnya hanya membaca buku materi pelajaran saja hingga dapat membaca buku lainnya dan menambah wawasan pada siswa. Walaupun pada awalnya siswa merasa terpaksa membaca dengan adanya program literasi tetapi lambat laun siswa pun menjadi terbiasa untuk membaca. Dengan literasi, siswa menjadi bertambah pengetahuannya dan hal ini membantu dalam proses pembelajaran. Masyarakat yang inovatif dan kreatif pun akan tercipta melalui budaya literasi yang telah tertanam. Apabila budaya literasi telah tertanam pada diri siswa maka besar pula kemungkinan terdapat banyak ide-ide dan wawasan yang mungkin akan bisa lebih dikembangkan. 4.5 Peran Perpustakaan Sekolah Peran perpustakaan sekolah dalam mengembangkan budaya literasi pada siswa di SMAN 2 Cirebon dapat dilihat dari perpustakaan yang telah menghimpun dan mengelola koleksi bahan pegangan pembelajaran untuk siswa secara lengkap dan terorganisir sehingga memudahkan para siswa dalam memiliki akses terhadap bahan koleksi yang dibutuhkan. Program literasi yang dilaksanakan juga melibatkan perpustakaan dalam pelaksanaannya dengan memperbolehkan siswa membaca buku jenis apapun dan banyak jenis buku juga yang telah disediakan oleh perpustakaan. Terdapat juga siswa yang memiliki inisiatif untuk meminjam berbagai buku bacaan untuk persiapan lomba. Selain peminjaman buku paket pegangan pembelajaran, juga terdapat siswa yang meminjam buku olimpiade, ensiklopedia, novel dan lainnya. Ternyata dalam pengelolaan perpustakaan demi dapat menunjang pengembangan budaya literasi terdapat kendala yang dialami oleh kepala perpustakaan sekolah SMAN 2 Cirebon. Diantaranya ialah tidak terdapatnya tenaga kerja pustakawan yang berasal dari sarjana ilmu perpustakaan sehingga staf yang bekerja pada perpustakaan merupakan staf tata usaha yang ditugaskan di perpustakaan. Meskipun pada awalnya manajemen perpustakaan menghadapi kesulitan karena ketidakadaannya tenaga staf pustakawan yang berasal dari sarjana ilmu perpustakaan tetapi lambat laun layanan perpustakaan sekolah dapat berjalan dengan baik juga bila ditinjau dari pelayanan stafnya yang ramah dan sopan
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dan pem bahasan nya maka kesimpulan dapat ditarik sebagai berikut. Perpustakaan sekolah di SMAN 2 Cirebon sudah menunjukkan peranannya dalam menunjang program literasi pada siswa di lingkungan sekolah. Hal ini dapat ditinjau berdasarkan kondisi infrastruktur dan tata ruang perpustakaan yang memadai serta fasilitas yang disediakan telah menunjang berjalannya program literasi di lingkungan sekolah. Kelengkapan dan kesesuaian koleksi yang dimiliki perpustakaan juga menjadi salah satu faktor yang meningkatkan budaya literasi pada siswa disertai dengan mudahnya akses pada bahan koleksi yang membuat para siswa menjadi lebih rajin untuk literasi karena kebutuhan akan informasinya telah terlengkapi dan aksesnya dapat dijangkau dengan mudah. Layanan yang diberikan oleh perpustakaan pun telah berkontribusi dalam perannya untuk ikut serta mengembangkan budaya literasi melalui program literasi yang dilaksanakan oleh sekolah. Beberapa layanan pada perpustakaan juga telah memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada dan dapat memudahkan para civitas akademik dalam menjangkau akses informasi. Program literasi yang dilaksanakan pada SMAN 2 Cirebon juga telah memberikan dorongan pada siswanya untuk menerapkan budaya literasi agar dapat melaksanakan pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning). Program literasi juga memiliki pengaruh positif tersendiri pada siswanya dan dengan disertai peranan dari perpustakaannya tentunya diharapkan dapat lebih meningkatkan budaya literasi pada siswa sehingga dapat ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, perpustakaan sekolah belum menerapkan perpustakaan digital yang memungkinkan civitas akademik untuk dapat mengakses perpustakaan secara online